Baik, Minna. Mari kita lanjutkan cerita Nista ini #Plak! ( Bercanda kok -_- )

Hanbei:" TIDUUUOOOAAKKKK! AKU BUUAAAKAAALLL TERTIMPUUAAA KENISTUUUAAAAN YANG BUUEEESAAARRRR DI CHAPTER INIII!"

Woi, Mas! Capslock-nya jebol! Ente yang ganti keyboardnya! _

Hanbei: (Pingsan di tempat dengan darah mengalir dari mulut (?))

HE? Si Mas pingsan? Ambulans! MANA AMBULANS?! Ada orang pingsan nihhh!

Masamune:" Huuu... Mbak Author, ente yang buat si topeng ungu itu pingsan! Dan Jaman Sengoku gak ada Ambulans, You Know?"

Oh iya ya... hehe... sori. Tunggu dulu... Si MasMun kenapa disini? Ente kan belum dimunculkan?

Masamune:" Ya... It's up to me! Mau muncul, kek. Mau hilang, kek. Ya gitu..."

Ah udah ah... Si Bang Masmun emang gaje... Untung si Mas Hanbei udah dibawa ke rumah sakit terdekat (?) Pakai ambulans jaman sengoku ( Kereta kuda, wkwkwk..) Semoga ia tidak bangun untuk melihat Chapter ini. Bener juga sih... dia bakalan nista di Chapter ini, fufufu.. ( Nyengir Jahat)

Misa:" APA?! Mbak Author kejammmm... Huhuhu... Kejam banget sama Hanbei-kuuu..." T^T

(Kabur aja deh... daripada digampar sama Misa, mending ngelanjutin cerita Gaje bin nista ini -_- )


.

.

.

Kegelapan putih (Slumber Corpses another story)
Bagian 8.

Hanbei p.o.v.

(Ini mungkin mengandung sesuatu yang sedikit Vulgar. Tidak dianjurkan untuk dibaca oleh yang berumur 12 tahun ke bawah)

Siang ini Klan Toyotomi kedatangan seorang tamu dari Klan Saito, Nona Nago. Hideyoshi memprediksi bahwa Nona Nago ingin bersekutu dengan kami. Aku juga punya beberapa rencana bagus untuk kedepannya. Salah satunya adalah merekrut orang-orang hebat dari beberapa marga di Provinsi lain.

Aku mendengar dari seorang kurir Oda bahwa Nobunaga dan sebagian besar pengikutnya yang ada bersamanya terbunuh tadi pagi saat beliau berkunjung ke Kuil Honnou di ibukota. Langsung saja Hideyoshi mengadakan upacara penghormatan terakhir pada bekas junjungannya itu dan segera pergi ke Gunung Tenno di Yamazaki untuk membantai pembunuh Nobunaga, salah seorang pengikutnya yang bernama Akechi Mitsuhide yang juga adalah bekas rekanku ketika aku masih mengabdi di Klan Saito. Kami berhasil mengalahkannya. Mitsuhide menghilang setelah kejadian itu.

Dan Hideyoshi segera mengumumkan bahwa kepemimpinan Nobunaga tidaklah kosong. Dia segera menyatakan bahwa dialah yang akan menggantikan Nobunaga untuk menguasai seantero Jepang.

Mungkin Nona Nago tahu hal ini. Sepertinya itulah alasannya mengapa dia ingin menemui kami. Namun entah mengapa firasat buruk di pikiranku tentang Nona Nago semakin menjadi-jadi.

Tiba-tiba seorang pelayan masuk ke ruang besar tempat aku, Hideyoshi dan beberapa pembesar Toyotomi berada.

"Nagohime-sama, tamu dari Klan Saito telah tiba. Kini beliau menunggu di depan pintu."

"Hmm...baiklah. Persilahkan dia untuk masuk kemari." perintah Hideyoshi.

Pelayan itu mengangguk. Ia segera keluar. Tak lama kemudian, pintu itu terbuka. Tampak Nona Nago duduk bersimpuh di depan pintu itu. Ia mengenakan dua lapis kimono sutra yang tebal bermotif bunga lotus. Rambut hitamnya yang panjang dijepit ke atas dengan suatu sanggul yang berhiaskan bunga persik. Kedua tangannya yang putih terpangku rapi di atas pahanya. Ia mengangkat wajah.

"Saya Nagohime, pengikut senior dari Klan Saito."Katanya memperkenalkan diri." Saya kemari dengan tujuan bersekutu dengan Klan Toyotomi. Saya sebagai bagian dari Klan Saito mewakili semua anggota Klan untuk bergabung dengan anda, Hideyoshi-dono."

