Fated to Me

YUNJAE

Main Cast :

Jung Yunho

Kim Jaejoong

Kim Soo Hyun

Cast :

Park Yoochun

Kim Junsu

Shim Changmin

Disclaimer :They are belongs to them selves, family, Elite Minority Cassiopeia, and shipper.

Author : Alyse Shanidas

Genre : AU, OOC, BL, Urban-life, Love-Hate, Love Triangle, Crack Pairing, Mpreg.

Rating : M

Warning : DON'T LIKE DON'T READ. Author Newbie, Typos, Slash

Previous Chapter

Suara berisik dari arah lain membuat Yunho tersadar dari lamunannya. Ia segera menegakkan tubuhnya dan melangkah perlahan dengan berpegangan pada dinding untuk menjaga tubuhnya agar tetap seimbang. Rasa penasaran akan suara berisik itu membawanya menuju ruangan lain yang Yunho yakini adalah dapur. Dapur yang menjadi satu dengan ruang makan, di desain secara simple tetapi cukup elegan dan cantik.

Seharusnya Yunho merasa cemburu ketika ada orang lain yang menempel dan secara terang-terangan menggoda Jaejoong. Tapi entah kenapa ketika ia melihat interaksi dua orang yang ada di depannya saat ini hanya ada rasa lucu dan tawa geli yang ditahannya sekuat tenaga.

"Apa aku mengganggu kalian?" Yunho sudah tidak tahan untuk menginterupsi dunia keseruan yang mereka ciptakan.

Changmin dan Jaejoong serempak menoleh ke arah belakang dimana suara itu berasal. Dan keduanya menyambut lelaki tampan itu dengan ekspresi wajah yang berbeda.

√ Chapter 8√

Yunho segera kembali ke dapur setelah memutuskan untuk mencuci mukanya terlebih dahulu di kamar mandi yang memang terletak di samping kamar tamu. Meski rasa pening masih menderanya tapi setidaknya wajah Yunho terlihat jauh lebih segar dari sebelumnya.

"Duduklah disini Hyung, kita tunggu Jaejoong hyung menyiapkan sarapan pagi sambil mengobrol ringan... Itu kalau kau tidak keberatan Hyung." Changmin memelankan suaranya. Tidak ingin memaksa jika Yunho ingin pulang secepatnya karena alasan sibuk mungkin. Tapi sejujurnya ia hanya ingin mengenal lelaki itu lebih akrab lagi.

Yunho ikut tersenyum tipis ketika Changmin sudah menyambutnya dengan senyuman ceria yang terlihat sangat bersemangat. Sejak awal tadi pemuda itu sudah menyambutnya dengan sangat baik. Meski kenyataannya mereka belum pernah saling mengenal. Berbeda dengan reaksi Jaejoong yang langsung -berpura-pura- sibuk dengan kegiatannya saat ia menyapa mereka.

Mungkinkah Jaejoong marah dengan kejadian semalam? Sampai lelaki cantik itu tidak mau menatapnya sama sekali. Atau memang ingin menghindarinya? Entahlah, sepertinya ia harus menanyakannya nanti.

"Ini minumlah Hyung. Setidaknya minuman ini bisa mengurangi mual dan sakit kepala... Semalam Hyung mabuk berat kan?" Changmin tetap mengajak Yunho berbicara meski lelaki dihadapannya itu hanya menjawabnya dengan senyuman tipis.

Sedangkan Jaejoong yang posisinya membelakangi mereka hanya terdiam sambil menyimak percakapan itu. Sejak tadi sebenarnya ia sudah sangat bingung dengan reaksi yang ditunjukan Changmin kepada Yunho. Ia sangat mengenal dengan baik pribadi Changmin yang sedikit tertutup terhadap orang asing. Dulu saja saat ia memperkenalkan Soo Hyun pada Changmin, butuh waktu hingga beberapa bulan agar bisa sedikit akrab. Tapi ini? Mereka bahkan baru berkenalan beberapa menit yang lalu.

"Emm.. terimakasih.. Kau yang membuatnya?" Yunho sedikit ragu saat mengambilnya. Alhasil ia hanya memandang minuman dalam cangkir itu dengan kernyitan aneh. Aromanya sedikit tidak enak, jadi ia ragu apa minuman ini enak untuk di konsumsi. Seumur hidupnya ia belum pernah mencoba minuman yang seperti ini.

"Anniya. Jaejoong hyung yang membuatkannya untukmu. Jja cobalah, kau tidak berfikir jika itu racun kan Hyung?" Changmin mengerling menggoda. Tidak tahan untuk tersenyum geli saat melihat wajah Yunho yang mengernyit aneh sambil mengusap-ngusap hidungnya hanya karena baunya yang sangat menyengat.

