A Little Boy

Warning: Typo(s), AU, SHO-AI, GAJE,ABAL,OOCness

Rating : T

Pairing: Sasunaru slight SasuIno, SaiIno,

Masashi Kishimoto(c)


2 bulan kemudian..

Kalau saja hidup ini mudah, entah ada berapa banyak orang sukses dan saling berebut kedudukan di dunia ini. Mungkin karena itulah tuhan sudah menciptakan jalan semua makhluknya berbeda-beda, cukup adilkan? Tapi, tunggu.. kenapa banyak manusia yang selalu iri dan cemburu satu sama lain? Apa tidak cukupkah karunia yang diberikan tuhan padanya? Tentu tidak bagi manusia-manusia serakah itu.

Sejak kecil, Naruto selalu mencoba bersyukur dengan apa yang tuhan berikan padanya. Wajah yang manis, mata sapphire yang indah, rambut blonde yang berkilau, kulit tan yang bahkan terlihat menggoda. STOP! Tidakah kau lihat manusia bersurai raven melawan gravitasi di sana? Manusia (setengah iblis) yang memancarkan aura hitam ketika orang-orang memandang penuh nikmat pada property sempurnanya itu?

Tidak!

Aku bahkan masih sayang nyawa untuk berhadapan dengan manusia berkulit pucat itu. Tidak terimakasih banyak!

Sasuke kesal, melihat para pengunjung supermarket memandang penuh minat ke arah pemuda manis yang sedang mengandung asset berharga miliknya itu, chibi Sasu, begitulah Naruto memanggilnya. Kenapa? Karena sejak kandungan Naruto menginjak 2 bulan, postur tubuh pemuda blonde itu terlihat lebih menggairahkan di mata Sasuke, bahkan bagi siapapun yang melihatnya.

Pipi chubby itu bertambah chubby kala Sasuke menciumnya, meskipun perutnya tidak selangsing dulu, tetapi Sasuke tetap mencintai sosok sexy itu. Ah, Naruto memang makhluk tuhan yang paling sexy bagi Sasuke.

"mama"

Jangan lupakan sosok kecil Kin yang menjadi dalang penyebab Sasuke cemburu lebih dari siapapun. "ya?" Tanya Naruto, dengan nada manis. Beda sekali ketika berbicara dengan Sasuke. Bahkan, Naruto akan berteriak keras kalau Sasuke memanggil manja namanya. "Kin mau apa?" Tanya Naruto, ketika tak mendengar sahutan dari bibir kecil Kin. Kin menggelengkan kepalanya pelan.

Kin memang sudah mau berbicara lagi dengan Naruto dan ayahnya setelah sebulan lamanya ia membungkam mulutnya, entah karena apa. tetapi, Kin pun lebih sedikit bicara dari biasanya. Sikap kekanakannya pun sudah hilang, entah kemana. Berganti dengan sikap para Uchiha yang menyebalkan, kalau boleh Naruto berkomentar.

Kin hanya menoleh malu ke arah sebuah bola-bola mainan yang terpajang di sebuah rak khusus mainan anak-anak. Naruto mengerti, ia pun menggandeng tangan kecil Kin, mengajaknya ke sana dan meninggalkan Sasuke yang merenggut sebal sambil mendorong troli belanjaan mereka. "Kin mau itu?" Tanya Naruto. Kin menggeleng pelan, "untuk adik bayi" jawab Kin, tersenyum simpul.

Naruto menyamai tingginya dengan tinggi Kin. "adik bayi masih lama lahirnya, Kin-chan" Ujar Naruto. Kin menggembungkan pipinya tanpa sabar, "tapi Kin mau itu buat adik bayi" seru Kin, menyilangkan kedua tangannya ke dada. "aniki, adik mu kan belum lahir" suara tegas Sasuke terdengar mengintrupsi keduanya. Naruto bangun dari posisinya, sambil tersenyum ke arah calon suaminya itu.

"papa" Kin menundukan kepalanya, merasa bersalah. "tapi jika kau mau, kita ambil satu" ujar Sasuke. Kin mendongakan kepalanya—tersenyum senang. "benarkah, pa?" Tanya Kin, antusias sekali. Baru 2 minggu yang lalu bocah kecil itu fasih mengucapkan huruf 'R'. "tentu saja, tapi jika itu untuk adik mu, kau berjanji untuk rajin belajar?" Tanya Sasuke, setengah membungkukan badan tingginya.

Kin mengangguk pelan, jika hanya itu, ia pasti bisa melakukannya. Jujur saja, Kin sudah tidak sabar untuk mempunyai seorang adik. Ia ingin punya adik, seperti sahabatnya Ichibi. Kin ingin adiknya cepat lahir, dan menjadi seorang aniki adalah harapannya dari dulu.


.

.

.

Ruang Kerja Kyuubi..

2 bulan lamanya Kyuubi tidak melihat kehadiran sosok pemuda bertubuh jangkung bernama lengkap Uchiha Itachi itu. Pria tampan yang selalu saja menemaninya (meskipun lebih banyak mengganggu dirinya di tengah bekerja). Si tampan, raven itu memang sudah 2 bulan tidak menampakan batang hidungnya di hadapan Kyuubi. Pemilik maniks ruby itu menghela nafas pelan, tanpa Itachi ruangan ber-AC ini terasa sepi rupanya.

Kyuubi's POV

Apa? kenapa aku merasakan kesepian tanpa Itachi? kenapa dengan ku? Ada apa? seharusnya kan aku merasa senang kala si keriput mesum itu sudah tidak bersama ku lagi. Suara cerewetnya itu, aarrgghhhhhh, aku tidak tahu kenapa aku ingin sekali bertemu dengannya. Aku ini kenapa sih? Tidak mungkin kan kalau aku kasmaraan.

Apalagi sama si keriput itu.

Iya sih, dia ganteng, kaya, kece, baik, dan bahkan semua karyawati di sini menyukainya. Tapi, HELL, NO! Aku tidak mungkin jatuh cinta perasaan ini? Ya, ampun! Kenapa aku bisa se-dramatis ini? Perasaan macam apa ini? Jantung ku bahkan berdetak tidak karuan, meletup-letup seperti pop corn. Keriput mesum itu pasti sudah mengguna-gunai aku!.

Ku lirik ponsel ku, seolah setan-setan kecil terus berteriak meminta ku untuk menghubungi manusia itu. Aku mengacak kasar rambut ku, bergulat dengan otak dan hati itu sungguh melelahkan. Aku benci ini!

'hallo'

"h..hallo" oh, sial akhirnya memang aku harus menghubungi nomor laknat itu.

