I Hate Him, But I Love Him!
Kamichama Karin©Koge-Donbo
T/Romance & H/C
Warning: Typo(s), OOC!
-KazuRin-
Haruka Hitomi 12 proudly presents...
-Chapter 8-
.
"Rasanya adegan romansanya kuraangg!" suara Kirio menggema. Miyon yang duduk disampingnya menggeleng-geleng.
"Sudah banyak. Lihat?" ucap gadis itu.
"Tambahkan lagi! Romansa bagaimana?! Adegan cium pemeran utamanya tak ada!" seru pria itu lagi menggunakan toa-nya yang membuat beberapa kru menutup telinga dan buru-buru menjauh.
Miyon memutar bola matanya, "Oke, oke. Akan kutambahkan. Tapi kita harus membicarakannya dengan Kazune-san juga. Ah, kebetulan dia disitu. Kazune-san! Bisa bicara sebentar?"
Kazune yang tengah melintas terpaksa menghampiri Miyon yang tadi memanggilnya. Lelaki itu mendekat lalu duduk di kursi disamping Kirio, "Apa?" tanyanya datar.
"Ehem, Kirio-san ingin menambahkan adegan romansanya berupa adegan berciuman. Bagaimana menurutmu?" tanya Miyon hati-hati. Kazune mengangkat alis. Menurutnya sih tak masalah. Kalau ada tambahan properti, paling hanya menambah beberapa yen.
"Terserah kalian," ucapnya kemudian. Senyum Miyon mengembang, "Siapa dengan siapa?" tanya Kazune lagi. Miyon terkesiap. Baru saja ia akan menjawab, Kirio mendahuluinya, "Tentu saja pemeran utama wanita dan pemeran utama pria, Hanazono Karin dan Jin Kuga!"
Sepasang safir itu membola. Miyon tertawa kaku. Ia mengingat pembicaraannya dengan Jin semalam. Dan ia mendapat satu kesimpulan, Jin dan Kazune tengah tak akur hanya karena memperebutkan Karin, "E-eh... ini kan baru rencana, ja-jadi bagaimana...?" gadis itu mencoba bertanya ulang.
Kazune mendecih. Lelaki itu memalingkan wajah lalu beranjak darisana, "Tidak."
Kirio melongo sedang Miyon tertawa hambar sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Ehem, Kirio-san, mereka sedang ada masalah. J-jangan bicarakan adegan romansa itu lagi didepan Kazune-san," ujar Miyon sambil membuka-buka naskahnya.
Kirio mengangguk-angguk, "Pantas saja. Dasar anak muda. Baiklah, take satu, AYO MULAIII!"
.
.
Mood Kazune memang sedang buruk saat ia dan Kirio memilih-milih scene yang paling memuaskan diantara puluhan take yang diambil. Tahu kenapa? Ya, karena take itu adalah scene dimana Karin dan Jin berpelukan. Yuuki yang ada ditengah-tengah mereka—dia bekerja di bagian editing—hanya bisa berusaha melerai perdebatan mereka yang sering bertentangan, entah sudah berapa scene yang mereka debatkan. Satu alasan, episode kali ini menceritakan tentang kedekatan sang pemeran wanita dengan sang pemeran pria. Dan Kazune, sebenarnya ingin episode itu dihapus saja sepenuhnya. Tapi tak mungkin ia melakukan itu bukan?
"Oke, take satu dan dua dihapus. Jadi... ini, take ketiga bagaimana?" tanya Yuuki.
Kazune mendecih, "Jelek. Angle-nya jelek. Siapa yang menyuruh kamera supaya shoot dibalik jendela?"
Kirio memutar bola matanya, "Aku. Kesannya lebih dramatis dan penasaran."
"Ini bukan film 'Romeo & Juliet'," komentar Kazune, "Dan aku tidak penasaran."
Kirio menunjuk-nunjuk layar, menunjuk kerah take lainnya, "Yang lain lebih jelek lagi! Aktingnya jurang terlihat natural! Sudah, yang ini saja!"
Sebetulnya, menurut Kazune, take itu bagus. Yang membuatnya sangat tak setuju adalah karena take ketiga ini seakan... entahlah, ia tidak suka kalau adegan pelukan terlihat seperti dilakukan tanpa akting. Natural. Ia tak suka itu. Akhirnya lelaki itu menghela nafas, "Terserahlah."