"Itu Insam-cha, bisa menghangatkan tubuhmu sekaligus menjadi antibiotik. Aku tahu kau tidak menyukai rasa yang terlalu manis, jadi aku mengganti gulanya dengan campuran madu." Jaejoong menyela percakapan mereka tanpa menoleh menatap kedua orang yang sedang asik berbincang itu. Ia masih berkutat dengan nasi goreng kimchi yang sedang dibuatnya. Meski nyatanya makanan itu sudah siap sedari tadi. Biarlah, ia hanya merasa sedikit tidak rela jika harus beranjak meninggalkan mereka berdua.

Mendengar itu perasaan hangat menyusup ke dalam hati Yunho. Ia sadar semalam ia telah berbuat kurang ajar, tetapi Jaejoong masih saja memperdulikannya. Bukankah lelaki cantik itu sudah sangat baik kepadanya? Tetapi ia dengan sangat jahat mulai memporak porandakan hubungan percintaan Soo Hyun dan Jaejoong yang sudah berjalan hingga beberapa tahun. Hahh,...Apa itu adil?

Tepukan pelan di lengan kirinya membuat Yunho tersadar. Ditatapnya Changmin yang menyunggingkan senyum lebar sambil menyuruhnya untuk mencicipi teh ginseng itu. Andai saja ia bisa sedekat ini dengan adiknya. Tentu hidupnya tidak akan sesepi ini. Yunho menahan sekuat mungkin rasa sesak yang hampir menumpahkan liquid bening di pelupuk matanya.

"Mau kemana hyung?" Changmin mengalihkan tatapannya kearah Jaejoong yang mulai melepas apronnya. Apa makanannya sudah jadi? Kenapa Hyungnya itu kelihatan buru-buru sekali?. Dan yang membuatnya heran sejak tadi adalah ia tidak mendapati Jaejoong membalas tatapan Yunho sama sekali. Hyungnya itu selalu mengalihkan pandangannya. Hal ini membuat Changmin berfikir kalau ada sesuatu di antara mereka. Karenanya ia semakin tertarik untuk lebih mengetahui permasalahan di antara keduanya.

"Umm..aku...ingin mandi. Ya, mandi." Jaejoong melirik resah. Lalu buru-buru mengalihkan pandangannya kearah lain. Entah kenapa perasaan gugup semakin menyerangnya tatkala matanya tak sengaja beradu pandang dengan mata musang kelam yang menatapnya dengan sangat intens. Bayang-bayang akan kejadian semalam berputar-putar di dalam benaknya bagai roll film.

"Tidak perlu gugup seperti itu Hyung, aku kan hanya bertanya. Ahh ya, jangan bangunkan bocah evil itu. Dia semalaman tidak bisa tidur." Changmin terkikik geli. Sepertinya ada kejadian menarik di antara mereka. Bagaimana Yunho yang menatap Jaejoong dengan penuh rasa bersalah dan juga tatapan intens yang Changmin sendiri kurang bisa menangkap gesture itu. Sedangkan Jaejoong yang jadi salah tingkah dengan wajah memerah hanya karena tatapan seperti itu. Ini menarik. Jerit Changmin senang.

"Khh... Seperti kau bukan termasuk bocah evil saja." Jaejoong mendengus sebal sebelum berlalu meninggalkan dua lelaki berbeda ekspresi yang ia yakini masih memperhatikan kepergiannya.

"Minumlah Hyung..." Changmin memperhatikan Yunho yang mulai meneguk sedikit demi sedikit teh ginseng tadi. "Bagaimana hyung?"

"Ini sangat enak. Aku belum pernah mencobanya." Yunho menjawabnya dengan tetap menikmati rasa teh ginseng yang membuat tubuhnya menjadi lebih hangat. Pening dan mual yang tadi dirasakannya sekarang sudah tidak terasa. Perutnya terasa lebih nyaman sekarang. Ia akan menyuruh maidnya untuk membuatkan minuman yang seperti ini lagi lain kali.

"Umm... Sepertinya kau mencintai Jaejoong hyung." Ucap Changmin tenang. Senyum menggoda tak pernah pudar dari bibirnya.

Yunho merasa minuman yang baru sampai di ujung tenggorokan mulai mencekat saluran pernafasannya. Disusul dengan batuk-batuk dan tarikan nafas dalam yang serasa menyesakkan. Astaga. "Bagaimana...?"

"Tidak perlu berlebihan seperti itu Hyung, santai saja." Changmin terkekeh kecil mendapati wajah shock Yunho yang hingga beberapa detik tidak mengerjabkan matanya sama sekali. Pelototan shock dilayangkan kepadanya hanya karena kalimat singkat yang tadi di ucapkannya. Sungguh ia tidak bermaksud membuat lelaki itu tersedak sampai wajahnya memerah seperti itu.