'maaf, ini siapa?'

Apa itu? Wanita? Kenapa yang mengangkat ponselnya WANITA? Kemana si keriput itu.

"B..bisa bicara dengan Itachi?" aku bertanya pada wanita itu.

'SAYANG, KYUUBI-SAN MENELPON!'

SAYANG?

APA ARTI SAYANG?

'Hn'

"Hey, Chi" aku menyapanya.

'ada apa? kau ingin bicara apa? di London masih malam, kau mengganggu tidur ku saja, hoaamm'

"hehehehe, ma..maaf. lanjutkan saja tidur mu" sakit, kenapa dada ku terasa sesak?

'hn'

Tutttt...tuuuuttt...

Itachi memutus sambungannya sepihak? Kenapa? Hiks, huwweeeeee, Okaasan ,Itachi jahat...


.

.

.

Konoha High School

Seorang pemuda berparas manis terlihat sedang asyik menikmati buku bacaan yang ia beli beberapa hari yang lalu di toko buku. Kegiatan membacanya terganggu oleh tutupan tangan putih bak porselein di kedua matanya dan menghalangi pemuda bersurai blonde itu melanjutkan bacaannya. "ayolah, Tobi-kun! Jangan bercanda, un" ujar pemuda itu, meminta pemuda tak jelas itu menghentikan candaannya.

"Tobi-kun, un" pemuda bernama Deidara itu merasa aneh, kenapa orang yang menutupi pandangannya itu tak juga mau menghentikan aksi candaannya itu. "To—HIDAN, hentikan!" seru nya lagi.

Tak juga di lepas.

"YAHIKO, ku mohon, un"

Kenapa masih belum bisa di lepas?

"Sa..Sasori no danna" ucapnya terbata-bata.

Perlahan secerca sinar mentari menyambut pandangannya. "3 kali salah menyebutkan nama" ujar pemuda berambut merah maroon itu. Si pirang hanya mendengus pelan mendengarnya. Deidara kembali melanjutkan bacaannya, tanpa menghiraukan Sasori yang duduk di samping kirinya. "novel?" Sasori akhirnya membuka suara.

"Hu'um" jawab Deidara, tanpa menoleh ke arah Sasori. "sejak kapan kau suka novel?" Tanya Sasori. Deidara menutup novelnya dan mengulas senyum ke arah Sasori. "sudah lama sih, un" jawab Deidara. "siapa pengarangnya?" Sasori bertanya lagi. Deidara menatap Sasori dengan tatapan aneh, sejak kapan pemuda Akasuna ini menjadi orang banyak Tanya seperti itu?

"Okiku Hana" Deidara menjawab lagi. Sasori merebut novel berwarna indigo itu. "Lolly Me Love You? Judul yang aneh" cibir Sasori. "hey, jangan menghina novelis favorit ku, un!" seru Deidara. Sasori menggelengkan kepalanya pelan, "apa sih yang kau suka dari pengarang novel homo ini? Kau tahu? Okiku Hana itu adalah orang bodoh yang menceritakan kisah hidupnya ke dalam novel. Entah apa yang ia pikirkan" Sasori mencibir novelis idola Deidara.

"kakak sepupu ku bahkan sangat mengidolakan dia" Sasori bergumam, ingatannya terarah pada seorang wanita bersurai coklat, bernama Matsuri. Kecintaan Matsuri pada novelis muda bernama Okiku Hana itu memang sudah di luar batas seorang fans pada umumnya. Sasori pernah hampir muntah waktu pertama kali membaca salah satu novel karya Okiku Hana, berjudul 'We Are Too Different' itu. Hm, bagaimana bisa seorang pembunuh sadis memiliki nama yang sama dengannya? Terkutuklah Okiku Hana itu.

"apa kau pernah membacanya, un?" Tanya Deidara dengan wajah antusias. "pernah, dua novel malah" jawab Sasori. "judulnya?" Deidara bertanya lagi. "We are too different, mengisahkan percintaan manusia dengan hantu" jawab Sasori. "habis itu?" Si blonde bertanya lagi. "23 days" jawab Sasori.

"apa? kau membaca karya pertama Okiku Hana? Hana-San bahkan menulisnya saat ia baru naik kelas 3 SMP, Hebat" Puji Deidara. "ya, hanya iseng saja sih. waktu aku kelas 2 SMP, Kakak ku, Matsuri meminta ku menemaninya untuk menghadiri launching gerai bacaan milik Okiku Hana itu" jawab Sasori. "Apa Okiku Hana itu cantik,un?"

"tidak"

Deidara memonyongkan bibirnya tidak jelas, mendengar kata 'tidak' dari bibir Sasori. "bagaimana isi novel 23 days itu, un?" Deidara mengalihkan pembicaraannya.

"hanya kisah seorang gadis leukimia yang menanti orang yang ia cintai selama 23 hari masa hidupnya itu saja" jawab Sasori, acuh tak acuh. "aku penasaran, kenapa sih Okiku Hana selalu menulis kisah tragedy pada setiap novelnya, un" Ujar Deidara. "mana aku tahu, lebih baik membaca novel horror dan gore karya Kai Juju" sahut Sasori.

"aku benci Kai Juju, un!" seru Deidara. "itu karena kau tidak mengerti adegan berdarah" cibir Sasori. "bukan itu, tapi.. kau tahu tidak Okiku Hana pernah membuat novel yang saling berhubungan dengan novel Kai Juju" ujar Deidara. Sasori memasang pose berpikir ala detektif, apa ada istilah Novel berantai? Seingat Sasori di dalam sastra itu hanya ada puisi berantai saja. "anggap saja novel Okiku Hana itu Prequelnya dan Kai Juju Sequelnya, un"

"hanya perasaan mu saja" sahut Sasori. Dalam hati Sasori memang membenarkan perkataan Deidara, bahkan pernah ada rumor kalau penulis Kai Juju dan Okiku Hana itu pernah memiliki hubungan dekat, tapi tak ada yang tahu pasti kebenaran rumor tersebut.

Sasori beralih pada novel milik Deidara di tangan kanannya. "ini ceritanya tentang apa?" Tanya Sasori. "dua orang sahabat, dimana salah satunya mencintai sahabatnya yang sudah mempunyai pacar. Namanya Misuke dan Hiroto, Misuke rela jadi pacar bohongannya Hiroto untuk membuat mantan Hiroto cemburu dan balikan lagi padanya" jawabnya.

