X~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~X
Último Ano du Melodioso
X~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~X
Naruto © Masashi Kishimoto
mysticahime
2013
X~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~X
Don't Like Don't Read!
-Need No Flame(s)-
X~*~*~*~*~*~*~*~*~*~*~X
Season 1: Primo
Chapter 8
.
.
Minggu-minggu awal musim panas berlangsung dengan ceria, saat-saat dimana seragam berlengan pendek dengan warna yang lebih cerah keluar dari dekapan lemari pakaian dan kembali berkibar-kibar di bawah teriknya sinar matahari. Gelak tawa kembali terdengar di tengah-tengah bangunan Konoha High, mengiringi gema lonceng yang terdengar dari kejauhan.
Lorong yang sempat sunyi karena adanya long weekend minggu kemarin segera terisi penuh dengan langkah-langkah kaki dan bising khas remaja. Ada yang bercanda dan saling mengejek dengan akrab, ada yang berbagi cerita mengenai liburan pendek pekan lalu.
"Beberapa minggu lagi..."
Salah satu dari tiga orang yang tengah berjalan di antara hiruk-pikuk itu bergumam entah kepada siapa. Kebetulan sekali, sang penggumam adalah dia yang berdiri di medial, menyebabkan dua pemuda yang berjalan di sisinya melirik kepadanya dengan raut wajah penuh tanda tanya.
"Apanya?" Krauk. Kunyahan khas itu tak pernah menghilang dari mulut Akimichi Chouji. Sepertinya pemuda itu tengah membalas dendam perihal tidak boleh makan sembarangan selama gasshuku kemarin. Buktinya, semenjak tadi berangkat bersama-sama, sudah tiga kantong keripik ludes di tangannya. Sekarang ia sedang menjajal kantong keempat.
Haruno Sakura mendekap buku aljabar super tebalnya di dada. "Tentu saja Summer Music Festival, memangnya apa lagi?"
"Liburan musim panas, hehehe," tawa Chouji dengan ekspresi tanpa dosa.
"Yeah." Shikamaru yang semula diam saja menimpali. "Yang berarti waktunya tidur panjang sudah ti—"
"Kau dan tidur siangmu," potong gadis itu pelan namun tajam, "sama dengan Chouji dan makanannya. Kebiasaan buruk tetapi sulit dihilangkan."
"Memangnya itu jelek?" tanya Shikamaru dengan sebelah alis terangkat. Kedua lengannya dilipat di belakang kepala, dibiarkan menjadi penopang. "Aku dan tidur siangku, sama dengan kau dan pementasanmu."
Gadis berambut pink itu mencebikkan bibir. "Dasar, GoroShika. Aku heran dulu ibumu mengidam apa waktu mengandungmu."
"Mengidam bantal," celetuk Chouji. Krauk krauk. "Kalau ibumu pasti mengidam mikrofon, Sakura-chan. Kau ini bawel sekali."
"Hei!" pekik Sakura tidak terima dikatakan bawel. Digembungkannya pipinya sementara Shikamaru dan Chouji melakukan high-five di belakang kepalanya. "Oi, GoroShika, kau setuju aku ini bawel—heeii, jangan mengabaikanku!"
"Kau memang bawel, Sakura." Shikamaru mengacak rambut merah muda itu hingga berantakan. "Tuh, lihat, baru kuacak rambutmu sedikit saja kau sudah mau protes, kan?"
Haruno Sakura langsung membungkam mulutnya. Alih-alih mendebat temannya yang berkuncir itu, dia malah mendaratkan cubitan pada punggung tangan Shikamaru yang baru saja membuat rambutnya berantakan.
"Aw!" Pemuda itu buru-buru menarik tangannya dan memasukkannya ke saku. "Dasar kepiting cerewet. Mendokusei."
"Rambutku jadi berantakan, kan..." keluh gadis itu sambil memperbaiki helai-helai rambutnya yang bagaikan disapu oleh angin puyuh. Ketika berhasil merapikan rambutnya, tangan Shikamaru kembali mengacak-acak rambutnya hingga dua kali lipat lebih berantakan dari sebelumnya. "GoroShikaaa!" jeritnya sebelum mendumel sendiri.
Yang namanya disebut hanya mencibir dan membuang muka.
.
.
.
.
