Futago
.
A story about Minseok, and Sehun
By Cekerjongin2
Standard disclaimer applied
Warning:
Yaoi, abal, OOC, typo(s)
Note:
Di cerita ini Xiumin 94 line ya ._.
Aku saranin buat baca sambil dengerin lagunya Taeyeon yang Closer ._.
Pas bikin denger itu soalnya /peace
.
Ok, happy reading!
.
.
.
.
Chapter 8
Pagi itu. Cukup berlebihan jika Xiumin menyebutnya pagi yang baru. Ia terkekeh karena memikirkan pikirannya yang berlebihan. Alasan disebut pagi baru karena Xiumin harus hidup dengan berpura-pura tidak mengenal Sehun. Pemuda yang telah mencuri hatinya seminggu belakangan ini.
Xiumin menghela napas. Di bukanya jendela apartemennya. Menghirup udara pagi sepuas-puasnya. Matanya memejam menikmati. Lalu setelah puas ia membuka mata kecilnya itu lagi.
Lelaki gembul itu dapat melihat pemungkiman penduduk berjajar rapi. Beberapa orang di bawah sana mulai sibuk dengan aktifitas mereka masing-masing. Ada yang berangkat ke kantor, ada yang ke sekolah, mengantar anak dan lain-lain.
Apa yang Sehun lakukan sekarang? Tanyanya dalam hati. Matanya memandang sesuatu yang jauh di sana. Ia sadar. Sial, otaknya memikirkan pemuda itu lagi. Xiumin memukuli kepalanya sendiri.
Merutuki kebodohan otaknya karena memikirkan pemuda yang sebenarnya tidak mengenalnya. Yang Sehun kenal hanyalah Minseok. Anh Minseok. Bukan dia, Xiumin -si Minseok dengan marga Kim. Xiumin tersenyum miris.
"Kau bodoh, Kim Minseok," gumamnya pelan. Ia terkekeh pilu. Orang yang mendengarnya akan merasakan betapa sakitnya hati Xiumin.
"Jangan melukai dirimu sendiri. Sehun sudah bahagia dengan anak dari keluarga Xi. Dia tidak akan memikirkanmu lagi," Xiumin mulai bermonolog.
"Em… maksudku tidak memikirkan Anh Minseok," ia melanjutkan percakapan dengan dirinya sendiri. Senyum Xiumin terlihat semakin menyedihkan. Pahit.
"Tidak mungkin ia memikirkanmu. Ia tidak mengenalmu, Kim! Ingat itu!" Xiumin memberi nasehat pada dirinya sendiri.
"Ah aku konyol sekali," desisnya seraya mengacak-acak surai hitamnya.
Tak mau membuang waktu. Ia beranjak dari kasur tipisnya. Menarik handuk berwarna putih yang tergantung di paku dan berjalan menuju kamar mandi. Pukul 10 nanti ia akan bekerja di toko roti keluarga Anh. Nyonya Anh sendiri yang menawarinya. Ia tahu jika Xiumin tidak memiliki pekerjaan dan kebetulan tokonya membutuhkan karyawan.
.
.
.
Sekitar pukul sembilan. Sehun masih tertidur di sofanya. Kondisinya benar-benar acak-acakan. Rambut hitamnya seperti tidak disisir untuk beberapa bulan. Kancing kemejanya hampir semua terbuka. Memamerkan tubuhnya yang ditumbuhi tulang. Kurus.
Wajahnya kacau. Tidak secerah sebelumnya. Tangannya penuh dengan luka. Luka itu disebabkan kemarin malam ia memukuli segala hal yang ada di dalam kamarnya. Bahkan darah dari luka tersebut masih menetes. Jika diteruskan Sehun bisa kekurangan darah.
Dan kalian pasti dapat menebak bagaimana berantakannya kamar Sehun. Pecahan kaca di mana-mana. Wine mahal yang berceceran di lantai. Tirai pun juga terlepas dari tempatnya menggantung.
Semuanya kacau. Keadaannya, otaknya, tubuhnya, dan mungkin kehidupannya. Sehun kacau. Ia masih belum menerima kepergian Minseok. Sungguh dusta jika ia mengatakan ia bisa, ia rela. Sehun benar-benar tidak bisa. Ini sangat berat untuknya.
.
Pagi yang cerah. Burung-burung di luar sana bernyanyi. Melengkapi pagi Sehun dan keluarganya. Ia keluar dari kamarnya dengan menggunakan jas hitam dan kemeja putih. Sungguh tampan.
