DISCLAIMER: Ojamajo Doremi © Toei Animation, 1999-2004. Ojamajo Doremi 16, Ojamajo Doremi 16 Naive & Ojamajo Doremi 16 Turning Point (light novel) © Kodansha, 2011-2012. Tidak ada keuntungan komersial sepeserpun yang saya dapatkan dari fic ini.

Catatan Author: Sudah di chapter 8!

Chapter ini akan melanjutkan apa yang terjadi di chapter 7 kemarin. Akankah FLAT 4 dihukum karena niat jahat mereka? Langsung dibaca saja ya?


The Stars and the Bad Boys

.

Truth or Fake?


"Sekarang, kalian sebaiknya keluar dari ruangan ini," ujar Kotake kepada keempat anggota FLAT 4 sambil menggendong Doremi layaknya seorang putri raja, "Kalau kalian tidak ingin kulaporkan ke polisi, sebaiknya kalian tinggalkan kamar ini sekarang juga."

"Akh…" dengan susah payah keempat pemuda itupun bangkit berdiri. Akatsuki lalu berkata, "Kali ini kami memang gagal, tapi suatu saat nanti, aku yakin bahwa kami akan berhasil menghancurkan kalian semua! Lihat saja nanti!"

Sebelum keempat pemuda itu keluar, salah seorang dari mereka yang berambut orange menghampiri sebuah meja yang berada di salah satu sudut kamar tersebut, seperti ingin mengambil sesuatu, tapi ternyata, benda yang ingin diambilnya tersebut sudah berada di tangan Yada, yaitu sebuah kamera video berwarna hitam yang sedang menyala.

"Pasti kau mencari kamera ini kan?" tebak Yada sambil memperlihatkan kamera video yang digenggamnya, "Aku tidak akan membiarkanmu mengambilnya. Kamera ini kami ambil dari kalian sebagai bukti bahwa kalian telah berniat jahat terhadap MAHO-Do."

"Ukh, sial…" geram Fujio dengan kesal. Iapun keluar dari kamar tersebut bersama dengan para personil FLAT 4 lainnya.

"Baiklah, sekarang bagaimana?" tanya Yada kepada Kotake sambil mematikan kamera video yang digenggamnya dan berjalan menghampiri sahabatnya tersebut, "Apa yang harus kita lakukan selanjutnya? Tidak mungkin kan, kalau kita harus membawa mereka satu demi satu?" lanjutnya sambil menunjuk kearah Doremi dan para personil MAHO-Do lainnya yang sekarang tak sadarkan diri.

"Ya… memang susah juga untuk membawa mereka semua pulang ke dorm dalam keadaan seperti ini, tapi… mau bagaimana lagi?" jawab Kotake yang kemudian memandangi wajah gadis yang digendongnya, "Mereka semua dalam keadaan tak sadarkan diri begini, sementara kita…"

"Ngh…" tiba-tiba terdengar suara dari arah salah satu tempat tidur yang berada disana, "Dasterku… kenapa…"

"Fujiwara," sahut Yada saat mengetahui sumber suara tersebut dan menghampirinya, "Kau tidak apa-apa, hanya saja… Fujio sempat berusaha untuk merobek… pakaianmu."

"Eh?!" Hazuki membelalakan matanya, "Jadi, pesan yang Momo-chan temukan di lokernya itu… benar adanya?"

"Sebenarnya, akulah orang yang menulis pesan itu dan menitipkannya kepada Asuka, hanya saja, aku sengaja menyuruhnya berbohong supaya persahabatan kita masih terjalin dengan baik," jelas Kotake, "Aku takut kalau kalian tahu bahwa aku yang menulis pesan itu, Doremi akan menganggap bahwa pesan itu bohong dan aku hanya ingin memfitnah Akatsuki, padahal aku benar-benar mendengarnya sendiri dari mulut mereka berempat sendiri."

