KLONNNTAANNGGGG! Hinata tanpa sengaja menginjak bekas minuman kaleng yang berserakan dilantai. Sontak dua vampire yang berbicara serius itu perlahan berjalan ke arah sumber suara.

"Siapa itu ?" tanya Sasuke dari dalam.

"Aduh, bagaimana ini?" ucap Hinata panik.

I NEED YOUR BLOOD/PART 8

Author : Naragirlz
Genre : Romance, Fantasy
Pairing : Naruhina
Rating : T
WARNING
KARAKTER HINATA DISINI SANGATLAH KUAT DAN SANGAT OOC. JIKA ADA YANG TAK MASUK AKAL, DI ANGGAP MASUK AKAL JUGA YA HEHE. CERITA INI TERINSPIRASI DARI TWLIGHT JADI MAKLUM JIKA ADA YANG SAMA. MAAF JIKA PENJELASAN TENTANG BERUBAHNYA BELLA MENJADI VAMPIR ADA KESALAHAN. MAKLUM SAYA BUKAN PENGGEMAR BERAT TWILIGHT HEHE. FF INI UDAH TAMAT, JADI GAG BAKAL GANTUNG

.

.

Sasuke beserta wanita cantik yang tak lain dan tak bukan adalah pengikutnya. Berjalan perlahan memeriksa sumber suara kaleng yang terdengar oleh mereka. Dengan masih bertelanjang dada Sasuke membuka pintu. Kepalanya menoleh ke kanan dan kekiri untuk memeriksa. Namun dia tak mendapati seorangpun yang ada disekitar mereka. Pengikut Sasuke ikut memeriksa bahkan dia keluar dari dalam untuk melihat lebih teliti lagi. Hinata melihat begitu jelas wajah wanita sang pengikut Sasuke, ia tak lain dan tak bukan adalah Seorang wanita yang hadir didalam mimpinya. Wanita yang menjadi mangsa Sasuke waktu itu. Tak lama kemudian mereka keluar, Sasuke sudah lengkap dengan seragam olahragnya. Bekapan dari tangan Hinata kian lama kian mengendor. Tiba-tiba dia melihat wajah Gaara yang ada di belakanganya.

"Arigatou, kau sudah menolongku."

"Ehm, apa kau mendengar apa yang mereka bicarakan?" tanya Gaara.

"Iya aku mendengarnya," Hinata heran kenapa Gaara tiba-tiba datang untuk menolongnya. Apa dari tadi dia mengikuti dan mengawasinya. "Apa kau juga tahu siapa mereka sebenarnya?"
Gaara diam. Dia butuh waktu untuk menjawabnya, Hinata sabar menanti jawaban dari Gaara. Dari situ Gaara berpikir, apakah dia harus mengiyakan pertanyaan Hinata. Setelah berpikir cukup lama, lebih baik ia jujur, dengan begitu Hinata tahu kalau dia selama ini melindunginya dari Sasuke.

"Iya, aku tahu siapa mereka. Aku sudah tahu siapa Sasuke dari awal dia masuk sekolah," jelas Gaara.

"Apa jangan-jangan kau juga tahu siapa Naruto sebenarnya?" Sejenak, Garra tercengang mendengar pertanyaan Hinata selanjutnya. Ia tak menyangka Hinata mengetahui jati diri Naruto secepat ini. Dengan begini tak ada lagi beban yang harus ia sembunyikan kepada Hinata. Gaara akhirnya mengangguk tanpa ragu "Bagaimana bisa kau tahu Gaara-kun?"

"Itu karena bau mereka," jawabnya singkat.

"Bau?" tanya Hinata bingung. Gaara ingin sekali menjelaskan lebih detail lagi tentang dirinya, tapi dari ujung kanan banyak sekali murid-murid yang berbondong-bondong untuk ganti baju. "Lebih baik aku jelaskan padamu nanti. Sekarang kita ikut pelajaran dulu."