Wangi maskulin membalut tubuhnya. Membuat setiap wanita maupun pria tertarik olehnya. Pesona yang memikat. Sayangnya, lelaki tampan itu telah mempunyai seseorang dalam hatinya.
Seseorang yang memakai cincin yang sama dengannya. Seseorang yang ada saat terakhir kali ia menutup mata di malam hari dan pertama kali ada di saat Sehun membuka mata di pagi hari. Seseorang yang mengerti dirinya. Seseorang yang menerimanya apa adanya.
Sehun tersenyum melihat orang itu. Orang itu sedang memasak. Apron berwarna biru muda dipakai olehnya. Sehun melangkah mendekatinya. Lalu saat sudah dekat Sehun melingkarkan tanganya di pinggang mungil milik istrinya.
"Selamat pagi, milikku," sapanya seraya menenggelamkan kepalanya di perpotongan leher istrinya itu. Menghirup parfum beraroma jeruk. Tak lupa Sehun juga mengecupi setiap centimeter kulit mulus tersebut.
Istri Sehun memutar knop kompor untuk mematikan apinya. Ia telah selesai memasak. "Selamat pagi juga, sayang," ia menarik kedua ujung bibirnya. Menikmati apa yang Sehun lakukan padanya. Telapak tangannya mengelus tangan Sehun yang memeluknya.
"Sudah selesai memasaknya?"
"Eum ya," Sehun melepaskan pelukannya. Memutar tubuh istrinya itu. Sang istri sendiri hanya pasrah dengan apa yang Sehun lakukan. Sehun menatapnya. Menatap mata tanpa lipatan mata tersebut. Dan juga mengelus pipi bundarnya yang merona.
"Semakin hari kau semakin cantik, Minseok-ah," pujinya sambil mengecup hidung mancung istrinya. Yang tidak lain adalah Minseok.
"Dasar gombal," Minseok mengalungkan tangannya di leher Sehun dengan anggun. Tak lama kemudian Sehun menganggkat pinggang istrinya itu untuk duduk di pantries.
"Ini sungguhan sayang," sanggahnya. Sekarang Minseok tidak perlu mendongakkan kepalanya untuk menatap Sehun dan Sehun Juga tak perlu menunduk untuk menatap istrinya itu.
"Aku ini jelek," Minseok mengelus pipi mulus suaminya. "Kau yang semakin tampan, sayang," pujinya sambil memberikan eye smile-nya pada Sehun.
"Kenapa kau tidak menurut dengan suamimu sih? Kau itu cantik, bae. Semakin cantik."
"Tidak."
"Kau harus dihukum."
"Oh ya? Hukum saja aku tidak takut," Minseok menjulurkan lidahnya seperti anak kecil. Sehun menyeringai. Menghapus jarak diantara mereka. Mendekati wajah bundar istrinya dan menempelkan bibir tipisnya dengan bibi sexy milik Minseok.
Siapa yang menolak jika hukumannya seperti ini? Minseok saja langsung melumat bibir tipis itu. Ia tidak mau kalah dengan suaminya yang selalu memakan bibirnya sampai bengkak.
Ditariknya leher Sehun sehingga kepala suaminya itu semakin dekat. Menyebabkan ciuman mereka semakin dalam. Berkali-kali mereka memiringkan kepalanya untuk mendapatkan posisi yang pas.
Tidak ada jarak di antara mereka. Tubuh mereka menempel. Belum lagi tangan Sehun yang mulai menelusup ke dalam kaus milik Minseok. Menjamah punggung mulus milik istrinya itu. Kaki Minseok bergerak-gerak senang.
Jika mereka tidak memerlukan oksigen ciuman mereka ini tidak akan terputus dengan cepat. Sayangnya mereka memerlukan oksigen. Minseok memukuli dada Sehun. Tanda oksigen di dadanya mulai menipis.
Dengan pengertian Sehun melepaskan ciuman mereka. Benang saliva terbentuk oleh tindakannya. Sehun mendapati wajah Minseok sepenuhnya merah. Mereka bertatapan. Merapikan rambut pasangan mereka.
"Ayah? Ibu?"
Suara anak perempuan menginterupsi acara pandang memandang yang mereka lakukan.
"Apa masih lama?" sekarang suara anak laki-laki mereka.
Sehun dan Minseok terkekeh. Mereka baru sadar jika kedua anak mereka telah menunggu. Dengan segera Sehun menurunkan Minseok dari sana. Lalu berjalan menuju meja makan untuk menemani anak-anak mereka.
