Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto.
Warning : Bad!Fem!Naruto, OOC, AU, typo(s).
Pastikan baca warning sebelum membaca fanfic ini. Terima kasih.
EAT :: YOU :: UP
"Apa kau sudah gila?!" Naruto memaki. Matanya melotot lebar antara rasa marah bercampur panik. Wajahnya memerah, sementara dadanya naik turun tidak teratur.
"Reaksimu berlebihan."
"Berlebihan?!" pekik Naruto kesal. "Hallo Mister Uchiha, seekor ular berbisa baru saja melata dilenganku, dan kau bilang itu berlebihan?"
"Seekor ular tidak akan menyerang jika mereka tidak diprovokasi lebih dulu. Lagipula Aoi adalah Iridescent Shieldtail, dia tidak berbisa."
"Aku tidak peduli mau dia berbisa atau tidak, yang jelas jauhkan reptil menjijikan itu dariku!"
Sasuke memutar mata. Tanpa bicara lebih lanjut ia bergerak ke arah sebuah kaca besar berbentuk balok yang ada disudut laboratorium. Memindahkan Aoi yang semula melilitkan diri di lengannya ke dalam sana dengan hati-hati.
"Lalu apa keperluanmu di sini?"
Naruto yang masih sibuk mengelap sisa-sisa lendir dilengannya dengan tisu basa menoleh. Gerutuannya seketika terhenti. Sesaat ia terlihat bingung, lupa akan tujuannya semula. Salahkan saja si teme brengsek dan reptil melatanya itu.
"Si Bako—emm, maksudku... Profesor Orochimaru memintaku ke sini."
Alis Sasuke terangkat sekilas, tatapannya terlihat menilai, "Jadi kau orangnya. Mahasiswi yang mendapat nilai D- untuk mata kuliah Statistika." Sasuke mendengus, ekspresinya tampak mencemooh, "Entah kenapa aku tidak terkejut."
"Hei, apa maksud perkataanmu?" balas Naruto merasa tersinggung. Lidahnya sudah gatal ingin memaki sang Uchiha sekali lagi. Tapi reaksi Sasuke justru sebaliknya. Ia hanya mengedikkan bahu, tampak tidak peduli, "Turun dari meja. Aku tidak suka melihat laboratoriumku berantakan, terlebih hanya karena seseorang yang mendapat nilai D- dalam Statistika."
Sambil melemparkan tatapan sengit, Naruto pun turun dari meja. Menyumpah kasar sebelum akhirnya duduk di kursi bundar yang menurutnya tidak nyaman. Mereka berdua kini duduk berhadapan. Dibatasi oleh meja panjang putih mengilap yang biasa digunakan untuk praktikum, "Kemarikan hasil UTS-mu."
Naruto mendengus, ia memandang Sasuke dengan penuh arogansi, "Kenapa aku harus melakukannya?"
Masih dengan ekspresi datar Sasuke berujar kalem, "Karena Profesor Orochimaru memintaku untuk jadi tutormu."
Detik itu juga Naruto menganga tak percaya. Melupakan tata krama khas bangsawan yang telah diajarkan selama bertahun-tahun oleh sang nenek. Mata safirnya melotot, jantungnya berdebar menggila. Kami-sama, tolong katakan kalau ini bukan mimpi.
...EAT...
...YOU...
...UP...
Sementara Sasuke sibuk membolak-balik hasil UTS-nya, Naruto justru hanya duduk manis menonton. Tangan kirinya ia jadikan tumpuan untuk kepala, bibirnya menyunggingkan senyum yang kelewat lebar, sedangkan mata safirnya tak pernah lepas memandang sosok tampan dihadapannya dengan tatapan memuja. Mengagumi lekukan diwajah Sasuke yang terpahat dengan begitu sempurna. Mulus tanpa cela. Terlebih saat melihat bibir tipis sang Uchiha yang sesekali bergerak hingga kembali lagi membentuk garis datar permanen.
Ah ya, bibir itu. Bibir yang pernah membuatnya menggila. Yang pernah mencumbunya dengan begitu mesra dan bergairah. Yang pernah memanjakannya hingga ke level yang tak pernah ia bayangkan. Bahkan hingga detik ini, ia masih bisa mengingatnya dengan sangat jelas. Naruto menggigit bibir bawahnya tanpa sadar. Pikirannya mulai berkelana jauh. Menampilkan berbagai fantasi liar sekaligus memabukkan di saat yang sama.
