Disclaimer:
Naruto : Masashi Kishimoto
Date A Live: Koshi Tachibana
.
.
.
Single pairing: Naruto x Origami
Genre: supranatural/fantasy/action/romance/mystery
Rating: T
Setting: AU (Alternate Universe)
.
.
.
Legend Of The Mystic Pyramid
By Hikasya
.
.
.
Chapter 8. Cahaya baru dan serangan tiba-tiba
.
.
.
"Ka-Kamu menyukaiku?"
"Iya."
"Pasti kamu bohong. Kamu jahil lagi. Aku tidak percaya dengan apa yang kamu katakan itu."
"Aku tidak bohong. Sumpah, aku menyukaimu, Origami."
"Jawabanku, tidak!"
Origami dengan tegas mengatakan itu. Naruto kecewa mendengarnya.
"Itu artinya kamu menolakku lagi?"
"Sudah jelas, bukan?"
"Origami, aku benar-benar menyukaimu. Percayalah padaku."
"Aku tidak menyukaimu!"
Origami langsung berlari melewati Naruto - ia juga sudah sembuh dari sakit. Laki-laki berambut pirang itu tidak menyerah, dan segera mengejar Origami.
"Origami, tunggu!"
Terjadilah aksi kejar-kejaran yang menimbulkan kebingungan saat Kushina yang lewat di dekat tangga. Kushina baru saja mengangkat pakaian dari jemuran yang ada di belakang rumah, ia bengong ketika melihat Origami yang berlari melewatinya.
"Lho, Origami? Kamu mau kemana? Apa PR-mu sudah selesai?" tanya Kushina yang penasaran.
"PR-ku sudah selesai, Bibi," jawab Origami dengan cepat. "Aku pergi menginap di rumah Kurumi dulu ya, Bi."
"Eh? Mendadak sekali, kamu menginap di sana?"
"Ya, ini keadaan yang sangat darurat."
Origami menengok ke belakang. Naruto hampir datang mendekatinya. Kushina menyadari itu.
"Origami! Dengarkan aku dulu!"
"Bibi, aku pergi!"
"Ya, hati-hati di jalan ya. Tapi, hari mau hujan, Origami."
"Aku tidak takut kehujanan."
Origami menjawab perkataan Kushina dengan tegas. Kushina bengong saat Naruto melewatinya.
"Aku pergi dulu sebentar, Bu!"
"Kamu mau kemana, Naruto?"
"Mengejar Origami."
Naruto tetap mengejar Origami sampai keluar rumah. Kushina menggeleng-geleng. Ia langsung naik ke lantai dua untuk membereskan pakaian Naruto dan Origami.
GLUDUK! GLUDUK! GLUDUK!
Di langit sore yang menghitam, terlihat percikan kilat merah yang muncul beberapa kali. Angin kencang bertiup dengan ganas. Menerbangkan benda apa saja yang dilaluinya. Sepertinya hujan badai akan segera tiba untuk mengguyur kota Konoha.
Semua orang takut untuk keluar rumah kecuali Origami. Gadis berambut putih itu dengan berani menempuh aliran angin kencang yang tidak sanggup menerbangkannya. Bunyi petir yang kuat, juga tidak sanggup untuk membuatnya takut.
Ia berlari secepatnya menuju ke rumah Kurumi. Menyadari Naruto mengejarnya dengan menggunakan sepeda.
"Origami! Tunggu! Kamu mau kemana?" teriak Naruto yang kalah kuat dengan bunyi petir.
"Itu bukan urusanmu!" ucap Origami dengan suara yang keras saat Naruto berhasil mencapainya.
"Aku benar-benar menyukaimu, Origami."
"Aku tidak percaya."
"Apa yang harus kulakukan agar kamu mempercayaiku?"
"Kamu tidak perlu melakukan apapun."
"Origami, aku serius."
"Aku juga serius."
Origami mempercepat larinya. Naruto kehabisan kata-kata untuk membujuk Origami agar Origami percaya dengan apa yang dirasakannya. Perasaan cinta yang mulai bersemi di hatinya.
Naruto tidak menyerah, dan tetap mengikuti Origami. Dalam diam dan terjangan angin kuat, mereka menyusuri jalanan yang sepi hingga tiba di depan rumah Kurumi.
"Kenapa kamu ke sini?" tanya Naruto yang menghentikan sepedanya di dekat pagar rumah Kurumi.
"Pulanglah sebelum hujan turun. Aku akan menginap di sini untuk beberapa hari," jawab Origami yang memencet bel yang terpasang di samping pintu gerbang.
"Aku tidak akan pulang sebelum kamu mempercayaiku."
Naruto turun dari sepeda, dan langsung menggenggam tangan Origami. Ia mendorong Origami sehingga Origami menyandar di pintu pagar.
