ONE GO, ONE GET

Pairing : Ino x Gaara

slight Ino x Shikamaru, slight Shikamaru x Temari

Rate : T ( Maybe M jaga-jaga jika ada hal yang tidak diinginkan)

NO BASHING CHARA

Disclaimer : Didunia mimpi, Naruto itu milik saya. Tapi didunia nyata, Naturo milik Masashi kishimoto.

Warning : Alay, nyinetron banget, typos, abal, OOC dkk, dst, sbb, etc.

Ini cerita pertama saya, saya nih masih belajar dan belum tau apa-apa soal dunia FFN , jadi jika ada yang mau mampir yaa monggo dibaca dan meninggalkan jejak kritik dan saran ( Flame yo aku rapopo ).

Dan jika ada yang merasa alur cerita , konsep dan inti cerita sama. Mohon untuk saya diberitahu yaa.. karena cerita ini murni inspirasi sendiri.

Kalau yang tidak suka, tidak mau baca ataupun mengintip yaa saya tidak melarang monggo tekan Back.


CHAPTER 8

ROOM HOTEL '014'. 11.30 P.M

"Dasar sial! Kenapa tidak bisa tidur sih? Dan kenapa harus selalu Gaara-sama penyebabnya! Tidak mungkin hanya ciuman tidak berarti itu bisa membuat ku seperti anak remaja yang baru kehilangan keperawanan bibirnya. Aku sering melakukannya dulu dengan Shikamaru, tapi kenapa dengan Gaara-sama rasanya aku baru melakukannya. Dasar Gaara-sama brengsek ! Berani-beraninya dia menciumku !" Ino menutup matanya rapat-rapat menggunakan bantal. Terbenam dalam bayangan akan kejadian tadi. "Dan sayangnya aku juga mau melakukannya! Oh tuhan.. apa otakku benar-benar terkena jetleg yang sangat hebat hingga aku bisa terbuai dengan ciumannya itu." Ino tak habis pikir kenapa ia bisa dengan mudah jatuh dalam pesona Gaara. Apa dia sebegitu rindunya dengan Shikamaru sehingga Gaara menjadi pelampiasannya. Tapi sungguh tidak ada bayangan Shikamaru tadi.

"Aku coba tidur saja, daripada harus memikirkan itu yang sudah pasti buat Gaara-sama biasa saja." Ino mulai membenahi posisi tidurnya, mengatur nafasnya menjadi teratur dan mulai memejamkan mata perlahan setalah memanjatkan do'a kepada Tuhan agar tidurnya kali ini nyenyak dan tidak ada bayangan Gaara sebagai hantu yang muncul dimimpinya.

.

.

Diwaktu yang sama, penghuni lain kamar disebelah Ino.

.

.

ROOM HOTEL '015'. 11.30 P.M

"Shit! Tak ku sangka rasa ciuman pertama seperti ini." Gaara mengesap bibirnya. Bibir yang sudah tak perjaka lagi.

Dug.. dug.. dug suara deguban jantung Gaara terasa menghantam telapak tangan yang merasakan suara kehadiran jantungnya. Terlalu cepat. "Kenapa aku tiba-tiba ingin menciumnya? Kenapa dia juga tak menolak?" Gaara akui jika ia merasakan sensasi aneh saat ia berdekatan dengan Ino. Entah menyentuh, menggenggam tangan Ino, membelai pipinya bahkan lebih parah saat ia menciumnya. Desiran darah bergerak lebih cepat dan detak jantung berdetak seperti genderan yang mau perang. Apa karena memang ia tak pernah berdekatan dengan wanita sebelumnya, jadi sensasinya seperti ini ? benar hanya itu ?

Sebenarnya tadi ia hanya ingin mengerjai Ino atau lebih tepatnya mendramatisir sandiwara yang ia perankan, tapi ia tak tahu jika efek sampingnya seperti ini. Tak hanya sekali tapi dua kali ia mencium Ino. Ia akui sekali lagi, jika ciuman kedua ia sengaja, karena dia merasa ketagihan dengan kecupan bibir Ino yang menggoda dan sungguh tak disangka pula gayung bersambut, Ino membalas ciumannya. Tak dapat dipungkiri ciuman yang dilakukan karena sama-sama menginginkan menjadi ciuman yang tidak bisa dikendalikan, ciuman panas, ciuman yang menyesatkan. Untung dia masih tau batasnya, jika tidak mungkin ia akan membuat Ino mati karena kehabisan nafas.

