Chapter 8 –End

Athena melompat keluar dari jalan para Dewa yang dibukanya. Wajah khawatir Shion dan Artemis pun dengan segera menyambutnya. Angin yang kencang meniup rambut keunguan Dewi perang itu sementara ia berdiri dan berjalan tertatih mendekati kakaknya.

"Bagaimana?" Tanya Artemis sambil memegang kedua lengan Athena ketika adiknya itu nyaris jatuh dihadapannya.

"Mereka menolak berbicara baik-baik dan terpaksa kami bertarung. Persephone menderita luka cukup parah dan aku pun kurang berhati-hati saat Thanatos menyerang tubuhku telak. Namun Hades tiba di Elysium tepat waktu ketika aku nyaris menyerang mereka dan langsung memblokir segala seranganku. Saat itu juga, peperangan selesai, dan Hades marah besar kepada Hypnos dan Thanatos ketika melihat luka Persephone. Aku pun langsung meninggalkan tempat itu ketika situasi telah terkendali. Aku tak ingin terlibat perang lagi dengan paman lagi saat ini." Jelas Athena sambil berusaha berdiri tegak. Ia mendesis pelan ketika tanpa sengaja menggores luka membuka di pinggangnya.

Artemis pun mengangguk dan dengan cepat memapah adiknya itu kedalam Papacy. Tubuh Athena berdarah dan tercabik cukup parah. Sayap clothnya pun hancur separuh dan pelindung bahunya pecah.

Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk tiba di kamar Athena. Artemis pun mendudukkan Dewi Kebijaksanaan itu diatas salah satu kasur yang tersedia. Athena pun dengan segera melepaskan God cloth yang menempel ditubuhnya dan langsung kembali dalam bentuk patung kecil ditangannya. Ia meletakkan patung itu di atas meja kecil keemasan disamping tempat tidurnya dan membaringkan tubuhnya perlahan.

Artemis pun berdecak pelan begitu melihat kondisi Athena yang ternyata lebih parah dari dugaannya. Gaun Athena robek sampai beberapa senti diatas lutut dan terdapat luka melingkar pada pinggangnya.

"Ck! Kau bertarung seperti apa sih? Kenapa kondisimu bisa sampai separah ini?" Tanya Artemis setengah jengkel. Athena pun tertawa pelan dan menjawab, "Sepertinya, kondisi Hypnos dan Thanatos jauh lebih parah dariku." Katanya.

"Kau benar-benar terlihat menikmati pertarungan ini, bukan begitu?"

"Tidak. Justru aku berulang kali mengajak mereka bicara selama berperang. Aku berusaha menghentikan peperangan sebisa mungkin. Tapi ternyata mereka tidak mau mendengarkanku." Jawab Athena setengah meringis ketika Artemis menyentuh lukanya. Artemis berkacak pinggang dan menggeleng. Ia pun dengan segera mengalirkan cosmonya ke tubuh Athena dan menutup beberapa luka parah yang membuka.

"Ah! Seandainya kau tidak menggunakan tubuh manusia ini, lukamu pasti bisa menutup dengan cepat!" Kata Artemis jengkel. Athena pun hanya menanggapi dengan senyuman dan tidak menjawab apapun.

"Saori-saaaannn!"

Suara Seiya yang sangat keras tersengar di seluruh Papacy. Seketika itu juga, Athena sangat panik dan memandang kakaknya penuh harap. Jika sampai sang Pegasus itu mengetahui kondisinya sekarang, situasi ini pasti akan bertambah kacau. Sang Dewi Bulan pun menghela nafas dan berjalan keluar dari kamar itu. Ia pun dengan segera menemui Seiya yang tengah berlari kearahnya. "Apa yang terjadi? Saori-san!" Seru Seiya panik.

"Cukup Pegasus! Athena tidak dapat diganggu saat ini. Sebaiknya kau segera pergi."

"Apa maksudmu?! Apa yang terjadi dengan Saori-san?!" Balas Seiya tanpa takut. Ia pun hendak menerobos masuk ke kamar itu walaupun Artemis menghalanginya. Artemis menatap bronze saint itu jengkel dan mengangkat tangannya. Dari telapak tangannya itu, sebuah cosmo kebiruan yang sangat terang pun membentuk sebuah bola cahaya. Seiya yang melihatnya segera bergerak mundur. Namun ia terlambat. Artemis melemparkan bola itu dan mengenai Seiya hingga pingsan. Ia pun memandangnya puas dan dengan segera meninggalkan Seiya yang terbaring dihadapannya.

"Merepotkan sekali." Katanya sebelum kembali memasuki kamar.

"Dia hanya pingsan." Jawab Artemis singkat ketika melihat tatapan bertanya adiknya. Athena pun mengangguk dan menghela nafas sebelum membaringkan dirinya kembali dan tertidur. Artemis pun tersenyum memandang Athena sebelum keluar dan mendapati Shion tengah membaringkan sang Pegasus diatas sofa.

"Shion. Kemarilah sebentar." Panggil Artemis.

Shion menurut dan menghadap sang Dewi Bulan. Ia menundukkan kepalanya singkat karena merasa perlu memberikan penghormatan pada sang Dewi yang telah membantu junjungannya itu.

"Athena terluka dan Shaka kembali dengan kalung itu. Aku tidak mengerti fungsinya, tetapi aku yakin Persephone mengatakan sesuatu pada sang Virgo. Sebenarnya, aku berharap kau dapat menentukan pilihanmu dengan Libra hari ini. Athena tidak bisa terus-menerus menunggu dan berdiam diri. Waktunya semakin dekat dan kita harus bersiap. Karena itu, aku ingin kau berunding dengan Libra saat ini juga. Biarkan aku yang menjaga Athena." Kata Artemis.

"Saya tidak bisa meninggalkan Papacy tanpa seijin Athena-sama. Bagaimanapun, tugas saya jugalah untuk menjaga beliau." Jawab Shion.

"Kalau begitu, mintalah ijin padanya sekarang." Balas Artemis. Bukan kali ini saja ia mengagumi loyalitas para saint. Bahkan untuk hal seperti ini –yang pastinya mendapat ijin Athena- pun masih harus dipastikan. Artemis memanggil Athena dengan cosmonya untuk membangunkannya sejenak. Athena pun bersiap dan duduk di atas tempat tidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Artemis melihat Shion menunduk dan berbicara singkat pada adiknya itu. Setelah Athena mengangguk dan mengatakan beberapa hal, Shion pun keluar dengan segera dan meninggalkan Papacy tanpa menoleh lagi.

"Berapa lama lagi waktu yang tersisa?" Tanya Artemis kepada Athena yang kini duduk tenang menatapnya.

"Dua minggu." Jawab Athena sambil menghela nafas.

Artemis pun menatap Athena sendu. "Kau persiapkan saja dirimu, dan aku akan mengawasi para saintmu sebagai gantinya." Kata Artemis.

Athena pun memiringkan kepalanya. "Sejak kapan kau mau berhubungan dengan para saintku?" Tanya Athena penasaran. Artemis pun tersenyum kecil sebelum menjawab, "Sejak aku melihat perjuangan sang Virgo beberapa hari yang lalu. Aku tidak mengira ia akan berusaha melindungi Persephone sampai seperti itu." Jawab Artemis. Athena pun tersenyum dan mengangguk. Ia tidak menyangka hal seperti itu ternyata mempengaruhi sifat kakaknya.

Angin bertiup lembut dari jendela yang terbuka disamping tempat tidur Athena. Jam pun sudah menunjuk pukul dua siang. Sudah setengah hari berlalu sejak kepergiannya ke Elysium dan kembalinya Shaka ke Sanctuary.

"Kalung yang dibawa Shaka kemarin, apakah kau tahu fungsinya?" Tanya Artemis tiba-tiba. Ia pun memandang adiknya yang menggeleng dan menjawab, "Mungkin hanya Shaka yang tahu kegunaannya. Namun jika dilihat dari bahannya, permata dikalung itu dibuat dengan bahan yang sama dengan kotak penyegel jiwa Dewa kembar dulu. Mungkin Persephone berharap Shaka dapat menyegel kedua Dewa itu lagi."

"Jika itu benar. Maka sebaiknya kau mempersiapkan saintmu itu, Athena. Bukan tugas yang mudah untuk menyegel jiwa Hypnos dan Thanatos." Saran Artemis yang langsung mendapat anggukan setuju dari Athena.

Athena pun menghela nafas panjang. "Untuk sekarang, kita hanya bisa menunggu." Katanya sambil menoleh keluar jendela.

"Ya.. menunggu malam ini tiba."

.

.

Disclaimer:

Saint Seiya - Masami Kurumada

Warning:

SS Omega, Soul of Gold, The Movie 5: Overture dan Next Dimension dianggap tidak ada.

.

Rated: T+ - M

.

Chapter 8: Sudah Waktunya

.

The Sacrifice

.

.

Hari sudah gelap dan malam pun tiba. Bulan purnama masih bersinar terang tanpa awan dilangit. Suara gesekan pohon dan burung hantu pun terdengar sangat jelas. Mu tengah duduk bersila diteras belakang kuilnya, sambil menatap bulan dengan senyum yang mengembang. Ia masih sangat bersyukur karena Shaka dapat kembali dengan selamat. Bahkan, sempat memberinya kejutan yang tidak biasa.

Sambutan yang diberikan para gold saint kepada Shaka pun sangat diluar dugaan. Aiolia yang pertama kali melihat Shaka keluar dari kuil Aries langsung memeluknya erat dan menghubungi para gold saint lainnya. Alhasil, berkumpulah para gold saint itu dikuil Sang Domba sejak pagi sampai siang tadi. Aldebaran pun langsung memasak makanan porsi besar bersama Shura dan Camus di dapur. Dan dalam sekejap, kuil Aries sudah tertata sedemikian rupa seolah ada pesta besar disana. Jika bukan karena keinginan Aiolia dan Milo, jelas sambutan itu tidak akan semeriah ini.

"Mu-samaaa.."

Panggilan Kiki dibelakangnya sukses menyadarkan Mu dari lamunannya, bahkan membuatnya sedikit terkejut. "Ada apa Kiki?" Tanya Mu sambil mengelus rambut Kiki yang kini bermanja dipangkuannya.

"Mu-sama diam sekali barusan. Senyum-senyum lagi. Kepikiran kak Shaka ya?" Goda Kiki yang langsung membuat wajah Mu memerah. Untung suasana saat itu remang-remang sehingga Kiki tak dapat melihatnya. "Iya. Aku hanya senang Shaka bisa kembali. Itu bukan hal yang aneh, bukan? Kami kan teman seperjuangan." Jawab Mu. Kiki pun dengan polosnya menerima saja perkataan Mu tanpa menyadari arti sebenarnya dibalik kata-kata itu.

"Kiki. Suatu saat nanti jika kau sudah menerima gold cloth Aries ini, berjanjilah satu hal padaku." Kata Mu tiba-tiba sambil tetap menatap langit. Kiki pun mengikuti arah pandangan gurunya tanpa menjawab. " –Jagalah mereka yang berharga bagimu, sampai titik darah penghabisan." Lanjut sang Aries yang kini menurunkan pandangannya dan menatap Kiki lekat. Kiki pun tersenyum dan mengangguk. "Pasti." Jawabnya tegas. Mu membalas senyumnya dan mengacak rambut Kiki sebelum mengarahkan pandangannya ke langit kembali. Ia memandang rasi bintang Virgo itu dengan mata yang berbinar. Kiki pun tampak senang melihat gurunya yang sudah kembali ceria.

Angin bertiup kencang secara tiba-tiba dan cosmo Athena pun melingkupi seluruh kuil Aries sampai Pisces. Kiki memandang kagum ketika melihat cosmo keemasan Athena yang bagaikan kunang-kunang disekitarnya.

"Berkumpulah di Papacy, para gold saint."

Suara Athena terdengar jelas dari cosmo itu. Sejenak, Kiki tampak bingung sampai akhirnya ia mengerti bahwa Athenalah yang berbicara. "Hebat! Bagaimana caranya Athena-sama membuat telepati seperti ini? Aku bisa mendengarnya langsung dengan telinga! Bukankah telepati biasanya langsung terdengar dalam pikiran?" Tanya Kiki ingin tau. Mu pun tersenyum dan menggeleng. "Hanya Athena yang dapat melakukannya. Para gold saint pun bisa, hanya saja, orang itu harus berada dibawah ilusi untuk dapat mendengarnya langsung." Jelas Mu singkat sebelum menurunkan Kiki dari pangkuannya.

Mu membakar cosmonya dan memanggil gold clothnya. Tak butuh waktu lama, gold cloth Aries pun merespon panggilan Mu dan langsung terpecah menurut bagiannya. Semenit kemudian, seluruh gold cloth itu pun sudah melekat sempurna ditubuh Mu. "Nah, aku harus pergi. Jangan pergi keluar dari kuil ya, Kiki." Kata Mu diikuti anggukan patuh muridnya.

Mu pun berlari dengan cepat menuju Papacy. Ia dapat melihat Aldebaran yang berdiri dipintu kuil Taurus untuk menunggunya. Mu tersenyum singkat dan membalas sapaan Aldebaran sebelum kembali berlari bersama menuju kuil teratas itu.

..oOo..

Seperti biasa, Aiolos membuka pintu keemasan Papacy dan memberi salam kepada Dewinya diikuti para gold saint yang lain. Athena pun mengangguk, dan tanpa berbicara, menyuruh para gold saint itu untuk mengikutinya menuju halaman tempat Patung Athena berdiri. Artemis, Shion dan Seiya pun mengikuti Athena didepan para gold saint itu. Tak lama kemudian, tibalah mereka semua dihalaman belakang tepat dibawah patung Athena.

"Kalian tentu mengerti mengapa aku mengumpulkan kalian malam ini. Namun sebelumnya, aku ingin membawa Seiya kembali kedalam garis reinkarnasi. Ini kesempatan terakhir kalian sebelum ia pergi denganku." Kata Athena. Seiya pun tertawa gugup ketika para gold saint memandanginya. Ia melirik Athena sebentar sebelum dengan perlahan turun diantara para gold saint itu.

Seiya memeluk satu persatu gold saint yang berjejer disana. Aiolia tampak sangat sedih. Ia pun merangkul Seiya lama seperti adiknya sendiri. Aiolos juga turut memeluk sang pegasus. Tak lupa, Seiya mengucapkan banyak trimakasih atas bantuannya melalui gold cloth Sagitarius yang berulang kali menyelamatkan nyawanya. Setelah ia melepaskan rangkulannya dari sang gold saint Pisces, Aphrodite pun menyematkan sebuah mawar merah yang tidak beracun di dada Seiya. Seiya sempat tersenyum lebar sebelum dengan cepat kembali ke sisi sang Athena.

Tak banyak bicara, Athena pun membuka jalan para Dewa. Ia memasukinya sekali lompatan dan mengulurkan tangannya pada bronze saint itu. Seiya tersenyum dan memandang para gold saint untuk terakhir kalinya sebelum menerima uluran tangan Sang Dewi Perang. Jalan para Dewa itu pun dengan segera tertutup ketika Seiya memasukinya dan menggandeng tangan Athena yang melindungi tubuh Seiya dengan cosmonya.

