Hai semuanya sehat selalu pastinya iya kan? kalau author sih habis lega setelah uts kemarin. Dan juga Laptop author udah di benerin*(bunga-bunga bermekaran) bisa ngetik dan ngepublish lewat laptop lagi deh hore! kebahagiaan tersendiri ya walaupun data sebelumnya hilang semua. :'(

gimana menurut kalian chapter sebelumnya. Ya author cuma ngelakuin sedikit perubahan disini. jujur Author juga geli pas mikirin nama mereka itu. rasanya gak bisa berhenti ketawa pas mikirin konsepnya itu.

oke udahlah. yang lalu biarlah berlalu. just happy reading

.

Apa yang kau rasakan jika tiba-tiba saja menjadi pusat perhatian massa.

Semua pandangan mata hanya tertuju padamu.

Gugup? Malu? Itu sudah pasti, apalagi kalau kau belum terbiasa bicara di depan banyak orang. Tapi yang jadi masalah disini kau tiba-tiba saja menjadi pusat perhatian karena tindakan bodoh yang tidak sengaja kau lakukan.

Mungkin itu yang dirasakan Yaya saat ini, begitu menyadari dirinya tanpa sadar berjalan menuju ke tengah-tengah arena pertarungan milik Halilintar dan Fang.

WoTC

Jujur saja, Yaya sebenarnya tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini. Jadi dia hanya mengerjap kebingungan sambil memandang dua cogan itu secara bergantian dan mencoba membaca situasi. Tapi yang jelas dia tahu jika sudah melakukan suatu hal yang bodoh, entah apapun itu.

"Oh coba lihat. Siapa ini" ucap Fang santai. Dia bukannya marah karena Yaya sudah mengacaukan pertemuannya dengan Halilintar, malah kelihatan sangat senang karena bisa bertemu lagi dengan Yaya.

"Tch... Ikut denganku" dengan sigap Gempa yang juga saat ini berada di dalam kerumunan itu pun segera menarik lengan Yaya dan menyeretnya agar menjauh dari masalah besar yang akan segera terjadi.

Ya. Sebenarnya Gempa ada disana hanya untuk berjaga-jaga dan mengantisipasi jika saja kejadian yang tidak diinginkan yang bisa terjadi. Tapi karena Yaya sudah tidak sengaja terlibat dalam hal ini, jadi dia juga harus segera mengatasinya. Itulah juga tugasnya sebagai ketua OSIS .

Sementara yang diseret hanya diam kebingungan dan mengikuti saja kemana Gempa membawanya.

Tak lama berselang setelah Gempa menarik Yaya pergi dari sana.

"Halilintar! Aku mencarimu kemana-mana! Dengar ada berita menggemparkan" Tiba-tiba saja Gopal datang dengan kehebohan sendiri setelah mencari Halilintar kesana-kemari dan segera menghampirinya untuk memberitahukan berita kedatangan Fang.

Dan tidak menyadari jika Halilintar sedang berhadapan dengan orang yang diberitakan. Seolah-olah baru saja tertinggal kereta. Bahkan murid-murid lain hanya bisa menatapnya dengan pandangan tajam sambil memberikan isyarat pada Gopal untuk menjauh dari sana. Pemuda bertubuh gempal itu baru sadar setelah melihat Fang di dekatnya, itu juga setelah menyadari isyarat mata dari Ying.

"Oh, kalian berdua sudah saling bertemu. Maaf mengganggu ya?" Dia hanya bisa nyengir dan menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal untuk menahan malu sambil berbalik masuk ke dalam kerumunan siswa lain.

Abaikan saja gangguan yang tadi. Kita kembali fokus kepada Halilintar dan Fang yang saat ini sedang saling bertatapan tajam dengan wajah saling merendahkan satu sama lain. Walaupun kelihatannya bakalan aman-aman saja, sebenarnya mereka berdua saat ini sedang bersiap untuk memulai perang.

"Gopal sepertinya tidak banyak berubah. Benar begitu kan, Min Ho?" ucap Fang mengawali pembicaraan di antara mereka berdua.

"Kau sepertinya juga tidak banyak berubah. Bahkan kau masih suka memanggilku dengan nama itu" sahut Halilintar dingin.

"Ayolah. Aku baru saja datang. Setidaknya berikan sambutan yang baik untukku" rajuk Fang dengan nada bercandanya yang khas.

"Sayangnya aku kurang ahli soal acara penyambutan. Tapi jika yang kau minta air mata..." sahut Halilintar dingin. "Aku siap membuatmu menangis kapan saja" lanjutnya mengancam dengan tatapan yang sangat tajam.

"WOOOOW..."

Dan membuat siswa lain terkagum-kagum atas jawaban bernyali yang keluar dari mulut Halilintar tersebut. Kata-kata itu juga sekaligus memberikan satu poin kemenangan untuknya dalam pertandingan adu mulut ini.

Fang hanya mendengus dan tersenyum sinis. Jangan pikir Fang sudah kalah hanya karena satu poin kecil begitu. "Jangan kasar begitu. Aku sudah banyak berubah lo."

"Bagian mananya yang berubah selain sekarang kau memakai kacamata?" tanya Halilintar, masih dengan mode datarnya. Asal tahu saja saat masih SMP Fang itu matanya masih normal.

"Aku sudah introspeksi diri" canda Fang yang kemudian diikuti cengiran tak jelas.

Halilintar hanya bergidik kecil sambil menahan tawa mendengar jawaban penuh percaya diri(narsis) dari Fang tersebut. Introspeksi diri? Konyol sekali.

"Ya. Aku sadar jika barang bekas yang tidak terpakai itu harus dibuang jauh-jauh." lanjut Fang dan berhasil membuat Halilintar bungkam. Karena yang dimaksud Fang barang bekas-maksudnya mantan sahabat itu adalah dia. Tapi dengan pemaknaan yang cukup tersirat.