"K...kk..kau...tidak marah?" Ucap Yunho terbata. Rasa tidak percaya karena ucapan yang barusan dilontarkan Changmin membuatnya bingung seketika. Sejak perkenalan mereka tadi ia tahu Changmin adalah sepupu Jaejoong. Bukankah seharusnya Changmin marah karena ia dengan lancang telah mencintai Jaejoong yang telah memiliki tunangan? Tapi Changmin... Berbeda.

"Kenapa aku harus marah Hyung? Cinta punya pintu-pintu tersendiri untuk masuk. Kadang ia bersembunyi dalam benci. Menyelinap masuk bersama-sama dendam. Dan kemudian ia menjelma menjadi cinta. Kehadiran cinta dalam setiap orang tidak akan bisa ditolak Hyung." Changmin mengakhirinya dengan senyuman manis. Pandangannya menerawang ke udara kosong. Ahh. Ia tidak percaya itu, barusan ia menjadi penasehat cinta bukan?.

Yunho menatap takjub pemuda jangkung di depannya saat ini. Ia memang percaya jika wajah seseorang itu bisa menipu. Dan sekarang ia juga tertipu dengan wajah kekanakan Changmin yang bisa mengatakan kata-kata briliant seperti tadi. Dorongan untuk memperjuangkan cinta itu semakin bersemayam kuat dalam keyakinannya. Ia tidak percaya ada yang mendukungnya. Setelah selama ini tidak ada yang berlaku demikian terhadapnya.

"Kau menakjubkan Changmin-ah."

Changmin mengibaskan sebelah tangannya di depan wajah. Matanya seperti ikut tersenyum saat bibirnya semakin menyunggingkan senyum lebar. "Tentu mendapatkan cinta yang hakiki tidak mudah Hyung. Kau akan mendapatkan masalah cukup besar nantinya. Tapi percayalah, kau harus menghadapi saat itu dengan keyakinan dan keteguhan hati yang akan membuatmu membawa kemenangan."

Yunho mengernyit bingung akan perkataan ambigu Changmin. Ia sudah ingin melayangkan pertanyaan bingung ketika Jaejoong sudah kembali di antara mereka dengan wajah yang lebih segar. Sejenak perhatiannya teralihkan oleh lelaki cantik itu. Sungguh dia sangat cantik dan tampak mempesona dengan kaos putih bersih berlengan pendek yang memperlihatkan kulit pucatnya yang sehalus bayi. Tetesan air dari rambut basahnya mengalir perlahan di wajah natural tanpa make up itu.

Melihat itu Changmin segera menjentikkan jarinya. Hingga menimbulkan suara yang cukup menyadarkan Yunho dari rasa terpesonanya. Khh. Hyungnya itu memang suka sekali menarik perhatian para lelaki untuk mengagumi dan memperhatikan secara intens wajah mempesonanya.

"Yahh Hyung! Kenapa hanya memberiku satu porsi? Aku ingin dua." Changmin merajuk manja. Bibirnya mempout lucu karena kebutuhan perutnya harus dikurangi. Makanan satu porsi? Haishh, itu hanya akan mengganjal perut bagian ujungnya saja. "Aku masih dalam tahap pertumbuhan Hyung, kalau kau ingat itu."

Melihat Changmin dengan wajah memelas seperti itu membuat Yunho jadi tidak tega. Changmin sangat baik kepadanya, jadi tidak ada salahnya jika ia memberikan porsi miliknya untuk pemuda itu. Meski nyatanya kerap kali ia harus menelan salivanya karena mencium aroma masakan Jaejoong yang sangat lezat. "Ini ambilah... Untukmu saja Changmin-ah."

Changmin segera mengalihkan pandangannya, menatap Yunho yang mengulurkan sepiring nasi goreng kimchi kearahnya. Lelaki tampan itu mengangguk tanpa kata seakan menjawab pertanyaan bingung darinya. "Kau baik sekali Hyung..."

"Anniya. Yunho-ah itu khusus untukmu, jadi jangan berikan makananmu untuk bocah evil itu." Jaejoong segera menahan piring Yunho yang sudah ditatap Changmin dengan mata berbinar senang. Aishh.

Yunho tertegun. Ia suka panggilan itu. Ya, ia suka saat Jaejoong memanggilnya dengan sangat akrab seperti itu. Tidak ada amarah dan kebencian di dalamnya. Ia merasa tubuhnya menjadi sangat ringan seperti menapak awan. Bolehkah? Bolehkan ia berharap jika hubungan mereka akan menjadi lebih baik kedepannya nanti?

"Eyyy... Jadi yang khusus hanya untuk Yunho hyung?" Changmin mengerling menggoda kearah Jaejoong. Senyum geli tak bisa ditahannya lagi saat melihat tingkah gugup dan wajah merah Jaejoong.

"Emm.. Maksudku.. Bukan., bukan seperti itu...aku... Aku tidak terlalu banyak memasukkan bubuk cabai ke dalam makanan itu. Umm... Aku tahu lambungnya sedikit bermasalah..."