Athena berdiri diantara lautan dimensi yang bertumpukan dibawahnya. Tekanan yang kuat sedikit menggoyahkan tubuhnya yang tidak mengenakan God Cloth. Athena menarik Seiya mendekat padanya dan memeluknya, ia pun mengecup dahi sang Pegasus perlahan. "Trimakasih.. Seiya.." Ucapnya lembut. Seiya pun tersenyum dan mengangguk sambil dengan perlahan melepaskan tangan Athena yang menahannya. Athena tersenyum sedih dan mengangkat cosmo yang melingkupi Seiya. Tak lama kemudian, tekanan kuat yang dihasilkan lautan dimensi itu pun mulai memecah tubuh seiya perlahan. Seiya tersenyum ketika tubuhnya mulai menjadi debu. Dalam kesempatan terakhir, Athena pun menyentuh wajah Seiya sebelum akhirnya hilang seluruhnya.

Athena menenangkan dirinya dan menghela nafas panjang sebelum membuka kembali pintu jalan Para Dewa itu menuju kehadapan para gold saint. Ia pun berusaha tersenyum dan terlihat tegar sambil melompat keluar dari jalan itu dan memandang Artemis yang tersenyum menghibur padanya. Athena menghela nafas. Ia pun dengan segera mengalihkan pandangannya kepada para gold saint yang kini terlihat menunduk.

"Aku akan menjelaskan rahasia ini kepada kalian, namun sebelumnya, kalian harus berjanji untuk mengendalikan diri kalian sebaik mungkin. Perjanjian yang aku buat dengan Hades merupakan hal yang tidak dapat dicabut maupun dibatalkan. Jika aku melarikan diri, maka aku akan menerima hukuman dalam Tartarus selamanya dan tidak dapat bereinkarnasi lagi. Oleh karena itu aku mohon kerja sama kalian, dan aku pun meminta maaf jika ternyata hal ini menjadi beban yang berat bagi kalian." Kata Athena mengawali. Shion yang mendengar perkataan Athena pun membuang mukanya, demikian juga Shaka yg hanya dapat menunduk.

Athena mengehela nafas berat sebelum melanjutkan perkataannya. "Aku tidak ingin ada yang menyela selama aku menjelaskan." Katanya diikuti pandangan para gold saint yang kini menatapnya.

".. Hades menyetujui tawaranku.. untuk mengambil nyawaku ganti kalian." Lanjutnya. Para gold saint pun terkejut setengah mati, namun menahan diri untuk tidak berkomentar apa-apa. Athena pun melirik Artemis yang menatapnya sendu.

"Namun, Hades tidak menginginkan kematian yang biasa bagiku. Ia memutuskan untuk menyiksaku sebelumnya.. dan.. ia meminta.. kalianlah yang harus melakukannya." Kata Athena melanjutkan. Para gold saint pun memandang sang Dewi dengan ekspresi terkejut dan ngeri, namun sekali lagi menahan diri mereka untuk tak berkomentar.

"Hades meminta kalian untuk.." Terjadi jeda yang lama ketika Athena mencari kata-kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang Hades minta.

"Menyambuknya dengan Cambuk Tartarus." Kata Artemis menyelesaikan perkataan Athena yang tak sampai. Athena pun menunduk tanpa memandang Artemis. Ia meremas tangannya takut menantikan reaksi para gold saint. 'Menyambuk' mungkin kata yang halus, namun tidak lengkap untuk menggambarkan hal yang sebenarnya.

"Ka..kami.. Kami.."

"TIDAK BISA! Ini sudah kelewatan! Kami tidak mungkin melakukan hal ini Athena.." Seru Saga yang terdengar pasrah.

"Maaf Athena-sama. Namun benar yang dikatakan Saga. Lebih baik kami mati daripada anda harus melakukan hal ini." Kata Aiolos menyetujui. Ia pun memandang Saga yang ternyata tengah memandangnya juga. Ia dapat melihat ketakutan dan khawatir mendominasi mata sang Gemini.

"Kami tidak bisa, Athena. Tidak lagi. Holy War ini sudah cukup. Kami tidak ingin menyakiti anda lagi." Kata Camus memohon.

Athena menunduk dan membungkukkan badannya. Ia menggumamkan permintaan maaf tanpa memandang para gold saint yang kini memohon padanya untuk membatalkan rencana ini.

"Athena?" Panggil Artemis pelan. Ia pun memegang pundak Athena yang bergetar. Ia tahu adiknya ini tengah menanggung sebuah beban yang berat.

"Aku lebih mementingkan hidup kalian dibandingkan nyawaku. Aku ingin kalian merasakan hidup dalam kedamaian selama dua ratus tahun kedepan. Aku tahu masa kecil kalian telah dirampas sedemikian rupa untuk berlatih dan berlatih. Dididik dalam kedisiplinan dan siksaan. Karena itu aku ingin memberikan hadiah kecil bagi kalian. Aku benar-benar minta maaf jika hal ini justru menyakiti kalian. Aku mengerti perasaan kalian, namun inilah permintaan terakhirku sebelum aku meninggalkan bumi. Aku hanya ingin, setidaknya diakhir hidupku aku dapat melakukan sesuatu bagi kalian. Karena bagaimana pun juga, pada akhirnya aku akan tetap memasuki garis reinkarnasi." Kata Athena pelan sebelum menegakkan badannya dan berusaha tersenyum. Walaupun ia seorang Dewi, bagaimanapun juga ia memiliki rasa takut akan perjanjian yang akan dilaksanakannya nanti.

Para gold saint pun terdiam. Mereka memalingkan wajahnya dan menunduk. Cosmo Athena pun dengan perlahan menyentuh satu persatu dari mereka untuk menguatkan mereka, seperti yang dilakukannya pada Shion dahulu. Mereka menangis sunyi mengetahui keinginan Athena dan tidak berbicara lagi.

Situasi tampak lebih tenang ketika cosmo Athena melingkupi seluruh Papacy. Dan dengan perlahan, Athena pun menjelaskan satu persatu apa yang harus mereka lakukan nantinya. Barisan para gold saint pun tercerai saat itu juga. Mereka pun berpencar dan mendekatkan diri dengan sahabat maupun teman terbaik mereka untuk menenangkan diri. Shaka memeluk Mu yang membenamkan wajah didadanya. Demikian juga Milo yang merangkul Camus. Artemis pun berdiri dan memegang pundak Athena untuk menguatkannya

Tak ada selaan sedikitpun dari para gold saint sampai Athena selesai menjelaskan semuanya. Athena pun memanggil Shion, Dohko dan Shaka setelah para gold saint meninggalkan tempat itu.

"Aku ingin bertanya tentang keputusan kalian, Shion, Dohko. Apakah kalian ingin menerima Misopetha Minos, atau memasuki garis reinkarnasi?" Tanya Athena.

Shion pun memandang Dohko yang balas menatapnya dengan keyakinan. "Kami memutuskan untuk menerima Misopetha Minos dan tugas apapun dari anda untuk kehidupan kami berikutnya, Athena-sama. Kami telah hidup beratus-ratus tahun lamanya, dan kami sanggup jika anda meminta kami untuk hidup lebih lama lagi." Jawab Shion mewakili Dohko. Athena pun tersenyum dan dengan singkat menjelaskan semua yang terjadi diantara para gold saint kepada Shaka selama jiwanya dibawa oleh Persephone.

Athena pun meminta mereka mempersiapkan diri sementara ia memanggil tongkat Kemenangan dihadapannya. Athena mengangkat tangan dan tongkat itu sambil membakar cosmonya. Tongkat itu bermandikan cahaya keemasan ketika bersentuhan dengan cosmo Athena yang membara. Athena pun menurunkan tongkatnya menghadap Dohko, Shion dan Shaka yang seketika itu juga membungkukkan badannya menahan rasa sakit. Tak lama kemudian, Athena melepaskan cosmonya dan menatap Artemis sebentar sebelum kembali memandang Kyouko dan kedua gold saint dihadapannya.

"Trimakasih. Sudah menjagaku selama ini. Kalian bisa kembali sekarang." Kata Athena diikuti anggukan patuh Dohko dan Shaka yang bersama-sama berjalan kembali kekuilnya. Dengan itu, maka tinggallah Shion, Athena dan Artemis bertiga disana.

Angin bertiup pelan dari timur. Bintang dan bulan pun mulai meredup tertutup awan. Keheningan melanda halaman Papacy itu sejenak sampai Shaka dan Dohko telah meninggalkan tempat.

"Ada satu hal yang tidak aku beritahukan kepadamu dan kepada mereka tentang cambuk tartarus itu, Shion." Kata Athena tiba-tiba sambil menatap langit.

"-Aku ingin kau memberitahukan hal ini kepada mereka setelah kepergianku nanti. Hanya untuk berjaga-jaga." Lanjutnya sebelum menoleh dan menatap Shion sambil tersenyum sedih.

"Cambuk tartarus itu.. memiliki dampak panjang jika melukai tubuhku nantinya. Luka itu akan membekas padaku, sampai pada kehidupanku dua ratus tahun kedepan. Hal itu mungkin akan menyakitiku ketika aku membakar cosmo ataupun berperang, bahkan tidak menutup kemungkinan untuk membunuhku sebelum aku menginjak usia belasan tahun. Karena itulah Persephone begitu marah ketika mengetahui hal ini. Dan sama seperti Persephone dan kakak, aku pun takut akan Holy War yang akan terjadi nanti. Karena itulah, aku memutuskan untuk bereinkarnasi sedikit lebih lama dari biasanya dan menghadapi Holy War itu sebelum usiaku menginjak sepuluh tahun. Aku pun membutuhkan bantuanmu, Shion, untuk mempersiapkanku menghadapi Holy War dua ratus tahun nanti secepat mungkin dan menolongku melewati masa-masa kritis dihadapanku. Aku mohon, Shion. Tetaplah menjabat sebagai Kyouko dua ratus tahun kedepan dan tetaplah berdiri di sisiku sebagai Saint Athena." Pinta Athena.

Shion pun terkejut mendengar hal itu. Ia tak menyangka bahwa ini ternyata akan berpengaruh begitu besar akan kehidupan Athena. Ia tahu Hades pasti akan mengambil keuntungan melalui hal ini, namun tidak sampai seperti ini. Butuh beberapa menit bagi Shion untuk mengendalikan dirinya dan mengangguk tanpa menjawab apapun. Lidahnya kelu dan ia tak dapat mengeluarkan suaranya.

"Trimakasih." Kata Athena pelan disertai senyuman singkat. Ia pun dengan segera memandang Artemis yang mengajaknya masuk ke dalam Papacy. Tak membantah, Athena pun membiarkan tangannya ditarik kakaknya itu sementara ia melingkupi Shion dengan cosmonya.

Langit masih gelap gulita dan awan yang tebal kini mulai melingkupi Sanctuary, tanda bahwa badai akan datang kembali. Hanya beberapa obor kecil sajalah yang menerangi aula Papacy itu ketika Athena memasukinya. Shion pun dengan segera meminta ijin untuk kembali kekamarnya dan menyelesaikan beberapa tugas. Demikian juga Athena dan Artemis yang langsung menuju kamar mereka dan merebahkan tubuhnya bersebelahan dalam satu kasur.

"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya Athena pelan.

"Menunggu.. dan mempersiapkan dirimu sebaik mungkin. Bersikaplah tegar dan tunjukkan kesungguhanmu pada mereka. Aku yakin mereka mau mengerti situasimu saat ini." Kata Artemis sambil merangkul pundak adiknya.

Athena pun membenamkan dirinya dalam pelukan kakaknya. Tubuhnya gemetar karena takut. Ia mengetahui dengan jelas apa yang akan dialaminya nanti. "Jangan pergi dariku." Bisiknya. Artemis pun mengangguk dan mengusap rambut Athena perlahan. Ia mencium kening adiknya itu dan melingkupi Athena dengan cosmonya sebagai bentuk cinta dan dukungan darinya.

Hujan deras mulai turun membasahi Sanctuary. Angin pun bertiup semakin kencang dari timur, membawa bau tanah disela-sela air hujan itu. Obor-obor yang menerangi Papacy pun perlahan mulai padam tertiup angin dari jendela yang terbuka.

Athena tertidur dalam pelukan Artemis malam itu. Dalam balutan cosmo sang Dewi Bulan yang menghangatkannya. Artemis pun menoleh kearah jendela ketika ia mendengar suara kepak sayap yang tidak asing baginya. Tak lama kemudian, siluet seorang laki-laki pun memasuki kamar itu dan langsung memberi tanda bagi Artemis untuk diam.

"Apa yang kau lakukan disini, Hermes?"

..oOo..

"Aku tidak bisa tidur."

"Aku juga.."

"Disini juga.. Kanon malah sedang termenung diteras sekarang."

"Aku tidak habis pikir! Bagaimana mungkin Athena bisa seperti itu!"

"Shtt.. tenang Milo.. Suaramu semakin keras jika didengar dari telepati."

"Bagaimana mungkin aku bisa tenang?! Kau pun juga merasakan hal yang sama bukan?"

"Tentu saja.. kita semua merasakan hal yang sama sekarang."

"Sudah-sudah.. tidurlah kawan-kawan, Athena akan sangat kecewa jika kita tidak beristirahat malam ini. Jika beliau melihat kita sangat kelelahan besok, Athena pasti akan menyalahkan dirinya sendiri."

"Benar kata Aiolos. Lagipula, Misopetha Minos ini benar-benar membuat dadaku sakit. Seolah-olah jantungku ingin meledak saja."

"Keuntungan bagi Roshi yang sudah terbiasa.. aku berani bertaruh kalau Misopetha Minos tidak berpengaruh banyak padanya."

"Well, sepertinya kalian salah. Ilmu ini tetap saja seperti dulu. Tapi tenang saja, rasa sakitnya akan hilang dua atau tiga hari pertama."

"Ah, Roshi.. Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita tidak bisa mencegah atau menolak permintaan Athena.. Aku tidak mau melakukan apa yang Athena minta."

"Aku pun begitu, Shura. Tapi seperti yang Athena katakan. Ia tidak dapat menghindari hal ini, begitu pula dengan kita."

"Kalau gini hasilnya.. mending aku enggak tau sama sekali tentang rahasia itu."

"Kalau kita tidak mengetahuinya, kita pasti tidak akan bisa mengendalikan diri saat harinya nanti. Bukankah dengan ini Athena-sama memberikan kepada kita waktu.."

"Tapi kan tetap saja.."

Saga mematikan telepatinya ketika Kanon memanggilnya. Ia pun dengan segera berlari ke teras begitu mendengar panggilan adiknya yang terdengar sangat mendesak.

"Aku melihat seseorang melayang memasuki Papacy! Aku tidak mengerti bagaimana, tapi aku bersumpah dia baru saja masuk melalui jendela! Aku tidak dapat melihatnya dengan jelas, tapi aku rasa ia memasuki jendela kamar Athena!"

"APA?!"

Saga terkejut luar biasa mendengar perkataan adiknya. Jika bukan dalam kondisi seperti ini, mungkin ia akan mengira adiknya itu berhalusinasi. Ia bahkan tidak merasakan cosmo asing apapun dari arah Papacy. Saga pun langsung menghubungi teman-temannya itu melalui telepati. Seruan terkejut pun dengan segera memenuhi pikirannya.