"Karena itulah. Kita gak bisa satu sekolah. Bisa kau pindah dari sini, sebelum menjadi masalah besar?" sambungnya lagi seenaknya. Seolah-olah dia yang punya sekolah ini. Karena secara sekolah ini adalah milik Ibu dari Boboiboy bersaudara yang berarti secara tidak langsung ini adalah sekolah milik Halilintar dan adik-adiknya.

"Jika kau maunya begitu, kenapa bukan kau saja yang pindah? Karena aku tidak bisa. Sekolah ini milik Ibuku" sahut Halilintar tak kalah sengit.

"Jadi kau punya Ibu satu dan Ibu dua?"

Tiba-tiba saja Fang mengeluarkan jurus andalannya yang bisa membuat Halilintar diam dan membelalak saat itu juga. Inilah rahasia yang disembunyikan oleh keluarganya selama ini. Dan jika sampai bocor ke publik nama besar keluarga Boboiboy bisa tercoreng.

Bahwa kenyataan sebenarnya Halilintar, Taufan, dan Gempa bukanlah anak kandung dari ketua dewan, Lisa Boboiboy atau Cho In Jung (Ibu mereka yang ada di rumah itu).

"Kenapa? Apa aku sudah terlalu berlebihan mencoba membocorkan hal itu di hari pertama? Apa kau pikir aku tidak bisa melakukannya?" ledek Fang dengan tatapan merendahkan.

Sekarang Halilintar benar-benar kena skak. Kalau dia sih tidak masalah jika disebut apa. Tapi bagaimana dengan Taufan dan Gempa? Dan juga bisa-bisanya dia membicarakan hal ini di saat separuh sekolah berkumpul disini.

Kemudian pemuda bersurai raven itu mulai bersiul pelan dan kembali nyerocos "Apa yang ya judul artikel yang pas, kalau hal ini sampai bocor ke publik? Pasti menyenangkan sekali mengetahui siapa Ibu kandung dari pewaris grup ABA"

"Orang yang tidak punya Ibu tak pantas mengatakan hal itu" sekarang gantian, Halilintar yang membuat Fang bungkam, satu kalimat pendek itu cukup membalikkan kata-kata dari Fang seperti sebuah permainan lempar tangkap.

"Oh iya, aku ingat. Kau juga tidak punya Ayah ya? ucapnya lagi dengan nada mengejek. "Jelas. Ayahmu kan kabur" lanjutnya menyeringai.

"Jangan khawatir. Semua orang juga sudah tahu, bagaimana kelakuan ayahmu itu." sambung Halilintar lagi dengan nada suara yang lebih serius.

Lihat, sekarang Fang yang tidak berkutik dan tidak bisa membalas ucapan sarkartis dari Halilintar. Karena yang diucapkannya semuanya benar, setelah membuat istrinya sendiri meninggal dalam kecelakaan. Pria sialan itu malah melarikan diri entah kemana, meninggalkan dua orang putranya yang masih sangat muda.

Benar-benar memalukan.

Sepertinya Suzy bisa membaca jika kondisi ini semakin memburuk. Dan jika dibiarkan terus berlanjut, bisa-bisa terjadi pertumpahan darah disini.

Jadi gadis berambut coklat itu pun berinisiatif untuk melerai mereka berdua dengan cara menyeret Fang pergi dari sana.

"Sudah cukup kan? Ayo kita pergi dari sini" ucap gadis itu sambil berusaha menarik lengan Fang.

Tentu saja Fang menolak, urusannya dengan Halilintar masih belum selesai. Dengan segera pemuda berambut ungu gelap itu pun menarik Suzy dan merangkulnya.

"Apa kau tidak lihat kondisinya sister? Kami masih nostalgia disini" ucap Fang dengan wajah dan nada suara geram, tapi digabungkan dengan senyuman manis.

"Lepaskan!" perintah Suzy sembari berontak untuk melepaskan dirinya dari rangkulan Fang.

Sementara Halilintar yang kesal hanya berdecak dan segera merebut Suzy dari genggaman Fang.

"Kalau kau mau berkelahi jangan bawa-bawa orang lain. Hadapi aku langsung. Itu pun kalau kau masih berani" gertaknya.

Dan dengan kesal Halilintar pun segera meninggalkan arena bertarung tersebut sambil menyeret Suzy. membuat Fang mendengus dan tersenyum sinis, jadi maksud Halilintar tadi adalah 'Mata dibalas mata, gigi dibalas gigi' begitu?

Sementara itu Taufan yang mengawasi hal ini dari kejauhan hanya mendesah lega sekaligus kecewa. Lega karena Kakaknya tidak membuat masalah dengan Fang walau hanya sebentar dan kecewa karena tidak ada adegan berkelahi seperti harapannya.

WoTC

Di saat bersamaan. Setelah menarik Yaya keluar dari masalah besar yang akan terjadi, Gempa pun membawa gadis itu ke Taman sekolah. Disana mereka mulai berbincang.

"Syukurlah. kau segera menarikku keluar dari sana" desah Yaya lega.

"Mau bagaimana lagi, aku kaget. Kau tiba-tiba saja berdiri di antara mereka berdua" jawab Gempa. Sambil menyodorkan sebotol air minum pada Yaya.

Yaya pun menerimanya dan segera membuka tutupnya.

"Tapi. Bagaimana Lin Kai Feng bisa kenal denganmu" lanjut Gempa bertanya dengan penuh rasa penasaran.

"Oh jadi namanya Lin Kai Feng" gumam Yaya sambil meminum air mineralnya. "Setelah pulang dari rumahmu, aku tidak sengaja berpapasan dengannya. Tapi dia bilang, dia pernah bertemu denganku sebelumnya" lanjutnya lagi.

"Kapan?"

"Entahlah. Aku juga tidak ingat" jawab Yaya polos. "Apa itu hal buruk. Memang Lin Kai Feng itu siapa?" lanjutnya lagi bertanya dengan penuh penasaran pada Gempa.

"Fang itu... bukan orang baik. Dia suka mengerjai orang lain" jelas Gempa datar.

