WHEN REVENGE BECOME LOVE

Chapter Eight

Yunjae's Apartement

"Halo, Yoochun-ah. Aku tidak turun kerja hari ini, tolong tunda semua jadwalku. Ne, terimakasih."

"Noona, aku hanya mengingatkan. Hari ini Yunho hyung ulang tahun."

"Mwo ? Benarkah ? Terimakasih telah mengingatkan."

Sambungan telepon sudah terputus, entah apa maksud Yoochun tiba-tiba mengingatkan perihal ulang tahun Yunho. Jaejoong hanya berpikiran untuk menghabiskan hari ini dengan istirahat penuh, menangis semalaman membuat matanya sembab.

'Yunho ulang tahun ?' katanya dalam hati.

Seakan tidak peduli, Jaejoong menuju dapur, memasak sesuatu disana. Sekedar menghabiskan rasa bosan sendiri dirumah.

Dengan cekatan, Jaejoong memasak seperti seorang ahli. Dan tada ! Tersedialah dimeja makannya berbagai macam makanan.

Terdengar suara ketukan pintu, dan Jaejoong bergegas membuka apron bunga-bunganya.

"Ah, Suie. Ayo masuk ! Darimana kamu tahu aku ada di rumah ?"

"Chunnie yang memberitahuku eonnie, aku sangat bosan di rumah seorang diri, jadi aku kesini saja."

"Kebetulan sekali aku baru selesai masak Suie, mau mencobanya ?"

"Hm, tentu saja !"

Dan Jaejoong bersama Junsu kini berada di ruang makan, menikmati makanan yang baru saja dibuat oleh Jaejoong.

"Hmm, kalguksu (mie tipis dengan kuah ikan tuna dan sayuran) buatan eonnie enak."

"Pelan-pelan makannya Suie. Nanti tersedak."

Junsu hanya mengangguk-angguk disela-sela memakan mienya.

"Ah..kenyangnya. Terimakasih eonnie."

"Ne, aku senang kamu menyukainya. Apa kamu lagi hamil eoh ? Napsu makanmu besar sekali."

"Hehe..iya eonnie, bayi yang kukandung sudah jalan 4 minggu."

"Wah ! Selamat Suie !"

"Uh..sesak eonnie." Junsu berusaha melepaskan pelukan Jaejoong yang terbilang cukup kuat itu.

Lalu Jaejoong melanjutkan membersihkan meja makannya, makanan yang tadinya hendak ia berikan kepada Changmin hilanglah sudah berkat kehadiran Junsu yang tidak terduga.

"Akhirnya selesai juga." Jaejoong menghempaskan tubuhnya di sofa yang terletak di ruang keluarganya.

"Eonnie, apa tidak menyiapkan sesuatu yang spesial ?"

"Hm ? Untuk apa ?" Jaejoong mengerutkan keningnya akibat pertanyaan tiba-tiba dari Junsu itu.

"Yah, eonnie. Yunho oppa hari ini ulang tahun, apa eonnie sebagai istrinya tidak memberikan kado eoh ? Seperti candle light dinner atau semacamnya ?"

"Apa perlu ?"

"Ck, tentu saja eonnie !"

"Ya ! Jangan berteriak Suie !"

"Mianhe, aku hanya bingung saja, eonnie tidak peka ! Belajarlah mencintainya, bukankah dia itu suamimu ? Mau sampai kapan eonnie membencinya huh ?"

Hening seketika, benar apa yang Junsu katakan. Mau sampai kapan ?

"Umm..ketika Yoochun ulang tahun, kamu memberi dia apa Suie ?" tanya Jaejoong namun terdengar bergumam.

"Aku ? Aku memberikan tubuhku yang seksi ini."

"Dasar kamu ini ! Aku tidak mau !"

"Mwo ? Kenapa ? Kalian kan sudah menikah, itu hal yang wajar eonnie. Ah, apa kalian belum melakukan itu ?" tanya Junsu kemudian.

"Emm, itu...argghh ! Aku tidak mau menjawabnya !"

"Terbukalah denganku eonnie."