"jahat sekali Hiroto itu" gumam Sasori. "kau tahu apa yang lebih menyedihkan lagi? Misuke yang sudah sadar akan cintanya yang bertepuk sebelah tangan pun akhirnya memutuskan untuk berpacaran dengan Michiba, senpai disekolahnya, pada saat itulah Hiroto sadar jika selama ini dia mencintai Misuke. Tapi saat ingin kembali Misuke malah—"

"stop, aku tahu kelanjutannya!" seru Sasori.

Deidara tersenyum simpul, "tidak ada lanjutannya, un" ujar Deidara. Sasori membulatkan matanya, heran mendengar ucapan sang blonde. "ceritanya menggantung, Misuke hanya mengatakan 'cukup sampai disini saja', un. Entah apa yang Okiku Hana pikirkan saat menyelesaikan novel ini" lanjut Deidara.

"sudah ku bilang, Kai Juju itu lebih baik dari Okiku Hana"

"terserah deh, un" sahut Deidara, membersihkan rumput-rumput kering dari celananya. 'kau tahu Danna? Tanpa sadar cerita ini mirip dengan cerita kita' batin Deidara.


.

.

.

At Hospital..

"kita harus cepat.. kita harus cepat"

"Miyuki, periksa denyut nadinya!"

"ha'i"

"Naomi, kau tekan di sana!"

"baiklah, dok!"

Para medis berusaha keras menolong sosok yang sudah tak bernafas itu. Semua sibuk bekerja menyelamatkan nyawa pasien bernama Shimura Ino itu. Berusaha semaksimal mungkin menghadirkan kembali detak jantungnya. "dok..dok..dok, pasien mengeluarkan darah pada hidungnya" teriak salah satu dokter muda yang panic melihat darah mengalir dari hidung wanita cantik itu.

"APA?"

Sementara itu..

Obito memberikan pelukan guna menguatkan hati sang istri, Yakni Uchiha Naruko. Wanita berusia 25 tahun itu tampak syok mendengar bahwa jantung saudari kembarnya itu tak lagi berdetak. Ia menangis terus menerus di pelukan sang suami. Tak jauh berbeda dengan Sai, ia terus mondar mandir, entah apa yang ia lakukan saat ini.

Sai menoleh ke arah jendela dimana sang istri di rawat. Ia menghentikan gerakannya, terkejut begitu melihat dokter Kabuto memasukan selang ke dalam hidung sang istri, hingga darah mengalir keluar dari lubang hidung Ino. Dengan cepat Sai masuk ke dalam ruangan itu hanya untuk menghentikan aksi penyelamatan pasien.

"hentikan, dok!" pinta Sai.

Kabuto menghentikan gerakannya. "Shimura-sama? Kita harus menolong istri an—"

Sai tersenyum dan melirik sendu ke arah Ino yang sudah tak lagi bernafas. Wajahnya pucat membiru. "aku sudah ikhlas" lirih Sai. Para medis menghentikan kegiatannya, tidak mengerti apa yang hendak dilakukan pria tampan itu. "tinggalkan kami, ku mohon"

Tanpa aba-aba, para medis pun pergi meninggalkan ruangan itu. Sai menggenggam tangan Ino yang sudah kaku. "kau tahu? tanpa ku ucapkan pun, kau pasti tahu kalau aku sangat mencintai mu. Kau pikir aku rela melihat mu pergi, sayang? Tidak, demi tuhan, tidak! Tapi ternyata aku harus, dan aku melupakan fakta jika tuhanlah yang lebih mencintai mu, tenanglah disana, Ino-chan" Sai mengecup singkat pipi tirus Ino.


.

.

.

8 jam kemudian.

Pemakaman pun berlangsung, suasana duka menyelimuti sesi acara pemakaman wanita bermarga Shimura-Yamanaka itu. Wanita cantik bersurai blonde pucat itu sudah pergi meninggalkan suaminya, putranya, dan juga keluarga yang begitu menyayangi dirinya. Naruko menangis sesunggukan kala para pelayat dan kerabat pergi meninggalkan mereka.

Sungguh sangat pantas jika ia menangis, Ino adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki. Ibu dan ayah mereka bahkan sudah lama meninggal. Itu hal yang wajar, bagi seorang wanita yang harus kehilangan saudari kembarnya, bukan?

Kin kecil menatap sendu makam ibu kandungnya itu. Kin mendongakan kepalanya ke arah Naruto yang juga terlihat sedih. Pandangannya teralih ke arah Sasuke, pria tampan itu hanya menatap tanpa ada ekpresi di wajahnya. Namun, Naruto pun tahu, pasti Sasuke pun juga merasakan kehilangan yang sama dengan mereka. 1 tahun lamanya bersama Ino, tentu bukan waktu yang sebentar.

Sementara Sai berjongkok di samping makam Ino. Ia tersenyum meskipun ia sendiri pun tak bisa memungkiri jika ia sangat sedih kehilangan istri tercintanya itu. "sudahlah, ini yang terbaik untuk Ino, sayang" Obito mencoba menghibur sang istri.

.

.

Setelah mengucapkan salam perpisahan pada makam Ino, keluarga besar itu pun segera beranjak pergi meninggalkan makan orang yang mereka sayangi itu. "papa, apa mama Ino akan masuk surga ?" Kin yang sedang digendong oleh papanya pun akhirnya memutuskan untuk bertanya. Ke-4 orang dewasa(minus Sasuke) menoleh ke arah Kin.

Naruko mengusap lembut putra mendiang saudari kembarnya itu. "kita doakan saja ya" sahut Naruko, dengan senyum yang mengembang di wajahnya. "ya, kita doakan saja" Timpal sang ayah.

Iris onyx Kin beralih menuju Sai yang berjalan dengan raut wajah sedih. "papa Sai"

Sai menoleh ke arah Kin, hatinya senang ketika mendengar seorang anak kecil memanggilnya dengan sebutan papa. "Kin-chan" sahut Sai. Sasuke menurunkan Kin dan membiarkan putra kecilnya itu berjalan mendekati Sai. Kedua laki-laki raven berbeda umur itu saling berpelukan. "mama Ino adalah mama Kin, karena papa Sai suaminya mama Ino, papa juga papanya Kin" ucap Kin. Naruto menitikan air mata haru mendengar ucapan si kecil Kin. "d..darimana Kin-chan tahu?" Tanya Sai, ia memang kurang akrab dengan anak kecil. Tentu saja, ada rasa kikuk kala Kin mengajaknya berbicara.

