Di tengah keasyikannya melamun, Netherlands merasakan ada benda-benda kecil yang jatuh menimpa penutup kepalanya.
"Hmmm… apa ini?" ujarnya kaget, "batu?"
Ia mendongak dan terkejut demi mendapati sesosok pemuda yang sedang berusaha turun dari jendela lantai dua rumahnya. Pemuda itu terlihat ketakutan dan gemetar. Saat hendak mencapai pijakan kaki, pemuda malang itu terpeleset dan jatuh.
"Awaaaass…!"
"HUWAAAAAHHH…!"
…
…
…
Sendal Rela : Sebuah Cerita Sepotong Sendal
.
.
.
BRUUUGGHHH
…
…
…
…
Netherlands mengangkat kedua tangannya dan dengan sigap menangkap sosok mungil yang meluncur kencang itu. Penutup kepala milik sang pangeran terlempar. Poninya yang tadinya berdiri jabrik tampak terurai beberapa helai di dahi. Ia terkejut. Siapa gerangan pemuda yang jatuh di pelukannya ini?
"Mati… gue mati?" Malay gemetar. Tangan pemuda Asia itu menelungkup menutup wajahnya.
"Hey, kamu ngga apa-apa?" sayup-sayup terdengar suara bariton milik sang pemuda bangsawan.
"Siapa?" ujar pemuda mungil itu seraya membuka tangannya lalu terkejut saat mendapati bahwa di hadapannya ada sosok bangsawan tampan lagi gagah.
"Pa-pangeran!?" ujarnya kaget setengah mati.
"Kamu…" sang pangeran juga kaget. Kenapa dia masih dikenali meskipun sudah menyamar begini, batinnya heran. Ya iyalah, Pangeran, orang ganteng mah pake baju apa aja tetep kelihatan bling-bling! Aura bangsawannya masih terpancar gitu!
Keduanya saling tatap agak lama.
"Duh, jangan-jangan gue jatuh dari loteng terus mati, terus sekarang ada di surga. Masak pangeran Netherlands bisa ada di rumah gue!?" batin Malay.
Sang pangeran menatap Malay dengan pandangan iba. Bagaimana tidak, sekujur wajah Malay tampak lebam plus bekas cakaran sang mami, rambutnya acak-acakan, bajunya juga dekil dan compang camping, bahkan ia hanya memakai sendal sebelah.
Pangeran ganteng itu menggendong tubuh Malay, membawanya ke bawah naungan pohon yang teduh lalu menurunkannya.
"Kamu ngga apa-apa?" ujar Nether seraya mengusap lembut pipi pemuda dekil itu.
Ia membuka jas seragamnya yang berwarna hijau army. Tampaklah kemeja putih dengan bagian atas yang terbuka sampai perut, sehingga dada yang berkulit pucat dan perut yang berlekuk itu terlihat. Malay jadi deg-degan sendiri. Berduaan di bawah pohon rindang dengan pangeran tampan dan seksi, owow, bikin merinding!
"Ummh… pangeran, duh aku kok grogi ya…" Malay bisik-bisik dengan tampang mau-mau malu.
Pemuda berbola mata hijau itu lalu merobek lengan kemejanya yang berwarna putih. Terlihatlah otot bisep dan trisep maskulin yang menonjol pertanda sang pangeran sering berlatih mengangat beban. Malay semakin deg-degan.
"Duh, aduh, pangeran, kayaknya aku belum siap kalo pangeran buka baju sekarang, nganu, ini kan masih siang gitu… ng… lagian kita kan baru kenal, kalo langsung nyosor gitu kan aku jadi ma - " Malay semakin salah tingkah. Wajahnya memerah parah.
"Sini, kubersihkan luka-lukamu…" ujar pangeran lembut seraya menyeka luka cakaran di pipi Malay dengan sobekan bajunya.
"….lu." Malay kecele, "kamfretos, ternyata dia ngerobek baju buat ngusapin luka gue… kirain, mau…"
Dasar kegeeran!
"Ah, aww!" Malay menjerit kesakitan saat Netherlands menyeka luka di lututnya yang tergores dinding waktu dia jatuh.
"Maaf, sakit ya?"
Malay mengangguk. Sang pemuda bangsawan itu kemudian membalut luka di lutut Malay dengan perlahan seolah khawatir akan menyakiti pemuda mungil itu lagi.