"Maafkan ayah, sayang," tangannya terulur untuk mengelus puncak kepala anak perempuannya. Namun yang ia dapatkan hanya udara. Sehun terkejut. Hilang. Semuanya menghilang.
Tidak ada anak-anaknya. Lelaki kurus itu melihat ke sekeliling. Tidak ada Minseok. Tidak ada apa-apa di sana. Bahkan dapurnya berubah menjadi ruang putih yang kosong. Ruang hampa.
"KE MANA?" serunya seraya mengacak rambutnya depresi.
"KALIAN KE MANA?" lanjutnya dengan napas terengah-engah. Bahkan bibirnya masih dapat merasakan bekas ciuman mereka. Namun, kenapa Minseok menghilang? Kenapa semuanya menghilang? Ke mana perginya semuanya?
Dadanya terasa begitu sesak. Ini benar-benar menyakitkan. Seperti kau diterbangkan namun sedetik kemudian kau dihempaskan ke dasar bumi. Sehun memukuli rongga dadanya tersebut. Berharap rasa sakit dapat hilang dari sana.
Kakinya lemas. Ia tidak dapat menopang tubuh kurusnya lagi. Sehun menundukkan dirinya di lantai. Sambil terus memukuli dadanya dan bertanya dalam hati. Minseok kau di mana? Kalian di mana? Kenapa kalian hilang?
Matanya terasa panas memikirkan rasa pahit dan rasa sakit yang tiba-tiba mengerang kehidupannya yang manis. Sedetik kemudian Sehun sudah tak dapat menahan air itu untuk terjun dari matanya. Mengalir membasahi pipi putihnya.
Oksigen pun juga hilang dari dadanya. Seperti Minseok dan semuanya yang tiba-tiba hilang dari kehidupannya. Begitu sesak terasa. "Minseok, kau di mana, Minseok? Kembalilah… jangan menghilang… aku membutuhkanmu, sayangku," rapalnya. Berulang-ulang tanpa mengenal rasa lelah dan bosan.
Angin dingin menghembusnya. Membuat rambutnya berterbangan. Begitu dingin hingga Sehun harus memeluk tubuhnya sendiri. Ia mendongak untuk melihat apa yang terjadi. Tapi hanya ada angin menyapanya. Angin dingin.
"ADA APA INI?" teriaknya marah. "BERHENTI MEMAINKANKU!"
"CEPAT KATAKAN KAU DI MANA MINSEOK! CEPAT!" perintahnya dengan nada tinggi. Kesabaran Sehun habis. Ia benar-benar marah dengan semua ini.
"Aku sudah meninggal, Sehun. Berhentilah memikirkanku. Mulai sekarang pikirkan dirimu sendiri. Pikirkan kebahagiaanmu. Kebahagiaanmu tanpaku…," Sehun mendengarkan suara Minseok membisikinya.
"Minseok!" ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Namun tidak ada apa-apa kecuali ruang hampa. Angin dingin yang tadi menyerbu pun mulai menghilang. Digantikan dengan rasa hangat pada kulitnya.
.
Sehun membuka matanya. Sinar fajar menusuk kristalnya saat itu juga. Mimpi. Dengan sigap Sehun mengangkat tangan kanannya untuk menghalangi sang fajar. Tes. Setetes darah jatuh dari tangannya. Perih. Lalu sedetik kemudian Sehun menurunkan tangannya itu. Tak peduli dengan sinar matahari yang menusuk indranya.
"Ternyata hanya mimpi," gumamnya setelah menghela napas berat. "Semuanya terbawa mimpi."
Rasa sakit, rasa kehilangan, rasa tak rela.
Sehun bangun dari tidurnya. Duduk di sofa hitam itu. Pandangannya kosong. Seperti raga yang kehilangan jiwa. Tangannya bergerak untuk mengacak surai hitamnya.
"Kau bodoh, Oh Sehun!" serunya murka. Ia merasa ditipu oleh mimpi. Mimpi yang manis dan berujung sebuah kepahitan.
"Kalau akhirnya kau pergi lagi, kenapa kau harus kembali? Kau bodoh! Jangan hiraukan aku!"
Sehun menjatuhkan kepalanya kebelakang dan memejamkan matanya. Rasa pusing karena anggur masih bertengger di kepalanya. Sialnya, hari ini adalah hari pertamanya bekerja di perusahaan.
Telinganya menangkap suara ketukan pintu. Itu pasti ibunya. "Sehun kau sudah bangun?" dan benar itu memang ibunya. Sehun beranjak dari sofanya dan menjawab "Ya".
