.
.
Naruto © Masashi Kishimoto-Sensei
.
.
.
Falling in Love
.
.
.
Don't like don't read
.
.
Sakura's POV
.
.
Aku merasakan ada seseorang yang membelai rambutku, kemudian aku mendengar ia bergumam "Cepat sembuh."
Aku merasa dunia berhenti berputar saat mendengar suara itu, itu suara Sasuke-kun—ia membelai rambutku—aku kembali memimpikannya? Apa aku berhalusinasi lagi ? Aku mengabaikannya dan tetap membiarkannya membelaikanku, tapi kemudian belaian itu tiba-tiba tidak lagi aku rasakan, aku merasa sedih, sampai-sampai aku tidak mau membuka mataku—kalau benar aku hanya bermimpi, aku ingin merasakan belaian itu lagi—
Cukup lama aku berdiam diposisi tidurku, kemudian belaian itu datang lagi, aku ingin tahu apa ini mimpi apa benar-benar nyata, aku mencoba membuka mataku dan belaian dirambutku—pun berhenti, aku meyipitkan mataku yang masih berkunang-kunang karena efek aku tertidur, aku mengedipkan mataku berkali-kali dan semakin jelas sileut orang itu di mataku.
Aku membuka mulutku, "K-kau …"
Orang itu tersenyum ke arahku, "Aku membangunkan-mu Sakura?" tanyanya.
"A … Tidak, kau tidak membangunkanku." jawabku masih mengedipkan mataku berkali-kali, apa aku tadi bermimpi? Sungguh suara tadi benar-benar suara Sasuke-kun, tapi kenapa yang di hadapanku sekarang—
"Oi Toneri!" aku meneloh dan mendapati Ino berseru saat memasuki kamarku. "Kenapa kau meninggalkan kami di bawah, dasar!"
"Inooo …" Matsuri memotong pembicaraan Ino. "Kau tidak lihat apa? Sakura sedang sakit, bisa-bisanya kau bersuara keras begitu."
"I-iya Ino-chan, S-sakura-chan juga butuh k-ketenangan." Hinata ikut bicara masih seperti biasa dengan suara malu-malunya.
"Baik baik aku salah, aku minta maaf." jawab Ino sarkasme.
Aku bangun dan bersandar di sandaran kasur, Toneri berdiri dari duduknya, "Maaf, aku hanya penasaran dengan keadaan Sakura." jawab Toneri.
Ino mendekat ke arahku sambil mendengus, "Hei … Forehead! Toneri khawatir denganmu seharian ini, sampai-sampai kami di tinggal, kau tahu sendiri-kan?" aku menatapnya sambil mengernyitkan dahi. "Dan ada apa denganmu? Kenapa kau tidak mengabari kami kalau kau sakit? Dan kenapa ponsel-mu susah sekali dihubungi?" Ino menyerbuku dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatku pusing.
Matsuri mendekat dan duduk di samping kananku, "Jangan dengarkan Ino, Sakura," ucapnya. "Padahal dia sendiri yang khawatir denganmu."
Ino melotot ke arah Matsuri, aku sudah terkikik geli melihat tingkah mereka. "Mana Gaara?" tanyaku, mengabaikan pertanyaan Ino.
"Dia ke Suna, karena ada urusan dengan keluarganya dan mempersiapkan acara ulangtahunnya di Villa keluarganya, dia minta maaf karena tidak bisa menjengukmu, dia bertanya kalau kau tidak bisa ikut acaranya, dia bisa memakluminya, dia juga sempat mengirim pesan, isi pesannya sama dengan apa yang aku ucapkan tadi." Matsuri menjawabku sambil memasang wajah sedih.
Aku tersenyum, "Aku datang Matsuri, aku sudah lebih baik sekarang," jawabku. "Lagipula aku tidak ingin melewatkan suasana Suna, aku sangat rindu kampung halamanku di sana."
Mereka kemudian tersenyum dan Ino kembali menatapku intens, "Jadi—ada apa denganmu? Kemarin kau baik-baik saja dan kenapa ponselmu tidak kau angkat-angkat saat kami mencoba menghubungimu?" Ino mendekat dan duduk di tempat Toneri tadi. "Kau benar-benar tidak ingin diganggu ya?"
"Bukan begitu," aku mendesah, "Ponselku hilang."
