A/N : Here's your weekly update. Typos? Yes, you can complain me later
I own nothing, you know that
Chapter Eight
London, United Kingdom
Semalaman Scorpius tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia sama sekali tak dapat menghubungi Rose. Ponsel sihir hingga ponsel muggle miliknya terhubung langsung dengan kotak suara. Piere pilot pribadi keluarga Allegri mengatakan ia hanya mengantar Rose ke Casablanca tanpa ada rencana kepulangan. Scorpius hampir gila jika memikirkan hal ini. Ingin sekali ia terbang ke kota itu dan membawa pulang istrinya, tapi urung dilakukannya. Pasti ada alasannya mengapa Rose merencanakan hal ini di belakangnya. Scorp beberapa kali membaca keraguan di pikiran Rose tentang rencana akuisisi semua property dari Esteban Vegara, tapi segalanya samar seakan ia sudah dapat menutupi pikirannya dari Scorp. Sedari tadi King dari The Sociaty itu berasumsi bahwa Rose tak mau melibatkannya dalam rencana balas dendamnya ini. Rose selalu mengatakan bahwa rencana mereka terlalu beresiko terhadap kelangsungan bisnis The Sociaty. Sejak awal Rose hanya ingin mencari tahu sosok dari musuhnya itu dari Scorp bukan membawanya masuk ke dalam masalah.
Segala cara Scorpius pikirkan, apa sebenarnya rencana yang istrinya buat itu. Rose tak mungkin sekonyong-konyong datang ke mansion Vegara dan membunuhnya dengan brutal tanpa sedikit persiapan dan rencana yang matang. Mungkin mereka belum lama menikah, tapi Scorp tahu betul bahwa istrinya adalah sosok yang terorganisir. Ia tak mungkin melakukan misi bunuh diri di kota itu. Dia pasti sudah merencanakan hal ini dengan matang. Berdasarkan alasan itu, Scorpius menggeledah suite mereka. Dari kamar, walk in closet, ruang tengah hingga ruang belajar bahkan kamar mandi dan patio mereka. Tetapi, hasilnya nihil. Scorp akhirnya menyusuri ruang kerja yang mereka gunakan bersama untuk menemumukan petunjuk dari rencana istrinya. Kembali ia tak mendapatkan apapun. Pria itu berakhir duduk di balik mejanya dengan scotch kegemaran Niklaus di tangan. Ia butuh merelaksasikan pikirannya dan kadar alkohol dalam wine yang sering disesapnya tak akan mungkin dapat membantu. Sesekali terbesit di pikirannya untuk menghubungi Lorenzo bahkan Vitiello untuk menanyakan hal ini. Tetapi, melihat siapa yang menjadi subjek pembicaraannya, ia ragu bahwa mereka mengetahui apa yang direncanakan oleh calon Capo mereka itu. Wanita itu terlalu angkuh untuk meminta bantuan apalagi untuk masalah pribadinya seperti ini.
Suara ketukan terdengar dan Ballard terlihat melangkah masuk ke ruang kerja Scorp. Pria yang memiliki iris sama dengan para klan Malfoy itu masih mengenakan penyanggah untuk lengannya mengingat cedera yang sangat fatal pada bahu kanannya. Tak seperti biasanya, Ballard hanya mengenakan sweatpants abu-abu dengan kaus hitam yang sangat menonjolkan otot-otot kencangnya. "Ada kabar dari Rosabelle?" tanyanya lalu mengambil posisi di kursi tepat di hadapan Scorp setelah mengambil gelas tambahan di mini bar di sudut ruangan ini.
Gelengan menjadi jawaban dari Scorpius. "Kau sama sekali tak mengetahui hal ini?" tanya Ballard kembali.
Dan kembali pula Scorp menggelengkan kepalanya. "Aku mulai sulit menembus pikirannya," akhirnya Scorp membuka suaranya.
Alis Ballard mengerut saat mendengar hal itu dan ia meletakkan gelas berisikan scotch yang baru saja ia sesap. Ballard tersenyum lalu menggeleng. "Seberapa sering kau membaca pikiran istrimu?"
"Sangat sering," jawab Scorp yang tak tahu kemana arah pembicaraan mereka.
Ballard tertawa begitu saja. "Rosabelle sangat pintar. Kau mendapatkan pasangan yang sepadan, Scorp," balas Ballard.
"Apa maksudmu?"
"Rose datang kepadaku saat aku baru saja kembali ke manor. Ia memintaku mengajarinya Occlumency dan aku hanya mengajari satu kali, Scorp," jelas Ballard.
Hal itu menjelaskan mengapa Scorp tak dapat membaca rencananya. Rose terlalu pintar untuk hal ini. "Dan istrimu benar-benar brilian karena dapat menutupi pikirannya dengan mudah hanya dengan berlatih selama seminggu," tambah Ballard.
Scorpius mengangguk. "Yaa sangat pintar."
"Dan kini aku tak tahu apa-apa mengenai rencana gilanya. Ia dapat saja terbunuh dengan mudah melihat berapa banyak anak buah yang dimiliki klan Vegara," tambah Scorpius.
"Dia tak mungkin seceroboh itu, Rosabelle pasti sudah memiliki rencana yang matang," jawab Ballard.
Scorpius menghela napas dan mencoba untuk mempercayai kakak angkatnya itu. Mereka terdiam setelah Ballard menuangkan scotch kembali ke gelas mereka yang sudah kosong. "Rhaella di suite-mu?" tanya Scorp.
Ballard menggeleng. "Dia berada di suite-nya," jawab Ballard.
Alis Scorp bertaut. "Kalian tidak tidur bersama?"
"Aku mungkin sudah mendapatkan restumu dan Paxan, tapi kami tak akan tidur bersama di manor ini sampai dia resmi menjadi istriku," jawab Ballard.
"Dan kapan rencananya kau akan melamarnya?" tanya Scorp.
Ballard terdiam sejenak. "Kau tak merasa hal ini terlalu cepat dan Rhaella terlalu muda?" tanya Ballard
Scorpius menggeleng. "Cepat atau lambat kalian akan tetap menikah. Rhaella sudah menyelesaikan studinya, sementara kau tak ada lagi yang perlu diselesaikan lagi. Sekarang atau nanti akan sama saja, lalu kenapa tak sekarang saja?" ujar Scorp yang disambut dengan anggukan dari Ballard
Hal inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa ia menyetujui hubungan Rhaella dan Ballard. Scorp sangat tahu sifat dari kakak angkatnya ini. Disela perbincangan mereka tetiba saja raut wajah Ballard berubah. Dia tetiba saja seperti mendapat pencerahan dari apa yang sebenarnya di rencanakan oleh Rosabelle. "Beberapa hari yang lalu aku melihat Robert Fane bertemu dengan Rosabelle disini," ucap Ballard.
