Harry Potter adalah kepunyaan Bunda Rowling, saya hanya meminjamnya.
Cerita murni dari leppi saya, saya ketik dengan susah payah*ok ini lebeh
OOT - Banyak yang beda
gak suka gak usah dibaca, kritik saran I need it!
Happy Reading \(^_^)/
Author's POV
Hermione masih terjaga disamping mertuanya yang terbaring, sesekali dia menyeruput mochachinno yang menemaninya sambil membaca beberapa novel roman picisan. Kepalanya mulai terasa berat hingga akhirnya dia terlelap disamping mertuanya.
"Apa yang dilakukan wanita jalang ini disini?" gumam Narcissa
Matanya tertuju kepada Hermione, dia menatap tajam dan segera menarik tangannya dari dekapan Hermione. Hermione bahkan terbangun karena itu.
"Mom, kau sudah sadar? Aku akan panggilkan Dad, Drake dan dokter"
"Jalang biadab! Apa maumu?"
"Mom, jangan banyak bergerak anda belum pulih."
"Keluar! Jangan pernah datang ke ruangan ini. Menantu sial!"
Hermione terpaku, niat tulusnya tidak dihargai dan bahkan dihina oleh mertuanya sendiri. Air matanya meluncur menyapu pipi, dia seolah runtuh mendengar mertuanya. Hermione keluar dengan tangisan, sambil sesekali mengusapnya dengan sweeter kremnya.
"Drake, Dad. Mom sudah sadar. Aku permisi pulang"
"Kau kenapa? Kau menangis?"
"Tidak apa, hanya debu. Permisi Dad, Drake, Aku pulang"
Hermione pergi meninggalkan keduanya yang masuk ke dalam ruangan tersebut. Sesekali dia mengusap matanya yang sedari tadi tidak berhenti untuk terus menangis. Ada pertanyaan besar dalam pikiran Hermione saat ini, apakah salah besar jika seorang menantu tidak bisa hamil dan ingin berbakti kepada mertuanya?. Pertanyaan ini berputar dikepala Hermione sampe akhirnya Hermione berteriak histeris dan tak dapat lagi menopang tubuhnya. Dia tersungkur dan memeluk kakinya, membenamkan wajahnya diantara kedua tangan yang disilangkan. Dia masih penuh pertanyaan dan sesak ketika semua pertanyaan itu tidak mendapat jawaban.
Hermione's POV
Apa yang kulakukan selama ini tidak pernah ternilai bagi Ibu, selalu saja aku dianggap pembawa sial, jalang, dan apalah itu sebutan kotornya untukku. Aku selalu mencoba untuk berbuat baik, berbakti dan menyayanginya. Tapi apa yang aku dapat? Rasa bencinya lebih besar dari apa yang telah kuberikan padanya.
Hatiku hancur ketika dia menyuruhku pergi dan menghinaku. Aku tak habis pikir dengannya. Aku sangat ingin membalasnya tapi apa bedanya dia denganku ketika aku membalasnya, setidaknya aku lebih baik dengan menyayaginya meski selalu dianggap jalang olehnya. Tangisanku masih ada, pertanyaan begitu banyak berputar dikepalaku. Apa salahku? Tidak bisakaah ibu mengakuiku sebagai menantu? Apakah tidak ada kesempatan bagiku? Aku tidak sanggup dengan ini semua. Rasanya ingin berhenti, tapi perjalanan sudah sejauh ini. Aku tidak bisa mundur, aku yang memilih berkomitmen dengan Draco.
Aku mencoba untuk berprasangka baik, hanya saja perkataannya tadi begitu menyakitkan bagiku. Sampai sekarang masih tergiang di telingaku caciannya kepadaku. Apakah selama ini keputusanku salah untuk masuk dalam keluarga Malfoy? Aku mulai mempertimbangkan saran dari orang tuaku untuk bercerai dari draco dan keluar dari keluarga Malfoy. Pikiranku terhenti ketika aku menyadari aku telah sampai di manor pribadi, aku lelah dengan semuanya. Logikaku selalu tidak sejalan dengan perasaanku.
"Nyonya, kau ingin makan sesuatu?" tanya pelayanku
"Secangkir teh melati hangat"
Aku duduk menyandarkan diri di samping perapian, malam ini sedikit dingin. Mungkin musim dingin akan segera tiba dan salju akan turun lebih awal mengingat hari ini adalah akhir November.
Author's POV
Hermione terbangun kaget mendengar ketukan keras dari pintu utama manor, beberapa orang terdengar berterik keras diluar. Hermione mengikat rambutnya dan bergegas turun menuju pintu utama Manor. Beberapa pelayan dan pengawal telah lebih dahulu berada di ruang tamu, beberapa diantaranya memegang senapan untuk berjaga-jaga. Hermione dengan tenang mencoba berbicara,
"Baiklah, kita tenang. Tolong buka pintunya. Kalau memang ada hal yang membahayakan aku mengizinkan adanya tindakan kekerasan, tapi jika tidak tolong tahan itu semua"
"Baik, Nyonya" serempak mereka bersiap
Beberapa pengawal membuka pintu dan terlihatlah beberapa pria dengan seragam polisi Belanda berada didepan pintu dan bersiap seolah ada kriminal yang harus ditangkap.
"Permisi, Selamat pagi nyonya Malfoy"
"Iya selamat pagi pak, ada yang bisa kami bantu"
"Anda ditangkap dengan tuduhan percobaan pembunuhan, untuk lebih lanjutnya nyonya bisa ikut ke kantor"
"Apa pak? Apa salah saya? Siapa yang ingin saya bunuh? Pak saya mohon"
"Tangkap dia sekarang!"
Beberapa polisi langsung memborgol Hermione, dan yang lainnya bergegas menuju mobil. Hermione berurai air mata, dia tidak bisa membayangkan cobaan apalagi yang akan dihadapinya. Dia sudah terlalu cukup tersakiti dan kini dia harus mendekam dipenjara karena kasus percobaan pembunuhan yang entah siapa yang menuntutnya. Hermione hanya berpesan pada pelayan dan pengawalnya,
"Jika ada yang mencariku, katakan pada mereka aku ke luar negeri untuk urusan bisnis. Dan beritahu tuan Malfoy bahwa segera menemuiku di kantor polisi" ucapnya dengan suara parau.
Cobaan yang dihadapi Hermione semakin menjadi-jadi, tidak cukup dengan masalah rumah tangganya kini dia harus berhadapan dengan kasus hukum yang menjeratnya. Hermione menahan segala kesakitannya didada beberapa bulir air matanya kini tak hangat lagi karena seringnya ia menangis dan sekarang semangatnya seolah hilang ditelan bumi. Apalagi yang menjadi masalah Hermione selanjutnya?.
Maaf baru Update, sekarang Bai akan mencoba konsisten untuk menyelesaikan semua FF yang Bai bikin kejar traget tahun ini semuanya udah selesai
Maaf readers, kesibukan Bai begitu padat.
Review please :)
