HUHU aku udah masuk kuliah lagi nih :(( Semoga aja FF ini ga jadi tambah molor yaa.
Dan buat readers yang nanya alurnya dicepetin atau engga… Iya, sebenernya alurnya aku cepetin. Tapi kurang smooth gitu ya dicepetinnya wkwkw pengen ketawa sendiri baca cerita aku di chapter kemaren.
Tapi kalau konflik lama-lama kan ga enak juga ya, berasa pait mulu gitu. Jadi kuselipin aja yang manis-manis di akhirnya.
/yha/ /alesan nih thor/
Anyway, happy reading! Terima kasih buat review, follow, favorite, atau read juga gapapa makasih banyak! :)
.
.
.
Title:
Broken Pieces
Main Cast:
Do Kyungsoo – EXO Kyungsoo
Kim Jongin – EXO Kai
Jung Soojung – f(x) Krystal
Kim Joonmyeon – EXO Suho
Genre: Romance, Drama
Rating: M
.
.
.
-CHAPTER 7-
Suara desahan terdengar dari bibir Kyungsoo yang mendamba. Jongin masih berusaha untuk menggapai titik terdalam wanitanya, membuat tubuh sang wanita senantiasa bergetar hebat. Kyungsoo tidak sadar mengucapkan kata 'lagi' berkali-kali hingga ia merasa hampir gila.
"I love you, Kyungsoo. I love you." Jongin berbisik rendah di telinga Kyungsoo yang sudah memerah parah.
"More-hhh…" Kyungsoo menarik leher Jongin untuk membawa kepala pria itu ke ceruk lehernya yang sempit. "I love you-mhhh… M-More-hhh…"
Jongin masih belum mau berhenti mengeksplor tubuh wanitanya. Setiap detik penyatuannya bersama Kyungsoo adalah momen yang berharga baginya. Ia akan selalu menyukai fakta bahwa wanitanya itu selalu terlihat pasrah dan tak berdaya saat dirinya berada dalam kuasa.
"Aku akan menghapus semua jejak pria lain di tubuhmu." nafas Jongin beradu dengan leher Kyungsoo yang sensitif. "Kau milikku."
Kyungsoo memeluk punggung Jongin dengan lebih posesif seolah menginginkan pria itu untuk tetap ada bersamanya. Jongin yang merasakan hal itu membalasnya dengan tusukan yang lebih cepat dan keras, membuat punggung Kyungsoo secara refleks melengkung ke atas.
"S-Sayang." Kyungsoo berbicara dengan nada yang lebih tinggi dari biasanya. "A-Aku…"
"Let it out, baby." Jongin berbisik di telinga Kyungsoo. "Let me feel you."
Dengan begitu, Kyungsoo memeluk punggung Jongin dengan lebih kencang dan suaranya meninggi satu oktaf saat pelepasan itu terjadi. Tubuhnya bergetar di rengkuhan hangat Jongin, membuat sang pria menggeram dalam menikmati pelukan erat dari tubuh bagian dalam wanitanya.
"I love you." Kyungsoo berbisik lemah di telinga Jongin saat ia berhasil menormalkan nafasnya.
Jongin menyibak poni Kyungsoo yang basah akibat keringat, lalu mencium kening wanita itu lama. "I love you more, honey."
Kyungsoo tersenyum. Ia tahu Jongin tidak berbohong. Dari cara lelaki itu melakukannya, Kyungsoo akhirnya tahu bahwa Jongin memang mencintainya.
Karena akhirnya ia sadar bahwa Joonmyeon dan pria lain tidak pernah berhasil membuatnya merasa seperti ini.
oOo
Yixing memainkan jemari tangannya dengan gelisah setelah menaruh cangkir teh hijaunya kembali di atas meja. Sesekali ia membenarkan tatanan rambutnya yang sebenarnya masih tertata rapi. Yixing ingin pergi saja dari tempat ini, tapi ia masih punya sopan santun untuk tidak pergi begitu saja dari rumah mertuanya.
"Kau dan Joonmyeon sudah hampir satu tahun menikah, tapi aku tidak pernah mendengar kalian membicarakan keturunan."
Hal itu lagi. Yixing selalu merasa bersalah ketika dirinya disinggung oleh topik seputar anak. Bagaimana ia bisa memiliki anak dengan Joonmyeon jika mereka jarang melakukannya dan ia sendiri pun tidak menikmati prosesnya?