Berkebalikan dengan Naruto, ekspresi Sasuke saat ini terbilang gado-gado. Wajahnya yang selalu datar entah kenapa jadi ekspresif tiap kali melihat goresan tangan si pirang yang ia sebut sebagai jawaban. Kadang alisnya terangkat, dahinya berkerut, bahkan tak jarang sudut bibirnya ikut berkedut antara ingin mencibir atau mengomel.
Sasuke meletakkan hasil UTS Naruto di atas meja. Sedikit mengernyit saat menemukan si pirang yang tengah menatapnya tanpa kedip. Dengan sengaja ia berdehem keras, membawa kembali kesadaran Naruto secara paksa.
Kepala Naruto terantuk dengan tidak elitnya dari posisinya yang nyaman. Mata birunya berkedip polos, terlebih saat menemukan Sasuke yang kini memelototinya tajam. Salah apalagi dia?
"Apa?"
Sasuke mendesah pasrah. Satu tangannya bergerak memijat pangkal hidungnya yang tiba-tiba terasa pegal. Astaga, kenapa pula Orochimaru harus menjadikanya tutor untuk gadis sinting ini?
Naruto menggembungkan kedua pipinya dengan ekspresi sebal. Hei, hasil UTS-nya tidak seburuk itu juga 'kan? Kenapa si teme itu berlebihan sekali menanggapinya? Seperti dia tidak pernah melihat nilai D- saja.
"Kau gagal di Statistika 2. Lalu bagaimana kau bisa lulus di Statistika 1 pada semester sebelumnya?" Sasuke bertanya dengan nada lelah. Antara lelah karena seharian menghadapi mata kuliah atau lelah karena menghadapi sikap Naruto. Entahlah, mungkin juga keduanya. Namun jujur saja ia cukup heran dan penasaran. Bagaimanapun mata kuliah Statistika 1 dan 2 masih berhubungan. Dan biasanya mereka yang lulus di Statistika 1 secara otomatis akan lulus juga di Statistika 2. Karena Statistika 1 merupakan pengetahuan dasar untuk Statistika 2. Kecuali kalau—
"Mudah saja." Naruto mengulum senyum manis. Dengan santai ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, berkedip centil ke arah Sasuke, "Aku merayu dosennya."
Sudah ia duga. Entah kenapa Sasuke tidak merasa harus terkejut akan hal ini. Lagipula sangat tak biasa bagi Profesor Orochimaru mengajar mata kuliah Statistika untuk fakultas Ekonomi dan Bisnis. Karena sejauh yang Sasuke tahu, Profesor yang terkenal dengan dandanan nyentrik itu lebih banyak menghabiskan waktu mengajarnya di fakultas Kedokteran, MIPA dan Teknik. Kuat dugaannya, Senju Tsunade merupakan dalang dibalik semua ini. Mungkin untuk menekan kelakuan cucu tersayangnya agar tidak terlampau menjadi. Sasuke jadi sedikit kasihan dengan para dosen yang pernah mengajar Naruto. Entah trik licik macam apa yang sudah rubah betina itu lakukan untuk membuat para dosen meluluskannya.
Sasuke menggeleng pelan, dengan cekatan ia membalik lembar ujian itu. Tangan kanannya meraih sebuah pulpen yang ia sangkutkan pada saku jas lab-nya. Menggoreskan beberapa kalimat yang terbilang apik dan teratur pada bagian yang masih kosong, "Kerjakan," perintah Sasuke tegas.
"Kau tahu, aku punya ide yang lebih baik." Naruto menggeser kertas itu ke samping. Derit kursi yang bergeser menjadi satu-satunya suara yang mengisi ruang laboratorium tersebut. Dengan gerakan lambat dan sensual Naruto kembali menduduki meja praktikum. Mengabaikan peringatan yang pernah Sasuke katakan. Gaun hitam ketat yang ia kenakan memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan sangat jelas, terlebih saat ia membungkuk.