Aku dan beberapa pembesar Toyotomi terkejut mendengar kalimat Nona Nago itu. Beberapa diantara mereka berbisik-bisik.

"Kurang ajar sekali wanita ini. Dia tidak memakai basa-basi!"

"Dia langsung menyatakan tujuannya kemari tanpa pandang bulu. Tidakkah dia tahu bahwa yang berbicara dengannya adalah seorang pria hebat?"

Hideyoshi tersenyum."Ah, Nagohime-sama. Anda kali ini patut merasa mujur. Kami saat ini sedang mengupayakan perekrutan anggota baru. Dan kami, Klan Toyotomi menerima dengan senang hati permintaan anda itu."

"Oh, Terima kasih banyak, Hideyoshi-dono." Ucap Nona Nago seraya tersenyum." Tapi saya ingin mengemukakan sesuatu. Sebagai tamu, Saya punya satu permintaan."

"Silahkan, Nagohime-sama. Sebutkan apa permintaan anda."

"Saya ingin melihat-lihat Benteng Osaka ini dan segala isinya."

"Tentu saja anda boleh. Ahli strategiku, Takenaka Hanbei akan memandu anda untuk melihat-lihat."

Aku terbelalak mendengar kalimat Hideyoshi itu. Aku segera mendekatinya.

"Hideyoshi, kenapa harus aku yang mengantarnya?" Bisikku tajam.

"Dia bekas seniormu. Aku yakin dia akan lebih nyaman bersamamu ketimbang ditemani oleh pengawal lain yang belum pernah dikenalnya."

"Baiklah kalau itu perintahmu, Hideyoshi. Akan kutemani Nagohime-sama berjalan-jalan. Tapi aku merasa tidak enak akan hal ini."

"Sudahlah, Hanbei. Jangan terlalu mengutamakan firasatmu. Lakukan saja. Kalau terjadi apa-apa denganmu, segera beritahu pengawal yang lewat di dekatmu. Di benteng Osaka ini terdapat kurang lebih lima puluh ribu pengawal. Kau akan dengan mudah menemui mereka."

"Baiklah, Hideyoshi."desahku pasrah.

Aku menoleh ke arah Nona Nago yang masih bersimpuh tak jauh dari Hideyoshi."Nagohime-sama. Mari ikut denganku."

Nona Nago tersenyum kecut. Ia mohon diri dari Hideyoshi dan para pembesar Toyotomi di ruangan itu dan mengikutiku keluar.

Tiba-tiba aku melihat seorang lelaki masuk ke ruangan tempat Hideyoshi berada. Lelaki itu...KEIJI.

Tunggu dulu! Untuk apa dia kemari?

Apakah ia hanya sekedar bertamu atau...

"Takenaka-kun, kenapa kau melamun? Bukankah kau ingin mengajakku berkeliling di Benteng Osaka ini?"Nona Nago tiba-tiba menegurku.

Aku tersadar."Ah, tidak ada apa-apa, Nagohime-sama. Mari kita pergi."

Aku lalu memandu Nona Nago berjalan-jalan menelusuri Benteng Osaka. Kami telah tiba di tempat pelatihan para prajurit. Tiba-tiba seorang prajurit mendekati kami.

"Hanbei-sama, saya mendapatkan sebuah surat dari Klan bekas sekutu Oda, Klan Tokugawa. Pemimpin mereka, Tokugawa Ieyasu menyatakan bahwa ia menyerah pada Toyotomi dan bersedia menjadi sekutu. Beliau akan datang besok pagi untuk menemui kita disini dan menyatakan bahwa Klan Tokugawa akan beraliansi dengan Klan Toyotomi."

Aku senang mendengar berita ini. Tokugawa Ieyasu, penguasa Provinsi Mikawa adalah sekutu Klan Oda. Awalnya dia adalah sandera Klan Imagawa dari Provinsi Suruga. Setelah Klan Imagawa dihancurkan oleh Klan Oda, Ieyasu lalu beraliansi dengan Nobunaga. Dan kini setelah Nobunaga wafat di Kuil Honnou, ia mungkin menyadari kekuatan Hideyoshi dan memutuskan untuk beraliansi dengan kami. Setidaknya rencana utamaku sudah setengah jalan.

"Ah, Tokugawa Ieyasu. Aku terkesan dengan pemuda itu. Dia penyabar, penuh perhitungan dan pikirannya begitu kritis. Sama sepertiku. Aku akan memberitahukan hal ini pada Hideyoshi nanti setelah menemani Nagohime-sama berjalan-jalan."

"Baik, Hanbei-sama."

Prajurit itu segera membungkuk hormat dan kembali ke barisan pelatihan. Ia dan prajurit lainnya berlatih tombak, pedang dan panah dengan begitu semangat.