"Aku tidak mau memberitahumu ! Suie, sebenarnya kemarin aku..." Jaejoong menahan napasnya sebentar "Aku..menampar Yunho."

"MWORAGO ! Benarkah ? Aku benar-benar tidak percaya ! Kenapa eonnie menampar suami sendiri ! Kamu harus minta maaf kepadanya eonnie !"

"Uh..jangan teriak-teriak Suie, kasihan bayimu. Lalu aku harus apa ?"

"Harus apa ? Ya eonnie harus minta maaf kepadanya, setidaknya memberikan sesuatu yang special untuknya di hari ulang tahunnya !"

Jaejoong meresapi perkataan Junsu, ia merasa bersalah saat ini, apalagi Yunho yang tidak pulang juga ke rumah.

"Baiklah." Jaejoong mendesah pasrah, bila dipikirkan ini memang kesalahannya.

"Bagus ! Aku pulang dulu ya eonnie, aku harus ke supermarket dulu."

"Ne, hati-hati Suie."

.

.

.

Jaejoong masih duduk di sofa itu, merenungkan setiap perkataan Junsu. Apa benar dia merasakan itu ? Cinta ? Kalau dipikirkan kembali, bukankah setiap saat ia menolak keberadaan Yunho, tidak memikirkan setiap ucapan cinta Yunho, tapi Yunho masih bertahan untuknya. Padahal, bisa saja Yunho berpaling darinya dan mencari yeoja lain yang sudah pasti aka mencintainya. Tapi, kenapa ia tetap bertahan kepada Jaejoong hingga menikah ? Selalu mengucapkan 'saranghae' disegala kesempatan, tanpa menuntut balasan dari Jaejoong.

Setitik airmata jatuh, meluncur dengan bebas dipipinya. Benarkah ia merasakannya ? Ya, setiap denyutan halus ketika berada didekat Yunho, apakah itu pertanda bahwa dirinya, dirinya yang membenci Jung Yunho.

"Na..nado saranghae." Ucapannya bergetar, menggumamkan kata-kata itu ditengah-tengah isakan tangisnya, ia menyadari, sangat menyadari, ia mencintainya, membalas cintanya, Yunho yang tetap bersamanya, yang memberinya sentuhan lembut.

Kekuatan cinta yang diberikan Yunho telah mematahkan gembok yang mengurung hati Jaejoong. Membuat yeoja cantik ini merasakan dan menyadarinya bahwa ia ternyata mencintai Yunho. Oh God ! Sebelum semuanya terlambat, bisakah ini diperbaiki sekali lagi ? Mengulangnya dari awal ?

.

.

.

Jaejoong beranjak dari sofa itu, mengambil dengan kasar kunci mobilnya, mengendarainya diramainya kota Seoul. Toko kue, disinilah ia berada sekarang.

"Ada yang bisa saya bantu Nona ?" kata pelayan kue.

"Apa disini ada Chocolatte Mousse ?"

"Tentu saja ada Nona, anda ingin berapa potong ?"

"Dua potong saja."

Setelahnya, Jaejoong menuju supermarket yang letaknya tidak jauh dari toko kue tadi. Mendorong troli-nya, memilah bahan-bahan, sudah diputuskan ia akan mencoba masakan Perancis.

Sekitar 30 menit lamanya termasuk mengantri dikasir, Jaejoong kembali di apartement-nya, masih seorang diri, dilihatnya jam yang tergantung dengan angkuhnya. Jarum jam menunjukkan pukul 5 sore.

Ia bergegas menuju dapur, menggunakan apron bunga-bunganya, dan mulai mengeluarkan bahan-bahan makanan dari kantong plastik.

"Fighting Jaejoong !" ucapnya menyemangati dirinya sendiri.

.

.

.

Nissan's Group Distrik Gangnam-gu

Namja itu masih bermain-main dengan laptopnya, mengecek setiap deretan angka. Jabatan yang kini menyiksanya untuk menanggung beban yang berat, yang mengharuskan ia untuk lembur hari ini. Mata musangnya melirik jam tangannya.