Mata Scorp yang tadi sudah hampir mengantuk seketika menjadi awas. Keningnya berkerut. "Fane, the Irish boy? Ahli senjata dan bahan peledak itu?" tanya Scorp yang dijawab dengan anggukan oleh Ballard
"Yeah, Robert Fane yang itu."
Saa itu juga ia tahu apa rencana Rose. Scorp langsung mengambil ponsel sihirnya dan menghubungi Piere. "Yes, Sir," jawab pilotnya itu dengan siaga meski waktu sudah menunjukkan lewat dari tengah malam.
"Apakah istriku membawa banyak bagasi tadi?" tanya Scorp langsung tanpa berbasa-basi.
"Boss hanya membawa backpack-nya, tetapi ia memasukan banyak kardus ke dalam bagasi bawah pesawat," jelas Piere.
"Kau tahu apa itu?"
"Aku tak tahu pastinya, tapi aku mencium bau mesiu yang kuat dari dalamnya," jawabnya lagi.
Dan jawaban Piere tadi membuat Scorp menutup panggilannya. Pria itu menatap Ballard lalu menyeringai. "Rose akan meledakan mansion milik Vegara."
000
"Holy fuck, brother. You look like shit," ucap Rhaegar yang menjadi sapaan pagi untuk kakak lelakinya itu.
Alih-alih menjawab Rhaegar, Scorp melengos menuju beranda belakang manor untuk sarapan pagi ini. Biasanya ia akan sarapan bersama dengan Rose di patio suite mereka, tapi tak dapat ia lakukan pagi ini mengingat keberadaan istrinya yang tengah berada di antah berantah. Ayahnya dan Ballard sudah berada di meja makan saat ia bergabung dengan mereka. Kening Draco mengerut melihat wajah puteranya pagi ini. Tak ada yang berubah dari penampilannya, Scorp tetap rapih dengan suit-nya, tapi kantung hitam di matanya dan kulit wajahnya yang semakin pucat dari biasanya yang membuat pengecualian. "Kau minum semalaman?" tanya Draco setelah menyesap tehnya.
Scorpius mengangguk. "Aku akan meminta Magnus membawakanmu tisane," ucap Ballard.
Scorpius kembali mengangguk. "Belum ada kabar dari Rosabelle?" tanya Draco.
"Aku masih belum dapat menghubunginya dan tak ada catatan penggunaan credit card darinya," balas Scorp yang langsung menyeruput kopi hitamnya saat seorang pelayan menuangkan untuknya.
Ballard menatap adik angkatnya yang terlihat benar-benar frustrasi. Ia tak tahu bahwa Rosabelle benar-benar membawa dampak besar dalam hidupnya. Rose bukan seperti wanita kebanyakan di luar sana. Ia tak memiliki rasa takut sedikitpun dan Ballard yakin rencana Rose sudah sangat matang jika ia berani menghadapi klan Vegara secara langsung. "Dia akan baik-baik saja, Scorp. Dia pasti telah memiliki rencana yang matang dan ia bukannya akan meninggalkanmu selamanya. Dia mengatakan bahwa ia akan kembali," ucap Ballard.
"Tapi aku seperti merasa bahwa ia akan meninggalkanku selamanya dan tak mengetahui bagaimana keadaannya saat ini benar-benar membuatku semakin gila," balas Scorp.
"Terbanglah ke Casablanca. Temui dia agar kau tak menjadi gila," Draco kembali membuka suara.
Scorp menggeleng. "Dia merencanakan hal ini di belakangku, Dad. Artinya ia tak mau aku ikut campur sama sekali. Lagipula ia pasti tengah bersembunyi sekarang karena sedari tadi malam aku tak dapat membaca aktivitas dari tongkat sihirnya."
"Scorp juga akan langsung mati jika melawan kehendak istrinya, kita semua tahu bagaimana cara kerja dari otak kakak iparku," Rhaegar bergabung dengan mereka pada akhirnya.
Ballard mengangguk pada ucapan Rhaegar karena hal itu memang benar adanya. "Baru saja aku menelepon Marcy's dan salah satu pegawainya menyebutkan bahwa Rosabelle datang kesana beberapa hari yang lalu untuk membeli sebuah topeng untuk pesta dansa. Dan aku juga baru mendapat info bahwa Vegara akan mengadakan pesta topeng dan acara pelelangan besok malam di mansionnya," ucap Rhaegar.
Scorp paham sekarang apa yang menjadi rencana dari Rose. Ia pasti akan membunuh Esteban dan membumihanguskan kediamannya.
Rose akan menggunakan event pelelangan dan pesta topeng di kediaman Esteban untuk membunuhnya. Scorpius jugalah yang memberitahukan acara itu akhir pekan lalu. Rosabelle and her unexpected movement. Belum sempat ia menyelesaikan sarapan bersama ayah dan saudara-saudaranya, Scorpius langsung menatap Ballard dengan penuh arti. "Kau sudah menyelesaikan sarapanmu?" tanya Scorp pada kakak angkatnya itu.
Ballard tahu bahwa Scorp sudah menemukan cara untuk mengetahui semua rencanan istrinya dan iapun mengangguk pada Scorp. "Ayo kita pindah ke ruang kerjaku," jawab Scorp.
"Have fun with this puzzles, bratan," kekeh Rhaegar.
Draco hanya tersenyum melihat kelakuan putera bungsunya. Bukan maksud membandingkan, tapi saat Scorpius seusia Rhaegar, anak sulungnya itu sudah begitu dewasa dibandingkan dengan umurnya. Draco tahu hal itu pasti dikarenakan oleh takdir yang menunggunya sebagai King dari The Sociaty. Sementara Rhaegar tahu pasti bahwa tanggung jawabnya tak sebesar Scorpius. Tak hanya itu, Rhaegar juga sadar betul bahwa apapun yang ia lakukan kakak-kakaknya terutama Ballard akan selalu membelanya.
"Kau tersenyum, Dad?" tanya Rhaegar yang berhenti mengunyuah pancake dengan buah bluberry segar serta krim keju di atasnya itu.
Draco mengedik. "Habiskan sarapanmu lalu ikut denganku ke ," ujar Draco.
"Cornwall?" tanya Rhegar yang dijawab dengan anggukan dari ayahnya itu.
"Kau ingin berjemur, Dad?" tanya Rhaegar dengan nada serius, tapi Draco tahu betul bahwa putera bungsunya ini tengah bercanda.
Draco bangkit dari kursinya setelah membersihkan sudut bibirnya dengan serbet. "Aku akan menunggumu di mobil."
"Aye, Sir."