"Aku suka."

"Ehh...?" Jaejoong dan Changmin berseru kompak ketika mendengar dua kata singkat yang diucapkan Yunho. Mereka mengernyit bingung melihat senyum manis yang mengembang di bibir lelaki tampan itu.

"Jaejoong-ah... Aku suka dengan panggilan itu."

Jaejoong terdiam ketika mendengarnya. Ia lalu menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Sungguh ia tidak sadar telah memanggil Yunho seakrab itu. Bahkan panggilan itu serasa meluncur bebas dari bibir plumnya seperti sudah sangat fasih. Aishh, ia sangat malu.

"Umm... Mianhae, aku tidak sengaja me-..." Jaejoong menggigit bibirnya resah.

"Kumohon... Tetap panggil aku seperti itu." Yunpa berucap pelan. Ditariknya perlahan tangan Jaejoong yang menumpu di atas meja. Ini bukanlah rekayasa. Beberapa kali Yunho melafalkan kalimat itu di dalam benaknya. Momen ini ia tidak ingin melewatkannya barang sekejap saja. Maka dari itu sebisa mungkin ia mencoba untuk tidak berkedip, takut jika ini hanyalah ilusinya saja. Meski matanya terasa pedih ia akan tetap menahannya.

Jaejoong mendongakkan wajahnya. Mata bulatnya pun segera bertemu pandang dengan mata sipit Yunho yang menatapnya dengan pandangan memohon. Ia bersumpah melihat mata tajam itu tampak berkaca-kaca. Belum pernah Jaejoong mendapati ekspresi Yunho yang seperti menahan luka hati yang cukup dalam. Ini membuatnya merasa tersentuh. Dan entah kenapa ia sangat membenci tatapan seperti itu. Hatinya ikut... Sesak.

"Tidakkah kalian mengingat kalau aku masih disini?" Changmin menopang dagu. "Jaejoong hyung, aku tahu Yunho hyung itu tampan tapi kau tidak harus menatapnya sampai mimisan seperti itu."

"Yahh! Aku tidak mimisan! Dasar bocah menyebalkan..." Tangan Jaejoong bergerak-gerak liar ke arah Changmin. Giginya menggertak kesal akan kata-kata Changmin yang membuatnya semakin malu di depan Yunho. "Kesinikan kepalamu itu."

"Aishh Hyung! Aku bisa bodoh kalau kau menyakiti kepalaku terus."

"Aku tidak peduli!"

"Ahaahaa, Jae sudahlah, Changmin hanya bercanda."

Changmin lalu menjulurkan lidahnya ke arah Jaejoong dengan kekanakan. Mendapati Hyungnya itu langsung terdiam dengan bibir yang mempout manja karena ucapan Yunho tadi. Khh, sekarang ia sudah memiliki partner team yang akan selalu mendukungnya.

"Yunho hyung. Kau tahu? Sejak masih kecil aku begitu menginginkan seorang saudara lelaki yang manly dan tampan sepertimu. Membayangkan apa saja keseruan yang akan kita ciptakan nanti membuatku selalu memekik senang. Pasti akan sangat menyenangkan kalau kita bisa bersaing untuk menjadi pria casanova. Menghitung seberapa banyak yang akan menjerit dan takluk dibawah kendali kita. Ahhh, bukankah itu sangat menyenangkan?.. Hmm... Ouchh appo..."

"Jadi selama ini kau tidak menganggap ku sebagai Hyung lelaki mu huh?" Jaejoong bersungut-sungut tidak terima. Pukulan cukup keras dilayangkannya di kepala Changmin yang masih tersenyum dalam angan-angannya.

"Aishh Hyung! Bagaimana aku bisa membayangkanmu sebagai hyung yang tampan saat aku tahu posisimu ada dibawah lelaki tampan lainnya. Dan bagaimana mungkin aku mengakuimu sebagai pria casanova saat kau sudah seperti umma pengganti bagiku."

"Kau..." Jaejoong mengeram marah.

"Baiklah aku akan mandi terlebih dahulu." Changmin langsung melesat kabur. Melihat aura hitam yang menguar dari tubuh Jaejoong membuatnya bergidik dan memilih melarikan diri mengamankan posisinya.

"Aku senang berada di antara kalian. Rasanya kesepian yang selalu menghantuiku lenyap tak tersisa. Betapa aku sangat merindukan kehangatan dalam keluarga yang tak pernah aku dapatkan. Bahkan satu-satunya saudara yang kumiliki terasa sangat jauh dari hidupku."

"Kau boleh menganggap Changmin seperti adikmu sendiri."

Yunho menjawabnya dengan senyum tipis. Sebisa mungkin menyembunyikan pekikan senang dan tawa membahana yang ingin keluar dari bibirnya. Namun raut wajahnya segera berubah menjadi lebih tegang. Ditatapnya Jaejoong yang masih menyunggingkan senyuman tipis. "Mianhae...untuk...ciuman itu."