"Argg, hal-hal itu membuatku bingung." Gaara mulai memejamkan matanya dengan menarik selimut hingga keatas kepala. Menutupi bingkai kepala bersurai merah. Ingin mengenyahkan bayangan Ino untuk sejenak dan menekan efek samping yang masih ia rasakan.

.

.

.

HOTEL. 07.00 A.M

'clek'

"Huh!" Ino langsung membuang muka, begitu ia tau siapa yang keluar dari kamar '015'. Ino langsung berjalan menjauh dari si pembuat hatinya tak bisa tenang semalam.

"Kenapa dia? Apa dia marah padaku ?" Gaara menggelengkan kepalanya melihat sikap Ino yang aneh. Gaara langsung menyusul Ino menuju resto Hotel.

.

"Hai Gaara, hai Ino," sapa Temari yang sudah menunggu mereka untuk bergabung sarapan pagi diresto hotel. "Kalian kenapa? Apa kalian sedang bertengkar?" Tanya Temari melihat Ino tak berjalan sejajar dengan Gaara seakan menghindari Gaara dan sangat nampak jelas diwajah mereka jika sedang main marah-marahan.

"Tidak!" ucap Ino dan Gaara bersamaan dan saling memalingkan wajah.

"Haha, kalian seperti anak kecil saja. Jika kalian punya masalah, lebih baik kalian bicarakan. Tidak baik memendam masalah kalian berlarut-larut," kata Temari menasehati. "Aku tidak bertengkar dengan Gaara-kun, Temari-nee. Kami baik-baik saja," jawab Ino meyakinkan jika tidak ada perselisihan diantara mereka-walau sebenarnya ada. Dia tidak mungkin bisa menjelaskan yang sebenarnya kepada Temari.

"Tidak. Kau sepertinya marah dengan ku?" kata yang keluar dari Gaara berlainan dengan apa yang diucapkan Ino. Membuat Ino menaikkan alisnya kearah Gaara.

Ino menarik nafas, dia tau jika ia sedang diposisi tidak menguntungkan. "Sudah ku bilang tidak, sayang." Ino mengumbar senyum yang dibuat-buat ke arah Gaara. Sungguh kata yang barusan ia ucapkan sangat berat. Sampai kapan ia harus terus berpura-pura?

"Benarkah ? kenapa kau tidak memberiku salam tadi pagi. Buktikan jika kau tidak marah padaku. Beri salam pada ku,Ino-chan." Pinta Gaara.

"Ohayou, Gaara-kun." Ino menuruti kemauan Gaara, walaupun ia tak tau episode keberapa ada adegan ini dalam scenario sandiwaranya.

"Bukan itu maksudku Ino-chan. Tapi ini... " Gaara menunjuk pipi kanannya dengan telunjuk. Seolah-olah tampangnya sangat ingin dimanja. Tapi bagi Ino, tampang Gaara bak malaikat berbulu devil. Pingin ditabok pakai sandal.

"Ciuman selamat pagi yang biasa kau lakuakan dikantor."

'Hah? Sejak kapan aku begitu? Tidak kupercaya dia mengerjaiku-lagi!. Tidak kah cukup ia mengerjaiku kemarin. Oke, ku ikuti apa mau mu, Gaara-sama. Akan ku buat kau menyesali sandiwara ini!' batin Ino kesal.

'Cup.. Cup.. Cup.. Cup.' Aku tidak sedang salah ketik dan penglihatan kalian masih jelas. Memang terdengar kata 'cup' empat kali. Ino mencium Gaara tidak hanya dipipi kanannya, tapi pipi kiri, kening dan bibir. Memberi lebih dari yang Gaara minta. "Aku tidak marah padamu, sayang. Maaf aku lupa memberimu ciuman selamat pagi." Ino mengerjapkan matanya beberapa kali ke arah Gaara, seperti anak kecil minta pengampunan. Tentu saja membuat Gaara menunjukkan seringainya lagi.

"Kalian ini! Apa tidak bisa tidak pamer kemesraan kalian didepanku. Kalian membuatku iri." Temari yang ada didepan mereka seperti tidak dihiraukan dan hanya sebagai penonton telanovela romantis.