Malay menatap wajah serius Netherlands yang sedang membalut lukanya. Wajahnya tegas dengan bola mata berwarna hijau. Lembaran poni yang terurai jatuh di dahi membuat sosok itu jadi tambah memesona. Belum lagi sentuhan tangannya yang lembut. Malay belum pernah merasakan tangan yang selembut itu menyentuh pipinya. Duh, gusti, siapa yang ngga meleleh melihat pangeran yang baik hati ini. Sudah ganteng, lembut, perhatian lagi!
"Kamu kenapa lompat dari atas sana? Bahaya lho! Untung aku bisa menangkapmu." ujar Nether.
"Aku dikunci oleh mami dan saudara tiriku di lantai atas, tidak boleh keluar, tidak boleh ikut menjajal sendal yang dibawa pasukan kerajaan, padahal aku kan punya sendal yang satu la - "
"APAAA..!?" Netherlands terkejut.
"Iya, pangeran, aku punya sendal yang satu la - "
"KAMU DILARANG MENJAJAL SENDAL!? BERANI-BERANINYA MEREKA, PADAHAL RAJA MEMERINTAHKAN SEMUA ORANG UNTUK MENJAJALNYA!"
"….gi." Malay sweatdrop. Perasaan dari tadi ngomong kagak nyambung-nyambung.
"ITU NAMANYA PEMAKSAAN KEHENDAK, PENJAJAHAN, DAN PENJAJAHAN DI ATAS DUNIA ITU HARUS DIHAPUSKAN KARENA TIDAK SESUAI DENGAN PERIKEMANUSIAAN DAN PERIKEADILAN!"
Ih, kenapa si pangeran jadi baca Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 gitu? Kayak lagi upacara aja!
"Lalu, luka-luka di wajah dan sekujur tubuhmu ini, mereka juga pelakunya!?" tanya pangeran dengan nada sedikit emosi.
Malay mengangguk pelan.
"Tidak bisa dibiarkan! Mereka telah berlaku semena-mena!" Netherlands berdiri sambil mengepalkan tangannya.
"Ya sudah, kamu harus menjajalnya sekarang sebelum kapten Spain berkeliling ke rumah lainnya. Kamu bisa jalan?" ujar pangeran bersemangat.
"Ng, kakiku masih sakit, Pangeran."
Modus nih Malay, bilang aja pingin digendong sama cowok ganteng lagi!
KRUCUUUKKKSS
Tiba-tiba terdengar suara aneh dari perut Malay.
"Suara aneh apa itu!?" tanya pangeran keheranan.
"Nganu, pangeran, itu suara perut saya dangdutan, hehe, maklum belum makan."
Jawaban lugas Malay ternyata tidak mampu menghilangkan raut keheranan dari wajah ganteng sang bangsawan.
"Memangnya perut kamu bisa nyanyi dangdut ya? Lagunya apa? Jaran goyang?" tanya Nether dengan wajah polos.
Duh, Malay jadi pingin ketawa ngakak. Ganteng-ganteng oon nih pangeran!
Namun Malay maklum, sebagai seorang bangsawan yang kaya raya dan terpandang, Netherlands pasti tidak pernah merasakan kelaparan. Mungkin seumur hidupnya, ia belum pernah mengalami bagaimana rasanya makan makanan sisa yang hampir basi ataupun hasil mengorek-ngorek tempat sampah. Jangan-jangan, ia bahkan belum pernah mendengar suara perut yang keroncongan plus dangdutan karena belum diisi.
"Ini, tadi aku bawa roti dan sedikit kue, makanlah!" ujar Nether.
Bola mata Malay langsung berbinar melihat kue cokelat dan roti yang mirip dengan yang dia makan sewaktu di pesta dansa malam itu. Tanpa ba bi bu langsung disikatnya makanan itu.
"Ah, ini enak banget!" jerit Malay sambil ngunyah. Sisa-sisa roti dan cokelat tampak menempel di sudut mulutnya. Mukanya yang tampak bahagia itu menatap lekat sang pangeran, "terima kasih, Pangeran, Anda baik sekali!"
Netherlands tersenyum seraya mengangguk pelan. Ditatapnya pemuda di hadapannya yang masih asyik melahap kue dengan mulut belepotan. Ditatapnya bola mata hitam legam milik pemuda belepotan itu yang bersinar ceria. Entah kenapa ia jadi teringat dengan seseorang. Rambut hitam itu, bola mata hitam itu, caranya melahap kue cokelat, lalu aroma tubuh yang weird yet arousing itu…
"HAHH!?" tiba-tiba Netherlands tersentak.