Mm… kau harus janji kau akan hidup dengan baik. Jangan membangkang. Turuti ibumu, suara itu berdengung di telinganya. Sehun mengangguki suara itu. Suara yang ia rindukan dengan sangat.
"Ya, aku janji."
"Kau baik-baik saja sayang?" ibunya kembali bersuara. Sehun mempercepat langkahnya.
Lelaki kacau itu meraih gagang pintu dan memutarnya. Menarik kayu persegi panjang itu kebelakang. Sehingga ia bisa melihat ibunya dan ibunya bisa melihat dirinya.
"Sedikit. Jangan khawatir," ibunya terbelalak.
"Sehun kau tidak apa-apa? Kau yakin? Sayang jangan seperti ini lagi," ibunya mulai panik dan mengguncangkan tubuh kurus Sehun.
"Ibu aku tidak apa-apa," Sehun memeluk ibunya. "Maafkan aku sudah merepotkanmu. Aku akan menurutimu, mengerti?" Sehun dapat mendengarkan suara wanita tua itu terisak.
"Sehun... kau harus menerimanya. Kau harus rela," ibunya itu memberi nasehat dengan suara parau.
"Ya, aku akan berusaha," ia melepaskan pelukannya. Lalu menghapus air mata di pipi berkeriput milik ibunya.
"Aku mau mandi dulu. Setelah itu aku ke kantor."
"Ibu tunggu di bawah," dadanya naik turun. Sang ibu mulai mengatur napasnya.
"Sehun sayang ibu. Jangan khawatir," dielusnya puncak kepala nyonya Oh.
"Ibu juga menyayangimu, nak. Cepat mandi," titahnya sambil tersenyum hangat. Sehun menghadiahinya kecupan di pipi dan berlari menuju kamar mandi.
Rasa bahagia menyerbu nyonya Oh. Ia senang anak satu-satunya bisa seperti ini lagi. Air mata kebahagiaan menetes dari matanya. Sehun telah kembali seperti Sehun setahun yang lalu. Sehun yang belum ditinggal oleh Minseok.
.
.
.
Sehun menyemprotkan parfum mahalnya ke jasnya yang tak kalah mahal yang sedang ia kenakan. Sesekali ia menyanyi kecil. Sekuat tenaga berusaha melupakan kesedihannya dengan aktifitas.
Drrt. Ponsel pintarnya bergetar. Ia letakkan parfumnya di meja dan meraih iPhone keluaran terbaru miliknya tersebut. Satu pesan baru. Dan tentu saja itu dari Luhan. Bukan dari Mins- lupakan Sehun! Jarinya bergerak menyentuh layar benda mahal itu. Membuka pesan tersebut dan membacanya.
Dari: Luhan
Hey kurus! Apa kau sudah bangun?
Sedetik kemudian ia mengetik balasan untuk lelaki di sebrang sana.
Untuk: Luhan
Aku sedang siap-siap untuk ke kantor, hyung
Ya, Luhan memang lebih tua darinya. Lebih tua empat tahun. Tak lama ponselnya itu kembali bergetar.
Dari: Luhan
Kau memanggilku hyung seperti seorang adik saja kkk
Sehun tersenyum miring. Memangnya salah? Lelaki beraroma maskulin itu mulai melangkahkan kakinya. Jari-jarinya dengan perlahan mengetik balasan untuk Luhan. Maklum saja Sehun sudah lama tak berhubungan dengan orang melalui ponsel. Ini saja baru dibelinya kemarin lusa.
Untuk: Luhan
Lucu sekali. Aku kan memang seorang adik.
Sehun membaca teks itu lagi sebelum mengirimnya. Kata-katanya terdengar kasar. Ingat Sehun kau itu dijodohkan dengan lelaki ini dan ia menyukaimu pada pandangan pertama. Jangan mempermalukan keluargamu.
Lalu Sehun memutuskan menghapus teksnya dan menggantinya dengan yang lebih baik lagi.
Untuk: Luhan
Lalu kau ingin kupanggil apa? Baby? Bae? Sayang? Chagiya? Atau... yeobo?
Sehun menyakukan ponselnya setelah menekan tombol kirim. Ia yakin lelaki di seberang sana pasti berteriak atau bahkan meloncat-loncat kegirangan. Sehun menghela napas. Ini seperti berpura-pura menjadi orang lain. Ia tidak dapat menyerukan apa yang ada di dalam pikirannya.