000
Ballard kembali ke ruang kerja Scorpius tak lama kemudian dengan semua data mengebai Robert Fane, ahli senjata yang dipekerjakan Rosabelle untuk rencananya di Casablanca itu. Ballard meletakkan beberapa perkamen di hadapan Scorpius yang langsung dibaca oleh Scorp dengan saksama. Ia menyeringai lalu mengambil ponsel sihirnya. "Fane," ujar Scorp pada sosok di seberang sana.
"Siapa ini?" tanya Robert Fane curiga.
Seringaian terpancar di wajah Scorpius meski Fane tak dapat melihatnya. "Kau lupa dengan suaraku?" tanya Scorp kembali.
Jeda sesaat lalu terdengar suara helaan napas dari seberang sana. Robert Fane tak mungkin lupa suara husky yang dimiliki Scorpius terutama saat ia tengah mengancam seseorang. Fane pernah satu kali menyaksikan bagaimana pria itu menyiksa untuk kemudian menghabisi seseorang dalam satu tarikan napas. "Apa kabarmu Scorpius fucking Malfoy?" tanya Fane.
"Cut the bullshit, Fane. Come to manor now," balas Scorp.
"Jika aku tak mau," balas Fane dengan nada menantang.
Scorpius tertawa. "Aku akan datang ke boarding school tempat anak perempuanmu belajar dan mengajaknya untuk berkunjung ke dungeon di manorku."
Fane menelan ludahnya. Damn it! Dia sudah menyelidiki kehidupannya ternyata. "Kau pasti tahu cara ke manorku, bukan? Kau sudah pernah langsung mengunjungi istriku beberapa hari yang lalu dan aku sangat tahu akan hal itu," tambah Scorp.
Belum sempat Fane menjawabnya, Scorp sudah mematikan sambungannya lalu menyandar di kursi kerjanya. Ballard tertawa.
Tak lama kemudian Robert Fane menunjukkan batang hidunganya di manor. Scorp sama sekali tak bangkit dari kursinya saat Fane masuk ke ruang kerjanya, sementara Ballard hanya duduk di sofa dengan laptop sihirnya sambil memantau bisnis yang dipegangnya. "Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Fane tanpa berbasa-basi lagi.
"Sit, Fane," ucap Scorpius.
Tak mau banyak beragumen lagi, Fane melakukan sesuai dengan apa yang diperintahkan Scorpius. "Apa yang dipesan istriku darimu?" tanya Scorpius.
Fane menggeleng. "Aku tak dapat membocorkanya. Hal itu rahasia klien."
Scorpius mengangguk. "Berapa besar uang yang kau dapat dari Rosabelle?"
Fane tertawa. "Cukup besar hingga dapat membiayai hidupku serta semua keluargaku hingga mereka mati kelak," balas pria berdarah Irlandia dengan rambut merah khasnya.
"Aku akan melipatgadakannya jika kau mengatakan bahan peledak apa yang dibeli oleh istriku."
Fane tak menjawabnya. Scorp masuk ke pikirannya dan ia tampak ragu untuk menjawabnya. Scorp berusaha mencari tahu peledak apa yang di beli istrinya, tapi Fane tampak sangat lihai menyembunyikan pikirannya. "Aku tak bisa," akhirnya Fane menjawabnya.
Scorpius mengangguk lalu meletakkan perkamen di hadapan pria berambut merah di hadapannya. "Jika kau tak memberitahukan apa yang dibeli istriku darimu maka kedok karirmu di dunia hukum sebagai pengacara akan berakhir, aku juga akan meminta beberapa investor untuk melikuidasi perusahaamu atau aku akan menjemput puterimu secara paksa sekarang," ucap Scorp.
"Fuck you, arsehole!" teriak Fane.
"So speak, Fane. Before I make your life feels like a nightmare," jawab Scorp.
Tak ada pilihan lain lagi, Fane membuka suaranya. "Aku menjual PETN dengan modifikasi rapalan mantra dariku kepada istrimu."
"Berapa banyak?"
"Delapan."
Scorpius tahu apa artinya. "Kau bisa pergi sekarang. Salam untuk puterimu, Gwen."
"Kau gila," dengus Fane yang hanya dijawab dengan senyuman oleh Scorpius.
000
Sebuah cetak biru terpampang di hadapan Scorpius dan Ballard. Scorp mengelus ujung dagunya dengan kening yang mengerut. Mansion milik klan Vegara memiliki 8 titik pancang dan sesuai dengan pengakuan Fane tadi, Rose juga membeli 8 PETN dengan daya ledak tinggi kepadanya. Dapat dipastikan bahwa Rose akan meledakkan mansion itu hingga rata dengan tanahnya. "Masalah yang muncul saat ini, bagaimana Rosabelle akan masuk untuk memasang alat peledak ini?" tanya Ballard.
"Dia pasti menyamar menjadi seseorang karena wajahnya sudah pasti dikenali oleh para pengawal Vegara," jawab Scorp.
"Kau akan menyusulnya?" tanya Ballard.
Scorp hanya diam. Ia tak tahu apakah ia harus menyusulnya. Pria itu takut menghancurkan rencana yang sudah direncanakan Rose, namun satu sisi ia juga takut dengan apa yang akan terjadi pada istrinya itu kelak. "Kau takut mengacaukan semua rencananya dan membuatnya kecewa?" tanya Ballard dan ia mengangguk.
"Tetapi, kau juga takut sesuatu terjadi padanya," tambah Ballard lagi dan ia juga kembali mengangguk.
Ballard terkekeh. "Benar kata Rhaegar, kau telah jatuh cinta pada Rose."
Scorpius mendengus lalu menghela napasnya. "Shut up, Ballard. Jangan ikut bertingkah seperti Rhaegar," tandas Scorp.
"Aku juga akan melakukan hal yang sama terhadap Rhaella, karena aku mencintai," jawab Ballard.
Scorpius kembali menghela napas. "Topik ini membuatku muak, Ballard. Aku tak peduli tentang definisi apa yang tengah aku rasakan saat ini, hal yang aku pedulikan hanya keselamatan Rose dan semoga rencananya berhasil," balas Scorp.
Ballard hanya mengedik lalu kembali pada cetak biru kediaman Vegara di hadapannya. Mereka kembali diam dan larut dalam pikirannya masing-masing hingga suara ponsel Scorp menginterupsi mereka. Scorp memicingkan matanya saat tak mengenali nomor yang tertera di layarnya. "Malfoy," ujar Scorp.
"Hello, dickhead," sapa suara itu dari seberang sana.
Pupil mata Scorp melebar ketika mendengar suara itu. "Where the hell are you, Rose?"
Terdengar suara tawa dari seberang sana. "Seperti yang kau sudah kau ketahui. Aku berada di Casablanca saat ini."
"Sebut lokasi pastimu saat ini juga, aku akan terbang menyusulmu sekarang."
"Jangan lakukan hal itu, Scorp."