"Sudah jam 6, pekerjaanku masih banyak. Apa Jaejoongie masih marah kepadaku ? Sebaiknya aku tidak perlu memberitahunya kalau aku pulang larut, lagipula ia tidak akan memperdulikannya." Ucapnya seorang diri diruangannya yang besar ini. Tidak ada yang menemaninya, hanya sesekali suara perutnya yang terdengar karena tidak diisi semenjak pagi. Melupakan lambungnya yang lemah.

"Yu..yunho Oppa."

"Ne, kenapa Yuri-ah ?"

"Aku membelikan Oppa makanan, aku tahu Oppa belum ada makan dari pagi."

"Gomawo, letakkan saja di meja itu."

Yuri segera menaruh makanan yang dibelinya di meja bundar yang terletak dipinggir ruangan.

"Op..pa."

"Ne, ada apa lagi Yuri-ah ?"

"Apa..tadi malam Oppa mengingat sesuatu ?"

Yunho menatap Yuri, memastikan kata-kata yang yeoja itu lontarkan.

"Mengingat apa ? Aku hanya ingat aku terbangun di hotel, sepertinya bodyguard bar yang aku kunjungi tadi malam yang membawaku kesana."

"Oh, begitu."

"Kenapa bertanya seperti itu Yuri-ah ?"

"Tidak apa-apa Oppa, Oppa aku pulang duluan ne ?"

"Hm, hati-hati Yuri-ah."

"Ne, Oppa."

BLAM

Pintu berwarna coklat tadi tertutup, Yuri segera menuju ruangannya, mengambil tas tangannya, sesekali mengusap airmatanya yang terjatuh. Dia merasakan sakit yang teramat saat ini, andaikan ia tidak memenuhi permintaan Yunho yang menyuruhnya ke bar itu.

.

.

.

Yunjae's Apartement

"Fiuh..akhirnya selesai juga."

Jaejoong menyapu keringatnya, bibirnya tersenyum puas, ya, bakat memasaknya sangat diuji saat ini. Sebuah candle light dinner yang dibuatnya menampilkan sebotol white wine yang tertata di meja lengkap dengan gelasnya, dua buah lilin yang berdiri tegak dengan sinar redupnya. Terlihat dua porsi Carpacio de st. Jacques, merupakan perpaduan quinoa seeds, irisan tiram, avokad, dan markisa, sangat segar untuk hidangan pembuka. Kemudian, terlihat semangkuk soupe a l' oignen, sup bawang yang didalamnya terdapat es krim rasa bawang. Dan menu utama kali ini Jaejoong membuat Ayam Marengo, sebuah masakan khas Perancis. Oh, jangan lupakan Chocolate Mouses yang dibelinya tadi.

Kembali ia melihat jam, dan ternyata sudah jam delapan malam. Jaejoong telah berpakaian rapi, memakai gaun hitam dengan bahu terbuka namun berlengan panjang, dengan perpotongan pendek selutut, rambut hitamnya terurai panjang.

Jantungnya berdebar kencang menunggu kehadiran Jung Yunho, seorang namja yang kini diakui-nya sebagai suaminya. Ya, suaminya, Jaejoong telah memutuskannya, dia sudah semakin tua, dia bukan anak kecil lagi.

.

.

.

Aku masih dengan setia menunggunya di ruang makan, kulihat lilin-lilin yang telah meleleh, sup yang kubuat tidak mengeluarkan asap panasnya lagi, dan ternyata oh ! ini sudah jam 10 malam, dia belum juga pulang. Apa dia marah kepadaku ? Wajar saja, aku menamparnya kemarin. Entahlah, aku dipermainkan perasaanku sendiri, aku membencinya, sangat membencinya, aku membencinya yang telah membuatku jatuh cinta kepadanya. Aku tahu itu, tatapan matanya menusukku sejak awal, aku hanya tidak bisa melupakan masa lalu itu. Bisakah kita mengulangnya dari awal Yunho ?

Aku hampir menangis saat ini, ini sudah tengah malam, kenapa dia belum pulang ? Kemana kamu Yunho-ah ? Disaat seperti ini, kamu jahat Yunho-ah, kenapa disaat aku mulai membuka perasaanku untukmu, kamu tidak ada ?