"Ayo kita berangkat sayang!" ajak ibunya sambil menggandeng tangan kurus Sehun.
Sehun menganggu dan berjalan menuju mobil hitamnya yang mulus. Duduk di bangku belakang. Pikirannya melayang.
Apa jika Minseok meninggal aku harus menikah dengan Luhan? Jujur saja aku tidak menyukainya. Sehun itu tipikal orang yang benci perjodohan. Ia suka menentukan garis hidupnya sendiri. Tidak peduli apa yang dikatakan oleh orang lain. Seperti keputusannya untuk mengasingkan diri setelah Minseok meninggal.
Sehun mendesah. Kenapa terpikir Minseok lagi? Bisakah kalian berhenti? Kumohon..., pintanya dalam hati sambil memejamkan matanya. Tangannya mengepal dan bergetar. Dadanya naik dan turun. Atur napasmu, Oh Sehun.
"Ibu," panggilnya setelah ia merasa emosinya telah stabil.
"Ya, sayang?" nyonya Oh menoleh ke Sehun dan melempar senyum hangat.
"Haruskah aku dengan Luhan?"
"...," tidak ada jawaban dari nyonya Oh.
"Aku ingin memilih pendamping hidupku sendiri."
"Lama kelamaan kau akan menyukainya sayang," wanita itu mengelus pipi putra tampannya.
"Ijinkan aku memilih sendiri. Aku tidak mau menikahinya karena terpaksa."
Ibu Sehun menghela napas. Ia kenal Sehun. Sehun adalah anaknya. Anaknya itu sejak kecil memang tidak suka dipaksa.
"Aku sudah dewasa. Aku bisa memilih mana yang baik dan buruk. Percayalah padaku, bu," pintanya sambil menggenggam tangan sang itu. Nyonya Oh memejamkan matanya ia berpikir.
"Ibu... kumohon..."
.
.
.
Xiumin turun dari busnya. Berjalan menyusuri jalan mencari alamat seperti yang tertera di kertas yang ia bawa. Dan gotcha! Matanya telah menangkap tulisan besar Knock 'N Knock Bakery. Xiumin pun berlari membawa badannya ke sana. Berharap ia tidak terlambat di hari pertamanya bekerja.
Suara dering bel ia dengar saat tangannya mendorong pintu kaca dari toko roti tersebut. Ia mendekati karyawan dengan seragam berwarna pastel. Ditepuknya pundak tersebut.
"Permisi, di mana aku bisa bertemu dengan tuan Park?"
Karyawan itu menoleh. Matanya terbelalak. Ia berteriak dan berlari ketakutan menjauhi Xiumin. Xiumin mendesah kecewa. Karyawan itu pasti mengira ia adalah Anh Minseok. Kenapa wajah kita dan nama kita harus sama? Menyusahkan, protesnya dalam hati.
"Ada apa kau berteriak, Joy-ah?" karyawan lain segera mengeliling karyawan yang berlari menjauhi Xiumin tadi. Kira-kira delapan orang. Karyawan yang bernama Joy itu hanya diam sambil mengatur napasnya.
"Minum dulu! Minum dulu!" seorang karyawan berseragam koki memberinya segelas air putih. Karyawan cantik itu pun meminumnya.
"Di sana! Di sana!" tangannya menunjuk tempat Xiumin berada dan dalam hitungan detik karyawan wanita yang melihat Xiumin berteriak.
"Ya Tuhan! Jangan bilang tuan muda menghantui kita!" seru karyawan lain. Karyawan ini ber-name tag Wendy Son.
Xiumin berjalan mendekati mereka. Hendak memberikan sebuah penjelasan. Tapi, karyawan-karyawan tersebut melangkah mundur.
"Jangan hantui kami tuan Muda!"
"Ampuni kami! Ijinkan kami bekerja!"
Dan masih banyak seruan lain. Pintu coklat di pojok ruangan terbuka. Sesosok lelaki berbadan jangkungikut mendekati karyawan-karyawan tersebut.
"Ada apa ini ribut-ribut?" tanyanya dengan nada tegas. Semuanya terdiam. Mereka takut jika bosnya ini marah. Lantai dan sepatu adalah hal terindah untuk dipandang pada saat ini.
"Permisi," Xiumin memecahkan keheningan di toko tersebut.
Bos tampan itu menoleh ke arahnya. Pemuda manis itu tertawa renyah. "Dasar bodoh," desisnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kau pasti karyawan baru dari bibi Anh kan?" Xiumin mengangguk.