"Maaf Temari-nee. Untuk apa iri? Pasti Nara-sama sangat romantis padamu, pasti Gaara kalah romantis," ucap Ino dengan melirik Gaara yang ada disampingnya, mengisyaratkan sedang mengejek Gaara.

"Haha.. sepertinya begitu," tawa renyah Temari. "Kau tidak bersama Shikamaru, nee-chan?" Tanya Gaara.

"Dia masih mengurusi sesuatu. Oh itu dia." Lambai Temari ke arah Shikamaru yang terlihat didepan pintu resto.

Cup. "Ohayou shika-kun" kecup singkat Temari ke bibir Shikamaru saat sudah berada dimeja makan. Ino yang melihatnya terasa ada yang mengganjal dihatinya, bukan rasa cemburu yang ia rasakan seperti biasanya, memang dia masih terlihat tidak suka jika Shikamaru bermesaraan dengan Temari, tapi kali ini rasa itu sudah sedikit memudar. Entah kenapa, apa karena ia sudah mulai merelakan Shikamaru ? rasanya belum. Lalu ?

"Hn?" Shikamaru mengerutkan alisnya heran. Kenapa ia medapatkan ciuman dari Temari secara tiba-tiba. "Hehe, aku meniru mereka,Shika-kun. Seharusnya kau lihat mereka, pagi-pagi saja sudah mengumbar kemesraan. Ino memberi ciuman selamat pagi pada Gaara." Jelas Temari sambil bergelayut manja dilengan Shikamaru.

"Oh, sebaiknya kita segera pesan makan." Shikamaru tak ingin menanggapi terlalu jauh, apalagi berkaitan dengan Ino dan Gaara. Tidak mau cemburu menguras hati.

.

.

.

"Wahh, tempatnya menyenangkan sekali, Gaara-sama. Taman hiburan ini apa namanya?" Tanya Ino yang takjub akan pemandangan yang ia lihat, sebuah taman hiburan yang begitu luas, ramai akan pengunjung, banyak wahana yang disajikan, tarian parade , badut dan sebuah icon globe dunia di gerbang masuk. Kekesalannya pada Gaara tadi sudah hilang seketika saat tau Gaara akan mengajaknya ke taman hiburan.

"Ini namanya Universal studio. Kau akan bisa bersenang-senang sepanjang hari. Ini pakai lah." Gaara meyodorkan sebuah bando mickey mouse berpola polkadot hitam putih yang menjadi pelengkap pengujung untuk masuk. Kurang lengkap jika kita tak menjadi sebuah bagian didalamnya.

"Hm? Pakai ini? Lucu sekali" seketika itu Ino seperti kembali ke dunia anak kecil, bertingkah kekanak-kanakan. Walau dia terlihat dewasa dengan berpakain mini dress selutut berwarna peach, lengan berbalut cardigan warna pastel, rambut sedikit dicurly bagian ujung. Seperti anak kecil yang baru diajak orangtua untuk pergi berwisata.

Gaara yang melihat tingkat imut Ino, hanya mampu tersenyum simpul, melihat Ino yang menjadi sosok yang sebenarnya. Periang dan juga cantik.

"Kita mau naik apa dulu,Gaara-sama ?" Tanya Ino membuyarkan lamunan Gaara menikmati ciptaan Tuhan terukir diwajah Ino dan satu bagian yang sangat menggoda untuk terus dipandang. Apa sekarang Gaara terlihat OOC ?

"Kau tak ingin berkeliling dulu? Baiklah ku ajak kau ke sana." Gaara menautkan jemarinya ke sela-sela jemari Ino, menggandeng untuk mengikutinya. Gaara tak mau jika Ino hilang dari pandangannya. Ino tak keberatan dengan sikap Gaara, yang terpenting saat ini ia bisa menghilangkan rasa jenuhnya.

.

.

"Hoeekk.. hoeek..hah.. hah ~. Nyawa ku tinggal berapa ini?" Ino memegang erat kain bajunya dibagian dada. Ia perlu oksigen dan ketenangan saat ini. Ia baru saja menaiki roller coaster yang ia tak tau sebelumnya. Ino hanya asal menurut kemana Gaara mengajaknya dan sekarang dia berakhir di depan tong sampah. Memelototkan matanya dan berusaha mengeluarkan sesuatu dari mulutnya.