Yuuki tertawa kaku lalu menyimpan take itu dan mereka berlanjut dengan membicarakan scene-scene lainnya.
.
.
Pulau Nami. Salah satu latar dalam drama Winter Sonata yang terkenal itu. Seharusnya semua tersenyum disini. Tapi tidak dengan Karin yang terus-menerus memberengut karena masalahnya kemarin dengan Jin Kuga. Rika yang berjalan disampingnya saat mereka menuju tempat syuting selanjutnya menghela nafas. Ia sudah menganggap Karin sahabatnya sendiri sekarang. Satu-satunya sahabat wanita yang ia miliki.
"Kenapa lagi heh?" tanya gadis itu.
Karin mendengus, "Aku kesal pada Jin. Dia benar-benar mengekangku untuk tak dekat-dekat dengan Kazune. Dia tak percaya kalau aku mencintainya! Aku dan Kazune juga hanya berteman sekarang!"
Rika menggeleng-geleng, "Ck, kenapa aku merasa bahwa kau menjadikan Jin pelarian ya?" oke, Rika tak bermaksud memanas-manasi Karin. Tapi, itulah yang terlihat olehnya, "Chemistry-mu dengan Kazune juga lebih bagus daripada saat kau bersama Jin. Seharian ini kau belum menyapa Kazune bukan?"
Karin menoleh terkejut lalu memicingkan matanya tajam disambut helaan nafas oleh Rika, "Jangan bicara aneh-aneh," Rika akhirnya mengendikkan bahu dan berjalan didepan gadis itu.
.
.
Jin menoleh kebelakang ketika mendengar suara tepuk tangan. Oh, satu scene lagi selesai. Ia melihat Karin tengah berjabat tangan dengan salah satu aktris lain di film itu. Jin lalu kembali mengarahkan pandangannya kedepan. Ia kembali memikirkan ucapan Miyon.
"Hei," Jin menoleh merasakan tepukan ringan di bahunya, "Kita dapat istirahat. Ini."
Jin tersenyum tipis, "Karasuma Rika," gumamnya sambil mengambil coke yang tadi disodorkan Rika, "Apa benar kau yang memberitahu Karin masa lalunya?"
Rika meneguk coke nya sampai setengah kaleng itu, "Ya," ia mengangguk, "Dan kalau kau mau memarahiku seperti yang dilakukan Kazune, silahkan, tapi setelah ini, aku akan menceramahimu seperti yang kulakukan kemarin pada Kazune."
Jin terlihat menahan tawa, "Kau menceramahi Kazune? Wah, dia pasti terlihat seperti seorang anak yang sedang dimarahi ibunya."
"Apanya? Dia balas menyolot tahu tidak?!" ujar Rika yang ditanggapi tawa Jin. Mereka lalu terdiam. Jin memandang kaleng coke nya sementara Rika sudah menghabiskannya, "Kau tahu? Aku tak bermaksud ikut campur atau apa. Tapi kalian, sudah kuanggap temanku. Aku tak suka kalian bertengkar seperti ini hanya karena masalah wanita."
Jin memutar iris onyx nya, "Aku tahu. Ini konyol. Tapi apa kau tahu? Yang kuinginkan hanya bersama dengan orang yang kucintai. Dan kutanya padamu, apa itu salah?"
Rika menghela nafas, "Saat terberat adalah kala kau harus menderita demi kebahagiaan orang itu. Cinta tak bisa dipaksakan," Jin terkesiap karena kata-kata Rika sama dengan apa yang diucapkan Miyon semalam, "Kalau dia memang bukan untukmu, relakan ia berbahagia dengan orang lain."
"Sejak kapan kau menjadi dukun cinta macam ini?" komentar Jin.
Rika menghiraukan ucapan sarkastik pemuda itu, ia melanjutkan, "Kalau begini caranya, kau egois. Memaksa gadis itu untuk selalu berada didekatmu dan kau selalu meng-klaim bahwa dia milikmu. Padahal kau tahu kenyataannya kan?"
Jin mendengus, "Kenapa sepertinya semua orang mendukung hubungan Kujyo dan Karin? Kalian seakan mendukung mereka untuk kembali lagi."