Wajah Origami memerah saat dagunya diangkat oleh tangan Naruto, sedangkan tangan Naruto yang satu lagi, menggenggam tangannya dengan erat.
"Aku menyukaimu, Origami," Naruto mengungkapkan perasaannya sekali lagi pada Origami. "Aku berharap kamu juga menyukaiku."
"Itu tidak akan pernah."
"Aku tidak akan menyerah untuk mengejarmu, dan akan selalu menunggumu sampai kamu mengatakan cinta padaku."
"Sampai kiamatpun, aku tidak akan pernah menyukaimu!"
"Wah, wah, ada keributan apa ini?"
KRIEEET!
Pintu gerbang terbuka. Sosok gadis berambut hitam muncul di balik pintu pagar yang terbuka lebar. Secara refleks, Naruto menjauh dari Origami. Naruto tersenyum malu, sedangkan Origami menundukkan kepala.
"Ah, Kurumi. Tidak ada keributan kok."
"Oh. Lalu kenapa kalian ke sini?"
"Ini ... Origami mau menginap di rumahmu untuk beberapa hari."
"Eh? Benarkah itu, Origami?"
"Hn."
"Kalau begitu, ayo, kalian berdua masuk dulu!"
Kurumi yang tinggal sendirian di rumah sederhana bertingkat dua itu, tersenyum saat Naruto dan Origami ikut bersamanya untuk masuk ke rumahnya.
Ketika tiba di ruang tamu, Naruto dan Origami duduk berjauhan di sofa yang berhadapan dengan Kurumi. Gadis bermata berwarna berbeda itu, memperhatikan Naruto dan Origami secara bergantian.
"Kalian mau minum apa?" tanya Origami yang tersenyum.
"Teh saja," jawab Origami dengan nada yang tenang.
"Aku juga sama dengan Origami," ucap Naruto yang terus memandang Origami.
"Oh, baiklah. Tunggu sebentar ya."
Kurumi bertolak dari sofa. Ia pergi ke dapur untuk membuat minuman. Origami melihat kepergian Kurumi, langsung melototi Naruto.
"Sekarang pergi dari sini!" ujar Origami dengan tegas.
"Aku tidak akan pergi," balas Naruto yang berwajah serius.
"Kamu bebal ya?"
"Sudah kubilang, kan, aku tidak akan pernah berhenti mengejarmu."
"Huh, kamu menyebalkan!"
Origami sangat kesal. Naruto tersenyum. Hujan pun turun dengan ganas, untuk meramaikan suasana panas yang terjadi di antara Naruto dan Origami.
Badai angin yang bercampur hujan, sudah datang dan menghancurkan beberapa bangunan yang ada di kota Konoha. Orang-orang menjadi ketakutan. Isak tangis dan mayat-mayat bergelimpangan mewarnai di area kehancuran.
Origami bisa merasakan bahaya yang terjadi di luar sana. Sebagai Cenayang, ia bisa merasakan kejadian supranatural yang berjarak sangat jauh sekalipun. Telinganya tajam untuk mendengar, dan hatinya juga tajam untuk merasakan.
"Ini bukan angin biasa. Tapi, angin yang disebabkan Youkai," Kurumi tiba-tiba sudah meletakkan baki yang berisi dua cangkir teh ke atas meja.
"Apakah pelakunya adalah Youkai yang menggunakan elemen angin?" Origami menutup matanya sebentar lalu dibukanya lagi.
"Ya. Youkai burung gagak, yang merupakan anggota kelompok Enight."
"Kita tidak bisa membiarkannya."
"Benar. Ayo, kita pergi untuk memusnahkannya!"
Origami mengangguk. Kurumi melirik Naruto.
"Naruto, kamu pulanglah. Kami berdua akan pergi ke tempat Youkai burung gagak itu sekarang. Kamu tidak usah ikut karena kamu belum bisa mengendalikan kekuatanmu."
"Aku ikut kalian!"
"Tapi..."
"Aku tidak mau kalian terluka. Jadi, aku harus mengikuti kalian."
"Baiklah, jika itu maumu."
Kurumi pasrah dan tidak mau berdebat lebih jauh lagi dengan Naruto. Origami menghelakan napasnya karena harus bersama Naruto lagi. Naruto tersenyum senang penuh kemenangan.
Maka diputuskan, mereka bertiga yang pergi ke tempat Youkai burung gagak itu. Shidou tidak ikut dengan mereka karena Shidou sedang menemani Kotori berbelanja di sebuah mal.
.
.
.
Sesuai perkiraan, badai angin ini memang berasal dari kekuatan Youkai Burung Gagak. Youkai itu berwujud manusia berjenis kelamin laki-laki setengah Burung Gagak, yang berpakaian kimono serba berwarna hitam.
