Aren't you scared?
.
.
.
.
Pagi-pagi sekali, Sungmin sudah keluar dari kamarnya untuk menengok Kyuhyun. Kyuhyun ternyata masih terlelap. Sungmin memegang dahi Kyuhyun, ternyata panasnya sudah turun walaupun masih sedikit hangat. Sungmin menghela napas lega, lalu memperhatikan sekelilingnya.
Saat Sungmin melihat tumpukan pakaian kotor di pojokan, dia mendapat ide. Sungmin segera keluar dari kamar Kyuhyun, menyiapkan ember besar di kamar mandi, lalu memboyong semua pakaian kotor Kyuhyun dan memasukkannya pada sebuah bak.
Sementara pakaian direndam, Sungmin membersihkan kamar Kyuhyun. Dia membuang semua botol-botol air minum, lalu menyapu lantainya. Sungmin melakukan semuanya dalam diam, takut membangunkan Kyuhyun.
Begitu melihat ransel Kyuhyun yang sudah kosong, Sungmin mendelik pada Kyuhyun yang masih mendengkur.
"Dasar pemalas. Jadi, tidak punya baju lagi, kan," katanya, lalu melanjutkan menyapu plastik-plastik kemasan makanan ringan.
"Kau... sedang apa?" tanya Kyuhyun lemah, yang ternyata terbangun karena kesibukan Sungmin.
"Tidak lihat? Menyapulah." jawab Sungmin cuek sambil terus menyapu.
Kyuhyun menatap Sungmin lama, lalu merasa tenggorokannya kering. Kyuhyun menggapai botol air mineral di sampingnya, tetapi karena terlalu lemah, tangannya tak sampai. Tahu tahu Sungmin mengambil botol itu dan menyondorkannya pada Kyuhyun. Ketika tangan Kyuhyun terulur, Sungmin menariknya lagi.
"Aku tidak mendengar kata 'tolong'," goda Sungmin sambil menyengir jail.
Kyuhyun menatapnya sebal, kemudian kembali berbaring. "Tidak jadi."
"Ya sudah," kata Sungmin, sengaja meletakkan botol itu di atas meja yang jauh dari jangkauan Kyuhyun. Kyuhyun sendiri menatap sengit Sungmin yang malah bersiul-siul.
"Tolong," kata Kyuhyun akhirnya.
Sungmin menoleh, cengirannya semakin lebar. Dia mengambil botol itu dan menyerahkannya pada Kyuhyun.
"Bagaimana, sudah baikan?" tanya Sungmin sementara Kyuhyun minum. "Masih pusing?"
"Lumayan," Kyuhyun kembali merebahkan kepalanya yang maih terasa sedikit pusing. Tubuhnya juga masih terasa lemas.
Sungmin mengangguk-angguk, lalu melanjutkan nyapu. Kyuhyun melirik ke arah suatu sudut yang tampak berbeda dari biasanya. Matanya membesar saat menyadari setumpuk pakaian kotornya sudah hilang dari sana.
"Eh... ke mana baju-bajuku?" tanya Kyuhyun bingung.
"Aku cuci. Kau tidak sadar ya, kau sudah tidak mempunyai baju lagi? Dasar jorok," semprot Sungmin. "Dan, kalau kau mau tahu, baju yang sekarang kau pakai itu punyaku. Nanti kalau sudah sembuh harus dicuci terus kembalikan."
Kyuhyun mengamati baju yang sedang dipakainya. Dia baru sadar kalau itu memang bukan miliknya. Dia kembali memperhatikan Sungmin yang sekarang sedang membereskan meja.
"Kau... tidak takut?" tanya Kyuhyun yang membuat Sungmin menoleh. Dia tersenyum.
"Kenapa harus takut?" balas Sungmin sambil bangkit. "Aku akan mencuci bajumu dulu. Ingat, nanti kau harus membayar biaya laundry. Kau memang sakit, tapi bukan berarti kau istimewa."
Sungmin keluar kamar Kyuhyun sambil bersenandung sementara Kyuhyun menatap langit langit kamarnya. Baru kali ini dia diperlakukan seperti ini semenjak dia mengidap penyakitnya.
