Hai, everyone!

Anne muncul lagi dengan chapter ke 8, nih.

Aduhh kok yang review sepi? Padahal penghitungan pembacanya banyak loh! Pada kecewa ya soalnya Anne lama nggak update? Maaf maaf maaf bangettt, ya!

Ya udah deh, nggak apa-apa. Yang penting Anne tetap semangat buat nyelesaiin cerita ini sampai final. Oke!

Langsung saja, yuk.

Happy reading!


Harry dan Draco datang dengan jalur floo. Asap hijau mendominasi perapian saat keduanya datang. "Sayang? Kau di sini?" tanya Draco sembari membersihkan pakaiannya dari debu.

"Scorpius juga,"

Astoria datang dengan Ginny dari dapur. Membawa beberapa piring berisi makanan ringan untuk anak-anak yang sedang sibuk bermain dengan Harry dan Ron muda. Mereka masih asik bermain Quidditch. Dengan datangnya Scorpius, Harry muda tak lagi menjadi wasit, namun bermain dan bergabung bersama.

"Sekali-kali kalian jangan satu tim," James menarik Harry muda untuk ikut bergabung bersamanya dan Al.

Scorpius manut juga dan bergabung bersama Ron dan Lily. "Oke," katanya.

"Baiklah.. sepanjang sejarah baru kali ini aku berkongsi dengan seorang Malfoy," Ron menyerahkan satu sapu untuk Scorpius.

Dengan senang hati, Scorpius berkata, "aku juga. Rosie juga sulit sekali aku dekati," gerutu Scorpius.

"Rosie?" tanya Harry muda.

"Anak perempuan Uncle Ron yang seangkatan denganku. Dia mirip dengan Aunty Hermione, bahkan kepintarannya dan sifatnya juga, Dad," jawab Al di sisi Harry muda.

"Kau mendekati putriku?" suara Ron meninggi.

James dan Lily tersenyum geli, "tapi tenang saja, Uncle. Rosie tetap menjaga ancamanmu saat di tahun pertama," James terbang ke sisi Harry muda. Kini Harry muda sedang diapit kedua putranya sekaligus, yang berusia hampir sama dengannya.

Lily tak betah untuk ikut melanjutkan ocehan James. "Uncle Ron pernah mengancam Rosie harus mengalahkan Scorpius dalam segala ujian. Dan Uncle bilang, Grandpa Weasley akan marah jika Rosie menikah dengan—"

"Darah-murni! Aku tahu, Lily" potong Scorpius membuat semuanya tertawa terbahak-bahak.

"Kau gila, Ron!" seru Harry muda menahan tawa sampai matanya berair.

Para orang tua nampak terlihat dari pintu, Ginny melambaikan tangannya pada Lily yang kebetulan melihat ke arahnya, "hentikan main-main kalian, karena tugas yang lain sudah menanti,"

Enam orang yang sedang terbang dengan sapu mereka pelan-pelan turun dan menyentuh rumput.

"Untung saja tak jadi bermain. Aku tak jadi mencetak sejarah bersama si kecil Malfoy ini," gerutu Ron luar biasa lega.

"Aku juga," sahut Scorpius lemas.


Keluarga Potter, Malfoy bersama Harry dan Ron muda berkumpul di perpustakaan. Mereka memilih tempat itu karena memiliki meja cukup besar untuk dikelilingi sepuluh orang sekaligus. Dua kantung besar sudah diletakkan tepat ditengah-tengah meja. salah satu kantungnya menyembul sebuah bulu berwarna merah dengan ujung berwarna hitam.

"Baiklah—" Harry dewasa membuka. Ia meraih kantung pertama dan sisanya Draco yang mengambil alih. "Semua bahan sudah didapat. Tinggal kita melakukan proses membuatan dreamcatchernya," kata Harry.

Satu persatu benda-benda yang dibeli Harry dan Draco dibuka dan dijajar rapi di atas meja.

"Bulu apa ini, Dad?" Lily mengambil sehelai bulu berwarna merah dan menyentuhnya dari ujung ke ujung. Lembut sekali.

"Bulu burung Ibis air. Sejenis bangau, sayang," Jawab Harry.

Tidak hanya Lily, rupanya Astoria juga menaruh perhatian pada salah satu benda di atas meja. Tangannya ikut terulur untuk ikut menyentuh.