Ia terbang di dalam pusaran angin yang bertiup kencang untuk bertujuan memporak-porakdakan kota Konoha dan membunuh manusia. Dengan begitu, ia berharap bisa menemukan keturunan yang memegang Mystic Pyramid itu.
Dengan menggunakan teleportasi yang dilakukan Kurumi, Naruto dan Origami yang bersama Kurumi, tiba di lokasi kejadian. Mereka berdiri di tengah amukan badai angin yang akan berubah menjadi angin tornado. Rambut dan pakaian mereka berkibar-kibar karena dimainkan angin.
"Bahaya sekali!" Naruto berdiri di depan dua gadis itu. "Kita harus cepat menghentikannya, Kurumi!"
"Aku tahu apa yang harus kulakukan," Kurumi menggunakan mata kirinya yang berwarna kuning yang berfungsi sebagai pengendali waktu.
FWAAATS!
Muncul energi kuning yang menyerupai jam berangka romawi di depan Kurumi, dan Kurumi dengan cepat memutar waktu di jam itu ke arah yang berlawanan dari jam biasa.
SRIIING!
Terjadi keajaiban. Pergeseran waktu berjalan mundur. Hujan badai menghilang tiba-tiba. Semuanya kembali seperti biasa sebelum hujan badai datang.
Di atas sana, di antara gedung-gedung tinggi, terlihat pria berkimono yang sedang terbang dengan menggunakan kedua sayap Burung Gagak. Naruto dan dua gadis yang berdiri di bawahnya, tepatnya di jalanan yang sepi, memandang ke arahnya.
"Itu dia!" tunjuk Kurumi pada Youkai itu.
"Kaa! Kaa! Kaa!" seru Youkai Burung Gagak yang sangat marah karena merasakan kehadiran tiga serangga yang mengganggunya. Ia langsung terbang menurun untuk menyerang kelompok Naruto.
WHUUUSH!
Youkai itu merentangkan dua sayapnya lebar-lebar lalu mengibaskan dua sayapnya dengan kuat. Menghasilkan angin yang sangat kencang melebihi tornado.
Dua gadis itu saling berpegangan tangan erat saat diterjang serangan angin kencang tersebut. Naruto memeluk mereka berdua agar tidak terseret angin, dengan sigap berusaha mengeluarkan kekuatannya itu.
PAAATS!
Cahaya jingga kemerah-merahan menguar dari tubuh Naruto, kemudian berubah menjadi bola yang menyerupai matahari. Membalut Naruto dan dua gadis itu agar terlindungi dari terjangan angin.
Itulah energi pelindung yang biasanya dikendalikan Naruto dalam waktu beberapa menit, yang tidak akan membuat Naruto pingsan. Untuk sementara waktu, mereka aman di dalam bola energi pelindung itu.
"Naruto, kamu bisa menggunakan kekuatanmu untuk menjadi pelindung?" tanya Origami.
"Iya. Aku hanya bisa mengendalikan kekuatannya untuk beberapa menit. Jadi, penyerangan selanjutnya, aku serahkan pada kalian berdua," jawab Naruto yang tersenyum.
"Aku tidak memiliki kekuatan untuk menyerang, tapi Origami memilikinya," ucap Kurumi.
"Baiklah, aku akan menggunakannya sekarang!"
Origami maju ke depan, melepaskan diri dari Naruto, dan memusatkan pikirannya untuk memanggil pedangnya. Tangannya teracung ke depan.
"Summon, Yukioshi!" sambung Origami yang langsung menangkap tombaknya yang muncul dari ketiadaan.
Naruto terkejut saat merasakan hawa dingin yang menguar dari tubuh Origami seiring Origami mengeluarkan energi cahaya menyerupai bintang dari ujung tombak Yukioshi. Cahaya bintang yang berhawa dingin itu sanggup melenyapkan bola pelindung yang menyerupai matahari, kemudian meluncur tepat ke arah Youkai Burung Gagak.
DHUUUAAAR!
Terjadi ledakan besar saat cahaya bintang itu menabrak tubuh Youkai Burung Gagak Bersama angin kencang turut menghilang seiring ledakan berakhir. Langit senja yang cerah pun terlihat lagi, membuat Kurumi tersenyum ketika memandangnya.
"Kamu berhasil, Origami. Kekuatanmu memang berguna untuk menjadi penyerang," kata Kurumi. "Tidak salah jika aku mengajakmu untuk masuk ke dalam kelompok berburu Youkai ini."
"Ya. Aku sudah memutuskan untuk bergabung dengan kalian," Origami memegang tombaknya dengan erat.
"Keputusan yang bagus."
"Inilah jalannya untuk menyelidiki lebih lanjut tentang pembunuhan di dunia mimpi itu."
Origami tersenyum simpul dengan wajah yang berseri-seri. Naruto terpaku memandangnya.
"Origami," panggil Naruto.