"Takenaka-kun, tampaknya Klan Toyotomi akan segera menguasai Jepang. Prajurit-prajurit kalian begitu hebat. Sepertinya senjata utama kalian adalah Kekuatan itu sendiri." Ujar Nona Nago setelah beberapa saat berjalan-jalan.

"Kurang lebih begitu. Hideyoshi yang pertama kali menerapkan hal tersebut. Dia punya satu pepatah pribadi. "Kelemahan adalah Dosa." Aku tidak tahu persis mengapa ia bisa memiliki ambisi besar seperti itu. Namun sebagai bawahannya, aku juga harus menjadi kuat sepertinya."

"Hmm...apakah kau yakin kau bisa menjadi kuat?"

Aku terkejut mendengar itu. Kurasa dadaku terbakar karena marah. Nona Nago benar-benar menganggapku pria lemah. Mungkin alasan utamanya adalah penyakitku. Tapi dia seharusnya tidak boleh seperti ini. Aku Kuat! Akan kubuktikan padanya bahwa aku bukanlah lelaki penyakitan lemah seperti yang ia sangka selama ini.

"Nagohime-sama, anda tidak diperkenankan untuk merendahkan orang lain, termasuk aku sendiri."Tegurku Sopan."Maaf karena teguran ini. Tapi sebaiknya anda menjaga sikap anda."

"Oh, ternyata kau merasa tersinggung dengan ucapanku tadi, Takenaka-kun. Maafkan aku. Terkadang mulutku tidak bisa dikontrol. Tapi bukankah itu benar?"

"Ya. Tapi kini anda adalah sekutu baru Klan Toyotomi. Walaupun anda lebih tua dariku, anda tidak bisa sembarangan mengatakan ataupun melakukan sesuatu selama anda berada di lingkungan benteng seperti ini."

"Ah...begitu, ya? Baiklah. Terserah kau saja."

Kami tiba di ruang tidurku. Nona Nago menatap ruangan ini dengan mata takjub.

"Takenaka-kun! Ruang tidurmu hebat sekali! Ornamen dan lukisan indah menghiasi setiap dinding. Dan buku-bukumu banyak sekali! Ada lima buah rak buku disini dan semuanya terisi penuh! Apakah kau telah membaca semua ini?"

Aku tertawa."Aku ahli strategi. Maka kukoleksi buku-buku seni perang disini. Aku butuh mereka untuk membantuku mencari sumber ide baru mengenai taktik. Selain itu, membaca adalah hobi utamaku. Aku tidak bisa lepas dari hal berguna seperti itu."

Aku merasa sesuatu yang hebat mengenai Nona Nago. Dia tidak lagi sesinis dulu. Dan tampaknya dia kini lebih sopan terhadapku. Kurasa dia telah berubah. Dan aku ingin berteman dekat dengannya.

"Oh, ya. Aku ingin bertanya padamu, Takenaka-kun."Kata Nona Nago tiba-tiba."Mengapa kau meninggalkan istrimu?"

Aku merasa tersudut dengan pertanyaan itu.

"Ahh..Misahime-sama, ya? Memang benar aku meninggalkannya. Dia tidak mendukungku untuk membantu Hideyoshi dalam menaklukkan Jepang dengan kekuatan kami. Aku nyaris membunuhnya karena aku beranggapan bahwa cinta hanya akan membuatku lemah. Tapi aku gagal. Maka kuputuskan untuk meninggalkannya dan mencari kesejahteraan untuk Jepang."

"Aku heran. Mengapa kau tidak menceraikannya saja? Lagipula kemungkinan besar kalian tidak akan pernah bertemu lagi."

"Entahlah, Nagohime-sama. Aku masih bingung soal itu. Aku..."

Kalimatku terpotong begitu Nona Nago menutup pintu ruang tidurku secara tiba-tiba. Ia mengganjal sepotong besi di pintu itu agar sulit dibuka. Dan itu membuatku heran.

"Nagohime-sama, mengapa anda menutup pintu itu? Aku belum mengantar anda ke halaman belakang benteng Osaka."

Nona Nago tertawa kecil."Takenaka-kun, kau ahli strategi. Tapi ternyata kau tidak lebih dari seorang pemuda penurut yang begitu mudah masuk ke jebakan murahan seperti ini."

APA?! INI JEBAKAN?!

"Nagohime-sama, apa maksud anda?"

"Hahaha...Takenaka-kun, rupanya kau terlalu buta oleh rencana picikmu untuk merekrut para jendral hebat sebagai anggota Klan Toyotomi. Dan dengan begitu mudahnya kau mempercayaiku karena rencana itu."