Gaara meninggalkan Hinata begitu saja. Hinata bingung dengan maksud Gaara. Bau? memangnya bagaimana bau vampire itu? Tanya Hinata dalam hati. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk membuang banyak pertanyaan ada dalam dirinya.

ooOOoo

Sore menjelang Hinata pun pulang dari sekolah. Sering kali dia melihat poselnya. Dan berharap Naruto menghubunginya. Dua hari sudah Naruto tidak ada kabar sedikitpun. Hinata sangat merindukan Naruto. Hidupnya menjadi tak berwarna tanpa kehadirannya. Dia benar-benar merasa terpuruk, entah kenapa dia juga merasa ini kedua kalinya ia kehilangan Naruto. Tambatan hatinya itu menghilang pasca terungkapnya jati diri Naruto sebenarnya di depan mata Hinata. Ramainya kota Tokyo, keceriaan yang terpancar setiap pejalan kaki di sekitarnya, tak membuat kegundahan hati Hinata berakhir. Hinata terus berjalan tanpa henti. Gadis bermata lavender itu bingung ketika mendapati sebuah sepeda motor berhenti tepat disampingnya. Hinata sedikit memiringkan kepalanya, ketika ia melihat jelas wajah si pengendara motor yang tak lain dan tak bukan adalah Gaara. Dia baru kali ini melihat Gaara naik kendaraan pribadi.

"Hinata, apa kau ingin pulang bersamaku? Naiklah, bukankah kita bertentangga?" ajak Gaara sambil mengulurkan sebuah helm wanita berwarna pink pada Hinata.

"Benarkah kau mau memberi tumpangan untukku?" tanya Hinata sambil menunjuk batang hidungnya. Gaara mengangguk,

"Wuaaahhh ternyata kau baik juga ya Gaara-kun," canda Hinata.

"Memangnya aku orang yang seperti apa di matamu?" tanya Gaara.

"Kau orang yang dingin. Orang yang tak bisa bersosialisasi pada teman sekelasmu, orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri." Detik berikutnya Hinata sudah berada diatas jok sepeda motor Gaara.

"Hei, Hinata aku bukanlah orang seperti itu. Pengangan yang erat, aku akan melaju dengan kecepatan tinggi."

Hinata melakukan apa yang Gaara katakan. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Gaara adalah orang yang baik, dan berhati mulia. Cuaca sore hari ini begitu dingin. Hinata bisa merasakan perubahan yang drastis ketika dia memeluk Gaara. Hangat benar-benar hangat. Hinata bagaikan mengahngatkan tubuhnya di depan tungku perapian. Sebelum mengantar Hinata pulang, Gaara mampir ke rumahnya dulu untuk mengambil sesuatu dan mengantarkan karena Gaara harus ke kuil untuk membicarakan hal serius dengan gurunya Mereka berdua mulai memasuki rumah kecil yang sederhana namun super bersih, karena Gaara tipe orang yang sangat suka kebersihan.

"Aku ganti baju dulu. Tunggulah sebentar tapi jika kau ingin pulang sendiri juga tidak apa-apa karena rumah kita hanya terpaut tiga rumah," ucap Gaara.

"Kau tidak keberatan kan, jika aku sekali-kali berkunjung ke rumahmu?" ucap Gaara.

"Tentu saja."

Sambil menunggu Gaara, mata Hinata tak henti melihat-lihat seisi rumah Gaara, tepatnya di ruang tamu. Di sudut rumah Gaara dan dekat jendela terdapat sebuah rak yang dipenuhi oleh buku-buku usang dan Kuno. Hinata perlahan menuju rak buku. Matanya secara teliti meneliti tiap judul buku yang ada. "The History prince of vampire". Hinata mulai mengambil dan membuka lembar demi lembar buku itu. Dengan teliti dia mulai membaca. Hinata terkejut ketika melihat nama Hanzi Flanders disebut-sebut. Tidak hanya itu saja nama Hanzi selalu tertulis dan berkaitan dengan Alferic. Dalam hati Hinata bertanya siapa Alferic itu? Dia membaca keseluruhan buku itu. Terjawab sudah, Alferic tidak lain adalah Sasuke. Belum selesai membaca namun Gaara keluar dari kamarnya, ia sudah siap untuk berangkat ke kuil sang guru. Gaara melihat Hinata membawa buku kuno yang akhir-akhir ini ia baca.