Naruto meminimalisir jarak antara dirinya dengan sang Uchiha. Mata safirnya tak pernah lepas memandang Sasuke, bagaikan seekor predator yang tengah mengunci mangsanya. Naruto menarik bibirnya membentuk seulas senyum menawan. Sambil duduk menyamping, ia membelai rahang Sasuke. Merasakan betapa tegasnya rahang tersebut ditelapak tangannya yang halus. "Daripada membuang waktu untuk hal tidak berguna semacam ini, bagaimana kalau membicarakan tentang kita berdua saja?"
Sasuke masih duduk tenang di kursinya. Tak bergerak sedikitpun. Membuat Naruto semakin gencar ingin menghancurkan pertahanan diri sang Uchiha yang dinilainya terlampau sempurna. Namun sebelum tangannya dapat bergerak lebih jauh, Sasuke menggenggamnya dengan erat. Tidak terlalu kuat, tapi cukup efektif untuk membuatnya berhenti, "Kerjakan," Sasuke bergumam singkat dan tak terbantahkan. Bahkan ekspresinya yang datar sama sekali tak berubah.
Naruto berdecak sebal, "Kau sama sekali tidak asik." Usai menghempaskan cekalan Sasuke pada pergelangan tangannya, ia pun beranjak turun dengan perasaan jengkel. Dengan kasar ia menghempaskan bokongnya ke kursi, mengerang frustasi ketika ia harus dihadapkan kembali pada sederet angka dan grafik terkutuk itu. Astaga, tidak bisakah hidupnya terlepas dari jerat neraka yang mereka sebut dengan Statistika? Mungkin ia harus protes pada nenek Tsunade agar mata kuliah terkutuk ini dilenyapkan dari program studinya. Lebih bagus lagi kalau dilenyapkan sekalian dari seluruh fakultas.
"Percuma saja kalau kau mau protes pada Senju-dono." Naruto mendongak, dahinya mengernyit hingga membentuk huruf v. Apa si teme ini baru saja membaca pikirannya? "Tidak bodoh, aku tidak bisa membaca pikiran. Semua terlihat jelas diwajahmu. Dasar dobe."
Tangan Naruto mendadak mulai berkedut. Rasanya ia gatal sekali ingin menampar wajah tampan itu. Ekspresi Sasuke memang terbilang datar, tapi lidahnya itu lho. Bagaikan silet yang ditabur bubuk cabe level 20. Tidak hanya tajam, tapi pedasnya minta ampun. Dan bagian terburuknya adalah ia justru tertarik pada lelaki keparat ini. Astaga, entah ini kutukan atau anugerah.
"Cepat kerjakan."
"Sabar teme!"
...EAT...
...YOU...
...UP...
Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Hampir seluruh fakultas telah sepi dari kegiatan mahasiswa. Karena memang jadwal mata kuliah paling telat di sana hanya sampai jam 4 sore. Selebihnya digunakan para mahasiswa untuk aktivitas lain di luar mata kuliah. Seperti kegiatan ekstrakurikuler atau organisasi. Tergantung selera masing-masing. Dan hal tersebut mereka lakukan pada saat jam senggang atau setelah perkuliahan selesai. Namun tidak sedikit juga yang melakukannya saat hari libur. Biasanya karena memang jadwal aktivitas yang mereka ambil sangat padat. Bahkan bagi mereka yang terjun ke dalam organisasi sampai harus rela mengorbankan jam mata kuliahnya. Terlebih kalau sedang mengerjakan event-event besar.
Masih di fakultas Teknik, tepatnya di laboratorium Fisika program studi Rekayasa Mekanik, Naruto duduk dengan gaya ekspresif. Kamera smartphone-nya ia arahkan pada wajahnya. Berpose cantik dan menggoda. Ya, selfie. Bahkan ia sama sekali tak peduli ketika Sasuke sedang memeriksa jawabannya. Daripada pusing memikirkan Statistika, lebih baik ia berselfie cantik saja.
"Jadi... kau ini asdos, aslab, atau bagaimana?" tanya Naruto setelah bosan melakukan selfie. Ia menumpukan pipinya pada telapak tangan, sementara ibu jarinya sibuk menari di atas layar smartphone, mengetik email balasan atau sekedar mengecek media sosialnya.
