Finally! I got the feeling again!
Chapter ini sempet kuhentiin dulu... karena bisa dilihat di tiga chapter terakhir, aku sedang nggak mood... makanya countdown kuhentikan dulu, menunggu sampai ada mood lagi... gomen-ne?
And, here comes the eighth chapter!
Silakan baca, dan gomen kalau ada salah lagi...
Disclaimer : Bosen, ah...
VIII. COUNTDOWN : 9—THE TERROR
"Satu tim sudah jatuh."
"Bagus. Apakah kau membereskan mayat mereka?"
Sosok itu menggeleng. "Sumimasen. Mereka tidak mati, namun sekarat..."
"Bodoh!" geram sosok yang duduk di seberang meja.
"Penyerangan selanjutnya tidak boleh gagal. Jika kau sampai gagal, nyawamu akan membayar kegagalanmu. Ingat!'
"Baik, Tuan," sosok itu menyembah, sebelum melangkah mundur, keluar dari ruangan.
oOoOo
Malam tengah berada pada puncaknya. Sinar rembulan memancar dingin. Suasana di Rumah Sakit Konoha sunyi senyap. Semuanya terlihat terlelap, kecuali seorang gadis yang tengah duduk di meja piket, berjaga malam. Beberapa kali gadis itu menguap.
Risa merasakan tepukan lembut di pundaknya. Ia menoleh, dan menemukan Sakura tengah tersenyum kepadanya.
"G-gomen-ne, Sakura-san! A... aku tidak bermaksud untuk tertidur!" cepat-cepat Risa meminta maaf. Ia terlihat malu karena ketahuan mengantuk.
Sakura tersenyum kecil. "Tidak apa-apa, Risa-chan. Kalau kau capai, malam ini biar aku saja yang berjaga. Tentunya kau butuh istirahat, Risa-chan. Kedua matamu sudah merah sekali."
"Tapi..." gadis itu berusaha protes, namun Sakura menarik tangannya dan dengan lembut membimbing gadis itu ke kamar perawat.
"Nah, istirahatlah."
"Tapi Sakura-san..."
"Nggak apa-apa, kok. Tidur yang tenang, ya, Risa-chan!" pamit Sakura, menutup pintu.
Rika mengangkat bahu, dan merebahkan badannya di atas kasur. Yah, seenggak-enggaknya aku bisa tidur...
oOoOo
Sakura menahan kepalanya dengan tangan kanannya, berusaha agar tidak tertidur. Gadis itu sudah sangat kelelahan, namun tuntutan pekerjaan memaksanya untuk tetap terjaga. Ia tidak tahu kapan akan ada pasien lagi.
Gadis itu menghembuskan napas, kedua mata zambrudnya menerawang ke angkasa. Ia memikirkan kejadian-kejadian belakangan ini.
Penyerangan... terhadap tim sepuluh... kasus yang sangat aneh! Selama ini aku belum pernah menemukan ada yang bisa mengalahkan formasi InoShikaChou dengan sebegitu gampangnya!
Lagipula... mereka tidak mengetahui siapa yang menyerang mereka! Ino mengatakan bahwa ninja-ninja itu berbaju dan bermasker hitam, dan mereka tidak memiliki hitai-ate...
Tapi yang pasti, mereka sangat kuat, dan mereka sangat licin. Genma-san dan pasukannya disuruh berpatroli di sekeliling Konoha. Tsunade-sama tidak mungkin memerintahkan mereka untuk turun tangan kecuali ada sesuatu yang salah.
Dan instingku mengatakan bahwa memang ada yang salah. Sangat salah.
Sakura mendesah. Tuhan... sebenarnya apa yang terjadi?
oOoOo
"Sakura-san!"
Sakura tergeragap bangun. Suara itu mengembalikan kesadarannya yang sudah terbawa ke alam mimpi. Gadis itu segera bangkit.
"Ada apa?"
Mata zambrud gadis itu membesar tatkala melihat pemandangan di depannya. Seorang jounin tergeletak tidak berdaya di depannya. Tubuh pria itu penuh darah, dan menggigil secara tidak normal.
Penyerangan lagi... sepagi ini? Matahari bahkan belum terbit...
Tidak membuang waktu, gadis itu segera menginstruksikan kepada perawat yang lain untuk membawa tubuh jounin tersebut ke ruang perawatan. Ia segera membaringkan tubuh itu, dan mulai memeriksanya.