Jaejoong terhenyak. Tidak menyangka jika Yunho akan membahas tentang ciuman kasar penuh gairah yang berhasil membuatnya tidak tidur semalaman. Tubuhnya jadi terasa lemas dan panas dingin hanya karena membayangkan hal itu. "Umm...lupakan saja."

"Kau tidak marah karena hal itu?"

Bola mata Jaejoong bergerak-gerak gelisah. Ia merasa tidak nyaman dengan percakapan ini. Jantungnya berdegub dengan sangat cepat seperti habis melakukan lari maraton sejauh beberapa kilometer hanya karena memikirkan hal itu. Bagaimana ia bisa marah jika dirinya sendiri ikut terhanyut dan sempat membalas ciuman itu. Ciuman kasar. Ciuman liar. Ciuman bernafsu. Ciuman bergairah. Ciuman... Uhh. Arghh. Ia bisa gila.

"Sebentar...a..aa..aku akan mengambil...kunci mobilmu... Ya, kunci mobil, di...umm kamarku." Jaejoong beralibi. Ia mengucapkannya dengan cukup terbata. Rasa gugup karena membicarakan hal yang cukup intim disaat hanya ada mereka berdua menimbulkan ketegangan seksual yang terasa nyata.

Jaejoong bersumpah ia belum pernah merasakan hal seintim ini hanya karena saling berbicara tentang sebuah ciuman. Bahkan dengan Soo Hyun sekalipun.

Yunho segera menggenggam pergelangan tangan Jaejoong saat lelaki cantik itu sudah ingin berlalu melewatinya. Rasa manja mulai menyeruak ke dalam dirinya hanya karena ia tidak ingin ditinggalkan Jaejoong sendirian. "Jangan pergi. Bisakah...kita berbicara sedekat ini lebih lama lagi?"

"Soo Hyun-shi, anda baik-baik saja?" Seorang kontraktor yang ikut menangani pembangunan perusahaan cabang Jung Corp yang ada di Jeju segera menangkap lengan Soo Hyun yang terhuyung hampir terjatuh.

"Ne, saya baik-baik saja. Mungkin hanya sedikit kelelahan. Gamsahamnida." Soo Hyun segera menegakkan tubuhnya. Meski pening masih menderanya tapi ia menahannya sekuat tenaga.

Perkataan Ki Woong sahabatnya, membuat ia tidak tidur semalaman. Khawatir, cemas dan takut membuatnya meringkuk sendirian dalam kegelapan malam. Apa ia sudah memilih jalan yang benar dengan menerima tawaran Jung Yunho? Tapi sahabatnya bilang ia sudah sangat salah dengan membiarkan Yunho lebih leluasa dalam mendekati Jaejoong. Dan Ki Woong bilang bahwa semalam...

"Tidak, tidak... Aku percaya Jaejoong akan menjaga cinta suci kami."

"Anda sedang ada masalah?"

Soo Hyun tidak sadar jika ia menyuarakan isi hatinya. Dilihatnya sang kontraktor yang menatapnya dengan kening yang mengerut bingung. Sebelum kemudian Soo Hyun menjawabnya dengan senyuman tipis dan gelengan pelan. Tentu ia tidak ingin mengumbar masalah pribadinya pada orang lain.

Getar ponsel yang ada di saku celananya membuat Soo Hyun segera mengundurkan diri untuk mengangkat panggilan itu ke tempat yang lebih tenang.

Dan pekikan riang dari line seberang membuat Soo Hyun menyadari jika yang menelfonnya saat itu adalah adik sepupunya yang sangat ia rindukan. Sayang sekali saat ia sedang berada di luar kota, sepupu cerianya itu malah datang berkunjung ke Seoul.

"Siapa yang baru saja kau hubungi?"

"Soo Hyun hyung pastinya. Huahhh, aku sangat merindukannya. Kenapa ia pergi disaat kita kemari... Hahh, menyebalkan, aku jadi tidak bisa menemuinya." Kyuhyun mendengus sebal.

"Kau sangat menyayanginya?" Changmin menaikkan sebelah alisnya. Memperhatikan Kyuhyun yang sejak tadi tersenyum sambil memegangi ponselnya.

"Tentu saja."

"Aku harap kau tidak menyesalinya suatu saat nanti." Changmin dengan santai segera beranjak meninggalkan Kyuhyun yang sempat terdiam hingga beberapa detik karena perkataannya barusan.

"Yahh! Apa maksudmu?... Changminnnnn... Yahh! Kau mau kemana?" Kyuhyun segera mengejar langkah lebar Changmin yang keluar dari dapur. Sial. Temannya itu bahkan tidak memperdulikan teriakannya yang sudah seperti petasan.