"Apa!" Ino beseru hampir seperti berteriak dan kami dibuatnya tutup telinga dan mata. "Maaf aku berlebihan, kenapa bisa hilang? Kau sudah coba cari? Kau sudah bilang ke orangtuamu? Kau menghilang—"
"Ino…." Potongku. "Bisakah kau pelan-pelan bertanyanya?"
"Baiklah … maaf sudah berlebihan lagi," Ino berkata begitu tapi raut wajahnya tidak ada rasa bersalahnya. "Jadi tolong ceritakan lebih rinci semua yang aku tanyakan tadi."
Aku menghela nafas, aku mau membuka mulutku tapi Toneri bersuara terlebih dahulu, "Maaf menganggu acara kalian, tapi boleh aku bertanya ini ponsel siapa?" katanya sambil menunjuk ke arah meja di samping tempat tidurku. Aku, Ino, Hinata dan Matsuri melihat arah tunjuknya.
"Bukannya itu ponselmu, Forehead?"
"B-bagaimana bisa di sini?" tanyaku bingung, aku mencari ponselku di meja itu tadi pagi, tapi tidak ada disitu dan dimana-mana pun aku mencari juga tidak ada. Kenapa tiba-tiba ada disitu?
"Kau bilang ponselmu hilang, lalu yang kau maksud hilang ponsel siapa, Sakura?" Matsuri bertanya.
Aku mengambil ponselku lalu melihat pesan-pesanku sudah dibaca dan riwayat ponselku pun sudah dilihat juga, aku mengenyitkan dahi, aneh aku tidak sedang bermimpikan? Aku tadi pagi benar-benar sudah mencarinya dan ponselku tidak ada di meja itu.
"Hei Forehead! Kau tidak hilang ingatan kan?" Ino membuatku memandangnya. "Apa kau berhalusinasi atau apa?"
Aku menggeleng, "Aku ingat betul Pig, kalau tadi pagi aku mencari-cari ponselku, tapi tidak ada dimana-mana," jelasku. "Tapi kenapa tiba-tiba ada di meja?"
"M-mungkin ada yang menemukannya l-lalu dit-taruh di meja, S-sakura-chan." Hinata yang berdiri sejajar dengan Toneri angkat bicara.
Aku memandang Toneri, "Kau yang menemukannya Toneri?" tanyaku.
Toneri menggeleng pelan. "Tidak, aku sudah melihatnya disitu waktu aku datang kemari."
Ini aneh, jelas sangat aneh, aku tidak tahu ada orang lain yang masuk ke kamarku, apa Kaasan yang masuk? Apa Sasori-nii sudah pulang dan menaruhnya di sini? Ini semakin membuatku pusing.
"Ada apa Sakura?" Toneri bertanya sambil memasang wajah khawatir.
Aku memegang erat ponselku, "Tidak ada apa-apa, Toneri."
"Sudahlah—yang terpenting ponselmu sudah kembali." Ino benar, yang terpenting ponselku sudah kembali. Aku sedikit tenang sekarang, mungkin aku harus bertanya ke Sasori-nii mengenai hal ini.
"Kau sudah menyiapkan kado apa ke Gaara?" pertanyaan Ino membuatku ingat sesuatu.
"Oh sial!" seruku tiba-tiba. "Aku belum menyiapkan kado untuk Gaara."
Ino mendesah, "Sudah ku duga," ucapnya sambil menyibak poninya. "Kami berencana mencari bersama."
Saat aku mau membuka mulut , seseorang datang ke kamar, ternyata Kaasan membawa nampan berisi minuman dan cemilan, "Ini anak-anak," serunya. "Buat kalian nyaman ya."
Semua tersenyum, "Terima kasih Ba-san." Mereka berucap sambil tersenyum.
Kaasan menaruh nampan di meja belajar ku, "Sama-sama," jawabnya dengan senyum di wajah ke—ibuannya. "Oh … mana laki-laki tampan yang satunya?"
Aku mengernyitkan dahiku, "Toneri maksud Kaasan?" tanyaku.