"Iya, apa anda bos Park? Nyonya Anh menyuruhku menemui keponakannya yang bernama Park Chanyeol," pemuda itu tersenyum manis. Menampakkan semua gigi-giginya.
"Ternyata benar kata bibi Anh kau sangat mirip dengan sepupuku."
"Begitulah, tuan. Aku sendiri juga tidak tahu kenapa."
Chanyeol merangkulnya. "Jangan panggil aku tuan, panggil aku kapten," bisiknya sambil terkekeh. Xiumin merinding saat bos muda itu membisikinya. Tubuhnya kaku seketika. Yang pernah melakukan hal seperti itu hanya Sehun.
Bodoh! Kenapa memikirkan Sehun lagi?
"Baik, semuanya, perkenalkan ini karyawan baru kita."
"Apa?" semua serempak menyerukan kata itu. Mata mereka terbelalak.
"Jangan takut. Dia ini bukan hantu. Dia memang mirip dengan sepupuku. Tapi dia ini orang yang berbeda."
Semua karyawan mengangguk-angguk emngerti. Beberapa karyawan saling berbisik. Menanyakan kenapa wajahnya begitu mirip dengan Anh Minseok. Tuan mudanya.
"Dan satu lagi. Yang tidak boleh kalian lupakan."
"Apa itu kapten?" tanya si Joy. Karyawan yang Xiumin temui tadi.
"Jika Oh Sehun datang ke sini. Sembunyikan dia."
"Siap kapten!" seru karyawan-karyawan itu dengan patuhnya.
"Oke! Kembali bekerja! Oh ya siapa namamu, cantik?" blush. Pipi Xiumin bersemu merah. Belum ada yang memujinya cantik selain bosnya ini dan... Sehun.
Ah kenapa dia lagi?
"Ki-kim Minseok. Panggil saja Xiumin, kapten," jawaban Xiumin membuat Chanyeol tertegun beberapa detik.
"Wah bahkan namamu mirip," Xiumin hanya tersenyum canggung. Chanyeol sendiri menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba ingin digaruk olehnya.
"Oke! Selamat bekerja!" ia mengacak poni Xiumin dan berjalan memasuki ruangannya.
Jantung Xiumin lagi-lagi berpacu cepat karena tindakan bosnya itu. tak berbeda dengan Xiumin, Chanyeol pun merasa jantungnya ingin melompat dari tempatnya. Ia bersandar di belakang pintu. Chanyeol memejamkan matanya. Mengingat kejadian beberapa saat yang lalu.
"Xiumin," gumamnya sambil menarik kedua ujung bibirnya. Membentuk senyuman yang menawan.
Namanya, fisiknya, suaranya, tangan kanannya memeganggi dada bagian kirinya. Merasakan degup jantung yang tiba-tiba tidak normal. Dan reaksiku terhadapnya sama. Ini membuatnya mengingat sepupunya yang telah meninggal setahun yang lalu.
Tuhan... Apakah ini jalanmu? Chanyeol membuka matanya. Berjalan mendekati mejanya. Mengambil figura yang ia pajang di sana. Figura berisi fotonya dengan Minseok. Kau tidak mengijinkanku bersama dengan Minseok karena cintaku yang terlarang. Diusapnya benda itu oleh Chanyeol.
"Minseok berbahagialah di sana," ujarnya sambil meletakkan figura itu di tempat asalnya. Lalu Chanyeol kembali memikirkan karyawan barunya.
Chanyeol menyandarkan punggungnya di kursi. Kedua tangannya ia silangkan kebelakang dan ia gunakan untuk bantal. Hey Tuhan, apa ini artinya aku boleh mencintai karyawanku itu?
.
.
.
Xiumin telah mengganti bajunya dengan seragam. Ia dikejutkan dengan tiga orang karyawan berada di depan kamar mandi. Salah satunya adalah Joy. Ia jadi hapal dengan perempuan berambut hitam dengan ujung hijau itu.
"Halo oppa!" serunya. "Namaku Joy," gadis muda itu mengulurkan tangannya. Tak lupa senyum merekah di bibirnya. Xiumin menjawab tangannya.
"Aku Xiumin."
"Kalau aku Wendy," ucap gadis dengan rambut hitam berujung biru. Mereka berjabatan dan mengucapkan salam kenal.
"Dan aku Seulgi, semoga kita menjadi teman akrab!" seru gadis memiliki wanra kuning diujung rambutnya.