Ia terkesiap ketika akhirnya dapat mengenali wajah itu.
Genma-san!
Sakura berusaha mencari denyut nadi, dan ia menemukannya. Namun, denyut itu sudah sangat lemah. Genma-san sudah hampir mati... tapi aku harus menyelamatkannya!
Ia merobek baju pria yang sudah penuh darah itu, dan bersiap memulai pengobatan.
"SHOSEN NO JUTSU!"
Saat itulah Sakura menyadari ada sesuatu yang aneh. Ia melihat titik-titik berwarna kemerahan merata di sekujur tubuh Genma.
"Risa!" panggil Sakura.
Risa yang sedari tadi berdiri di sebelah gadis itu, menunggu perintah, mengangkat kepalanya.
"Panggilkan Hyuuga Hinata. Setelah itu, panggilkan Shizune-san dan Hokage-sama. Sekarang. Cepat!"
Risa pun bergegas pergi. Sementara itu, Sakura berusaha sekuat tenaga m agar Genma tetap hidup.
"SHOSEN NO JUTSU!"
Namun luka itu terbuka kembali, dengan busa berwarna hijau. Sial... lukanya beracun, dan ia tidak bisa menutup!
Gadis itu terengah-engah. Chakranya memang sudah tinggal sedikit, namun ia tidak peduli. Ia hanya berpikir, ia harus menyelamatkan pria tersebut.
oOoOo
Gadis itu tetap berusaha memfokuskan sisa-sisa chakranya, tetap berusaha menutup luka yang selalu terbuka, berapa kalipun ia menggunakan Dokunuki no Jutsu untuk mengeluarkan racunnya. Keringat mengalir membasahi wajahnya.
"DOKUNUKI NO JUTSU!"
Kedua tangannya mulai bergetar kelelahan. Namun, ia tidak peduli. Instingnya sebagai seorang medis-nin memaksanya untuk tidak menyerah.
Harus... harus... harus menyelamatkan.. Genma-san...
oOoOo
Hinata berlari di sepanjang lorong rumah sakit, terbatuk-batuk pelan. Bias kantuk masih terlihat di wajahnya, dan bajunya terlihat berantakan. Ya, Risa memang telah menjemputnya, dan ia langsung melompati jendela kamarnya. Gadis itu tahu bahwa Hinata tidak akan diizinkan pergi jika ia meminta pada Hiashi.
"Sakura-chan!" panggil gadis itu, kekhawatiran nyata pada suaranya.
Sakura tidak menoleh. Hinata pun berlari mendekati tempat tidur ninja itu, dan refleks menutup wajahnya, ketakutan melihat pemandangan di depannya.
Tubuh yang penuh darah. Luka menganga di sekujur tubuhnya.
Dan, mata gadis itu terbelalak ketika menyadari apa yang membuat Sakura memanggilnya.
Titik titik merah di sekujur tubuh ninja tersebut.
Tenketsunya... tertutup?
oOoOo
Lambat laun, detak jantung Genma sudah mulai teratur, dan wajahnya pun terlihat mulai berwarna. Sakura menghembuskan napas lega.
Syukurlah...
Setelah beberapa lama berjuang melawan racun yang menyebar di sekujur tubuh pria itu, akhirnya luka-lukanya bisa tertutup.
Perlahan, Genma itu mulai membuka matanya. Ia membuka mulutnya, berusaha mengeluarkan suara.
"Di... mana..."
Hinata tersenyum menatap pria itu, dan mengganti kain kompres di dahi Genma.
"Di rumah sakit, Genma-san. Tenanglah, anda sudah aman."
"Rumah... sakit..."
"Jangan banyak bergerak dulu, luka anda bisa terbuka lagi," ujar Sakura cepat.
Saat itu, tiba-tiba Genma merasakan ada kekuatan yang meremas dadanya. Ia mulai terbatuk-batuk, dan darah mengalir dari mulutnya. Sakura dan Hinata tersentak, dan langsung berusaha melakukan tindakan pertolongan pertama.
Pria itu mencengkram dadanya, namun ia tidak mampu menghentikan batuknya.
Racun itukah?
oOoOo
Malam itu begitu tenang. Rembulan mengintip malu-malu dari balik awan, namun tetap memancarkan sinarnya yang dingin.