Sasuke merespon dengan sebuah gumaman tidak jelas. Bahkan tanpa menoleh dari lembar jawaban yang sedang ia periksa.
"Apa kau sering jadi tutor untuk mahasiswa lain?"
"Hn."
Naruto menggertakkan giginya menahan kesal. Apa-apaan cowok ini, daritadi ia bertanya panjang lebar jawabannya hanya 'hn' tidak jelas begitu, "Apa kau selalu seperti ini?" Sasuke meletakkan kembali lembar jawaban Naruto. Lalu dengan tatapan tanpa dosa ia menoleh ke arah si pirang yang tengah menatapnya jengkel. "Selalu saja menyebalkan dan membuat orang lain kesal?"
Sasuke meniru gerakan Naruto. Ia menumpukan sisi wajahnya pada sebelah tangan. Bibir tipisnya menyunggingkan sebuah senyum malas. Senyum yang mampu membuat kaum Hawa meleleh jika melihatnya, "Begitukah menurutmu?"
Mendadak tubuh Naruto jadi panas dingin. Ia merasa gugup luar biasa. Dalam hati ia mengumpat dirinya sendiri karena bisa-bisanya jatuh dalam pesona Sasuke. Sial, bukan ini yang seharusnya terjadi. Naruto berdehem seraya menghilangkan kegugupannya. Ia menegakkan tubuh, kedua tangannya ia silangkan, mata birunya yang besar berusaha menatap Sasuke sengit.
"Jangan main-main denganku teme."
Sasuke menyeringai, ia bangkit dari kursinya dan melepas jas lab yang ia kenakan. Menyisakan kemeja putih yang tiga kancing teratasnya ia biarkan terbuka. Memperlihatkan dada bidangnya yang kokoh hingga membuat Naruto tergiur untuk menyentuhnya. Ditambah lagi dengan celana jeans biru dongker yang melekat dari pinggul sempitnya hingga ke mata kaki.
Oh boy, he looks so yummy...
Lidah Naruto terasa kelu, ia bagai disuguhkan sebuah pemandangan surgawi yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Bahkan karena terlalu fokus mengagumi tubuh Sasuke, ia sampai tak mempedulikan keadaan sekitar.
"Apa kau mendengarku?"
Suara berat itu menarik Naruto kembali ke alam nyata. Ia berkedip beberapa kali. Sementara wajahnya terlihat bingung saat menemukan Sasuke yang menatapnya tidak sabar, "Huh?"
Sasuke mendesah panjang. Sepertinya hari-harinya akan terasa lebih berat untuk beberapa minggu ke depan.
...EAT...
...YOU...
...UP...
Gaara membuang napas lelah. Seharian ini ia lewatkan untuk memeriksa laporan kegiatan dari event sebelumnya. Ditambah laporan serta proposal kegiatan dari seluruh BEM jurusan. Mereka telah memasuki pertengahan semester dan seluruh organisasi berlomba-lomba untuk segera merampungkan event yang akan mereka laksanakan.
Sebagai ketua BEM tentu saja Gaara begitu disibukkan akan hal ini. Tak jarang ia sampai harus mengorbankan waktu istirahatnya yang minim untuk menghadiri sederet rapat serta undangan dari BEM jurusan. Dan seluruh hal itu harus ia imbangi juga dengan jadwal perkuliahan, setumpuk tugas, kegiatan praktikum, serta ujian yang wajib ia ikuti.
Gaara berjalan melewati koridor gedung yang diperuntukkan khusus untuk anggota BEM. Sesampainya di lantai satu ia berdiam diri sejenak. Memperhatikan rintik hujan yang masih mengguyur dengan derasnya dari balik pintu kaca lobi. Gaara mengambil payung lipat yang memang sengaja ia persiapkan di dalam tasnya. Setelah memastikan untuk mengunci pintu dengan kunci cadangan yang ia bawa, segera saja ia beranjak menuju parkiran.
"Naru..."