"Kau kenapa?" Tanya Gaara yang tanpa rasa bersalah sedang memandangi Ino. Tak membantu. "Tidak bisa lihat! Kenapa ada wahana seseram itu, Gaara-sama? seperti akan mati saja."

"Tidak usah berlebihan seperti itu. Mau mencoba wahana lain ?" Tawar Gaara yang senang sekali melihat Ino menderita.

"Tunggu dulu, saya ingin ke toilet."

"Hn. Aku menunggu disana."

.

.

.

"Sial. Toiletnya penuh sekali. Apa Gaara-sama lama menunggu ya ?" Tanya Ino pada diri sendiri. Karena sudah 15 menit ia pergi ke toilet. Ino sudah akan beranjak dari tepatnya tapi..

Sret.

"Hmpp." Ino mengerang mendapati ada seseorang yang menariknya dan menutup mulutnya dari belakang. Takut-takut kalau ada orang asing yang menculiknya. Tapi setalah beberapa meter menjauh dari tempat semula dan kerumunan orang-orang, sang 'penculik' melepaskan dekapan tangannya. "Siapa ka.. uuu !" Ino tercekat saat ia berbalik menghadap ke arah wajah sang 'penculik'nya.

"Shi- Shika-kun? Apa itu kau ?"

"Hn. Seperti yang kau tau. Maaf telah membawa dengan tidak nyaman."

"Yah~ kucoba senyaman mungkin kali ini. Kenapa kau menarikku tiba-tiba ? dan dimana Temari-nee?" Tanya Ino mencari kehadiran Temari, takut jika kepergok sedang berduaan dengan Shikamaru.

"Dia sedang bertemu teman lama. Ada yang harus ku bicarakan dengan mu, Ino." Shikamaru berusaha meraih dan menggenggam tangan Ino agar dia mendekat ke arahnya, tapi ino malah menepis dan mundur beberapa langkah. "Sudah ku bilang, tak ada yang perlu kita bicarakan lagi, Shika. Kita sudah memiliki pasangan kita masing-masing. Bagaimana jika tau kita terlihat bersama ?"

"Ino, aku tau kau tidak mencintai Gaara. Dia hanya sebagai pelarian mu saja dan kaupun tau aku terpaksa melakukan ini. Apa kau tidak ingin mengakhiri ini, Ino ? Apa kita akan terus membohongi perasaan masing-masing? Kita hanya kan melukai orang lain, Ino." Shikamaru langsung bicara to the point tak perlu basa-basi lagi, entah ia dengarkan atau tidak, dia hanya ingin mengutarakan perasaannya yang masih mengganjal.

"Kau benar, Shika. Tapi apa gunanya kita kembali, toh kita juga akan saling menyakiti. Kita seperti terlihat menyakiti orang lain, tapi dengan pengorbanan kita orang lain akan merasa bahagia. Kau! Kau bisa membahagiakan Temari-nee, keluarga mu, membangun perusahaan mu, sedangkan kalau kau bersamaku tetap saja kita melukai mereka. Apa yang kurang dari Temari-nee, Shika ? dia begitu sempurna… " Ino memberi penjelasan kepada Shikamaru, entah kata-kata itu keluar begitu saja dari bibir Ino. Kali ini bukan menghindar atau masih memendam rasa sakit hati, tapi ia lelah menjadi orang ketiga, diantara hubungan Shikamaru dengan Temari, Shikamaru dengan Keluarga dan perusahaannya. Ino tak mau menjadi perusak hubungan itu.

"Jika ini jalannya, kenapa tidak kita jalani saja, Shika! Kita bukan diposisi dimana kita bisa memilih!" Ino mulai tak kuat menahan air mata yang mulai memaksa untuk keluar, matanya mulai berkaca-kaca.

"Hm. Sepertinya aku sudah menyerah meyakinkanmu Ino. Aku akui keputus asaanku ini adalah akibatku sendiri. Tapi aku tak akan pernah lelah mencintaimu. Kau memang bukan takdirku, tapi kau adalah hidupku. Semoga kita bisa saling membahagiakan orang lain, walau kita sendiri tak bahagia. Mengorbankan ego untuk orang lain. Kita hidup bukan untuk mencari arti kebahagiaan yang bisa kita dapat, melainkan mencari apa gunanya kita membahagiakan orang lain. Maaf, aku sudah mengganggu mu lagi, Ino." Tersirat diwajah Shikamaru jika ia kecewa, frustrasi, putus asa dan tak tau harus bagaimana lagi. Shikamaru mendekat ke arah Ino, membelai untuk terakhir kali, memandang mata itu terakhir kali, cintanya sudah berkakhir. Tak akan ada hari esok untuk cintanya.