"Jin Kuga. Aku tak memilih siapapun. Sudah kukatakan, aku memang orang luar dan tak mengerti perasaan kalian. Tapi kalian, selama ini... sudah kuanggap temanku. Dan aku tak ingin menjadi wanita jahat lagi. Aku ingin temanku tidak seperti ini. Aku percaya kau sudah tahu inti masalahnya dan kau bisa putuskan sendiri. Ah, aku duluan, scene berikutnya milikku," lalu gadis bermarga Karasuma itu menyingkir darisana.
Jin Kuga meremas kaleng coke nya yang sudah kosong, 'Mungkin benar... kau bukan untukku... tapi... bagaimana caranya agar aku sanggup merelakanmu...?'
.
.
.
From: Jin Kuga
Subject: -
Ada pameran fotografi di pusat kota. Kau mau kesana? Aku sudah disini bersama Kirio dan Rika. Datanglah kalau mau, lagipula... aku ingin bicara sesuatu. Cepatlah, jam 8 sudah ditutup.
.
Karin berlari-lari kecil disepanjang trotoar itu. Em, mungkin tak apa bila ia berlari sendirian, tapi masalahnya, ia sambil menggeret seseorang, "Kita harus cepat Kazune-kun! Jam 8 sudah selesai!"
"Kenapa kau mengajakku sih?!" protes sang pemuda yang ia geret. Ia tak habis pikir, tadi, ia sedang santai berada di kafe hotel dengan Yuuki sambil menelepon Micchi. Tapi tiba-tiba Karin datang dan langsung menyeretnya untuk menemani gadis itu ke pameran fotografi ditengah kota.
"Kau juga suka fotografi kan?"
Ucapan Karin membuat Kazune mendongak terkejut. Gadis itu lalu perlahan memelankan langkahnya, "Aku ingat ketika saat itu aku protes karena kencan kedua kita berada di pameran fotografi. Tapi karena hal itu, sekarang aku juga suka potret~!" gadis itu berbalik kearahnya sambil tersenyum, "Ayo!"
.
.
"WELCOME IN SEOUL SUMMER PHOTOGRAPHS EXHIBITION 2013!"
Tulisan berwarna emas itu membentang di spanduk besar yang tergantung di tiang pintu masuk. Disetiap sudut, selalu dipenuhi pengunjung yang melihat karya-karya foto yang ada disana. Wajah-wajah takjub dan seruan kekaguman sudah mengudara disana. Beberapa foto hanya dilewati atau paling tidak dipandangi sekilas oleh beberapa orang. Sedangkan sebagian besar, mendapat perhatian khusus dari pengunjung yang menatap potret itu dalam-dalam—mencoba menyelami makna dibaliknya. Apa yang spesial sehingga sang fotografer memotretnya.
Rika menyenggol Jin dan menunjuk kearah pintu masuk taman kota dengan dagunya. Jin mendengus geli lalu balas melambai pada gadis bersurai brunette yang tengah berjalan kearahnya sambil melambai dan tersenyum semangat. Dibelakangnya, menyusul seorang pemuda bersurai pirang yang raut wajahnya terlihat datar-datar saja.
Rika mengernyit melihat raut wajah Jin. Tidak ada raut kemarahan atau kecemburuan yang nampak melihat kekasihnya yang datang bersama lelaki lain yang merupakan rivalnya sejak dulu dan juga mantan kekasih gadisnya itu—yang tentu masih sangat mencintai gadisnya itu. Tapi ia diam saja. Mungkin Jin punya keputusannya sendiri, menurutnya.
"Maaf agak telat, aku harus mencari Kazune-kun dulu! Tak bisa kubiarkan dia melewatkan pameran foto, karena seingatku, dia juga menyukai potret. Gomenne..." ucap Karin sambil membungkukkan badannya.
Jin terkekeh lalu menepuk pucuk kepala gadis itu, "Tak apa. Sekarang kita sudah disini. Ayo bersenang-senang."
Kazune yang melihat keduanya memutar iris safirnya lalu berbalik, "Aku mau cari minuman."
