Musim dingin telah datang. Kejuaraan winter cup sudah dimulai. Selama kurang lebih tujuh bulan Akashi dan Kuroko tidak bertemu. Sejak latih tanding Rakuzan melawan Seirin, Akashi dan Kuroko sibuk dengan urusannya masing-masing. Terutama di tim basket mereka masing-masing, karena kedua tim mengincar gelar juara di dua kejuaraan besar, yakni Interhigh di musim panas dan Winter Cup di musim dingin.
Akashi dan Kuroko hanya berpapasan saja saat upacara pembukaan winter cup, setelah itu mereka kembali sibuk dengan timnya masing-masing. Andai mereka masuk di sekolah yang sama, mereka pasti akan banyak menghabiskan waktu bersama. Namun karena 'andai' hal itu tidak akan pernah terwujud.
Selama tujuh bulan, rasa gundah di hati Kuroko datang dan pergi karena ia terlalu serius memikirkan masa depan hubungan mereka. Konyol memang, namun ini bukan hal konyol. Ini adalah hal yang serius. Memikirkan masa depan dirinya sendiri membuatnya bingung, apalagi memikirkan masa depan mereka.
Hanya tinggal beberapa bulan lagi mereka berada di kelas dua SMA. Memikirkan masa depan hidup, melangkah ke dunia dewasa yang sesungguhnya, dan sebagainya. Mengesampingkan kesenangan dan hal-hal yang tidak perlu adalah sesuatu yang sebaiknya dilakukan.
Hubungan mereka dibawa kemana setelah ini. Ke pelaminan tidak mungkin, itu masih jauh dan tidak mungkin mereka menikah. Ke Amerika karena disana melegalkan pernikahan sesama jenis? Kuroko tidak mau meninggalkan tanah kelahirannya, Jepang. Hubungan mereka jadi tidak memiliki tujuan untuk berlabuh. Selama tujuh bulan itu, Kuroko memikirkannya sendirian. Tidak mendiskusikannya dengan Akashi, karena ia sendiri masih belum yakin dengan apa yang ia pikirkan.
Hari ini, Kuroko ingin mengesampingkan hal itu dahulu. Ia sudah mempersiapkan semua untuk menghabiskan sisa waktu hari ini.
Kuroko memiliki jadwal latihan di hari ini, dan Akashi yang sejak pembukaan winter cup tinggal di Tokyo, hari ini memiliki jadwal pertandingan. Namun Kuroko bertekad, apapun yang terjadi mereka harus bertemu.
.
.
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
CEKREK in High School © Satsuki Tori
Sequel dari Fict CEKREK
...
Bagaimanakah seorang Akashi yang jahilnya minta ampun ketika harus menjalin hubungan jarak jauh dengan kekasihnya? Bagaimanakah caranya melampiaskan kejahilannya kepada Kuroko? Apakah Kuroko merindukan kejahilan Akashi?
.
20 Desember
Libur musim dingin sudah dimulai. Rutinitas Kuroko selama liburan hanyalah fokus untuk latihan dan memenangkan pertandingan winter cup. Beruntung hari ini latihan dari pagi sampai siang, ia tidak bisa membayangkan dirinya dihukum oleh kapten dan kantoku karena membolos latihan tanpa izin.
Kuroko baru saja keluar dari sebuah super market dengan tangannya yang penuh dengan belanjaan. Ini adalah hari spesial karena Akashi berulang tahun. Ia ingin membuat sebuah kejutan kecil untuk Akashi. Menghabiskan sisa hari ini hanya berdua di apartemen Akashi.
Selama tinggal di Tokyo selama satu bulan, Akashi menyewa sebuah apartemen kecil karena ia merasa kurang nyaman tinggal di hotel. Tentunya Akashi memberikan duplikat kunci apartemennya kepada Kuroko.
Akashi sudah tiga hari tinggal di apartemen kecilnya. Sesekali ia ingin merasakan bagaimana hidup biasa, tidak dilimpahi dengan kemewahan. Ia tidak memberitahu kepada ayahnya kalau ia menyewa sebuah apartemen kecil, ia hanya bilang pada ayahnya akan tinggal sebulan di Tokyo karena ada pertandingan winter cup. Dan ia tidak akan kalah lagi seperti tahun sebelumnya. Akashi juga menyuruh butler pribadinya untuk tutup mulut akan hal ini.
Bukan hal yang sulit bagi Kuroko untuk masuk ke dalam apartemen Akashi. Di sana ia segera ke dapur dan memasak untuk Akashi. Namun ada sebuah chat lone masuk ke smartphone Kuroko.