"Ini, kan—"

"Inti Daemonorops Draco, kau pasti tahu itu," sela Draco pada sang istri.

"Untuk apa?" Astoria mengangkat dua batang jenis rotan sepanjang tongkat sihir itu, "kau tahu, kan, ini bukan benda yang sembarangan," kata Astoria dan Draco mengangguk.

Draco membuka buku Rune-nya dan menghadapkan tepat di depan Astoria, "kita membutuhkan itu untuk membuat ring penampang jaringnya. Itu yang tertulis di sini,"

"Tapi ini masih berbentuk batang panjang, kita butuh—"

"Membuatnya jadi elastis agar bisa dilengkungkan. Itulah yang tadi aku permasalahkan dengan Draco di Knockturn Alley. Benda itu sangat keras," Harry coba menyentuhnya lagi dan merasakan tekstur keras yang akan mustahil jika dilengkungkan.

Astoria ikut membaca beberapa keterangan. Ia bisa membaca huruf-huruf kuno itu karena ia juga pernah ikut dalam kelas rune. "Tidak ada keterangan di sini yang menyebutkan cara untuk membuat Daemonorops Draco lentur. Tapi seingatku, ada penjelasan tentang mengubah tekstur benda sihir di buku sebelumnya."

"Sayangnya aku tak bawa, Astoria," tukas Draco.

"Kau membutuhkan ini, Uncle?" James menunjukkan buku rune kuno yang sejak ditemukan di perpustakaan menjadi buku yang selalu ia bawa.

Al terpukau, "aku rasa kau diam-diam mempelajari buku itu dan akan memilih pelajaran rune kuno tahun depan, kakakku James?" katanya sedikit meledek.

"Diam kau, Al," ancam James.

Astoria menerima buku yang diberikan James. Membuka beberpa lembar dan menemukan sebuah judul bercetak tebal dengan tulisan yang tak dimengerti mayoritas orang di forum itu.

"Oh Merlin, ternyata benar. Seperti yang aku takutkan, Draco," Astoria menujukkan satu paragraf yang baru saja ia terjemahkan.

Draco ikut membelalak. Ia mengerti ini sulit, "jelaskan apa yang tertulis di sana, Dad!" pinta Scorpius penuh rasa ingin tahu.

"Beberapa benda sihir —khususnya benda sihir hitam, yang bertekstur keras memiliki cara khusus untuk membuatnya lentur agar mudah digunakan sesuai tujuan. Dengan cara peledakan. Dapat dilakukan dengan.. menggunakan tongkat yang pernah mendapatkan kekuatan luar biasa dari tongkat lain yang lebih kuat dan dilakukan oleh penyihir yang memiliki kemampuan merapalkan mantra ledakan sangat kuat. Selanjutnya, arahkan tongkat pada benda dan rapalkan mantra ini—" Draco menghentikan terjemahannya saat akan membaca mantra pelentur benda sihir.

Semua terdiam tanpa mampu berkomentar. Persyaratan itu terbilang sangat sulit, "tak ada penyihir yang sesempurna itu. Matilah kita," ujar Ron ketakutan.

"Tunggu dulu—" Al tampak mengingat sesuatu. Pandangannya menghadap ayah dan ibunya bergantian.

"Uncle, apa persyaratannya penyihir yang akan merapalkan mantra harus dari orang yang sama? Maksudku selain mampu merapalkan mantra ledakan dengan sempurna dia juga sang pemilik tongkat yang akan digunakan?"

Draco mengulangi buku yang ia sebelumnya terjemahkan. Ia menggeleng. "Tak ada, berarti memang tak harus dari satu pihak. Bisa dari dua orang yang berbeda, misalnya tongkat penyihir lain namun yang akan merapalkan bukan si pemilik tongkat. Tapi itu sulit sekali, hanya orang-orang tertentu yang bisa menggunakan tongkat yang bukan miliknya," ungkap Draco.

"Nah, mungkin Mom dan Dad jawabannya," tukas Al singkat. Tangannya dilipat di dada, kebiasaan setiap menemukan ide cemerlang.

"Kami?" pertegas Ginny dan Harry dewasa.