Lonceng pertanda waktu pulang sekolah tiba akhirnya berbunyi juga. Ratusan siswa Konoha High segera menghambur keluar dari dalam kelas dan merayap menuju gerbang sekolah. Beberapa di antaranya sibuk bersenda gurau, menertawakan hal-hal lucu yang diucapkan oleh temannya. Beberapa lagi tampak mengantuk dan ingin lekas pulang.
Sebaliknya, para peserta drama musikal SMF sudah bersiap-siap di auditorium yang telah disulap menjadi ruangan latihan temporer. Sekitar tiga puluhan orang berada di dalam sana, sibuk sendiri-sendiri. Mereka yang tidak kebagian peran di atas panggung (atau hanya menjadi figuran yang lewat sekilas) memilih untuk mengerjakan dekorasi panggung, sedangkan sisanya yang memegang lakon dalam drama terlihat menyibukkan diri dengan lembar-lembar skenario yang tebalnya lumayan.
Haruno Sakura sendiri tidak bergeming dari kursi tempatnya duduk. Pandangan matanya lurus ke dapan, tidak terfokus pada satu koordinat tertentu. Tidak ada yang ia lakukan, tidak ada yang ia pikirkan. Yang dilakukannya hanyalah duduk diam. Menonton. Mengamati.
Di tangannya tergenggam bundelan skenario yang harus dipelajarinya. Naskah dengan bagian Belle dicetak tebal, karena itulah perannya. Sakura tidak mengikuti kegiatan Ino maupun Tayuya yang sedang berlatih intonasi. Ia hanya berada di sana, membisu.
Hei, tentu saja gadis itu sudah membaca habis bagiannya. Bahkan, semalaman suntuk ia sudah menggoreskan warna stabilo pada semua dialognya—mewarnai inti dari dialognya agar ia bisa melakukan improvisasi pada jalur yang benar bila sewaktu-waktu ia lupa mengucapkan dialognya. Jadi, kebungkamannya di sini bukan karena ia sudah tidak berminat berpartisipasi dalam Summer Music Festival, melainkan karena ia menunggu seseorang.
Seseorang memanggilnya, dan kepalanya berpaling.
"Ada apa, Tayuya?" tanyanya pada si pemanggil. Gadis berambut pink gelap itu terlihat bosan.
"Ke mana Uchiha Sasuke yang seharusnya menjadi lawan mainku di adegan pertama?" tanyanya dengan nada jengah. "Dia tak pernah muncul semenjak gasshuku dimulai. Apa Uchiha-san sudah mengundurkan diri dari perannya?"
Benar juga—Sakura mengetuk pelipisnya. Sasuke memang tidak pernah muncul lagi semenjak briefing untuk camping musim panas. Itu juga dia datang karena Sakura menemuinya...
"Sedang sakit, mungkin?" Gadis itu mengangkat bahu, tidak tahu harus menjawab apa.
Tayuya belum sempat bertanya lagi saat suara Hatake Kakashi menyita perhatian mereka semua. Pria berambut perak itu bertepuk tangan agar tidak ada suara lain yang terdengar di ruangan itu selain miliknya.
"Semuanya, hari ini kita akan mulai berlatih adegan pertama," katanya sambil bersedekap. "Kuharap siapa-siapa saja yang muncul di adegan pertama sudah mengingat betul apa yang harus kalian lakukan di adegan pertama."
Lakukan, bukan katakan—Sakura memutar bola mata. Tentu saja, adegan pertama itu sesungguhnya hanya narasi yang dibacakan oleh narator dan sejenis pantomim, hanya saja bukan pantomim yang jenaka dan membuat orang tergelak. Prolog dari cerita drama ini. Awal mula bagaimana Beauty and the Beast dimulai.
Narasi akan dibacakan oleh Shizune sendiri—sepertinya guru wanita itu belum mempercayai siapa pun untuk membacakan narasi pembuka selain dirinya. Maklum saja, Shizune adalah kepribadian yang perfeksionis, sama seperti Hatake Kakashi sendiri.
"Semuanya di posisi." Kakashi menjentikkan jari. "Kita akan mulai dalam hitungan tiga, dua, sa—"
"Sensei!" Tiba-tiba saja, Tayuya mengacungkan tangannya ke udara, menarik atensi guru beriris beda warna itu.
Kening Hatake Kakashi berkerut, tidak suka ada yang menyela perkataanya. "Apa?"
"Uchiha Sasuke tidak ada," ujar gadis itu sambil merentangkan lengan. "Aku tidak bisa bermain tanpa ada lawan main. Kelihatannya... konyol."