Tetsuya, kamu ada di rumahku? | 12.00
Iya, aku sedang memasak sup tofu untukmu | Read 12.00
Baiklah, aku akan segera pulang setelah pertandingan dan makan di rumah | 12.01
Kuroko tidak mau membalas banyak. Ia takut rencananya terbongkar dan segera mengeluarkan bahan-bahan untuk memasak. Tidak hanya memasak makanan kesukaan Akashi, ia juga berencana membuat kue ulangtahun dengan resep yang diberikan oleh Murasakibara. Kuroko tahu kalau Akashi kurang menyukai makanan manis, sehingga ia bertanya kepada Murasakibara dan menyetujui usulan si Titan Ungu untuk membuat kue ulangtahun rasa capucino.
Skill memasak Kuroko semakin meningkat. Awalnya ia hanya bisa masak telur, sekarang ia sudah bisa masak nasi, sup tofu, karage, nasi kare, dan kini ia bisa membuat kue. Rasanya biasa saja, tapi itu lebih baik karena masakannya masih layak untuk dimakan. Jika dibandingkan dengan manager basketnya ketika SMP, Momoi. Masakannya tidak layak disebut masakan.
Pertama Kuroko memanggang kue. Beruntung Akashi menyewa apartemen yang sudah dilengkapi dengan perabotan sebelum Akashi tinggal disini sehingga ia tidak kesulitan untuk memasak di apartemen ini.
Kuroko menghabiskan cukup banyak waktu untuk membuat kue. Membuat adonan, memanggangnya, lalu harus membuat krimnya, dan mengolesinya ke kue. Belum lagi menghias dan merapihkan kuenya. Beruntung hari ini Kuroko punya banyak waktu untuk melakukannya.
Setelah membuat kue, Kuroko memasak. Hanya makanan biasa, namun sangat jarang ia memasak untuk Akashi. Bertemu saja jarang, apalagi untuk membuatkan makanan untuk Akashi. Lagipula ketika memakan masakan kekasihmu, kamu pasti akan mengabaikan rasanya karena perasaanmu sudah bahagia saat sebelum mencicipinya. Karena rasa yang utama adalah apa yang kau rasakan di dalam pikiranmu. Jika otakmu mensugestikan makanan yang kamu makan adalah enak, maka rasanya pun akan enak. Begitupula sebaliknya. Jadi ketika kamu memakan masakan kekasihmu dan rasanya tidak enak, jangan salahkan kekasihmu. Salahkan dirimu sendiri yang kurang bahagia menerima masakan dari kekasihmu sendiri #plakk
Kuroko membuat sup tofu, karage, dan tempura. Ia sudah pernah membuat ini sebelumnya, jadi tidak memerlukan banyak waktu untuk membuatnya.
Sei-kun, kau sudah selesai? | Read 17.00
Sudah, aku menang | 17.03
Aku mau pulang, aku baru keluar dari stadion | 17.03
Sei-kun, aku mau pinjam bajumu | Read 17.04
Ambil saja di lemari | 17.05
Kuroko merasa gerah setelah memasak. Ia segera mandi dan mengganti bajunya dengan baju Akashi karena ia tidak membawa baju ganti.
Sesuai dengan apa yang dikatakan Akashi, ia mengambil baju dari dalam lemari Akashi. Matanya menangkap sesuatu yang tidak asing.
'BAJU LAKNAT DI CHAPTER TIGA! (baju maid yg ada di chapter 3 FF ini)' batin Kuroko kaget.
Kuroko tidak menyangka bahwa Akashi masih menyimpan baju laknat tersebut. Tapi seingat Kuroko, bukankah baju laknat tersebut ada di lemarinya. Mungkin baju tersebut diambil oleh Akashi saat ia terakhir kali menginap di rumah Kuroko.
Ia mengambil baju tersebut dari dalam lemari Akashi. Kuroko berpikir untuk memakainya sekarang. Mewujudkan keinginan Akashi untuk memakainya tidak ada salahnya juga. Lagipula baju maid ini setelan two pieces dan bawahnya memakai celana pendek. Baju ini tidak laknat-laknat amat. Kuroko tidak mau jika dirinya disuruh memakai rok.
Kuroko memutuskan untuk memakai baju tersebut, lengkap dengan bandonya juga. Ia tidak peduli nanti akan digoda oleh Akashi, ia hanya ingin mewujudkan keingan Akashi untuk memakai ini.