"Aa … bukan, dia laki-laki yang dingin tapi kelihatannya baik," jawab Kaasan. "Tadi Kaasan menyuruhnya menjagamu sebentar soalnnya Kaasan keluar ke rumah bibi Kurenai yang ada di samping rumah kita, tadi waktu dia datang belum ada Ino dan lainnya, dia datang lebih dulu sepertinya, terus tadi waktu pulang ke rumah Kaasan lihat Ino, Hinata, Matsuri dan Toneri kemari, jadi Kaasan pikir dia temanmu makanya Kaasan menyiapkan 5 minuman, apa dia sudah pulang ya?"
Aku bingung di buat Kaasan, Ino mendekat ke arahku dan membisikkan sesuatu, "Memang siapa yang tadi berkunjung ke kamarku, Forehead?!"
Aku mengabaikan pertanyaan Ino, aku melihat ponselku, siapa yang berkunjung kemari? Aku tidak punya teman laki-laki yang tahu tempat tinggalku? Siapa kira-kira orang itu? Apa dia yang mengembalikkan ponsel-ku?
"Kaasan … Sasori-nii sudah pulang?" tanyaku.
Kaasan menggeleng, "Belum, Sasori-kun belum pulang."
Aku memikirkan seseorang saat ini dan pertanyaan ini muncul dari mulutku, "Seperti apa laki-laki itu?"
Dan jawaban Kaasan membuatku kaget, "Dia tampan, tinggi, mempunyai mata hitam seperti mata elang, rambut hitam dan dia bilang namanya Sasuke, a yaa Uchiha Sasuke."
oOo
Sasuke's POV
.
.
Aku memakirkan mobilku, keluar dari mobil menyusuri pelantaran menuju ke pintu masuk, aku mengetuk pintu rumah dan di sambut hangat, aku memasuki rumah itu dan memasuki kamar di lantai dua dengan pintu berkayu jati, aku membuka dan mendapati orang yang aku kunjungi sedang bermain game, dia tahu kehadiranku dan berteriak.
"Yo Teme!"
Aku menutup mataku sambil mendesah, aku masuk dan merebahkan diri di kasurnya, aku sekarang di rumah maniak ramen, si usuratonkachi—Naruto.
"Hei – setidaknya kau balas sapaanku, Teme!"
"Hn." Jawabku singkat.
Aku mendengarnya berdecak, "Dasar! Kenapa kau akhir-akhir ini sering ke rumahku?" tanyanya masih berfokus di layar televisi.
Aku menumpu tanganku menjadi sandaran kepalaku, "Hn, tidak ada apa-apa," jawabku. "Aku hanya bosan di rumah."
Naruto tidak lagi bertanya karena sibuk dengan game—nya dan aku menutup mataku, membayangkan kejadian yang barusan aku alami, aku benar-benar tidak bisa berhenti memikirkannya—ini membuatku sesak, rasanya ingin berbicara, bersama, melihatnya terus tiap hari.
Aku kembali memutar kejadian yang terjadi bebarapa saat yang lalu.
Flashback ON
.
Sialan Sasori! Dia melarikan diri, aku bahkan tidak sadar saat dia mengendap-endap di belakang ku.
Aku memasuki mobilku dan meluncur meninggalkan gedung Universitas Konoha, aku tiba-tiba memikirkan Sakura gara-gara melihat Shion sudah memakai kalung pemberiaan Sasori, apa Sasori sudah memberikan kalung yang aku suruh berikan ke imouto-nya? Apa Sakura menyukai kalung—nya? Aku memikirkan ini sampai tidak sadar lampu sudah menyala hijau, aku sudah sampai di pertengahan jalan menuju rumahku, kemudian aku mendengar ponsel berdering, aku mengecek ponselku, bukan ponsel-ku yang berdering, lalu ponsel siapa yang berdering?
Terdengar lagi ponsel berdering, aku lalu menepikan mobilku ke pinggir jalan, aku membungkuk mencari ke sumber suara dan aku menemukan ponsel flip yang masih berdering, ponsel siapa ini?
Setelah deringnya berhenti aku melihat dan aku membelalak, ini ponsel Sakura. bagaimana bisa ada di sini? Aku kemudian terdiam dan teringat semalam aku membiarkan—nya tertidur di sini dan aku juga mengantarnya pulang ke rumah. Mungkin saja ponselnya terjatuh waktu aku menggendongnya atau saat dia bergerak mencari posisi yang nyaman.
Aku mengambil ponselku dan menelpon Sasori.
Panggilanku sudah tersambung tapi masih lama ia menjawabnya, mungkin mereka sedang bercumbu—lagi, sudahlah itu bukan urusanku kalau mereka berciuman lagi.