"Ah, aku baru ingat kalau aku dan Kirio-nii juga kehausan sejak tadi. Kami ikut denganmu ya Kazune!" ucap Rika lalu menarik Kirio dan mengekori Kazune. Rika tak memihak Jin. Hanya saja, ia yakin, Jin pasti butuh waktu untuk bicara dengan Karin. Sudahlah, ia tak mau ikut campur lagi. Mereka terlalu bebal, menurutnya.
.
"Pameran ini ternyata dibuka sejak tiga hari lalu. Mulai jam 8 pagi sampai 8 malam. Haha, aku baru tahu... tapi, disini sudah lumayan sepi karena para pengunjung sudah melihatnya sejak pagi tadi dan lusa. Kita bisa menikmatinya secara pribadi," Karin mengangguk menyetujui ucapan Jin. Memang benar, begini lebih baik—tidak berdesak-desakkan dan berebut melihat foto.
"Fotografer-fotografer Korea berbakat!" puji gadis itu sambil menatap salah satu karya foto lain.
"Yah, ini sebenarnya bukan karya profesional. Aku dengar, semua ini adalah karya dari para juara potret tahun ini. Sebelumnya ada lima ratus lebih karya, tapi disaring lagi dan diambil seratus lima puluh karya terbaik. Keren kan?" ucap Jin disambut anggukan semangat Karin.
"Haahh~... kalau begini, aku jadi malas pulang ke Tokyo~..." gumam Karin sambil merenggangkan otot-otot tangannya.
Jin terkekeh pelan, "Yah, kapan-kapan kita bisa kesini lagi saat liburan. Itu akan jauh lebih memuaskan."
Langkah keduanya terhenti didepan sebuah foto lain. Dua belah tangan dari dua sisi lain yang bertautan erat. Indah—menyatakan kebersamaan—bagi Karin. Gadis itu memandang foto itu sambil tersenyum. Keduanya terdiam cukup lama sampai Karin berjengit ketika Jin meraih tangannya sehingga tangan mereka bertautan.
"Entah kenapa, bagiku, foto tangan yang bertautan seperti ini artinya perpisahan," ucap Jin. Karin menoleh kaget pada lelaki itu. Sebelum ia sempat bertanya lebih lanjut, Jin sudah menyelanya, "Aku ingin bicara dan kali ini, kita akan bicara dengan kepala dingin," sambung lelaki itu lalu membalikkan tubuh kekasihnya menghadapnya.
Karin menggeleng, "Sudahlah. Setiap kita membicarakan soal hal itu, mood-ku langsung buruk. Ayolah, malam ini malam yang menyenangkan. Jangan dirusak dengan membicarakan topik itu."
"Sampai kapan kita mau lari dan menghindar? Kau tahu cepat atau lambat kita harus bicara."
Gadis itu menghela nafas, "Jin-kun, aku mencintaimu. Aishiteru. Bukti apa yang kau minta? Apa aku tak menunjukkannya dengan baik atau bagaimana?"
Jin menggeleng. Ia meraih dagu gadis itu, "Ragamu berkata 'ya'. Tapi hatimu, berkata 'tidak'. Tahu itu?" lalu ia terkekeh pelan, "Aku sudah memikirkan ucapan Rika dan Miyon. Dan mereka benar. Aku egois. Tapi sekarang, aku akan meluruskan segalanya dan menerima karma karena secara tidak langsung, aku pernah memisahkan hubungan kalian."
"Itu masa lalu!" tukas Karin cepat, "Aku ingin melupakan masa lalu dan fokus pada masa depan!"
"Dan itu artinya, kau akan melupakan seseorang yang penting dalam masa lalumu," balas Jin, "Jangan mengelak, kau tahu itu benar."
Karin memalingkan wajahnya. Memandang kearah tenda lain yang juga dipenuhi beberapa pengunjung, "Lalu apa yang akan kau katakan selanjutnya?"
"Cinta itu tidak memaksakan. Dan aku memutuskan, melihatmu bahagia dari jauh, itu sudah cukup," Karin terkesiap lalu ia memandang lelaki itu, "Aku sadar, dulu, aku begitu senang saat kau tersenyum pula. Namun, setelah Kujyo datang, rasa cemburu membuatku buta. Aku benci itu. Aku menyesal."