Origami menoleh. "Ada apa?"
"Kamu ... Memiliki kekuatan Bintang?"
"Kalau iya, kenapa?"
Origami memandang Naruto dengan tajam. Naruto datang menghampirinya dan langsung menggenggam tangannya.
"Aku berhasil menemukanmu."
"Maksudmu?"
"Kamu orang yang tepat untuk mengendalikan kekuatanku."
"Hah?"
Origami ternganga. Naruto mengangguk. Kurumi tersenyum.
"Ayahku bilang kalau dua kekuatan menyatu, antara matahari dan bintang bisa menghasilkan kekuatan yang lebih besar. Aku tidak tahu kekuatan apa itu. Tapi, aku ingin menjadi satu cahaya denganmu, Origami," ungkap Naruto yang tersenyum.
Origami berwajah datar. "Oh. Aku baru tahu soal itu. Tapi, bagaimana caranya aku menjadi satu cahaya denganmu?"
"Caranya kamu harus sehati denganku, memiliki perasaan yang sama, dan bisa menenangkanku di saat aku sedang marah. Matahari bersifat panas, dan bintang bersifat dingin. Dua-duanya seimbang dan searah. Jadi, aku mohon ... Cintailah aku, Origami."
Naruto berharap Origami mengerti perasaannya itu. Namun, Origami menggeleng dan menepis tangan Naruto dari tangannya dengan cepat.
"Maaf, aku tidak bisa."
"Tapi, Origami."
"Aku tidak menyukaimu."
"Tapi, aku menyukaimu."
"Aku tidak peduli lagi."
Origami berbalik dan berlari. Tombaknya sudah menghilang dari tangannya. Naruto sangat kecewa karena Origami tetap menolaknya, tapi ia tidak menyerah dan berusaha mengejar Origami lagi.
"Origami, tunggu!"
Namun, langkah Naruto dihentikan Kurumi. Tangan Naruto ditangkap oleh Kurumi.
"Jangan kejar dia, Naruto."
"Tapi, Kurumi. Aku harus mengejarnya karena aku ingin dia menerima cintaku."
"Aku tahu kalau kamu menyukainya, tapi bukan begini caranya. Itu terkesan kamu memaksanya untuk menyukaimu."
"Lalu, bagaimana caranya agar dia menyukaiku?"
"Jauhi dia."
"Hah?"
Naruto ternganga karena mendengar usulan Kurumi. Gadis berambut hitam itu, hanya tersenyum menanggapinya.
Sementara itu, Origami sudah berlari jauh di ujung jalan sana. Ia pun berhenti berlari. Merasa capek dan terduduk begitu saja di jalanan yang hening.
"Aaah," Origami menghelakan napasnya berkali-kali. "Kenapa hidupku jadi begini ya selama tinggal di kota ini? Rasanya aku ingin cepat-cepat menyelesaikan misi ini agar bisa cepat pulang ke Suna."
Jantungnya masih berdebar-debar. Perasaan aneh itu masih bersarang di hatinya, tapi ia tidak tahu apa-apa mengenai perasaan aneh itu.
Cinta yang dikatakan Naruto, tidak dipahaminya sedikitpun. Ia hanya seorang gadis Cenayang yang harus menjalani misi untuk mengungkapkan kasus pembunuhan di kota ini, bukan menjalani misi untuk menjalin cinta dengan seorang lelaki. Apa lagi lelaki yang menyukainya, terus mengejarnya selama dua minggu ini.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Kalau aku kembali ke rumah keluarga Namikaze, aku akan selalu bertemu dengan Naruto. Tapi, kalau aku tinggal di rumah Kurumi, sama saja, Naruto akan selalu datang ke sana."
Di antara kebimbangan itu, Origami memandang langit yang perlahan-lahan menggelap. Bintang-bintang mulai bermunculan untuk menghiasi langit malam yang sebentar lagi akan tiba. Mereka datang untuk menemani Origami dan memberikan jawaban untuk memecahkan masalah yang dihadapi Origami.
Lama sekali Origami bertahan di sana. Merenung untuk menentukan keputusan yang tepat.
.
.
.
"Kakak, tunggu aku dong!"
"Kotori, kamu lama sekali."
"Maaf, habisnya aku bingung mau beli yang mana."
"Dasar!"
"Hehehe, kalau begitu, bantu aku angkat barang-barang belanjaan ini!"
"Hei, banyak sekali bawaanmu!"
Shidou ternganga ketika melihat Kotori yang membawa banyak barang belanjaan. Mereka berdua diperhatikan orang-orang sekitar karena menarik perhatian. Terlebih Kotori selalu berteriak keras agar suaranya selalu didengar oleh Shidou. Lalu Shidou menghelakan napasnya karena merasa capek menunggu Kotori membeli pakaian di sebuah mal yang ada di kota Konoha.