"kau memberitahukannya, Sasu?" Tanya Naruko. Sasuke menggelengkan kepalanya pelan, "itulah ikatan ibu dan anak, Naruko-san" Naruto tersenyum ramah. Mereka semua mengulas senyum kala melihat interaksi Sai dan si kecil Kin yang menggantikan air mata mereka menjadi sebuah senyuman.

.

.

.

Malam hari di kota Konoha, hujan gerimis membasahi kota kecil itu. Naruto bergelung manja di bawah selimut tebal itu. Kekasih hatinya, Aka, Uchiha Sasuke yang tengah asyik berkutat dengan buku-bukunya menggelengkan kepala pelan. Pemuda blonde yang telah berhasil mengalihkan dunianya itu kini sedang mengandung buah hati mereka. Hal yang tidak mungkin, namun mungkin saja jika tuhan sudah berkehendak sesuatu yang impossible pasti terjadi.

Hanya tinggal menentukan saja hari pernikahan yang baik untuk keduanya. Soal lamaran? Oh, Sasuke tentu saja tidak akan melupakan sebuah tragedy yang terjadi padanya 2 bulan yang lalu. Tsunade bahkan melemparkan sebuah panci gosong ke arah wajah tampannya, begitu mengetahui cucu kesayangannya hamil akibat ulah mesum seorang Sasuke.

Berniat untuk selingkuh saja, Sasuke akan mengatakan terimakasih banyak untuk tawaran itu. Mendapatkan restu keluarga Naruto itu sangat susah, menghadapi sepatu high heels Karin yang melayang begitu mendengar pengakuan Naruto, menghadapi auman macan Sakura yang tidak rela, Naruto manis mereka harus jadi milik orang lain, tentu saja jangan lupakan omelan Kyuubi yang jauh lebih panjang dibandingkan para wanita-wanita sangar itu.

Sasuke mengecup singkat kening Naruto yang tertidur nyenyak, mungkin ia lelah. Karena perjalanan dan prosesi pemakaman Ino yang cukup panjang dan wajar saja ia merasa lelah, kan? jika boleh jujur, Sasuke pun juga merasa lelah, hanya saja ia masih belum puas memandangi sosok rupawan di hadapannya ini.

"ungg" Naruto merasa tidak nyaman ketika Sasuke menjilati wajahnya. "aku ngantuk, sukeehh" Naruto memiringkan tubuhnya,menjauhi wajah Sasuke.

Garis miring muncul di bibir Sasuke, pria bermarga Uchiha itu pun melanjutkan kembali kegiatannya semula. Di tangannya terdapat sebuah amplop coklat yang diberikan Sai padanya tadi siang, sebelum pria itu memutuskan untuk menetap di Manhattan. Amplop yang diamanatkan Ino untuk diberikan pada putra kecilnya, jika Kin berulang tahun yang ke 15 tahun.

Sasuke menyelipkan amplop tersebut ke dalam note harian miliknya. Keinginannya untuk membuka amplop tersebut ia abaikan, karena amplop tersebut hanya tertuju pada Kin, putranya dengan mendiang sang istri.

..

Skip Time

Sasuke dan Naruto memutuskan akan menikah resmi begitu bayi mereka lahir. Keduanya merasa janggal juga jika menikah dalam keadaan Naruto yang hamil dua bulan. Kin kecil yang sebentar lagi akan menjadi seorang aniki pun juga bisa diandalkan. Bocah Uchiha itu dengan senang hati membantu pekerjaan ibunya, seperti membereskan mainannya sendiri sehabis bermain, mengumpulkan pakaian kotor dan membantu Naruto mencuci, bahkan Kin akan mencuci piring sendiri meskipun hasilnya tidak bisa dibayangkan lagi.

Bajunya yang kotor, piring-piring yang masih berbusa, serta tubuh Kin yang penuh sabun, usaha yang bagus, nak. Hari ini Kin membantu Naruto memasak, ia memandang sang ibu tiri(calon) yang sedang memotong sayuran. Oh, iya, Kin pun juga tak lagi manja,lho! Bocah itu sekarang sudah bisa mandi sendiri, ya, meskipun ada peran Naruto yang selalu rajin menyiapkan baju untuk bocah manis itu sih.

"kalau sudah dicuci, di letakan di meja ya, aniki!" seru Naruto, Sasuke memang memintanya memanggil Kin dengan sebutan 'aniki' (mengingat Kin yang sebentar lagi akan menjadi seorang kakak). "ok" sahut Kin. Naruto bangga sekali melihat putranya itu begitu antusias membantunya.

"mama, kata papa adik bayi lahir 7 bulan lagi" kata Kin, seraya mencuci sayuran yang diminta Naruto. "kamu sudah tidak sabar lagi kan?" goda Naruto, Kin tersenyum malu, ya, dia memang tidak sabar lagi untuk melihat calon adiknya itu.

"itu wajar, sayang!" kata Naruto, Kin berjalan mendekati sang ibu dengan membawa sebuah panci berisi sayur mayur yang sudah ia cuci. "aku mau lihat adik bayi!" seru Kin. Naruto tertawa mendengar pengakuan Kin, "hahaha, tunggu 7 bulan lagi, aniki" tak lupa mencubit pelan hidung Kin.


.

.

.

.

Mansion Akasuna..

Hiroto hanya diam saja ketika melihat wajah manis Misuke tertunduk dalam di hadapan teman-teman sekelas mereka. Apa salahnya? Misuke hanya anak yatim piatu yang beruntung bisa sekolah di sebuah sekolah bertaraf internasional di kotanya. Sedangkan Hiroto adalah anak orang kaya yang sangat malas untuk belajar, sehingga harus berkali-kali di drop out dari sekolah lamanya.

Sasori mengerutkan dahinya, ternyata novel milik Deidara jauh lebih baik daripada novel-novel yang pernah ia baca (tentu saja masih belum bisa menggantikan Kai Juju di hatinya). Ia membetulkan kacamata bacanya begitu terasa longgar dipakai.

"aku suka Hiroto-kun. Suka sekali, hanya saja aku tahu diri untuk mengucapkannya, menurut senpai bagaimana?" Tanya Misuke kepada Michiba yang sedang asyik menikmati jus lemon kesukaannya. Michiba, pemuda tampan bersurai raven itu menghela nafas pelan. "kenapa kau masih mengejar pemuda itu? Apa kau tak lihat? Dia bahkan tidak melihat mu ketika ia bersama kekasihnya" sahut Michiba.

Sasori's POV

Dimana ini? Aku bertanya-tanya, dimana ini? Pohon maple? Tunggu, sepertinya aku ingat dimana tempat ini. "hiks..hiks" suara tangisan siapa itu? Aku penasaran, aku pun harus mencari asal tangisan itu. Ku langkah kan kaki ku semakin mendekati semak belukar itu, suara tangisan itu semakin terdengar.