"Hallo, ada apa?"
"Kau dimana?" tanyaku to the point.
"Aku sedang ada urusan dengan Shion, ada apa Sasuke?" aku tahu kau ada urusan dengan imouto-ku, sialan!
"Ponsel Sakura tertinggal di mobilku, kau ada dimana? Aku susul." aku malas berbasa-basi.
Aku kira aku mendengar Sasori menahan tersenyum, sepertinya sekarang ia menyeringai dan ini membuat perasaanku tidak enak, "Tidak Sasuke, kau yang harus mengantarkannya langsung ke orangnya." sudah aku duga akan dijawab seperti itu.
"Kenapa harus begitu?" tanyaku.
Sasori cukup lama terdiam, "Karena kau yang menemukan ponselnya," aku mendesah, dia benar-benar sama dengan Itachi-nii, penuh dengan omong kosong. "Sakura juga sedang sakit di rumah, kau bisa menjenguknya kalau mau."
Apa? Dia barusan bilang apa? "Sakura sakit?!" tanyaku dengan suaraku yang naik beberapa oktaf.
"Iya dia sakit, dia tidak masuk sekolah hari ini." aku merasakan darahku mengalir deras mendengar ucapan Sasori yang terdengar santai begitu.
Aku mendesah lagi, "Ini gara-gara kau yang bodoh mengajak Sakura keluar dengan pakaian tipis, ya sudah aku akan ke rumahmu saja." aku tiba-tiba saja memerahi Sasori dengan menaikkan suaraku—aku saja kaget dengan suaraku yang memenuhi mobilku.
"Oke .. aku mengaku bersalah padamu, baiklah Sasuke, jaga imouto-ku kalau sudah sampai sana ya." benar-benar Sasori, awas saja dia.
Aku menutup ponselku dan mengandahkan kepalaku di sandaran kursi mobil, Sakura sakit—dan aku kenapa merasa khawatir dengannya? Aku harus cepat-cepat ke sana dan mengembalikkan ponsel-nya dan menjenguknya. Iya aku harus segera kesana!
Ponsel Sakura tadi berbunyi saat aku sedang menelpon Sasori, tapi si Sasori tidak terusik dengan suaranya karena mungkin juga aku berada di pinggir jalan jadi suaranya teredam dengan transportasi yang berlalu lalang.
Baru saja ponsel—nya berhenti berbunyi, ponselnya kembali berdering tanda telefon, dan saat aku melihat id-call yang menelfon aku menggenggam ponsel Sakura dengan kencang.
Ini dari—Toneri.
Aku tidak mengangkat panggilan manusia berambut perak itu, aku melihat layar yang berkedip bergetar ini dengan malas, niat sekali dia menghubungi Sakura sampai lama—nya seperti ini.
Ponselnya berhenti berdering dan terlihat panggilan telepon dari Toneri berjumlah hampir 50 panggilan tidak terjawab.
Tidak bisa dipercaya.
Kalau ini benar-benar dibawa Sakura, apa yang akan ia lakukan dengan panggilan yang membengkak ini? Aku melihat riwayat panggilan telepon Sakura, Ino sebanyak 11 kali, Gaara sebanyak 5 kali, aku mendengus melihat begitu banyak panggilan yang dibuat manusia berambut perak itu, bahkan sepupu dan sahabat—nya tidak sebanyak dirinya.
Aku menggelengkan kepala, apa aku barusan seperti marah? Kenapa aku harus marah dengan si manusia berambut perak itu menelpon Sakura?
Aku mau menutup kembali ponsel Sakura tapi bunyi singkat dari ponsel—nya membuatku melihat kembali ke layar, ada pesan masuk, tahu-tahu aku sudah menekan tombol lihat tanpa bisa aku cegah.
Kau baik-baik saja Sakura? aku khawatir denganmu, hubungi aku kalau kau sudah merasa baikkan-Toneri
Wow! Sungguh manusia berambut perak ini membuatku ingin menonjok—nya karena mengirim pesan seperti ini ke—Sakura.
Dan kenapa aku tiba-tiba melihat ke bawah kotak masuk Sakura, semua pesan masuk hanya manusia perak itu saja yang mengirim, sedangkan sahabat dan sepupunya hanya mengirim satu pesan saja.