Kotake lalu menceritakan tentang pengalamannya saat mendengar ide tersebut untuk pertama kalinya kepada Hazuki. Ia juga menjelaskan tentang apa yang terjadi beberapa menit yang lalu, saat ia dan Yada berhasil menyelamatkan MAHO-Do dari rencana jahat FLAT 4. Saat ia bercerita, Aiko, Onpu dan Momoko yang semula juga sedang tertidur pulas ikut terbangun dari tidur mereka dan juga ikut mendengarkan apa yang sedang dijelaskan oleh Kotake kepada Hazuki.

"Dasar mereka itu!" geram Aiko, "Kenapa kita semua bisa saja diperdaya oleh mereka?!"

"Aku benar-benar tidak menyangka," ujar Onpu, "Mereka ternyata serigala berbulu domba, sekaligus… musuh dalam selimut. Kupikir mereka benar-benar orang baik…"

"Untungnya, kalian bisa menghubungi supir minibus yang tadi membawa kami, lalu menyuruhnya untuk mengantarkan kalian sampai disini, dengan alasan… kalian ingin memberikan kejutan kepada kami," Momoko menghela napas, "Tapi… kenapa sekarang, hanya Doremi-chan yang masih belum sadarkan diri?"

"Kalian ingat tidak, kalau tadi itu, kita semua langsung merasa sangat mengantuk setelah makan malam?" ujar Hazuki, "Aku tidak terlalu yakin, tapi… kelihatannya, Fujio-kun-tachi sempat membubuhkan obat tidur kedalam makanan yang tadi kita santap. Jujur saja, sampai sekarang pun… aku masih merasa sedikit pusing."

"Kelihatannya sih…" sahut Aiko, "Hah, pantas saja makanan yang tadi itu terasa sedikit aneh. Kenapa aku malah tetap memakannya juga ya?"

"Ngg… tapi Hazuki-chan, tadi pertanyaan Momo-chan kan… bukan soal kenapa kita mengantuk, tapi soal kenapa Doremi-chan belum sadarkan diri," ralat Onpu, "Tadi kan, Kotake-kun bilang… Doremi-chan masih sadar waktu mereka berempat ingin melakukan… 'itu'."

"Aku memang masih belum selesai menjelaskannya," sahut Hazuki, "Seingatku, tadi Doremi-chan juga ikut tertidur bersama dengan kita, dan kurasa, tadi dia bangun karena dia masih punya sedikit toleransi terhadap obat tidur. Hanya saja…"

"Hanya saja apa, Fujiwara?" tanya Kotake, "Kalau Doremi punya toleransi terhadap obat tidur, kenapa sekarang… dia malah pingsan?"

"Tadi kan kubilang dia hanya punya sedikit toleransi," ulang Hazuki, "Karena itulah, Doremi-chan hanya bisa terbangun selama beberapa menit, dan setelah itu, pengaruh obat itu akan kembali."

"Jadi begitu…" Kotake lalu menatap kearah wajah gadis yang digendongnya dan teringat akan percakapan terakhirnya dengan gadis itu beberapa menit yang lalu. Iapun berkata kepada keempat personil MAHO-Do yang lain, "Tadi, sebelum Doremi pingsan, aku sempat menyarankan padanya supaya kalian kembali ke dorm malam ini dan… membatalkan jadwal kalian besok, dan dia setuju."

"Baiklah. Kalau begitu, aku, Onpu-chan dan Momo-chan akan merapikan barang-barang kami dulu, termasuk diantaranya barang-barang milik Doremi-chan dan Hazuki-chan," simpul Aiko, "Kotake-kun, Yada-kun, sebaiknya kalian langsung ke minibus dan membawa Doremi-chan dan Hazuki-chan kesana, setelah itu, kalian kembali kesini lagi untuk membantu kami membawa barang-barang mereka."

"Eh? Ai-chan, aku masih bisa merapikan barang-barangku sendiri. Kau tidak perlu merapikannya," sahut Hazuki protes.

"Tadi kaubilang, kau masih merasa pusing," timpal Aiko, "Kalau sekarang kau merapikan barang-barangmu sendiri, aku takut kalau nanti, pusingmu semakin parah. Jadi sebaiknya, kau langsung ke minibus saja ya?"