"Aphrodite tengah dalam perjalanan ke Papacy. Sebaiknya, kita tidak bertindak terlalu cepat. Perintah Athena melarang kita keluar dari kuil setelah cosmonya melingkupi Sanctuary. Cukup Aphrodite saja yang mewakili kita kesana."

Saga pun mengangguk mendengar suara Roshi dalam pikirannya. Baik ia maupun Kanon, tak ada seorangpun yang beranjak dari tempatnya. Mereka pun berdiri siaga di teras kuil Gemini sambil memandang Papacy. Saga memandang ke bawah dan melihat Aldebaran dan Mu yang berdiri siaga di teras kuilnya masing-masing. Hujan dan angin kencang masih melanda seluruh Sanctuary. Keheningan pun terjadi cukup lama. Sampai tiba-tiba saja, cosmo Aphrodite pun menghubungi mereka.

"Kondisi Athena dan Kyouko-sama baik-baik saja. Namun sepertinya, kita kedatangan tamu seorang Dewa lagi. Jika aku tidak salah dengar, Dewi Artemis menyebut nama Dewa Hermes tadi. Menurutku, dia berada di pihak netral. Tidak ada hawa permusuhan darinya."

Pemberitahuan Aphrodite pun membuat seluruh gold saint langsung menghela nafas lega. Saga pun memandang Kanon yang masih terlihat murung.

"Tidak akan ada yang membahayakan Dewi kita, bukan?" Tanyanya tiba-tiba. Saga pun kebingungan. Masa adiknya tidak terhubung telepati barusan?

"Tentu saja tidak, Aphrodite sendiri yang mengatakannya." Jawab Saga heran.

"Tidakkah kau menyadari sesuatu, Saga?" Tanya Kanon sambil memandang ke langit. Saga pun menaikkan salah satu alisnya kebingungan.

"Kitalah yang akan membahayakan Athena-sama."

..oOo..

Dua hari sudah berlalu sejak pemberitahuan Athena. Para gold saint pun mulai kembali melakukan kegiatan mereka walau dengan wajah yang tertekuk. Lagi-lagi, Sanctuary kembali sepi tanpa canda tawa para gold saint yang biasanya menghibur Athena. Bahkan Milo dan Aiolia pun tidak lagi menunjukkan senyum yang biasa dilakukannya. Shaka semakin mengurung diri sejak hari itu, demikian juga Aiolos yang sama sekali tidak keluar dari kamarnya dua hari terakhir. Saga pun terpaksa memasak dan memaksa sahabatnya itu untuk makan walaupun hanya sepiring kecil sayur.

Langit masih gelap dan angin bertiup cukup kencang. Jam pun masih menunjuk pukul tiga pagi ketika Athena dan Artemis terbangun dari tidurnya. Athena memeriksa jadwal rencananya hari ini dan mendapati semua sudah terlaksana. Hermes pun sudah meninggalkan Sanctuary setelah ia menyampaikan pesan dari Hades kepada Athena untuk mengingatkannya tentang tanggal pembayaran itu.

Tak merasa memiliki tanggungan lagi, Athena pun menghela nafas dan dengan perlahan, berjalan keluar dari Papacy. Persediaan bahan pangan semakin menipis sejak diliburkannya para pelayan. Hal itu pun membuat Athena ingin sekali-kali berbelanja bagi sang Kyouko dan dirinya sendiri walaupun Shion sudah mencegahnya dengan berbagai alasan. Tak ingin menghabiskan waktu, Sang Dewi Kebijaksanaan pun dengan segera mengenakan tudung putih tipis untuk menutupi wajahnya dan membawa sebuah tas kecil miliknya sambil berjalan turun melalui tangga rahasia yang menghubungkan kuil Pisces dengan Pope Chamber. Athena sangat jarang keluar dari Sanctuary dan ia pun tak ingin membuat keributan di pasar jika sampai ada yang mengenalinya sebagai Athena.

"Athena."

Panggilan dari kakaknya membuat Athena refleks menoleh. Ia pun memandang Artemis dengan senyum ketika mendapati kakaknya itu tengah memakai tudung yang sama dengannya dan berjalan menghampirinya.

"Aku ingin melihat dunia manusia yang kau agung-agungkan itu. Lagipula, aku tidak ingin meninggalkanmu sendirian berjalan di keramaian kota Athens." Kata Artemis menjawab tatapan bertanya dari adiknya. Athena pun mengangguk sebagai jawaban. Ia menggandeng tangan kakaknya dan turun bersama-sama melalui kedua belas kuil itu. Keduabelas gold saint pun dengan segera menawarkan dirinya untuk berbelanja begitu mengetahui maksud sang Athena. Bahkan Shaka dan Saga sempat mendesak Athena sejenak sebelum menyerah menghadapi sifat keras kepala sang Dewi.

Sambil melambaikan tangannya pada pengawal gerbang Sanctuary, Athena pun menuruni satu persatu anak tangga yang membatasi wilayah Sanctuary dengan kota Athens. Matahari baru saja terbit ketika Athena mencapai pinggir kota. Senyum dan sapaan pun seringkali ia dapatkan dari warga sekitar walau tak ada seorang pun dari penduduk kota yang mengenalinya.

Matahari baru saja menampakkan dirinya saat Athena dan Artemis tiba di sebuah pasar tradisional yang cukup besar. Keramaian penduduk pun dengan segera menyambut mereka ketika memasuki pasar itu. Athena tertawa berulang kali melihat Artemis yang terlihat kesal karena terdorong kesana kemari akibat jalanan pasar yang sempit. Bau amis pun terasa ketika mereka tiba di tempat para penjual ikan berkumpul. Para penjual pun dengan segera menawarkan dagangannya pada Sang Athena.

Athena tetawa pelan memandang kakaknya yang sudah merenggut dan terus berjalan sambil menatap tajam orang-orang disekitarnya. Sebagai seorang Dewi, kesempurnaan fisik jelas menjadi salah satu kelebihan mereka, hal itu pun sukses membuat Athena dan Artemis menjadi tontonan banyak orang. Mengabaikan hal itu, Athena pun dengan santai memilih-milih ikan yang hendak dibelinya.

"Athena..! Bahkan Poseidon mampu memberimu sejuta ikan perhari jika kau mau!" Keluh Artemis sambil memandang adiknya itu heran. Athena tersenyum lebar mendengar kata-kata Artemis yang memang ada benarnya. Mengabaikan keluhan kakaknya, Athena pun dengan segera membayar beberapa ekor ikan yang dibelinya. Ia mengangkat tangannya -dan tanpa disadari sang penjual- memberkati penjual ikan itu sendiri. Gaun Athena pun sudah kotor karena lumpur dan cipratan air ketika para pedagang itu mengeluarkan ikan segar dari sebuah baki besar disamping mereka.

Setelah itu, kedua Dewi itupun dengan segera berpindah ke tempat sayur mayur yang memang lebih bersih dari sebelumnya. Artemis pun berhenti mengeluh ketika melihat canda tawa anak-anak yang bermain disekitarnya. Bahkan tanpa disangkanya, salah satu gadis kecil berlari kearahnya dan bersembunyi dibalik kakinya sambil tertawa sementara temannya yang lain berlari mengejarnya. Athena tersenyum melihat Artemis yang memandang anak-anak itu heran. Ia pun dengan segera membeli beberapa macam sayur dan buah-buahan segar dari salah satu kios disana.

Selesai berbelanja berbagai bumbu dapur dan rempah-rempah, Athena berniat kembali ke Sanctuary melalui jalan kecil dibelakang pasar itu agar Artemis setidaknya bisa melepaskan diri dari keramaian. Jalan itu cukup sepi dan hanya dilalui oleh sebagian kecil orang yang memang bertempat tinggal disana. Sang Dewi Bulan pun tersenyum kecil ketika melintasi jalan itu karena tidak ada lagi manusia yang menyentuh tubuhnya.

Athena berbelok ke kanan mengikuti jalan sempit itu. Rumah-rumah kecil dan kumuh berjejer tak teratur dikanan kirinya. Mereka pun tiba disebuah pertigaan kecil ketika tiba-tiba saja sekelompok laki-laki berbadan besar menghampirinya. Cincin menggantung di hidungnya dan wajahnya pun penuh dengan tato berwarna hitam. Lidahnya terbelah ketika ia tersenyum lebar dan memandang kedua Dewi itu penuh nafsu.

"Selamat pagi tuan-tuan." Sapa Athena sebelum dengan segera berbelok ke kiri hendak meninggalkan kelompok itu. Baru saja Athena melangkahkan kakinya, tiba-tiba datanglah dua orang lelaki berbadan besar lainnya dari balik sebuah rumah dan menghalangi jalan kecil yang hendak Athena lalui. Athena pun dengan segera berbalik ke jalan yang dilaluinya tadi, namun sayang dua orang lelaki lain muncul dan berusaha menghalanginya. Artemis pun geram memandang orang-orang disekelilingnya, namun Athena dengan segera menahan lengannya dan menggeleng.

"Mau kemana gadis cantik?" Tanya salah satu lelaki yang memiliki badan paling besar diantara yang lain. Ia pun berjalan mendekati Athena dan sedikit menundukkan badannya untuk memandang sang Dewi lebih dekat. Athena pun dengan segera mengalihkan pandangannya ke Artemis, namun tangan orang itu tiba-tiba saja menahan dagunya. "Jangan begitu. Kami pun ingin bermain bersamamu." Katanya sambil tersenyum lebar.

"LEPASKAN TANGAN KOTOR KALIAN, MANUSIA!" Seru Artemis marah ketika melihat lelaki itu menyentuh wajah Athena. Lelaki itu pun memandang Artemis sambil menyeringai sebelum memberi kode kepada anak buahnya untuk mendekati sang Dewi Bulan. Athena memandang tajam Artemis yang sudah membakar cosmonya. Artemis pun dengan segera menurut ketika Athena menyuruhnya diam dan memadamkan cosmonya seketika itu juga. "Biarkan kami pergi dengan damai." Pinta Athena dengan wibawa dan ketegasan yang tak tergoyahkan. Lelaki itupun mundur seketika mendengar suara Athena. Dengan cepat, ia melirik anak buahnya dan maju kembali sambil menyambar tangan Athena kasar. "Ikutlah bermain dengan kami." Kata laki-laki itu sambil menarik Athena. Namun tarikan laki-laki itu seolah tak berpengaruh pada Athena, tak ada gerakan sedikitpun dan Athena sama sekali tak berpindah dari tempatnya.

Baru saja Athena hendak melepaskan tangannya, tiba-tiba saja ia dikagetkan dengan suara benda terbanting dibelakangnya. Ketika ia menoleh, ia pun mendapati Artemis tengah membanting tiga orang lelaki yang sepertinya berusaha menangkapnya. Wajahnya penuh amarah dan cosmonya membara. Athena tahu tak seorang pun dari orang-orang disekitarnya yang dapat merasakan cosmo. Tentu saja, butuh pelatihan bertahun-tahun lamanya bagi seseorang untuk bisa mengenali sebuah cosmo.

"Cukup kakak!" Seru Athena ketika Artemis mengangkat tangannya hendak menyerang beberapa orang lagi. Ketakutan dan keheranan pun tergambar jelas dimata beberapa orang, namun beberapa yang lain justru marah hebat tanpa berfikir tentang keanehan yang baru saja disaksikannya. Jelas aneh jika seorang wanita bisa mengangkat dan membanting beberapa orang pria sekaligus tanpa menyentuhnya bukan?

Pria yang tadi berusaha menariknya pun membelalakkan matanya marah memandang Artemis. Ia pun dengan segera mengeluarkan sebuah pisau kecil dari sakunya dan meletakkannya didepan leher Athena.

"BERHENTI MELAWAN DAN IKUT KAMI!" Serunya. Athena pun memandang Artemis tajam ketika melihat kakaknya itu hampir membanting seorang lelaki besar yang ketakutan disampingnya. Athena sendiri sama sekali tak terlihat ketakutan, ia pun dengan tenang menggenggam lengan pria dibelakangnya, dan seolah tanpa mengeluarkan kekuatan apapun, mendorong pisau itu menjauh dari tubuhnya. "Aku sudah pernah merasakan belati di leherku sebelumnya dan aku tidak ingin mengulanginya lagi." Katanya tenang.

Pria dibelakangnya pun ketakutan seketika dan mundur beberapa langkah. Tak memperdulikan lelaki itu, Athena pun memandang beberapa orang yang sudah ditergeletak dikaki Artemis dan dengan tenang berjalan kearah mereka. Darah mengalir keluar dari telinga dan hidung mereka ketika Artemis menekan kepalanya dari dalam. "Sudah cukup." Kata Athena pelan. Sang Dewi Bulan pun dengan segera menarik cosmonya dari orang-orang itu. Athena meletakkan tangannya diatas beberapa orang itu dan sebuah cahaya keemasan muncul dari telapak tangannya. Sejenak, tubuh orang itu tersentak namun dengan segera kembali tenang dan darah berhenti mengalir dari kedua telinga dan hidungnya. Ia pun memberikan berkatnya bagi orang yang disembuhkannya itu sebelum membantu mereka berdiri.

Artemis menggelengkan kepalanya dan menatap Athena sebal. "Mereka tidak pantas mendapatkan itu." Katanya. Athena pun memandang Artemis lembut dan berkata, "Bagaimanapun, mereka tetap manusia, kakak."

Lelaki besar dibelakangnya pun dengan segera melarikan diri dan meninggalkan Athena dan Artemis sendiri. Athena memperbaiki tudung putihnya sebelum dengan cepat meninggalkan tempat itu dan kembali ke Sanctuary. Penjaga gerbang pun memberi hormat pada kedua Dewi itu dan membiarkan mereka masuk.

Jam sudah menunjuk pukul sembilan pagi ketika Athena tiba di kuil Aries. Sebagai penjaga kuil pertama, Mu dengan segera keluar dari kuilnya dan menyambut sang Dewi sambil menawarkan diri untuk membawa hasil belanja mereka. Athena pun menerima hormat Mu dan menolak tawarannya. Tak ingin berlama-lama, ia pun dengan segera melanjutkan perjalanannya sampai ke Papacy.

Shion pun menyambut Athena dan membiarkan Athena membawa hasil belanjanya sendiri. Ia tahu junjungannya itu pasti akan menolak tawaran bantuan apapun darinya. Athena mengeluarkan ikan dan beberapa sayur diatas meja dapur. Ia pun menatarnya disebuah tempat sebelum memasukkannya dalam sebuah lemari kecil. Ia melingkupi bahan-bahan masakan itu dengan cosmonya agar dapat bertahan lebih lama.

"Aku heran kau melakukan hal itu." Kata Artemis tiba-tiba sambil membantu Athena memotong ikan untuk makan siang. Athena pun tersenyum mendengarnya. "Aku menghentikan Greatest Eclips bukan hanya untuk manusia-manusia yang baik saja kakak, tapi juga untuk manusia seperti mereka." Jawabnya. Artemis pun memandang Athena heran. "Sepertinya aku tak akan bisa mengikuti cara berfikirmu." Katanya.

"Mereka hanya sebagian kecil dari begitu banyaknya manusia yang kekurangan cinta dan kasih sayang, kakak. Itulah alasan mereka mengganggu orang lain, untuk mendapatkan perhatian." Kata Athena. "Kau ini.. begitu peduli.. Apa yang membuatmu jadi seperti ini?" Tanya Artemis. Athena pun hanya tersenyum dan tidak menjawab apapun. Ia sendiri tak mengerti kenapa ia begitu menyayangi manusia. Ia hanya mencintai mereka… tanpa alasan.