Aku membuka pesan Toneri.
Kau dimana? Kenapa tidak ke sekolah?- Toneri
Aku mendengus membaca isi pesan ini, dia pikir dia siapa?
Ku dengar kau sakit, apa sakit-mu parah?-Toneri
Aku membuka pesan lainnya.
Apa kau masih merasa sesak karena kemarin? Kau kurang mengeluarkan penat hatimu waktu aku membawamu ke puncak?- Toneri
Aku terdiam membaca isi pesan ini, apa yang ia ketahui tentang Sakura? tiba-tiba aku merasa iri dengannya yang tahu segala—nya tentang Sakura yang tidak aku ketahui, bahkan ia membawa dan menghibur Sakura.
Aku hampir tergoda untuk menelpon balik manusia berambut perak itu untuk membuatnya jera dan berhenti mengirim pesan dan menelpon Sakura, tapi sisi rasionalku menyadarkan—ku untuk sabar, kalau aku bukan siapa-siapa Sakura. pesan Toneri sudah aku baca semua.
Aku juga melihat isi pesan sahabatnya.
Forehead! Kau dimana? Kenapa kau susah sekali dihubungi? Kau sakit apa?-Ino
Dan satu pesan lagi dari sepupunya.
Yo Pinky! Kau juga bisa sakit juga? Haha bercanda. Maaf aku tidak bisa menjengukmu, aku ada urusan di Suna dan mengantur acara ulangtahunku di sini—di villa keluargaku, kalau kau tidak bisa datang aku memakluminya, cepat sembuh pinky .-Gaara
Aku langsung menutup ponsel flip-Sakura, apa yang barusan kulakukan? Aku membuka-buka privasi seseorang, kenapa aku selalu penasaran dengan dunia-nya Sakura, aku menyandarkan kepalaku di kemudi dan mendesah keras, bagaimana aku bersikap tidak sopan seperti ini hanya karena seorang gadis bernama—Sakura?
Baru saja ponsel Sakura aku tutup, ponselnya kembali berdering, aku melihat nama Toneri muncul di layar, aku memegang ponsel Sakura dengan erat—lagi, dia masih tidak menyerah? Aku menunggu dia selesai menelpon dan setelah selesai aku mengubah nada-nya menjadi diam lalu menutup kembali ponsel-Sakura.
Aku menjalankan mobilku dan memutar arah menuju perumahan Gakure, aku menancap gas dengan kecepatan maksimal.
oOo
.
.
Aku sudah sampai di depan rumah Sasori dan Sakura, aku mengetuk pintu, beberapa detik menunggu seseorang membuka—kan pintu untukku, di hadapanku berdiri wanita paruh baya dengan wajah keibu—anya memberikan senyuman ke arahku.
Aku membungkuk, "Permisi, apa Sakura ada?"
Ia membuka lebar-lebar pintu dan masih memasang senyum menyeringai ke arahku, "Kau temannya?" ucapnya dengan nada senang, aku langsung menduga wanita ini Kaasan Sakura dan Sasori.
Aku sedikit canggung tapi dengan senyum tipis aku mengangguk, "Ya, aku ingin menjenguk—nya"
"A … ayo masuk masuk, dia sedang istirahat di kamarnya," ia menggeser badannya dan mempersilakanku masuk, aku masuk dan mengikuti-nya berjalan sejajar dengannya. "Siapa namamu?" tanyanya.
Aku memandangnya dan menjawab. "Sasuke, namaku Uchiha Sasuke."
"Aku seperti pernah mendengar nama itu?" ucapnya. "Terdengar tidak asing."
Aku hanya bisa tersenyum.
Kami kemudian terdiam saat menuju kamar Sakura.
Kami sampai di depan kamar Sakura, aku sudah pernah kemari—kemarin malam tepatnya, saat aku mengantarnya pulang dan membawanya ke kamarnya, "Dia tertidur, mungkin itu efek dari obat yang dia minum," Ba-san membukakan pintu kamar Sakura dan aku masih berdiri sejajar dengannya. "Aku minta tolong jaga sebentar Sakura, aku ingin keluar sebentar." pintanya.
Aku memandangnya. "Tentu Ba—"
"Kaasan," ucapannya membuatku kaget. "Panggil Kaasan saja." Ia berucap sambil tersenyum lembut ke arahku, aku masih kaget dengan ucapnya tapi aku memasang senyum lebarku.