Maniks hazel ku membola sempurna ketika melihat sosok pirang yang sangat aku kenal. Yakni, Deidara. Ku lihat pemuda itu menangis sambil menyandarkan kepala kuningnya itu di bahu Tobi, pemuda aneh yang bahkan tak bisa ku tebak jalan pikiran pemuda tampan itu.

"hiks... aku harus bagaimana? Aku mencintainya, Tobi. Sangat, hiks" isak Deidara, siapa yang Deidara sukai? Yahiko, kah? Tidak mungkin, Yahiko itu sudah ditolak Deidara waktu pertama kali pemuda pecinta peirching itu menembaknya. Hidankah? Ya, satu kemungkinan. Tak ada yang salah kalau Deidara menyukai Hidan.

Ku akui, Hidan itu tampan, meskipun tidak diketahui pasti siapa tuhannya.

Degg..

Dada ku tiba-tiba saja sesak, begitu berpikir bahwa Deidara menyukai Hidan. Kenapa? Kenapa harus Hidan? Kenapa bukan aku saja? Ah, itu tidak mungkin!

"sudahlah, Dei-chan" ku lihat Tobi membawa Deidara ke dalam pelukannya. Deidara masih terisak, dan yang membuat ku tidak mengerti adalah, pemuda cantik itu malah menyamankan kepalanya pada dada bidang Tobi. Aku mengepalkan tangan ku erat-erat. "masih ada aku, Dei-chan" hibur Tobi, ku lihat Deidara mendongakan kepalanya ke arah Tobi. Mereka saling bertatapan.

Wajah mereka saling mendekat satu sama lain. Aku terus memperhatikannya, hingga ketika bibir mereka hendak menempel, aku pun keluar dari persembunyian ku.

"HENTIKAN!" seru ku.

Tobi dan Deidara terkejut melihat ku yang datang tiba-tiba. "apa-apaan kau, Sasori?" Tanya Tobi, tanpa menyematkan kata 'senpai' di belakang nama ku. "d..danna" Ucap Deidara, dari matanya, tampaknya ia syok. Ku langkahkan kaki ku mendekati keduanya yang tengah berdiri berdampingan itu. "apa yang kau lakukan? Berciuman, eh?" Tanya ku, dengan nada yang sengaja ku tekankan.

"a..aku"

Aku tidak mau melihat wajah sedih mu, Dei. Tidak, aku tidak mau. Deidara menundukan kepalanya, tidak berani menatap ku. "Ayo!" aku menarik pergelangan tangannya. Tapi Tobi menahan ku. "kau tidak berhak ikut campur, Sasori!" seru Tobi. Aku menatap tajam ke arah pemuda bermarga Uchiha itu. Ia pun hanya menatap ku datar, baru kali ini aku melihatnya dalam mode Uchihanya.

"apa masalah mu?" Tanya Ku.

Tobi tersenyum sinis, "apa kau menyukai Deidara?" Tanya nya. Aku tertawa sangau mendengarnya. Suka? Aku memang sering merasa kesal kalau melihat Deidara bersama orang lain. Tapi, apa itu yang dinamakan suka? Tidak!

"suka? Dia tidak pantas untuk ku, kami laki-laki!" sahut ku. "apa salahnya? Di sini legal bukan? Jika kau tidak menyukainya, kau tidak bisa bersikap posesif padanya!" ujar Tobi. "Kau!" Aku hendak memukul Tobi.

"TIDAK, UN!" Deidara malah menghalangi ku untuk memukul Tobi. Aku menghentikan gerakan ku. "setelah apa yang danna katakan, kalau aku tidak pantas untuk, mu. Danna tidak bisa mencampuri urusan ku, un!" Seru Deidara. "dan membiarkan mu berciuman dengan Tobi? Pantas saja pemuda itu menolak mu" ejek ku.

"diam!"

"kau memang murahan!"

"aku bilang diam, un!" Deidara menutup telinganya.

"kenapa? Kau tidak mau tahu ada orang yang mengkritik kemurahan mu itu?"

"HENTIKAN ITU, SENPAI!" seru Tobi.

Tobi menyentuh bahu Deidara dan menarik tangannya agar tidak menutupi kedua telinganya. "kau dengar? Kau memang harus move on darinya! Dia bahkan berkata kalau kau tidak pantas untuknya. Dia normal, tidak seperti kita" ujar Tobi.

Apa maksudnya ini. Mungkinkah aku...

"Tobi-kun benar, aku memang harus melupakannya. Karena danna memang tidak akan pernah bisa menganggap ku pantas untuknya" Deidara menganggukan kepalanya.

"Dei!" ucapku.

Tobi dan Deidara berpelukan di depan mata ku. Aku memegangi dada ku yang terasa sesak, perasaan apa ini. "Dei!" aku hendak menggapai tangannya. Akan tetapi tiba-tiba saja kedua pemuda kontras itu menghilang dari pandangan ku.

End Of Sasori's POV


.

.

.

Normal POV

"Dei"

Pemuda berparas cantik itu memiringkan kepalanya begitu mendengar namanya diucapkan dalam tidur pemuda tampan yang sedang terlelap dengan kepala berbantalkan novel tebal itu. "Dei" lagi-lagi pemuda Akasuna itu memanggil namanya. Deidara hendak membangunkan Sasori. "Da—ehh" ia terkejut kala Sasori menariknya dan memeluknya dengan mata yang masih tertutup. Keduanya pun terjatuh ke lantai.

"jangan pergi.." ucap Sasori.

"aku mencintai mu" katanya lagi.

Deidara terdiam, bolehkah ia berharap sekali lagi? Bolehkah? Hanya karena Sasori memanggil namanya dalam tidur, dan mengucapkan kata cinta di bawah alam sadarnya, itu saja sudah membuat Deidara berharap lebih padanya. "d..danna" Deidara memberanikan diri membangunkan Sasori.

Perlahan Sasori membuka matanya. Ia kembali berada di kamarnya, tapi kenapa ia tidur di lantai? "d..danna" suara itu, suara Deidara. Sasori baru saja sadar ketika mendapati Deidara berada tepat di bawahnya. Apa tadi ia bermimpi? Namun, kenapa mimpinya itu sangat jelas? Seingatnya tadi ia sedang membaca novel yang ia pinjam dari Deidara, dan ia terlelap, kemudian ia bermimpi buruk, lalu ia terbangun, mendapati dirinya yang menindih pemuda yang baru saja menjadi model mimpi buruknya itu.