Bau harum menyebar diseluruh Papacy ketika Athena menggoreng seekor ikan. Ia pun menyerahkan urusan sayur mayur pada Artemis yang sepertinya tidak mengerti ingin dibuat apa. "Potong saja timunnya dan sajikan langsung. Untuk sayuran hijau lain, rebus saja dan letakkan dalam mangkok." Kata Arthena menanggapi tatapan bertanya kakaknya.

"Kau tahu? Aku tidak pernah memasak sebelumnya. Bulan selalu penuh dengan pelayan. Kau gila jika memintaku untuk memasak sekarang." Keluh Artemis, namun ia pun melakukan apa yang Athena minta.

Pukul sepuluh, semua masakan telah siap. Athena pun menyajikannya diatas meja makan sementara ia melingkupi makanan itu dengan cosmonya. "Jika kau mau makan, makanlah dulu Shion. Aku rasa, aku ingin melakukan beberapa hal terlebih dahulu." Kata Athena diikuti anggukan ragu Shion. Athena pun dengan segera mengganti gaunnya dengan rok setinggi lutut dan kemeja putih. Athena pun menawarkan Artemis untuk ikut dengannya, namun ia menolak. Alhasil, turunlah Athena sendiri dari Papacy menuju kuil Pisces.

"Selamat pagi, Aphrodite." Balas Athena ketika ia melihat gold saint Pisces itu merlutut satu kaki untuk menyapanya. Athena pun meminta Aphrodite untuk bangkit dari tempatnya dan mengikutinya. Tak membantah, Aphrodite pun dengan segera mengikuti Athena menuju kuil-kuil berikutnya tanpa berbicara.

"Selamat pagi Athena-sama, Aphrodite." Sapa Camus ketika Athena tiba dikuilnya. Sama seperti sebelumnya, Athena pun membalas salam Camus. "Aku akan ada sedikit urusan dibawah." Jawabnya setelah Camus dengan heran bertanya padanya. Athena pun dengan segera meninggalkan Camus di kuil itu dan turun lagi bersama dengan Aphrodite. Tak lama kemudian, mereka pun tiba dikuil Leo. Lagi-lagi ia membalas sambutan dari Aiolia dan dengan segera meninggalkan kuil itu menuju kuil Cencer.

"Aku mendengar kabar kedekatanmu dengan Deathmask. Benarkah itu, Dite?" Tanya Athena tiba-tiba. Aphrodite pun terkejut dan dengan segera menjawab tanpa ragu, "Memang benar Athena-sama."Athena pun ber'oh pelan sambil tersenyum melanjutkan langkahnya menuju kuil Cencer.

Suasana seram pun menyambutnya ketika ia melihat wajah-wajah manusia yang tertempel didinding dan lantai kuil itu. "Selamat pagi Athena-sama… ehm Aphrodite." Sapa Deathmask. Ia pun membungkuk kecil dihadapan sang Dewi sebelum Athena membalas sapaannya. "Ingin kemana anda siang ini bersama Aphrodite?" Tanya Deathmask berbasa-basi. Ia pun merasa tak enak melihat Aphrodite yang memandangnya setengah geli. Athena pun berhenti melangkah mendengar pertanyaan Deathmask, dan ia pun menjawab, "Kuilmu adalah tujuan utamaku Deathmask. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Kata Athena sambil memandang sang gold saint Cancer itu. Deathmask dan Aphrodite pun terkejut mendengar pernyataan sang Dewi. Berbagai pemikiran pun muncul ketika Aphrodite menghubungkan pertanyaan Athena tadi dengan tujuan mereka kemari.

"Aphrodite, aku mohon kau menunggu diluar. Aku ingin berbicara secara empat mata dengan Deathmask." Pinta Athena. Sang Pisces pun dengan segera meninggalkan tempat itu tanpa bertanya. Ia pun sempat melirik Deathmask curiga sebelum keluar dari kuil itu.

"Aku mendengar bahwa gold cloth Cancer menolakmu, benarkah itu, Deathmask?" Tanya Athena langsung. Deathmask pun menunduk dan menghembuskan nafasnya keras-keras. Ia paling benci jika hal itu diungkit kembali. "Aku mengerti tujuanmu kemari, Athena. Kau ingin memberitahuku jika kau sudah memiliki seorang gold saint Cancer yang baru bukan? HAH! Aku mengerti, tapi setidaknya beri aku waktu empat jam sebelum meninggalkan tempat ini." Kata Deathmask tanpa memandang sang Dewi. Athena pun terkejut mendengar Deathmask yang langsung menuduhnya, namun dengan cepat ia pun berhasil mengendalikan dirinya.

"Tidak. Sebenarnya, aku tidak mencari seorang pun untuk menggantikan posisimu. Aku menginginkanmu, Deathmask, untuk tetap menjadi seorang Cancer." Jawab Athena sambil memandang Deathmask yang sepertinya agak terkejut. "Hah! Gold cloth itu sudah menolakku. Apa yang bisa kau lakukan untuk memperbaiki semua ini?!" Tanya Deathmask setengah membentak. Ia pun memandang Athena sebal dan sama sekali tidak merasa bersalah akan kata-katanya yang kurang ajar barusan. Athena pun menghela nafas. Ia membakar cosmonya sedikit dan memanggil gold cloth Cancer untuk keluar dari tempatnya. "Aku tidak dapat melakukan apapun, Deathmask. Sifatmulah yang harus diubah jika kau ingin gold cloth ini menerimamu kembali. Semua cloth itu hidup, Deathmask. Dan mereka memiliki kesadaran penuh akan siapa dan bagaimana orang yang menjadi tuannya." Kata Athena sambil menyentuh gold cloth Cancer yang sudah berdiri disampingnya.

Athena memandang gold cloth Cancer itu sendu sebelum dengan sangat perlahan membisikkan beberapa kata. Gold cloth itu pun bersinar terang dan tiba-tiba saja terpecah dan melekat pada tubuh Deathmask. "Apa yang terjadi?!" Tanya Deathmask sambil memandang tubuhnya yang kini berbalutkan gold cloth. Athena tidak menjawab apapun, namun dengan perlahan, sang Dewi Perang itu berjalan mendekati Deathmask dan menyentuh dadanya.

"Ketika aku mengumpulkan seluruh gold cloth, aku memberikan separuh darahku untuk gold cloth ini agar ia dapat menerimamu lagi. Itulah harga yang kubayar untuk mempertahankanmu Deathmask, untuk tetap menjadi seorang gold saint. Aku tidak akan pernah mencari pengganti karena aku mempercayaimu sepenuhnya. Karena itu aku mohon.. jaga baik-baik hatimu dan gold cloth ini." Kata Athena pelan. Deathmask terkejut. Ia pun diam tak bergerak sama sekali dari tempatnya. Kata 'Trimakasih' mengalir lirih dari mulutnya. Deathmask pun tanpa sadar, menarik Athena dan memeluknya singkat sebelum melepaskannya kembali dengan ekspresi gugup luar biasa. Athena pun terkejut mendapat pelukan yang tiba-tiba. Namun ia kembali tersenyum melihat Deathmask yang kini salah tingkah dihadapannya.

"Masuklah, Aphrodite." Panggil Athena dengan cosmonya. Tak lama kemudian, tibalah sang gold saint Pisces itu dihadapan Dewinya. Ia memandang Deathmask heran karena wajahnya yang sudah persis kepiting rebus.

"Seumur-umur, baru kali ini aku melihatmu seperti itu, Deathmask." Kata Aphrodite sambil terkikik pelan saat Athena meninggalkan tempat itu sebentar. Ketika Athena kembali, ia membawa sebuah kotak kayu panjang yang sedikit usang. "Ikutlah denganku." Katanya sambil meninggalkan kuil itu segera. Deathmask dan Aphrodite pun berpandangan sejenak sebelum mengikuti langkah sang Dewi perang itu keluar dari Sanctuary. "Apa yang hendak kita lakukan, Athena-sama?" Tanya Aphrodite akhirnya. Athena pun tersenyum dan menjawab, "Aku ingin memberi kalian tugas."

"Hah?"

Athena pun membuka kotak itu. Didalamnya, terdapat sepuluh tangkai bunga mawar merah dan sepuluh tangkai bunga mawar putih. "Aku ingin kalian berdua mengunjungi salah satu panti asuhan di kaki gunung tak jauh dari sini. Bagikanlah bunga ini bagi mereka. Setelah itu, kalian memiliki waktu bebas sehari penuh dikota ini. Aku memberi batas sampai pukul delapan malam, dan kalian harus sudah kembali ke kuil." Katanya sambil menyerahkan kotak itu pada sang Pisces. "Ada uang didalamnya yang dapat kalian gunakan. Alamat panti asuhan itu pun berada dibawah tumpukan bunga. Selamat bersenang-senang." Kata Athena sambil meninggalkan mereka berdua.

"Aku tidak mengerti." Kata Aphrodite jujur. Deathmask pun menyeringai tak senang sambil terus melangkahkan kakinya menuju panti asuhan yang ditujukan alamat itu tanpa berbicara apapun.

..oOo..

"APA?! Kenapa kau memperbolehkan mereka bersantai disaat seperti ini, Athena?! Waktu kita tinggal sedikit! Bukankah seharusnya kau mempersiapkan mereka?" Seru Artemis terkejut.

"Aku mempunyai rencana tersendiri pada Deathmask dan Aphrodite, kakak. Lagipula, aku yakin ini akan membuat perubahan yang besar bagi kehidupan mereka." Jawab Athena tenang. Ia pun duduk di salah satu sofa dan mengambil secangkir teh yang tadi dibuatnya. Sudah lima jam berlalu sejak Athena 'melepas' kedua gold saintnya itu. Ia pun berharap rencananya kali ini benar-benar membuahkan hasil.

"Athena-sama."

Athena menoleh mendengar Shion memanggilnya dari balik tirai yang memisahkan ruangan itu dengan Aula Papacy. "Ketiga gold saint yang anda panggil sudah tiba." Lapornya singkat.

Athena mengangguk dan berjalan menuju Aula Papacy bersama Artemis yang terus mengikutinya. Ia pun menyibakkan tirai merah itu perlahan. Shaka, Mu dan Saga dengan segera memberi hormat mereka ketika melihat Athena yang berjalan mendekat. "Berdirilah." Pinta Athena. Para gold saint pun dengan segera berdiri dari tempatnya dan memandang junjungannya itu. Terlihat ketegasan, namun juga kesedihan di mata mereka ketika memandang Sang Dewi Perang.

"Aku memanggil kalian kemari untuk memberi sebuah misi bagi kalian. Ini mungkin misi yang berat, namun sangat diperlukan." Katanya. Ia pun menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan. "Kalian harus menyegel Hypnos dan Thanatos dalam kalung yang diberikan oleh Persephone."

"Kalung apa yang anda maksudkan, Athena-sama?" Tanya Saga. Shaka pun menatapnya dan menjawab, "Dewi Persephone memberiku sebuah kalung ketika aku kembali dari Elysium. Aku tidak mengerti gunanya. Namun sepertinya tugas dari Athena telah menjawab semua pertanyaanku." Jawab Shaka menjelaskan.

"Kalian harus melakukannya sebelum hari pembayaran itu tiba. Dan.. tolong bertarunglah dengan bijaksana dan saling bahu membahu menolong satu dengan yang lain." Kata Athena sambil tersenyum. "Baik, Athena-sama." Jawab mereka bersamaan.

Ketiga gold saint pun dengan segera meninggalkan Papacy dan berkumpul dikuil Virgo untuk membahas rencana-rencana mereka berikutnya.

"Aku rasa, jalan tercepat mungkin dengan bantuan Deathmask atau Another Dimension milik Saga. Hanya saja, aku rasa kedua Dewa kembar itu akan tinggal di Elysium sampai harinya nanti." Kata Mu memulai.

Keheningan melanda sejenak sebelum Shaka menjawab, "Tidak ada seorang manusia pun yang bisa membuka jalan para Dewa menuju Elysium. Lagipula kita pun pasti hancur jika memaksakan diri melaluinya. Kecuali.."

"Kecuali apa, Shaka?" Tanya Saga.

Shaka pun menatap teman-temannya sejenak sebelum menjawab, "Ketika Dewi Persephone membawaku melalui jalan para Dewa, aku merasakan clothku berbeda. Ketika aku bertanya, Dewi Persephone menjelaskan padaku tentang Kamui, atau yang biasa kita sebut God Cloth."

"Tunggu! Cloth Virgo bisa menjadi God Cloth?" Tanya Saga.

"Sepertinya bukan hanya milikku saja. Ketika Mu melawan Artemis silam, aku merasakan cosmo Mu yang meledak luar biasa, lebih dari yang seharusnya bisa dicapai seorang manusia. Belum lagi, cosmo sebesar itu juga pasti sudah membunuhnya. Karena itulah dugaanku, Mu pun tanpa sadar mengenakan God Cloth Aries ketika ia berhadapan dengan Artemis." Jelas Shaka.

"Oh. Dan kita dapat mengubah cloth ini jika menaikkan cosmo sampai melampaui batas, bukan begitu?" Tanya Saga mulai mengerti. Shaka pun mengangguk sebagai jawaban dan tidak berbicara lagi. "Tapi kita tidak bisa membuka jalan para Dewa. Kita harus meminta pertolongan Dewi Athena atau Artemis untuk membukakannya bagi kita." Kata Mu.

"Kau benar. Hanya saja, aku merasa tidak nyaman untuk meminta apapun dari Athena. Dia sudah memberikan terlalu banyak bagi kita.. Walaupun permintaan kita ini untuk menyelesaikan sebuah misi." Kata Saga pelan.

"Tak apa. Athena juga pasti memikirkan hal itu sebelum ia memberikan misi ini bagi kita." Jawab Shaka yakin.

Keheningan pun melandang tempat itu sejenak.

"Aku tidak ingin salah satu dari kita mati hanya karena melawan Dewa kembar itu." Kata Saga tiba-tiba. Mu dan Shaka pun tidak menjawab apapun. Sama seperti Saga, mereka juga tak ingin ada salah satu diantara mereka yang terluka, apalagi mati.

"Maaf, Shaka." Ucap Saga pelan.

"Apa?"

"Maaf aku sudah membunuhmu."

"Itu.."

Shaka tak tau harus menjawab apa. Ia sama sekali tak menganggap itu adalah kesalahan Saga. Justru sebaliknya, ia sendirilah yang menginginkan kematian itu.

"Itu sudah masa lalu, Saga. Tak perlu diungkit lagi. Lagipula, aku jugalah yang memaksa kalian menggunakan Athena Exclamation. Dan aku minta maaf untuk itu." jawab Shaka dengan senyum. Saga pun menunduk.

"Aku berjanji akan melindungimu kali ini." Katanya sangat pelan. Shaka sedikit tersentak mendengarnya. Ia pun menyentuh pundak Saga dan berkata, "Tidak, Saga. Bersama-sama, kita akan melindungi Athena-sama, bukan hanya diriku." Jawabnya pelan. Saga terdiam dan memeluk Shaka sejenak sebelum melepaskannya. Mu tersenyum kecil melihatnya dan tanpa suara meninggalkan tempat itu.