Malay yang sedang menghabiskan potongan terakhir kue cokelat itu jadi terkejut. Untung ngga keselek!
"Ada apa, Pangeran?"
"Jangan-jangan, kamu…" Pangeran tidak meneruskan kata-katanya.
Lalu dengan secepat kilat Netherlands berlari sambil menggendong pemuda mungil dengan mulut belepotan itu menuju rumah. Rupanya Spain dan pasukannya sedang bersiap melanjutkan perjalanannya menuju rumah lain karena penghuni rumah itu tidak ada yang bersedia menjajal sendal jepit yang mereka bawa.
"Tunggu! Masih ada yang mau jajal sendal!"
Spain dan pasukannya yang baru saja mau pergi itupun mengurungkan niatnya. Pasukan kerajaan terbengong-bengong demi melihat pangeran kerajaan Hetalia itu muncul dengan menggendong seorang pemuda kampung dekil plus mulut belepotan cokelat. Mereka kaget sejak kapan pemuda bangsawan itu ada disana. Mereka tidak tahu bahwa Netherlands sejak awal sudah berada bersama mereka dengan menyamar sebagai anggota pasukan kerajaan.
Begitu juga mami Singapore dan trio tuyul yang terkejut demi melihat Malay yang sejak kemarin mereka kurung di loteng itu kini ada di hadapan mereka, dalam gendongan sang pangeran pula!
"Hati-hati." Pangeran menurunkan Malay dari gendongannya dengan perlahan.
"Ka-kamu!?" jerit mami Singapore melotot.
Wanita itu menghampiri Malay dan hendak mendaratkan tamparan di pipi pemuda malang itu. Namun pangeran Netherlands keburu menahan tangannya.
"Jadi, kamu pelaku penganiayaannya!?" ujar Nether dengan nada geram.
"Aku ini ibunya! Aku berhak mendidik anakku!" jawab mami Singapore. Sepertinya ia sudah putus asa sehingga berani melabrak seorang anggota kerajaan.
"Tidak! Kamu bukan ibuku dan kamu tak akan pernah menjadi ibuku!" sergah Malay dengan tatapan mata tegar.
Mami Singapore menatap geram. Bocah kurang ajar itu benar-benar berani sekarang.
"Silakan dijajal sendalnya." Spain menyodorkan wadah beludru berwarna marun yang berisi sendal ajaib. Malay mengambil dan memakainya.
Spain dan Netherlands menahan napas.
…
…
"Sendalnya…" Spain deg-degan.
…
…
"Pas…" Nether terbelalak.
"SENDALNYA PAS!" pasukan kerajaan ikutan terbelalak.
Malay tersenyum.
"Nganu, Pangeran, sebenarnya aku punya sendal pasangannya." ujar Malay seraya mencopot sandal miliknya dan memperlihatkannya pada khalayak.
"Iya, bener! Sendalnya sama!" ujar Nether.
"Bahkan tulisan 'masih ngutang' nya pun sama!" ujar Spain ngga percaya.
"Haha haha ha, hihi hihi hi, memang cocok sekali, haha haha ha, hihi hihi hi, pemiliknya yang asli."
Pasukan kerajaan itu menyambut dengan riang gembira. Mereka bahagia pemilik sendal butut yang asli itu akhirnya sudah ditemukan. Akhirnya upaya pencarian mereka tidak sia-sia. Sekarang, saatnya bersenang-senang dan merayakan.
"Lihatlah lihat semua, aku punya pasangannya, sepasang sendal ajaib, sendal yang istimewa…"
Malay ikutan bernyanyi riang karena terbawa suasana.
"Haha haha ha, hihi hihi hi, jodoh pilihan hati, haha haha ha, hihi hihi hi, oh bahagia sekali." Dibalas nyanyian riang pasukan kerajaan yang menari sambal bergandengan tangan.
Netherlands masih berdiri mematung. Sepertinya ia sangat terkejoet.
"Ja-jadi… kamu… Bambang...?" Netherlands menatap Malay tak berkedip.
"Ya, Pangeran, inilah saya yang sebenarnya. Saya bukanlah siapa-siapa, bukan pula seorang bangsawan, saya hanyalah orang biasa." ujar Malay dengan tatapan sedih. Ia sudah menguatkan hati kalau-kalau sang pangeran menolaknya begitu tahu kondisi yang sebenarnya.
"Saya hanyalah seorang yatim piatu yang tak punya apa - "
Lalu tanpa disangka-sangka, tubuh besar Netherlands menghambur memeluk Malay dengan erat.
