Iya benar, itu baekhyun.

Baekhyun. Baekhyunnya.

…..

Lalu, tunggu apa lagi Park Chanyeoool?!

Setelah terdiam sedikit lama—karena takut barangkali ia salah anak lagi, chanyeol berlari dengan secepat mungkin kea rah baekhyun. Anak itu menunduk dengan seragamnya yang basah kuyup. Kahan sekali melihatnya.

"Baek?" panggilnya lembut. Namun baekhyun masih tertunduk seperti itu. Ia lantas mensejajarkan tubuhnya lalu menaikkan sedikit poni anak itu. "Baekhyunie?" panggilnya lagi.

Baekhyun mendongak, menampakkan wajahnya yang penuh air mata. Bibirnya gemetar. Baekhyun terlihat rapuh sekali sampai chanyeol ingin mengusel-uselnya (?) ditambah alisnya yang turun memelas dan pipinya yang merona kemerahan.

"H-hyung?"

Setelah menjelaskan kepada Sehun, chanyeol berhasil membawa baekhyun ke apartemennya dengan bantuan taksi. Ia sampai dengan selamat ke dalam dengan baekhyun yang berada di pelukannya. Nafasnya hangat tapi tubuhnya dingin, pikir chanyeol.

Nafas hangat. Duh, berhenti berpikiran kotor, Chanyeol.

Ia lalu menidurkan baekhyun sejenak untuk berganti baju lalu membangunkannya. Bisa bisa baekhyun masuk angin kalau tidak diganti seragamnya.

"Baekhyun? Bangun. Ganti baju dulu."

Untunglah baekhyun langsung bangun. Wajahnya mengantuk sekali dan pipinya terlihat lebih chubby—khas orang bangun tidur. "..eung? "

Chanyeol tersenyum. Ia yakin bisa gila kalau dekat-dekat baekhyun terus. "Ganti baju dulu, ya?" baekhyun tidak menjawab, ia hanya mengalungkan lengan kecilnya ke leher chanyeol untuk segera keduanya berjalan kea rah kamar chanyeol.

Tapi.

Bodoh..

Mana chanyeol punya baju ganti untuk baekhyun? -_-

Karena kebodohannya, chanyeol harus bersyukur karena ia bisa melihat pemandangan menggemaskan seperti ini. Baekhyun dengan kaosnya. Dan rambut berantakannya setelah di keringkan. dan pandangan polosnya seolah tidak tahu kalau manusia di depannya ini sudah berimajinasi yang tidak tidak.

"Hyung! Hyuuung! -0- "

Ia gelagapan. "Hah? I-iya apa?"

Baekhyun yang berdiri di atas kasur itu menghentakkan kakinya kesal. "Chanyeolie hyung~ kenapa melamuun~ =3= " rajuknya.

Chanyeol nyengir. "Siapa yang melamun—" ia berkeringat dingin, lalu menatap baekhyun. "Ah, ngomong-ngomong baekhyunie terlihat kecil sekali sekarang. Hehehe."

"Baekhyunie sudah makan banyak, masa kecil terus~? =3= "

"Mau sebanyak apapun tetap saja kecil. Baekhyunie kalah sama chanyeol hyung, hehehe."

"Baekhyunie sudah besaaar! Pokoknya sudah besar!" anak itu menggerutu dengan wajah yang lucu. Ibunya selalu berkata kalau baekhyun memakan makanannya sampai habis maka ia akan tumbuh besar. Maka dari itu ia kesal, baekhyun sudah memakan makanannya sampai perutnya kekenyangan sekali tapi chanyeol malah meledeknya.

"Jangan cemberut." Chanyeol menjulurkan jarinya untuk mengusap pipi baekhyun.

Menyebalkan sekali! =3=

Ckit.

Eh.

Jarinya di gigit baekhyun.

Chanyeol memandangi jarinya yang ada di sela bibir baekhyun. Sementara baekhyun perlahan melonggarkan gigitannya. Ia melakukannya karena kesal, dan melihat reaksi chanyeol barusan, baekhyun pikir chanyeol marah.

"Hyung? ._. " panggilnya takut.

Tapi tiba-tiba chanyeol mengulurkan lagi jari telunjuknya kea rah bibir baekhyun. Ia mendorong sedikit agar telunjuknya bisa masuk lebih dalam.

"Em.." itu suara baekhyun. Wajahnya polos tidak tahu apa yang di lakukan chanyeol.