Aku meninggalkan ruang makan itu, masih seperti tadi, bahkan sebuah kado yang telah kupersiapkan untuknya, masih terletak dimeja itu bersama dengan suara hatiku. Akankah ia mengerti ?

.

.

.

Yunho baru saja memasuki apartement-nya, sedikit perasaan bersalah menghampirinya pasalnya ia kemarin tidak pulang dan sekarang ia baru saja pulang pukul dua malam, pekerjaannya, jabatannya, benar-benar menyiksanya.

Yunho menuju dapur rumahnya, rasa haus pada tenggorokannya sangat menyiksanya, perutnya yang terasa lapar kembali meghampirinya. Tersirat dibenaknya untuk memasak ramen instan, tapi,

"Mwo ? A..apa ini ?" Yunho bertanya pada dirinya sendiri, ketika mata musangnya melihat ruang makannya tersulap menjadi se-romantis mungkin. Terdapat banyak makanan disana dan mata musangnya yang sibuk menjelajahi meja makan itu menangkap sesuatu.

"Ka..do ?" Yunho mengambil sebuah kotak perhiasan berwarna hitam berlambangkan angsa itu, oh yeah ~ swarovski (my fave's brand ever !)

Mata musangnya kembali menangkap sebuah surat yang digulung dan berhiaskan pita berwarna merah, buru-buru ia membuka surat itu, tentu saja penasaran dengan isinya.

Yunho-ah, aku tidak tahu harus berkata apa, tapi pertama-tama aku ingin mengucapkan Happy Birthday !

Yunho-ah, mungkin ini terdengar gila, namun bisakah kita mengulang ini semua, maksudnya mengulang kisah kita dari awal ? Selama ini aku bukanlah istri yang baik untukmu, aku hanya terkurung oleh keinginanku untuk balas dendam kepadamu, tapi ijinkanlah aku untuk mengucapkan ini 'Nado Saranghae."

Dan, ijinkanlah aku memasang kalung itu dilehermu, Yunho-ah.

"Ja..jae.." Ucapannya bergetar, dia ingin menangis sekarang, oh Tuhan ! Apakah ini berkah baginya ? Apakah ini kado spesial dari Tuhan ? Jaejoong mengucapkannya, Jaejoong membalas perasaannya. Tapi, dimana ia sekarang ? Bukankah dia akan memakaikan Yunho kalung itu ? Kalung inisial YJ yang Jaejoong beli kemarin.

Dengan langkah tergesa-gesa, Yunho mencari-cari keberadaan istrinya itu, dan akhirnya.

"Jaejoongie ! Mianhe, saranghae. Saranghae Jaejoongie."

"Ungh.."

Jaejoongie merasa tidurnya terusik dikala Yunho mengecup permukaan wajahnya, namun matanya sangat berat untuk terbuka, dia hanya merasakannya saja, merasakan pelukan Yunho yang hangat menggenggam tubuhnya dengan erat.

Yunho sangat berterimakasih kali ini, tidak pernah ia membayangkan mendapatkan kado seindah ini. Kim Jaejoong, Jaejoongie, Joongie, Boojaejoongie-nya membalas perasaannya.

Yunho semakin mengeratkan pelukannya, mereka pun tertidur bersama dengan Yunho yang masih memakai pakaian kerjanya, dan Jaejoong masih memakai gaun hitamnya.

"Saranghae Kim Jaejoong." Yunho kembali mengecup cherry lips itu dengan lembut. "Selamat tidur." Ucapnya lagi.

Ketika ia hendak menutup matanya menyusul Jaejoong di alam mimpi, ia teringat sesuatu, masakan itu yang tertata manis di meja makan. Yunho kembali menuju ruang makannya, menghabiskan makanan perancis ala Jaejoong. Tidak pernah ia seharu ini ketika makan, perasaannya mengendalikan dirinya, betapa bahagianya Jung Yunho saat ini. Well, biarkan untuk saat ini seperti itu dulu. Yeah ~

To be continued

Give me some review ~

Balikpapan, 10 Juni 2013

ZE.