"Aku pikir aku akan segera memiliki cucu setelah Jongin memaksa diriku memberikan restu padanya untuk menikahi Soojung, tapi mereka memutuskan untuk bercerai begitu saja." ibu mertua Yixing menghela nafas, kemudian melanjutkan ucapannya. "Aku dan suamiku sudah tidak lagi muda, kuharap kau mengerti akan hal itu."
Kepala Yixing mengangguk kecil. Ia sudah paham ke mana arah pembicaraan ini. Ibu mertuanya minta cucu.
Lagi.
"Kami sudah berusaha, eommonim." Yixing berbicara menggunakan bahasa Korea agar ibu mertuanya merasa lebih nyaman. "Tuhan akan memberiku keturunan jika aku sudah dipercaya untuk bisa merawatnya."
"Bagaimana kau bisa mengatakan bahwa kalian sudah berusaha ketika kalian bahkan tinggal di negara yang berbeda?"
Yixing tetap tersenyum menanggapi ibu mertuanya. Ibunya memberikan pelajaran tentang cara mengontrol diri dengan baik, ia merasa perlu bersyukur untuk itu.
"Joonmyeon akan kembali tiga bulan lagi, eommonim tidak usah khawatir."
"Mungkin ia akan tinggal lebih lama di sana. Appa-nya tidak bisa menyerahkan perusahaan pada Jongin begitu saja sebelum kondisi pria itu lebih stabil."
"Ah, begitukah?" Yixing berpura-pura terkejut, padahal dua hari yang lalu Joonmyeon sudah menyampaikan hal yang sama lewat pesan singkat.
"Begitulah." nyonya Kim kemudian menangkup tangan Yixing yang ada di pangkuannya. "Jadi, akan lebih baik jika kau tinggal di sana juga untuk sementara ini."
Wajah Yixing menegang dan ibu mertuanya tidak buta akan hal itu.
"Kau terlihat tidak suka. Ada apa? Apa kau bertengkar dengan Joonmyeon?"
"A-Ah, t-tidak." Yixing tertawa kecil. "Hanya terkejut."
"Ah, kupikir kalian bertengkar." nyonya Kim terlihat lega setelah mengatakannya. "Syukurlah. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan jika kalian bercerai juga."
Yixing tersenyum sopan, lalu kembali menyesap teh hijaunya yang sesekali masih mengepulkan asap putih.
Ibu mertuanya sudah beberapa kali menanyakan hal ini padanya—bahkan ia yakin ibu mertuanya itu juga berbicara hal yang sama pada Joonmyeon. Yixing bukannya tidak berusaha sama sekali untuk itu. Ia sudah mengunjungi psikolog untuk mengatasi traumanya dan mengunjungi dokter kandungan untuk meminta tips agar cepat hamil. Yixing disarankan untuk berbicara langsung pada Joonmyeon, tapi ia terlalu takut suaminya itu kecewa. Dari kecil, Yixing dididik agar tidak merepotkan orang lain dengan sengaja.
Jadi, biar ia yang menyesuaikan diri dengan Joonmyeon. Suaminya tidak perlu tahu hal ini.
Sebagai gantinya, Yixing selalu menulis apa yang ingin ia ucapkan di selembar kertas, lalu menaruh kertas itu di dalam brankas kecil miliknya. Dengan begitu, ia merasa bahwa unek-unek-nya sudah tersampaikan.
Yixing memutuskan untuk menghubungi Joonmyeon setelah ia bisa beranjak ke halaman belakang rumah itu.
"Halo?"
"H-Halo?"
"Ada apa, sayang?"
Pipi Yixing selalu merona setiap mendengarkan kata-kata manis dari suaminya. Mungkin karena ia tidak terbiasa dengan hal seperti itu sebelum ia menikah dengan Joonmyeon.
"Eommonim memintaku untuk tinggal bersamamu di Korea. Bolehkah?"
Terdapat jeda yang cukup lama sebelum Joonmyeon menjawab Yixing. "Bagaimana dengan perusahaan di China? Kau kan diminta untuk membantu ayahku."
"Eommonim dan abeoji bilang tidak apa-apa." Yixing tersenyum kecil meski tidak dapat dilihat Joonmyeon. "Lagipula aku bosan di sini sendirian."
"Ah, begitu ya…"
"Jadi, bolehkah aku ke sana?"
"Ng… Sebenarnya… A-Aku tidak ingin kau merasa repot dengan pindah ke sini. Maksudku, kau tidak terbiasa dengan budaya Korea, kan?"