"Baiklah," Hazuki menghela napas, "Setidaknya aku bisa menjaga Doremi-chan di minibus, saat Kotake-kun dan Masaru-kun kembali kesini untuk membantu kalian membawa barang-barang kita."

Yada lalu memapah Hazuki sampai ke minibus yang mereka maksud, sementara Kotake juga ikut bersama mereka dengan menggendong Doremi di tangannya. Setelah Kotake meletakkan Doremi di salah satu kursi yang berada di minibus yang akan membawa mereka pulang, Hazuki langsung menduduki kursi lain yang berada tepat disebelah Doremi, sementara Kotake dan Masaru kembali ke dalam hotel untuk membantu ketiga personil MAHO-Do lainnya membawakan barang-barang mereka kedalam minibus tersebut. Merekapun akhirnya kembali pulang ke Misora Art School setelah sebelumnya Onpu menghubungi pihak promotor dan menjelaskan tentang tidak jadinya mereka tampil di acara yang diadakan di Tokyo besok.

"Ngg, Fujiwara. Tadi kaubilang, Doremi hanya punya sedikit toleransi terhadap obat tidur… Apa itu juga yang menyebabkannya tidak bisa berteriak meskipun… ia terbangun saat Akatsuki mencoba untuk… membuka pakaiannya?" tanya Kotake, "Tadi juga, saat aku berbicara dengannya, suaranya pelan sekali – dan biasanya suaranya tidak sepelan itu."

"Mungkin juga sih," jawab Hazuki, "Karena toleransi yang dimilikinya hanya sedikit, obat itu masih bisa mempengaruhi suaranya – suaranya melemah, jadi… mungkin saja dia bermaksud untuk berteriak, tapi suara yang keluar malah pelan sekali. Ya… kurang lebih begitulah."

Hazuki lalu menambahkan, "Tapi ini hanya dugaanku saja, lho. Siapa tahu saja, obat yang dibubuhkan ke makanan kami bukan obat tidur, tapi obat jenis lain yang mempengaruhi syaraf atau semacamnya, jadi kurasa, kita masih perlu menghubungi dokter sekolah untuk memeriksa Doremi-chan, begitu nanti kita sudah sampai di dorm."

Yang lain mengangguk tanda setuju.

"Jadi, Kotake-kun, Yada-kun, kalian ingin mengantar kami sampai ke… gedung asrama putri?" tanya Momoko, "Ya, kalian tahu sendiri kan, kalau… baik Doremi-chan dan Hazuki-chan sama-sama masih membutuhkan bantuan kalian untuk bisa sampai ke dorm."

"Momo-chan, aku kan sudah bilang, kalau aku bisa jalan sendiri," protes Hazuki, "Kalian kan masih bisa memapahku sampai ke kamar."

"Tidak bisa," sahut Aiko singkat, "Yang sudah berpasangan harus diantar oleh pasangannya sampai ke kamar, titik."

"Aku setuju. Apalagi, Yada-kun itu kan masih jadi pacarmu, Hazuki-chan," tambah Onpu, "Kalau Kotake-kun yang masih belum berpacaran lagi dengan Doremi-chan saja bersedia untuk mengantarnya sampai ke kamar, kenapa Yada-kun tidak?"

"E-Eh?!" Hazuki tersipu, "Itu… itu kan berbeda. Doremi-chan kan masih…"

"… terkena pengaruh obat, maksudmu," potong Momoko, "Pokoknya kami tidak ingin dengar alasan yang macam-macam lagi, Hazuki-chan. Kau harus diantar oleh Yada-kun sampai ke kamar, seperti Kotake-kun mengantarkan Doremi-chan sampai ke kamar nanti, ya kan, Kotake-kun?"

"Ah… ya, mau tidak mau…" sahut Kotake, agak malu-malu, "Apalagi Doremi sedang tak sadarkan diri begitu. Tidak mungkin kan, kalau kami membiarkan kalian kembali ke kamar asrama kalian hanya berlima."