Tarikan kuat dilengannya membuat Changmin dengan terpaksa membalikkan tubuhnya. Ia menghela nafas pelan sebelum menatap Kyuhyun yang saat ini mengernyit heran. Rasa bersalah menyeruak ke dalam hati Changmin. Tidak seharusnya ia kesal tanpa sebab seperti ini. "Mwo?"

"Ada apa denganmu? Sejak pagi tadi kau bersikap aneh seperti itu."

"Aku hanya berfikir betapa kasihannya lelaki semalam. Kurang lebih hal itu yang membuat mood ku jadi buruk seperti ini." Changmin mendesah pelan. Sungguh ia tidak bohong saat mengatakan hal ini. Ia memang kasihan dengan Yunho, dan membayangkan apa yang akan terjadi suatu saat nanti membuatnya semakin kasihan dengan lelaki tampan itu. Yunho pasti akan merasakan kekecewaan dan sakit hati yang mendalam. Hahhh, ia harus melakukan sesuatu.

"Kau sudah bertemu dengannya? Dan kenapa kau tidak membangunkan ku? Aishh." Kyuhyun mendesis kesal. Sungguh ia sangat penasaran dengan wajah lelaki semalam. Ia ingin mencari tahu siapa sebenarnya lelaki itu. Tidak mungkin orang itu menghubungi Jaejoong hanya untuk menjemputnya di Club malam kalau orang itu tidak mempunyai maksud terselubung.

Changmin juga bilang jika Jaejoong sedang mengantarkan lelaki itu. Come on! Lelaki itu hanya mabuk, tidak sedang mengalami kecelakaan parah. Jadi bukankah seharusnya pagi ini dia sudah lebih baik? Hhh, itu pasti hanya alibi lelaki misterius itu. Seandainya dia memiliki perasaan dan nekat ingin merebut Jaejoong dari sisi sepupunya. Maka sebelum Soo Hyun bertindak, ialah yang akan bertindak terlebih dahulu.

"Kau bahkan tertidur pulas seperti orang mati." Changmin menggidikkan bahunya cuek. "Sudahlah. Aku mau pergi."

"Aku ikut. Aku tidak mau mati bosan di dalam apartemen ini."

Jaejoong segera menghentikan mobil Yunho saat lelaki itu menyuruhnya untuk berhenti di depan Incheon airport. Dengan sangat kasar ia menghentakkan tangannya di atas stir mobil. "Sepertinya aku memang harus membuang jauh-jauh pemikiran tentang dirimu yang bisa bersikap baik. Karena sekarang kau bertingkah menyebalkan lagi."

Jaejoong semakin mendengus keras ketika perkataannya tidak di tanggapi oleh Yunho. Jangankan ditanggapi Yunho, lelaki itu bahkan tidak menghadap ke arahnya sama sekali. Pandangannya tetap tertuju ke arah jalanan ramai di depan, yang menurut Jaejoong bahkan tidak ada yang menarik sama sekali. Ia tidak suka diacuhkan.

"Yahh! Kau tahu? Aku cukup bingung dengan semua sikap mu akhir-akhir ini. Terkadang kau berubah baik dengan memperdulikanku, tapi kadang kau juga sering sekali membuatku kesal dengan sikap mu yang seenaknya itu. Kau mau membatalkan pembangunan di Thailand seperti keinginanku padahal kau biasanya tidak pernah mengindahkan ucapanku. Kau membelikan ponsel baru yang bahkan sudah puluhan kali ku tolak dan pemberian terakhir dengan ancaman gila yang membuatku terpaksa menerimanya. Tidak di meja kerja, laci meja, di dalam tas kerja, dan yang terakhir kau mengirimnya ke apartemenku dengan jenis dan bentuk ponsel yang berbeda setiap kalinya aku menolak." Nafas Jaejoong menderu cepat. Ia sudah tidak bisa lagi membendung rasa kesal yang sudah memuncak di dalam hatinya.

"Kemarin... Kau membentakku, mengataiku, memarahiku, menyuruhku pergi dan mengatakan jika semua pekerjaanku tidak ada yang sesuai. Tapi malamnya kau mabuk-mabukan, menyuruhku untuk menjemputmu dengan ancaman kalau kau akan bunuh diri. Apa kau tahu? Kau sangat konyol...kekanakan me-mmmh..." Jaejoong melotot dengan nafas tercekat ditenggorokannya. Masih terlalu shock dengan kenyataan jika Yunho baru saja mengecup bibirnya dengan sangat cepat tanpa bisa Jaejoong hindari. Ia bahkan tidak menyadari pergerakan itu sama sekali. Dan secepat itu pula bibir Yunho menjauh dari bibirnya, membuat ia merasa sedikit tidak rela?.

"Kumohon...beri aku waktu hingga beberapa menit kedepan untuk menceritakan sesuatu kepadamu."