Baekhyunie memakan jarinya chanyeol hyung? ._.

Di sisi lain, chanyeol menggunakan jarinya untuk mengusap bibir kecil itu. Ia melakukannya beberapa kali hingga baekhyun tak sadar mulai menutup mulutnya—menjepit telunjuk besar chanyeol. Yang ia rasakan adalah sensasi lembut, hangat dan basah.

"Hyung? Chanyeol hyung marah ya? : ( "

Lagi. Lebih dalam lagi.

Chanyeol mulai perlahan-lahan memaju-mundurkan jarinya. Melihat bibir baekhyun yang membasahi telunjuknya dengan wajahnya yang sayu. Perutnya bergejolak aneh dan sesuatu dalam dirinya memanas. Sesuatu dalam dirinya membuat jantungnya berdebar-debar.

"Hyung—"

Ia meraih wajah baekhyun dan membawanya mendekat. Mencium bibir baekhyun yang sudah basah karena ulahnya barusan. Baekhyun memejamkan matanya rapat-rapat, ia mengeratkan tangannya pada kaos yang di pakai Chanyeol, sementara lelaki itu terus melumatnya.

Lagi.

Aku ingin lagi.

"..engh.."

Chanyeol memasukan lidahnya. Merasakan lidah kecil baekhyun juga ikut bergerak bersamanya. Sayangnya, matanya tertutup rapat, tidak melihat bagaimana ekpresi baekhyun sekarang dengan wajah sayu keenakan. "..nnh…"

Lagi..

BRAK.

"CHAN—ASTAGA! CHANYEOL!"

Sehun sudah mondar-mandir sampai bekas kakinya menempel pada lantai. Ia bergeleng-geleng. Ia mendengus. Ia menerawang. Lalu menatap dua—atau seorang—pelaku yang duduk di kursi meja makan. Ia melihat baekhyun tengah kebingungan sekarang—oke, baekhyun jelas tidak bersalah. Pandangannya mulai menajam pada sosok yang sedari tadi menatap hampa ke depan. Chanyeol seperti habis melihat adegan final destination secara langsung.

"Park Chanyeol, apa kau punya penjelasan?" tanyanya tegas. Chanyeol berjengit, kaget. "Hah?"

Sehun berdecak. Kalau saja yang mendobrak pintu kamarnya tadi adalah petugas KPAK (Komisi Perlindungan Anak Korea (?) ), mungkin chanyeol sudah mendekam di penjara sekarang. Tapi, sayangnya sehun sendiri juga masih di kategorikan sebagai anak-anak. Lol.

"Sadar, Park! Kau tadi melakukan apa? Kenapa bisa seperti itu? Kau ini kemasukan setan dari mana?" berhenti. Bernafas. Lalu mulai lagi, " Dimana sih otakmu? Dia itu masih kecil! Demi Tuhan!" ia menjambak rambutnya lalu ingat ada baekhyun disitu. "Uh—baekhyunie di kamar chanyeol hyung dulu ya?"

Belum juga anak itu menjawab, sehun sudah menggendongnya ke dalam kamar lalu kembali dapur.

Sehun memang lebih muda, namun percayalah, mental age nya mungkin lebih tua dibandingkan teman-teman se gengnya. Jalan pikirnya untuk memecahkan masalah lebih tinggi levelnya dibandingkan mereka. Itulah sehun. Pacarnya Luhan. Cie.

"Chanyeol?" panggilnya lagi. Ia bersandar pada dinding dapur berhadapan dengan chanyeol.

"Ya?"

"Apa kau sadar apa yang telah kau lakukan?"

Chanyeol terdiam. "…em..Aku tidak tahu. Tapi sungguh aku tidak sengaja melakukannya, Sehun! Aku bersumpah! Demi nama—"

"Oke, oke."

"—ibumu."

Sehun mendelik. "Ini bukan waktunya bercanda. Kau bisa saja kulaporkan ke polisi, chanyeol." Ia bersedekap. Saat-saat seperti inilah dimana chanyeol takut kepada sehun. Sehun seperti bapaknya sendiri.

Tapi dari semuanya, chanyeol lah yang paling bingung. Ia sendiri juga tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi. Tau-tau sehun sudah menggrebek apartemennya ketika mulutnya dan mulut baekhyun—stop! Stop! Chanyeol merona lagi mengingatnya.