"Lebih buruk lagi, kalau empat pemuda tengik itu malah ikut menyusul kita pulang kesini," tambah Yada, "Mau tidak mau, kami masih harus melindungi kalian. Ya… kita bukannya ingin meremehkan security yang berjaga di asrama putri, tapi dengan keadaan yang seperti ini, kalian butuh perlindungan ekstra."

"Eh? Perlindungan ekstra?" tanya Aiko dengan nada sedikit mengejek, "Rasanya aku pernah dengar kata-kata itu di iklan… apa ya? Ah, iya. Di iklan sabun mandi!"

Akhirnya, mereka menghabiskan separuh perjalanan mereka ke Misora Art School dengan penuh canda tawa, meskipun mereka masih belum bisa tertawa terlalu lepas karena Doremi masih belum sadarkan diri, tapi itu cukup untuk membuat Hazuki, Aiko dan Onpu merasa terhibur setelah sebelumnya mereka mendapati bahwa pakaian mereka kusut dan bahkan sedikit robek.

Sesampainya mereka di Misora Art School, mereka langsung bergegas menuju ke asrama putri, setelah sebelumnya Kotake dan Yada meminta izin kepada security yang menjaga asrama tersebut supaya mereka diperbolehkan masuk dan mengantarkan Doremi, Hazuki dan sahabat mereka yang lain ke kamar asrama mereka. Kotake lalu memanggil salah satu dokter sekolah yang juga tinggal di lingkungan sekolah untuk memeriksa Doremi.

"Bagaimana keadaannya, dok?" tanya Kotake khawatir, "Tidak ada hal yang serius kan?"

"Tenang saja. Keadaannya baik-baik saja kok," jawab sang dokter dengan ramah, "Kalian jangan khawatir. Dia hanya masih dalam pengaruh obat penenang, tapi… beberapa jam lagi, dia pasti akan sadar. Untungnya obat itu tidak masuk ke tubuhnya dalam jumlah yang banyak, kalau tidak… bisa-bisa dia baru akan bangun besok sore."

"Syukurlah…" Kotake menghela napas lega, "Kabar ini membuatku lega…"

Tak lama setelah itu, sang dokter kembali pulang bersama dengan Kotake dan Yada yang juga bergegas kembali ke asrama putra, sementara Hazuki, Aiko, Onpu dan Momoko memutuskan untuk kembali beristirahat.

.O.

Keesokan harinya, sekitar jam lima pagi…

Doremi akhirnya terbangun dari tidurnya, saat Aiko, Onpu dan Momoko masih terlelap setelah semalam sibuk membereskan barang-barang.

'Kamar asrama? Berarti… apa yang kulihat tadi itu benar,' pikirnya sambil memandang ke sekeliling kamar tersebut, 'Ternyata Akatsuki-kun…'

Gadis itu menghela napas, 'Kenapa selama ini, aku percaya saja akan kata-katanya? Padahal… Padahal dia… Justru dia yang ingin mencelakaiku sampai seperti itu… Dia ingin menghancurkan masa depanku. Seharusnya… aku percaya dengan apa yang ditulis Kotake di dalam pesannya, kalau Akatsuki-kun dan teman-temannya itu…'

"Ah, Doremi-chan, ternyata kau sudah bangun," sapa Hazuki yang baru saja kembali dari toilet dan menutup pintu kamar, "Kemarin, begitu kita semua sampai disini, Kotake-kun memanggil dokter sekolah untuk memeriksamu, dan beliau bilang, kau baik-baik saja, hanya saja… kau masih dalam pengaruh obat penenang."

'Kotake…' tanpa sadar, sang gadis berambut merah memikirkan pemuda yang juga merupakan mantan kekasihnya tersebut, 'Selama ini, dia selalu melindungiku…'

Spontan, ia bertanya, "Hazuki-chan, saat aku pingsan, apa Kotake… melakukan sesuatu? Maksudku, bukan sesuatu yang buruk karena aku tahu bahwa ia tidak akan mungkin melakukannya, tapi… hal apa saja yang dilakukannya untuk… menolong kita? Selain… menyuruh Akatsuki-kun dan teman-temannya itu untuk keluar dari… kamar hotel tempat kita seharusnya menginap kemarin."