Beberapa orang terkikik mendengar kata-kata Tayuya, namun sebagian besar menggumamkan kata setuju. Tayuya yang berakting sendiri akan terlihat menyedihkan sekaligus menggelikan di saat yang bersamaan.
Kakashi terlihat berpikir selama beberapa saat, kemudian mengangguk.
"Baiklah, kalau begitu kita mulai dengan adegan kedua." Pria itu menoleh pada Sakura yang sedari tadi berdiam diri. "Ayo, Belle, sekarang jatahmu." Berpaling lagi pada siswa lainnya. "'Orang-orang di kota' juga. Cepat!"
Satu detik kemudian, ritme drama itu kembali mengalun, membawa serta siapa saja yang terlibat di dalamnya.
Termasuk Haruno Sakura.
.
.
.
.
Matahari terik dan membakar siapa saja yang tersorot oleh sinarnya. Kebanyakan orang memilih untuk berlindung di balik atap rumah dengan kipas angin yang mengembuskan angin dalam kecepatan tinggi, kalau bisa sambil menggerogoti semangka berbentuk bulan sabit atau makan es serut dari mangkuk super besar. Tidak akan ada yang mau terpanggang oleh hawa panas dan bercucuran keringat.
Yah, tidak akan ada yang mau, kecuali...
...segerombolan anak muda yang sedang bermain three on three di lapangan basket milik sekolah.
"Naruto, pass!"
Sang empunya nama yang berambut kuning itu menoleh ke si pemanggil dan mengangkat lengannya tinggi-tinggi ke udara. Menyambut bola basket hitam yang melayang ke arahnya.
"Nice, dude," katanya sambil nyengir pada Jirobou yang mengoperkan bola kepadanya.
Naruto men-dribble bola itu menuju ring dan menemukan Hyuuga Neji menghadangnya. Raut wajah pemuda itu seketika berubah ketika mengetahui siapa yang akan berduel dengannya saat ini. Sedikit-banyak, ia sudah berpikir akan kalah ketika menghadapi sang kapten basket. Neji dijadikan kapten bukan karena popularitasnya atau apa. Penyandang marga Hyuuga itu pernah mendapatkan gelar MVP di hari pertamanya terjun sebagai pemain inti. Bahkan sebenarnya sudah banyak isu terdengar kalau Neji akan direkrut oleh JABBA setelah lulus sekolah menengah nanti.
"Minggir kau!" Naruto berusaha menerobos pertahanan Neji, namun pemuda itu menghadangnya ke titik di mana Naruto berusaha melepaskan diri.
"Kalau kau bisa kabur sih, ya sudah," komentar Neji, berusaha menggapai bola yang Naruto hindarkan dari pemuda itu.
Si pirang melakukan pivot dan berusaha berkelit, namun Neji sama sekali tidak melonggarkan penjagaannya. Beberapa kali, keduanya sempat berebut bola. Sama-sama keras kepala dan tidak mau mengalah.
Cih, sial—Naruto mengumpat dalam hari. Seumur-umur, dia sudah enam kali berhadapan dengan Hyuuga Neji dan enam kali juga kecolongan bola. Makanya di kali ketujuh ini dia tidak mau kalah lagi. Kalah berarti harga dirinya sebagai pria turun drastis. Rontok dan terinjak-injak. Sialan, mana sudi Naruto dipermalukan lagi oleh pemuda itu—walau secara tidak langsung.
Lalu, sekarang dia harus bagaimana?
"Pass!"
Kedua pupil yang dikelilingi iris biru itu melebar. Oh, dia nyaris melupakan kenyataan bahwa ia sedang bertanding tiga lawan tiga, bukannya satu lawan satu. Dan seruan barusan...
"Temeeee!" Dalam satu gerakan cepat yang tak terduga oleh Neji, Naruto melemparkan bola ke arah belakang tanpa melihat siapa yang akan menerima bola tersebut.
Blind pass!
Sebelum Neji sempat mengejar laju bola itu—dan teman-teman setimnya juga—Uchiha Sasuke telah melesat dari garis belakang. Bola itu diterimanya dengan baik, lalu Sasuke melakukan sebuah lay-up yang cantik. Terdengar desing logam beradu dengan benda tumpul tatkala bola basket itu meluncur masuk setelah membentur lingkaran keranjang dua kali.