"Apa… Apa kehadiranku akan mengganggumu?" Yixing menggigit bibirnya dengan takut-takut. "K-Kalau iya, tidak apa-apa. Aku—"
"Baiklah." terdengar helaan nafas dari ujung telepon. "Asal jangan lupa kabari aku saat kau akan pergi, arra?"
Yixing mengangguk sambil tersenyum lebar. "Aye aye, captain!"
Dengan senyum lebar dan niat yang besar untuk memberi kejutan spesial pada Joonmyeon di hari jadi mereka pada bulan ini, Yixing segera berpamitan pada ibu mertuanya untuk bersiap-siap berangkat ke Korea.
oOo
Kyungsoo terbangun karena sinar matahari yang bersinar terik menembus kelopak matanya. Ia merentangkan tangan dengan malas, merasa seluruh badannya pegal-pegal akibat kelelahan.
Bibir Kyungsoo membentuk sebuah senyuman ketika ia sepenuhnya ingat dengan apa yang baru saja terjadi tadi malam. Jongin masih belum melepasnya hingga waktu menunjukkan pukul empat dini hari. Ya, mereka melakukannya selama hampir enam jam.
"Tidak usah senyum-senyum sendiri, nona Do. Kau terlihat seperti orang gila."
Kyungsoo membuka mata, lalu memberengut lucu ketika netranya menangkap sosok Kim Jongin dalam balutan bathrobe berwarna putih.
"Biasanya lelaki akan berkata manis pada pasangannya saat baru bangun tidur." wanita itu mendengus sebal, membuat Jongin terkekeh kecil di tempatnya berdiri.
Kyungsoo bisa merasakan tempat tidur di sebelahnya bergerak, lalu nafas Jongin yang teratur menabrak lehernya yang tidak tertutup selimut. "Selamat siang, cantik. Masih kelelahan, ya?"
"A-Apa-apaan!" tangan Kyungsoo refleks membungkus dirinya dengan selimut untuk menutupi pipinya yang merona parah, namun Jongin berhasil ikut masuk ke dalamnya hingga keduanya saling menggelitiki pinggang masing-masing.
"Sudah, Jongin!"Kyungsoo berujar di sela-sela tawanya. "Geli!"
"Geli?" Jongin menyeringai jahil, lalu jarinya ia arahkan ke arah kewanitaan Kyungsoo yang terasa lembab. "Kalau ini?"
"J-Jongin…" Kyungsoo tanpa sadar mendesah di akhir ucapannya, membuat Jongin menyeringai lebar. "S-Sudah…"
"Tapi sepertinya tubuhmu ingin lagi." Jongin berbisik rendah di telinga wanitanya, mengabaikan fakta bahwa tangan Kyungsoo masih berusaha menahan pergerakan tangan Jongin. "Cairanmu meleleh di tanganku, Do Kyungsoo."
Kyungsoo tidak pernah sanggup membalas dirty talk Jongin, jadi ia memilih untuk diam dan menikmati perlakuan Jongin di tubuhnya.
Tok tok tok!
"J-Jongin…"
"Hm?"
Tok tok tok!
"A-Ada tamu."
Kyungsoo bisa mendengar lelaki itu menggeram kesal sebelum melepaskan dirinya dari Kyungsoo dan beranjak ke pintu depan. Siapa pula yang berani mengganggu mereka pagi-pagi begini.
"Annyeong."
Jongin menahan keinginannya untuk meninju wajah tampan kakak sulungnya.
"Ah, kau bisa masuk ke sini karena Kyungsoo, kan?" Joonmyeon memandang remeh Jongin yang masih terpaku di tempatnya. "Mana dia?"
"Bukan urusanmu."
"Kubilang mana dia?" Joonmyeon bertanya dengan mata melotot, berusaha mengintimidasi adik bungsunya.
"Sudah kubilang bukan urusanmu!"
Jongin mundur agar bisa menutup pintu, tapi Joonmyeon menahannya.
"Apa lagi?"
Joonmyeon hanya menyeringai tipis sebelum menjentikkan jarinya ke udara. Lalu, secara tiba-tiba, muncul pria-pria berpakaian hitam yang langsung menerobos kamar hotel yang ditinggali Jongin dan Kyungsoo.
"A-Apa-apaan ini?" Jongin berteriak sambil berusaha melawan kekangan tiga pria yang menahannya. "Lepaskan aku, bangsat!"