"Ah, kakak. Aku, kan, ingin tampil cantik. Makanya aku banyak berbelanja sekarang," Kotori merengut dengan kedua pipi yang mengembang.
"Tapi, kamu buang-buang uang saja, Kotori!" Shidou mengingatkan sembari mengangkat semua barang belanjaan itu.
"Biarkan saja. Ini kulakukan demi mendapatkan hatinya Naruto-sama."
"Eh? Kamu masih mengejar dia juga?"
"Iya. Memang kenapa? Kakak tidak suka ya kalau aku menyukai Naruto?"
"Bukan begitu. Naruto, dia menyukai gadis lain."
"Apa?"
Mendengar itu, Kotori terkesiap. Matanya membulat sempurna. Shidou mengangguk dengan wajah yang serius.
"Itu benar."
"Siapa orangnya? Beritahu aku!"
"Rahasia. Kamu tidak boleh tahu."
"Kakak! Beritahu aku!"
"Tidak mau!"
"Kakak!"
Kotori mengamuk tidak jelas seperti Gorilla. Shidou dengan cuek langsung pergi meninggalkannya.
"Kakak! Tunggu! Jangan tinggalkan aku!" Kotori berlari mengejar Shidou.
"Cepat! Dasar, lambat!" Shidou berwajah sewot.
"Huh!"
Kotori merengut lagi. Ia sangat kesal karena Shidou tidak memberitahukan siapa gadis yang disukai Naruto. Dalam diam yang abadi, ia membatin di hati.
Siapapun gadis yang disukai Naruto-sama, aku akan menghalanginya karena Naruto-sama hanya milikku seorang.
Mata Kotori menajam dengan wajah yang diselimuti kegelapan.
.
.
.
Origami memutuskan untuk menginap di rumah Kurumi selama beberapa hari. Kurumi dengan senang hati, mengizinkan Origami tinggal di sana karena Kurumi tidak memiliki keluarga lagi.
Kurumi adalah anak yatim piatu yang memiliki sebuah perkebunan teh yang terluas di kota Konoha. Ia memiliki asisten setia yang bertugas untuk mengelola perkebunan teh tersebut, karena Kurumi tidak punya waktu untuk memantau aset berharga milik keluarganya. Lebih memilih untuk ikut kegiatan berburu Youkai yang berada dalam naungan Organisasi khusus pemburu Youkai.
Organisasi khusus pemburu Youkai itu bernama Horizone.. Di organisasi itu, terdapat banyak kelompok yang dibentuk dan tersebar ke seluruh kota Konoha, bahkan juga tersebar ke seluruh kota lainnya.
Biasanya kelompok yang merupakan bagian Horizone, akan mendapatkan misi saat ditelepon oleh orang tertentu. Mereka akan diberitahu tentang lokasi dan waktu yang tepat untuk berburu Youkai. Tentunya, dari kegiatan berburu ini, mereka mendapatkan bayaran yang cukup mahal karena pendiri Horizone ini adalah orang yang sangat kaya raya.
Rata-rata para anggota Horizone adalah orang-orang yang memiliki kekuatan supranatural. Mereka akan diberi kartu tanda pengenal sebagai anggota Horizone agar orang-orang mengetahui identitas mereka.
Lalu Origami juga sudah termasuk anggota Horizone. Kurumi yang membantunya untuk masuk ke sana agar memudahkannya untuk melakukan penyelidikan tentang pembunuhan tidak wajar itu.
"Berarti target kita sekarang ini adalah memburu Youkai Duplicate," ucap Origami yang duduk di pinggir tempat tidur.
"Iya," sahut Kurumi yang mengangguk sembari duduk di kursi. "Mungkin saja dia adalah tersangka dalam pembunuhan tidak wajar itu karena dia sudah membunuh sekitar 300 orang per-bulannya. Dia suka berubah menjadi siapa saja, makanya disebut Youkai Duplicate."
"Oh, begitu ya?"
"Iya."
"Kalian tidak tahu bagaimana wujud aslinya yang sebenarnya."
"Tidak. Aku dan Shidou tidak memiliki mata gaib untuk menyelidikinya, bahkan Naruto yang memiliki mata gaib, juga tidak bisa melihat wajah aslinya."
"Hm, ini sangat menarik."
"Makanya aku menarikmu untuk bergabung dalam kelompokku ini. Jika ditambah denganmu, anggotaku menjadi empat orang."
"Naruto juga termasuk anggotamu?"
"Iya. Apa itu akan mengganggumu?"
"Hn."
Origami mengangguk pelan. Kurumi tersenyum.
"Aku tahu hubungan kalian tidak jelas sekarang. Tapi, akhir-akhir Naruto menjauhimu, bukan?"
"Hn. Sudah seminggu ini, dia tidak menyapaku, dan bahkan dia menghindar kalau berpapasan denganku."