"Yups, bukankah Dad pernah cerita kalau tongkat Dad itu pernah patah saat pertempuran Hogwarts? Dan kembali sempurna akibat kekuatan tongkat Elder yang Dad gunakan untuk memperbaiki tongkat patah Dad? Itu artinya, tongkat Dad pernah menerima kekuatan lebih kuat –bahkan kekuatan dari tongkat paling kuat yang pernah ada," Al sampai merinding.

"Ta-tapi.. Dad tak bisa merapalkan mantra peledak sehebat yang pernah Mom kalian lakukan," Harry menggenggam tongkatnya yang menurut analisis Al, tongkatnya tepat untuk digunakan merapalkan mantra.

Al menepuk dahinya kesal, "itu maksudku. Kita semua tahu, mantra Reducto bisa menggelegar jika Mom yang merapalkannya. So, biar Mom yang melakukan proses melenturkan rotan itu dengan menggunakan tongkat Dad, beres!"

"Wow, tapi itu tongkat Dad, bukan tongkat Mom. Bisa berbahaya jika tongkat itu digunakan selain tuannya," Ginny merasa dirinya tak bisa menggunakan tongkat lain selain miliknya. Ia belum pernah mencobanya.

Harry melihat Draco, berharap ada solusi lain. "Maaf, mungkin itu salah satu cara yang harus di coba, Harry," kata Draco.

"Bukankah Dad pernah menggunakan tongkat Mom saat menolong Lily waktu bayi dulu? Dan bekerja, kan?" James kembali berpendapat.

James, ingat. Saat usianya masih enam tahun, sang adik bungsu, Lily, pernah mengalami kecelakaan sihir. Lily yang masih berusia tiga tahun sedang rewel karena sakit. Ia menangis sekuat tenaga dan tanpa bisa mengendalikannya, Lily menunjukkan bakat sihir pertamanya. Tanpa ia sadari, Lily membuat kaca di rumah mereka melayang sendiri hampir mengenai James yang sedang bermain. Untung saja Harry melihatnya, namun kebetulan sekali ia tak membawa tongkatnya untuk menolong James.

"Ya, aku ingat. Aku panik karena James hampir terkena kaca itu. Aku tak bisa menghentikannya karena tongkatku tertinggal di kamar. Dan kebetulan di dekatku ada tongkat Ginny. Tanpa pikir panjang, aku menggunakannya untuk menghilangkan sihir yang sedang Lily lakukan. Itu berhasil," cerita Harry. Ginny terkesima mendengar penuturan suaminya itu.

Lily yang menjadi pusat masalah rupanya baru mengetahui cerita itu. Ia melihat ke arah James yang sudah melihatnya dengan tajam. "Maaf, ya James. Dulu aku, kan, masih bayi. Tapi untung, kan, kau belum mati? Hehe..," kata Lily dengan wajah memelas pada James.

"Seperti yang kita tahu, tongkatlah yang memilih tuannya. Mungkin karena Harry dan Ginny saling mencintai, ada ikatan kuat diantara mereka. Tongkatpun bisa merasakannya. Seperti ubahnya potranus, bisa berubah mirip seperti—"

"Orang yang dicintai," potong Harry cepat-cepat. "Itu yang terjadi pada Profesor Snape dengan ibuku," lanjutnya.

Sejenak, semua takut untuk kembali membahas masalah bagaimana mereka akan mencoba melenturkan rotan itu. "Dan mungkin saja, Mom juga bisa menggunakan tongkat Dad. Buktinya tongkat Mom bisa digunakan Dad dengan baik, kan?" kata Lily.

"Benar, tapi aku belum pernah mencobanya," Ginny khawatir.

"Cobalah, tidak akan ada yang tahu sebelum kau mencobanya!" pinta Harry muda dengan penuh pengharapan pada Ginny.

Semua orang coba meyakinkan Ginny agar mau mencobanya. Sebenarnya Ginny memang mau melakukannya, tapi ia takut akan jadi masalah jika ia benar tidak bisa mengendalikan tongkat suaminya. Tongkat Harry bukan tongkat biasa.

Harry menatap wajah Ginny lekat, "aku tahu kau wanita hebat, sayang!" kata Harry lebih seperti berbisik. Pelan sekali.

Beberapa kali Ginny menarik napas dalam-dalam, lantas berkata, "aku akan coba," sambil menggenggam tongkat Harry erat.