"Oh ya, aku belum menyiapkan air hangat untuk Sei-kun"
Dengan pakaiannya yang sudah berganti dengan pakaian maid, ia pergi ke kamar mandi dan menyiapkan air mandi untuk Akashi.
"Kue dan makanan sudah siap. Lalu air mandinya juga sudah. Selanjutnya tinggal menunggu Sei-kun datang saja"
Kuroko menjatuhkan badannya ke sofa. Ia mengambil smartphone di atas meja. Menelpon Akashi, namun Akashi tak kunjung mengangkatnya. Tak lama, Kuroko menerima sebuah pesan lone .
Aku baru turun dari bus, sebentar lagi aku sampai rumah | 17.20
Kenapa? Kangen aku yah? :3 | 17.21
Kita tiap hari emang kangen-kangenan, Sei-kun | Read 17:23
Kuroko menaruh ponselnya di atas meja. Menyiapkan ini sendirian rupanya cukup melelahkan. Ia memejamkan matanya namun tak lama suara bel apartemen Akashi berbunyi.
TING TONG
Kelopak mata Kuroko langsung terbuka dengan sempurna. Ia dengan segera membukakan pintu yang menampilkan sosok kekasihnya.
"Sei-kun. Okaeri. Otanjoubi omedetou~"
"Tadaima. Kamu sudah mengucapkannya tadi pagi, Tetsuya"
"Rasanya kurang lengkap jika belum mengucapkan secara lang-"
Akashi bahkan belum sempat melepaskan sepatunya, namun ia langsung melumat bibir Kuroko. Tak lama, Akashi melepaskan ciumannya. Ia bahkan belum menutup pintu apartemennya.
Kuroko menutup pintu apartemen Akashi dan membantu Akashi melepaskan sepatunya. Akashi tersenyum melihatnya. Kemudian ia menanyakan hal yang daritadi sedikit mengganggu pikirannya.
"Aku senang kamu akhirnya mau memakainya, tapi kenapa kamu tidak memakai yang warna biru saja? Itu lebih imut"
"Tidak akan!"
Tak lama membantu Akashi melepaskan sepatunya. Akashi masuk ke ruang tengah dan menyalakan TV. Ia menjatuhkan dirinya di atas sofa, namun Kuroko malah membangunkannya.
"Sei-kun, jangan langsung tidur. Badanmu berkeringat, nanti badanmu lengket. Mandi sana! Aku sudah menyiapkan air hangat"
Akashi nampak malas tidak memedulikannya karena ia lelah. Tangannya dapat menjangkau meja yang di atasnya tergeletak smartphone milik Kuroko.
"Hey, passwordnya kamu ganti ya?"
"Iya. Sengaja supaya kamu hari ini gak bisa macam-macam. Sudah sana mandi"
"Gak mau! Aku mau foto kamu dulu, kapan lagi kamu mau pakai baju seperti ini"
"Foto-fotonya nanti aja. Kamu mandi dulu sana"
Akashi bangun, ia mendudukan dirinya di atas sofa. Ia memeluk pinggang Kuroko, yang sedang duduk di atas pinggiran sofa.
"Gak mau, maunya bareng sama Cuya"
"Aku sudah mandi, Sei-kun. Kamu kenapa mendadak jadi manja begini"
"Hari ini hari ulang tahunku"
"Itu bukan alasan"
Akashi meninggalkan pijakan sofa dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
"Baiklah aku mandi sendiri, jangan ngintip!"
"SIAPA JUGA YANG MAU NGINTIP?"
.
.
.
.
Kuroko berbaring di sofa dengan santai sambil menonton di TV. Acaranya membosankan, namun ia menontonnya saja daripada bengong tidak jelas.
"Tetsuya! Tetsuya~"
Akashi memanggil Kuroko dari dalam kamar mandi. Ia sedikit berteriak agar Kuroko dapat mendengar suaranya.
"Apa?"
"Kemari"
Kuroko menghampiri Akashi di kamar mandi. Ia sedang berendam di bak mandi, dan bertanya kepadanya.
"Ada apa?"
"Aku mau minum"
"Tuh air di bak mandi banyak, minum saja"
"Bukan itu! Aku mau segelas capucino buatanmu"
Kuroko keluar dan pergi ke dapur untuk membuatkan minuman yang diminta kekasihnya tersebut. Tak lama, ia kembali ke kamar mandi dan memberikannya kepada Akashi.