"Rose, kau tak dapat mencegahku."
"Tentu aku dapat."
"Aku tak peduli, Rose."
"Don't do that, Scorp."
"Why, Rose!"
"If you do that, I'll divorce you."
"Don't you dare to say those words anymore. I rather to kill you with my own hands than to divorce you. You're mine, Rosabelle."
Setelah perang kata antara suami istri ini, mereka terdiam sejenak sebelum akhirnya Rose membuka suaranya. "Yes, I'm yours, Scorpius. So I beg you to listen to me. This's my revenge and I wouldn't let you to involve because I'm afraid to lose you and I can't lose you, Scorpius. I would die if you die, did you remember that?"
"Contessa."
"But if I lose you, I would die a thousand time, Rose," balas Scorpius.
Tetiba saja tawa Rose terdengar dari seberang sana. "Aku baru saja mendeklarasikan bahwa aku tak dapat hidup tanpamu, dickhead. Aku sudah seperti wanita-wanita lain, huh?"
Scorp ikut tertawa. "Kau tak akan pernah sama dengan wanita-wanita lain di luar sana, Contessa."
"Aku tahu itu, dickhead. Aku harus pergi sekarang dan aku janji padamu untuk kembali secepatnya," jawab Rose.
"Rose," panggil Scorp.
"Yes."
"Stay alive," ucap Scorp.
Rose tersenyum getir pada permintaan suaminya. "Always," jawab Rose sebelum benar-benar menutup sambungannya.
000
Draco mendatangi Scorp yang tengah duduk di ruang kerjanya setelah kembali dari bersama Rhaegar tadi. Tatapan anak sulungnya tampak kosong menatap ke luar jendela sana. Ada sebuah gelas minuman di hadapannya yang sangat bukan ciri khas dari Scorpius. Pria itu tak pernah minum tanpa alasan, kecuali saat ia menyesap wine-wine yang dimilikinya. Ia tak butuh alasan untuk menikmati bergelas-gelas minuman hasil fermentasi anggur itu. Seperti baru menyadari kehadiran ayahnya, Scorp baru menatap Draco saat ia duduk di hadapannya. "Dad," ujar Scorp.
"Sudah ada kabar dari Rosabelle?"
Scorp mengangguk. "Dimana ia sekarang?"
"Suatu tempat di Casablanca."
Draco mengangguk. "Kau tak akan menemuinya?" tanya Draco.
Scorp hanya diam. Ia hanya diam sambil memainkan ujung jarinya di bibir gelas itu. "Rose tak mau aku menyusulnya. Ia mengatakan bahwa ia tak mau aku terlibat dalam rencananya."
Draco hanya mengangguk. Ayahnya itu mengambil gelas Scorp lalu ikut menyesap sedikit minuman yang tersisa di sana. Ayah dan anak itu sangat nyaman dengan kehadiran satu sama lain tanpa harus melibatkan interaksi dan percakapan di dalamnya. "Bagaimana kau dulu tahu bahwa kau mencintai Mum?"
Kening Draco mengerut saat mendengar kalimat anaknya yang spontan tadi. "Apakah aku harus menjawabnya?" tanya Draco.
Scorp mengangguk. "Aku jarang bertanya kepadamu," jawab Scorp.
"Aku tak tahu kapan tepatnya aku mulai mencintaimu. Tetapi, hal yang membuatku sadar bahwa aku mencintai ibumu adalah saat aku meletakkan dirinya sebagai prioritas hidupku. Senang ketika melihat ia senang, menjadi lebih sedih saat melihat ia sedih. Dan hal yang aku tahu aku tak dapat hidup tanpanya," jawab Draco.
"Tapi kau bertahan hingga saat ini, Dad," jawab Scorpius.
Draco tersenyum ketika akan menjawabnya. "Seperti yang kukatakan pertama kalinya tadi, aku membuat ibumu menjadi prioritas utamaku. Sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya, ia berpesan bahwa aku tak dapat menyusulnya secepat mungkin karena aku masih memilikimu dan kedua adikmu. Aku bertahan karena kalian. Karena kalian adalah separuh dari Hermione," tambah Draco.
Semua orang tahu betapa ayahnya sangat mencintai Hermione Malfoy, tapi baru kali ini Scorp merasakan sendiri betapa pria seperti Draco Malfoy dapat memuji dengan penuh cinta almarhumah istrinya yang sudah belasan tahun meninggalkannya. Draco bangkit dari kursinya. "Apakah kau sudah puas dengan jawabanku?" tanya Draco yang dijawab dengan anggukan oleh Scorp.
Draco berhenti di ambang pintu. "Temui dan bantu Rosabelle."
"Dia memintaku untuk tak membantunya."
"Rosabelle tetap seorang wanita, son. Jauh dalam lubuk hatinya ia menginginkan kehadiranmu di sampingnya," jawab Draco
"She's our family now. And family comes firts. Goodnight, Scorpius."
Scorpius mencoba mencerna ucapan ayahnya lalu sadar seketika apa makna di baliknya. Ia menghubungi ponsel Ballard langsung. "Yes, Sir."
"Tanganmu sudah membaik?" tanya Scorp.
"Sudah. Ada apa?"
"Aku mau kau, Rhaegar, Albus dan Niklaus berkumpul di ruang kerjaku setengah jam lagi. Kita akan terbang ke Casablanca malam ini juga."
"Aye, Sir."
000
"Kalian akan terbang ke Casablanca malam ini?" tanya Rhaella yang masih bersandar nyaman di sofa ruang tengah dari suite yang dimiliki Ballard di manor ini.
Ballard mengangguk sambil terus sibuk dengan senjata yang akan ia bawa. Pria itu sudah memakai gun holster di balik bajunya dengan pistol dan pisau yang terletak manis disana. Tetapi, ia tetap mempersiapkan senjata lainnya yang akan ia masukan ke dalam jet sihir sebelum mereka terbang ke Casablanca. Ia tahu rencana Scorp yang akan memborbardir mansion klan Vegara itu. Pria itu mundur satu lagkah lalu bersedekap sambil kembali memperhatikan barang apalagi yang diperlukan dari suite-nya ini, karena setelah ini ia akan menuju ruang persentajaan manor dan kembali menyusun senjata apalagi yang masih mereka perlukan. Setelah merasa cukup persiapan yang ia lakukan di suite-nya, Ballard kembali duduk di sisi Rhaella. Ia berhati-hati agar tak menyentuh kaki kekasihnya yang retak dan masih digips hingga sekarang. Ia memandang wanita yang selalu dipanggil 'milaya' olehnya itu. Raut wajah Rhaella selalu tampak cemas saat ia akan melakukan sebuah misi bersama saudara-saudaranya yang lain. Raut wajah yang sama juga ditunjukkan oleh Hermione saat Paxan akan pergi dengan misinya. Ballard merindukani ibu angkatnya itu. Ia ingin sekali mendengar bahwa ia merestui hubungan mereka berdua seperti yang dilakukan oleh Paxan. Rhaella membelai wajah kekasihnya itu lalu berujar dengan lembut. "Ada apa?"