Joonmyeon tertawa kecil. "Itu akibatnya jika kau tidak mendengarkanku, Kim Jongin."
Jongin merasa telinganya jengah mendengar kakak sulungnya yang biadab itu mengeja namanya dengan nada meremehkan. Apalagi setelah dirinya mendengar suara jeritan Kyungsoo dari bagian dalam kamar.
"Apa yang akan kau lakukan pada Kyungsoo?" Jongin menggertakkan gigi.
"Apa, ya?" Joonmyeon mengetuk-ngetuk telunjuknya di dagu seolah sedang berpikir keras. "Kyungsoo itu budakku, jadi aku bisa melakukan apa saja, bukan?"
Dengan kesal, Jongin meludah tepat ke arah kakaknya yang masih diam di pintu.
"Beraninya kau!" Joonmyeon menjambak rambut Jongin dengan kasar, membuat pemiliknya mengerang menahan sakit. "Kau pikir kau berhadapan dengan siapa, bocah?"
"Urus istrimu sendiri, Kim Joonmyeon!"
Plak!
Joonmyeon menampar pipi Jongin dengan kasar, membuat gusi pria yang lebih muda darinya itu mengeluarkan darah.
"Katakan itu pada dirimu sendiri!"
Seorang pria keluar dari bagian dalam kamar, kemudian menghampiri Joonmyeon dan Jongin.
"Sudah siap, bos."
Jongin bisa melihat Joonmyeon menyeringai—dengan menjijikkan—sebelum melirik lagi pada adiknya. "Kurasa kau harus melihatnya, bukan begitu?"
"Bajingan!" Jongin berusaha melepaskan diri dari cengkraman pria-pria yang kini menyeretnya ke arah tempat tidur di mana Kyungsoo terikat di sana. "Lepaskan Kyungsoo, bangsat!"
"Kubilang dia budakku, idiot!" Joonmyeon balik berteriak pada Jongin yang terlihat menyedihkan saat ini.
Kyungsoo terlihat tidak kalah menyedihkan dengan posisinya yang terikat di tempat tidur dengan posisi X. Jongin berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari kekangannya, namun borgol yang kini melingkar di kedua tangan dan kakinya mengkhianati usahanya.
Kyungsoo sudah menangis dan terus menerus berteriak tertahan karena mouth gag yang terpasang di mulutnya sementara Jongin tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong wanitanya.
"Well, tidak akan begini ceritanya jika saja kau tidak ikut campur dalam urusanku, Kim Jongin."
Joonmyeon mendekati Kyungsoo yang terlihat ketakutan, lalu mengeluarkan sebuah suntikan dari sakunya.
"Jangan gila, Kim Joonmyeon! Jangan sentuh Kyungsoo!"
Joonmyeon sama sekali tidak menghiraukan Jongin. Ia dengan santai menusukkan isi suntikannya di nadi Kyungsoo, lalu membuang suntikkannya begitu saja di pojokan.
Kyungsoo menangis lebih keras karena ia tahu apa yang Joonmyeon lakukan barusan—lelaki itu pernah beberapa kali melakukannya sebelum ini.
Iya. Joonmyeon menyuntikkan afrodisiak.
"Oh, lihat. Dia menginginkan sentuhan, Jongin."
Tubuh Kyungsoo bergerak secara acak di atas tempat tidur. Sesekali punggungnya melengkung ke atas sambil mengeluarkan desahan yang mampu membangkitkan gairah siapapun yang mendengarnya. Air matanya semakin deras membasahi kedua pipi gembil wanita itu.
Bagaimanapun usaha Kyungsoo untuk menolak, tubuhnya tidak bisa mengkhianati dirinya sendiri.
"Geurae. Kalian bertiga, tetap jaga pria ini." Joonmyeon menyebut kata 'pria ini' sambil menatap remeh adiknya.
"Dan kalian berempat…" Joonmyeon menunjuk pria-pria yang barusan mengikat Kyungsoo. "Kalian bisa menikmati makan siang kalian duluan hari ini."
Jongin tidak bodoh untuk mengerti apa yang dimaksud Joonmyeon dengan 'makan siang'. Pria itu kemudian berontak sejadinya di tempatnya berdiri, mengabaikan pergelangan kaki dan tangannya yang terasa sakit akibat cengkraman tangan penawannya dan gesekan kulitnya dengan borgol besi yang dingin.
"Biadab! Setan kau Kim Joonmyeon!"