'Kau memang sakit, tapi bukan berarti kau istimewa.'
Kyuhyun tersenyum. Seandainya saja semua orang seperti Sungmin.
.
.
.
.
.
Setelah selesai mencuci pakaian Kyuhyun yang minta ampun banyaknya, Sungmin segera berangkat kuliah. Kyuhyun membuatnya lupa kalau dia memiliki tugas presentasi. Untung saja, dia sampai di kampus tepat waktu.
Sebelum berangkat tadi, Sungmin sudah menyiapkan makanan untuk Kyuhyun dengan menggunakan piring kertas. Sungmin sengaja membeli dua lusin supaya tidak lagi membuang-buang mangkuk beling.
Saat ini, Sungmin sedang makan di kantin, karena setelah ini dia masih memiliki satu kelas lagi. Sungmin tidak sadar kalau sedari tadi Ryeowook memperhatikannya.
"Min?" panggil Ryeowook, tetapi Sungmin sibuk berpikir menu apa yang akan dia masak untuk Kyuhyun nanti malam. "Sungmin?"
"Hm?" Sungmin bergumam tanpa menoleh.
"Sungmin!" sahut Ryeowook sambil mengguncang tubuh Sungmin.
Sungmin akhirnya tersadar. "Kenapa sih, Wook?"
"Dari tadi aku memangilmu tapi kau diam saja!" sahut Ryeowook kesal.
"Oh, mian," kata Sungmin menyesal. Dia terlalu sibuk dengan pikirannya sampai melupakan kehadiran Ryeowook. "Kenapa, Wook?"
"Ng... itu," kata Ryeowook hati-hati. "Apa benar... Kyuhyun HIV positif?"
Sungmin menatap Ryeowook lama. Sungmin memang belum sempat membicarakan hal ini dengan Ryeowook. Dan, sekarang Sungmin ragu apa harus berterus terang dengan Ryeowook. Tetapi sepertinya, Ryeowook cukup memiliki pikiran yang terbuka.
Perlahan, Sungmin mengangguk. Ryeowook tampak menahan napanya.
"Lalu, bagaimana?" tanya Ryeowook lagi.
"Hm, sampai saat ini dia tidak baik-baik saja. Hanya saja tadi malam dia demam gara-gara kehujanan—"
"Bukan itu," potong Ryeowook membuat Sungmin mengenyit. "Bagaimana denganmu? Apa kau tidak takut?"
Sungmin terdiam sejenak, lalu tersenyum.
"Awalnya aku memang takut. Tapi, Wook, rasa takutku tidak seberapa dibandingkan rasa sakit hati dia," kata Sungmin. "Dia sendirian, Wook."
"Jadi, kau hanya kasihan?" tanya Ryeowook lagi, membuat Sungmin lagi-lagi terdiam.
"Kalau dibilang kasihan..." Sungmin tak meneruskan kata-katanya, berpikir.
"Kalau dibilang kasihan?" cecar Ryeowook. Ketika Sungmin tak kunjung menjawab, Ryeowook menghela napas. "Kau menyukainya, Min?"
Sungmin juga tidak langsung menjawab pertanyaan ini. Ryeowook memegang tangan Sungmin, menatapnya dalam-dalam.
"Min, apa kau sudah siap dengan semua resikonya? Kalau kau menyukainya, itu berarti kau harus siap untuk selalu ada di sampingnya! Kalau ternyata kau hanya kasihan dengannya, kau jangan memberinya harapan!" kata Ryeowook membuat Sungmin menatapnya nanar. "Min, mungkin ini terdengar kejam, tapi kata-katanya waktu itu bukan hanya bohong. Kalian memang tidak punya masa depan. Kau tahu sendiri orang dengan penyakit HIV akan bagaimana nantinya."
"Aku... aku menyayanginya, Wook," kata Sungmin akhirnya, air matanya sudah jatuh.