"Aku teringat ibumu ketika raut wajahmu berubah cemas saat aku akan pergi dalam sebuah misi seperti ini," jawab Ballard.
Rhaella tersenyum. "Benarkah? Apakah aku sangat mirip dengannya?"
"Hermione selalu menunjukkan raut wajah seperti ini saat Paxan dan aku pergi dalam sebuah misi," jawab Ballard sambil membelai wajah Rhaella yang terlihat tegang agar membuat ia sedikit bersantai.
"Ia juga akan memarahi kami saat kembali dengan banyak luka di tubuh. Dia akan mengomel dari A sampai Z lalu dengan sangat sabar mengobati luka-luka itu. Hal yang sama juga selalu kau lakukan padaku, milaya."
Senyum Rhaella masih mengembang lalu ia berusaha menggerakan tubuhnya agar dapat memeluk Ballard. Pria itu dengan sangat inisiatif bangkit untuk membantunya memeluk dirinya. Rhaella menenggelamnkan wajahnya di dada bidang Ballard yang menjadi tempat favoritnya bersandar. "Jaga dirimu. Jangan terluka. Aku mencintaimu," bisik Rhaella.
Percakapannya tadi dengan Scorp seakan terulang di kepalanya kembali. Sekarang atau nanti akan sama saja, lalu kenapa tak sekarang saja? Kalimat Scorp tadi lagi-lagi terpintas di pikirannya. Ballard melepaskan pelukannya lalu tersenyum lembut ke arah Rhella. "Ty vyydesh' za menya?" tanya Ballard dengan nada takzim pada wanitanya itu.
Kening Rhaella berkerut. Jutaan kali ia mendengar Ballard dan Rhaegar berbincang dengan bahasa Rusia melihat Ballard yang menetap di negara itu lebih dari sepuluh tahun dan Rhaegar yang selalu bolak-balik kesana untuk misi dan pekerjaannya, tapi tak sedikipun ia pernah mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh Ballard tadi. "Apa yang kau ucapkan tadi?" tanya Rhaella penasaran.
Kekasihnya itu tersenyum dan mengedik. "Kau bisa mencari tahunya sendiri."
Ballard bangkit lalu berjalan menuju pintu. "Doc akan datang untuk memeriksa bekas operasi dan kakimu sebentar lagi, bukan?" tanya Ballard.
"Ia tak bisa datang. Ia mengirim mantan murid merangkap Healer kepercayaannya sekarang untukku."
"Kau yakin kita bisa mempercayainya?"
Rhaella mengangguk. "Tentu. Kita mempercayai Doc, Liam."
"Aku akan meminta beberapa penjaga untuk menemani dan berjaga di luar suite-mu saat ia datang."
"Kau berlebihan," jawab Ballard.
Ballard menggeleng. "Tak ada kompromi untuk keselamatanmu, Rhaella."
"Okay."
Ballard berhenti di ambang pintunya lalu tersenyum sesaat. "Ya tebya lyublyu, milaya moya," ujarnya.
"I love you too."
000
Rhaegar menggendong bacpack favoritnya saat mereka melakukan misi terencana seperti ini. Ia berjalan menuju pintu utama manor untuk menuju garasi mobil mereka dan menyusul saudara-saudaranya dan temannya untuk ke landasan udara mereka. Lalu tetiba saja langkahnya terhenti saat seorang wanita dengan tak sengaja menabraknya. "Aku minta maaf," ujar wanita itu.
Alih-alih menjawabnya, Rhaegar hanya diam di tempatnya sambil terus memperhatikan sosok asing yang tetiba saja berada di manornya. Wanita bertubuh mungil dengan rambut lurus kecokelatan dengan mata tercantik yang pernah dipandangnya terlihat canggung dan tak tahu apa yang harus dilakukan selanjutanya karena dengan tak sengaja menabrak pria di hadapannya ini. "Kau siapa?" tanya Rhaegar pada wanita itu.
"Aku menggatikan Healer Bennett untuk memeriksa keadaan Miss Malfoy malam ini dan seterusnya," jawabnya.
Menggantikan Doc. Wanita mungil ini adalah seorang healer. "Aku permisi," ujar wanita itu untuk menyudahi kecanggungan situasinya.
"Siapa namamu?"
Wanita itu berhenti saat baru saja akan melangkahkan kakinya. "Lily," ujarnya mendesah seperti kehabisan napas.
Alis Rhegar bertaut, terutama saat pipi wanita itu tetiba saja bersemu saat mengucapkan namanya. "Aku Lily Potter," ucapnya lagi lalu berjalan ke dalam manor dengan menunduk dan sedikit terburu-buru.
Seperti tersiram air es, Rhaegar membeku. Holy fuck! Lily Potter. Adik perempuan satu-satunya Albus adalah healer pengganti Doc untuk Rhaella. Dan ia merasa bahwa wanita tadi baru saja mengalihkan dunianya sekejab mata. Ia kembali ke realita saat suara ponselnya terdengar mengeluarkan suara. "Yes, bratan."
"Kau dimana?" tanya Ballard dari seberang sana.
"Ada sedikit intermezzo tadi."
"Jangan bercanda, cepat kesii," balas Ballard lalu menutup sambungannya.
Rhaegar mengedik. She's totally his wrong distraction.
000
Casablanca, Morocco.
Udara lembab dan seratus delapan puluh derajat berbeda dari London dan New York tempat Rose lahir dan dibesarkan menjadi salah satu ciri khas dari kota ini. Ia sudah beberapa kali berkunjung ke kota ini, namun kali ini dengan alasan yang berbeda. Baru sekarang setelah lebih dari sepuluh tahun akhirnya ia satu langkah lebih dekat untuk membalaskan dendam kematian orang tua angkatnya. Untuk pertama kali dalam hidupnya akhirnya dia merasa dekat dengan rasa mengikhlaskan kematian Ronald dan Luna Weasley. Calon Capo itu baru saja pulang dari penyaramannya sebagai pelayan bernama Maria di mansion milik klan Vegara itu. Rose menyewa beberapa orang untuk membantunya mensukseskan rencana ini. Setelah mempelajari cetak biru dan seluk-beluk mansion itu, tadi siang ia berhasil memasukkan kedelapan bahan peledak yang ia pesan secara khusus dari Robert Fane sebelum ia terbang kesini. Kehebohan para pelayan dan penjaga sebelum pesta dan acara amal dilakukan membuatnya lebih mudah menyeludupkan PETN itu ke dalam mansion keluarga bedebah itu. Jika keberuntungan berada di tangannya sebelum tengah malam Esteban Vegara sudah mati di tangannya dan mansion mewah yang ditinggali bersama para keturunannya akan rata dengan tanah. Dan dengan sihir yang sudah dirapalkan Fane di alat peledak itu, maka mansion mereka tak akan pernah dapat dibangun kembali. Kerajaan keluarga bedebah itu akan lenyap selamanya.