Langkah Gaara seketika terhenti. Kakinya bagai terpaku di tempat saat melihat gadis yang ia cintai tengah berjalan satu payung dengan seseorang. Lelaki itu... kalau tidak salah namanya Uchiha Sasuke. Orang yang akhir-akhir ini dikabarkan dekat dengan Naruto. Tanpa sadar Gaara meremas pegangan payungnya lebih erat. Mata jade-nya menyendu tatkala Naruto mendekap lengan Sasuke mesra. Gadis itu bahkan mengabaikan ekspresi Sasuke yang terlihat risih dan terganggu. Dengan keras kepala ia tetap menempelkan tubuhnya sedekat mungkin. Seakan takut kalau sampai air hujan itu mengenai rambut pirangnya yang indah.
Seulas senyum pahit terlukis diwajah Gaara yang pucat. Pikirannya kembali melayang pada kejadian di masa lalu. Masa ketika dirinya dan Naruto masihlah sepasang kekasih.
"Aku benci hujan!"
Gaara melirik Naruto, melihat bagaimana gadis itu melingkarkan kedua tangannya dengan begitu erat pada lengan atasnya. Sudut bibirnya mulai berkedut pelan, membentuk sebuah senyum tipis sederhana. Terlebih saat merasakan pipi Naruto yang hangat menyentuh permukaan lengan blazer yang ia kenakan, "Kenapa?"
Naruto merengut, bibirnya ia cebikkan dengan mimik lucu, "Karena mereka selalu membuat rambutku jadi lepek dan lembap," keluhnya tidak suka.
"Bagaimana kalau kubuat kau jadi menyukai hujan?"
"Caranya?"
Secara tiba-tiba Gaara meminta Naruto memegang payung mereka, "Pegang yang kuat," pesannya singkat. Kemudian tanpa aba-aba apapun ia telah mengangkat Naruto, menggendong si pirang hingga menempel ke dada bidangnya. Gadis itu memekik kaget, namun untungnya payung yang ia pegang tak sampai terjatuh.
"Panda merah bodoh, apa kau sudah gila?!"
"Dengan begini kau tidak perlu khawatir lagi tentang rambutmu." Naruto menatap Gaara penuh skandal. Bibirnya bahkan sampai menganga tidak percaya. "Hentikan ekspresi itu, atau aku akan menciummu detik ini juga."
Cepat-cepat Naruto menutup mulutnya kembali. Mungkin pikirannya masih terguncang dengan sikap Gaara yang di luar prediksinya. Di dalam otaknya, sosok Gaara merupakan tipe lelaki yang terlalu serius dan dewasa. Tapi sekarang, setelah melihat hal ini ia jadi meragukan penilaiannya sendiri. Astaga, sepertinya Gaara sudah terkontaminasi efek negatif darinya.
"Apa yang lucu?" tanya Gaara saat melihat Naruto yang kini tertawa.
"Kau."
Gaara mengernyit, nampak bingung sekaligus terhibur. Jujur saja ia sangat suka ketika melihat Naruto yang tertawa lepas. Gadis itu tampak begitu manis, bebas dan ceria. Sangat jauh berbeda dengan image-nya yang terkenal sombong dan menyebalkan.
"Kupikir kau orangnya selalu serius. Aku bahkan tidak yakin kalau aku bisa bertahan denganmu lebih dari tiga hari," Naruto memegangi perutnya yang kegelian. Jarang sekali ia bisa tertawa selepas ini kalau bukan karena membully seseorang atau mengerjai nenek Tsunade.
Sepasang jade itu menatap Naruto dengan intens. Penuh dengan sejuta emosi yang sulit terungkapkan, "Gaara?" Naruto menyentuh rahang Gaara saat lelaki itu tak kunjung merespon. Ekspresinya terlihat khawatir. Namun sebelum ia sempat bicara lagi, Sabaku muda itu telah membungkamnya dengan sebuah ciuman. Naruto awalnya kaget, ia tidak menyangka kalau Gaara bisa bertindak agresif. Karena biasanya ialah yang selalu memulai ciuman mereka. Namun ia tak ingin mempertanyakan hal itu lebih jauh, yang ia lakukan hanya memejamkan mata, menikmati bibir Gaara yang menyesap bibirnya dengan kelembutan yang memabukkan.
Gaara dapat merasakan sebelah tangan Naruto melingkari lehernya dengan mesra, menekan kepalanya untuk memperdalam ciuman mereka. Tak jarang jemari Naruto akan meremas rambut merahnya dengan sensual. Menyalurkan hasrat serta gairah mereka yang tengah menggebu. Sementara sebelah tangan Naruto yang lain menggenggam erat payung yang menaungi mereka. Melindungi keduanya dari derasnya hujan di kala itu.