"Maksudmu... membully?" tanya Yaya dengan raut wajah ketakutan.

Dan hanya dijawab Gempa dengan sebuah anggukan berat. Hingga membuat Yaya lesu seketika itu juga, pasalnya dia sudah terlanjur dan tak sengaja berurusan dengan Fang. Ke depannya nanti entah apa yang akan terjadi pada dirinya.

"Daripada masalah Fang... ada hal yang lebih penting yang harus lebih kau khawatirkan" Aneh Gempa seperti selalu bisa membaca pikiran Yaya. Dan kali ini dia lagi-lagi memberikan nasehat yang baik.

"Apa itu?"

Gempa pun mengacungkan telunjuk kanannya di depan wajah Yaya dan mulai menjelaskan informasi yang sangat penting "Dengar ya. Ada hirarki yang sangat ketat di sekolah ini"

WoTC

(AN. kalimat yang dimiringkan dan berada di tengah itu adalah penjelasan dari Gempa, sedangkan tulisan yang seperti biasa adalah narasi dari author)

Siswa di sekolah ini di bagi berdasarkan grup yang memisahkan jabatan orang tua dan tingkat kekayaan mereka.

Kelas tertinggi. Management heritor group

Mereka merupakan anak-anak yang akan mewarisi posisi penting dari perusahaan orang tua mereka.

Seperti yang dijelaskan Gempa barusan. Grup pewaris Manajemen adalah anak-anak yang akan mengambil posisi penting dalam sebuah perusahaan milik orang tua mereka, seperti presdir, wakil presdir, komisaris, direktur, wakil direktur, general manajer, dsb.

Contoh anggota dari grup ini adalah Boboiboy bersaudara, Lin Kai Feng, Wang Suzy dan Nana.

Kelas kedua. Contribution heritor group

Mereka tidak akan berhubungan langsung dengan pemanajemenan perusahaan. Tapi sudah menjadi pemegang saham terbesar.

Sepertinya author tidak perlu menjelaskannya lagi. Karena sepertinya sudah jelas. Contoh anggota dari grup ini adalah Yap Ming Xing a.k.a Ying. Dia mewarisi hampir keseluruhan saham dari star entertainment.

Kelas ketiga. Honorary heritor group.

Jaksa, pengacara, anggota dewan, hakim mahkamah Agung. Anak-anak dari orang tua dengan pekerjaan terhormat dari bidang hukum dan politik.

Kelihatannya sudah sangat jelas jadi author tidak perlu menjelaskan lagi. Contoh anggota dari grup ini adalah Gopal. A Kumar.

WoTC

"Lalu yang terakhir. Social Indifferent group. Seperti dirimu" lanjut Gempa sambil memberikan isyarat pada Yaya di sebelahnya. Setelah menjelaskan panjang lebar, pemuda bertopi terbalik itu mulai lelah dan bersender ke bangku sambil menyilangkan kedua lengannya.

"Social Indifferent group?" tanya Yaya penasaran.

"Merujuk pada anak-anak yang masuk kesini berkat kepedulian sosial. Itu semacam kasta sudhra disini. Kau tahu kan apa yang dipikirkan oleh anak-anak itu? 'Putri kepala sekretaris'? Bagi mereka itu tidak ada apa-apanya" jelas Gempa dengan sangat tenang.

"Kalau begitu, kenapa Gempa mau berteman denganku?" tanya Yaya lagi.

Gempa hanya menghela nafas panjang. "Di mata Tuhan semua manusia itu sama. Satu-satunya yang membedakan hanya baik atau buruk sifatnya. Dan pada akhirnya semuanya juga akan mati. Saat itu kita tidak akan membawa apapun selain amal dari semua perbuatan kita di dunia. Dan juga menurutku itu peraturan yang sangat bodoh, entah siapa yang sudah memulainya." Dan kembali menjelaskan secara panjang lebar alasan dia suka berteman dan bersikap ramah pada semua orang.

Yup. Gempa memang bijak, dia suka sekali memberikan nasehat dan ceramah tentang hal yang berguna. Karena itu juga lah Yaya kagum padanya, dia seperti kakak dan guru yang sempurna baginya.

"Jangan khawatir. Aku, Kakakku dan Adikku, kami semua akan selalu berada di sisimu" lanjutnya dengan senyum dan tatapan lembut pada Yaya.

"Terima Kasih, Gempa" sampai Yaya dibuat terharu oleh kata-katanya.

"Ah... tapi setelah kupikir-pikir lagi. Kurasa aku tidak perlu terlalu berlebihan melakukannya" ucap Gempa santai.

"Kenapa?"

"Karena itu jatahnya Kak Halilintar. Dia mungkin akan menghajarku kalau berani mengambil bagiannya." canda Gempa.

Yaya hanya ber-jaw drop mendengar candaan garing dari Gempa tersebut. "Aku rasa Hali tidak akan pernah melakukan itu padamu. Kau tau kan betapa sayangnya dia padamu." ucapnya lembut dengan sebuah senyuman manis tersungging di wajah cantiknya.

"Kalau begitu berarti Kak Halilintar tidak sayang pada adik-adiknya yang lain?" sahut Gempa dengan nada bercanda.

"Tentu saja dia menyayangi mereka semua. Tapi cara menunjukannya sedikit berbeda" jawab Yaya. Asal tahu saja meskipun Halilintar itu menyayangi semua adiknya tapi dia hanya punya sisi lembut pada Gempa dan Ice saja. Sedangkan pada Taufan dan Blaze... ya sepertinya kalian sudah tahu sendiri.

Dasar pilih kasih.

Beberapa saat kemudian ponsel Gempa berbunyi. itu adalah SMS dari guru wali kelas Yaya. Gempa pun segera membuka dan membacanya.

"Oi, Anak baru. Kau diminta untuk pergi ke ruang guru." kata Gempa santai pada Yaya. "Ngomong-ngomong, aku ketua OSIS disini. Kalau ada yang tidak kau pahami tanyakan saja aku" lanjutnya sambil memasukan kembali ponselnya ke kantong celana.