Rose menatap dari kejauhan mansion yang sudah menjadi targetnya itu sejak Scorp sesumbar mengatakan bahwa Vegara akan mengadakan pesta disana. Selama di Casablanca dia menyewa sebuah flat yang sangat sederhana yang berjarak tak jauh dari lokasi tempat ia akan beraksi nanti malam. Hal ini sengaja dilakukan agar keberadaannya tak mencolok di kalangan para penyihir berdarah bangsawan di kota ini. Rose juga merapalkan mantra penyamar di wajahnya agar tak seorangpun mengenalinya.
Semilir angin mengenai wajahnya ketika ia berdiri di berada flat itu. Ia kembali teringat dengan percakapannya dengan suaminya dari sambungan telepon lalu. Ia tak tahu apa yang merasuki otaknya hingga dapat berbicara seperti itu. Jika ia mengingatnya saat ini, Rose benar-benar malu bukan kepalang. Dia adalah Rosabelle, calon Capo dari organisasi mafia Amerika-Italia sihir terbesar, namun dengan sangat mudahnya ia mengatakan pada pria bahwa ia tak sanggup hidup tanpanya. Rose mengumpat dalam hatinya. Scorp pasti tengah tertawa karena sadar Rose tak setangguh yang ia duga. Tetapi, jauh di dalam hatinya ia ingin sekali Scorp tak berpikir seperti itu. Ia ingin sekali percaya bahwa Scorp akan menghargai setiap ucapannya mengenai hubungan mereka. Dan Rose merutuki dirinya karena bersikeras menolak bantuan Scorp bahkan menolak kehadirannya di kota ini. Matahari di kota ini hampir terbenam saat ia menyesap tetesan terakhir sangria di tangannya. Ia menyentuh cinicin pernikahan mereka. "I wish you were here, husband."
Dengan senyum tipisnya, ia kembali masuk ke flat itu untuk bersiap datang sebagai tamu undangan dan menyelesaikan apa yang selama ini belum terselesaikan antara dirinya dan Esteban Vegara.
000
Esteban Vegara benar-benar jatuh miskin. Terpujilah engkau Scorpius Malfoy. Pria yang usianya lebih dari setengah abad itu melelang semua barang-barang antik dan berlian hasil curiannya dengan mengatasnamakan acara malam. Hal ini tak heran dilakukan melihat hampir dari 80 persen kekayaannya dialihkan Scorpius menjadi milik istrinya secara sah. Pria yang terlahir dengan segala kemewahan itu tak mungkin dapat bertahan dengan kurangnya dana dalam hidupnya. Ditambah juga klien-kliennya yang hilang yang juga karena ulah Scorpius, seperti dapat dipastikan bahwa ia perlahan akan menemui kiamat kecilnya.
Rose duduk dengan tenang di deretan bangku paling belakang sudah lengkap dengan gaun malamnya namun tanpa mengenakan topeng untuk pestanya setelah ini. Sengaja ia tak mengenakan mantra penyamar dan membiarkan wajahnya terpampang, tapi tetap dengan identitas palsu saat masuk ke acara ini. Rose mengenakan gaun malam hitam backless berbahan sutra yang sangat lembut yang sengaja ia pesan sebelum terbang kesini. Dengan sangat sabar ia menunggu sampai berlian Alnatt dikeluarkan sebagai barang lelang utamanya. Berlian yang ditemukan di Cullinan dan berubah menjadi berlian berdarah karena dicuri dari mafia satu ke mafia lain dengan sangat sialnya jatuh ke tangan Esteban Vegara.
"Dan sekarang benda yang paling kita tunggu-tunggu sedari tadi," ujar pembawa acara di podium sana dengan sebuah tirai yang perlahan dibuka di hadapannya.
"Alnatt Diamond," ujarnya dengan nada suka cita yang berlebihan dibuat-buat olehnya.
Sebuah batu berlian bewarna kuning yang memancarkan jutaan cahaya terpampang di depan sana. Batu alam murni 100 carats yang ditemukan sekitar tahun 1950-an itu memilki berat sekitar 20 gram dapat dihargai 3 juta dollar di luar sana dan Rose berencana membelinya malam ini. "Kita mulai sekarang, harga dibuka diangka 3.5 juta dollar," ujar pembawa acara lelang ini.
Seorang pria manaikan papan peserta lelangnya. "4 juta dollars."
"4.5 juta," sahut peserta lainnya.
"4.8 juta," peserta lain tak ingin ketinggalan.
Sementara Rose menunggu sampai semuanya tak sanggup lagi menawar. "5.5 juta," seorang wanita mengangkat papannya.
Semua orang tak ada lagi yang berani mengalahkannya. "Going once, going twice.."
Ketika raut wajah wanita itu sudah merasa senang bak di atas awan dan para peserta merasa terintimidasi serta wajah menjijikan harap-harap cemas juga dipancarkan dari Esteban, Rose mengangkat papannya. "7 juta dollar," ucap Rose santai.
Kembali semua orang terkejut dan Rose menjadi sorotan dari semua mata di ruangan itu. Pembawa acara itu menunggu jika ada yang ingin menandingi harga yang di buka Rose tadi. Wanita penawar terakhir tampak tak berkutik dengan harga yang mampu diberikan Rose. "Going once, going twice, going third," pembawa acara itu mengetuk palu di podiumnya.
"Sold to lady with the black gown," ujarnya.
Tatapan Esteban sontak jatuh kepadanya. Rose menyeringai seperti yang selalu dilakukan suaminya. Wanita itu mengangkat gelas champagne ke udara lalu mengarahkannya kepada Esteban seakan mengajaknya bersulang dari jarak jauh. Esteban tersenyum penuh arti menanggapi hal ini. Rose sudah tahu watak hidung belang yang dimiliki oleh pria itu. Masih dengan tesenyum Rose keluar dari ruangan itu setelah berbicara dengan oraganizer dari acara lelang ini. Dan Rose sangat sadar bahwa Esteban tak sedikitpun melepaskan tatapannya darinya.
000
Pesta topeng itu dimulai tak berapa lama dari acara amal itu diselenggarakan. Mansion keluarga Vegara ini di sihir dengan warna emas yang selalu dapat memancarkan unsur mewah di dalamnya. Musik klasik mengalun lembut serta menggema di ballroom ini. Para tamu yang datang saling bercengkrama memperkenalkan usahanya atau anggota keluarnya. Acara seperti ini sangat bukan dirinya, Rhaella akan lebih cocok berada di kondisis seperti ini menurutnya. Ia muak dengan orang-orang munafik. Jadilah Rose berada di meja bar sambil menunggu kesempatannya untuk bertemu secara lagsung dengan Esteban.