"Ja-jadi..." gadis itu tercekat. Apa harus seperti ini? Ia seperti merasa ia sudah menyakiti Jin. Lelaki itu begitu baik padanya. Ia kira malam ini akan sempurna dengan keduanya akan menghabiskan waktu di pusat kota Seoul lalu esoknya akan kembali seperti biasa.
"Ya... kau yang memutuskan."
WHAT THE—
Karin sontak mendongak. Viridian nya membola tak percaya karena pemuda itu menyerahkan semua keputusan di tangannya, "K-kau—"
"Sudahlah," Jin menepuk pucuk kepala gadis itu, "Kurasa kau lebih berhak. Perasaanmu, jauh lebih penting dibanding perasaanku—aku sadar itu sekarang."
Karin terdiam. Ia menunduk dalam. Dua sisi hatinya bergejolak. Satu sisi, ia tak ingin pergi, mengingat pemuda itu begitu baik dan mencintainya. Tapi... satu sisinya, malah memunculkan sosok seorang pemuda pirang yang dulu—sampai sekarang malah—masih singgah di hatinya—apalagi setelah yang ia ucapkan dua hari lalu. Pernyataan cinta di lounge hotel lantai 37. Singkat, tapi begitu membekas.
Tapi, Jin? Bagaimana? ia membatin. Ia tak bisa seperti ini. Jin terlalu baik untuknya, "A-aku tak mau... h-hubungan ki—"
"Karin," Jin menyeka air mata gadis itu, "Aku yakin kau bisa memilih dengan baik. Turuti kata hatimu."
Karin menunduk. Ia ingat. Gejolak itu tak pernah ada saat ia bersama Jin. Saat ia bersama Kazune, ia bisa merasa berdebar, panas-dingin, merona, yah, semacam itu. Ciuman singkat malam itu terasa berkesan dan begitu membekas. Sarat akan penyesalan mendalam. Namun, saat bersama Jin? Entah kenapa, ia selalu mengingat hubungan persahabatan mereka. Bukan hubungan cinta mereka. Sahabat, eh?
"Ka-kalau begitu... maafkan aku... sungguh, maafkan aku..."
Jin tersenyum kecil mendengar jawaban Karin. Ia sudah menduganya dan kali ini, entah kenapa, perasaannya terasa lebih lega. Ia sudah dapat kenyataannya. Walau penantiannya berakhir sia-sia, setidaknya, gadis itu akan bahagia dengan lelaki yang ia cintai. Tangan mereka masih bertautan sampai akhirnya Jin menarik gadis itu kedalam pelukannya.
"Sekali ini saja..." ia berbisik. Karin membalas pelukan itu—mengeratkannya malah. Ia merasa tak enak pada Jin, tapi perasaannya, memang tak pernah mengarah pada pemuda itu, "Hei...?"
"Hm?"
"Boleh... aku mencium gadis yang kucintai...?"
Pelukan itu terlepas perlahan. Karin memandang lelaki dihadapannya namun sejenak kemudian, ia tersenyum kecil sambil mengangguk, "Ya," jawabnya parau.
Dan ia memejamkan mata kala pemuda itu menariknya kedalam sebuah ciuman singkat yang sarat akan kasih sayang mendalam. Ya, lelaki itu mencintainya namun tidak dengannya. Cinta tak terbalas, seberapapun kuatnya kau memaksa, pada akhirnya, cinta itu takkan pernah bisa berhasil.
"Sebetulnya aku punya kejutan. Makan malam di sebuah restoran di sisi Sungai Han," ucap Karin.
"Pergilah kesana de—"
"Tidak, tidak..." Karin mengibaskan tangan sambil menyeka air matanya, "Ayo pergi. Sebagai... sepasang sahabat."
Jin tersenyum. Benar. Sahabat. Ia mungkin takkan mendapatkan gadis itu, tapi ia akan berusaha, selalu ada disana untuk gadis itu kapanpun gadis itu membutuhkannya.
"Baiklah, ayo."
.
.
"Entah kenapa, aku suka sekali jjajangmyeon," komentar gadis itu sambil tertawa kecil.
Lelaki dihadapannya hanya tersenyum lalu melanjutkan makannya. Keduanya makan dalam diam. Tak ada yang bicara selama makan. Gadis bermanik emerald itu meletakkan sumpitnya diatas piringnya begitu ia menyelesaikan makan malamnya.