"DEI-CHAN, SASORI SENPAI, KENAPA LAMA SEKALI?"

Suara Tobi terdengar dibarengi langkah kaki pemuda tampan itu menuju kamar Sasori. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang berusaha untuk beranjak dari posisi mereka masing-masing.

Cklekk..

"ASTAGA, APA YANG KALIAN LAKUKAN? SASORI SENPAI, KAU MEMULAI START LEBIH DULU!" seru Tobi, cemburu.

Deidara mendorong paksa tubuh Sasori. "berat tahu, un" kata Deidara, seraya bangkit dari posisinya dan duduk di atas kasur Sasori. "kenapa aku bisa menindih mu?" Tanya Sasori. "kau tidak ingat, un?" Deidara balik bertanya, gesture kecewa tampak jelas di wajahnya. Sasori menggelengkan kepalanya, "lebih baik tak usah diingat. Aku hanya mau mengambil novel ku, ayo kita pergi, Tobi-kun" ajak Deidara, seraya menunjukan novel miliknya yang dipinjam oleh Sasori.

"Jangan pergi!" Sasori menahan tangan Deidara yang hendak pergi meninggalkan dirinya. "tidak untuk kedua kalinya" pinta Sasori. Deidara tidak berontak, Sasori pun membawa Deidara ke dalam pelukannya. "jangan membuat ku berharap danna, un!" seru Deidara, mendorong dada bidang Sasori.

"kau..kau membuat ku berharap, hiks" Deidara menangis, ia mengelap kasar wajahnya yang sembab. "jika danna melakukannya hanya untuk membuat Tayuya-san cemburu, aku tidak bisa, un" kata Deidara—senyumannya seolah melambangkan rasa sakitnya. "kita hentikan sampai sini saja, karena aku lah yang sangat sakit, un" lanjut Deidara.

Sasori terkesiap mendengarnya, memang selama ini dia yang salah. Meminta Deidara untuk menjadi kekasih bohongannya hanya untuk membuat Tayuya cemburu. Dan meninggalkan Deidara ketika Tayuya kembali lagi padanya, itu memang sangat jahat dan menyakitkan bagi Deidara. "ayo, Tobi-kun!" Deidara menghentak kasar tangan Sasori.

"aku mencintai mu!"

Kalimat Sasori membuat Deidara menghentikan gerakannya. "aku bersungguh-sungguh" Sasori berjalan dan berhenti tepat di depan Deidara. "maafkan aku, aku baru sadar jika kaulah yang selama ini ku cintai. Aku merasakannya, namun aku mengelaknya, tapi aku tidak bisa membohongi perasaan ku terus, aku mencintai mu" ujar Sasori, dengan wajah penuh penyesalan.

"jika kau tidak mau menerima ku tidak apa-apa, asalkan kau selalu menjadi sahabat ku itu tidak—"

Greppp..

Sasori terpaku ketika mendapati tubuh kurus Deidara tiba-tiba saja memeluknya sangat erat, seakan takut kehilangan sosoknya. "kalau Cuma sahabat atau teman, aku punya banyak, un" gumam pemilik surai blonde itu. Sasori membulatkan matanya, mendengar ucapan Deidara. "tapi kalau kekasih aku tidak punya" lanjut Deidara. Sasori tersenyum begitu Deidara melanjutkan ucapannya. "apa sekarang kita pacaran?" Sasori menjauhkan tubuhnya dari tubuh Deidara.

"tentu saja, un" sahut Deidara.

"OK, Kalian melupakan ku"

Keduanya menoleh ke arah Tobi yang merenggut kesal melihat interaksi pasangan baru itu. "hehehe/tidak" sahut Keduanya, Deidara yang tertawa dan Sasori yang kembali dengan mode aslinya. "baiklah, sampai jumpa!" pamit Tobi, tersenyum penuh kemenangan.


.

.

.

.

Di sebuah cafe, tampaknya terdapat dua orang laki-laki berbeda umur dan berbeda surai sedang asyik dengan kegiatan mereka masing-masing. Si surai jingga kemerahan sedang berpikir soal apa yang harus ia katakan, dan si raven yang terlihat asyik dengan ponsel touch screen kesayangannya itu. "Itachi" Si jingga Kyuubi, membuka suaranya.

"hn" sahut Itachi, masih asyik rupanya dengan ponsel kesayangannya itu.

Kyuubi memainkan jari-jarinya, bingung akan mengatakan apa. sungguh, inilah sikap untold milik Kyuubi yang tidak diketahui banyak orang. Sikapnya yang pemalu, harus ditutupi oleh gaya angkuhnya dan juteknya itu. Itachi yang mengintip dari kamera ponselnya tersenyum gelid an berpura-pura tidak mengetahui apa-apa.

"Sasuke meminta ku untuk menjemput mu, s..so..soalnya Sasuke harus mengantar Naruto ke rumah sakit" Kata Kyuubi, Sasuke memang meminta Kyuubi untuk menggantikannya menjemput Itachi di bandara. Karena hari ini adalah jadwal periksa Naruto ke dokter, dan tentu saja Sasuke lebih memilih kesehatan kekasihnya dan juga calon buah hatinya dibandingkan menjemput Itachi. karena bagi Sasuke, Asset berharganya itu sangat berharga.

Kyuubi menghela nafas lega ketika berhasil mengatakan sebuah kalimat pada Itachi. "l..lalu kita pulang sa—"

"kau duluan saja, aku menunggu seseorang di sini" sela Itachi.

Lantas apa yang Kyuubi rasakan? Wajahnya terasa panas dengan dada yang sesak. Ia menunggu Itachi 3 jam lamanya, hanya untuk dicuekin seperti ini? Dan saat hendak mengajak pulang, Itachi dengan entengnya berkata 'hendak menunggu seseorang'. Come on, tidak bisakah Itachi menghargai nya walau Kyuubi (dulu) tidak pernah menghargainya, bahkan menganggap keberadaannya? Tapi kan minimal Kyuubi selalu menelpon Itachi ketika mobilnya mogok lagi, setidaknya kan Itachi juga punya peran penting di hidup Kyuubi.

"b..baiklah aku pulang saja" Kyuubi memutuskan ingin pulang. Namun, kalimat itu tidak terdengar di telinga Itachi. "wah, sudah datang, ya. Cepat sekali" seorang wanita datang mendekati Itachi. wanita itu bersurai soft purple sebahu, memakai sebuah jepit mawar di kepalanya.