"Lama tak berjumpa, Rosabelle Allegri. Oh maaf, maksudku Rosabelle Malfoy," ujar suara yang sudah dikenali Rose sejak lama itu.
Rose meletakkan gelas cocktail yang tadi dipesanya lalu menoleh ke arah si empunya suara tadi. Senyum tipis Rose terpulas. Separuh badannya menyender di meja bar sebelum wanita itu membuka suaranya. "Lama tak berjumpa Aleksei Tarasov. Aku tak tahu bahwa kau masih mengenaliku dengan topeng ini," balas Rose.
Damn it! Apa yang dilakukan kakak tertua dari Katya ini? Satu kesalahan saja dapat merusak rencana matang yang sudah disusunnya.
Aleksei mengenakan suit and tie bewarna abu-abu metalik lengkap dengan topeng yang membingkai separuh wajahnya. Rambut pirang kecokelatannya tampak kontras dengan warna hitam daru topeng yang ia kenakan. "Tentu aku masih dapat mengenalimu dengan mudah meski kau menyamar sekalipun. Harum tubuhmu tak pernah berubah,"
Rose menghelas napasnya menghadapi playboy profesional di hadapannya. Siapa wanita di dunia mereka yang tak mengenal pria berdarah Russia ini? Tampan dan kaya raya serta sangat 'ramah' dengan lawan jenisnya. Rose tak tahu apa yang dia pikirkan dulu hingga dapat menjalin hubungan dengan pria ini dulu? Aleksei mengedarkan pandangan ke seantero ballroom untuk mencari batang hitung dari suami Rose, namun ia tak dapat menemukannya. "Scorpius tak datang bersamamu. Kau juga tak ditemani oleh selusin penjaga dari The Sociaty atau Cosa Nostra. Katakan padaku apakah kalian sedang bertengkar lalu kai lari darinya?" tanya Aleksei yang dijawab dengan tatapan malas dari Rose.
"Apa mungkin kau sedang menghadapi sidang perceraian? Datanglah kepadaku, Rosabelle. Aku siap untuk kembali kepadamu," sambungnya lagi.
"Kau sudah selesai meracau?" tanya Rose yang muak mendengar ocehan Aleksei.
Seandainya keluarga Tarasov yang membunuh kedua orang tuanya, pasti dengan senang hati ia akan membunuh Aleksei dengan tangannya. Dan juga Katya yang masih berusaha menggoda suaminya. Menghadapi tatapan ganas Rose, Aleksei hanya tertawa lalu menggeleng. "Kau masih segalak dulu, Rosabelle. Apakah kau juga memperlakukan Scorpius seperti ini?" tanya Aleksei.
Rose medengus lalu melengos pergi begitu saja dari hadapan Aleksei. Dalam hatinya ia terus berharap bahwa kehadiran mantan kekasihnya itu tak akan menghancurkan rencanannya malam ini. Rose baru saja keluar dari kamar mandi saat melihat Esteban sudah berada di lantai dansa. Ia sibuk berbincang dengan koleganya tanpa satupun wanita di sisinya. Saat ini adalah waktu yang tepat untuk menjeratnya. Wanita itu kembali memasang topengnya dan berjalan dengan anggun ke arahnya. Rose menahan diri untuk tak langsung mencekik atau menyurukkan tongkatnya ke leher Esteban saat mereka di tengah lantai dansa. Alih-alih menyakitinya, Rose tersenyum tipis ala dirinya yang selalu berhasil membuat pria bertekuk lutut untuk dapat mengenalnya lebih dekat dan menyentuhnya. Wanita itu mengangguk pelan pada Esteban yang terlihat sangat bersemangat dengan kehadirannya namun tetap dapat meredamnya melihat ada begitu banyak kolega yang memperhatikannya. "Selamat malam, Mr,Vegara. Senang akhirnya dapat bertemu denganmu secara langsung," ujar Rose yang menjulurkan tangan untuk menjabatnya.
Esteban menyambut tangan itu lalu sedikit menunduk kemudian menciumnya. Hal ini membuat Rose sedikit tersentak. Berani-beraninya tikus busuk ini meletakkan bibir kotornya di punggung tangan Rose. Pria tua itu menengadah lalu tersenyum yang membuat Rose kembali mual karena melihatnya. "The pleasure is mine, Miss..," pria itu menunggu Rose menyebutkan namanya.
"Gianiotti. Isabelle Gianiotti," jawab Rose.
Esteban tampak terkejut mendengar nama keluarga yang digunakan Rose. "Kau dari keluarga Gianotti yang sama dengan Emmanuella Gianiotti?" tanyanya penasaran.
Yes, asshole! She was my biological Mum. Namun kembali alih-alih berteriak kepadanya, Rose menggeleng. "Hanya nama keluarga saja yang sama, aku sama sekali tak mengenal sosok itu," jawab Rose santai.
Tawa puas keluar dari mulut Esteban. Dia masih tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Tentu kau bukan bagian dari keluaga itu. Kau terlalu berharga untuk menjadi bagian dari keluarga itu."
"Apakah kau mengenal Emmanuela Gianotti?" tanya Rose yang tarkesan penasaran dengan fakta ini.
Esteban menggeleng lalu mencebikkan bibirnya. "Aku hanya mendengar desas-desus tak baik mengenai keluarga itu."
Alis Rose bertaut lalu ia mengangguk. "Senang rasanya aku bukan menjadi bagian dari keluarga itu," balas Rose.
Esteban menjulurkan tangannya. "Shall we dance?"
"Of course," jawab Rose.
Ketika tangan pria tua tengik ini melingkar nyaman di pinggang Rose, wanita itu seakan ingin sekali berteriak dan memelintir jari jemari tua itu satu per satu. "Aku belum pernah melihatmu sebelumnya, Miss Gianiotti. Kau baru dalam dunia ini atau kau memang menutupi cahayamu seperti mutiara-mutiara di laut lepas sana?"
Jangan muntah. Jangan memukulnya.
Rose menggeleng. "Ayahku baru mengizinkanku berada di pesta seperti sekarang belakangan ini," jawab Rose yang bergerak sesuai dengan irama dan pergerakan yang dipimpin oleh Esteban.
"Siapa ayahmu?"
"Aku tak suka pertanyaan pribadi di perjumpaan pertama kali," jawab Rose yang berputar di lantai dasar itu.
"Aku minta maaf," ucap Esteban.