"Ini minumannya, Sei-kun"
Kuroko pergi dari kamar mandi dan kembali melanjutkan menonton acara di televisi yang ternyata sekarang menampilkan siaran tunda pertandingan winter cup. Namun Akashi memanggilnya kembali.
"Tetsuya~"
Kuroko menghela nafas karenanya. Jika Akashi memanggilnya kembali kenapa ia tidak mengatakan apa saja yang diperlukannya agar Kuroko tidak perlu bolak-balik ke kamar mandi.
"Apa lagi, Sei-kun?"
"Tidak, panggil aku goshuujin-sama"
"Kamu merindukan rumahmu Sei-kun, walau aku memakai pakaian maid tapi aku bukan maidmu"
"Maid dan butler di rumahku memanggilku bossama, ayolah Tetsuya"
"Baiklah goshuujin-sama. Lalu apa lagi? Jangan sampai aku bolak-balik lagi"
"Tidak ada, main game di ponsel sambil berendam itu menyenangkan ya?"
"Sebaiknya kamu tidak melakukannya Sei-kun, nanti kalau jatuh- ITU PONSELKU! KENAPA KAMU BISA MENGGUNAKANNYA?"
"Ponselku baterainya sedang habis. Lagipula kamu main game ini juga kan? Jadi tidak apa-apa kan?"
"Aku tidak akan memaafkanmu kalau ponselku terjatuh"
CEKREK
Kuroko yang baru memegang pegangan pintu kembali berbalik menghadap Akashi. Penyakit jahilnya entah kapan akan sembuh. Ia sudah lelah menjadi korban akibat penyakit Akashi.
CEKREK
"Sei-kun, hentikan"
"Kapan lagi aku bisa memotretmu?"
"Aku sudah bilang tadi, kamu bisa berfoto setelah kamu selesai mandi. Jangan berendam terlalu lama, nanti kamu masuk angin. Ini musim dingin, Sei-kun"
Kuroko pergi dari kamar mandi dengan kesal. Dia juga tidak habis pikir dengan Akashi yang selalu bisa menebak sandi pengaman ponselnya. Ia sudah dua kali menggantinya dan sebanyak itu juga Akashi dapat menebaknya.
"Tetsuya~ handukku tertinggal"
Tanda perempatan tercetak di dahi Kuroko. Jika hari ini bukan hari ulang tahun Akashi, Kuroko akan marah-marah kepada Akashi. Tapi justru karena hari ini adalah hari ulang tahun Akashi, ini akan menjadi sangat melelahkan.
Kuroko mengambil handuk kering di rak handuk yang ada di sebelah mesin cuci dan pergi memberikannya kepada Akashi di kamar mandi.
Kuroko berusaha meredam emosinya dengan menampilkan sebuah senyuman yang terkesan dipaksakan. Ia memberikan handuk kepada Akashi dengan menampilkan senyuman tersebut.
"Ini handuknya. Goshuujin-sama. Ada lagi yang lain?"
Akashi sudah selesai berendam. Ini musim dingin dan tidak baik berendam terlalu lama.
"Tidak ada. Aww Tetsuya mesum. Bolak-balik mengintip aku yang sedang mandi"
Akashi menggoda Kuroko dan menyikut pinggangnya sedikit tanpa tenaga sambil menampilkan ekspresi jahilnya.
"YANG MEMANGGILKU KESINI TERUS MEMANGNYA SIAPA? HAH!?"
Kuroko tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak marah kepada Akashi. Ia segera keluar dari kamar mandi. Melemparkan sarung tangannya dan menginjak-injaknya di lantai untuk melampiaskan kekesalannya.
Tak lama suara gelak tawa terdengar. Suara tersebut berasal dari kamar mandi. Kuroko hapal benar suara tertawa Akashi.
Kuroko menepuk dahinya. Mukanya sedikit memerah karena kelakuan Akashi ini.
'Sial! Sei-kun menjahili aku lagi'
.
.
.
.
Kue ulang tahun, sup tofu, karage, tempura, capucino, dan vanilla milkshake. Mungkin makanan dan minumannya terlalu sedikit untuk sebuah acara ulangtahun. Namun, karena Akashi dan Kuroko hanya berdua, lalu porsi makan mereka juga tidak banyak, tentu ini adalah banyak.
Kuroko menata makanan sedemikian rupa, dan menyalakan lilin ulangtahun sebanyak tujuh belas buah. Sementara Akashi, sibuk menata kameranya sedemikian rupa. Kuroko nampak terbiasa akan hal ini, tapi mengabadikan momen ini tentu ia tidak keberatan.