Kyuubi terkejut melihat Itachi dan Wanita itu bercipika-cipiki di hadapannya. Ia pun kesal, dan menarik kerah baju Itachi dengan kasar. "KAU MEMINTA KU MENEMANI MU MAMPIR KE CAFE HANYA UNTUK MELIHAT MU DENGAN GADIS LAIN, HAH?" Tanya Kyuubi, geram. "Kyuu!"

Para pengunjung dan wanita itu terkejut bukan main. "KALAU SAJA SASUKE, TIDAK MEMINTA KU UNTUK MENJEMPUT MU, AKU TIDAK AKAN SUDI! AKU MALAH AKAN MENCARI SEORANG KEKASIH SAJA DI TAMAN. MENGHARAPKAN MU JUGA PERCUMA. KAU KIRA AKU INI APA, HAH?"

Sakit..

"SAKITNYA TUH DISINI! DASAR KERIPUT!" Teriak Kyuubi, air mata memasahi pipinya, ia meremas bajunya dan pergi meninggalkan Itachi. belum, sempat keluar pintu, Itachi menarik pergelangan Kyuubi. "APA?" bentak Kyuubi, galak banget dan sempat membuat petugas keamanan bertubuh gempal (sempat memuji kemanisan Kyuubi) merinding dibuatnya.

"Kyuu dengarkan aku dulu!" cegah Itachi.

"apa yang harus ku dengar? Mendengar kalian mengucapkan 'aku cinta pada mu', Oh, aku pun juga cinta pada mu. Tapi—kau ini, dua minggu lamanya aku galau memikirkan mu. Merindukan mu, bahkan tidak bisa tidur karena mu. Tapi ketika kau pulang, kau malah menunggu wanita lain, kau menyebalkan" tanpa sadar Kyuubi mengatakan isi hatinya di depan Itachi.

"benarkah?" Tanya Itachi

"benar apanya?" Kyuubi balik bertanya.

"kau mencintai ku"

Kyuubi melotot mendengarnya, sungguh ia merutuki kebodohannya yang telah sengaja mengatakan cinta pada Uchiha sulung ini. Duh, bisa tinggi hati nih kalau begini caranya. "TIDAK, KAU SALAH PAHAM!" Kyuubi balik berteriak.

"Aku juga mencintai mu" sahut Itachi, mulai ngawur.

Itachi pun tiba-tiba saja bersimpuh di bawah Kyuubi. "I..Itachi"

"Kyuu, would you be my girlfriend?" Tanya Itachi.

Kyuubi salah tingkah, ia menoleh ke kanan dan ke kiri, para pengunjung menyarankan kata 'terima' padanya. Kemudia Kyuubi menautkan jari-jarinya dan memainkannya. "a..ano, chi. Tapi..tapi.."

"kau bersediakan?" Tanya Itachi, dengan sebuah cincin emas putih di tangannya.

"ano.."

"kenapa?" Tanya Itachi, lagi.

"AKU INI LAKI-LAKI!" seru Kyuubi, menunjukan selangkangannya. Oh, sebagian pengunjung wanita pingsan di tempat melihat kelakuan frontal Kyuubi. "tak masalah, sini ku pakaikan" sahut Itachi. wajah Kyuubi memerah ketika Itachi memakaikan cincin yang ia pesan dari mantan teman sekolahnya di SMA dulu, khusus untuk Kyuubi. Oh, ternyata Konan adalah mantan teman sekelasnya ketika di SMA, dan Kyuubi salah paham di sini.

Tepukan meriah menyambut keduanya, dan hari ini pun sudah ditentukan bahwa hari inilah hari dimana mereka menyatukan perasaan mereka. Ciuman kasih sayang mendarat di kening Kyuubi, Itachi sangat bahagia. Ternyata usul kakeknya, Madara-sama, berhasil. Itachi bersorak dalam hati, ia memikirkan hadiah apa yang cocok untuk laki-laki paruh baya itu. Ah, mungkin mengajaknya ketemuan dengan mantan kekasihnya ketika muda dulu itu lebih baik. Tapi, tunggu! Siapa mantan kekasih Madara-sama? Itachi menyeringai, hahahah, Akasuna Chiyo, itulah mantan kekasih sang kakek saat masih muda. Siapa tahu setelah ini, Itachi dapat nenek baru, siapa tahu kan?


.

.

.

.

5 tahun kemudian..

Bocah raven berusia 11 tahunan tersenyum di hadapan sebuah makam seorang wanita yang pernah melahirkan dirinya 11 tahun yang lalu. Kin kecil yang dulu terkenal tampan, kini sudah menunjukan tanda-tanda seorang remaja tampan diusianya yang masih dibawah 15 tahunan. Sebuket bunga ia letakan di atas makam tersebut.

"ma, besok Kin akan mengikuti lomba Sains. Kin grogi sekali, tapi kata mama Naru, Kin harus mengatasi rasa grogi Kin. Mama Naru juga selalu mengajari Kin cara mengatasi rasa kikuk dan grogi Kin. Doakan Kin ya, ma" Ujar Kin, ia duduk di samping makam ibu kandungnya yang telah meninggal 5 tahun yang lalu.

"Oh, iya.. disekolah Kin selalu dikejar-kejar teman-teman cewek Kin, ma. Kin sebal sekali! Tapi mama Naru bilang, Kin harus bersyukur karena masih banyak anak-anak cowok yang ingin seperti Kin. Emang jadi cowok cakep itu susah ya, ma" lanjut Kin.

"sudah jam 1 siang, Ebisu-san pasti sudah mencari Kin. Kin pamit dulu ya, ma" ucap Kin.

10 langkah menjauhi makam, tampak wanita bergaun putih yang tidak bisa dilihat oleh bocah itu tersenyum sambil mencium harum bunga yang Kin letakan di atas makam sang ibu. "Mama akan selalu mendoakan mu, sayang. Terimakasih, Naruto-san, Sasuke, aku berhutang budi pada kalian" Sosok wanita cantik bergaun putih itu pun menghilang seiring angin berhembus menerpa tubuhnya.

.

.

Kin baru saja tiba di halaman rumah minimalis yang ia tempati bersama ibu dan ayahnya. Mobil jemputan sekolahnya telah menurunkan ia tepat di depan pintu gerbang rumahnya beberapa menit yang lalu. Kedua orang tuanya memang memutuskan untuk membangun sebuag rumah minimalis saja, karena Naruto tidak mau bernaung di rumah besar milik keluarga Uchiha.