"Min, sayang aja tidak cukup. Sekarang, mungkin dia terlihat baik-baik saja. Tapi, apa kau tidak berpikir, bagaimana dia lima tahun mendatang? Kalau ternyata nanti kau tidak kuat dan meninggalkannya di masa itu, apa kau pikir dia tidak akan lebih menderita daripada sekarang?" tanya Ryeowook lagi membuat Sungmin terisak.
Ryeowook menggenggam tangan Sungmin erat. "Min, kalau kau tidak yakin, jangan teruskan. Jangan bersamanya karena kasihan. Aku yakin dia juga tidak ingin kau kasihani. Mengerti, Min?"
Sungmin masih terisak. Dadanya sakit memikirkan kebenaran dari kata-kata Ryeowook.
.
.
.
.
.
Sungmin terduduk lemas di depan laptopnya. Dia menggerakkan mouse dan membuka situs mesin pencari. Dengan tangan gemetar, dia mengetik kata kunci 'penyakit HIV', dan hasil yang keluar ribuan. Sungmin mengklik salah satu link dan membaca atikel yang muncul.
Air mata Sungmin jatuh tetes demi tetes seiring dengan banyaknya artikel yang dibacanya. Rata-rata orang dengn HIV hanya memiliki waktu sepuluh tahun sebelum berkembang menjadi penyakit AIDS. Setelah itu, pengidap penyakit itu akan mengalami penurunan berat badan, diare berketerusan, dan berbagai penyakit lain. Pada tahap ini, penyakit ringan sekalipun dapat mengancam nyawa penderita AIDS.
Sungmin menekap mulutnya saat melihat gambar seorang penderita AIDS tahap akhir yang ada di salah satu laman berita. Orang itu tampak mengenaskan dengan hanya tulang berbalut kulit yang dipenuhi bercak merah. Dan, orang ini hanya berusia dua puluh tahun saja.
Sampai saat ini, belum ditemukan penyembuh bagi penderita AIDS. Yang ada hanya obat untuk menghambat penyebaran virus dan menurunkan jumlahnya. Sungmin menemukan info tentang obat yang diminum Kyuhyun, tetapi ternyata obat itu harus diminum secara teratur karena kalau tidak virus akan dengan mudah menajdi resisten. Tidak diminum sekali saja, pengobatan harus diulang dengan peningkatan dosis peminuman.
Sungmin teringat pada Kyuhyun yang tampak tidak peduli pada obatnya yang sudah habis. Kalau begini, tubuh Kyuhyun akan jadi resisten. Kyuhyun bahkan tidak berminat lagi untuk pergi ke rumah sakit dan meminta obat lagi.
Mata Sungmin tiba-tiba membesar saat membaca artikel tentang pengakuan salah satu orang dengan AIDS yang ditolak di sebuah rumah sakit karena alasan yang tidak dapat diterima akal. Rumah sakit tersebut menganggap penderita AIDS sebagai kuman yang dapat mengotori rumah sakit itu.
Sekarang, Sungmin tahu mengapa Kyuhyun enggan pergi ke rumah sakit. Mungkin dia sudah kehilangan kepercayaan pada pihak rumah sakit karena pernah ditolak, walaupun tidak semua pihak rumah sakit melakukannya.
Sungmin menatap tangannya sendiri yang gemetar semakin hebat. Dia tidak pernah menyangka kalau hidup akan membawanya menemukan seorang Kyuhyun. Dan, sekarang Sungmin tidak tahu harus berbuat apa.
.
.
.
.
.
Saat Sungmin berjalan hampa di depan kamarnya, dia melirik kamar Kyuhyun yang tampak sudah terang. Kyuhyun mungkin sudah cukup kuat untuk menyalakan lampu. Sungmin mengetuk kamar
Kyuhyun, kemudian melangkah masuk walaupun Kyuhyun tidak menjawab. Kyuhyun ternyata masih terbaring di kasurnya, tidur. Sungmin menghela napas, teringat pada jemuran yang masih tergantung di lantai atas. Sungmin segera naik untuk mengambil jemuran.
Sungmin mengambil pakaian Kyuhyun yang sudah kering sambil melamun. Pikirannya melayang pada kata-kata Ryeowook tadi siang. Sungmin menatap sweater-sweater Kyuhyun yang ada di pelukannya, lalu terduduk sambil memeluk sweater itu erat-erat. Air matanya sudah mengalir.