"Aneh juga ya?"
"Hn. Biasanya dia selalu mengejarku dan memaksaku untuk menerima cintanya. Tapi, mendadak saja, sikapnya berubah menjadi dingin saat pertama kali aku bertemu dengannya."
"Mungkin karena kamu berkali-kali menolak cintanya, makanya dia berubah total lagi."
"Entahlah."
Origami menggeleng pelan. Kurumi memandangnya sangat lama, kemudian bertanya, "Apa kamu juga menyukainya, Origami?"
Ditanya begitu, Origami menggeleng lagi. "Aku tidak menyukainya."
"Apa itu benar?"
"Benar."
"Tapi, kasihan Naruto. Dia benar-benar mengharapkanmu. Kamu sudah membuatnya melupakan cinta lamanya. Kamu adalah cahaya barunya. Jadi, tolong terimalah dia."
"Maaf, aku tidak bisa."
"Kenapa?"
"Sudah kukatakan sebelumnya, kan? Aku tidak menyukainya."
Origami menekan kalimatnya dengan tegas. Cukup membuat Kurumi terdiam. Lantas Origami bergegas pergi dari kamar itu.
"Origami, kamu mau kemana?"
"Kamar mandi."
BLAM!
Pintu tertutup dengan keras oleh Origami. Kurumi yang menyaksikannya pergi, hanya terpaku seraya bergumam, "Aku tahu kamu juga menyukai Naruto tapi kamu tidak mau mengakuinya dengan jujur, Origami."
Setelah itu, Kurumi juga keluar dari kamar itu, menuju ke dapur untuk memasak sesuatu karena merasa lapar di hari libur yang tenang ini.
.
.
.
Keesokan harinya di sekolah, Origami bertemu dengan Naruto di kelas itu. Ia datang sendirian, awalnya berangkat ke sekolah bersama Kurumi, tapi tiba-tiba Kurumi merasa sakit perut dan memutuskan untuk pulang sebentar. Karena itu, Origami terpaksa pergi sendirian ke sekolah.
Pagi itu, kelas masih sepi. Hanya ada Naruto dan Origami. Gadis berambut putih itu berjalan dengan tenang, dan menyadari pandangan Naruto yang tajam terasa menusuk hatinya bagaikan tertusuk jutaan jarum yang tajam.
Origami berhenti di depan kelas. Wajahnya menjadi kusut karena Naruto kembali bersikap menyebalkan. Hal itu terbukti sekarang.
"Apa yang kamu lihat, hah?" Naruto membentaknya dengan nada yang keras.
"Ah, aku cuma mau duduk di tempatku," Origami berjalan pelan mendekati mejanya yang berada di belakang bangku yang diduduki Naruto.
"Huh."
Naruto merengut sembari melototi layar ponselnya lagi. Origami duduk di bangku lalu meletakkan tas ke atas meja. Memperhatikan punggung Naruto yang dengan perasaan yang tidak nyaman. Ia pun teringat tentang perkataan Kurumi semalam itu.
"Tapi, kasihan Naruto. Dia benar-benar mengharapkanmu. Kamu sudah membuatnya melupakan cinta lamanya. Kamu adalah cahaya barunya. Jadi, tolong terimalah dia."
Ya, Naruto berubah menjadi dingin lagi karena cintanya berkali-kali ditolak Origami. Ia sangat mengharapkan Origami untuk menjadi satu kekuatan cahaya, tapi Origami tidak mau menerimanya.
Apa yang harus kulakukan sekarang agar Naruto bersikap baik lagi padaku? Batin Origami.
Ia pun memberanikan dirinya untuk menyentuh bahu Naruto. Pria berambut pirang itu tersentak saat bahunya dipegang oleh Origami.
"Naruto."
Origami berdiri dengan wajah yang kusut. Naruto menatap Origami dengan sinis, lantas menepis tangan Origami dari bahunya.
"Kenapa kamu memegang bahuku?"
"Aku ingin berbicara denganmu."
"Apa itu?"
"Aku..."
Origami menghentikan perkataannya saat menyadari tatapan sinis Naruto. Ia pun menghelakan napasnya.
"Aaah, tidak jadi," sambung Origami yang langsung pergi meninggalkan Naruto.
GYUT!
Tiba-tiba, tangan Origami ditangkap oleh Naruto - ponsel Naruto sudah dimasukkan ke dalam saku celana. Origami berhenti berjalan. Ia menoleh dan melihat Naruto.
"Memangnya apa yang ingin kamu katakan padaku, Origami?"
Kali ini, nada bicara Naruto berubah menjadi lembut. Origami senang mendengarnya.
"Tentang waktu itu," kata Origami dengan tenang.
"Tentang waktu apa?" sahut Naruto yang mengerutkan keningnya.