Karena ibu dua orang anak itu tidak ingin kelak Kin dan putra kecilnya, Menma, menjadi seorang yang introvert ketika menjelang remaja nanti. Naruto dan Sasuke ingin hidup berdampingan dengan tetangga, meski hanya Naruto sajalah yang terkenal ramah oleh para tetangga mereka.

Sasuke yang giat bekerja, itulah sebabnya mengapa hanya ada Naruto dan Menma yang masih Tk di rumah mereka ketika siang hari. Kin mempercepat langkahnya ketika melihat adik kecilnya sedang melamun di teras rumah mereka. "MENMA-CHAN!" seru Kin, seraya melambaikan tangannya.

Bocah bernama Menma itu menoleh ke arah kin. Ia pun beranjak dari duduknya dan berlari cepat menuju sang kakak. "aniki cudah pulang!" seru Kin. Bocah raven ber-maniks biru sapphire itu bergelayut manja pada sang kakak. Naruto yang mendengar suara khas balita milik si kecil Menma pun bergegas pergi menuju teras rumahnya.

"Menma-chan, aniki lelah, sayang. Menma main sama mama saja, ya"

Kin menoleh ketika mendengar suara sang ibu. Naruto yang masih memakai apron, sepertinya mama nya itu baru saja selesai memasak, atau mungkin sedang memasak untuk makan malam. Menma merenggut imut, ia hanya ingin bermain dengan kakaknya saja. Dari pulang sekolah, Menma menunggu Kin untuk mengajaknya bermain ninja-ninjaan.

"tak apa, ma! Kin akan menemani Menma-chan bermain" sahut Kin. Menma memukul-mukul pelan tubuh Kin yang jauh lebih tinggi darinya. "ascyik.." Menma tertawa bahagia.

Naruto melihatnya pun mengulas senyum bahagia. Inilah yang ia harapkan sejak dulu, memiliki keluarga yang lengkap dan saling menyayangi adalah keinginannya. Dan sekarang ia bisa mendapatkannya, setelah mengalami perjuangan yang sedemikian rupa. Melepaskannya pun, Naruto tidak berniat sama sekali.

Tawa kedua putranya pun berpindah ke lantai atas, dimana terletak kamar Kin, Menma, dan kamarnya di sana. Kin dan Menma tertawa lepas. Hingga lamunan Naruto terhenti ketika lengan kekar tertutup kemeja yang dilipat setengah melingkari pinggang rampingnya. "Okaeri, teme" ujar Naruto.

"hn, tadaima.." sahut Sasuke, seraya mengecup leher Naruto. Semua yang terjadi, bagaikan mimpi bagi keduanya. Tapi, itulah realita, dan bukan sebuah mimpi. Karena Sasuke maupun Naruto tidak mau semua ini hilang sekejap ketika mereka terbangun nanti. Memiliki 2 putra yang tampan, pintar, dan saling menyayangi, adalah obat lelah bagi Sasuke.

Belum lagi melihat senyuman manis istrinya yang selalu menyambut kepulangannya dari kantor. Sungguh, itulah alasan kenapa Sasuke jadi ikut-ikutan ABG Labil yang membenci hari biasa. Karena ia ingin bersama keluarga kecilnya setiap hari, tapi itu mustahil, karena ia seorang ayah, dan ia harus bekerja untuk kelangsungan hidup keluarga kecilnya.

Tak masalah jika harus bekerja keras membanting tulang setiap hari, jika itu bisa melihat prestasi Kin yang membanggakan, tawa riang dari bibir Menma, dan juga senyum ikhlas di wajah sang istri, Sasuke pun rela melakukannya. Hidup bersama Naruto, telah mengajarkan Sasuke banyak hal untuk menjadi seseorang yang lebih terbuka dengan lingkungannya. Hidup bersama Sasuke pun juga telah mengajarkan Naruto menjadi lebih dewasa, dan memiliki sifat keibuan di dalam jiwanya. Mereka memang saling membutuhkan juga saling melengkapi kekurangan dan kelebihan di antara mereka.

Keduanya pun saling berciuman, melupakan rasa lelah yang telah mereka rasakan disiang hari. Sensasi langit twilight yang menambahkan kesan romantic untuk keduanya. Ciuman tidak berlangsung lama, karena kasih sayang yang saling mendominasi, bukan hanya sekedar nafsu. "kau masak apa malam ini?" Tanya Sasuke, merangkum wajah manis sang istri.

"sup tomat pesanan kalian ber-3" jawab Naruto, sedikit kesal juga. Kenapa putra-putranya sangat menyukai tomat seperti ayahnya? Bahkan, jarang sekali mereka meminta Naruto membuat ramen untuk makan malam mereka. "comat..comat..comat.." terdengar langkah Menma yang sedang menuruni anak tangga berkarpet dan Kin yang mengekori Menma di belakangnya.

"huppp..Menma cuka comat" Menma melompati satu anak tangga, dan hampir membuat jantung sang ibu hampir copot dibuatnya. Kejadian, dimana Kin terjatuh hingga kepalanya benjol, itu suatu trauma tersendiri bagi Naruto. "PAPA" Menma berlari memeluk sang ayah. Sasuke mengangkat tubuh Menma penuh kasih sayang. Sementara Kin membantu Naruto menata makan malam yang akan mereka santap.

Sikapnya yang acuh pada Kin saat putranya masih kecil dulu, membuat Sasuke merasa bersalah pada anak itu. Maka dari itulah, Sasuke tidak mau kehilangan masa kecil Menma. Untungla ia bertemu dengan Naruto, jika tidak, mungkin sudah terlambat untuk mengubah sikap egois dan keras kepala Kin.

...

END

...

.

.

.

.

Huwaaahh, jangan marahin AI atas ENDING Gaje ini, readers. AI gak tahu musti apa, AI berusaha bangkit dari serangan HIBERNASI yang hampir membuat Fic ini gagal Ending. Huweeehh, maaf banget.. maaf banget. Yasudahlah, mau bagaimana lagi, Ai memang lebih mendahulukan pertanian Hay Day dibandingkan bikin Ide. Tapi, begitu mengingat fic ini yang hampir beberapa minggu nganggur, akhirnya puji tuhan, AI bisa menyelesaikannya.

Oh, iya. Untuk readers muslim, Happy Ramadan Mubarak, may God bless your month with peaceful and always protect you.

Thanks A lot buat:

Vianycka Hime, Theopila Max, LovelyKyuu,Hanazawa Kay,Zhiewon189, Miftah Cinya,atadinata,eizan Ki,titan-miauw, ,versetta. Deathberry, (dan juga para guest dan silent readers yang udah bersedia baca, ne"

.

.

.

Review?