"Hinata, ayo pergi', ucap Gaara.

"Iya, kau cepat sekali Gaara-kun," kata Hinata

Ketika Hinata meletakkan buku itu kembali ke rak. Mata Gaara terganggu dengan pemandangan di pergeangan tangan kanan Hinata yaitu sebuah tato bergambar pedang dan dililit oleh bunga mawar. Gaara ingat betul kalau tato itu mirip sekali dengan gambar yang ada di buku sejarah tentang pangeran vampire. Tanpa basa-basi Gaara mencengkram tangan kanan Hinata dan melihatnya dengan teliti. Ia lalu mengambil kembali buku yang baru Hinata letakkan dan membuka perlembarnya dengan kecepatan Tinggi.

"Hinata, Bagaimana kau bisa punya tato seperti itu?" Gaara langsung melihatkan halaman yang ada gambar tersebut. "Lihat ini, Tato kamu sama dengan gambar disini. Bagaimana kau punya tato seperti ini?'

"Tato ini muncul secara tiba-tiba di pergelangan tanganku. Aku sama sekali tidak tahu. Kejadian ini benar-benar aneh."
Gaara tidak menanggapi perkataan Hinata. Dia langsung duduk dan meletakkan buku itu di atas meja. Dia mencoba untuk menerangkan semuanya yang ia mengerti dan ia ketahui.

"Apa kau tahu lambang ini adalah lambang dari bangsa Elf keturunan Eldar. Di dalam buku ini juga ini di jelaskan bahwa Elf yang bernama Rhesgil memiliki tato yang ada di pergelangan tangan kananya. Aku tahu karena aku sudah membaca buku ini sampai akhir. Menurutku kau adalah renkarnasi Rhesgil."

"Tidak mungkin. Jadi itulah kenapa aku langsung jatuh cinta dengan Naruto dan merasakan kalau aku menemukan dia setelah sekian lama berpisah. Karena dia adalah Hanzi flanders kekasihku. Kita saling tahu apa yang kita sukai dari awal walaupun tidak pernah saling mengatakan. Dan yang terakhir, aku bermimpi melihat seorang wanita cantik berubah menjadi diriku."

"Sungguh," tanya Gaara, Hinata pun mengangguk.

"Tapi kenapa Sasuke begitu menginginkanku? Apa yang ia inginkan dariku?"

"Hinata, kau adalah titisan atau renkarnasi dari Rhesgil. Pada jaman dahulu ada seorang peramal terkenal dan dipercaya masyarakat.
Dia meramalkan bahwa hanya kau yang bisa menghentikan Sasuke dan juga Naruto untuk membangkitkan kembali bangsa vampire. Kau harus melawan mereka berdua untuk menyelamatkan ras manusia. Karena Elf adalah setengah manusia dan makhluk abadi."

"Apa maksudmu Gaara-ssi. aku sama sekali tidak mengerti?" tanya Hinata.

"Kau adalah tumpuan dari ras manusia. Hanya kau yang bisa mengehentikan mereka. Kau akan berhadapan dengan Naruto yang tak lain adalah pacarmu sendiri Hinata."

"Tidak mungkin, itu tidak mungkin terjadi. Naruto adalah seorang vampite yang baik. Dia sama sekali tak pernah melukai manusia'. kata Hinata sedikit ketakutan.