Hijau adalah Joy, biru adalah Wendy, dan kuning adalah Seulgi, Xiumin menghapalkan wajah mereka. Mereka mulai berjalan menjauhi kamar mandi.
"Hey bagaimana kau bisa mirip dengan tuan muda?" si biru bertanya. Ini Wendy.
"Aku juga tidak tahu," Xiumin mengangkat bahunya.
"Kau sungguh mirip. Wajahmu, tinggi badanmu, suaramu," Seulgi menilainya setelah memandangnya dari atas ke bawah.
"Bedanya tuan muda itu cerewet!" Wendy ikut menyuarakan pendapatnya.
"Sangat cerewet!" Joy menimpali pendapat Wendy. Sedangkan Xiumin hanya terkekeh mendengarkan celotehan ketiga gadis warna-warni ini.
"Ternyata kalian di sini!" seru seseorang di ujung lorong. Ia memiliki warna pink di ujung rambutnya.
Empat gadis warna-warni, batin Xiumin.
"Ayo cepat bekerja! Jangan menggosip di sini!" titah gadis cantik di ujung lorong itu. Tangannya berkacak pinggang. Raut wajahnya dipaksa untuk menampilkan ekspresi seram.
"Iya-iya unni, heuh!" Seulgi mendengus sebal. Dengan kompak mereka memanyunkan bibir mereka sebanyak beberapa senti.
Mereka berempat pun mempercepat langkahnya mendekati gadis pink tersebut.
"Kau ini cerewet sekali!" ejek Wendy saat mereka telah berada di ujung lorong.
"Seperti tuan muda!" Joy menambahi. Gadis itu melempar deathglare pada Joy.
"Semoga kalian dihantui oleh tuan muda!"
"Heuh! Enak saja!" Joy mendengus dan menatap si merah muda dengan kesal.
"Biasanya, jika mendoakan jelek akan kembali ke diri mereka sendiri," Xiumin membela si Joy. Membuat gadis merah muda itu cemberut. Sedangkan tiga gadis lain tertawa terbahak-bahak.
"Xiumin-ssi aku tidak menyangka ternyata kau itu menyebalkan," ucapnya dengan bibir manyunnya. Xiumin terkekeh.
"Aku hanya bercanda. Kupikir ini dapat membuat kita menjadi teman."
"Aku tahu. Oh ya, namaku Irene," mereka berjabat tangan.
"Aku kasir di sini. Sama seperti kau. Jika kau ada kesulitan bertanyalah padaku," gadis bernama Irene itu tersenyum dengan ramah.
"Tentu, Irene-ssi," Xiumin ikut tersenyum olehnya.
Dalam hatinya, Xiumin berharap. Ia dapat melupakan perasaannya dengan bekerja di sini. Menurutnya, ini adalah awal yang cukup baik. Setelah hujan pasti ada pelangi.
.
.
.
Hari pertama di kantor. Semuanya berjalan dengan lancar. Meeting, menandatangani kontrak, ini dan itu. Semuanya dilakukan oleh Sehun dengan sebaik-baiknya.
Ia memasuki ruang kerjanya. Sinar jingga masuk dari jendela kaca di ujung ruangan. Tidak terasa sudah sore. Jika seperti ini terus Sehun yakin ia dapat melupakan Minseok.
Kenapa tidak dari dulu saja? Dasar kau idiot Sehun-ah!
Mata Sehun terbelalak. Ia dikejutkan dengan keberadaan seorang lelaki tertidur di sofanya. Lelaki mungil itu memangku sebuah kotak makan berwarna kuninh pastel.
"Luhan hyung?" panggilnya sambil berjalan mendekati lelaki itu. Tapi, tidak ada pergerakan berarti dari lelaki berkebangsaan Cina tersebut. Dengan perlahan Sehun duduk di sofa tersebut.
Diambilnya bekal dalam pangkuan lelaki itu. Sehun baru saja ingat. Tadi siang saat meeting mendadak, sekretarisnya memberi tahu jika seseorang menunggunya. Ia tidak menyangka jika itu Luhan. Terlalu bodoh.
Sebuah kertas berisi coret-coretan ada di atas sana. Sehun tertarik dengan kertas itu. Ini kertas memo dengan perusahaannya. Luhan pasti bosan dan mencorat-coret kertas memo ini.
.
Hai Sehun! Aku membuatkanmu kimbap! Uh aku tidak tahu namanya ._.
Tulisan itu dicoret.
.
Sehun-ah~! Ayo makan siang bersama sayang! Ah malu -/-
Lalu kalimat itu juga dicoret olehnya.