Shiranui Genma mendesah, menatap langit Konoha yang kelam. Pria itu meregangkan badannya yang terasa kaku setelah berjam-jam berdiri di gerbang selatan Konoha. Ia sedang menjalankan misi khusus dari pemimpinnya, Godaime Hokage, untuk berpatroli di sekeliling Konoha.
Apa yang terjadi sehari tadi memang membuatnya merasa sedikit khawatir. Penyerangan terhadap tim sepuluh. Siapapun yang menyerang mereka pasti adalah ninja yang cukup kuat, bahkan mungkin sangat kuat. Tidak mungkin ninja biasa mampu mengalahkan formasi InoShikaChou, apalagi membuat mereka bertiga sampai babak belur.
Tiba-tiba, instingnya menyerukan bahaya.
Genma berbalik, dan ia mendapati dirinya langsung berhadapan dengan sekelompok ninja bermasker hitam, tanpa hitai-ate.
Pria itu mengumpat, dan langsung meraih kunai. Serangan tidak terelakkan.
Dengan lincah Genma menangkis kunai-kunai yang beterbangan. Namun, jumlah ninja-ninja itu terlalu banyak. Dan mereka terlalu kuat. Dan mereka terlihat sama sekali tidak memiliki rasa takut.
Ada yang salah dengan pasukan ini.
CRAK!
Sebuah kunai menancap di paha kiri Genma. Disusul kunai-kunai lainnya. Dan senjata-senjata lain. Luka menganga di sekujur tubuh pria itu.
Genma tidak sempat mengaduh, ia tidak memperdulikannya. Ia tetap berusaha menangkis semua serangan, sampai akhirnya rasa sakit yang tidak tertahankan menyengat sekujur tubuhnya.
Pria itu mulai goyah. Ia terjatuh, dan refleks menarik kunai yang tertancap di paha kirinya.
Kunai itu beracun.
Dan ia merasakan kesadarannya mulai menurun. Pandangannya mengabur.
Di sela-sela sisa kesadarannya, ia melihat sosok berjubah hitam, yang merupakan pemimpin pasukan itu, tersenyum sinis kepadanya.
Sesosok itu berjongkok di depannya, dan berbisik di telinganya.
"Shiranui Genma. Nyawamu tinggal beberapa jam lagi."
Sosok itu terkekeh dingin, dan berbisik.
"Sampaikan: Untuk pembalasan."
oOoOo
Sakura dan Hinata kelabakan, berusaha melakukan tindakan penyelamatan. Batuk-batuk Genma semakin parah, dan juga luka-lukanya mulai terbuka lagi.
"Tahan, Genma-san!" seru Sakura memohon.
Genma berusaha menghentikan batuknya, namun ia tidak bisa. Ia merasakan napasnya mulai tercekat.
Sial... pria itu benar...
Napas Genma mulai melemah. Dengan sisa-sisa kekuatannya, pria itu berbisik.
"Ha... ti... ha... ti... ia... mengata... kan... un... tuk pem... ba... la... san..."
oOoOo
BRAK!
Pintu terbuka lebar. Risa, Shizune, dan Tsunade berlari masuk, untuk melihat apa yang tengah terjadi.
Untuk melihat wajah kosong milik Sakura dan Hinata, serta wajah tirus yang tidak lagi memiliki tanda-tanda kehidupan milik Genma.
"Tsu... nade... sama..." cicit Sakura. Tenggorokan gadis itu tercekat.
Namun itu sudah cukup.
Tsunade segera menyadarinya.
Ia terlambat.
Satu nyawa sudah melayang.
Dengan penuh rasa frustasi, sang Hokage meninju pintu kamar. Pintu itu langsung terlempar ke sudut ruangan.
oOoOo
Sosok itu terkekeh pelan menatap wajah-wajah di dalam kamar tersebut. Menatap ekspresi keputusasaan mereka.
Ia menyeringai dan berbisik.
"Teror yang sebenarnya... baru saja dimulai."
Aaaa! Genma mati...
Adakah penggemar Genma di sini? Kalau ada, maaf yah...
Oh ya, sekedar informasi. Aku melakukan pengeditan pada chapter-chapter sebelumnya, karena di setiap chapter aku pasti melakukan kesalahan tulisan. Trus juga, Hinata manggil Hiashi 'Otousama', dan bukan 'Otousan' seperti sebelumnya.
Jangan lupa review, key?
Ja ne!