"Tapi ramalan itu mengatakan bahwa Naruto adalah vampire berbahaya. Hanya dia yang bisa mengendalikan vampire dan ditakuti oleh semua ras vampire yang ada. Naruto bisa menguasai dunia karena dia dulunya adalah manusia. Ramalan itu juga menyebutkan kalau kaulah yang bisa menyelamatkan kita semua."

"Kau bohong," tegas Hinata.

"Tapi ini adalah kenyataannya Hinata. Apa kau lebih memilih kehilangan teman-temanmu, keluargamu menjadi vampire yang ganas dan membunuh manusia lain karena mereka kelaparan."

Hinata diam sejenak. Dia tidak menyangka akan terlibat di dalam dunia vampire atau lebih tepatnya dunia mistis yang begitu mengerikan dan menakutkan. Terlebih lagi dia harus berhadapan dengan pria yang ia sangat cintai yaitu Naruto.

"Sebelumnya aku pernah melihat perempuan vampire itu di hutan. Kalau boleh tahu apa yang kau dengar dari perbincangan antara Sasuke dan pengikut perempuannya?"

"Dia bilang kalau semuanya sudah siap dan dia sudah menyiapkan sekitar seratus orang. Hanya itu yang aku ingat, karena aku membuat suatu kesalahan dan kau yang menyelamatkanku. Kalau begitu apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi mereka? Aku benar-benar tidak bisa mencerna hal ini dengan akal sehatku".

"Aku juga tidak tahu lebih baik kau ikut aku ke kuil kakekku. Ayo kita berangkat sebelum semuanya terlambat".

ooOOoo

Hinata memeluk erat Gaara, saat perjalanan menuju ke kuil kakaknya. Bukan tanpa alasan dia melakukan hal itu tapi karena Gaara mengendarai sepeda begitu cepat. Setelah menempuh perjalanan hampir sekitar satu jam sampailah mereka di kuil Guru Gaara. Hinata melihat-lihat bangunan sekitar kuil yang semuanya adalah bangunan tua. Semua biksu sibuk dengan urusan mereka masing-masing ada yang membersihkan halaman, mencuci baju dan memasak. Mereka berdua memasuki tempat sembahyang yang dsitu banyak sekali dupa dan sesajen lainnya. Terlihat Guru Gaara sedang bersemedi dengan dua muridnya. Tidak jelas apa yang guru Gaara baca namun itu terdengar seperti sebuah mantra. Dengan langkah ragu mereka mencoba memasuki tempat sembahayang lebih dalam lagi.

"Sensei," ucap Gaara lirih. Guru Gaara berhenti dari sembahyangnya dan melihat kearah Gaara beserta Hinata.

"Ada apa kau kemari?" tanyanya santai.
"Sesuatu besar akan terjadi Guru. Ini masalah vampire itu dan kembalinya pangeran vampire," jelas Gaara dengan tampang yang begitu serius.

"Ikutlah denganku," ujar Guru itu singkat.
Guru Gaara membawa mereka berdua disebuah ruangan kecil yang banyak sekali tumpukan buku besrta lukisan kuno. Tempat ini tak lain dan tak bukan adalah Ruang atau tempat Guru membaca. Gaara dan Hinata duduk menghadap ke arah guru Gaara.

"Gaara, apa kau yang mengambil buku sejarah tentang pangeran vampire?"

"Ohh, i…iya guru, aku yang membawanya, maafkan aku," Katanya sambil menundukan kepala.

"Dasar anak nakal! Sikap ingin tahumu tak pernah berubah," omel guru dan Gaara pun hanya diam.

"Guru aku sudah membaca semuanya tentang buku itu. Dan buku itu erat kaitannya dengan apa yang terjadi sekarang. Yang tertulis di buku itu sama sekali tidak bohong. Sasuke atau lebih tepatnya pangeran vampire sudah mulai bergerak untuk memusnahkan manusia. Aku juga sudah membaca kalau hanya ada satu orang yang bisa mengehntikan mereka dia adalah…".