"Aku berkali-kali menolak cintamu."
"Lalu?"
"Kali ini, aku akan mencoba menerimanya."
"Hah?"
Naruto ternganga. Origami tersenyum simpul.
"Apa kamu mengerti?"
"Mengerti. Kamu ... Menerima cintaku, begitu?"
"Hn."
"Apa itu benar?"
"Benar."
Origami mengangguk dan tersenyum lagi. Naruto terpaku sebentar, lalu ia memeluk Origami dengan cepat.
Origami membalas pelukan Naruto. Merasakan Naruto yang mengelus rambutnya yang panjang dengan pelan.
"Apakah aku bermimpi sekarang?" Naruto membisikkan itu ke telinga Origami.
"Kamu tidak bermimpi, Naruto," Origami tersenyum.
"Kamu hanya bisa bilang menerimaku, tapi kamu tidak bilang kalau kamu menyukaiku."
"Oh. Iya, aku menyukaimu."
Naruto tersenyum senang mendengarkannya. Kemudian ia melepaskan pelukannya. Memegang dua pipi Origami dengan erat. Menatap wajah Origami dalam jarak yang sangat dekat.
"Aku juga menyukaimu. Bukan hanya menyukaimu, tapi aku mencintaimu," Naruto tersenyum lagi. "Dengan begini, aku bisa mengendalikan kekuatanku dengan mudah. Origami, tolong bantu aku ya."
"Iya," Origami mengangguk.
Sekali lagi Naruto tersenyum seiring wajahnya semakin mendekati wajah Origami. Jantung Origami berdetak sangat kencang. Wajahnya pun memerah, bersama bibirnya disentuh oleh bibir Naruto.
Kedua mata Naruto menutup. Ia mengecup bibir Origami dengan lembut. Origami yang belum terbiasa melakukan itu, hanya diam dan membiarkan Naruto selesai mengecupnya. Naruto menatap wajahnya lagi dalam jarak sangat dekat.
"Kenapa kamu tidak membalas ciumanku?"
"Karena aku belum pernah berciuman dengan laki-laki. Baru kamu yang menciumku sekarang."
"Kalau begitu, balaslah ciumanku."
"Begitu ya."
"Iya. Itu tanda kalau kamu memang mencintaiku."
Sekali lagi, bibir Naruto menempel ke bibir Origami. Kali ini, Origami mencoba membalas ciuman Naruto. Ia pun merasakan manisnya ciuman itu.
Begini ya rasanya ciuman itu, batin Origami.
Hal itu berlangsung cukup lama hingga mereka saling menatap lagi dalam jarak yang sangat dekat.
"Terima kasih, Origami. Aku senang karena kamu sudah menjadi pacarku sekarang. Aku berjanji akan selalu melindungimu, dan aku akan membantumu untuk mengungkapkan misteri pembunuhan itu."
"Hn. Aku juga akan membantumu untuk mencari tahu siapa yang telah membunuh Tohka, yang berkaitan erat dengan misteri pembunuhan tidak wajar itu. Bangsa Youkai yang harus kita buru sekarang karena aku yakin aku menemukan pelaku yang sebenarnya dari sana."
"Ya, itu yang ingin aku cari tahu. Origami, terima kasih lagi karena kamu mau membantuku untuk menyelidiki tentang pembunuhan Tohka."
"Hn."
Origami mengangguk seiring Naruto kembali mengecup bibirnya. Naruto ingin Origami selalu ada di dekatnya karena itu ia memberikan tanda cintanya agar Origami semakin mencintainya.
Mereka berciuman lagi sambil berpelukan erat. Tanpa menyadari jika ada seorang gadis berambut merah muda yang mengintip mereka dari balik pintu kelas.
"Ternyata gadis yang dicintai Naruto-sama adalah Origami," gumam Kotori yang meremas dua tangannya dengan kuat. "Lihat saja, Origami. Aku akan membuat perhitungan denganmu."
.
.
.
Naruto tidak berhenti tersenyum karena mengingat kejadian di pagi itu. Sebentar-sebentar ia menoleh ke belakang untuk memandang Origami. Wajah gadis berambut putih itu merona merah saat Naruto mengatakan sesuatu yang membuat jantungnya berdebar-debar.
"Aku sangat mencintaimu, Origami. Kalau kamu sudah pulang ke rumahku, aku ingin menghabiskan waktu bersamamu. Kita akan latihan bersama Ayah untuk mengontrol kekuatanku itu."
Setelah itu, Naruto berbalik untuk memandang ke depan kelas. Ibu Guru sedang menerangkan pelajaran. Semua orang mendengarkan penjelasan Ibu Guru kecuali Naruto, Origami, Kotori, Kurumi, dan Shidou. Mereka berlima sedang memikirkan sesuatu.