Halaman belakang rumah menjadi tempat eksekusi. Untuk mengantisipasi, Draco dan Harry dewasa sudah merapalkan mantra perlindungan di sekitar rumah agar para tetangga di kanan dan kiri rumah tidak bisa mengetahu aktiftas mereka. Para anak hanya bisa terpukau melihat ayah-ayah mereka bekerja sama merapalkan rangkaian mantra yang belum mereka pelajari di Hogwarts.

Mereka yang sedang melihat diminta Draco untuk mundur beberapa meter dari Ginny. Draco membawa inti rotan keras itu tepat di atas rumput, dua meter di depan Ginny berdiri. Harry membawa tongkatnya dan menyerahkannya pada istri tercintanya.

"Tenangkan pikiranmu, lakukan dengan baik. Kau tenang saja dengan rumah ini, aku sudah mengasuransikannya jauh-jauh hari. Jadi kita tidak perlu menggunakan sihir untuk memperbaikinya. Semoga saja tak terjadi apa-apa. I love you, Mrs. Potter!" Harry mencium Ginny singkat setelah mengakhiri kalimatnya.

Ginny mengangguk paham menerima tongkat Harry. Ia sampai tak bisa membalas kata-kata cinta Harry saking bergetarnya.

"Bagaimana Mrs. Potter? Kau sudah paham, kan? Saat kau siap, pusatkan pikiranmu dan arahkan tongkat Harry ke arah rotan itu. Rapalkan mantranya dengan lantang," Draco sudah menjauh dari dua rotan yang ia letakkan tadi.

Bersiap dengan segala yang akan terjadi, semua sudah mundur menjauh.

Ron dan Harry muda bergerombol bersama anak-anak yang dijaga Astoria. Harry dewasa ikut berdiri di sisi Astoria sambil memeluk tubuh Lily penuh proteksi. Sementara Draco ikut menjauh dan berdiri di sisi Harry muda.

Tinggal Ginny berdiri sendiri sambil menatap rotan di depannya. Matanya dapat melihat benda itu dengan baik. Tongkat Harry di tangannya siap. Diacungkan tepat mengarah ke dua batang rotan itu.

Sekali tarikan napas, Ginny siap melakukan tugas pertamanya.

"Crepitus flexica!"

Bumm! Asap, debu dan goncangan hebat seketika bersatu saat mantra itu terucapkan oleh Ginny. Tanah yang bergetar hebat membuat tubuh mereka terlempar, bahkan Ginny, sang perapalpun tak kuasa bertahan untuk berdiri. Tubuhnya terlempar sampai beberapa meter ke belakang.

"Ginny!" teriak Harry.

"Mom!" Seru James, Al, dan Lily bersamaan.

Harry lebih dulu meraih tubuh Ginny dan mendudukannya. Istrinya tak apa-apa. "Bagaimana?" tanya Harry setelah Draco mendekati dua rotan itu. Asap dan debu masih mendominasi pandangan mereka.

Draco sudah berbalik badan menghadap mereka yang berharap-harap cemas menanti hasilnya.

"Efeknya luar biasa!" seru Scorpius tak percaya dengan ledakan yang baru saja terjadi.

"Kekuatan Ginny memang luar biasa," tambah Harry muda sama terperangahnya.

Ditangan Draco membawa rotan yang tampaknya tak ada perubahan seperti sebelumnya. Draco mendekat dan menatap Ginny penuh misteri.

"Kau memang cinta sejati seorang Harry Potter, Ginny," kata Draco menunjukkan dua rotan yang bisa ditekuk tanpa membuatnya patah. Mirip seperti kawat. Masih kaku namun bisa dibentuk, "well done, Mrs. Potter!" lanjut Draco.

Semua bersorak gembira melihat Harry dan Ginny saling berciuman. Ginny berhasil dan membuktikan cintanya sangat tulus pada Harry. "I love you too, Mr. Potter," jawab Ginny sedikit terlambat.

- TBC -


#

Yeahhhh Ginny memang cewek yang kece! Anne suka banget!

Untuk mantra yang digunakan melenturkan rotan itu Anne karang sendiri ya, dari kombinasi bahasa latin yang artinya kira-kira 'ledakan elastis'. Cerita masih berlanjut, nih. Semoga banyak yang baca, ya. Maaf banget kelamaan nggak update.

Ditunggu review kalian!

Thanks,

Anne x