"Kemarin ia menggendongmu dan membawakan barang-barangmu dari kamar itu sampai ke minibus. Dia juga yang menggendongmu dari minibus sampai kesini, dan… ya, seperti apa yang kukatakan tadi, dia memanggilkan dokter sekolah hanya untuk memeriksamu," Hazuki tersenyum, "Kurasa, dia masih mencintaimu, Doremi-chan."

"Menurutmu… apa keputusanku dua tahun yang lalu itu… salah?" Doremi kembali bertanya, "Apa seharusnya, aku masih berpacaran dengannya sekarang?"

"Bagaimana ya?" jawab Hazuki, "Kurasa, kalau memang kau juga merasa bahwa kau masih mencintainya, tidak ada salahnya bagimu untuk memulai lagi dari awal dengannya. Boleh saja kalau kau… berpacaran dengan Kotake-kun lagi, Doremi-chan."

"Eh? Tapi… kalau seperti itu, aku jadi merasa tidak enak padamu dan Yada-kun."

"Kenapa kau harus merasa tidak enak?" balas Hazuki, "Yah, kelihatannya… sekarang aku harus berterus terang padamu kalau sebenarnya… sampai sekarang pun, aku masih berpacaran dengan Masaru-kun."

"Eh? Jadi… kau dan Yada-kun masih…"

"Maafkan aku karena telah menyembunyikan hal ini selama dua tahun ini. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaanmu," potong Hazuki, "Aku hanya tidak ingin terlihat bersenang-senang dan masih berpacaran dengan Masaru-kun sementara kau putus dengan Kotake-kun."

Doremi menggeleng, "Kurasa tidak ada yang perlu dimaafkan, Hazuki-chan. Wajar kalau kau berpikir begitu, dan… seharusnya aku berterima kasih padamu, karena selama ini… kau telah menjaga perasaanku, meskipun kau melakukannya dengan cara mengorbankan perasaanmu sendiri."

"Semua itu tidak jadi masalah buatku dan Yada-kun," ujar Hazuki. Ia lalu bertanya, "Jadi, sekarang kau berpikir untuk kembali berpacaran dengan Kotake-kun?"

"Entahlah. Di satu sisi, aku seperti membutuhkan Kotake supaya berada disisiku. Aku masih ingin sekali berada didekatnya terus…" jawab Doremi, "Tapi disisi lain… aku masih takut kalau dia celaka lagi karena aku."

"Bukankah ketakutanmu itu juga merupakan sebuah pertanda kalau kau mencintainya? Doremi-chan, rasa khawatirmu itu berasal dari rasa cintamu padanya," jelas Hazuki, "Jujur saja, sejak dua tahun yang lalu, aku sudah ingin mengatakan hal ini padamu, tapi… kau sudah terlanjur mengeluarkan keputusan itu… yang menurutku adalah keputusan yang justru… akan membuatmu semakin tersiksa."

"Kurasa kau benar, Hazuki-chan," Doremi menghela napas, "Malam ini saja… aku bermimpi tentang Kotake."

"Oh ya?" tanya Hazuki, penuh rasa ingin tahu, "Memangnya kau bermimpi yang bagaimana, Doremi-chan?"

"Ya, aku bermimpi kalau aku sedang berada disebuah tanah lapang dan… Akatsuki-kun mengejarku. Dalam mimpiku, dia juga ingin melakukan hal yang sama dengan apa yang ingin dilakukannya kemarin. Aku mencoba berlari secepat mungkin untuk menghindarinya, tapi… di tengah pelarianku, aku terjatuh, dan Akatsuki-kun memanfaatkannya untuk… memaksaku berciuman dengannya," jelasnya sambil menangis, "Saat ia mulai ingin melakukan hal yang lebih jauh lagi denganku, tiba-tiba Kotake datang dan mengusirnya. Ia menolongku. Ia melindungiku."

"Itu artinya, mimpimu kurang lebih sama dengan apa yang benar-benar terjadi kemarin…" komentar Hazuki, "Lalu?"