"Trimakasih Shaka." Ucap Saga sebelum dengan cepat mengecup dahi Shaka singkat. Shaka pun sedikit limbung karena terkejut, namun dengan segera mengendalikan dirinya dan mengangguk. Saga menyusul Mu keluar dari kuil Virgo sementara Shaka kembali bermeditasi. Konsentrasinya sedikit terganggu mengingat Saga yang dengan seenaknya mengecup dahinya. Tak ada seorang pun yang membuat kontak seperti itu dengannya kecuali Mu dan Athena. Namun entah kenapa, ia merasa senang. Ah sudahlah. Pikirnya sendiri sebelum kembali berkonsentrasi pada meditasinya.

..oOo..

Seminggu sudah berlalu sejak Athena memberitahukan rahasia itu kepada para gold saint. Entah apa yang terjadi, sifat Aphrodite dan Deathmask pun sedikit berubah. Deathmask yang paling terlihat. Menurut kabar yang beredar di kalangan gold saint, akhir-akhir ini banyak diantara mereka yang melihat Deathmask tengah berjalan berdua dengan seorang wanita muda bernama Helena. Bahkan, Aphrodite pun hanya tersenyum gugup jika ditanya soal hubungan Deathmask dengan wanita itu. Deathmask pun menurunkan dan membersihkan kuilnya dari wajah orang mati beberapa hari yang lalu, dan itu membuat seluruh gold saint gempar seolah-olah sebuah keajaiban terjadi. Atau mungkin itu memang sebuah keajaiban.

"Athena-sama."

Sebuah suara dan ketukan pada pintu kamarnya membuat Athena agak terkejut. Ia pun dengan segera mengenali suara sang Pope yang memanggilnya.

"Shaka, Mu dan Saga sudah berkumpul. Mereka siap untuk berangkat sekarang." Lapor Shion diikuti anggukan diam dan helaan nafas Athena. Sang Dewi pun dengan segera keluar dari kamarnya dan berjalan menuju aula Papacy.

"Aku harap kalian sudah mempersiapkan semuanya." Kata Athena setelah membalas salam dari ketiga gold saint itu. Para gold saint pun mengangguk dan tidak menjawab apapun.

"Bangkitkan cosmo kalian." Perintahnya singkat. Tak menunggu lama, ketiga gold saint itu pun dengan segera menaikkan cosmonya mencapai seven sense dengan cepat. "Lebih tinggi lagi." Katanya. Lagi-lagi para gold saint pun meningkatkan cosmo mereka. Shaka, Mu dan Saga pun merasakan tubuhnya yang mulai terasa sakit menahan gempuran cosmo yang dihasilkannya. Tak lama kemudian, Tiba-tiba saja cahaya keemasan bersinar dari cloth mereka dan dalam sekejab, gold cloth itu berubah bentuk. Melihat hal itu, mereka pun mematikan cosmonya dan berdiri dengan sedikit terengah-engah.

"Itu adalah God Cloth kalian. Pergunakanlah itu sebaik mungkin. God cloth mungkin akan membuat cosmo kalian meningkat luar biasa tanpa bisa dikontrol.. dan itu berbahaya. Jangan pernah meningkatkan cosmo kalian diatas batas tubuh kalian! Jika itu terjadi, maka besar kemungkinan tubuh kalian akan meledak. Saling mengingatkan satu sama lain ketika bertarung nanti. Aku tahu kalian memiliki semangat bertarung yang tinggi, tetapi tetaplah bijaksana dan berhati-hati." Kata Athena sebelum membakar cosmonya jauh melampaui para gold saint itu dan membuka jalan para Dewa.

Para gold saint pun berpandangan sejenak sebelum dengan segera memasuki jalan itu. "Ikuti arah jalannya! Jangan sampai kalian menyimpang dan memasuki dimensi yang salah. Itu akan membuat tubuh kalian tercabik. Aku meninggalkan cosmoku dalam kedua bandul permata dikalung itu, gunakan itu untuk membuka jalan para Dewa nanti!" Seru Athena sebelum dengan perlahan menutup jalan itu.

Athena menghela nafas sebelum dengan singkat berjalan masuk ke balik tirai. Shion pun memandang Athena yang terlihat sangat kelelahan. "Saya rasa, anda perlu beristirahat, Athena-sama." Kata Shion diikuti anggukan Athena.

..oOo..

"AKU TIDAK PERNAH MELIHAT DIMENSI SEPERTI INI!" Seru Saga frustasi ketika tekanan yang kuat menariknya dari berbagai arah.

"SAGA!" Seru Mu sambil dengan cepat menarik tangan Saga yang sepertinya sedikit terpelanting. Mu kehilangan keseimbangannya setelah menarik Saga ke jalur utama dan terlempar agak jauh. Tak tunggu lama, Shaka pun dengan segera menarik tangan Mu dan mendekap tubuhnya sementara Saga menarik tangan Shaka.

"Gunakan sayapnya!" Seru Saga ketika ia merasakan Mu san Shaka yang semakin berat tertarik salah satu perpotongan dimensi. Shaka pun mengangguk cepat dan dengan cosmonya meminta God Cloth Virgo itu untuk mengepakkan sayap. Mereka pun terbang dengan segera ke jalur utama.

"Ah, aku benar-benar lupa kalau sayap ini bisa digunakan." kata Shaka sambil melepaskan Mu. Saga pun tak menjawab apapun, ia juga heran karena tiba-tiba sayap itu bergerak mengepak ketika ia tanpa sadar memerintahkan clothnya. Sebuah cahaya putih pun menyambut mereka ketika tiba di ujung jalan itu. Refleks, mereka pun menutup wajah dengan lengan sementara tubuh mereka tertarik masuk ke sumber cahaya itu.

Sebuah angin yang keras menerpa mereka dan tiba-tiba saja mereka sudah mendarat di sebuah padang bunga yang sangat luas. Mu adalah yang pertama kali terbangun. Ia memandang padang bunga itu dengan rasa kagum yang luar biasa. Hal yang serupa pun terjadi pada Saga sementara Shaka terlihat biasa saja. "Ini luar biasa." Kata Mu pelan.

Angin sepoi-sepoi menerpa mereka perlahan. Membuat mereka merasakan kedamaian yang asing. "Kawan-kawan.. kita punya tugas disini." Kata Shaka yang langsung berjalan duluan. Mu dan Saga pun menatapnya sambil mengangguk dan dengan segera mengikuti Shaka.

"Apa yang kalian inginkan?!" Tanya sebuah suara. Tak ada seorang pun yang mereka lihat sejauh mata memandang, namun suara ini terdengar sangat dekat. Refleks, ketiga gold saint itu pun memasang sikap waspada.

"Siapa disana?!" Seru Saga. Mereka merasakan angin yang berhembus kencang dari kiri dan refleks menoleh. Thanatos- dalam balutan God Clothnya- tiba-tiba saja menunjukkan dirinya seolah keluar dari dalam angin. Di sisi kanan pun muncullah Hypnos dan langsung berdiri tegak tanpa memandang mereka.

Thanatos memandang Shaka tajam penuh kebencian. "Aku akan membalaskan hari itu." Geramnya tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya dari sang Virgo. Saga dan Mu pun dengan segera mengusir rasa penasarannya dan bersama-sama berdiri dihadapan Shaka, seolah melindunginya.

"Galaxian Explosion!" Seru Saga tanpa peringatan. Thanatos menyeringai mengejek sementara dengan kecepatan yang luar biasa ia menahan serangan itu dengan satu tangan. "Hah! Kalian mengenakan God Cloth tapi kekuatan seperti ini?! Memalukan!" Serunya sebelum dengan mudah membalik serangan itu. Saga yang terkejut sempat membatu melihat serangannya dibalikkan. Namun Mu dengan kecepatan yang luar biasa, berhasil menarik Saga menjauh.

Saga menggeram marah sebelum kembali maju. Ia pun membakar cosmonya lebih besar dari sebelumnya dan menyerang sekali lagi diikuti Mu yang juga mengangkat kedua tangannya menyerang sang Dewa Kematian. Thanatos pun sempat ragu sejenak sebelum memutuskan untuk menghindari serangan itu karena cosmo yang dihasilkan kedua God Cloth nyaris menyamainya. "Hebat, tapi terlalu lambat!" Serunya sambil tanpa peringatan menyerang kedua gold saint itu dengan bola cosmo keunguan besar ditangannya. Refleks, Shaka pun menarik tangan kedua temannya menjauh dan meluputkan mereka dari serangan sang Dewa Kematian.

Hypnos pun hanya berdecak pelan sebelum berkata tajam, "Jangan bermain-main dengan mereka terlalu lama Thanatos. Segera selesaikan dan temui aku di kuil Putih nanti." Katanya sambil berjalan perlahan menjauhi tempat itu. "Tunggu!" Seru Shaka sambil mengikat kaki Hypnos dengan cosmonya. Dewa Mimpi itu pun dengan segera terjebak dan tak bisa bergerak. Ia melirik Shaka sejenak dan menyeringai meremehkan. "Jadi kau yang akan menjadi lawanku, Virgo?" Tanya Hypnos sebelum dengan mudah melepas cosmo tipis Shaka yang menahan kakinya.

"Dia milikku, Hypnos!" Seru Thanatos penuh amarah sementara Saga dan Mu terlihat sangat kepayahan dihadapannya. "Urus saja mereka, Thanatos. Virgo ini milikku." Jawab Hypnos sambil memandang Shaka tajam. Tanpa peringatan, Hypnos pun melemparkan sebuah bola cosmo keunguan yang sama seperti Thanatos. Shaka mengelak. Namun tiba-tiba, sebuah bola cosmo lain melesat kearahnya.

"KHAN!" Seru Shaka dengan segera. Bola itu pun bertubrukan dengan barier yang dibuatnya. Namun tak lama kemudian tiba-tiba saja barier itu pecah dan serangan itupun mengenai tubuh Shaka telak.

"SHAKA!" Seru Saga dan Mu khawatir. Mereka pun memandang Shaka yang kini berusaha berdiri kembali. God Clothnya berhasil menangkal sebagian besar serangan, walaupun tubuhnya tetap saja dipenuhi luka. Saga yang melihat kondisi Shaka pun dengan segera berbalik dan menatap tajam Thanatos. Ia pun melemparkan serangannya kembali dengan cosmo yang meningkat. "Hati-hati, Saga. Ingat kata-kata Athena. Kendalikan cosmomu" Kata Mu mengingatkan. Saga pun menganguk dan dengan tanpa menoleh melemparkan serangannya sekali lagi.

Thanatos sempat mengelak, namun tiba-tiba saja Starlight Extiction yang dikeluarkan Mu diam-diam berhasil mengenai tubuhnya. Sang Dewa Kematian pun menggeram marah memandang God Clothnya yang sedikit tergores. "KURANG AJAR KAU SERANGGA!" Seru Thanatos sambil menatap menuh kebencian. Ia pun membakar cosmonya sedemikian besar jauh melampaui Saga dan Mu.

Saga menyeringai sejenak sebelum memandang Mu yang mengangguk mengerti. Mereka pun dengan segera mengeluarkan seranganan mereka bersama-sama. Thanatos menyeringai mengejek merasakan cosmo Saga dan Mu yang sangat jauh darinya. Ketika serangan itu nyaris mencapainya, tiba-tiba saja Saga dan Mu menaikkan cosmo mereka setinggi mungkin dan menyamai Dewa Kematian itu. Konsentrasi Thanatos pun sempat terpecah karena terkejut. Ia menahan serangan itu dengan kedua tangannya, namun tekanan yang dihasilkan serangan itu berhasil memecahkan seluruh God Cloth yang menutupi telapak tangan dan lengan Thanatos. Sang Dewa Kematian pun terlempar beberapa meter dan darah mengalir dari telapak tangannya.

Dilain sisi, Shaka pun terlihat berjuang mati-matian melawan Hypnos yang ternyata jauh lebih kuat dari dugaannya. God Cloth Virgonya pun sudah pecah sebagian dan darah mengalir dari kedua lengannya, demikian juga God Cloth Hypnos.

"Kau butuh istirahat, manusia?" tanya Hypnos mengejek ketika ia melihat sang Virgo yang terengah-engah. Shaka pun menyeringai sebelum dengan tenang kembali duduk bersila ditempatnya. "Sayangnya aku tak punya belas kasihan padamu, manusia!" Seru Hypnos sambil melemparkan bola cahaya keunguan ke arahnya.

"KHAN!" Seru Shaka sekali lagi. Cosmonya yang membentuk barier itu pun terasa lebih kuat ketika Shaka dengan mudahnya menaikkan cosmonya nyaris menyamai Dewa karena God cloth Virgo itu. "Hah! Gelembung kecil seperti itu tak akan bisa menahanku!" Seru Hypnos sambil terus menekan cosmonya lagi. Tak sanggup menahan tekanan cosmo yang semakin besar, Shaka pun terpaksa membuka matanya dan seketika itu juga, ruangan tempat mereka bertarung berubah.

"Tenbu Horin." Katanya singkat ketika ia melihat Hypnos yang kebingungan karena cosmonya mendadak hilang.

"Sekalipun kau Dewa, kau tidak dapat lari ataupun menyerang disini." Jelas Shaka diikuti seringaian tajam Hypnos.

"Ah.. rupanya kau masih belum mengerti jauhnya perbedaan diantara kita, bukan begitu?" Tanya Hypnos sambil tertawa merendahkan. Shaka pun mengangkat alisnya namun tak menjawab apapun.

Tak lama kemudian, Hypnos mengangkat tangannya bersiap menyerang. Angin pun menderu luar biasa hebat, namun tak ada cosmo Hypnos didalamnya.

"Berhenti!" Seru seseorang. Seketika itu juga, dinding jurus yang dibuat Shaka pun retak dan pecah. Membuat mereka berdua terlempar keluar ke sisi lain taman itu. Shaka merasakan cosmo agresif yang sangat kuat telah memecahkan jurusnya. Cosmo yang dikenalinya milik seorang Dewa yang paling ia benci. Hypnos pun dengan segera membakar cosmonya kembali dan bersiap menyerang.

"KUBILANG BERHENTI!"

Sebuah suara laki-laki yang penuh wibawa menghentikan kobaran cosmo Hypnos yang luar biasa. Refleks, Hypnos menoleh dan dengan segera bersujud ketika ia melihat Hades yang berjalan kearahnya. "Virgo. Apa yang kau inginkan dengan membuat keributan disini?" Tanya Hades dalam bentuk jiwa yang mencerminkan tubuh aslinya. Ketenangan yang dibawa Hades pun membuat Shaka sedikit heran. "Kami melaksanakan misi." Jawab Shaka singkat sambil mempersiapkan diri. Ia tau lawannya ini bukan Dewa biasa.

"Misi menyegel Hypnos dan Thanatos, bukan begitu?" Tanyanya sedikit menyeringai. Shaka pun mengerutkan alisnya dan dengan segera bersiap membuat barier pertahanan jika seandainya Dewa Dunia Bawah itu menyerang. Hades pun tersenyum meremehkan sebelum memandang Hypnos. "Ikuti maunya." Kata Hades singkat. Hypnos pun tersentak dan memandang tuannya itu setengah heran dan takut. "Berikan jiwamu untuk disegel, Hypnos. Toh, dua ratus tahun bukan waktu yang lama untuk kita para Dewa. Bukan begitu?" Kata Hades sambil menatap Hypnos. Hypnos pun menangguk tanpa ragu. Loyalitas adalah hal yang ia junjung tinggi.