Gaara menggeleng. Ia mengusap wajahnya dengan perasaan tersiksa. Kami-sama, kenapa begitu sulit rasanya untuk melepaskan gadis itu? Gaara menarik napas panjang, dengan perasaan rindu ia memandang punggung Naruto yang perlahan mulai menjauh.
Menyisakan ia yang berdiri sendirian di tengah derasnya hujan.
...EAT...
...YOU...
...UP...
Alunan suara BoA yang menyanyikan lagu Eat You Up menjadi pilihan Naruto untuk menemani perjalanannya pagi itu. Ino baru saja menghubunginya. Mengatakan kalau ia dan Sakura sudah tiba lebih dulu di Ginza. Dan karena ini hari Sabtu, artinya mereka akan melakukan rutinitas mingguan mereka untuk belanja. Meski sebenarnya kata 'rutinitas mingguan' kurang tepat digunakan. Mengingat hampir setiap hari mereka selalu berbelanja. Terlebih kalau melihat barang branded yang sedang mereka incar. Bahkan ia sendiri pernah bolos kuliah beberapa hari untuk terbang ke Milan demi membeli sebuah blus edisi terbatas yang ia incar. Dimana ekspedisinya itu berakhir dengan omelan panjang lebar dari Sakura serta pemblokiran passport dan kartu debitnya oleh nenek Tsunade selama satu bulan.
Naruto membetulkan headset yang terpasang di telinganya. Rambu lalu lintas yang menyala merah membuat mobilnya harus berhenti. Merasa bosan, ia pun mendongak sejenak ke arah depan, melihat lalu lintas yang cukup sepi dari balik kaca Audi Q3 yang ia naiki. Tidak ada yang menarik, semuanya biasa saja. Sampai mata birunya yang jernih menangkap sesuatu yang akhir-akhir ini begitu mengganggunya.
Tunggu, bukankah itu si teme? Mau kemana dia?
Sejenak Naruto berpikir. Jujur saja ia sedikit penasaran. Sudah seminggu Sasuke menjadi tutornya tapi ia belum bisa menarik perhatian lelaki itu. Kadang ia jadi curiga kalau Sasuke itu seorang gay. Terlebih jika mengingat pengendalian diri Sasuke yang menurutnya terlampau sempurna. Padahal setiap kali mereka bertemu, Naruto selalu memastikan agar penampilannya tampak seksi dan menggoda. Berbagai model pakaian telah ia coba. Mulai dari blus terusan yang sempit dibagian dada, rok span pendek dengan belahan yang tinggi, bahkan sampai gaun transparan yang membuat papanya hampir terkena serangan jantung. Dan kalian tahu apa reaksi Sasuke ketika Naruto meminta pendapatnya? Dengan wajah datar yang permanen lelaki itu hanya meliriknya sekilas sambil bergumam 'hn' yang tidak jelas. Bagaimana ia tidak jengkel coba?
Naruto melihat Sasuke menaiki sebuah bus di sebuah halte. Setelah mempertimbangkan selama beberapa saat, akhirnya ia memutuskan untuk memenuhi rasa penasarannya, "Izumo, ikuti bus itu."
"Baik nona muda."
Dengan segera Naruto langsung menghubungi nomor Ino. Mengabarkan bahwa ia tidak bisa pergi bersama mereka melalui kalimat yang tergolong singkat. Bahkan ia langsung mengakhiri panggilannya tanpa mau repot menunggu jawaban dari gadis itu.
Dua puluh menit kemudian Naruto pun sampai di tempat yang Sasuke tuju. Sebuah bengkel tuner di pinggir jalan. Dari balik kaca mobilnya, ia mengamati bengkel itu lebih seksama. Tidak begitu besar, tapi terlihat cukup profesional dan meyakinkan. Jika saja papan besar bertuliskan 'GREEN MONSTER GARAGE' itu disingkirkan, maka Naruto tak akan ragu untuk memasuki bengkel itu. Astaga, orang sinting macam apa yang menamai bengkelnya dengan nama norak begitu? Selera fashion-nya pasti benar-benar buruk. Naruto bahkan tak akan kaget lagi jika pemiliknya mengenakan pakaian bernuansa hijau dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Aku mau turun di sini. Kau pulang duluan saja," putus Naruto usai melakukan pengamatan singkat. Tanpa mempertanyakan tujuan Naruto lebih jauh, Izumo bergegas turun dan membukakan pintu belakang untuk nona mudanya. Ia membungkuk hormat saat melihat Naruto turun dengan sikap anggun.