Doremi kemudian menghapus air matanya dan meneruskan ceritanya, "Setelah itu, Kotake berkata padaku bahwa… semua orang tidak akan pernah ingin melihat orang yang dicintainya menderita, baik itu karena dirinya sendiri… maupun karena orang lain, dan saat itulah, aku menyadari bahwa selama ini, aku masih mencintainya. Terlebih lagi… aku juga teringat dengan… ciuman pertamaku dengannya."

"Eh? Ciuman pertamamu?" tanya Hazuki tidak mengerti, "Doremi-chan, seingatku… saat kau masih berpacaran dengan Kotake-kun, kalian tidak pernah berciuman sama sekali…"

"Memang sih, tapi… seminggu sebelum pengambilan nilai untuk tugas duet tahun ini, kami berciuman secara tidak sengaja," jawab Doremi, "Kau masih ingat kan, saat aku mengaku kepada kalian semua kalau… aku sedang tidak enak badan? Saat aku tidak jadi berlatih duet bersama Akatsuki-kun?"

"Ah, maksudmu… saat kau tidak ikut makan malam bersamaku dan yang lainnya?" tebak Hazuki. Doremi mengangguk.

"Sebenarnya saat itu, aku sedang merasa sedih. Saat itu, aku sudah berniat untuk membukakan pintu hatiku untuk Akatsuki-kun, tapi ternyata… saat itu juga, secara tidak sengaja, Kotake merebut ciuman pertamaku," Doremi kembali menjelaskan, "Saat aku berlari menuju ke ruang kelas koreografi untuk berlatih bersama Akatsuki-kun, aku tidak memperhatikan kalau Kotake sedang berdiri dihadapanku dan… aku menubruknya, dan saat itulah ciuman itu terjadi."

"Begitu…" ujar Hazuki, "Tapi, kenapa saat itu, kau tidak memberitahukan hal itu kepada kami semua? Aku dan semua sahabat kita di MAHO-Do?"

"Aku tak sanggup menceritakannya pada kalian. Kau tahu sendiri kalau ciuman pertama itu… seharusnya diperoleh dari orang yang dicintai, sementara saat itu, aku sedang berusaha untuk mulai mencintai Akatsuki-kun."

"Aku juga ingat sih, kalau sejak saat itu, kau memanggilnya dengan nama kecilnya, bukan nama keluarganya lagi seperti sebelumnya," Hazuki berpikir sebentar, lalu bertanya, "Tapi sekarang, setelah semuanya terjadi, apa kau sudah tahu, langkah apa yang harus kauambil sekarang, Doremi-chan? Apa kau… benar-benar akan kembali kepada Kotake-kun?"

"Ya… kemungkinan besar sih, begitu," aku Doremi, "Walau sebenarnya, masih ada sedikit keraguan di hatiku."

"Kurasa, suatu saat nanti, kau pasti akan tahu jawabannya, Doremi-chan," Hazuki mengutarakan pendapatnya, "Tapi kalau menurutku sih, sebaiknya kalian berpacaran lagi saja, seperti dulu."

Kedua gadis itupun tersenyum, lalu menyadari bahwa sekarang sudah waktunya sarapan pagi.

"Baiklah!" seru Doremi dengan ceria, "Waktu curhat sudah selesai. Ayo kita bangunkan yang lainnya untuk sarapan pagi, Hazuki-chan!"

Hazuki mengangguk, kemudian ia dan Doremi membangunkan Aiko, Onpu dan Momoko untuk bersiap-siap. Mereka lalu bergegas ke kantin untuk sarapan bersama dengan Kotake dan Yada.

Saat mereka sedang asyik mengobrol sambil sarapan (tentunya), tiba-tiba keempat personil FLAT 4 mendatangi mereka dan mencoba meminta maaf kepada Doremi dan para personil MAHO-Do lainnya, tapi tentu saja, mereka menolak permintaan maaf tersebut.

"Kenapa kalian tidak memaafkan kami?" tanya Akatsuki, "Yang kemarin itu kan kami lakukan semata-mata karena kami mencintai kalian. Kami hanya ingin supaya kalian tidak berpaling ke hati yang lain. Kami benar-benar mencintai kalian."