Sungmin benar-benar tidak tahu harus melakukan apa untuk Kyuhyun.
Sungmin sedang mebalik-balik baju Kyuhyun ketika Kyuhyun terbangun. Dia memaksakan diri untuk duduk, lalu menatap Sungmin. Sungmin balas menatapnya sambil tersenyum. Kyuhyun tidak balas tersenyum. Dia memperhatikan mata Sungmin yang sembap.
"Sudahlah. Kau tidak perlu membantuku lagiu," kata Kyuhyun. "Tidak perlu merasa bertanggung jawab."
Sungmin terdiam sejenak, lalu tertawa pelan. "Kau berbicara apaan sih, Kyuhyun?" katanya sambil terus membalik baju.
"Matamu. Kau pasti menyesal sudah mengenalku, kan?" tanya Kyuhyun lagi.
"Oh, ini ya?" Sungmin mengucek matanya. "Aku kurang tidur. Kau sangat menyusahkan."
Kyuhyun tak berkomentar. Dia mengamati Sungmin yang seperti menghindari pandangannya.
Sungmin sendiri tertawa kecil, kemudian bangkit. "Aku ambil setrika dulu," katanya, lalu segera keluar kamar Kyuhyun dan masuk ke kamarnya sendiri. Sesampainya di kamar, dia langsung jatuh terduduk dan kembali menangis.
Sungmin merasa seperti orang jahat. Sungmin sudah berbohong pada Kyuhyun dengan mengatakan dia tidak takut. Sungmin sudah memutuskan untuk menemani Kyuhyun. Pada akhirnya, Sungmin masih ragu, tetapi dia tidak tega mengatakan yang sebenarnya pada Kyuhyun.
Sungmin terisak, menyesali dirinya yang tidak bisa tegar. Sungmin tidak sadar, kalau Kyuhyun ada di luar kamarnya, mendengar setiap isakaannya.
Kyuhyun tersenyum miris. Dia tahu ini akan terjadi. Dia tahu tidak akan ada orang yang tahan dengannya. Dari awal, dia sudah tahu, tetapi dia menolak untuk menerimanya. Setengah mati, dia berharap Sungmin adalah orang yang akan menyelamatkannya, tetapi ternyata pikirannya salah.
Tidak ada satu pun yang bisa menyelamatkannya.
.
.
.
.
.
Pukul setengah tujuh pagi, Sungmin membuka pintu kamarnya dan segera melirik pintu kamar Kyuhyun. Semalam, ketika Sungmin akan kembali menyetrika baju-baju Kyuhyun, kamar itu sudah gelap dan pintunya dikunci.
Setelah menghela nafas, Sungmin mengunci pintu kamarnya dan bergerak turun. Hari ini dia ada kuliah pagi. Begitu sampai di bawah, Gary terlihat sedang bersenam-senam pagi.
"Kuliah, Min?" tanya Gary, dan Sungmin hanya menjawabnya dengan anggukan lemah. Gary mengernyit. "Ya ampun, kalian ini. Kenapa lemas banget sih. Tadi pagi Kyuhyun juga begitu. Berjalan sambil melamun seperti mayat hidup."
Mata Sungmin membulat mendengar kata-kata Gary. "Kyuhyun sudah pergi?"
"Iya, setengah jam yang lalu," jawab Gary. "Dia akhir-akhir kenapa semakin aneh, ya? Tidak pernah makan bersama lagi pula."
Sungmin sudah tak mendengar kata-kata Gary. Dia mengeluarkan motornya, lalu segera meluncur ke jalan, meninggalkan Gary yang marah-marah karena lagi-lagi merasa diabaikan.
.
.
.
.
.
"Ke mana saja kau, Kyuhyun?" tanya Donghae begitu melihat Kyuhyun yang sudah menunggunya di tak menjawab, jadi Donghae menatapnya bingung dan duduk di depannya. "Kyuhyun? Kenapa?"