"Baiklah," Ucapku, tiba-tiba aku merasa panas saat menyebutnya dengan sebutan— "Kaasan bisa mengandalkanku."
Ia kemudian menyeringai lebar, aku merasa senang melihatnya tersenyum bahagia. "Kalau begitu aku percayakan Sakura padamu, kalau begitu aku pergi dulu nak." Ia pergi meninggalkanku dengan senyum masih menghias di wajahku dan aku merasakan pipi-ku memanas saat ia memanggilku nak.
Aku berjalan mendekat ke kasur, kemudian duduk di samping ranjang Sakura, aku melihat Sakura yang masih terlihat pucat karena memang dia tidak memakai polesan make-up apapun, aku masih memandangnya dengan intens, aku melihat lehernya—belum ada apa-apa di sana, apa Sasori sudah memberikan kalungnya atau belum? Apa Sakura tidak menyukai kalungnya dan tidak mau memakainya? Ini membuatku takut kalau benar begitu dan tanganku tiba-tiba bergerak menuju pipinya, aku mengelus pipinya yang cubby, aku beralih membelai rambut pink-nya yang halus. Aku merindukan senyum malu-malu dan mata emerland-nya yang indah saat menatapku.
Aku masih membelai rambutnya sambil bergumam, "Capat sembuh." Saat aku berucap itu, aku melihat matanya yang bergerak, aku menarik tanganku dan berdiri, aku mengganggu istirahatnya, aku mengambil ponsel flip-Sakura dari kantong celanaku dan menaruh ponselnya di meja samping tempat tidurnya.
Setelah itu aku berjalan meninggalkan Sakura dan menutup sedikit pintu kamarnya tanpa menutupnya. Aku berlalu meninggalkan rumah Sakura dengan hati yang tiba-tiba merasa tidak rela, aku memasuki mobilku dan meninggalkan rumah itu.
Perjalanan yang aku lalui membuatku merasa sesak dan gundah, aku ingin terus berada di sampingnya, menjaganya, memandangnya di saat apapun itu.
Aku ingin terus di sampingnya.
Aku menatap jalan di depanku dengan perasaan campur aduk, dan sampailah aku di sini—di rumah Naruto.
FLASKBACK OFF
.
Sebenarnya ada apa denganku?
Setiap berdekatan dengan Sakura hatiku berdebar-debar, mendengar Sakura bicara pun membuatku senang, apalagi melihatnya tersenyum—ya meski wajah stoic yang selalu aku pamerkan tapi di dalam, aku merasa senang melihat kecerian Sakura, melihatnya terbaring sakit membuatku ingin terus di sampingnya, aku baru mengenalnya dan ini aneh bagiku kalau aku terus memikirkannya—karena ia baru datang dikehidupanku.
Aku membuka mataku, Naruto masih sibuk dengan urusanya, "Oi Dobe." Panggilanku masih tidak membuatnya berpaling dari game di depannya.
"Hn," jawabnya kemudian.
Aku mengabaikan sikapnya dan kemudian mendesah, "Kau pernah jatuh cinta?" tanyaku kemudian, masih dengan posisi tidurku yang telentang.
Dia sejenak terdiam terbukti dia menghentikan permainan game-nya, aku mendengarnya berdeham, "Jatuh cinta?" tanyanya.
Aku mendesah, apa aku benar kalau bercerita dengan-nya tentang masalah ini?
"Oi, aku bertanya?" ia berseru dan beralih menatapku.
Aku mendesah lagi, "Ya—kau pernah jatuh cinta?"
Kemudian ia menyeringai seperti orang bodoh, "Kau sedang jatuh cinta, Teme?" ini tidak membantu, ia jelas-jelas akan menggodaku. Sialan!
Aku berdecak, "Aku bertanya padamu, usuratonkachi!"
"Kau bilang apa?"
"Usurantonkachi!" jawabku sarkasme.
"Kau bertanya tapi mengatai orang!" Naruto menjawabku sambil berbalik membelakangiku dan mem-play game-nya lagi.
Aku mendesah, "baik Dobe, aku tarik kata-kata ku lagi," ucapku. "Sekarang jawab pertanyaanku."
"Pertanyaan apa?"