"Terima kasih, tapi kurasa itu akan merepotkanmu." tolak Yaya halus. Tapi kemudian dia baru sadar, jika dia tidak tahu harus ke arah mana. "Pertanyaan pertama. Dimana ruangan guru?" lanjutnya dengan wajah memelas pada Gempa.

Setelah itu Gempa pun mengantarkan Yaya ke ruang guru untuk memasukan data dan mengambil jadwal pelajarannya.

WoTC

Kemudian setelah menyelesaikan registrasi, Yaya pun dimasukan ke kelas 2-C. Kelas yang sama dengan Halilintar dan juga Fang. Terlihat dalam satu kelas itu ada sekitar 20 murid termasuk Yaya.

"Selamat pagi murid-murid. Hari ini kita mendapatkan anggota baru di kelas ini." kata seorang guru mengenalkan Yaya di depan kelas.

"Hei, apa yang kau tunggu? Perkenalkan dirimu" lanjutnya lagi pada Yaya. Hingga membuat gadis itu tersentak kaget dan tersadar dari lamunan.

"Selamat pagi, namaku-"

"Pptt"

Entah mengapa murid-murid lain jadi tertawa dengan pengenalan diri Yaya yang terdengar panik dan mencoba terdengar sopan. Mungkin itu karena mereka anak orang kaya, jadi mereka bicara sesuka hati dan suka merendahkan orang lain.

Dasar anak-anak sombong.

Yaya hanya berdehem dan menyusun lagi kata-katanya, kali ini dia akan coba lagi dengan cara berpikir seperti anak-anak sombong itu.

"Aku Yaya Ah. Seperti yang kalian lihat aku adalah hanyalah siswa biasa yang masuk kesini dengan harapan bisa menjalani kehidupan sekolah yang tenang. Jadi sebisa mungkin aku melakukan semuanya sendiri. Bantuan seperti apapun tidak dibutuhkan… karena hanya akan menjadi beban" jelasnya dan membuat para siswa dikelas itu terkagum-kagum dengan perkenalan diri dari Yaya yang terdengar sangat bernyali. Dia tidak butuh bantuan apapun dan siapapun katanya.

Minus Halilintar yang saat ini sedang fokus mendengarkan lagu dengan headset-nya. Dan dia masa bodoh ada guru di depan atau tidak, melakukan hal seperti itu.

"Baiklah, kurasa sudah cukup. Silahkan duduk di kursi yang kosong" ucap sang guru mempersilahkan Yaya.

Dan dengan segera gadis berkerudung pink yang khas itu pun mengambil bangku kosong yang berada di barisan kedua dari depan, tepat di sebelah Halilintar yang duduk di pojok dekat jendela.

Yaya hanya menatap lesu pacarnya yang sedang asik menatap keluar dengan bosan sambil mendengarkan koleksi musik instrumental yang menenangkan(aslinya adalah hasil CTRL+C plus CTRL+V dari folder lagu Gempa). Dan tanpa disadarinya ternyata Fang juga duduk di sebelahnya setelah seenaknya mengusir dan merebut kursi milik siswa social indifferent group lain bernama Iwan.

"Yo." Panggil Fang pada Yaya, dan berhasil membuat gadis itu menoleh padanya.

"Ada apa?" tanya Yaya ketus, entah karena masih kesal karena kejadian kemarin atau menjaga jarak dengan Fang.

"Jadi namamu Yaya Ah. Aku Lin Kai Feng, kau bisa panggil aku Fang" ucap pemuda bersurai ungu raven itu memperkenalkan dirinya dengan sopan dan tak lupa sebuah senyuman manis.

"Ya salam kenal. Kau juga cukup panggil aku Yaya" ucap gadis dengan kerudung pink khas itu agak bingung. Pasalnya siapa pun yang melihat senyuman itu pasti akan membuat kesan pertama yang cukup baik untuknya. Tapi tidak dengan pemuda bermanik karamel di sebelah Yaya, dia sudah mulai merasa risih Fang mencoba dekat-dekat dengan pacarnya.

"Oh iya, kau masih ingat kan soal yang kemarin. Janji itu" Lanjut Fang. Dan membuat Yaya memiringkan kepala tanda bingung, rasanya dia tidak ingat pernah janji dengan Fang.

"Nomor HP-mu. Kau akan memberikannya jika kita ketemu lagi ya, kan?"tegas Fang memperjelas ucapannya sebelumnya.

Sudah cukup, kuping Halilintar sudah semakin panas saja semakin pembicaraannya ke arah sini. Apa sih maunya, pakai tanya-tanya nomor Handphone segala. Sudah jelas pasti ada maksud lain disini. Pemuda dengan wajah dingin khas itu pun mendesis keras dan melepas earphone-nya lalu mulai membentak. "Berisik. Bu guru sedang mengajar di depan"

"Apa masalahmu? Memangnya kau mendengarkan? Kau kan dari tadi pakai headset" sahut Fang tak kalah sengitnya. Dia hanya mengejek sifat Halilintar yang sok cuek, karena dia tahu jika Hali selalu memainkan lagunya dalam volume kecil saat belajar. Dari dulu juga selalu seperti itu.

"Tch.." Dan Halilintar hanya menatap tajam ke arah Fang dengan wajah yang sangat geram sambil bergumam.

Sementara Yaya hanya membuang nafas berat sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan akibat aura tidak enak yang berada di kiri-kanannya. Kenapa dia harus sekelas dan terpaksa duduk di antara dua oang yang sama menyebalkannya ini tadi.

WoTC

Setelah melewati dua jam mapel. Halilintar yang sebelumnya dibuat kesal oleh Fang pun memutuskan untuk menemui adiknya yang paling normal di ruangan OSIS dimana si adik sepertinya sedang sibuk membuat papan pengumuman atau semacamnya. Yang bertuliskan 'dicari sekretaris OSIS baru secara sukarelawan untuk menggantikan sekretaris yang sebelumnya mengundurkan diri'.