Penampilan Akashi dan Kuroko pun sudah sempurna. Mereka sudah rapih dan bersih. Akashi yang memakai pakaian butler hitam putih, lengkap dengan vest, jas, dan apronnya. Sementara Kuroko memakai pakaian maid hitam putih dengan celana pendek dan apron rendanya yang putih. Tidak lupa bando renda di kepalanya sebagai pemanis penampilannya.
Akashi nampak tampan 1000% hari ini. Pakaiannya membuatnya makin tampan, dan aura bahagianya membuat ia semakin tampan.
"Sei-kun kenapa ikut-ikutan pakai baju butler juga?"
Kuroko bertanya dengan wajah datarnya, namun sedikit menyiratkan rona merah di pipinya.
"Untuk menemanimu. Kamu sudah imut, masa aku tidak tampan? Aku tampan 'kan"
Rona merah di pipi Kuroko yang tersirat, kini sudah nampak di pipi gembulnya.
"Biasa saja. Aku sudah menyalakan lilinnya, ayo Sei-kun tiup"
Akashi ikut bergabung duduk di samping Kuroko. Ia menggenggam tangan Kuroko sambil tersenyum.
"Ayo tiup bersama"
"Tapi, hari ini kamu yang berulang tahun. Ulangtahunku masih 42 hari lagi"
Akashi mengangkat kedua tangan Kuroko dan membawanya hingga tepat di depan bibirnya. Ia mengecupnya sekilas, dan menatap kedua iris cerulean Kuroko.
"Tapi kamu itu sumber kebahagiaanku. Terutama ketika perjalanan menuju umurku yang ke 17 ini. Kamu itu orang yang penting bagi hidupku. Sumber kekuatanku. Ketika aku letih, merasa ingin menyerah, aku tetap maju. Karena aku tahu, memperjuangkanmu agar kita bisa hidup bersama untuk selamanya itu tidaklah mudah"
Tatapan Kuroko berubah menjadi sendu. Apa yang dikatakan Akashi, justru membuat dirinya semakin terbebani. Namun ia berusaha tetap tersenyum, ia tidak mau menghadiahi Akashi ekspresi buruk di hari ulangtahunnya.
"Baiklah, kalau begitu kita tiup bersama"
Akashi dan Kuroko meniup lilinnya bersama hingga lilin tersebut mati. Lagipula lilin ini terlalu banyak untuk ditiup seorang diri. Entah mengapa Kuroko membeli lilin seperti ini. Lebih praktis membeli lilin berbentuk angka daripada membeli lilin jenis ini.
"Otanjoubi omedetou, Seijuro"
"Arigatou, Tetsuya. Kamu sudah mengatakannya tiga kali hari ini"
Namun lilin tersebut menyala kembali. Akashi menatap Kuroko dengan entah ekspresi apa, yang jelas ia bingung. Kuroko juga bingung.
"Kamu mau menjahiliku dengan lilin ini?"
Ternyata lilin ulangtahun yang dibeli Kuroko adalah lilin ulangtahun yang susah untuk padam. Bahkan ketika kamu sudah meniupnya, lilin tersebut akan kembali menyala.
"Aku tidak tahu kalau lilin ini susah untuk padam. Ini pertama kalinya aku menyiapkan pesta ulangtahun"
"Ya sudahlah. Kita tiup sebelum semua lilinnya mencair"
Akashi dan Kuroko meniup semua lilinnya dengan sekuat tenaga agar semua lilin padam. Namun Akashi malah memerhatikan Kuroko yang masih meniup dua buah lilin yang masih menyala. Wajah Kuroko lucu.
"Tetsuya"
Kuroko mengabaikan Akashi, ia masih berusaha meniup dua buah lilin yang masih menyala. Siapapun tidak suka diabaikan. Akashi langsung meraup bibir Kuroko. Ia tidak tahan melihat ekspresi lucu Kuroko.
Akashi meraih dagu Kuroko dengan tangannya untuk memperdalam ciumannya. Sekilas ia melepaskan ciumannya, namun selanjutnya ia menggunakan lidahnya untuk bermain di dalam rongga mulut Kuroko dan berdansa dengan lidah Kuroko.
Kuroko tidak mau melepaskan ciuman yang dimulai oleh Akashi di hari ini. Namun oksigennya menipis, dan ia hanya bisa menepuk-nepuk dada Akashi agar melepaskan ciumannya duluan. Beruntung Akashi berbaik hati melepaskan ciumannya.