"Berikan kalung itu." Kata Hypnos kemudian sambil memandang tajam sang Virgo. Shaka sama sekali tak bergerak walau ia mendengar dengan jelas perkataan Hypnos. Sang Dewa Mimpi pun menyeringai meremehkan sambil melirik Shaka. "Kau tidak mempercayaiku, bukan?" Tanyanya. Lagi-lagi, Shaka sama sekali tak bergerak dari posisinya. "Terserah." Lanjut Hypnos tanpa memperdulikan wajah keheranan Shaka.

Tak lama kemudian, seolah angin kencang datang begitu saja. Angin itu pun menerpa tubuh Hypnos yang mulai mengabur. Hypnos menatap Hades dengan senyum sebelum ia menghilang bersama angin dan masuk dalam kalung yang dibawa Shaka. Segel Athena dalam sebuah kertas kecil pun muncul melilit bersamaan dengan masuknya Hypnos dalam bandul permata itu.

"Apa maksudmu?" Tanya Shaka kemudian. Ketenangan yang sedari tadi dibawanya pun sedikit goyah. "Tidak ada. Hanya Permintaan Persephone sebagai ganti karena aku tak mau melepaskan Athena." Jawab Hades singkat. Shaka pun membuka matanya dan menatap Hades tajam. Hades yang melihatnya hanya tersenyum meremehkan sebelum pergi dari tempat itu. Shaka pun menggeram marah dan berjalan menjauh mengikuti jejak cosmo para gold saint yang lain.

"Saga!" Seru Shaka saat ia melihat Thanatos yang hendak menyerang gold saint Gemini itu. Shaka pun dengan segera menarik Saga menjauh dan meluputkannya dari serangan sang Dewa Kematian. Setelah memastikan kondisi Saga yang cukup baik, ia pun menoleh memandang sekitarnya dan mendapati Mu yang tergeletak agak jauh darinya dengan kondisi luka parah. Saga pun mengikuti pandangan Shaka dan menunduk menyesal. "Aku benar-benar minta maaf, Shaka. Mu melindungiku dari serangan Thanatos, dan hal itu ternyata nyaris membunuhnya." Kata Saga sambil menunduk. Shaka pun melepaskan Saga dari dengan cepat berlari kearah Mu yang dilindungi cosmo Saga. Tak menghiraukan Thanatos yang tertawa di sampingnya.

Sebuah tarikan yang kuat membuat Shaka dan Mu –yang berada dalam pelukannya- terpelanting beberapa meter kebelakang. Baru saja Shaka hendak bertanya, tiba-tiba sebuah bola cosmo besar mengantam tempatnya tadi dan membuat ledakan yang luar biasa. Shaka pun memandang Saga yang baru saja menariknya dan dengan segera bangkit dari tempatnya hendak menyerang sang Dewa Tidur.

"Cukup!"

Lagi-lagi suara Hades menghentikan pertarungan itu. Shaka pun memandang sang Dewa Dunia Bawah itu setengah marah. "Thanatos, berikan jiwamu pada Shaka." Katanya diikuti tatapan terkejut dan takut dari Thanatos. "Hah? Ta..tapi.. kenapa.."

"Turutilah perintahku, Thanatos!" Seru Hades yang langsung membuat Thanatos diam seketika. "Kakakmu sudah berada dalam kalung yang dibawa Shaka." Katanya.

"APA?! KAU!" Seru Thanatos sambil memandang tajam Shaka. "Tidak. Akulah yag memintanya memberikan jiwanya pada Shaka. Toh, dua ratus tahun bukan waktu yang lama untuk kita para Dewa, bukan bergitu?" Kata Hades. Thanatos pun memandang Hades sejenak, seolah menimbang permintaan tuannya itu sebelum mengangguk ragu.

Sama seperti sebelumnya, sebuah angin yang kencang pun menerpa tempat itu dan Thanatos menghilang dari tempatnya. Shaka dapat melihat juwa Thanatos masuk dalam bandul permata kedua dikalung itu. "Sampaikan salamku pada Athena. Katakan padanya bahwa aku tak sabar menunggu hari pembayaran itu tiba." kata Hades sambil tertawa menghina.

Saga marah luar biasa mendengar perkataan Hades. Baru saja ia hendak menyerang, tiba-tiba tangan Shaka menahan lengannya. "Sudah selesai. Sudah waktunya kita kembali ke Sanctuary." Ucapnya. Hades pun menyeringai kejam sebelum dengan kasar membuka jalan para Dewa bagi para gold saint itu. "Tak perlu membuang-buang cosmo Athena di tempat ini hanya untuk sebuah jalan. Aku yakin ia membutuhkan itu untuk bertahan nanti." Kata Hades sebelum kembali menghiraukan perkataan Hades, Shaka pun menggendong Mu dan menarik tangan Saga memasuki jalan para Dewa itu.

..oOo..

Pintu jalan para Dewa terbuka tiba-tiba dibawah patung Athena. Arah angin pun berubah seketika karena tekanan yang dihasilkan ruang dimensi itu.

"Ah, syukurlah kalian sudah kembali."

Shaka dan Saga pun memandang Dewi junjungannya yang kini berlari kearah mereka. Mereka pun dengan segera menundukkan badannya memberi hormat sementara Mu masih tak sadarkan diri dalam pelukan Shaka.

Athena berhenti beberapa meter dihadapan mereka dan meminta mereka untuk berdiri. Tanpa berkata apapun, Athena mengangkat tangannya dan menghadapkannya pada tubuh Mu yang sangat panas dan kaku. Sebuah cahaya keemasan muncul dari tangan sang Dewi ketika ia membakar cosmonya. Tubuh Mu dihadapannya pun tersentak sejenak sebelum kembali tenang dan suhu tubuhnya kembali normal. "Biarkan dia beristirahat. Lukanya akan segera pulih. Dan aku berterimakasih untuk perjuangan kalian." Kata Athena sambil tersenyum diikuti anggukan Shaka dan Saga. Shaka pun dengan segera menyerahkan kalung pemberian Persephone itu kepada Athena sementara ia dan Saga kembali ke kuilnya masing-masing.

Athena pun menghela nafas sambil melihat para gold saintnya itu turun dari kuil Papacy. Ingin rasanya ia langsung saja menyembuhkan semua luka-luka yang diderita para saintnya itu. Namun jika ia melakukan itu, bukankah sia-sia semua latihan yang mereka terima? Lagipula, ia sendiri tak ingin para saintnya itu menjadi manja dan hanya bergantung pada dirinya sementara ia tak bisa tinggal berlama-lama dibumi.

"Athena."

Athena menoleh ketika mendengar Artemis memanggilnya. Ia melihat tangan kakaknya itu kini terulur padanya. Athena pun tersenyum dan menyambut uluran tangan Artemis perlahan sebelum ia masuk bersama ke dalam Papacy.

Setibanya di Papacy, kedua Dewi itu pun langsung menuju ke kamar tanpa menoleh lagi. Mereka duduk di salah satu tempat tidur yang tersedia.

"Apa yang harus kita lakukan berikutnya?" Tanya Artemis memulai.

"Tidak ada. Kita hanya perlu menunggu hari itu tiba. Selebihnya, Pope Shion akan mengurus semuanya." Jawab Athena sambil menunduk.

Artemis mengangguk dan memeluk Athena singkat sebelum mengecup dahi adiknya. Athena pun dengan segera tertidur dalam pelukan Artemis ketika sang Dewi Bulan itu melingkupkan cosmonya pada sang Dewi Perang.

..oOo..

Seminggu telah berlalu. Situasi sekitar kuil pun mulai menegang seiring berjalannya waktu. Bahkan, keramaian yang biasa terjadi kini mulai surut, seolah kuil-kuil itu tak berpenghuni. Athena pun menghela nafas memperhatikan tingkah para saint yang sepertinya semakin menjauh darinya. Penghormatan yang diberikan para saint pun menjadi lebih dari biasa yang ia terima. Sejenak, Athena merasa tidak nyaman dengan situasi seperti ini.

Ia tahu dirinya telah bangkit sepenuhnya dalam tubuh gadis muda bernama Saori Kido ini. Kini, ia tak lagi mengandalkan saintnya untuk melindungi diri, justru sebaliknya, ialah yang merasa harus melindungi para saint itu. Kekuatan dan cosmo Athena pun meningkat seiring berjalannya waktu, bahkan sekarang ia tak membutuhkan waktu lama untuk membakar cosmonya sampai diatas rata-rata para Dewa. Tentu saja, sebagai Dewi Perang, kekuatan dan cosmo yang luar biasa merupakan salah satu kelebihan yang dimilikinya.

Matahari baru saja terbit dan kabut tebal pun menutupi seluruh wilayah Sanctuary. Kesepian dan kesunyian yang tidak biasa juga kembali melingkupi seluruh Sanctuary. Bahkan, tak seekor burung pun yang terdengar maupun terlihat melintas dilangit.

"Athena-sama." Panggil Shion sambil mengetuk pintu kamar. Athena sedikit terkejut mendengar panggilan yang tiba-tiba dan memandang kakaknya. Artemis pun meminta Athena untuk tak beranjak dari tempatnya sementara ia membuka pintu.

"Ada apa Shion? Athena tidak bisa diganggu. Malam ini, adalah malam yang penting baginya." Tanya Artemis langsung.

Shion pun mengangguk pelan dan menjawab, "Ada seorang tamu menunggunya didepan. Seorang.. Dewi lain."

Artemis sedikit terkejut karena ia tak merasakan cosmo asing apapun. Jika ada Dewa atau Dewi yang bisa melakukan itu, maka itu hanyalah dirinya, Hermes.. dan Dewi itu.

Artemis pun tersenyum dan menoleh kepada adiknya. "Aku yakin kau ingin menemuinya, Athena." Kata Artemis sambil mengulurkan tangannya. Athena pun mengangguk dan dengan segera bangun dari tempat tidurnya dan menerima uluran tangan Artemis dengan segera. Shion yang melihat Athena pun menunduk memberi hormat sebelum memberi jalan bagi Dewi junjungannya itu.

Athena dan Artemis pun berjalan cepat menuju Aula Papacy. Rasa senang dan rindu pun terpancar dari wajah sang Dewi Bulan sementara Athena hanya kebingungan melihat kakaknya. Setibanya di aula itu, Athena dapat melihat seorang wanita bertudung putih keemasan dan berambut coklat bergelombang tengah duduk di salah satu sofa yang disediakan. Ia pun memandang Artemis heran sementara kakaknya itu menyuruhnya maju duluan.

"Permisi." Sapa Athena sambil berjalan mendekati Dewi itu. Wanita itu pun menoleh seketika dan tampak sedikit terkejut ketika memandang Athena. Matanya coklat keemasan dan gaunnya dipenuhi perhiasan emas dan perak. "A..Athena.." Katanya ragu.

"Benar. Apakah saya mengenal anda?" Tanya Athena sambil berdiri diam dibelakang Dewi itu. "Aku rasa.. tidak." Jawabnya. Artemis pun berjalan mendekati Athena dan memegang bahunya.

"Tentu saja kau tidak mengingatnya, Athena. Bertemu dengannya pun tak pernah. Tapi aku yakin, dia ingin memperkenalkan dirinya sendiri." Katanya sambil kembali mundur dan tersenyum memandang Dewi itu.

Dewi dihadapannya pun berdiri dan memandang Athena sendu. Sebuah kerinduan yang tak terkatakan terpancar dari mata sang Dewi.

"Aku.. Namaku Metis..

Dan..

Aku.. Ibu kandungmu."

Athena membelalakkan matanya. Keheningan pun tercipta beberapa waktu lamanya sampai Artemis tersenyum dan memandang Athena yang masih mematung. "Dia menyelamatkanmu saat kau dilahirkan, Athena. Zeus, ayah kita, sebenarnya tidak menginginkan kelahiranmu karena adanya ramalan yang berbunyi bahwa suatu saat kau akan menggulingkan tahtanya. Ayah lantas mengubah Dewi Metis menjadi serangga ketika ia mengandung dirimu dan menelannya hidup-hidup. Didalam perut ayahmu, beliau membuat sebuah baju zirah untukmu dan hal itu membuat kepala ayah sakit hingga ia memutuskan membelah kepalanya, dan kau pun lahir disana." Jelas Artemis.

Metis memandang Athena sejenak sebelum dengan sangat cepat memeluk putrinya itu. Air mata pun mengalir dan membasahi gaun Athena yang masih terdiam karena terkejut. Tak lama kemudian, Athena pun membalas pelukan ibunya erat. "Athena.. Athena anakku.." Gumam Metis berkali-kali.

Artemis pun tersenyum senang sambil melihat reuni ibu anak dihadapannya. Setelah beberapa menit, Metis pun melepas pelukannya dan memandang Athena penuh sukacita.

"Aku tak mengira akan dapat melihatmu lagi, Athena." Katanya sambil membelai rambut Athena. Athena pun tersenyum diam sementara air mata mengalir turun dari matanya.

"Kau.. betapa cantiknya.. anakku.." Kata Metis sambil terus memandang Athena dan mengusap rambutnya.

Dewi Metis pun memandang Artemis yang berjalan kearahnya. Ia pun merangkul Artemis sebentar sebelum melepaskannya lagi. "Ah.. Artemis.. sudah lama kita tak berjumpa.. Aku masih ingat ketika aku mendampingimu bersama Apolo bermain di taman Olympus dulu.. Sungguh sebuah kenangan yang indah. Dan trimakasih sudah menjaga Athena." Kata Metis diikuti anggukan Artemis yang terlihat senang sekali.

Metis pun memandang Athena lagi. "Tinggallah bersamaku.. tinggallah bersama seluruh Dewa-Dewi di gunung Olympus, Athena. Tinggalkanlah bumi dan manusia. Tidak pantas bagimu untuk terus seperti ini." Pinta Metis. Athena pun menggeleng sedih dan menjawab, "Maaf, ibu. Aku mencintai manusia lebih dari apapun. Aku tidak akan pernah meninggalkan mereka hanya supaya aku dapat hidup bersenang-senang bersamamu." Jawabnya.

"Apa yang membuatmu begitu mencintai mereka, Athena? Aku dapat memberikan semua yang kau inginkan."

"Bukankah cinta itu tak bersyarat, ibu? Aku mencintai manusia. Dan tidak ada alasan apapun mengapa aku mencintai mereka." Jawab Athena.

Metis pun tersenyum dan memegang kedua pundak Athena. "Kau benar-benar mirip denganku, Athena. Selalu saja tak pernah meninggalkan apa yang sudah terlanjur dicintai. Demikian pula aku dan Zeus. Terlepas dari apapun yang dilakukannya padaku. Aku masih mencintainya.. dan itu tanpa syarat." Jawab Metis pelan.

Athena pun tersenyum mendengar ibunya dan melirik Artemis yang juga tersenyum lebar disampingnya.