Pemuda bertopi hitam itu pun segera membuka pintu ruangan OSIS dan mengetuk pintunya(Perasaan kebalik deh, harusnya ketuk dulu baru masuk. ah sudahlah). Dan membuat si ketua OSIS menghentikan aktivitas menulisnya untuk menyapa Kakak kembarnya yang paling tua tersebut.

"Buat apa repot-repot mengetuk?" ucapnya dengan senyuman manisnya yang khas.

"Hoi, Gempa. Apa kau pikir ruangan OSIS ini sedikit terlalu mewah untuk sebuah sekolah" bukannya menjawab pertanyaan Gempa sebelumnnya Halilintar malah berkomentar soal ruangan OSIS dari sekolah milik Ibu mereka ini. Ya wajar sih, pasalnya daripada ruangan OSIS ruangan ini lebih mirip ruangan rapat di hotel berbintang.

"Ini semua berkat kekayaan milik Ayah." jawab Gempa lembut. "Tapi tumben Kak Halilintar mencariku, biasanya malah aku lo yang mendatangi ke kelasmu" lanjutnya lagi berkomentar. Tapi sepertinya tidak terlalu dipedulikan oleh Halilintar.

"Kau sedang membuat apa?" lihat kan dia malah menanyakan hal yang lain lagi. Seolah-olah dia punya dunianya sendiri yang terpisah jauh dari kenyataan.

"Oh ini. Sekretaris sebelumnya sudah mengajukan pengunduran diri, katanya dia sudah tidak kuat lagi bekerja di OSIS. Dan menyerahkan surat pengunduran diri kepada kami." Gempa sepertinya paham dan menanggapi pertanyaan dari Kakaknya itu, bahkan meskipun pertanyaan dan komentarnya sendiri tidak pernah ditanggapi serius oleh Kakaknya itu.

"Ini sudah yang keberapa kali?" tanya Halilintar datar.

"Kurasa ini sudah kali ketiga sekretaris mengundurkan diri. Jujur aku juga bingung kenapa mereka jadi begitu" jelas Gempa sambil melipat kedua lengannya di depan dada.

Halilintar hanya ber-sweat drop mendengar komentar dari Gempa. Sebenarnya Halilintar tahu dimana masalahnya, dan dia sudah memberitahukannya pada Gempa. Tapi entah Gempa-nya yang masa bodoh atau apa juga, entahlah. Dan dia membiarkan saja masalah itu tetap berada di dalam struktur oraganisasi OSIS.

"Makanya sudah kubilang berapa kali kan, ganti bendahara nya. Masalahnya ada pada si bendahara. Gara-gara ucapan seenaknya itu, orang yang mentalnya lemah jadi stress dibuatnya" tegas Halilintar.

"Sayangnya, Ying sangat berguna dan jago dalam mengurus keuangan. Buktinya Kas OSIS tidak pernah kosong" tolak Gempa halus dan menjelaskan secara baik-baik pada Kakaknya yang tempramental itu.

Halilintar hanya manggut-manggut mengiyakan kata-kata adiknya itu "Terserahmu lah. Oh iya ngomong-ngomong aku bisa minta tolong" dan kembali merubah topik pembicaraan.

"Apa itu?" Gempa hanya mengerjap bingung. Tumben Kakaknya yang satu ini meminta tolong padanya.

"Kau bisa menjaga rahasia dan tidak memberitahukan pada siapapun jika Yaya ada di kelas Social Indifferent" pinta Halilintar.

"Tentu saja. Malah aku yang memperingatkannya tadi" jawab Gempa enteng.

Halilintar pun tersenyum lembut dan segera mengelus kepala adiknya itu. "Adik pintar"pujinya.

Tepat pada saat itu juga, si bendahara OSIS yang sebelumnya menjadi topic pembicaraan pun seenaknya nyelonong masuk tanpa mengetuk pintu sama sekali, membuat mereka berdua menatap ke arah pintu. Dan Ying menemukan Halilintar yang sedang mengelus kepala Gempa. Awalnya dia biasa saja melihat hal seperti itu. Tapi kemudian dia teringat kata-kata Blaze kemarin.

"Aturan itu ada untuk dilanggar…"

Dan membuatnya jadi berpikir yang tidak-tidak. Jika Halilintar dan Gempa yang merupakan saudara kembar sesama laki-laki sedang…

"Ma-Maaf menggangu…" ucapnya pelan dan segera berbalik keluar sambil menutup pintu.

Tentu saja Halilintar dan Gempa dibuat kebingungan dengan tingkah aneh Ying tersebut.

"Dia kenapa?" tanya Halilintar sambil melepaskan tangannya dari kepala Gempa.

"Entahlah" jawab Gempa enteng sambil memainkan bahunya.

WoTC

Sementara itu, Yaya memutuskan untuk berjalan-jalan melihat sekeliling sekolah. Setelah berkeliling sendirian cukup jauh, lagi-lagi dia tak sengaja berpapasan dengan Ying dan kedua temannya, Nana dan Gopal saat melewati susunan loker di aula.

"Hei, anak baru! Kemarilah!" seru seorang pemuda bertubuh gempal memanggilnya setelah asik berbincang dengan kedua teman perempuannya di depan loker milik Ying dan membuat Yaya menoleh pada mereka bertiga.

"Ada apa?" Tanya Yaya agak bingung dan segera mendatangi mereka bertiga.

"Kau tipe yang mana?" Tanya Gopal singkat, padat dan tidak jelas. Tentu saja ini membuat Yaya mengerutkan dahinya, tidak paham apa yang dimaksud Gopal dengan 'tipe'

"Apa maksudnya?"

"Ada dua tipe orang yang merupakan murid pindahan di sekolah ini. Yang pertama, orang kaya baru dan yang kedua orang yang masuk kesini berkat bantuan dari beasiswa. Jadi diantara kedua tipe itu kau yang mana?" jelas Gopal. Pertanyaan ini jika di sekolah lain memang tidak penting tapi di sekolah elit seperti SMA ABA di mana sebuah hirarki pemisah antar kelas sosial berlaku dengan sangat ketat.