Aku bersumpah kalau ia tidak sahabatku sudah ku lempar keluar dari jendela kamar ini, "Kau tahu maksudku, Dobe."
Ia berbalik lagi ke arahku, "Aku benar-benar tidak tahu maksudmu?" jawabnya. "Jadi—pertanyaan apa yang kau maksud."
Ini tidak akan selesai kalau dengan Naruto, tapi aku perlu bicara, perlu masukan dengan apa yang aku alami sekarang. Dan aku merasa Dobe—orang yang pas untuk aku mintai tolong dan juga pendapat.
"Kau pernah jatuh cinta?" Kataku kemudian, mencoba mengalah darinya.
Ia sepenuhnya berbalik arah menghadapku dan duduk di samping aku berbaring, "Pernah," jawabnya. "Dan sekarang aku sedang jatuh cinta."
Aku meliriknya, perubahan wajahnya tampak di sana, terlihat semburat merah muncul di kulit tan-nya, "Kau sedang jatuh cinta?" tanyaku mengulang kata-katanya.
Ia mengangguk semangat, "Iya—aku selalu memikirkannya akhir-akhir ini, padahal aku baru mengenalnya." Ini sama denganku, kenapa kebutulan begini.
Aku terdiam mendengar cerita Naruto, "Bukan masalah buatku kalau aku baru mengenal-nya atau sudah lama mengenalnya, yang namanya cinta sudah ditentukan dengan sendirinya, aku awalnya memang menyukainya saja, tapi lama-lama aku pikir aku sudah jatuh cinta denganya."
Naruto sama denganku, aku ingin mengakui kalau ternyata aku benar-benar memikirkan—nya akhir-akhir ini, tapi aku perlu mengetahui apa benar perasaanku ini? Benar kalau aku mencintai-nya?
"Kau tahu siapa gadis yang aku cintai itu, Teme?" aku menatap sahabat pirangku ini, "Hinata, sahabat—nya Sakura-chan dan dia juga sepupu—nya Neji," ucapnya dengan seringai lebarnya. "Bukankah ini kebetulan? Aku mengenal kakaknya, tapi aku tidak pernah tahu kalau aku akan jatuh cinta dengan adik dari temanku sendiri." Ini jelas-jelas sama dengan yang aku alami. Naruto dengan terang-terangan mengakui kalau ia menyukai ah bukan mencintai gadis itu.
"Kenapa kau bertanya. Teme?" Naruto menatapku intens.
Aku masih bersandar dengan tanganku menjadi bantalan, "Tidak ada apa-apa, kenapa kau bisa mencintai-nya, Dobe?"
Ia mengangkat bahu, "Entahlah, itu datang dengan sendirinya, kau tidak perlu alasan untuk mencintai seseorang, Teme. Perasaan itu muncul secara tiba-tiba tanpa bisa kau cegah."
Aku tidak bisa membatahnya, itu benar, aku merasakannya, aku bisa mengerti ucapannya.
"Tapi aku suka melihat sikap malu-malunya, rambut panjangnya, mata lavender-nya, pipinya yang selalu bersemu merah, badannya yang mungil dan ada dua buah yang dia miliki itu, ehm— besar." Aku memperhatikan ia mendiskripsikan bagaimana si Hinata itu, saat sampai dia sampai di bagian yang intim aku mengernyitkan dahi.
"Apa kau baru saja bilang kalau kau menyukai dadanya yang besar, Dobe?"
Ia berkesiap. "Eh! Bukan—bukan itu maksudku, aku meyukai semua tentangnya," kelihatannya dia malu, aku mendengus. "Aku sudah bilang bukan itu maksudku, Teme! Kan sudah ku bilang, cinta tidak perlu alasan kenapa kau bisa mencintainya."
"Iya iya aku tahu itu, Dobe." Kataku mencoba membuatnya berpikir kalau aku memang tidak terlalu peduli dengan ucapannya tentang bagaimana si Hinata itu, karena saat ini, bayang-bayang tentang Sakura mengisi otakku.