"Aku sudah tahu semuanya. Aku sudah tahu siapa gadis ini. Gadis ini tidak mempunyai kekuatan yang istimewa atau apapun. Namun kekuatan cintanya akan memberikan jalan terang akan semuanya.
Di dalam tubuh alex di segel sebuah monster vampire yang begitu ganas dan mengerikan. Sahabatnya sendiri yang menyegel monster itu di dalam tubuhnya. Jika dia kembali membangunkan monster itu maka hanya satu uang bisa mengalahkannya yaitu kekuatan cinta".

"Kekuatan cinta seperti apa guru?" tanya Hinata

"Itu hanya kau yang bisa menjawabnya karena aku sendiripun tidak tahu."

"Tapi bagaimana cara kami untuk menghadapi mereka guru. Mereka membawa ratusan vampire liar untuk menyerang. Sedangkan disini hanya aku dan Hinata."

"Gaara-kun ada hal yang tidak kau ketahui di kuil ini. Jenis sepertimu disini bukan hanya kau saja. sebagian besar biksu disini adalah makhluk sepertimu. Jadi kamu bisa menggunakan atau meminta bantuan mereka. Aku yakin dengan senang hati mereka akan bertempur. Mintalah bantuan".

"Benarkah guru? aku berpikir hanya akulah makhluk seperti itu yang tersisa. dipermukaan bumi ini, namun dugaanku salah besar," ucap Gaara. Hinata sedikit memiringkan kepalanya karena tidak mengerti seperti apa yang Gaara maksud.

"Apa maksudmu Gaara-kun?" tanya Hinata.

"Baiklah. Aku harus meneruskan sembahyangku. Aku sarankan kalian untuk menginap disini karena hari sudah larut malam. Pasti banyak vampire liar yang berkeliaran untuk mencari dirimu Hinata-ssi. Karena hanya darahmulah yang ingin ia dapatkan selain kekasihmu Alex. Dengan meminum darahmu ia akan mendapatkan kekuatan yang begitu besar dan tak ada seorangpun yang bisa mengalahkannya." Setelah memaparkan beberapa pernyataan Guru

Gaara lalu meninggalkan mereka berdua begitu saja.
Hari semakin Gelap. Kuil pun diterangi oleh obor-obor yang diletakan didalam ruangan maupun di luar ruangan. Di dalam kamar berukuran tiga kali empat terlihat Hinata tertidur pulas. Di dalam mimpi, Hinata melihat segerombolan orang yang sudah menjadi vampire. Mereka sudah menyusuri bukit dan sungai dengan kecepatan tinggi menuju ke suatu tempat yang tak lain adalah kuil ini. Di dalam mimpi itu juga Hinata melihat Naruto berubah menjadi monster vampire bersayap dengan gigi yang tajam dan panjang. Hinata berdiri di depannya dan tiba-tiba Naruto mencengkram dan mengigitnya.

"Tidak, tidak!" Hinata bernjak bangun dari tidurnya sambil mengatur nafas yang tersengal-sengal. Hinata tahu ini bukan mimpi biasa, karena lewat mimpilah Hinata bisa tahu kejadian yang akan terjadi. Hinata segera keluar dari kamar untuk mencari Gaara.

Kakinya melangkah semakin cepat dan cepat. Hinata tak tahu dimana Gaara tidur namun dia yakin dia bis menemukan mereka. Tiba-tiba di sebuah lapangan yang letaknya ada di tengah-tengah kuil, terdapat lebih dari seratus biksu termasuk Gaara berdiri dan berderett di lapangan.

"Gaara-kun, apa yang kau lakukan disini?" teriak Hinata.

Gaara menoleh dan tersenyum tipis. Bulan purnama bersinar terang. Sepersekian detik berikutnya Gaara beserta temannya berubah menjadi suatu makhluk seperi binatang yang tak lain dan tak bukan adalah manusia serigala. Segerombolan werewolf itu kemudian berlari menuju Hutan.

"Apa ini? apa yang sedang terjadi?!

TO BE CONTINUE