"Kalau kalian benar-benar mencintai kami, kenapa kalian sampai harus melakukan hal yang terlalu jauh seperti itu?" balas Doremi, "Kenapa kalian malah ingin mengotori kami dengan cara yang keji begitu? Kenapa kalian sampai harus merenggut dan menghancurkan sesuatu yang sangat penting artinya bagi kami? Dan kenapa kalian sampai harus memasang kamera video di dalam kamar kami?"

"…"

"Sekarang aku tahu, apa maksud kalian yang sebenarnya sampai-sampai kalian harus menjebak kami dengan cara yang sekeji itu," simpul Doremi, "Kalian hanya ingin menghancurkan kami, benar kan dugaanku, Akatsuki-kun? Sebenarnya kalian bermaksud…"

"Baik! Kami mengaku kalau kami memang menginginkan girlband kalian hancur! Itulah sebabnya, kami bersekolah disini dan menjerat kalian supaya kalian bisa kami jebak!" potong Akatsuki dengan suara keras, "Kalian puas kan sekarang? Sekarang, semua orang tahu tentang rencana kami terhadap kalian!"

"Oh ya, kami puas!" Doremi kembali membalas perkataan Akatsuki, "Kami puas karena sekarang, semua kedok kalian telah terbongkar! Sekarang, kalian hanya harus bersiap-siap saja untuk kembali ke sekolah lama kalian, karena setelah ini, kami akan melaporkan kejadian kemarin ke pihak sekolah!"

"Baik. Silakan laporkan semua itu kepada mereka! Toh, di dalam video yang terekam dalam kamera yang kalian ambil, terlihat bahwa kau terbangun dari tidurmu saat aku mencoba membuka pakaianmu, dan kau tidak sedikitpun melawanku. Kau bahkan tidak berteriak, dan itu artinya, sebenarnya kau menginginkan supaya hal itu terjadi kan?"

"PLAK!"

Karena tak tahan mendengar ocehan Akatsuki, Doremi pun menampar pipi pemuda itu dan berseru dengan nada marah, "Bagaimana aku bisa melawanmu kalau sebelumnya, kau menaruh obat penenang dalam makanan yang kusantap saat makan malam?! Dan bagaimana bisa suaraku terdengar keras saat aku masih terpengaruh oleh obat penenang yang kauberikan itu, hah?! Kau sendiri tahu kalau aku sudah memperingatkanmu untuk tidak menyentuhku, dan kau masih bilang kalau aku menginginkannya?!"

"Bagaimana dengan apa yang terjadi kemarin siang, saat kita masih berada di dalam minibus?" sahut Akatsuki tidak mau kalah, "Kau pasti mengharapkan sesuatu yang manis dariku kan? Kau mencintaiku kan? Kalau begitu, apa salah kalau kau melakukannya dengan orang yang kaucintai?"

"AKU TIDAK PERNAH BILANG KALAU AKU MENCINTAIMU!" balas sang gadis berambut merah, "Bahkan aku sadar, kalau selama ini, aku tidak pernah mencintaimu, dan… seumur hidupku, aku hanya mencintai seorang pemuda."

Mendengar hal ini, spontan, Kotake merasa jantungnya berdetak lebih kencang.

'Hanya satu?' pikir Kotake, 'Selama ini kan, Doremi hanya pernah berpacaran denganku. Jangan-jangan… itu artinya…'

"Yakin nih, hanya seorang?" tanya Akatsuki dengan nada sarkastik, "Kalau begitu, kenapa selama ini, kau berkata kepada hampir semua orang kalau kau mencintaiku?"

"Tadinya aku memang berpikir kalau yang kurasakan terhadapmu itu adalah cinta, tapi sekarang, aku sadar kalau sebenarnya, itu hanya kekagumanku yang terlalu berlebihan terhadapmu, dan kau tak pantas menerima cinta dariku!"

"Jadi, siapa pemuda beruntung itu, hah?" Akatsuki kembali bertanya dengan nada mengejek, "Aku benar-benar ingin mengetahuinya sekarang."