Jaejoong menelan paksa salivanya. Rasa gugup kembali melandanya tatkala Yunho memandangnya dengan wajah memelas penuh luka yang terpancar dari mata musang itu. Ia segera mengalihkan pandangannya kearah samping, berpura-pura menatap keramaian orang yang hilir mudik menuju Airport.

"Mwo?" Tanyanya lirih.

"Disini...tempat terakhir dimana aku merasakan kehadiran seseorang yang pernah mengisi hidupku sebelum kesepian menjeratku."

Degg... Jaejoong bersumpah ia mendengar ada getaran dalam suara itu. Apakah Yunho sedang menahan tangisnya?.

"Hari itu saat kepulanganku dari Amerika. Aku berencana untuk melamarnya tepat di hari ulang tahunnya saat itu. Tapi nyatanya takdir berkata lain... Tuhan tidak pernah mengijinkan hal itu terjadi..."

"Tepat disana dia berdiri menyambutku dengan senyuman paling indah...melambaikan tangannya dengan sangat riang..."

Jaejoong segera mengalihkan pandangannya ke arah Yunho. Dan entah kenapa melihat raut kesedihan di wajah lelaki itu ikut membuat hatinya seperti diremas secara tak kasat mata. Melihat mata musangnya yang memandang kosong ke arah depan membuatnya ikut meringis sakit. Air mata itu mengalir dengan sangat deras...

"Dan aku menyesal karena saat itu aku sempat memuji keindahan gaun yang dipakainya. Dia bagaikan sosok malaikat tanpa sayap dengan pakaian putih bersih, rambut hitam kelamnya yang terurai panjang melambai-lambai tertiup angin..." Yunho tercekat. Luapan kesedihan kembali merajam hatinya. Mencabik-cabiknya hingga menumpahkan seluruh airmata yang selalu ia sembunyikan.

"Aku melihatnya... Dia berlari kearahku tanpa menyadari jika ada mobil yang melaju kencang bersiap merenggut nyawanya. Dan aku terlambat menyelamatkannya..."

Jaejoong menggigit bibirnya sekuat mungkin saat matanya ikut memanas. Melihat air mata yang mengalir deras dari mata musang itu ia yakin jika Yunho menyimpan sendirian luka dalam atas kejadian itu selama bertahun-tahun.

"Mobil itu menghantamnya dengan sangat keras... Mobil brengsek itu membunuhnya dengan sangat mengenaskan. Orang itu bahkan tidak menghentikan mobilnya...layaknya binatang yang tidak memiliki hati nurani." Ucap Yunho sarkatis. Ia mengatupkan rahangnya dengan gigi yang menggertak kuat saat air mata semakin meluncur deras bagaikan hujan.

"Baju putihnya yang beberapa menit lalu masih sangat bersih berubah menjadi merah karena genangan darahnya... Tubuhnya bersimbah darah... hukz... Aku memegang tangannya yang bergetar...Dia bahkan masih sempat memberiku senyuman terakhir saat bibir dan hidungnya semakin banyak mengalirkan darah segar... Ini salahku... Karena kesalahanku dia pergi dari dunianya... Aku terlambat... Semua kesalahanku... Aku berdosa... Akuu-..."

"Kumohon... Jangan katakan apapun lagi... Hukz...Kau tidak bersalah Yunho-ah... Kau tidak bersalah. Hukz... Itu bukan kesalahanmu... Jadi ku mohon... Berhentilah meracau menyalahkan dirimu sendiri...hukz..." Jaejoong menangis tersedu di atas bahu tegap Yunho. Memeluk lelaki itu saat ia sudah tidak tahan lagi mendengar racauannya yang menyalahkan diri sendiri. Hal itu membuat Jaejoong ikut merasakan sakit, hatinya mencelos sakit saat Yunho yang selalu kuat, arogan dan ambisius, tampak terpuruk menyedihkan seperti ini.

Perasaan hangat ini kembali Yunho rasakan. Sudah sangat lama ia ingin berbagi keluh kesah dengan seseorang yang bisa memeluknya sehangat dan senyaman ini. Tapi selama itu pula ia tidak pernah merasakan kehangatan dan rasa nyaman itu. Dan pelukan Jaejoong lah yang membuatnya tersadar jika ia sudah menemukan orang itu. Orang yang bisa memeluknya sehangat pelukan orang terdekatnya. Seseorang yang sangat ia cintai dulunya.

"Ji Hyun-ah... Mianhae... Jeongmal mianhae..." Yunho berbisik lirih. Ia semakin memeluk erat pinggang Jaejoong tatkala tubuhnya bergetar menahan luapan emosi. Yunho merengkuh lelaki mungil itu dalam dekapannya. Mendengar isak tangis Jaejoong yang semakin kencang membuat Yunho semakin menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Jaejoong. Meredam luapan tangis kesedihannya dalam kehangatan kulit leher Jaejoong yang membuatnya nyaman.