"Hae, aku berpikir untuk pindah flat," kata Kyuhyun membuat Donghae bengong. Namun, detik berikutnya dia maklum.
"Kenapa, sudah semakin serius?" tanya Donghae.
"Dia sudah tau tentang penyakitku," kata Kyuhyun membuat mata Donghae melebar.
"Lalu? Dia menjauhimu?" tanya Donghae hati-hati. Kyuhyun menggeleng.
"Lebih mudah kalau seperti itu," Kyuhyun memainkan kemasan air mineral gelas yang ada di tangannya. Air wajahnya mengeruh. "Tetapi ini sebaliknya."
Donghae terdiam mendengar kata-kata Kyuhyun. Dia sama sekali tidak percaya akan pendengarannya.
"Dia tidak menjauhimu? Jadi, dia menerimamu?" tanya Donghae lagi.
"Menerima..." Kyuhyun bergumam, lalu tertawa miris. "Tepatnya dia kasihan denganku. Dia pikir dia cukup kuat untuk membantuku."
"Tapi...?" kata Donghae.
"Tapi, dia sama aja dengan yang lain. Dia tidak kuat. Aku mendengar dia menangis di kamarnya," Kyuhyun mengambil jeda sejenak. "Aku... aku tidak mau dia terpaksa menerimaku, Hae."
Donghae menatap Kyuhyun, paham dengan perasaannya.
"Beberapa waktu lalu, dia bilang dia ingin menemaniku. Tapi, sekarang setelah dia sadar kalau dia tidak cukup kuat untuk melakukan itu, dia menjadi merasa bertanggung jawab," kata Kyuhyun. "Aku tidak bisa melihat dia susah payah memperhatikanku."
"Karena itu, aku ingin pindah secepatnya. Karena sudah terlalu berat setiap hari bertemu dia," kata Kyuhyun lagi, matanya menerawang hampa. "Sudah terlalu berat."
Donghae menatap temannya itu lama. "Kyuhyun, menurutku kau selesaikan masalah dengannya dulu. Jangan main kabur. Kalau ternyata apa yang kau katakan sekarang hanya sugestimu, kau akan menyesal karena sudah kehilangan orang yang peduli denganmu."
"Hae, kalaupun memang benar seperti begitu, itu memang resikoku. Dari awal seharusnya aku tidak pernah memulainya," sanggah Kyuhyun.
"Oke. Itu resikomu. Tapi, apa kau berpikir sama dengannya? Kalau ternyata dia benar-benar peduli denganmu dan kau tiba-tiba pergi begitu aja?" tanya Donghae lagi. Kyuhyun terdiam sebentar, tampak berpikir.
"Kalau begitu, suatu saat dia pasti akan bersyukur karena tidak mengalami masa-masa suram bersamaku," kata Kyuhyun lagi, menutup pembicaraan.
Donghae pun tak bisa berkata apa-apa lagi.
.
.
.
.
.
Sudah beberapa hari ini, Kyuhyun selalu menghindari Sungmin. Dia selalu bangun dan berangkat lebih pagi, dia juga pulang larut malam di saat Sungmin sudah tidur. Kyuhyun benar-benar tidak ingin bertemu dengannya.
Sungmin sendiri bukannya tidak sadar. Dia sadar betul Kyuhyun sedang menghindarinya. Sekarang sudah pukul sepuluh malam, dan Kyuhyun belum juga pulang. Sungmin melirik kamar Kyuhyun yang masih gelap.
Sungmin menghela napas, tidak mengetahui penyebab Kyuhyun kembali menjadi pemarah. Saat Sungmin berbalik, dia mendapati Kyuhyun yang sedang naik tangga. Kyuhyun langsung membatu melihat Sungmin di depan kamarnya. Hari ini, dia salah perkiraan. Biasanya pada jam seperti ini Sungmin sedang sibuk menulis atau malah sudah tidur.
"Hei. Ke mana saja beberapa hari ini?" tanya Sungmin sambil nyengir. Kyuhyun menatapnya lama, lalu meneruskan perjalanannya ke kamar tanpa menjawab. "Kau sibuk ya, Kyuhyun? Kau punya teman di sini?"