Blus kuning dengan bahu terbuka serta rok putih pendek menjadi pilihan Naruto pagi itu. Sepatu hak tinggi rancangan Christian Louboutin membuat kakinya terlihat semakin ramping. Naruto mengambil kacamata hitam dari tas Hermes yang ia bawa. Sambil mengangkat dagunya tinggi, ia pun menyematkan kacamata tersebut untuk membingkai mata birunya yang indah. Langkahnya terlihat yakin sekaligus menawan saat memasuki area bengkel. Bahkan ia tak memperhatikan lagi saat Izumo memacu Audi Q3 cokelat gelap itu dengan kecepatan tinggi.
"Yosh! Selamat pagi Nona, ada yang bisa kami bantu?"
Satu alis Naruto terangkat heran. Terlebih saat seorang pria berpakaian hijau ketat yang terkesan norak menghampirinya sambil memperlihatkan cengiran lebar. Astaga, apakah alisnya itu asli? Dan lagi potongan rambut macam apa itu? Sambil menahan lidahnya untuk tidak memberikan komentar pedas, Naruto memasang senyuman manis. Apakah baju hijau ketat yang norak itu seragam bengkel ini? Kalau ya, ia tak akan sanggup membayangkan Sasuke yang berwajah datar memakainya.
"Apakah Uchiha Sasuke bekerja di sini?"
"Sasuke?" Gai membeo heran. Ia terdiam sejenak sambil mencermati penampilan Naruto yang terkesan menawan dan tanpa cela. Tak lama kemudian kedua matanya berbinar penuh semangat, berteriak lantang hingga membuat Naruto terpaksa menutup telinganya rapat-rapat, "UWOOOH! AKHIRNYA ANAK ITU PUNYA PACAR JUGA! INI BARU NAMANYA SEMANGAT MASA MUDA!"
"Siapa namamu nak?"
"Namikaze Naruto," jawab Naruto dengan penuh percaya diri. Ia bahkan tak keberatan saat Gai menyebutnya sebagai pacar Sasuke.
"SASUKEEE~ PACARMU NARUTO DATANG KE SINI!" Gai kembali berteriak. Membuat seluruh pegawai bengkel sontak menoleh ke arah mereka dengan rasa penasaran. Dalam waktu sepersekian detik dirinya kini menjadi pusat perhatian dadakan.
"Sasuke punya pacar?!"
"Seriusan nih?
"Yang pirang cantik itu?"
"Baru tahu kalau Sasuke suka bule."
"Sialan, ceweknya seksi banget!"
"Woy, kedip woy!"
Naruto menyunggingkan seringai kemenangan saat mendengar komentar terakhir. Lihat, tak ada seorang pun yang dapat menolak pesonanya. Bahkan ia tak perlu melakukan apapun hingga membuat mereka semua tertarik.
Dari balik kerumunan orang-orang itu, Sasuke muncul dengan ekspresi datarnya. Lelaki itu tak nampak terkejut sama sekali. Atau mungkin ia sedikit terkejut, tapi begitu ahli dalam menyembunyikannya. Entahlah, yang manapun itu Naruto tidak peduli. Ia terlalu sibuk mengagumi pahatan tubuh Sasuke yang sempurna. Terlebih dengan singlet hitam serta celana jeans yang senada. Otot bisepnya yang maskulin, dadanya yang bidang, bahunya yang lebar dan kokoh.
Astaga, sepertinya kaki Naruto mulai lemas. Ingin sekali ia merasakan seluruh otot itu di bawah telapak tangannya. Membelainya dengan lembut, meremasnya sensual. Tapi jauh di atas itu semua, ia sangat menginginkan kalau tubuh itu yang menyentuhnya. Memberikannya getaran panas, menggoda, penuh gairah.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Suara berat itu menarik Naruto kembali pada kenyataan. Ia menarik kacamatanya ke atas. Membuat safir cerah miliknya bersitatap dengan kegelapan sang oniks. Kegelapan tanpa dasar yang mampu memerangkap siapapun di dalam sana. Termasuk juga dirinya.