Dan Nana yang ada di sampingnya hanya mendesis dan ikut berkomentar "Tapi aneh juga. Kau baru saja masuk ke sekolah ini tapi Halilintar sudah akrab denganmu, Fang menggodamu, Gempa menarik tanganmu, Yap Ming Xing kenal denganmu, Dan Wang Suzy membencimu. Sebenarnya kau ini siapa?"

Tentu saja Yaya kebingungan harus menjawab apa dan hanya menatap wajah Ying. Karena jika dia jujur bilang dari kelas social indifferent group dia bisa menjadi korban bully-an disini. Tapi kalau dia berbohong masalahnya bisa jadi lebih besar lagi.

"Kenapa kau menatapku? Jawab!" ucap gadis keturunan cina itu ketus. Dari cara bicaranya sepertinya dia tak ada niat sedikitpun untuk membantu Yaya saat ini.

"Itu… anu.."

"Orang kaya baru!"

Dan tiba-tiba saja terdengar suara pria dengan cara bicara dinginnya yang khas memanggil dari belakang Yaya. Halilintar muncul tepat waktu dan menghampiri gadis itu, mencoba menyelamatkan Yaya layaknya pahlawan kesiangan.

"Lihat, sudah kuduga dia orang kaya baru! Dia masih belum tahu cara membelanjakan uangnya!" seru Gopal percaya saja dengan yang dikatakan oleh Halilintar.

"Heul… Aku tidak sependapat dengan hal ini." Dengan kesal Ying pun segera menutup pintu lokernya setelah mengambil buku untuk pelajaran selanjutnya.

Halilintar pun menatap Yaya. "Orang kaya baru, ikuti aku" dan mengajak gadis berkerudung itu untuk bicara berdua saja. Tapi Yaya-nya malah pergi ke arah sebaliknya menjauh dari Halilintar. Dan membuat pemuda bertopi hitam itu mendengus pelan.

WoTC

Kemudian setelah mencoba menghindari Halilintar sejauh-jauhnya, Yaya pun tak sengaja berpapasan dengan Fang yang segera menyandung kakinya hingga membuat Yaya hampir jatuh terjerembab dan segera menangkap lengan gadis itu agar tidak terjatuh. Sepertinya Fang sengaja melakukannya untuk mencari perhatian dari gadis berkerudung pink khas tersebut.

"Maaf. Kau tidak apa-apa?" ucapnya menyeringai.

Dan dengan kesal Yaya pun segera menarik lengannya yang masih di pegangi oleh Fang. Dia tahu Fang sengaja dan niat sekali melakukannya, benar-benar menyebalkan.

"Maaf kalau terkesan memaksa. Tapi mulai hari ini kau adalah milikku" tegas pemuda bersurai ungu itu seenaknya mengklaim Yaya sebagai miliknya.

"Hah?" tentu saja Yaya dibuat kebingungan dengan pertanyataan seenaknya dari Fang tersebut.

"Bagaimana kau bisa seenaknya mengklaim dia adalah milikmu" dan lagi-lagi Halilintar muncul secara tiba-tiba entah datang dari mana dan segera menyela pembicaraan mereka.

"Apa kau punya surat tanda bukti kepemilikannya" lanjutnya lagi kepada Fang. Dan membuat pria bersurai ungu itu bungkam dengan tatapan tajam pada pemuda bertopi yang sudah mengganggu percakapannya dengan gadis incarannya itu.

"Hoi. Tadi kan kubilang 'ikuti aku', kenapa kau malah menghindar? Pergilah duluan" lanjutnya lagi pada Yaya. Dan gadis itu pun segera meninggalkan mereka berdua, membuat Fang kecewa seketika itu juga.

"Hahh… Padahal aku hanya berusaha mengakrabkan diri dengan si anak baru." Gerutu Fang dengan nada yang tidak serius.

"Berhentilah berusaha, tidak ada gunanya. Dan juga kalau kau ingin menjadikan Yaya sebagai milikmu, cobalah rebut dariku. Aku ingin lihat seperti apa usahamu, itu pun kalau kau bisa" ejek Halilintar. Dan membuat Fang menyadari jika ada hubungan yang spesial diantara Mantan sahabat dan calon temannya itu. Rasanya dia jadi ingin sekali merusaknya.

"Oh jadi begitu. Kau pikir aku ingin merebutnya darimu? Padahal tadi niatnya aku hanya ingin berteman dengannya. Tapi merebut sesuatu yang yang berharga dari Halilintar Steven Boboiboy, sepertinya menarik juga." Ucap Fang dengan sebuah seringai jahil tersungging di wajahnya. Dan membuat Halilintar membelalak kaget saat mendengar kalimat terakhir dari Fang.

Oh tidak, Apa dia akan benar-benar mencoba merebut Yaya darinya? Ini tidak bisa dibiarkan.

Halilintar pun mencoba untuk tenang dan memikirkan kata-kata yang tepat untuk membalas ucapan dari Fang. "Kau lebih baik tanpa teman. Apa gunanya punya teman, kalau langsung hilang?"sindirnya. Dan kemudian melangkah pergi untuk menyusul Yaya yang sudah pergi cukup jauh tadi.

WoTC

Kemudian kedua muda-mudi itu pun bicara(berseteru) di taman sekolah.

"Sebenarnya apa yang kau lakukan? Kenapa kau bicara dengan Fang? Aku menyuruhmu untuk menjauh darinya, Gempa juga sudah memperingatkanmu, bukan!?" bentak Halilintar.

"Tapi kau tidak pernah bilang apapun padaku tentang menjauhi Fang" protes Yaya.

"Meskipun aku tidak bilang. Setidaknya kau tahu sendiri Fang itu berbahaya. Lalu bagaimana aku melindungimu kalau begini caranya!?" Kemudian pemuda berlambang petir itu pun memijit keningnya dan mengatur pernapasannya kembali, dia baru sadar sudah membentak pacarnya dengan keras "Maaf sudah membentakmu. Aku tidak bermaksud begitu"

"Kau sendiri juga, kenapa kau bilang aku orang kaya baru? " balas Yaya tak kalah sengitnya.