Joonmyeon memilih untuk tidak menghiraukan Jongin dan duduk di sebuah kursi untuk melihat pemandangan Seoul dari jendela kamar itu. Oh, betapa nikmatnya melihati pemandangan diiringi melodi-melodi indah sebagai latarnya.
oOo
"Makanlah, kau bisa sakit jika begini terus."
Krystal masih bergeming di tempatnya. Matanya terus menatap kosong layar televisi yang menampilkan drama yang sedang naik daun saat ini. Sang tokoh utama sudah beberapa kali tertawa, tapi Krystal tidak menunjukkan ekspresi apa-apa daritadi.
"Kau perlu makan, Soojungie. Kau belum makan dari tadi pagi."
"Aku tidak lapar."
Minhyuk menghela nafas. "Kau sudah mengatakan itu sejak lima jam yang lalu."
Krystal diam saja, masih asyik dalam lamunannya sendiri.
"Kau tidak bisa mengejar Jongin jika dirimu sendiri tidak kuat, Soojung-ah." Minhyuk meletakkan supnya di atas meja. "Makanlah."
"Apa aku seburuk itu hingga Jongin membenciku?"
Minhyuk sudah tahu semuanya dari Krystal saat perempuan itu menghubunginya sambil menangis meraung-raung. Dengan segera, lelaki itu naik dari apartemennya yang ada di lantai empat untuk mengunjungi Krystal yang tinggal di lantai lima belas. Wanita itu menangis sejadi-jadinya di pelukan Minhyuk, membuat dada Minhyuk bergetar hebat.
Sebegitu besarkah rasa cinta Krystal pada Jongin?
"Aku melakukan ini karena aku mencintainya, Minhyuk-ah." Krystal menghapus jejak-jejak air mata yang jatuh melalui pipinya. "Apakah aku salah karena mencintainya?"
"Soojungie." Minhyuk membantu wanita itu menghapus air matanya. "Kau tidak bisa menyalahkan perasaanmu sendiri."
"Lalu mengapa Jongin begitu membenciku?"
Minhyuk benci harus mengatakan hal ini, tapi ia harus mengatakannya pada wanita itu.
"Kau terobsesi padanya, bukan mencintainya."
Krystal menatap Minhyuk sengit. Minhyuk tahu bahwa harga diri Krystal sangat tinggi, jadi ia sudah memprediksikan hal ini akan terjadi.
"Jika kau memang mencintainya, kau seharusnya membiarkan orang yang kau cintai itu bahagia." Minhyuk membalas tatapan Krystal dengan senyuman. "Kau hanya terobsesi untuk memilikinya karena tahu bahwa ia akan berpaling pada orang lain."
"Minhyuk-ah, aku—"
"Jika kau memang mencintainya, kau tidak akan membohonginya untuk kesenanganmu sendiri."
"Tapi Jongin bahagia denganku sebelum ia bertemu Kyungsoo lagi!" Krystal setengah berteriak sebelum menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Jongin bahagia bersamaku, Minhyuk-ah. Jalang itu saja yang menggoda suamiku!"
"Soojungie…" Minhyuk mengelus pundak Soojung dengan lembut, berusaha memberi ketegaran pada diri rapuh wanita itu. "Ada atau tidak ada Kyungsoo, Jongin akan tahu kebenarannya."
Krystal semakin jengah mendengar kata-kata Minhyuk, jadi ia menampikkan tangan Minhyuk yang masih ada di bahunya.
"Lagipula apa kau pikir mencintai seseorang tanpa memilikinya adalah hal yang mungkin?" wanita itu menatap Minhyuk dengan tatapan berapi-api.
"Tentu saja aku bisa." Minhyuk membalas kata-kata Krystal dengan tenang. "Aku mengenal wanita itu sejak aku masih bocah ingusan. Aku berpisah dengannya bertahun-tahun demi menerima kenyataan bahwa wanita itu sudah menikah dengan laki-laki lain saat aku bertemu dengannya lagi."
Krystal diam mendengar penjelasan Minhyuk, meminta laki-laki itu berbicara lebih lanjut.
"Aku bisa saja memaksa wanita itu menikah denganku dan berhenti mencintai suaminya, tapi aku tidak akan bahagia dengan hal itu. Wanita itu tidak ingin kehilangan suaminya…"
"Suaminya tidak pernah ada di sisi wanita itu. Lelaki itu selalu menyakitinya dan berkata kasar padanya, tapi wanita itu tetap tidak mau mundur…"
"Padahal aku selalu ada di sisinya. Aku yang menemaninya, merawatnya serta anaknya yang baru lahir dan terancam jadi korban perceraian orangtuanya. Aku yang selalu ada di sisi wanita itu, tapi ia tidak pernah melihatku lebih dari seorang teman."