Jaejoong tidak tahu kenapa hatinya sangat sakit saat Yunho mengucapkan nama orang lain yang bahkan orang itu sudah tiada. Bodohnya ia yang sempat merasakan iri saat mengetahui jika wanita itu sangat beruntung karena mendapatkan luapan cinta Yunho yang teramat besar. Hatinya semakin mencelos sedih ketika melihat kerapuhan Yunho yang terpuruk menyedihkan seperti ini bukan lain karena wanita itu.

'Jadi karena hal inilah yang membuatmu sangat khawatir ketika aku hampir tertabrak saat itu?'

Derai tangis masih mengalir dari kedua mata indah Jaejoong. Ia membalas pelukan erat Yunho sambil mengelus punggung lebarnya. Menenangkan sosok lelaki yang selalu menyembunyikan kerapuhan dan kesedihannya dalam topeng seorang Jung Yunho yang selalu bersikap arogan. Jaejoong berjanji, mulai saat ini ia tidak akan lagi membiarkan tangis kesedihan dan luka hati itu ditanggung Yunho sendirian. Ia sangat ingin menjadi orang terdekat Yunho yang bisa menjadi tempat berkeluh kesahnya. Ia sudah sangat salah karena selama ini selalu berfikiran buruk tentang Yunho tanpa mengetahui sisi kelam dalam hidupnya yang penuh kesedihan dan dihantui rasa penyesalan yang membawa kesepian untuk menemaninya setiap waktu.

"Saranghae... Jeongmall saranghae..."

TBC.

Untuk beberapa pertanyaan sudah saya balas lewat repiu... Repiu again yahh...

Saya harap alur FTM gak buat para readers bosen... Dan semoga alurnya gak ketebak *komat kamit*... *kecup banjir bandang* buat para reviewers setia.. *hug teletubbies* buat reviewers baru...

Ahh ... Untuk reviewers baru selamat datang *bow* ... Sebelumnya terimakasih untuk readers yang berkenan membaca, para reviewers yang berkenan meninggalkan jejak, dan semua yang sudah memfollow dan memfavoritkannya, jeongmal gamsahamnida *bow*.

*Ketjup banjir* untuk reviewers tercintahh.. Gamsahamnida dear untuk semangat dan reviewnya.

Spesial thanks for :

irna lee 96 √ Lia √ akiramia44 √ Vivi √ zuzydelya √ dienha √ Yanie √ JonginDO √ kimmy ranaomi √ Minozme √ GreanTea √ 5351 √ Cherry YunJae √ alby chun √ kim anna shinotsuke √ MinnaYeong √ Selena Jung √ DahsyatNyaff √ dheaniyuu √ rinayunjaerina √ jaena √ tinaYJS √ ShinJiWoo920202 √ Yunholic √ YoonJae100604 √ yuu √ echacheon √ NanaShe √ cha yeoja hongki √ Ai Rin Lee √ aismamangkona √ jingle bubble √ yoon HyunWoon √ msLeeana √ Jiyeon park √ Saki √ Dream Girls √ yunjae q √ Najiha Hizaki Anzu √ nabratz √ Shim Chwang √ Dewi15 √ Delulu √ nimahnurun √ Elis √ kim wiwin 9 √ BaBYunJae √ Jung Jaehyun √ YunjaeDDiction √ fanny kimiel √ MyBabyWonKyu √ Florent √ meirah 1111 √ quinniee √ azahra88 √ ClouDyRyeoRez √ herojaejae √ Jerin √ rizkyhandayani89 √ boobearchangkyu √ juan kwon 9 √ NaeAizawa √ My beauty jeje √ bambielulu √ septiJOY √ vianashim √ puji √ Mickeyrang √ misschokyulate2 √ whirlwind27 √ minminkyu √ rsza √ aiska jung √ yunjaeboo √ tobie15 √ Himura Hana √ Safitri676 √ jj √ littlecupcake noona √ diahmiftachulningtyas √ Minkyu √ Park July √ shipper89 √ Yikyung √ yunjaeboo √ ifa p arunda √ Dhea Kim √ Lilin Sarang Kyumin √ vermilion √ simba yeu203 √ ms R √ shim jaecho √ yola yaoi √ cminsa √ anakyunjae √ Yunjae Shipper √ dokbealamo √ choikim1310 √ hyejinpark √ Youleebitha √ cuwon √ silviaafufu √ akira lia √ JJorien √ Kirena-chi √ voldemin √ liangie √ CheonsaXia √ minminkyu √ mimi2608 √ beserta para guest.

Adakah yang belum kesebut? Atau malah penname nya kesebut double? Tell me..

Cukup sekian.. terimakasih sebelumnya untuk antusiasme para readers *bow*

Keep RnR ... And last... Wanna tell me what do you feel about this chapter?...