"Bagaimana kalau kubilang aku mau bekerja di sini?" Naruto bergumam asal saat tanpa sengaja melihat papan pengumuman yang digantung pada dinding bengkel.
Sasuke mendengus, "Kau, bekerja?" tanyanya mengejek. "Jangan membuatku tertawa dobe."
"Aku serius teme. Tuan, bukankah Anda sedang membutuhkan pegawai baru?" tanya Naruto pada Gai yang sejak tadi hanya berdiri menonton.
"Itu—"
"Yang kami butuhkan adalah mekanik otomotif, bukan gadis manja yang suka mengeluh," potong Sasuke dengan nada pedas.
Naruto menggertakkan giginya, menahan makian kasar yang hampir saja keluar, "Aku bisa jadi staff marketing," kekeuhnya tak mau kalah.
Ekspresi Sasuke tampak mengeras, tatapannya begitu dingin sekaligus menusuk, "Kami tidak membutuhkan staff marketing."
"Wow, wow, wow, Sasuke. Tunggu dulu. Kau tidak boleh bicara sekasar itu pada pacarmu nak. Dan kau nona, apa kau baru saja bilang staff marketing?" Tanpa berpikir lagi Naruto langsung mengangguk. Amarah telah menguasainya hingga ia tak peduli lagi terhadap apapun. "Hmm, baiklah. Kalau begitu kau diterima!" Gai berseru lantang. Naruto melotot. Sasuke menyipit tak suka.
"Maito-san, kita tidak membutuhkan staff marketing."
Gai melipat tangannya, wajahnya terlihat serius, "Sasuke, kau tidak boleh menyakiti hati seorang gadis. Terlebih gadis itu adalah pacarmu. Dia bahkan rela bekerja di bengkel agar kalian bisa lebih sering bertemu."
"Tapi dia bukan—"
Tanpa mendengarkan penjelasan Sasuke lebih lanjut, Gai memasang cengiran lebar, satu jempolnya ia angkat ke hadapan Naruto yang nampak masih termangu.
Padahal tadi ia hanya berkata asal-asalan. Kenapa jadi serius begini?
"Yosh Naruto! Selamat bergabung dengan GREEN MONSTER GARAGE!"
TBC
A/N: Masih adakah yang nungguin ff ini? Sebenarnya saya sempat kehilangan inspirasi dan mood untuk membuat ff. Tapi setelah ngeliat review kalian, jadi nggak tega juga buat ninggalinnya. Oh iya, ada beberapa perubahan yang saya buat di sini. Nggak begitu signifikan sih, cuma biar lebih menyesuaikan ke jalan ceritanya aja. Tentang klan Uzumaki masih akan saya simpan dulu sepertinya :)
Super Thanks To:
| hanazawa kay | UzumakiDesy | kyuubi no kitsune 4485 | Arum Junnie | Hyull | Kyuuuuu | kHaLerie Hikari | Jasmine DaisynoYuki | Giariza'S | QuEE lu-VIZ | Yoona Ramdanii | Dewi15 | choikim1310 | Vianycka Hime | shanzec | Snlop | cinya | HafizaKun | Shiroi144 | aqizakura | kazekageashainuzukaasharoyani | Namikaze Kara | Safitri676 | HiNa devilujoshi | Namikaze Eiji | Let'sBurnThisGirl | Miyuki Asakura | Mimo Rain | Aiko Vallery | Sukez | Ariellin | 3nd4h | iche cassiopeiajaejoong | lutfisyahrizal | Yu Ciel | Call Me L | sasunaru1111 | Arevi are vikink | Erni546 | sakuchan | Mousy | Guest | Arina Marioka | Name UchihaLepu | Lady Spain | Rey Ai | Syafika | KJhwang | Dewichan | Dan Harpa | akira lia | naomi | kaiLa wu | Novalia Airis | Kyutiesung | aoi | biglufluf septy | tiaPriFree | Chosaku-Ken | Tya |
Mind to Review?