"Kyaaaaaaaa! Sasuke-kun keren sekali!" Sorak-sorai bergema dari arah tribun, didominasi oleh jerit senang kaum Hawa yang menamakan diri sebagai penggemar Sasuke.
Uchiha yang dielu-elukan itu sendiri hanya mengerutkan kening dengan malas. Kenapa juga mereka berisik? Permainannya kan belum selesai.
"Aku udahan," celetuk Naruto tiba-tiba, membuat lima orang sisanya heran.
"Mau ke mana?" tanya Zaku bingung. Pemuda yang satu tim dengan Naruto dan Sasuke itu mengambil bola basket yang sudah menggelinding keluar dari area lapangan dan memain-mainkannya di kedua lengannya.
"SMF," jawab Naruto cuek sambil meraih tasnya dan mengeluarkan handuk. "Kau juga kan, Neji-senpai?" Handuk itu digosokkannya ke leher dan wajah untuk menghapus peluh yang membanjir.
"Oh." Neji seolah teringat sesuatu. "Benar."
Pemuda berambut panjang itu ikut mengambil tasnya. Bedanya, ia tidak mengeluarkan handuk untuk menyeka keringatnya. Neji langsung membuka kausnya dan menggantinya dengan kaus baru yang masih kering dan bersih—tentunya tindakan itu disambut pekikan 'kyaaaaaaaa' dari para gadis yang menonton.
"Malah pamer badan," komentar Naruto sambil melipat rapi handuknya sebelum memasukkannya kembali ke dalam tas.
"Memang kau tidak akan ganti baju?" tanya Neji, memasukkan kaus bekasnya sembarangan ke dalam tas. Hanya digulung-gulung tanpa bentuk, bukannya dilipat dengan benar.
"Malas, ah." Naruto menyeleting tasnya hingga tertutup walau tidak sampai ke ujung. "Nanti cewek-cewek histeris melihat tubuhku yang seksi." Dia tertawa sendiri setelah mengucapkan kalimat itu. "Lagipula, bau keringatku enak, kok."
Hyuuga sulung hanya mengedikkan bahu. Malas mengomentari kata-kata Naruto yang menurutnya tidak penting. Kalau Naruto mau didepak keluar ruang latihan oleh Kakashi nanti sih, ya silakan saja. Neji tidak mau ikut-ikutan kena damprat.
"Yuk, ah." Naruto melambaikan tangan pada sisa empat orang di lapangan itu. "Aku ke audi—eh, Teme, memangnya kau tidak ikutan SMF lagi?" tanyanya dengan kedua lengkung pirang terangkat tinggi hingga muncul lipatan-lipatan di keningnya. "Bukannya kau dapat peran pangeran ya?"
Sasuke yang tadinya sudah hendak melanjutkan permainan jadi terdiam. "Maksudnya?"
"Kenapa malah bertanya? Dasar brengsek," Naruto berkacak pinggang. "Kau kan terpilih jadi pangeran di drama SMF itu! Bagaimana mungkin kau bisa lupa?"
Uchiha Sasuke hanya mendengus mendengar kata-kata temannya itu. "Aku tidak ikut gasshuku. Pasti sudah dikeluarkan."
Pemuda Uzumaki batal melangkah keluar dari lapangan. Didekatinya Sasuke yang masih berdiri di sentral lanskap itu.
"Setahuku, mereka semua masih menunggumu, lho," katanya dengan wajah serius. "Terlebih lagi lawan mainmu itu—terutama Sakura-chan. Selama gasshuku, terlihat sekali kalau dia berharap kau ada di sana, Teme."
Sebelah alis Sasuke terangkat sedikit.
Sakura? Menunggunya? Untuk apa?
Kemudian, pemuda itu teringat akan panggilan yang masuk ke ponselnya saat benad elektronik itu berada dalam keadaan tidak aktif. Oh, apa mungkin Sakura mengkhawatirkannya? Jelas sekali, Sasuke adalah pasangan audisi Sakura, dan setelah mereka sama-sama diterima, dia menghilang. Bukankah sah-sah saja kalau Sakura berusaha menghubunginya?
(Walau Sasuke sebenarnya tidak paham betul mengapa Sakura harus menghubunginya.)
"Ayo." Naruto menepuk pundak Uchiha bungsu. "Kita sebenarnya sudah terlambat nggg," lirik arloji di tangannya, "setengah jam lebih. Tadi sih, Hatake-sensei bilang, yang wajib datang tepat waktu itu mereka yang kebagian peran di adegan satu."