"Meniup dua buah lilin saja kamu tidak bisa"
Tangan Akashi masih memainkan dagu Kuroko. Ia memang tidak suka makanan manis, namun kalau Kuroko yang manis, itu lain ceritanya.
FUH
Akashi meniup dua lilin yang tersisa dan semuanya langsung mati, tidak ada yang menyala kembali. Kuroko mengambil pisau kue dan piringnya lalu memberikannya pada Akashi.
Akashi memotong kuenya dan mengambil sepotong untuk Kuroko. Ia menyuapi Kuroko namun Kuroko diam, tidak segera memakannya.
"Rasanya aneh mendapatkan potongan pertama kue ini karena aku yang membuatnya"
"Benarkah? Kamu membuatnya? Aku kira kamu membelinya. Ngomong-ngomong, kamu tidak mau menaruh racun atau sejenisnya kan disini? Sehingga kamu tidak mau memakannya?"
Akashi lebih terlihat seperti Handa-kun di fandom sebelah yang selalu berprasangka negatif. Lagipula tidaka da gunanya Kuroko meracuni Akashi.
"Tentu saja tidak. Baiklah aku mau memakannya"
Akashi memotong kuenya dengan garpu kecil dan menyuapinya kepada Kuroko. Potongan yang Akashi berikan terlalu besar untuk mulut Kuroko sehingga mulut Kuroko sedikit belepotan karena krim. Melihat itu, Akashi mengelapnya dengan ibu jarinya.
"Aku belum menyicipinya"
Kuroko hendak menyuapi Akashi, ia sudah memotong kuenya menjadi potongan yang lebih kecil dengan garpu, namun Akashi membungkam mulutnya dengan potongan besar kue yang dimasukkan dengan paksa ke dalam mulutnya.
"ASDFGHJKL! #$%^&*"
Akashi meraih dagu Kuroko dan memakan kue yang ada di mulut Kuroko. Ini manis tapi tidak begitu manis. Rasa kue yang bercampur dengan Kuroko memang memberikan rasa nikmat yang lebih. Akashi menghabiskan semua yang ada di mulut Kuroko, dan juga yang ada di dalam mulutnya.
Awalnya Akashi hanya ingin memakan kuenya saja, tapi rasa Kuroko lebih enak daripada kue tersebut dan lanjut memakan Kuroko. Ia memperdalam ciumannya dan bermain lidah dengan Kuroko.
Entah sudah berapa kali mereka berciuman malam ini. Tapi Akashi tidak akan pernah bosan dengan rasa Kuroko.
"Enak"
Kuenya atau Kurokonya yang enak? Akashi memberi pujian yang entah untuk apa.
"Rasa capucino. Tidak buruk"
Kuroko langsung meminum vanilla milkshake yang diletakan di atas meja. Tak lama, sepasang lengan melingkari pinggang Kuroko.
"Terima kasih untuk hari ini, Tetsuya. Aku sangat menyukainya"
Hanya jawaban diam yang diterima oleh Akashi. Suasana hening untuk beberapa saat. Akashi terlalu asik dengan Kuroko sedangkan Kuroko sendiri asik dengan pikirannya.
"Sei-kun, aku mau ganti yah? Memakai ini membuatku kedinginan"
"Tapi kita belum berfoto"
"Ya sudahlah. Tapi cepat yah, jangan lama-lama"
Akashi mengambil ponselnya untuk berfoto. Entah berapa banyak foto yang diambil Akashi, tapi karena itu adalah Akashi, ia banyak sekali mengambil foto.
"Banyak sekali. Sudah ya"
"Ayolah sekali lagi saja. Hanya sekali saja"
"Baiklah"
CEKREK
"Aku mau lihat"
Akashi memperlihatkan hasil-hasil fotonya kepada Kuroko dan mengirimkannya ke ponsel Kuroko melalui bluetooth.
"Sei-kun, aku mau ganti baju ya? Aku kedinginan"
Kuroko memakai baju maid lengan pendek dengan renda putih. Memakainya saat musim dingin bukanlah hal bagus.
"Jangan! Tunggu disini"
Akashi pergi ke kamarnya mengambil sesuatu. Kuroko diam saja menurut dan tak lama Akashi kembali dengan membawa sebuah selimut dan menyelimuti badan Kuroko.
"Ne, Sei-kun?"
"Ya, ada apa Tetsuya?"
Akashi memeluk Kuroko dari belakang. Ia melingkarkan kedua lengannya di perut Kuroko dan menyandarkan dagunya di bahu Kuroko.