Dalam sekejap semua prasangka positif yang kubangun mengenai Nona Nago hancur berkeping-keping. Aku melangkah mundur seraya menghunus pedang cambukku ke arah wanita itu.

"Apa mau anda sebenarnya, Nagohime-sama?" Tanyaku curiga.

"Aku hanya ingin menikah denganmu, Takenaka-kun. Itu saja."

Ternyata memang benar firasatku selama ini. Nona Nago mengincarku.

"Maaf, Nagohime-sama. Tapi seperti yang pernah kukatakan pada anda, Aku tidak pernah menyukai anda. Anda terlalu licik untukku. Dan aku tetap memegang prinsip itu walaupun aku sudah meninggalkan Misahime-sama." jawabku tegas.

Kulihat ekspresi terkejut dari wajah Nona Nago. Namun detik berikutnya, ia tertawa berderai-derai.

"Hahaha! Aku tidak peduli kalau kau menyukaiku atau tidak, Takenaka-kun. Aku akan tetap memaksamu. Dan kau berkata bahwa kau ingin mengajakku melihat taman belakang Benteng Osaka. Tapi kurasa ada hal yang lebih menarik dari itu."

Dia berkata begitu seraya berjalan ke arahku. Aku segera menyiapkan kuda-kuda.

"Jangan mendekat, Nagohime-sama."Desisku."Kalau tidak, aku akan terpaksa mencincang tubuh anda dengan pedang cambukku."

"Begitu, ya? Kurasa aku memang tidak bisa meremehkanmu. Tapi aku tidak akan kalah! Terima ini!"

Ia melempar beberapa pisau ke arahku. Segera saja kutangkis semuanya. Pisau-pisau itu berjatuhan di depanku. Namun itu belum selesai. Tiba-tiba...

NONA NAGO TELAH BERDIRI TEPAT DI DEPAN HIDUNGKU!

Aku tidak habis pikir mengapa kecepatannya begitu hebat. Namun sebelum aku bertindak, Nona Nago sudah menghempaskan tubuhku ke lantai kayu dan duduk di atas perutku. Disambarnya pedang cambukku dan dilemparnya benda itu ke sebuah sudut ruangan. Sebuah tangannya mencekik leherku.

Ini benar-benar memalukan! Mengapa aku bisa menjadi lemah seperti ini?

"Apa...yang hendak...anda...lakukan ter...hadapku?" Kataku dengan suara tersiksa.

Nona Nago tersenyum sinis. Ia menempelkan keningnya pada keningku. Dilepas cengkeramannya di leherku. Namun aku tidak sempat bernafas lega karena tangannya segera membekap mulutku.

"Sudah kukatakan padamu, aku akan tetap memaksamu, walaupun kau tidak menyukaiku. Kau akan menjadi milikku, Takenaka-kun, Ehehahaha!"

Aku benar-benar ngeri mendengar kalimat Nona Nago itu. Aku berusaha berteriak memanggil Hideyoshi dan pengawal-pengawal benteng Osaka. Akan tetapi Nona Nago membekap mulutku begitu kuat sehingga aku hanya bisa mengerang tertahan.

Nona Nago mulai membuka bagian atas baju tempurku, membuatku panik luar biasa. Aku berusaha melawan, namun rasa sakit yang dashyat mulai menjulur ke seluruh tubuhku.

TIDAK! NONA NAGO, MENGAPA ANDA MELAKUKAN INI PADAKU? HENTIKAN!

Apa daya, Nona Nago semakin gila melakukannya. Dan tubuhku terasa begitu sakit. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi.

"Nago...hime-sa..ma...henti...kan..."

"Fufufu...aku tidak akan berhenti sebelum puas, Takenaka-kun. Ini balas dendamku karena kau lebih memilih Misa daripada aku!"

Dia tidak mau berhenti?! Rasa sakit yang kuterima sudah mencapai puncaknya.

HUWAAAAAAA!


Nah... gimana minna? Sensasional sekali bukan, wkwkwk...

Hanbei:" HEH! Harga diriku sebagai ahli Strategi Tertampan dan Terseksehh Hancur lebur disini!"

Waduh... Udah bangun rupanya... Maaf ya Brooo.

Nagohime:" Haha... Takenaka-kun memang Mantaaappp..."

Hanbei:" Hiiiiihhh... Amit-amit banget! Oi, Mbak Author, Kau melucuti Harga diriku! Awas Kau!" ( Hunus Pedang cambuk )

Waduh.. santai mas... ( Ambil Langkah seribu dan lari secepat mungkin)

Hanbei:" Kembali kau, Author Nista!" _

Hiii... serem banget... sambil lari, tunggu lanjutan ceritanya ya, wkwkk...