"Aku baru muncul nanti di adegan empat atau lima." Pemuda berkulit cokelat itu mengerutkan kening sambil mengingat-ingat bagiannya. "Neji-senpai di adegan dua dan tiga. Kau di adegan ter—oweah!" Naruto tiba-tiba menepuk keningnya seolah baru teringat sesuatu.
"Apa?" Sasuke merasa jengah karena percakapan soal musikal ini dibahas terang-terangan di muka umum. Dia sendiri masih belum tahu apakah akan benar-benar kembali pada SMF (pertanyaan paling penting: memangnya dia masih boleh mengikuti SMF setelah tidak ikut gasshuku? Keberadaan duo iblis kembar membuatnya berpikir lima keliling). Dan... sampai saat ini, keikutsertaan Uchiha Sasuke dalam SMF masih merupakan rumor yang dianggap kabar burung. Hanya saja, Sasuke yakin setelah hari ini, rumor itu akan dipercayai semua kepala di Konoha High.
"Kau kan muncul di adegan satu!" seru Naruto keras. "Ya ampun, astaga. Kenapa aku bisa lupa? Ck."
Kalau bukan karena dia terbiasa memasang ekspresi datar, Sasuke pasti sudah menertawai Naruto yang panik. Bagaimana tidak? Naruto kelimpungan hanya karena ia melupakan kenyataan bahwa Sasuke harus muncul di adegan pertama.
Cih, dia sendiri lupa kalau tokoh yang dia perankan muncul di babak pertama.
"Kenapa bengong?" Naruto mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah Sasuke, membuat pemuda itu mendelik.
"Siapa yang bengong?" tanyanya tajam.
"Kau."
"Tidak."
"Iya."
"Tidak."
"Alaaahh, mengakulah. Tadi pandangan matamu kosong kok, Teme." Naruto mengerucutkan bibirnya. "Yah, kita jadi membuang-buang waktu di sini! Ayo, kita sudah sangat terlambat."
Sebelum Sasuke sempat membalas, Uzumaki Naruto telah berlari ke pinggir lapangan dan mencangklong ransel biru kepunyaan Sasuke. "Ayo Teme. —ahhh, NEJI-SENPAI! KENAPA AKU DITINGGAL?" Pemuda itu menjerit ketika mengetahui Neji sudah berada jauh dari lapangan.
"Soalnya kau terlalu ceriwis," komentar Idate sambil tertawa terbahak. Pemuda itu mendekati Sasuke kemudian menepuk bahunya dengan kepalan tinju. "Sana, nanti Naruto berisik lagi. Kita bisa main basket besok-besok lagi, man."
Sasuke memutar kedua bola matanya. Idate pun sampai ikut-ikutan menyuruhnya datang ke latihan drama. Astaga.
"Teme, cepaaaatt!" Naruto berseru tidak sabar. "Tasmu ini berat banget, tahu!"
"Suruh siapa kau membawakan tasku," jawab Sasuke pendek. Kedua tungkainya melangkah menjauhi Idate, Zaku, dan Jirobou. "Duluan, guys. Si Dobe berisik."
Sambil berlari kecil, Sasuke mengangkat tangan. Pamitan pada tiga temannya sebelum menyusul Naruto yang tampak sudah tidak sabaran.
.
.
.
.
Haruno Sakura menghela napas untuk kesekian kalinya. Sungguh, ada sesuatu yang salah di sini. Diselipkannya anak rambut yang menjuntai menghalangi pandangannya. Sekali lagi ia mengembuskan udara dengan gemas.
Ada apa dengannya? Kenapa ia sama sekali tidak bisa mengkhayati perannya sebagai Belle?
"Kurang keras, Haruno!" Suara Kakashi terdengar dari bawah panggung dan Sakura menemukannya sedang bersedekap. Raut wajahnya terlihat kesal sekali. "Kenapa volume suaramu jadi seperti cicitan tikus begitu?"
Samar-samar, ia bisa mendengar Karin dan antek-anteknya menertawai dirinya. Kalau saja tidak ada Kakashi di sini, Sakura yakin saat ini dia sudah menjambak rambut merah milik seniornya itu.
Gadis itu mengulangi dialognya dengan Aburame Shino yang berperan sebagai penjaga perpustakaan.