"Selama beberapa bulan ini aku berpikir, sepertinya hubungan kita ini tidak ada gunanya"
Mendengar hal tersebut, Akashi bingung. Ia sulit menebak isi kepala Kuroko. Tiba-tiba mengatakan hal seperti itu bukanlah hal bagus.
"Kenapa kamu tiba-tiba mengatakan seperti itu?"
Akashi melepaskan pelukannya dan menatap lekat kedua bola mata Kuroko.
"Tidak apa-apa. Maksudku kita berdua ini sama-sama laki-laki kan? Bukan hal yang lazim dua orang laki-laki berpacaran. Memangnya kamu tidak berpikir untuk hidup normal saja? Memiliki kekasih seorang perempuan, lagipula Sei-kun itu pintar, tampan, populer, sempurna, kamu pasti populer di kalangan perempuan. Mendapatkan seorang kekasih bukanlah hal-"
"Kamu masih memikirkan hal seperti itu? Memangnya kamu pikir sudah berapa lama kita pacaran? Aku itu begitu mencintaimu, Tetsuya"
Akashi menggenggam kedua telapak tangan Kuroko. Ia menggenggamnya erat, tidak mau melepaskannya. Mengecupnya sedemikian rupa untuk meyakinkan Kuroko bahwa semua akan baik-baik saja.
"Apakah kamu tidak memikirkan masa depan, Sei-kun?"
Kuroko melepaskan genggaman Akashi dengan kasar. Sentuhan bukanlah hal yang ia inginkan untuk saat ini.
"Pasangan pada umumnya menjalin hubungan karena cinta, mengikat janji untuk saling menjaga satu sama lain, lalu menikah, memiliki keturunan, dan selalu bersama hingga malaikat maut memisahkan mereka. Sedangkan kita? Kita tidak bisa menikah dan punya anak. Kita bisa hidup bersama namun untuk apa? Tidak ada gunanya bukan?"
Akashi dan Kuroko diam. Tidak ada yang berani berbicara duluan. Mereka sangat hati-hati dalam menjaga ucapannya untuk tidak menyakiti perasaan satu sama lain.
"Aku selalu memikirkan hal ini, Sei-kun"
"Kenapa kamu baru bilang sekarang. Kita bisa memikirkan dan mencari jawabannya bersama, Tetsuya"
"Ini masalah yang sedikit rumit"
"Justru karena ini rumit kamu tidak bisa memikulnya sendiri"
Akashi kembali menatap lekat iris cerulean Kuroko. Selalu seperti ini, Kuroko menanggung semua sendirian seolah Akashi tidak peduli dengan hubungan mereka. Padahal dengan mereka menjalin hubungan, seharusnya semua akan menjadi lebih ringan karena kamu bisa berbagi kesulitanmu.
"Kenapa kamu baru memikirkan hal penting ini sekarang?"
"Sejak dulu aku berpikir apakah dua orang laki-laki yang saling mencintai itu pantas untuk bahagia atau tidak. Semua orang memang berhak bahagia, namun dua orang laki-laki yang menjalin hubungan. Apa yang kita dapat dari hubungan kita? Keturunan? Pernikahan? Kita hanya mendapat kebahagiaan semu saja"
Akashi tidak habis pikir dengan Kuroko. Dari awal mereka bertemu sampai sekarang, ia sulit menebak jalan pikiran Kuroko.
"Jadi kamu berpikir kalau aku hanya memberikanmu kebahagiaan semu saja. Lalu apa artinya semua ini, Tetsuya?
"Hubungan kita sepertinya tidak penting"
"Lalu untuk apa kamu masih memertahankan hubungan kita ketika kamu bersama diriku yang lain?"
"Aku baru memikirkan ini sekarang, lebih tepatnya beberapa bulan belakangan ini"
"Lalu apa yang kamu pikirkan ketika kamu bersama diriku yang lain?
Akashi mulai sedikit terbawa emosi karena Kuroko menganggap hubungan mereka tidak begitu penting. Ia tidak habis pikir karena hubungan mereka ini sudah terjalin selama bertahun-tahun.
"Kita sudah melakukan banyak hal dari mulai SMP. Ketika SMA kita tetap menjalin hubungan walau kita berbeda kota. Kita juga berusaha meluangkan waktu untuk bertemu, atau sekedar untuk berkomunikasi di tengah kesibukan kita masing-masing..."
Akashi menggantung kalimatnya, namun tak lama ia melanjutkan kalimatnya walau diri Akashi diliputi dengan emosi.