.
Sehun, ternyata kau tidak membawa ponselmu -0-
Tapi yang ini tidak dicoret. Sehun tersenyum membacanya. Ia tidak hobi membawa benda seperti itu. tidak seperti Jongin dan Baekhyun yang terkadang dalam satu ruangan saja saling chatting. Pasangan gila.
.
Kapan sih meeting-mu itu selesai?
.
Aku ngantuk ya ._.
.
Ya Tuhan Sehun! Ini udah jam 2! -0-
.
Sehun, aku bisa jadi fosil di sini. Ayo makan siang -0-
.
Ih kalo Sehun gak ke sini sekarang hyung mau ngambek -0-
Lagi-lagi Sehun terkekeh. Entahlah, lucu saja membaca coretan-coretan iseng dari Luhan.
.
Sehun, hyung bakal nunggu Sehun. Nunggu Sehun dateng. Nunggu Sehun suka sama hyung. Nunggu Sehun ngelupain Minseok. Hehe. Tenang Sehun, hyung bakal sabar nunggu kok ^0^
Hunhun love Lulu ^/^
Sehun tertegun membaca pesan terakhir itu. Otaknya berpikir tentang perdebatannya dengan ibunya tadi. Persetan, kenapa ia jadi tidak tega? Ia hanya ingin bebas memilih pendamping hidupnya.
Sehun menyakukan kertas itu. Di sisi lain, ia tidak ingin menyakit Luhan. Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menuruti apa yang ibu katakan? Sehun menatap wajah damai itu. Menidurkannya dan kembali menatap wajah cantik dari lelaki itu.
Turuti ibumu, suara Minseok terdengar di gendang telinganya. Iya, benar. Aku harus menuruti apa yang ibu katakan. Sehun merapikan rambut coklat milik Luhan. Sungguh jika semakin dilihat ia semakin tidak tega untuk menyakiti lelaki ini.
Tenang Sehun, hyung bakal sabar nunggu kok. Sehun tersenyum. Matanya semakin sipit karenanya.
"Tunggu Sehun ya hyung. Sehun bakal berusaha sekuat tenaga," dielusnya puncak kepala milik lelaki berdarah Cina itu. Dengan pelan-pelan Sehun mendekatkan wajahnya dengan wajah Luhan.
Chu. Dikecupnya kening itu lama. Maafkan aku hyung. Maaf telah membuatmu menunggu. Lalu ia menjauhkan tubuhnya dari tubuh lelaki mungil itu.
Betapa kagetnya Sehun saat Luhan mulai menggerakkan tubuhnya tidak nyaman. Jantungnya terpompa dengan cepat. Mata indah itu terbuka beberapa menit kemudian. Wajah keduanya berubah menjadi merah karena malu.
.
.
.
Bersambung...
.
.
.
a/n:
This is it! Nih yang minta ffnya lanjut /.\ udah aku lanjut ya sayangku -3- kudu review kalo gak aku bakal ngambek -3- wkwk canda doang ._.
Aku nyelesein ff ini sehari doang loh! ._. /duagh/ /gak penting/ biasanya nyelesaiin satu chapter itu bisa berhari hari ._. Makanya aku kalo update dua minggu sekali ._. maklum aja yah, orang lemot :'3 ditambah aku juga nulis epep ojek payung, kalo mau baca, baca aja ya :3 /promosi :v
Tapi emm maaf updatenya tetep lama -_- dan sebenernya aku gak ada niat buat jadiin Luhan dan Chanyeol sebagai cast. Aku cuman ngikutin alur dan jadinya gini ._. aku udah bikin kerangka cerita/? Tapi setiap chapter selalu nyeleweng/?
Sebenernya ff ini direncanakan cuman bikin 3 chapter tapi ini malah beranak pinak jadi 8 dan belom tamat juga XD makasih buat teman-teman reader, yang udah baca, review, favorit, maupun yang memfollow :3 aku tanpamu butiran debu/?
Buat yang gak suka hunhan maaf ya ._. author juga kurang suka sebenernya ._. wkwk damai :'3 ini hanya ff semata, jadi maklumin aja, semuanya demi alur /?
Oh ya ._. tulis uname twitter kalian ya ._. mau aku follow ._. biar deket gitu ._.
Okelah, ini makin panjang curhatannya -_- gak kerasa banget udah bacot segini banyak xD oke oke jangan lupa review, satu review kalian sangat berarti bagi kelangsungan/? Ff ini (9'-')9
With love,
CekerJongin