"'Selamat pagi!'" sapa Sakura pada Shino yang berpura-pura baru membuka pintu perpustakaan. "'Aku mau mengembalikan buku ini.'" Ia berlagak seolah menunjukkan buku yang sedari tadi dibawanya.
"'Oh'," Shino mengangguk. "'Padahal kau baru meminjamnya kemarin. Sudah selesai dibaca?'"
"'Tentu saja'." Sakura melangkah masuk ke dalam toko setelah diberi jalan oleh Shino. "'Aku mau—'"
"Stop." Suara Hatake Kakashi menghentikan dialog yang sedang diucapkan oleh Sakura, juga menghentikan adegan yang sedang berlangsung. Baik Sakura maupun Shino, dua-duanya menoleh ke arah Kakashi dan menatap sang guru dengan pandangan cemas—kalau saja tatapan datar Shino plus tangan yang terkepal bisa dikatakan cemas.
"Ke mana jiwamu, hah?" Kakashi menghardik Sakura dengan mulut tajamnya. Sepasang mata yang berbeda warna itu menyipit. "Sadar tidak sedari tadi kau membuang waktu dengan mengucapkan dialog hampa begitu?"
Seketika, seisi ruangan menjadi hening. Para pemeran yang menganggur dan sibuk mengobrol memilih bungkam daripada menjadi sasaran amukan Kakashi. Tim dekorasi dan orang-orang di balik layar yang sedang berdiskusi dengan Shizune mengenai setting panggung pun menghentikan aktivitas mereka.
"Kalau kau memang tidak berniat untuk tampil menjadi pemeran utama, kenapa kau masih berdiri di sana?" Suara bariton itu mengeras, sementara Sakura semakin tertunduk.
Gadis itu menggigit bibirnya, mati-matian menahan dirinya untuk tidak mengutuk diri sendiri. Oh, baiklah, dia sendiri tidak mengerti kenapa hari ini dirinya tidak berkonsentrasi. Perhatiannya seolah terpecah dan ia sendiri tak bisa menyatukan fokusnya.
Aku kenapa?—batinnya bingung.
.
.
.
.
Di sudut tempatnya berada, Uchiha Sasuke mengamati segala kejadian di auditorium dengan jelas. Meskipun terlambat, ia menyaksikan bagaimana Sakura dan Shino berakting di atas panggung. Terlihat jelas betapa Sakura kesulitan mengatasi tekanan yang membuatnya sulit berkonsentrasi terhadap perannya.
Demam panggung lagi?
Sebelah alisnya terangkat tatkala gadis bersurai merah jambu itu menunduk mendengar kata-kata Kakashi. Sasuke memutar bola mata. Iblis jantan sudah mulai beraksi, ternyata.
Kedua tangannya terbenam dalam saku celana basketnya. Sedari tadi, ia belum berganti pakaian—dan tidak ada niat sama sekali untuk menukar baju. Bukan bermaksud menjadi kembar siam Naruto, sih...
"Kau mau mundur atau bagaimana?" Suara Kakashi terdengar lagi. Sasuke berpaling pada sosok yang ditanyai.
Dan secara kebetulan, Haruno Sakura mendongak.
—dan pandangan mereka bertemu.
Sasuke tidak bereaksi banyak. Masih dengan kedua tangan terbenam di kantung, ia berjalan dari lokasinya semula. Pelan-pelan, ia menuju ke arah panggung, ke arah Sakura yang menatapnya dengan sorot sarat akan ketidakpercayaan.
Ruangan yang semula hening kini menjadi benar-benar senyap. Tak ada yang berani bersuara—bahkan napas saja ditahan.
Kedua tungkai Sasuke berhenti di depan panggung, beberapa meter dari posisi Kakashi yang menatapnya dengan kedua alis terangkat tinggi.
"Uchiha, bukannya kau sudah—"
Pemuda itu berbalik menghadap Kakashi. Kedua tangannya kini berada di sisi tubuh. "Kata siapa?" Senyum miring terulas di bibirnya. "Aku tidak keluar."
"Kau tidak datang saat gasshuku diadakan." Kalimat Kakashi begitu datar, namun semua yang berada di ruangan itu merasakan aura mengintimidasi menguar dari sekujur tubuh sang guru. Bila dilukiskan, maka di sekeliling Hatake Kakashi sudah dipenuhi oleh kabut hitam yang semakin lama semakin mendominasi udara.