Kyuhyun melewati Sungmin tanpa banyak bicara. Dia mengeluarkan kunci dari saku celana dan membuka pintu kamarnya sementara Sungmin masih berdiri di belakangnya, menunggu jawaban.
Kyuhyun menghela napas lalu berbalik.
"Ini.." Kyuhyun mengeluarkan uang ribuan won dari dompetnya dan menyodorkannya pada Sungmin. "Uang laundry, bubur, obat, dan apalah itu untuk kemarin. Aku tidak suka berhutang."
Sungmin hanya bisa bengong sambil memegang uang itu. Sementara Kyuhyun mengernyit.
"Kenapa? Kurang?" tanya Kyuhyun sambil kembalai mengorek dompetnya, tetapi tangannya segera dicengkeram Sungmin. Kyuhyun menatap perempuan itu yang seperti sudah akan menangis.
"Tidak perlu," kata Sungmin dengan suara tercekat. Dia menyurukkan uang itu ke tangan Kyuhyun. "Aku tidak merasa dihutangin."
"Tapi, aku merasa berhutang. Kau ingin aku membayar dengan apa kalau tidak ingin uang?" tanya Kyuhyun membuat Sungmin melongo.
"Aku... Aku tidak ingin dibayar dengan apapun," kata Sungmin lagi, lalu menggigit bibirnya untuk menahan tangis.
"Oh? Kemarin kau bilang aku harus membayar," kata Kyuhyun lagi.
"Kemarin, aku hanya bercanda," kata Sungmin. "Kau tidak harus membayar apapun."
"Dengar ya," kata Kyuhyun mendekati Sungmin dan menatapnya tajam. "Apa kau merasa kau itu dewi penyelamat? Ingin menambah pahala dengan menolongku, begitu? Tapi, bagaimana ya, aku tidak ingin berhutang budi denganmu. Jadi, lebih baik kau bilang saja aku harus membayar dengan apa. Apa pun akan aku lakukan."
Saat setetes air mata jatuh di pipinya, Sungmin segera menyekanya. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi Kyuhyun. Sekarang, dia sangat membenci Kyuhyun dengan segala sikap menyebalkannya itu.
"Kyuhyun, kalau kau benr-benr ingin membayar, bayarlah dengan perubahan sikapmu." kata Sungmin tegas. "Mulai sekarang, jangan pernah melakukan ini lagi padaku. Jangan pernah berbicara hal-hal kasar lagi denganku. Itu bayarannya. Bisa?"
Kyuhyun menatap Sungmin lama. Sungmin membalasnya dengan berani. Kyuhyun kemudian terkekeh, membuat Sungmin bingung.
"Kau sangat pintar ya," kata Kyuhyun, masih tertawa pelan. Dia berhenti tertawa dan menatap Sungmin tajam. "Kau sangat pintar akting. Seharusnya kau menjadi artis bukan penulis."
Sungmin menatap Kyuhyun tak percaya sementara Kyuhyun bergerak ke kamar. Sebelum Kyuhyun masuk ke kamarnya, dia menoleh pada Sungmin yang masih membatu.
"Aktingmu membuatku hampir percaya. Aku salut padamu," katanya, lalu masuk dengan membanting pintu.
Sungmin masih terdiam untuk beberapa lama, sampai akhirnya air matanya kembali menetes dan kakinya tak kuat untuk menopangnya. Dia jatuh terduduk di depan kamarnya dengan air mata mengalir deras.
Tadi, Sungmin tak bisa membalas perkataan Kyuhyun, karena dia tahu Kyuhyun benar. Selama ini, Sungmin begitu munafik di depan Kyuhyun, mengatakan hal-hal yang baik, padahal hatinya masih ragu. Orang seperti Sungmin tidak layak untuk menemani Kyuhyun.
Bukan salah Kyuhyun kalau dia menganggap kebaikan Sungmin selama ini hanyalah akting. Sungmin tahu betul akan hal itu, tetapi dia tidak tahu apa yang membuatnya sesakit ini.
.
.
.
.
-ToBeContinue-
.
.
.
.