"Baik. Aku akan memperkenalkannya padamu," Doremi menghela napas. Tak disangka, ia menghampiri Kotake dan dengan cepat menyuruh pemuda itu untuk menciumnya.

"Cium aku," bisiknya.

"Eh?" pipi Kotake memerah, "Ini semua hanya tipuan kan?"

"Aku benar-benar masih mencintaimu, dan aku ingin kita berpacaran lagi, tapi sebelum itu, kau harus buktikan kalau kau juga masih mencintaiku."

"Ah, jadi… kau sudah tahu…"

"Aku bukan gadis bodoh, Kotake, dan aku bisa melihatnya dari semua yang telah terjadi," mereka terus saja saling berbisik, "Kau selalu melindungiku karena kau mencintaiku."

Setelah beberapa lama saling berbisik, merekapun saling bertukar pandangan satu sama lain, seolah-olah saling memberikan isyarat kalau mereka sebenarnya saling mencintai, dan seolah terbawa suasana yang diciptakan oleh mereka sendiri tersebut, merekapun saling mendekatkan wajah mereka masing-masing. Mereka berciuman dihadapan Akatsuki dan semua murid lainnya yang sedang berada di kantin pagi itu.

"Fine. Kalau begitu, sekarang aku akan pergi, tapi jangan harap, kami akan menyerah begitu saja. Kami akan terus berusaha untuk menjatuhkan kalian!" seru Akatsuki, "Fujio-kun, Leon-kun, Tooru-kun, ayo kita pergi dari sini."

Ketiga pemuda yang disebutkan namanya oleh Akatsuki tersebut mengangguk, kemudian mereka berempat pergi meninggalkan kantin menuju ke gedung asrama putra.

Saat keadaan di kantin sudah mulai tenang kembali, Kotake lalu bertanya kepada Doremi, "Ngg… Doremi, perkataanmu yang tadi itu… hanya main-main kan? Kau mengatakannya hanya supaya Akatsuki tidak mengganggumu lagi kan?"

"Ya ampun, Kotake…" keluh Doremi sambil menepuk keningnya, "Aku serius berkata begitu. Sekarang aku benar-benar sadar kalau selama ini… seseorang yang berada di hatiku itu hanya kau. Memangnya kau tidak bisa merasakan apa yang terjadi saat kita… ehm, berciuman tadi?"

"Baik. Aku merasakannya," aku Kotake, "Jadi sekarang, kau berubah pikiran? Dan kau ingin supaya kita berpacaran lagi?"

Doremi mengangguk.

"Tapi, bagaimana dengan ketakutanmu…"

"Justru ketakutanku itu bersumber dari rasa cintaku padamu. Lagipula… semua orang tidak akan pernah ingin melihat orang yang dicintainya menderita, baik itu karena dirinya sendiri… maupun karena orang lain," ujar Doremi, mengutip perkataan yang didengarnya dalam mimpinya semalam.

"Ah, ini gawat."

"Eh? Gawat bagaimana?"

"Ya… gawat. Semua yang terjadi barusan itu salah, dan itu yang membuat keadaannya jadi gawat," jelas Kotake.

"Maksudmu apa sih?" tanya Doremi tidak mengerti, "Aku kan hanya bilang kalau aku masih mencintaimu, dan aku…"

"Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa kau mau menjadi pacarku lagi?" potong Kotake.

"Oh, jadi itu maksudmu?"

Kali ini, Kotake yang mengangguk, "Jadi, Doremi, maukah kau menjadi pacarku lagi?"

Doremi tersenyum, "Aku mau."


Catatan Author: Yey! Kayaknya chapter yang satu ini bener-bener membalikkan keadaan ya… Mulai sekarang, nggak akan ada lagi hint AkaDore, jadi… just say goodbye to that pairing, okay? (tapi tenang aja. Buat yang suka LeoAi dan ToOn, saya masih akan mempertahankan dua pairing ini sampai akhir, dan ya, mulai chapter depan, saya akan menulis lebih banyak hal tentang dua pairing ini, jadi stay tune terus ya? ^^)