"Sakit," jawab Sasuke singkat, karena begitulah kenyataannya. Dia memang sakit, walau sebenarnya tak jelas yang mana yang sakit—flunya atau mentalnya. Sebenarnya bukan masalah juga, karena selama hari-hari yang seharusnya ia lalui sebagai gasshuku, Sasuke mendapatkan... banyak pencerahan. Kurang lebih seperti itu.
"Lalu?" Kakashi bergeser sedikit hingga benar-benar saling menghadap dengan Sasuke. "Kau sudah ketinggalan banyak."
"Hn."
"Kalau diberi detensi, mau?"
"Hn?" Mata Sasuke melebar sedikit. Diberi hukuman? Benar-benar iblis.
"Mau atau tidak?" Kakashi memain-mainkan bolpen yang diambilnya dari saku kemeja. Tampak memancing dan berkesan mempermainkan. Ruby dan obsidian itu berkilat penuh kelihaian. Menunggu jawaban Sasuke.
Pemuda itu tidak banyak bereaksi. "Silakan."
—dan senyuman Hatake Kakashi terkembang.
Ia melirik Juugo, melirik Sakura, melirik semua peserta lainnya dengan tatapan tak terbaca, sementara mereka semua memandanginya dengan kepala dipenuhi sejuta tanya. Apa yang direncanakan Kakashi? Hanya Tuhan yang tahu apa yang dipikirkan oleh si iblis jantan. Bahkan, Shizune pun sepertinya bingung dengan apa yang dipikirkan oleh Kakashi.
"Kuberi waktu satu hari untuk menguasai semua dialog, lagu, dan tarian di drama ini." Tangannya teracung ke udara, membentuk kode agar tidak ada yang mengeluarkan suara terkesiap dan semacamnya. "Kalau kau tidak berhasil, maka kau keluar." Senyuman menantang terukir di bibir pria berambut perak itu. "Bagaimana?"
Seandainya ia bukan Uchiha Sasuke, sudah pasti ia akan mengundurkan diri dan menjauh dari ruangan itu sebisa mungkin.
Sayangnya, dia memang Uchiha Sasuke. Sasuke yang baru saja mendapatkan dukungan dari kakak dan ayahnya. Dukungan pertama yang ia peroleh dari keluarganya. Dan memangnya ia akan menyia-nyiakan kesempatan ini?
Siapa tahu besok dia akan mati, kan?
Uchiha Sasuke jelas tidak mau mati penasaran karena ingin ikut serta dalam Summer Music Festival.
Jadi, pemuda itu menatap Kakashi dengan kedua manik hitam yang tidak menyorotkan rasa gentar setitik pun. Mengangguk pelan dan pasti.
Sebuah persetujuan.
.
.
.
.
tbc
.
.
.
.
Author's Bacot Area
Well, selama itu ya saya nggak nge-update? Maaf yak~ Terlalu hmmm terlalu sibuk ._.)/ jadi, here it is, kelanjutan dari UAdM yang mungkin udah ditunggu-tunggu.
SasuSaku-nya masih belom banyak, kali ini cuma nongol sekilas, tapi saya harap yang baca bukan nyari hints doang tapi pengen tau gimana plotnya. Karena dari dulu saya emang pasang chara SasuSaku tapi nggak ngejanjiin bakalan terus nampilin mereka sebagai pasangan, kan? Pokoknya pipa air ' ')/ *nyontek istilah rerecu*
Kali ini nggak ada review reply, saya udah ngantuk pas beresin chapter ini. Besok harus bangun pagi dan nugas /halah
Special thanks to: shawol21bangs, kyu's lips as sweet as chocolate, hanazono yuri, Frozenoqua, sergio, aiko sang pengembara, AcaAzuka Yuri chan, Maya Kimnana, beby-chan, Arlene Shiranui, Nagi Sa Mikazuki Ananda, Mizuira Kumiko, Sorane Midori, Akasuna no ei-chan, Sindi 'Kucing Pink, Uchiha Hime is Poetry CeLemoet, Tsurugi De Lelouch, tomatblossom, Momo Haruyuki, Ay, Akasuna no Fia, Blue Chrysanthemum, MizuRaiNa, Fiyui-chan, skyesphantom, Anka-Chan
So, review? Kalo mau nanya ato berkomentar, silakan disampein di kolom review. Syukur-syukur di chapter selanjutnya (semoga ga lama) bisa dibalesin :)
Me ke aloha,
mysticahime
28012013