Cup. "Untuk terakhir kalinya. Kau adalah bagian dari kebahagiaanku, Ino. Terimakasih," ucap Shikamaru disaat mencium kening Ino, menciumnya penuh hikmat, karena ia tau moment ini tak akan pernah terukir lagi dihidupnya. Setelah mencium Ino untuk kenangan terakhir kalinya, Shikamaru lalu pergi meninggalkan Ino, pergi menjauh tanpa menoleh ke arah Ino lagi.

"Hiks.. hiks.. huaaaa… maafkan aku Shika.. bagaimana kau bisa mengerti apa yang kurasakan saat ini. Aku hanya tak tahu apa yang harus ku lakukan. Ini harga diri atau pengorbanan." Ino menangis sejadi-jadinya, mengeluarkan isak tangisnya yang sudah tak bisa dibendung lagi, menangis untuk langkah yang diambilnya, menangis untuk merasa kehilangan, menangis untuk rasa sakitnya, menangis untuk orang yang ia cintai dan menangis untuk penyesalan. Ino duduk bersimpuh ditanah dengan memegang erat ujung rok yang menjadi pelampiasannya. Melihat punggung Shikamaru pudar dari pandangannya. Sama seperti waktu itu, melihat Shikamaru pergi dari dirinya.

.

.

.

"Shika, kau dari mana saja?" Tanya Temari yang berhasil menemukan Shikamaru, setelah ia mencoba menghubungi Shikamaru, tapi tidak aktif.

"Aku lelah, Temari. Sebaiknya kita kembali ke hotel."

"Kau tidak apa, Shika?" Temari tak tau apa yang terjadi pada Shikamaru, wajahnya pucat dan ada bekas air mata tertinggal di mata malasnya.

"Hn."

"Baiklah. Biar aku saja yang menyetir." Temari membopoh Shikamaru ke arah parkiran mobil. Meninggalkan area kelam bagi Shikamaru.

.

.

.

HOTEL ROOM '013'. 06.00 P.M

"Apa kau mencintaiku?" Tanya Shikamaru tiba-tiba. Setelah dibaringkan ke tempat tidur oleh Temari.

"Hah? Kenapa kau bertanya seperti itu, Shika ?" hampir saja gelas teh yang dipegang Temari terlepas dari tangannya, kaget dengan pertanyaan Shikamaru yang tiba-tiba, apalagi tentang perasaannya.

"Jawab saja."

"Ya tentu saja. Aku sangat mencintaimu. Yah~ Aku tau kau tidak pernah mencintaiku, Shika. Aku tau kau hanya terpaksa. Aku tau kau masih sangat mencintai kekasih mu dulu, tapi aku berusaha menyembunyikannya. Kau berusaha menerima semua ini. Kau tak banyak bicara saat aku cerewet. Kau tak marah saat aku melakukan kesalahan, karena kau memang tak pernah menganggap aku ada." Temari menunduk melihat bayangan wajahnya diair teh dalam gelas yang ia pegang, tak berani menatap ka arah Shikamaru.

"Apa kau ingin melihatku bahagia?"

"Tentu saja," jawab Temari spontan, melihat bola mata eboni milik Shikamaru. "Jika aku ingin bersama dengan kekasihku dulu, apa kau mengijinkan?"

"Ya. Walau ini sangat membuatku sedih, tapi aku berusaha apapun untuk mu Shika." Temari tak tau kenapa Shikamaru meminta ijin untuk itu. Dia bisa bergi dari dirinya jika ia mau. "Apa kau bisa menyatukan kami?"

"Hm. Jika kau bisa membantu." Sulit rasanya kata itu keluar dari tenggorokan Temari. Merasa tak rela kehilangan Shikamaru.

"Aku ingin Ino."

'Praanggg'

Cukup kata itu membuat Temari tak percaya. Gelas yang ia pegang sedari tadi jatuh dan pecah berantakan.