"Aku mencoba menyelamatkanmu tadi." Jawab Halilintar mencoba untuk tetap tenang.

"Dan membuatku jatuh ke dalam masalah yang lebih besar!" bentak Yaya keras. Dan membuat Halilintar membelalak, sadar jika yang dilakukannya tadi salah.

"Aku mencoba untuk menjalani kehidupan sekolah biasa dan kau membuatnya jadi kacau sekarang. Karena cepat atau lambat semuanya akan segera tahu aku bukan siapa-siapa, dan saat hal itu terjadi meminta maaf pun tidak akan berguna lagi. Apa kau memikirkan hal itu!?" sembur Yaya penuh kekesalan. Dia benar-benar jengkel dengan sikap Halilintar yang selalu saja bertindak sesuka hatinya tanpa memikirkan resiko yang akan terjadi.

"Tidak apa-apa aku akan melindungimu" balas Halilintar lirih.

"Kau tidak bisa melindungiku. Apa kau tidak lihat, anak-anak lain memperhatikan kita bahkan saat bicara seperti ini? Kalau kau ingin melindungi maka jaga jaraklah denganku, setidaknya di sekolah" lanjut Yaya, yang kemudian meninggalkan Halilintar yang menunduk lirih menyesali tindakaknnya begitu saja

Sementara dari jauh Suzy memperhatikan mereka berdua dengan tatapan- uhum cemburu. Dia benar-benar tidak mengerti sebenarnya Yaya Ah itu siapa? Dia lebih dekat dari tunangannya daripada dirinya.

Disaat bersamaan Gempa pun datang menghampirinya dengan tatapan bingung sambil menyedot jus jeruk botolan.

"Ada apa?" tanya Suzy ketus.

"Kok kau tahu ini aku?" tanya Gempa keheranan.

"Aku bisa cium bau jeruk" jawab Suzy datar. Asal mau tahu saja, Gempa itu suka benget makan jeruk sampai-sampai bau badannya jadi khas seperti itu.

"Kalau mau minta bilang saja. Pasti kuberi kok" canda Gempa datar, tidak suka jika dibilang aroma tubuhnya seperti bau jeruk. Dan membuat sunyi tersenyum manis mendengar candaan garing dari Gempa sembari matanya masih mengawasi aktifitas Halilintar.

"Kau tersenyum?" gumam Gempa keheranan dengan ekspresi yang jarang diperlihatkan oleh Suzy.

Dan membuat Suzy mengalihkan perhatiannya sepenuhnya pada Gempa di sebelahnya. "Apa aku tadi tersenyum?" tanya Suzy keheranan. Dia sendiri tidak sadar dengan gerakan otot wajahnya tadi.

"Iya. Cantik sekali" Gempa mengangguk dan memuji Suzy sambil menyunggingkan senyuman dan tatapan lembut khas miliknya. Dan membuat Suzy mem-blushing, terpesona dengan ekspresi manis Gempa itu sambil memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menyembunyikannya.

Dan membuat Gempa memiringkan kepala tanda bingung.

WoTC

Waktu pulang sekolah pun tiba. Halilintar yang masih merasa tidak nyaman setelah dibentak oleh Yaya pun pergi ke studio milik Blaze dan merenung disana sambil memandangi foto dirinya dan Fang saat masih SMP yang tertempel di dinding. Mereka terlihat sangat bahagia dan akrab dalam foto itu, bahkan saling rangkul satu sama lain.

Membuat Halilintar jadi teringat awal kejadian dimana mereka berdua mulai bertengkar satu sama lain.

Flashback

Kira-kira kejadiannya dua tahun yang lalu. Sebagai sahabat Halilintar dan Fang sangat akrab seperti saudara. Mereka hampir tidak terpisahkan dan melakukan segala hal bersama-sama.

Hingga suatu hari, saat mereka baru saja keluar setelah membeli es krim di toko langganan mereka. Sambil bercanda tawa karena macam-macam topik yang mereka bicarakan.

"Hei Fang, itu mobil ibumu kan?" ucap Halilintar sambil menunjuk sebuah mobil merah yang terparkir di seberang jalan.

Fang menatap ke arah mobil yang ditunjuk oleh sahabatnya itu dan menemukan sosok wanita yang merupakan Ibunya sedang duduk di kursi duduk supir. Fang pun mencoba untuk memanggilnya, tapi tidak jadi setelah melihat wajah syok ibunya.

Kemudian dia menggulirkan kedua bola matanya ke arah lain. Untuk melihat apa yang sebenarnya sedang dilihat oleh Ibunya itu.

Dia hampir tidak percaya apa yang dilihatnya. Ayahnya sedang duduk di mobil pribadinya sambil merangkul wanita lain. Pantas saja Ibunya syok.

Apa kira-kira yang dirasakan Fang saat itu. Marah? Kesal? Kecewa? Sepertinya ketiganya. Dia juga bingung dengan yang dirasakannya saat ini. Dia tidak tahu apa dia bisa memaafkan ayahnya setelah ini.

Halilintar yang ada disebelahnya juga ikut-ikutan syok saat melihat hal itu. Tapi yang membuatnya lebih syok lagi adalah ketika melihat wajah masam Fang yang sedang menggigit bibirnya sendiri.

"Fang…?"

WotC

Kemudian pada sore harinya ketika kelima bersaudara sedang berkumpul di kamar Halilintar untuk sekedar bercanda dan bercengkrama. Tiba-tiba saja ada berita di TV yang mengabarkan tentang kecelakan beruntun yang terjadi.

Dan korban meninggalnya adalah Lin Yue, Ibu dari sahabatnya Lin Kai Feng.

Sontak saja Halilintar segera mengambil remote dan mematikan TV-nya tersebut. Membuat adik-adiknya keheranan dengan tingkah laku Kakaknya yang sedang tertunduk lirih.