Bagaimana awal aku bisa bertemu dengannya, mengenalnya karena dia ternyata adik dari temanku, bagaimana aku tahu dia bersikap aneh dengan hobinya yang melamun, itu aku tahu dari Sasori saat aku bertamu ke rumahnya, bagaimana dia kuat membawa barang-barang yang berat, bagaimana aku tahu dia mencintaiku? Ya dia mencintaiku, dan bagaimana aku bisa cemburu dan marah setiap Sakura berdekatan dengan manusia perak satu itu. Semua ini terjadi begitu saja, membuatku yang menganggap jatuh cinta hanya sebuah lelucon dengan sendirinya mampu membuatku menjadi seperti ini. Karena aku jatuh cinta dengannya—dengan Sakura.
Aku tiba-tiba tersenyum karena memikirkan Sakura, "Ada apa denganmu, Teme?" suara barinton Naruto membuatku menghilangkan senyumku.
Aku berdeham, "Tidak ada apa-apa."
Naruto tiba-tiba mendekat dan menatapku intens, ini membuatku tidak nyaman, "Ada apa dengamu?" tanyaku sambil bangkit dari tidurku dan duduk di pinggiran kasur.
Naruto masih menatapku lekat-lekat, "Sekarang kau berbeda, Teme," ucapnya. "Apa ini ada hubungannya dengan Sakura-chan?"
Aku melotot ke arahnya, "Apa maksudmu?" dan ia tadi bilang apa? Sakura-chan? Sejak kapan dia memanggil Sakura dengan suffik-chan? "Dan apa-apaan kau ini, memanggil Sakura dengan embel-embel chan?" tanyaku sarkasme.
"Kenapa? Sakura menginjikanku memanggilnya begitu, kenapa kau marah?" ucapnya masih menatapku intens, ini tidak adil karena Naruto bisa memanggil Sakura dengan embel-embel chan. "Kenapa Teme? Kau cemburu yaa?" dan senyum seringainya membuatku ingin menonjoknya.
"Diamlah, Dobe!"
"Tidak perlu malu, Teme!" Naruto mulai menggodaku, "Aku tahu kau juga sedang jatuh cinta."
Aku mengernyitkan dahi, "Apa maksudmu?"
Ia berdecak, "Kau bertanya padaku, padahal sekarang kau sedang mengalaminya juga, benarkan?"
"Aku tidak mengerti maksudmu, Dobe!" aku sungguh malas kalau Naruto terus-terusan menggodaku.
Senyum seringai Naruto masih terpatri di wajah rubahnya, "Kau tahu apa yang aku maksud, Teme."
Aku mengabaikannya dan berdiri, "Kau mau kemana?"
"Pulang!"
Aku mendengar Naruto tertawa dan ucapannya membuatku merasakan panas di pipiku, untung aku sudah keluar kamarnya.
"Kau jatuh cinta,Teme."
"Kau jatuh cinta dengan Sakura."
.
.
.
=To be Countinued=
.
.
Thank's for:
AAAlovers (Ehm … Toneri bukan ya? Hehe disini nanti ketahuan siapa kok )
Uchiha Lady Haruno (sudah lanjut ini ya :D maap lama)
hanazono yuri (Kapan ya senpai? Nanti deh liat sendiri ya senpai hehe ini udah dibikin Sasu-nya cemburu, kalau kurang maap ya;') hihi :*)
dianarndraha (wokeh ini sudah lanjut yapp :*)
Floral White (kyaaa … mimpi apa indah ini ? di-reiview sama senpai *terbang* gak bikin bingung kok senpai, indah maksud yang di jelasin senpai, chap ini semoga memenuhi syarat yah aminn ehehe:D ditunggu masukkannya lagi senpai, arigatoo :*)
Guest
chiu (haha … indah juga semangat nih! Yosh ! jngan salah kira lagi yaa, ini masih chapter 7, yang chapter 1 prolog ehehe. Makasih udah review ya :*)
ayato ruki (Yosh! Sudah lanjutnya ini hehe :D)
aoi-san (makasih yapp *peluk cium* :* ini sudah lanjut yaapp :D)
.
Makasih yang udah review dan makasih juga buat silent reader :*
Maap juga kalau update-nya lama, sedikit curcol, gara-gara ngebikin Saku sakit malah indah jadi sakit, tapi Alhamdulillah bisa nyelesain FFn gara-gara cuti kerja karena sakit, jadi kalau chapter depan lama update, mohon maklum yahh, mungkin bakalan disibukin kerja. Hehe malah jadi curcol-nya kepanjangan, sudah yaa, sampai jumpa di chapter depan ^^
Review, please :)