"Aku mengetahui keputusanmu. Apa yang akan kau lakukan dan apa yang menunggumu malam ini, Athena. Apakah kau benar-benar siap untuk hal ini?" Tanya Metis bersungguh-sungguh. Athena pun mengangguk seketika. Ia tak butuh waktu lagi untuk berfikir ulang semua ini. Keputusannya sudah bulat, dan ia tak akan pernah mengubahnya.

"Aku mendukung semua yang kau lakukan, anakku. Maaf aku tak bisa berlama-lama disini. Aku akan tinggal diantara para Dewa sejak Zeus melepaskanku. Walau begitu, aku berjanji tak akan pernah meninggalkanmu." Kata Metis sambil mengecup dahi Athena dan memeluknya singkat. Tak lama kemudian, Metis pun membuka jalan para Dewa dan meninggalkan tempat itu.

Athena memandang kepergian ibunya sendu. Ia tak menyangka akan mendapat kunjungan istimewa walaupun dalam waktu yang singkat. Artemis pun merangkul Athena sejenak sebelum mengajaknya kembali ke dalam kamar.

..oOo..

Matahari mulai turun. Langit pun sudah berwarna merah keemasan. Awan tipis mulai menutupi Sanctuary dan angin bertiup pelan memainkan rambut Athena yang panjang.

Dewi Kebijaksanaan itu pun berdiri sendiri di bawah patung Athena sambil memandang seluruh Sanctuary dari tempatnya. Ia memegang tongkat kemenangannya dan menghela nafas. Halaman batu dihadapannya kini sudah di persiapkan sedemikian rupa. Sebuah meja emas kecil pun sudah ada di ujung halaman sementara diatasnya terdapat sebuah kotak hitam. Artemis sudah kembali ke bulan beberapa jam yang lalu. Para gold saint pun sudah berkumpul di Papacy untuk mempersiapkan diri mereka bersama sang Kyouko.

Athena menutup matanya dan bernafas perlahan, menikmati angin yang terus menerus meniup rambutnya. Sejenak, ia berhasil melupakan semua tekanan dan beban yang menjadi tanggungannya.

"Athena-sama."

Athena membuka mata ketika mendengar Shaka menyebut namanya. Ia pun tersenyum melihat Shaka yang tanpa perhormatan sama sekali, langsung berdiri disampingnya. Ia sudah begitu bosan dengan semua formalitas para saint. Biar bagaimanapun, sekali-kali ia juga ingin diperlakukan sebagai manusia.

Keberadaan sang Virgo membuat Athena sedikit merasa tenang. Shaka sendiri hanya berdiri tanpa berbicara apapun. Mendampingi. Dan hal itu saja sudah cukup untuk Athena.

"Apa rencanamu sekarang, Shaka?" Tanya Athena memulai.

"Tidak ada. Saya hanya akan melakukan semua yang anda minta sebaik mungkin. Sekalipun itu bertentangan dengan kemauan saya." Jawab Shaka tanpa keraguan.

Athena pun mengangguk dan kembali menatap seluruh Sanctuary sementara matahari terus terbenam. "Trimakasih." Katanya.

Keheningan kembali melanda tempat itu. Hanya suara gesekan daun dan burung-burung kecil yang melintas sajalah yang kini mendominasi suara lain. Athena pun melihat Shion yang berjalan memasuki halaman batu itu dengan membawa api ditangannya. Dengan cekatan, Shion menyalakan puluhan obor yang berjejer di seluruh halaman itu dan segera berbalik kembali ke Papacy setelahnya.

"Aku rasa, hari sudah gelap. Bisa tolong kumpulkan para gold saint dan Pope kemari, Shaka?" Pinta Athena. Shaka pun mengangguk dan dengan segera pergi menuju Papacy sementara Athena menatap kepergian Shaka sendu.

..oOo..

"Aku mohon Kyouko-sama… Tidak adakah cara lain agar kita dapat menghindari hal ini?" Tanya Kanon untuk yang kesekian kalinya.

Shion pun lagi-lagi menggeleng dan menatap kawan-kawannya itu. "Lakukan saja apapun yang dikatakan Athena-sama. Athena sudah terlalu lama menyimpan beban ini sendiri. Tolong jangan menambah bebannya hanya dengan pemberontakan kalian." Pinta Shion sambil menunduk. Para gold saint pun diam seketika melihat Kyouko mereka bisa sampai menunduk seperti itu.

"Athena memanggil kita."

Shaka yang tiba-tiba saja muncul membuat seluruh gold saint dan Pope sedikit terkejut. Mereka pun berpandangan satu dengan yang lain tanpa beranjak dari tempatnya.

"Apa yang kalian tunggu? Athena sudah menunggu kita." Tegas Shaka sekali lagi.

Para gold saint pun menunduk dan tidak menjawab apapun. Shion menghela nafas berat sebelum kemudian berjalan duluan diikuti para gold saint yang lain. "Cepat. Aku tidak ingin membuat Athena-sama menunggu lebih lama lagi." Pinta Shion tanpa menoleh. Mereka pun dengan segera meninggalkan Papacy dan berjalan beriringan.

Ketigabelas gold saint bersama sang Pope pun dengan segera mengatur barisan dan menunduk ragu dihadapan Athena. "Berdiri. Kalian tidak perlu melakukan itu lagi." Katanya singkat. Dengan segera, mereka pun berdiri dalam diam tanpa memandang junjungannya. Bahkan, Deathmask menundukkan kepalanya dalam untuk menyembunyikan wajahnya dari sang Dewi.

"Tidak perlu bersedih atau menyesal atas apa yang akan kalian lakukan nanti. Ini semua keinginanku, dan aku mohon maaf sudah melibatkan kalian sejauh ini." Kata Athena sambil tersenyum sedih. Ia pun mengamati para gold saint itu sejenak dan menghela nafas.

"Aku tidak dapat mengatakan hal lain. Yang pasti, ikuti semua kemauan Hades tanpa terkecuali." Athena terdiam sejenak melihat Artemis yang tiba-tiba saja keluar dari Papacy dan berjalan kearahnya. Ia pun mengulurkan tangannya dan menyambut kakaknya itu sebelum melanjutkan.

"Aku akan kembali memasuki garis reinkarnasi malam ini. Sebelum kepergianku, aku ingin memberitahukan beberapa hal. Pertama, aku akan bereinkarnasi lebih lambat dari biasanya. Holy war berikutnya akan terjadi sebelum usiaku menginjak sepuluh tahun. Karena itulah aku membutuhkan bantuan kalian untuk mempersiapkanku sebaik mungkin. Kedua, aku mengijinkan kalian untuk tinggal dimanapun yang kalian suka hingga dua ratus tahun kedepan. Yayasan Kido akan membiayai kebutuhan kalian, dan aku memberikan tugas kepada kalian untuk terus mengawasi segel Hades bersama-sama." Kata Athena.

Para gold saint dengan segera mengangguk dan memandang Aiolos. Menanggapi tatapan kawan-kawannya, ia pun menghela nafas dan dengan formal menerima seluruh tugas dan pemberian Athena bagi mereka.

Tiba-tiba saja, mendung dan awan hitam menutupi seluruh langit. Angin kencang pun bertiup luar biasa. Samar-samar, Athena dapat merasakan cosmo Hades yang sangat tipis dalam angin itu. "Sudah tiba.." Bisiknya pelan sambil terus menatap angin yang kini berputar membuat sebuah pusaran hitam dilangit. Para gold saint pun menggeram dan memandang tajam pusaran itu.

"Akhirnya.. kita berjumpa kembali, Athena."

Sebuah suara yang berat menguasai langit ketika Hades dengan perlahan muncul diantara pusaran itu. Ia pun menggandeng tangan Persephone yang kini mengenakan gaun hitam mewah dan berhiaskan berbagai perhiasan perak dan emas. Persephone hanya menunduk dalam tanpa memandang sang Athena. Terlihat jelas kesedihan diwajahnya sementara Hades tertawa disampingnya.

Ketika Hades tiba di tepi halaman itu dan menginjakkan kakinya diatas tanah. Pusaran angin pun berhenti, digantikan angin kecil yang berhembus perlahan. "Turunlah kemari, Dewa-Dewi." Seru Hades sambil memandang ke langit.

Athena pun mengikuti arah pandangan Hades dan melihat banyak sekali Dewa-Dewi yang turun bersama-sama. Athena merasa familiar dengan sebagian besar cosmo disana, namun ia hanya mengenali sebagian kecil saja. Zeus adalah yang pertama kali tiba ditanah. Disampingnya, berdirilah Hera dengan God Cloth merah keemasannya. Dibelakang Hera terdapat Dewi Metis yang terlihat sangat sedih dan tengah menatap Athena sendu. Ia pun mengenali Eris yang menyeringai tajam di belakang seorang Dewa berbadan besar sementara Apolo terlihat saling berpandangan dengan Artemis. Ia pun mengenali Abel yang tersenyum sedih padanya sementara tangan kanannya memegang harpa.

Setibanya Para Dewa-Dewi itu, angin pun menjadi reda seluruhnya. Demikian juga obor-obor yang tadinya menyala kini sudah padam. Athena mendengar seorang Dewi menjentikkan jarinya. Seketika itu juga, menyalalah seluruh obor yang ada disana.

Athena dapat melihat Hades yang kini berdiri tegap dan berjalan maju selangkah meninggalkan Persephone diujung halaman lain. "Sesuai perjanjian kita, aku menerima harga darah yang kau berikan padaku, Athena, sebagai ganti jiwa para saint itu." Kata Hades memulai. Athena pun berdiri tegap dan menatap Hades tanpa ragu. "Benar. Lakukan apa yang kauinginkan, Hades." Jawabnya.

Hades menyeringai tajam. Dengan segera, ia pun meminta para Dewa Dewi untuk membuka ruang di tengah-tengah halaman itu sehingga terbentuklah lingkaran dengan diameter kurang lebih tigapuluh meter panjangnya. Athena dan Hades berada di sisi-sisi lain halaman itu dan saling berhadapan. Mereka pun saling menatap tajam satu dengan yang lain dan membuat suasana kembali hening.

Hades menjentikkan jarinya sekali. Tiba-tiba saja, sebuah lingkaran kecil berdiameter kurang lebih dua meter yang dibuat oleh cosmo keunguan Hades muncul ditengah-tengah halaman itu. Hades menatap Athena sambil menyeringai dan dengan cepat kembali ke sisi istrinya.

"Masuk." Perintahnya singkat.

Athena pun menegakkan badannya dan berjalan dengan yakin di antara lingkaran cosmo itu. Baru saja kedua kaki Athena memasuki lingkaran itu, tiba-tiba saja sebuah sulur hijau kehitaman raksasa yang berduri muncul dari bawah dan mengikat tubuh Athena. Darah bercucuran ketika duri itu menusuk tubuhnya. Namun, tak terdengar sedikitpun suara dari Sang Dewi Perang yang kini terangkat setengah meter keudara karena sulur itu.

"ATHENA!" Seru para gold saint. Hades pun tertawa dan melirik para gold saint itu. Ia menahan kaki mereka yang hendak berlari ke tempat Athena dengan cosmonya.

"Jangan berani kalian mendekati Athena kecuali dengan ijinku! Akulah yang mengatur kalian saat ini! Tidakkah Athena sudah memberitahukannya? Atau ia terlalu malu?" Tanya Hades.

Para gold saint pun menggeram ketika tubuh mereka tak dapat digerakkan. Cosmo yang menahan tubuh mereka pun seolah membakar mereka perlahan. "Lepaskan mereka, Hades! Perjanjianmu mengatakan bahwa kau tak akan pernah menyakiti para saint Athena." Seru Artemis tegas. Hades pun memandang sang Dewi Bulan sinis sebelum dengan segera melepaskan para gold saint.

"Terserah." Kata Hades sambil memandang para gold saint meremehkan. "Ambil cambuk itu!" Perintahnya. Suasana pun kembali hening ketika Shion melangkahkan kakinya ke meja emas kecil di belakangnya dan membuka kotak diatasnya. Ia mengeluarkan cambuk tartarus itu dan membawanya kembali ke posisinya. Mata Hades sedikit berbinar melihat cambuk itu. Seolah itu adalah benda yang begitu berharga baginya.

"Kalian dengarkanlah! Sulur-sulur ini, mengikat bagian tubuh tertentu dari Athena. Ada simbol-simbol zodiak di sulur-sulur itu. Tugas kalian mudah saja, tebaskan cambuk itu tepat pada lambang zodiak kalian." Kata Hades sebelum tertawa dan merangkul Persephone.

Sang Dewi Musim Semi pun memandang sahabatnya itu iba. Athena sama sekali tak bergerak diatas sulur-sulur berduri itu. Bahkan, tak ada sedikit pun keluhan yang dikeluarkannya. Ia melirik kebelakangnya sejenak dan mendapati Metis yang menunduk dalam dan tidak memandang Athena sama sekali. Demikian juga Zeus yang kini membuang wajahnya.

Para gold saint pun menggeram marah dan membakar cosmo mereka. Seketika itu juga, Pandora tiba-tiba saja muncul dibelakang mereka dan mencambuk para gold saint itu. "Cepat lakukan!" Serunya. Para gold saint pun hendak menyerang Pandora ketika tiba-tiba saja cosmo Athena melingkupi halaman itu.

"Lakukan saja."

"Ta.. tapi.. kami.."

Saga pun menurunkan tangannya dan menunduk ketika mendengar suara Dewinya. Ia pun melirik Mu yang kini sudah mencengkeram cambuk itu di kedua tangannya. Tubuh sang Aries pun gemetar luar biasa ketika cosmo Hades memaksa kakinya melangkah ke tempat Athena.

Mu menatap sulur dihadapannya. Sebuah simbol Aries pun muncul di salah satu sulur yang mengikat pinggang Athena. "A..aku.." Bisiknya. Mu mengangkat cambuk itu tinggi dan memandang Dewi junjungannya yang tidak bergerak sama sekali. Air mata mengalir dari matanya yang memancarkan ketakutan luar biasa.

JRASH!

Mu mengayunkan cambuknya ke sulur itu dan mencabiknya. Athena pun tersentak dan mengatupkan mulutnya erat ketika merasakan sobekan dan cabikan cambuk di pinggangnya. Darah mengalir turun dan menetes ke lantai batu dibawahnya. Racun dalam cambuk itu pun membuat tubuhnya gemetar. Namun rasa panas dan sakit yang berlipat kali ganda tak membuatnya berteriak sedikit pun.

Hades tertawa luar biasa melihat wajah kesakitan Athena. Zeus pun memandang kakaknya itu tajam penuh kebencian sementara ia memeluk Metis yang menangis. Hera pun memalingkan wajahnya dan mengelus punggung Metis perlahan.

"Lanjutkan!" Seru Hades tanpa memperdulikan situasi disekitarnya.

Pandora mencambuk tubuh Aldebaran yang masih tidak bergerak dari tempatnya. Sang Taurus pun melipat tangannya dan menunduk walau rasa sakit yang bertubi-tubi menerpa punggungnya. Lagi-lagi cosmo Athena melingkupi tempat itu. "Aldebaran.. tolonglah.." Pintanya lemah. Aldebaran pun menggeram ketika ia mendengar suara junjungannya. Cosmo Hades pun dengan segera mengikat kakinya dan memaksanya maju.

Mu masih tersungkur dibawah ketika Aldebaran tiba. Ia pun memandang Mu iba sebelum cosmo Hades mengangkat tangannya.