"TAPI KAMU BILANG HUBUNGAN KITA ITU TIDAK ADA GUNANYA DAN HANYALAH KEBAHAGIAAN SEMU?!"
Akashi tidak bisa menahan emosinya lagi. Ia berteriak di depan wajah Kuroko dan hal itu ikut menularkan kemarahannya kepada Kuroko.
"AKU SUDAH BILANG. DUA LAKI-LAKI YANG BERPACARAN ITU BUKAN HAL BAGUS! HUBUNGAN KITA TIDAK ADA GUNANYA!"
Kuroko dan Akashi sudah mengeluarkan emosi mereka. Selanjutnya hening, namun Kuroko mulai bicara duluan.
"Hubungan konyol ini, kita akhiri saja sampai disini"
Akashi tidak bisa menahan untuk tidak membulatkan matanya dengan sempurna. Sekujur tubuhnya mendadak lemas, namun ia masih memiliki kekuatan untuk berdiri.
"Hoy Tetsuya..."
Kuroko mengikuti Akashi untuk berdiri dari sofa. Ia pergi ke kamar Akashi untuk mengambil tasnya yang tergeletak di dalam sana.
"Tetsuya!"
Akashi memanggil nama Kuroko kembali untuk yang kedua kalinya karena sebelumnya ia diabaikan.
"TETSUYA!"
Dengan nada membentak dan sedikit berteriak, Akashi memanggil nama Kuroko. Ia memegang bahu Kuroko erat dengan tangan yang sedikit bergetar.
"Apa yang kamu pikirkan?"
Kuroko sedikit memberontak. Ia melepaskan diri dari cengkraman Akashi dan berhasil karena Akashi tidak betul-betul mencengkramnya dengan erat.
"Kita putus..."
Akashi masih tidak terima. Ia mencengkram pergelangan Kuroko untuk mencegahnya kabur.
"Tetsuya!"
"Sudahlah Seijuro! Aku mau putus. Tidak ada gunanya kita melanjutkan ini"
Akashi menatap tajam Kuroko namun Kuroko membalasa tatapan Akashi dengan tatapan sendu.
"Baiklah. Tapi suatu saat aku akan mengambilmu kembali menjadi milikku, Tetsuya"
Tatapan Akashi semakin menajam, begitupula dengan tatapan Kuroko. Seolah ia menantang Akashi karena hal itu adalah mustahil.
"Silahkan saja. Namun itu tidak akan terjadi karena tidak lama, kamu akan segera memiliki seorang perempuan!"
Kuroko melepaskan cengkraman Akashi dengan kasar. Ia melepas bando maid di kepalanya, melemparkannya ke lantai, dan dengan cepat membuka pintu untuk berlari pulang.
"Hey Tetsuya!"
Akashi mengejar Kuroko, namun Kuroko telah hilang. Kuroko kabur dengan jurus missdirection miliknya.
Ini adalah hadiah terbaik dan hadiah terburuk diberikan Kuroko untuk Akashi. Itu akan teringat dengan jelas seumur hidup Akashi karena ini adalah ulangtahunnya yang ke 17.
Bukanlah keinginan Akashi untuk mengakhiri hubungannya. Ia sendiri tidak mau hubungannya dengan Kuroko berakhir. Tapi karena Kuroko yang menginginkannya, ia tidak bisa berbuat apa-apa.
TBC
AN: sumimasen sumimasen sumimasen sumimasen~ u.u
Chapter ini ada pait-paitnya gitu, gak kayak chapter sebelumnya yang asem-asem seger gimana gitu :3
Update kilat nih, bikinnya cuma sehari tapi nyari sinyal wi-fi gratisan itu loh yang susah /gamodal
Tenang aja, ini bakal HAPPY ENDING kok dan ini DUA CHAPTER TERAKHIR. Jadi chapter depan adalah chapter terakhir. Horeeeee~ xD
Rencananya sih mau bikin Q&A dengan AkaKuro, dan itu bakalan dibuat setelah chapter akhir, sekalian bales review juga dari chapter awal sampe chapter akhir. Apa ada yang mau bertanya kepada mereka? Batasnya sampe tanggal 31 Agustus aja. Boleh bertanya sama AkaKuro lewat PM atau review, nanti dibales setelah chapter akhir. TANYA APA AJA, BEBAS! Kalau ada minimal sepuluh pertanyaan untuk mereka yang masuk, aku bakal bikin itu.
Akhir kata, mohon review, follow, atau favorite nya. Onegaishimasu *ojigi*
V
V
V