"Hah? Ino ? kenapa dia ? dia kan pacar Gaara."

"Dia adalah orang yang sangat aku cintai. Aku menginginkannya. Tidak! Aku tidak menginginkannya, tapi membutuhkannya. Apa kau bisa ?"

"A-aku tidak bisa. Ino milik Gaara. Dan aku bisa lihat jika Gaara juga mencintai Ino." Temari merasa bimbang akan keputusannya untuk membantu Shikamaru, dilain sisi ia ingin melihat Shikamaru bahagia tapi disisi lain ia tak ingin kebahagiaan adiknya terenggut.

"Jadi kau tidak bisa ?"

"Jika kau tidak bisa mendapatkan orang yang kau cintai. Aku akan membuatmu mencintaiku." Temari mengepal tangannya didada, berusaha meneguhkan hatinya. Berucap pasti akan keyakinannya.

"Benarkah ? apa kau bisa menghapus cintaku ini ? menghapus rasa sakitku ? menghilangkan bayangannya ? dia tak tergantikan." Shikamaru berjalan mendekat ke arah Temari.

"Sekarang lihat aku, Shika! Aku akan berusaha, tak peduli bagaimana caranya, jika mencintainya membuatmu tersiksa. Aku akan menghilangkan rasa sakit itu." Temari menangkup wajah Shikamaru, menatap mata yang kelam itu. Mengucapkan sebua janji yang Temari sendiri tak yakin akan bisa. Menghilangkan jejak cinta Ino dihati Shikamaru.

"Emm... " Temari mengecup dalam bibir Shikamaru, seakan mentransfer rasa cinta yang ia rasakan kepada Shikamaru, walau ia tau hanya sebuah ciuman tak bisa membalas perasaannya. Shikamaru diam bergeming, tak menanggapi ciuman yang ia terima. Karena rasanya hambar, bukan maunya.

Temari masih menatap lekat mata eboni itu. "Aku mencintai mu, Shika. Lihat aku saja! Jika dia datang, aku akan mengusirnya. Jika membuatmu terluka, aku akan menyembuhkannya. Jika dia mengharapkan mu kembali, maka kau sudah tidak akan mencintainya lagi. Namun jika tidak bisa dan kau tak menghendaki ia pergi dari pikiran mu, maka bayangkan saja aku adalah… "

" …Ino."

.

.


Cinta itu rumit. Jika mencintai katanya penuh pengorbanan, lalu pengorbanan apa yang harus dipilih? jika kita sendiri tidak tau apa yang harus dikorbankan. Kita rela berkorban karena kita sebut itu semua atas nama cinta, tapi cinta bukan perang. Cinta bukan adu siapa yang paling banyak berkorban, siapa yang paling banyak memberi kebahagiaan. Tapi cinta itu sebuah perjuangan, bagaimana kita bisa berjuang mendapatkannya dengan benar.

TBC


Hai, salam jumpa again… Saya sudah sembuh dari Flu yang melanda… Butuh 1 minggu lebih untuk pulih, karena memang enggak pernah minum obat.. biar sakit ini kurasakan dan ku nikmati… weleh lebay -_-"

Sekilas info.. sebenarnya sih aku enggak suka pairing Shika x Temari atau canon pair. Aku Suka Shika x Ino, pokoknya yang sama Ino deh, namanya juga Ino-centric, tapi bukan berarti aku bashing chara Temari loo… Karena kebutuhan cerita dan dia menang audisi untuk jadi pasangan Shikamaru, jadi dia ku pilih. Main chara tetap Ino x Gaara kog.

Untuk adegan kissing dichapter sebelumnya, maaf jika kurang bikin greget, maklum enggak bisa menuangkan adegan orang ciuman ke dalam tulisan. Kalau dikhayalan sih bisa, malah jadinya kemana-mana deh.. hehehe…

Maaf jika di chapter ini terlalu banyak dialog and cin-cong, tapi semoga kelanjutannya ini bisa diterima disisi anda semua, Tuhan dan sisi sama kaki. Dan untuk setiap chapter yang saya bikin tidak ada unsur menggurui, mendoseni. Itu hanya pikiran polos saya saja yang ikut tertuang dalam cerita.

Terimakasih sudah mau berkenan membaca.

I Loveee uuu Alll… :)