"A-aku..tidak tahu, hun. Rasanya tubuhku bergerak sendiri. Aku merasa sangat bersalah sekarang." Ucap chanyeol lirih, masih tak berani menatap sehun.

Hening beberapa saat.

Masih hening.

"Apa menurutmu baekhyun akan mengadu pada ibunya?"

Deg.

Hayoloh.

Chanyeol menatap ke arahnya dengan wajah trauma. Jantungnya berdegup takut. Bagaimana kalau baekhyun mengadu dan ibunya menganggap chanyeol sebagai pelaku pelecehan seksual? Bagaimana kalau perusahaan ayahnya bangkrut karena dirinya? Bagaimana kalau ibunya jatuh sakit karena memikirkan ini semua? Dan yang parahnya, bagaimana kalau dia tak bisa bertemu dengan baekhyun lagi?

Tolong siapa saja tampar chanyeol sekarang.

Sehun memutar bola matanya. Wajah bodoh karibnya itu sangat tidak elit sekali. Sehun tidak habis pikir, apa kepalanya kosong atau otaknya saja yang kecil?

"Hal pertama yang harus kau lakukan adalah memastikan bahwa baekhyun tidak akan mengadu pada siapapun—apalagi orang tuanya."

Chanyeol ambruk.

"Aku—"

"Ayolaaaah~ bantu aku!" wanita itu menggaet lengan jongin dari halaman kampus sampai tiba di parkiran. Jelas saja hal itu mengundang perhatian hampir semua siswa. Terlebih lagi bagaimana yejin berdandan hari ini; high heels, denim, dan jaket kulit. Featuring dengan bagaimana penampilan kai sehari-harinya di kampus membuat keduanya terlihat seperti pemeran utama dalam sinetron anak jalanan (?)

Kai jengah. Bagaimana kalau kyungsoo hyung-nya sampai berpikir yang tidak-tidak? ah! Dia sudah tau tadi. Dia bilang si yejin ini pacarnya. Bagus.

"Dia kan cuma anak kecil? Apa kau tidak terlalu berlebihan?" Tanyanya. Yejin berdecak, ia menyandarkan tubuh rampingnya pada pintu mobil kai. "Aku tidak yakin sih, tapi sepertinya chanyeol—menyukai anak itu."

Kai bengong. Mungkin bedak yejin terlalu tebal sampai mengganggu kinerja otaknya.

"Ck." Ia gantian yang mendecak. Mana mungkin sih dia percaya omong kosong kayak gitu? Baekhyun masih kecil, wajar saja chanyeol menyukainya—bahkan hampir semua anak di kampus juga menyukainya. "Pulang sana." Usirnya. Ia berbalik hendak membuka pintu mobil.

"Kai!"

Kai menoleh. Itu pujaan hatinya.

Do kyungsoo berjalan dengan mantap kea rah keduanya. Sambil berjalan tangannya mengepal dengan kuat. Kai masih belum mengerti kenapa kyungsoo tiba-tiba terlihat seperti reinkarnasi hulk sekarang, sampai lelaki itu berdiri di hadapannya dan mengecup pipinya.

Chu.

Yejin yang melihatnya shock. Apalagi Kai.

"K-kyungsoo?"

Yang di sebut namanya kini mengalihkan pandangannya kea rah Yejin. Wanita itu salah tingkah. "A-apa?"

"Jangan ganggu pacarku!"

.

.

.

.

.

.

TBC ( ´ ▽ ` )ノ

A/N : AAAAAAAAH MAAAAAAAF YAAAAAAA BARU MUNCUL SETELAH LAMA BANGET BERTAHUN-TAHUN NGILANG T_T

Mungkin banyak banget perbedaannya. Dari gaya bahasanya, gaya nulisnya, penggunaan kata kata nya juga wkwk jaman dulu masih suka nggabungin indo-korea, sekarang udah enggak lagi (ヾ; ̄▽ ̄)ヾ maaf ya udah nungguin, maaf ya udah dip hp-in ehehehe

Tapi aku juga seneng ternyata masih ada beberapa orang yang masih nungguin sampe nge inbox juga ;_; makasih ya, rasanya pengin nyamperin satu-satu ke rumah kalian (?) ;_;

Yaudah,sayangnya ini masih belum tamat ( dan ga tau gimana ending yg bagusnya ) kalau kalian ad ide buat ngebantu aku, inbox aja ya, aku selalu on kapanpun : *