Naruto yang merasa senang karena cintanya terbalaskan. Origami yang juga merasa senang karena sudah membalas cinta Naruto. Shidou yang merasa sedih karena mengetahui Naruto sudah berpacaran dengan Origami. Kurumi yang turut senang karena Naruto sudah mendapatkan Origami. Lalu Kotori yang jengkel karena Origami merebut Naruto darinya.
Di antara suasana berbunga-bunga, kelam, dan panas, atmosfer lain tercipta. Origami merasakan lagi hawa Youkai yang berkekuatan sangat besar itu.
Hawa Youkai ini, yang dulunya membuatku terjatuh dari sepeda. Ternyata dia belum mati saat aku memusnahkannya di apartemen Yuhi Kurenai.
Hawa yang sangat kuat, membuat jantung Origami terasa diremas. Origami menahan rasa sakit itu dengan cara memegang dada kirinya. Ia tidak mempunyai kekuatan pelindung untuk menahan serangan gelombang hawa itu.
"Ukh!" Origami tidak tahan lagi. Wajahnya pucat pasi. Napasnya terasa sesak.
Kurumi menyadari Origami yang merasa kesakitan. "Origami, kamu kenapa?"
"Da-Dadaku sesak, Kurumi."
"Sesak bagaimana?"
"Ukh! Aaah!"
Origami pun jatuh dari bangku dan terkapar di lantai. Mengagetkan semua orang. Acara belajar pun terganggu.
"Origami!" Naruto dengan cepat menghampiri Origami. Ia berlutut sembari memeluk Origami. "Apa yang terjadi denganmu?"
"Iya, kenapa, Origami?" Shidou ikut bertanya.
"Kamu tidak apa-apa, Origami?" Kurumi khawatir.
Origami tidak bisa menjawab karena napasnya tercekat. Naruto panik dan langsung menggendong Origami. Semua orang menjadi bingung dan melihat Naruto langsung berjalan mendekati Ibu Guru.
"Naruto, Origami kenapa?" tanya Ibu Guru yang bernama Mitarashi Anko.
"Napas Origami sesak, Sensei. Aku harus membawanya ke UKS."
"Ya, cepat bawa dia ke sana."
"Baiklah, Sensei!"
Dengan cepat, Naruto berlari keluar kelas sembari membawa Origami dalam gendongannya. Ia sangat khawatir dengan keadaan Origami.
Jauh dari kelas itu, Origami tidak merasa sesak napas lagi. Hal itu dikatakannya pada Naruto.
"Aku sudah merasa lebih baik sekarang, Naruto."
"Eh? Benarkah?"
"Hn. Sekarang turunkan aku."
Naruto menurunkan Origami. Mereka berdua berdiri berhadapan di lorong yang sepi.
"Syukurlah, kamu baik-baik saja. Sekarang ceritakan padaku kenapa kamu bisa jatuh dari bangku."
"Aku merasakan hawa Youkai yang sangat kuat."
"Hawa Youkai yang sangat kuat?"
"Iya. Apa kamu merasakannya?"
"Ya. Tapi, aku tidak merasa sesak dengan apa yang kamu rasakan barusan."
"Berarti hanya aku yang diserang."
"Kenapa kamu diserangnya?"
"Aku tidak tahu."
Origami menggeleng cepat. Naruto berwajah kusut. Tangannya memegang bahu Origami.
"Mungkin dia termasuk anggota Enight itu."
"Mungkin saja. Aku kira dia sudah mati sewaktu aku dan Paman Minato menyelidiki apartemen korban yang bernama Yuhi Kurenai. Sosok yang kulihat adalah wanita setengah Lipan yang memiliki kekuatan menyembunyikan wujudnya dari penglihatan mata gaib."
"Berarti dia menggunakan Youkai lain untuk menyamarkan keberadaannya. Dia yang asli pasti bersembunyi di balik layar. Youkai yang memiliki kemampuan untuk menyamarkan diri dari penglihatan mata gaib."
Origami terpana mendengar analisis Naruto. Lantas ia tersentak.
"Itu benar."
"Kita harus mencari tahu siapa dia, Origami."
"Hn."
Origami mengangguk dengan senyuman di wajahnya yang berseri-seri. Naruto juga tersenyum, tapi tiba-tiba matanya membulat sempurna saat melihat sosok yang berjalan dari ujung lorong.
Origami mengerutkan keningnya karena Naruto menjadi patung hidup. Ia pun melihat ke arah yang dipandang Naruto.
Seorang gadis berseragam sekolah yang sama dengan mereka, menghentikan langkahnya tak jauh dari mereka. Ia tersenyum dengan wajah yang cerah.
"Naruto," panggil gadis itu.
Naruto tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "To-Tohka?"
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
A/N:
Update kilat lagi.
Terima kasih.
Sabtu, 9 Februari 2019