"ATHENA!" Seru Artemis ketika ia melihat cambukan melintang yang merobek kaki Sang Dewi Perang. Athena pun menundukkan kepalanya dan berusaha mati-matian menahan getaran pada tubuhnya. Darah menetes luar biasa dari kakinya. Tangannya pun mengepal kuat menahan rasa sakit.

Lagi-lagi Hades tertawa ditempatnya sementara Persephone menunduk menatap tanah. Air mata mengalir di wajahnya ketika ia melihat kondisi Athena. Abel hanya dapat menutup matanya sementara Eris tersenyum senang.

Saga pun memandang Athena ketakutan. Ia dapat merasakan cosmo Hades yang begitu kuat mencengkeram kakinya dan tanpa bisa ia lawan. Menariknya maju. Saga pun berusaha membakar cosmonya, namun entah sejak kapan, cosmonya sama sekali tak dapat membara.

"Percuman kau melawanku, manusia. Tidakkah kau sadar jika Athena baru saja menyegel cosmo kalian?" Tanya Hades sambil menyeringai meremehkan. Karena cosmo Hades, Saga pun maju ke tengah halaman itu dan mengambil cambuk itu. Ia dapat melihat Aldebaran yang memapah Mu untuk kembali sementara ia terlihat sangat menyesal. Dalam jarak satu meter, Saga dapat melihat keseluruhan tubuh Athena yang terikat sulur. Bagian pinggang dan kakinya pun sudah terkoyak dalam. Ia pun dapat merasakan cosmo Hades yang melingkupi Athena agar ia tak kehilangan nyawanya sebelum semua ini selesai.

Saga pun mengangkat cambuk itu tinggi dengan kedua tangannya. Ia menatap Athena dengan sangat ketakutan dan air mata mengalir dari matanya. Tangannya pun bergerak turun dengan sendirinya dan menebas bagian lengan Athena yang tampak rapuh dimatanya. Athena menjerit pelan ketika cambuk itu merobek kulitnya. Ia pun menunduk dan menggigit bibirnya sampai berdarah. Rasa sakit yang luar biasa pun mengalir keseluruh tubuhnya. Darah dari lengannya mengalir keluar ketika cambuk itu mengoyak dagingnya.

Saga membelalakkan matanya melihat apa yang telah dilakukannya. Ia pun dengan segera jatuh tersungkur dan memegang kedua kepalanya. Menyesal.

"Kumohon.. Jangan menyesaliinya, Saga." Pinta Athena kepada Saga pun menyusul kakaknya dan memegang pundaknya pelan untuk menenangkannya. Ia memeluk kakaknya itu dan mengusap punggungnya berkali-kali. Tanpa sadar, Deathmask pun sudah tiba ditengah-tengah halaman itu. Seumur hidup Kanon, sungguh baru kali ini ia melihat sang Cencer itu menangis. Apalagi sampai seperti ini. Ya, wajah Deathmask sudah kacau. Air mata pun masih terlihat baru di wajahnya yang berkerut sedih.

JRASH!

Darah mengalir deras ketika Deathmask mencambuk sulur yang mengikat pundak Athena. Ia pun memandang Dewinya itu penuh penyesalan sebelum dengan segera berbalik dan pergi kembali ketempatnya. Tak tunggu lama, Kanon pun memapah tubuh Saga yang lemas kembali ketempatnya. Ia pun berpapasan dengan Aiolia yang membawa cambuk ditangannya yang gemetar.

Suara teriakan Sang Dewi Kebijaksanaan pun menggema ketika Aiolia mencambuk tubuhnya. Athena sudah tak dapat lagi menahan rasa sakit yang kini teramat sangat menyiksanya. Ia pun nyaris kehilangan kesadaran berkali-kali jika saja cosmo Hades tak menahannya. Seumur hidupnya, baru kali ini Athena menginginkan kematian itu datang bagi dirinya sendiri.

Suara tangisan Persephone pun terpecah di tengah keheningan yang terjadi. Ia mengepalkan tangannya dan memukul-mukul kepalanya sendiri. Hades pun sedikit terkejut. Namun ia terus melanjutkan kemauannya tanpa memperhatikan Persephone yang kini berada dalam pelukan Artemis. "Hades.. kumohon.. ia sudah tak kuat lagi." Pinta Artemis lemah. Hades pun tertawa meremehkan tanpa menjawab apapun sementara ia mengalirkan cosmonya untuk mengunci kaki sang Virgo.

Shaka pun tersentak ketika tiba-tiba saja kakinya berjalan diluar kemauannya. Ia pun membuka matanya dan memandang Hades tajam. Cosmonya sudah lenyap sepenuhnya. Kini, ia tak jauh berbeda dari manusia biasa. Tak menjawab apapun, Sang Virgo pun dengan segera mengikuti kemauan Hades dan melangkahkan kakinya tanpa ragu. Ia masih ingat terhadap janjinya untuk terus mematuhi sang Dewi semustahil apapun itu. Tanpa paksaan, Shaka menerima cambuk tartarus itu dan mengangkat tangannya. Hades sedikit tersenyum memandang Shaka yang melakukan semua itu atas kemauannya sendiri.

Suara cabikan pun menggema ketika Shaka mengayunkan cambuknya ke sulur yang mengikat leher sang Athena. Athena pun menjerit dan tubuhnya bergetar hebat ketika darah meluap keluar dari leher yang terkoyak. Ia pun memandang Dewi nya iba dan menundukkan kepalanya sebelum dengan tertatih kembali ke tempatnya.

Abel melihat sang Athena miris sementara Persephone terus terisak disampingnya. Artemis pun memandang Apolo sedih sementara tangannya terus membelai Persephone dalam pelukannya. "Aku ingin membawanya kembali ke Elysium. Aku percayakan Athena padamu." Katanya sebelum ia membuka pintu Jalan Para Dewa dan pergi dengan segera.

Hades mengetahui kepergian Persephone dan Artemis. Namun, ia tak melakukan apapun. Ia memang sudah berencana mengembalikan istrinya itu seandainya situasi memburuk baginya. Tak memikirkan hal itu lagi, Hades pun menatap sang Libra yang terlihat sangat marah.

"Ah.. Giliranmu, Libra." Kata Hades sambil menatapnya rendah. Ia mungkin tak mengingat apa yang dialaminya dulu, namun ia merasa memiliki keterikatan yang unik dengan sang Libra. Sama seperti Shaka, Dohko pun maju tanpa perintah. Ia pun meneguhkan hatinya dan memandang sang Dewi junjungannya yang kini dipenuhi darah dan daging yang terkoyak akibat cambuk itu. Bahkan, Dohko pun dapat mendengar isakan kecil Athena yang berusaha menahan rasa sakit.

Ia mengangkat tangannya dan dengan segera mengayunkan cambuk itu. Darah pun menyembur keluar ketika cambuk itu mengoyak dada sampai pinggang sang Dewi. Athena pun berteriak dan menangis. Tubuhnya mulai meronta menahan rasa sakit yang sangat luar biasa, bahkan bagi seorang Dewi sekalipun.

"Cukup Hades.. aku mohon.." Pinta Metis yang kini sudah sujud di kaki sang Dewa Dunia Bawah. Hades pun menyeringai tajam tanpa memperdulikan Metis yang terus menerus memohon kepadanya. "Aku mohon Hades.. aku ingin menggantikannya.. aku mohon.." Pinta Metis terus menerus. Zeus pun mulai merasa kasihan melihat Metis yang memohon pada kakaknya itu tiada henti. Ia pun maju selangkah dan menyentuh pundak Metis untuk menenangkannya.

Namun apapun yang dilakukan Zeus, Metis sama sekali tak peduli. Ia terus memohon dan memohon walau ia tau hal itu sia-sia.

"Janji tetaplah janji. Athena harus menanggung konsekuensi atas perjanjian yang telah dibuatnya denganku. Dan hal itu, tidak dapat diganggu gugat." Jawab Hades menanggapi Metis yang terus memohon. Metis pun terdiam dan menunduk sementara Zeus memeluknya perlahan. "Sudahlah.." Rayunya pelan sebelum berhasil menarik Metis untuk kembali ke tempatnya.

Para gold saint pun mulai maju satu persatu dan mengayunkan cambuknya pada sang Athena sementara keheningan terus melanda tempat itu. Hanya terdengar pecahan obor dan suara keprihatinan beberapa Dewa-Dewi terhadap sang Dewi Perang yang kini berjuang menahan rasa sakit yang menyiksanya.

Aphrodite pun maju sebagai gold saint terakhir. Ia mengambil cambuk itu dari Camus sebelum -dengan paksaan cosmo Hades- maju mendekati sang Athena. Ia pun melirik Deathmask sedih sebelum menutup matanya dan kembali menatap lurus kepada sulur-sulur itu. Pertama kali sejak ia dibangkitkan, baru kali ini Aphrodite menangis menatap sang Athena. Tangannya pun terangkat dengan paksa oleh cosmo Hades. Sang Pisces pun menutup matanya ketika tangannya turun dengan kecepatan yang luar biasa dan mencambuk salah satu sisi wajah sang Dewi.

Athena pun menjerit dan tubuhnya tersentak ketika cambuk itu merobek kulitnya. Seketika itu juga, sulur-sulur yang tadinya mengikat tubuh Athena pun dengan segera kembali ke tanah dan meninggalkan tubuh Athena yg sudah tergeletak lemas di atas lantai batu. Aphrodite pun membatu melihat apa yang telah dilakukannya. Sungguh kengerian baginya melihat wajah Athena yang kini hancur karenanya.

Shion maju dengan segera ke tempat Aphrodite dan memegang pundaknya. Ia pun meminta Aphrodite untuk kembali. Tak menunggu, sang Pisces pun dengan segera mengikuti perintah sang Pope dan berjalan lunglai ke tempatnya. Camus memandang Aphrodite iba dan dengan segera mendudukkannya yang kini terisak menyesal.

Shion melirik Aphrodite sejenak sebelum dengan cepat mendudukkan sang Athena dan membaringkannya di dadanya. Shion pun memandang wajah Athena sendu. Kengerian dan kesedihan yang luar biasa dirasakannya ketika ia melihat kondisi tubuh Dewinya. Keheningan pun kembali menguasai tempat itu. Tak lama kemudian, salah seorang Dewi membakar cosmonya dan mengalirkannya pada sang Athena untuk mengembalikan bentuk wajahnya.

Hades pun memandang Dewi itu tajam.

"Sebagai Dewi Kecantikan, aku menolak segala hal yang dapat menghancurkan kecantikan seseorang, terutama seorang Dewi. Dan hal itu pun berlaku bagi Athena." Jawabnya tegas menanggapi tatapan Hades. Hades pun menaikkan bahunya sebelum kembali memandang Shion dan Athena diam.

"Shi.. Shion.." Kata Athena sangat pelan. Suaranya yang lemah pun membuat Shion semakin sedih dan air matanya mengalir. Athena mengangkat tangannya yang gemetar menahan sakit dan menyentuh pundak Shion. Jubah putih sang Pope pun sudah menjadi merah karena darahnya.

Shion memeluk Dewinya itu erat sebelum dengan perlahan mengeluarkan belati dari sakunya. Athena pun memandang Shion sedih dan mengangguk pelan. Para gold saint pun terkejut ketika melihat belati emas yang kini digenggam Shion dibelakang Athena. Keheningan yang tidak biasa terjadi ketika semua mata kini memandang sang Kyouko yang gemetar luar biasa.

"Aku.. aku.."

Athena menutup matanya dan menyembunyikan wajahnya dalam pelukan sang Kyouko. Shion pun berusaha meneguhkan hatinya dan menggenggam belati itu erat. Tiba-tiba saja, cosmo Athena yang luar biasa melingkupi tangan Shion dan menghangatkannya.

Para Dewa-Dewi pun terkejut merasakan kehangatan cosmo Athena yang meluas melingkupi tempat itu. Cosmo itu pun menghentikan getaran tubuh Shion dan isakan Metis yang kini menatapnya. Hades mengerut tak senang, demikian juga Eris, namun mereka tak mengatakan apapun.

Namun tiba-tiba saja cosmo itu padam bersamaan dengan tersentaknya tubuh Athena. Para gold saint pun membelalakkan matanya ketika melihat belati emas itu menusuk jantung Athena dari belakang.

Shion melepaskan belati itu dan meratap nyaring begitu menyadari apa yang diperbuatnya. Ia pun memeluk tubuh Athena yang sudah terkulai lemas dan menangis disana. Para gold saint menundukkan kepalanya dan berduka. Tangisan dan jeritan penuh kehancuran pun mereka sampaikan ke langit malam itu. Alam pun turut berduka dan angin menerpa wajah mereka perlahan..

Hades tersenyum penuh kemenangan. Ia mengeluarkan empat belas bola cahaya emas dari tangannya yang menghilang begitu menyentuh dada masing-masing gold saint yang ada. Tubuh para gold saint pun bersinar keemasan seketika dan kekuatan mereka kembali seutuhnya. Tak memandang Dewa lain, Hades pun dengan segera membuka jalan para Dewa dan pergi begitu saja.

Para Dewa-Dewi pun hanya berdiri dalam keheningan sebelum kembali ke Olympus bersama-sama. Hanya Zeus, Metis dan Apolo sajalah yang tinggal diantara mereka.

Metis berlari tertatih-tatih dan memeluk tubuh Athena. Ia pun menangis meraung-raung ketika memandang wajah anaknya yang tertutup darah dan tanah. Zeus tak tau harus berkata apa. Ia hanya dapat memegang pundak Metis untuk mendukungnya. Para gold saint pun merapat satu dengan yang lain dan menyatukan cosmo mereka sebelum melepaskannya ke langit. Berduka.

Hujan turun tak lama kemudian. Angin pun bertiup perlahan dan membuat suasana malam itu menjadi sangat dingin.

Hari itu.. bulan menjadi mati. Kegelapan malam pun menyambut mereka yang masih tertinggal di bumi.

Kini Dewi penjaga mereka telah pergi..

Namun dengan janji, bahwa ia akan kembali..

..oOo.. The End ..oOo..

Udah selesaaaaaaaaiiii :"v

Akhirnya… selesai juga nih fic yang sudah bikin aku kepikiran setengah mati tiap hari.. T^T

Gomen telaaatt minnaa.. Internet Error.. MOS.. Tugas2 Sekolaah.. Hyaaaaaa… #mabok

Btw, thanks buat para Reader yang udah baca bahkan mengikuti The Sacrifice dengan sabar.. Review berupa Kritik dan Saran sangat ditungguuu.. :3

Dan untuk yg bertanya2 knp di Chap8 ini knp kok banyak banget scane-scane yg OOT atau ga nyambung sama jalan ceritanya alias ga penting.. yaahh.. itu karena aku berusaha untuk masukin berbagai nilai moral dalam fic ini.. Krn menurutku, fanfic tuh bukan cuman untuk hiburan, tapi juga harus ada pembelajaran didalamnya..

Well, Sekian pesan(?) dari saya..

Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan dengan endingnya. Jujur saja, aku selalu punya masalah kalo dah berurusan dengan ending.. krn itu, aku mohon bantuan para readers dan author untuk mengkritik dan memberi saran jika ada hal-hal yang salah.

Trimakasih^^