Minhyuk bangkit dari sofa untuk berdiri membelakangi Krystal, lalu dengan segenap kekuatan hatinya ia berucap pelan. "Wanita itu kau, Soojungie."
Krystal masih belum bisa mencerna kalimat-kalimat yang barusan dilontarkan Minhyuk hingga lelaki itu menghilang di balik pintu apartemennya. Dengan rasa bersalah yang membuncah di hatinya, Krystal menangis sambil meringkuk di atas sofanya yang empuk.
"Maafkan aku, Minhyuk-ssi. Maafkan aku…"
oOo
Yixing menghamburkan diri ke arah Joonmyeon yang sedang berdiri dengan kedua tangannya yang terentang lebar. Mereka masih di bandara, tapi mereka—setidaknya Yixing—tidak peduli dengan pandangan orang-orang yang dengan terang-terangan melihat ke arahnya.
"Aku merindukanmu, Myeonnie."
"Tidak sampai sebulan yang lalu saat kau mengunjungi Korea." Joonmyeon mengusak rambut istrinya yang hari ini digerai.
Yixing memberengut lucu. "Kau selalu sibuk di kantor, tetap saja aku merasa sendirian."
Joonmyeon merasa hatinya tertusuk mendengar kata-kata Yixing. Sebenarnya tidak semua yang ia lakukan adalah urusan kantor—if you know what I mean—tapi wanita ini masih saja mempercayainya dan mencintainya dengan sepenuh hati.
"Maafkan aku, sayang." Joonmyeon mengecup kening Yixing dengan sayang. "Jadi, ke rumah sekarang?"
Yixing mengangguk lucu, membuat Joonmyeon tidak tahan untuk tidak mengecup pipi tirusnya.
Joonmyeon boleh saja menjadi lelaki paling brengsek di muka bumi dengan berpesta dan bermain wanita semalaman, tapi Yixing tetap memiliki tempat spesial di hatinya. Yixing adalah satu-satunya orang yang bisa menerima dirinya apa adanya.
Iya, kecuali soal seks.
Joonmyeon selalu merasa bahwa istrinya itu terlalu holding back ketika Joonmyeon mengajaknya bercinta. Asal tahu saja, seorang pebisnis kelas atas seperti Joonmyeon tentu memiliki banyak masalah di kantor sehingga kebutuhan biologisnya pun tinggi—ya, seperti itulah kira-kira alasan Joonmyeon. Jadi, Joonmyeon rela mengeluarkan uang sebesar dua juta won untuk memenuhi semua kebutuhannya dari Kyungsoo.
Katakan Joonmyeon egois, tapi ia tidak suka sesuatu miliknya direbut. Apalagi oleh adiknya sendiri.
Tapi tetap saja. Terlepas dari semua kelakuan brengseknya, Joonmyeon hanya mencintai Yixing. Hanya dan akan selalu Yixing.
"Myeonnie." Yixing menunjuk-nunjuk pipi Joonmyeon dengan telunjuknya yang dihias nail polish berwarna tosca. "Sudah sampai."
Ah, Joonmyeon lupa jika ia sudah melewatkan setengah jam hanya untuk melamun.
Mereka turun dari Maserati Ghibli milik Joonmyeon sebelum kemudian disambut oleh pelayan mereka di rumah itu. Semuanya terlihat baik-baik saja sampai seorang pria berpakaian hitam mendekati Joonmyeon dan membisikkan sesuatu di telinganya.
Joonmyeon menahan amarahnya mati-matian, kemudian balas berbisik pada pria itu. "Cari dia."
.
.
TBC
.
.
YAK mumpung ini ratingnya M jadi kuselipin aja bumbu-bumbu NC di dalemnya kkk
Yha Joonmoney sekarang gimana nasibnya tuh abis disamperin Icing? Kyungsoo sama Jongin gimana tuh abis dipergok Joonmyeon? Yang hilang siapa tuh?
Tunggu chapter-chapter selanjutnya ~(-,)~
BTW kalau ada typo atau apa maaf ya, aku ga sempet meriksa lagi karena harus ngerjain hal lain /duh/