"Kenapa TV-nya dimatikan, Kak?" tanya Blaze kebingungan.

Flashback Stop

Beberapa saat kemudian Taufan pun masuk ke studio Blaze. Dan menemukan Kakaknya sedang duduk sendirian sambil melamun menatap ke arah dinding.

"Kakak ada disini? Blaze mana?" tanya Taufan penasaran sambil meletakan tasnya di kursi.

"Dia ada remedial sore ini. Jadi dia minta jagakan studionya sebentar tadi." Jelas Halilintar datar.

"Oh begitu" gumam Taufan sambil manggut-manggut dan mengambil gitarnya yang sedang duduk manis di studio milik adiknya ini dan mulai menyetel senarnya lagi.

Halilintar pun mendesah dan berbalik untuk menanyakan suatu hal pada adiknya. Tumben dia yang ngajak ngomong duluan, biasanya dia harus dipancing dulu supaya mau ngomong.

"Hei, Taufan" ucapnya mengawali pembicaraan.

"Ya" sahut Taufan.

"Sampai saat ini kau berteman dengan Yaya, apa kau pernah punya perasaan khusus padanya. Yang tiga setengah tahun dia bersembunyi dariku, itu juga dihitung" tanya Halilintar terdengar sedikit panik.

Taufan hanya mengulum bibirnya sambil memutar matanya. Mencoba mengingat-ingat lagi apa yang sudah dialaminya selama empat tahun terus bertemu dan bermain dengan Yaya.

"Kurasa… Ada" katanya enteng.

"Kapan?" Halilintar mulai mendelik padanya, mencoba mengintrogasi adiknya layaknya seorang penjahat yang baru tertangkap basah.

Tentu saja Taufan jadi syok berat dan bergidik ngeri dengan tatapan dan aura mengerikan yang tiba-tiba saja muncul dari tubuh Kakaknya. "Kalau tidak salah saat kelas 2 SMP. Kami sering main game bareng, dan Yaya satu-satunya orang yang bisa mengalahkanku dalam hitungan menit. Aku jadi mengaguminya karena itu" pada akhirnya dia tetap menjelaskan juga.

Dan malah membuat Halilintar semakin mengeluarkan death glare-nya

"Ta-Tapi sekarang aku sudah punya pacar yang cantik dan manis. Mana mungkin aku selingkuh darinya hanya karena hal sepele seperti itu" ucap Taufan panik mencoba menjelaskan keadaan (menyelamatkan dirinya dari amukan Halilintar).

"Benar juga. Bukannya tidak mungkin adikku sendiri bisa menjadi sainganku" Tapi siapa sangka Halilintar hanya menunduk lirih, mengerti dengan situasinya.

Membuat Taufan jadi kebingungan sendiri. Sebenarnya Kakaknya ini salah makan atau kerasukan apa? Tiba-tiba jadi seperti ini.

Beberapa saat kemudian Si adik terkecil pun datang bersama Kakak kembarnya yang baru saja selesai mengerjakan ulangan remedialnya.

"Oh Kak Taufan juga ada disini?" tanya Blaze.

"Kau sendiri gimana remedialnya?" sahut Taufan ketus. Dia benar-benar tidak percaya adiknya sampai ikut-ikutan remedial karena bolos pada saat ulangan harian berlangsung.

Blaze tidak menjawab dan hanya merogoh kertas ulangannya dari dalam tas.

Kemudian memperlihatkan ketiga kertas dengan mata pelajaran berbeda tersebut.

Taufan dan Halilintar pun dibuat melongo tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ketiga mata pelajaran IPA, IPS, dan Matematika. Semuanya dapat nilai sempurna, Seratus. Yah tapi yang namanya remedial ya remedial dapat biar seratus sekalipun tetap saja nilai aslinya standar.

Pemuda bertopi miring itu hanya tertunduk lesu. Tidak percaya adiknya yang selalu membolos, tidak pernah mau belajar, dan kerjanya hanya main. Lebih pintar daripada dia. "Kau… cepat minta maaf pada semua orang di dunia yang berusaha keras belajar untuk ujian" ucapnya.

"Maafkan aku." Ucap Blaze cuek sambil memasukan kembali kertas ujiannya itu ke dalam tas.

"Katakan dengan sungguh-sungguh!" seru Taufan geram.

"Maafkan aku?" ucap Blaze dengan nada suara yang terdengar seperti sedang bertanya sambil memiringkan kepalanya.

"Kenapa jadi kedengaran seperti pertanyaan!? Dengar ya Blaze Cherry Boboiboy!" bentak Taufan lagi ditambah dengan hinaan berupa mempelesetkan nama tengah milik Blaze.

"Kak. Namaku itu Charlie bukan Cherry" protes Blaze tidak suka namanya diplesetkan seperti itu.

"Sengaja!"

Blaze hanya ber-sweat drop ria mendengar jawaban dari Kakaknya itu.

"Oh kebetulan kalian semua sudah disini"

Tapi kemudian Gempa pun datang dan menemukan keempat saudaranya sudah lengkap berkumpul disini. Membuat Taufan harus menghentikan cacian sekaligus ceramah tak jelasnya pada adiknya yang masih SMP itu.

"Ada ada Gempa?" tanya Halilintar.

"Bersiap-siaplah. Ayah menyuruh kita semua ikut ke perusahaan besok." Jelas Gempa sambil memperlihatkan SMS dari kepala sekretaris Ocho Ah.

TBC

Fiuh… Akhirnya chapter ini selesai juga. Ceritanya makin gaje aja ya. Dan author bukannya bikin laporan buat praktikum malah mengerjakan fic.*(ini gara-gara faktor stress)

Gimana menurut kalian?

Oke, Chapter depan mereka bakal ke perusahaan ayah mereka. Disana Blaze akan menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya.

Tunggu dengan sabar ya. Soalnya aku belum tahu kapan bisa ngetik lagi. Cuma itu aja sih. Bye-bye.