"Kau tahu?" mendengar suara lelaki didepannya, ia mendongak dengan alis terangkat, "Aku merasa tak enak sudah meninggalkan mereka tiba-tiba," ucap Jin.
"Yah, kita sudah minta ijin lewat telepon kan?" timpal Karin.
Suasana hening lagi. Entah mengapa, Karin merasa suasana disekitar mereka menjadi canggung sejak keputusan untuk berpisah itu dilontarkan.
"Kau dapat alamat restoran ini dari siapa?" tanya Jin—basa-basi.
Karin tertawa kecil, "Dari Miyon. Dia bilang ada restoran yang bagus dan makanannya enak dan murah didaerah sini. Tadinya... aku ingin makan malam sebagai sepsang... kau tahu kan? Sepasang kekasih..." ucap gadis itu lirih, "Aku benar-benar minta maaf Jin, a-aku merasa tak enak pa—"
"Sudahlah, perasaan tak bisa dibohongi. Tidak apa, aku paham," Jin tersenyum tipis.
Karin menundukkan kepalanya dan mereka terdiam. Tapi, sesaat kemudian, viridian itu membola dengan senyum terkembang , lalu ia berucap dengan semangat,"Jin. Aku akan mencarikanmu pengganti diriku!"
Jin mengerjapkan mata sejenak lalu tertawa, "Apalagi itu?"
"Aku... ingin kau mendapatkan orang yang lebih baik dariku. Orang yang benar-benar mencintaimu dan menerimamu seutuhnya—yang jauh lebih baik dariku. Kau pantas mendapatkan seseorang lagi. Dan aku yang akan menilai bahwa dia baik atau tidak untukmu! Aku bersumpah!"
.
.
Gadis bersurai indigo itu terduduk dengan raut wajah bosan yang kentara di wajahnya sampai ia merasa tepukan ringan di bahunya.
"Hei!"
Ia mengerjapkan mata mendapati seorang gadis pirang dengan bando kelinci tengah tersenyum manis kearahnya lalu duduk disebelahnya, "Ah! Kazusa!" seru Himeka, "Senang bertemu lagi denganmu. Apa kabar?"
"Aku baik. Kau ada pemotretan ya?" tanya Kazusa.
"Yah, begitulah," gadis beriris hazel itu terkikik, "Kau sendiri?"
Kazusa hanya menunduk sambil memainkan jarinya, "Err... aku ingin ikut audisi bintang idola yang diadakan di studio ini..." ucapnya sambil menggulum senyum malu. Himeka mengangguk-angguk dengan senyum yang manis terulas di wajah cantiknya, "Ah, yang di lantai 45 itu kan? Kau hebat sekali!" ia bertepuk tangan, "Tapi... kenapa tidak di perusahaan keluargamu saja atau di bidang lagipula, bukankah keluargamu unggul hampir disetiap bidang pekerjaan?"
Gadis pirang itu menggeleng, "Eng, aku ingin meraihnya dengan usahaku sendiri. Kalau di perusahaan keluarga, orangtuaku pasti langsung akan memberiku tempat dan jabatan tinggi. Aku tak suka itu—lagipula, kasihan orang-orang lain yang ingin melamar kerja."
"Ah, benar, benar. Tapi, kau benar-benar hebat ya! Keren sekali!" ucap Himeka sambil bertepuk tangan disambut kekehan Kazusa.
"Ah ya, kau sudah menjadi kekasih Nishikiori Michiru, eh? Beritanya menyebar cepat di infotaiment!" komentar Kazusa lagi.
Himeka tertawa, "Aku harap tak ada berita miring..."
"Tenang saja. Kalaupun ada, kujamin aku dan Karin akan melawannya habis-habisan."
Kedua gadis itu tertawa lagi sampai Himeka memulai percakapan baru, "Ngomong-ngomong, Karin-chan lama sekali pergi dari Jepang."
"Yah, setelah ini mereka harus menyelesaikan jadwal di Korea, lalu ke Venice. Tenang saja, tak lama lagi kok. Paling lama, satu bulan setengah lagi kok," ujar Kazusa, "Film nya sudah setengah jadi. Yah, itu menurut Kazune-nii."
"Oh, begitu... em, Karin meneleponku kemarin," kata Himeka, "Ia bilang... ia baru saja putus dengan Jin."