"….apa…"
Kini gantian Malay yang terkedjoet.
"Bambang, I knew it is you!" ujar sang pangeran terharu, "aku ngga butuh kamu jadi siapa-siapa, aku cuma butuh kamu apa adanya, itu sudah cukup."
Malay tertegun mendengar pengakuan tulus sang pemuda bangsawan.
"Kau yakin, Pangeran?"
"I fell in love with you since the first time I saw you and I will love you for all my life."
Duh gusti, Malay jadi meleleh. Ia meneteskan air mata saking terharunya.
Lalu tiba-tiba tampak seberkas cahaya terang melingkupi tubuhnya. Cahaya itu berputar-putar lalu perlahan menghilang. Malay memejamkan matanya, tak sanggup menatap cahaya yang teramat terang itu. Saat akhirnya ia mampu membuka matanya, pemuda mungil itu terkejut karena penampilannya berubah. Ia memakai pakaian yang sama dengan yang ia pakai di pesta dansa malam itu. Long coat tanpa lengan warna merah marun dengan hoody, celana panjang hitam fit to body plus syal abu-abu yang melingkar di lehernya. Sendal bututnya kini berubah menjadi sepatu booth warna cokelat persis seperti yang ia kenakan di acara ta'aruf massal saat pertama kali bertemu dengan sang pangeran waktu itu.
"I-ini… ini pasti papa peri! Papa peri terima kasih!" bisik Malay bahagia.
Dari kejauhan, papa peri France tersenyum seraya mengedipkan sebelah matanya ganjen ke arah Malay.
"Jadi, masih mau menerimaku apa adanya, Pangeran?" ujar Malay seraya tersenyum manis.
Sang pangeran hanya speechless terpesona memandang penampilan Malay, tak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Sang pemuda bangsawan itu menatap tubuh Malay dari ujung kaki sampai ujung rambut dengan takjub. Ia sangat bahagia akhirnya pemuda yang selama ini membuatnya ngga enak makan, ngga enak tidur itu muncul di hadapannya. Akhirnya sosok yang telah mencuri hatinya itu datang juga.
"Ki-kita ke KUA sekarang, yuk!"
Netherlands langsung meraih tubuh mungil itu, menggendongnya ala bridal style dan berlari dengan semangat 45 menuju KUA terdekat. Ia begitu bahagia akhirnya berhasil menemukan sang pujaan hati dan tak ingin kehilangannya lagi.
"Nganu, btw Pangeran, nama saya bukan Bambang tapi Malay."
"Whatever! Mau Malay kek, Bambang kek, Jojon kek, Soimah kek! Pokoknya i love you!" ujar pangeran seraya mencium bibir Malay yang masih berada dalam gendongannya.
Malay tertawa bahagia.
"Duh, kamu kalau dilihat dari dekat gini, cute banget deh! Aku jadi ngga sabar pingin cepat-cepat sampai KUA!" Pangeran udah ngebet rupanya.
…
…
…
Sementara itu di beranda rumah, mami Singapore dan trio tuyul anaknya hanya bisa melongo mengetahui rencana mereka yang gatot, alias gagal total. Musnahlah segala impian indah mereka.
"Gara-gara kalian ngga mau jajal sendal, mami gagal punya mantu pangeran ganteng deh!" ujar mami keki berat.
"Ngga jadi makan enak tiap hari di istana deh!" tambah Cambodia.
"Ngga jadi main petak umpet di istana deh!" tambah Myanmar.
"Ngga jadi minta duit jajan deh sama pangeran!" tambah Laos.
Dan mereka pun nangis bombay bersama.
…
…
…
Mari kita lihat kondisi pasangan kita yang sedang dimabuk asmara.
"Duh, kantor KUA-nya sebelah mana ya!?" ujar Nerherlands celingak celinguk.
"Lah, jadi pengeran sebenarnya ngga tahu letak KUA-nya dimana!?" ujar Malay panik. Ini udah jalan kaki 1 jam lebih!
Kasihan, jaman dulu belum ada yang namanya GPS sih ya!
…
…
…
"BHUAHAHAHAHAHA! Dasar Netherlands bahlul! Kantor KUA terdekat kan perjalanan 1 hari naik kuda kalo dari sini! Dia malah nekad jalan kaki, padahal disini ada kuda!" Spain ngakak guling-guling bersama pasukannya.
TWEEEEWWWWWEEEWWW
~The End~