Safir Kazusa melebar, "Begitukah?!" pekiknya kaget.
"Yah, dan yang lucu, ia memintaku untuk membantunya mencari gadis-gadis yang bersedia menjadi calon kekasih Jin selanjutnya. Nantinya, mereka akan dieliminasi oleh Karin sendiri untuk menentukan orang yang cocok menjadi pengganti dirinya untuk Jin," Himeka tertawa.
Kazusa melongo sesaat lalu ikut terbahak, "Astaga, lalu? Bagaimana? Kau sudah dapat calon-calonnya?"
"Yah, orang seperti Jin—ia bisa saja menunjuk sembarangan dari berpuluh juta wanita di bumi ini..."
"Tapi... Karin tak memberitahu alasannya putus dengan Jin?"
Himeka menggeleng, "Tidak... tapi pasti ada masalah. Apa ini berkaitan dengan masa lalu mereka?"
"Entah ya," gumam Kazusa, "Kuharap mereka takkan memperpanjang masalah ini. Hei, hei, tidak baik menggosipkan orang seperti ini. Ah ya, aku belum makan siang dan rencananya mau ke kafe. Kau mau ikut?"
Himeka melirik arlojinya, "Tentu. Aku juga baru selesai, jadwal selanjutnya dua jam lagi. Terimakasih Kazusa."
Kazusa mengedipkan satu manik safirnya lalu menarik Himeka dan keduanya berlari kecil kearah lift.
.
.
-TSUZUKU-
.
.
Kelar, kelar~~... haha, karena ada MOS, saya dpt waktu lebih buat ngetik kalo di kelas :3 Hehe~... nah, gimana chap ini? Chap depan, mau saya bikin full KazuRin terus ajang-pencarian-pacarnya-Jin. Aneh banget ya? :S
Maaf kalo abal dan maksa ya, mood saya tidak selalu bagus. Tadi saat di kelas, saya juga masih terpengaruh sesuatu *sokrahasia*
Hehe, bales repiu dulu ya~!:
Dci: oke, makasih banyak ya!
Hye-ra Kim 35: halah Fa, Fa... gak sempat to Neng, cuma sepuluh hari lalu mereka ke Venice :3 ehem, kalo dipanjangin, gue gak bisa... gak sanggup ni jari... yg 'nan jeongmal sarangheyo' pas ending aja ya, kubikin bonus fluff gituuu... :3
Prontal dah jadi sifat umum-mu~ hehe, oke, ayo, kalo SAO, minta sama Gideon WC noh... akhir kata, makasih banyak ya~!
Guest: haa? Apa itu Guest-san? *kepo* *gakkepogaknanya* hehe, pokoknya, makasih banyak ya~! ^^
Rizki Kinanti: hehe, ini dah updated, dah kilat belom? Ne, jangan panggil senpai, saya masih bocah :3 hehe, ganbatte mo & arigato gozaimasu~!
Guest: hehe, ini dah lanjut, makasih banyak ya~! (^^)V *peacetoo*
Guest: benarkah? Wah, terimakasih ya~! Hehe, iya, ini dah lanjut. Semangat juga, dan terimakasih banyak~!
yume sora: oh ya? Wah, bagus deh, kalo suka... soalnya, menurut saya, fic saya itu abal sekali... hehe... syukurlah kalo pada suka. Iya, panggil aja Haruka, Hitomi juga gak papa ^^ Cara apa? Cara bikin fic kah? Kalo soal saran, saya balas lewat PM ya, cek PM~! Hehe... tapi, makasih banyak ya~!
Maria-chan: hehe, makasih lho. Ini dah lanjut, semoga puas~! Wah, bisa menebak ya. Iya, chap depan ya, full KazuRin~! Hehe, sekali lagi terimakasih banyak... ^^
KK LOVERS: hehe, iya, nih dah updated ^^ ganbatte mo & arigato gozaimasu! KazuRin polepel~! (^^)V
.
Wah, makasih banyak ya, review-review-nya, sy sangat menghargainya. Hehe... so, maafkanlah segala kekurangan fic ini, chapter 8 'I Hate Him But I Love Him!' updated, mind to review?
.
Boyolali, Senin, 15 Juli 2013 *kebiasaanbaruguenih:D*