Rose mengangguk untuk menjawabnya. "Aku belum sempat mengucapkan terima kasih karena kau telah membeli berlian itu. Uang itu pasti sangat berguna untuk para anak yatim piatu dan balita-balita kekurangan gizi di pedalaman Afrika Selatan sana."
Dan kali ini Rose benar-benar ingin meledakan kepala tikus bedebah di hadapannya ini. "Kau memiliki hati yang sangat mulia, Mr,Vegara," ucap Rose.
Pria itu kembali tertawa. "Kau hanya perlu membuka matamu dengan lebar dan kau akan sadar betapa banyak orang yang tak sebetung kita," jelasnya.
Rose merapatkan tubuhnya lalu meletalkan kedua tangannya di dada Esteban. "You're such a generous man. Your woman must be honnored to have you by herside," ucap Rose dengan suara husky yang dia curi dari Scorp.
Esteban memegang kedua tangan Rose lalu menggeleng. "I don't have any woman in my life."
"Really?"
Esteban mengangguk. Saat itu juga Rose sadar bahwa beberapa penjaga Vegara memperhatikan mereka dari beranda mansion ini. Wajah mereka tampak tegang dan serius melihat setiap gerak-gerik yang dilakukan Rose dan bosnya. Tahu jika ia mengambil langkah yang salah akan mempertaruhkan nyawanya, Rose semakin mendekatkan jarak mereka lalu mengecup pipi pria tua bangka itu. "Aku pergi sekarang," ujar Rose.
Dan seperti yang diprediksikan oleh Rose, Esteban menahan lengannya. "Jangan pergi. Tinggalah beberapa saat. Bagaimana bila aku membawakanmu minuman?"
"Terdengar menarik," jawab Rose.
Tepat ketika Esteban meninggalkan Rose untuk mengambil minuman beberapa penjaga juga berjalan bersamanya. Namun ada beberapa pasang mata yang memperhatikanya. Rose menghela napasnya dan seketika terkejut saat sebuah lengan menarik pinggangnya. Baru saja ia berbalik dan akan menghajarnya, Rose terkejut dengan iris kelabu yang terhalang oleh sebuah topeng di hadapannya. "Hello, Contessa," sapa Scorp.
"What the fuck are you doing, dickhead?"
000
Dengan sangat awas Rose mengawasi para penjaga Vegara dari ujung matanya. Ia tak mau berpikir macam-macam mengenai dan yang membuat rencananya hancur begitu saja. Tatapan Rose beralih pada Scorpius yang kini tengah berdansa denganya tempo yang lambat. Scorp meletakkan tangannya di pinggul Rose. Alih-alih merasa jijik seperti yang tadi ia rasakan saat Esteban meletakkan tangan kotornya di pinggang Rose, wanita itu sangat menikmati setiap sentuan yang diberikan oleh Scorp. Bila ia tidak berada dalam sebuah misi, Rose ingin sekali melompat ke tubuh Scorp dan menikmati setiap inch-nya. Bagaimana mungkin ia tetap terlihat sangat tampan meski sebuah topeng hitam membingkai wajahnya. "Apa yang kau lalukan, Scorp?" tanya Rose yang terdengar seperti ular yang sedang mendesis.
"Mendukungmu secara materil dan moril," jawab Scorp.
Suaminya itu memutar tubuh Rose dan kembali mendekapnya. "Aku sudah mengatakan padamu bahwa aku tak mau dan tak perlu campur tanganmu untuk hal ini," balas Rose.
"Sejak kapan aku mengikuti perintah seseorang, huh?" tantang Scorp dalam nada bicaranya.
"Sejak kau menikahiku. Sejak aku mengatakan hal itu padamu semalam," jawab Rose.
"Sayangnya aku tipe pemberontak, Contessa."
Rose menghela napansnya dengan tetap berdansa dengan Scorpius. Rose mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Esteban, namun hasilnya nihil. Fuck. Ia pasti tahu bahwa Rose tengah merencanakan sesuatu. Karena bukannya ia kembali dengan minuman yang ia janjikan pada Rose tadi, beberapa penjaganya sudah bergerak ke arah mereka. Rose mengumpat dalam napasnya. "Damn it, Scorp! You ruin my plan."
"Plan doesn't apply to us," jawab Scorp.
"Ayo keluar dari sini, aku tahu para penjaga bedebah itu tengah berjalan ke arah kita," sambung Scorp yang dijawab dengan anggukan oleh Rose.
Suaminya itu udah menggenggam tangan Rose untuk menerobos kerumunan lantai dansa ini, namun langkahnya terhenti saat Scorp dan Rose merasakan ujung pistol tengah menempel nyaman di pinggang mereka masing-masing. "Tuan dan Nyonya Malfoy, Tuan Vegara sudah menunggu kalian di ruang belajarnya."
Damn it!
"Jauhkan pistol itu dari tubuhku," ujar Rose pelan karena tak mau menarik seluruh perhatian para tamu lainnya.
Sejauh ini tak ada yang tahu bahwa pasangan suami istri sudah dikepung oleh antek-antek Vegara. Shit! Pria tua bangka itu pasti sudah menyadari siapa Rose sebenarnya sejak awal mereka bertemu di lantai dansa ini. "Jalan sesuai arahanku dan tak ada yang akan terluka," ujar penjaga yang menyodorkan pistol ke pinggang Scorp.
"Jika aku tak mau?" tanya Scorp sangat tenang.
"Istrimu akan mati. Aku akan menembak kepalanya," pria itu.
Scorp menghela napasnya. "Baiklah, ayo kita jalan."
Mata Rose membelalak mendengar perkataan Scorp tadi. "Apa yang kau pikirkan, dickhead? Kau tak melakukan perlawanan, huh?" tanya Rose dengan nada marah dan super kesal.
"Shut up, Rose! Just walk or they gonna shot you."
Para penjaga menggiring Scorp dan Rose menuju sebuah kamar di lantai teratas mansion ini. Dengan cepat penjaga-penjaga itu mengikat kedua tangan Scorp pada sebuah tiang pancang dan Rose diikat dengan sempurna di sebuah kursi. Seorang penjaga berambut dirty blonde dengan tubuh super besar mendekati mereka atau lebih tepatnya mendekati Scorpius. "Apa yang lakukan disini?" tanya penjaga itu.
"Menjemput istriku," jawab Scorp dengan mudah dan tanpa sedikitpun ketakutan di wajahnya.
Sebuah bogem mentah dilepaskan tepat ke wajah Scorp. Darah segar langsung mengalir dari hidungnya dan Scorp sedikit menggeleng untuk menghilangkan pusing yang tetiba melanda sementara Rose hanya menghela napas saat melihatnya tanpa adegan berteriak-teriak seperti yang dilakukan oleh wanita-wanita kebanyakan. "Jangan berbohong, young man. Aku tanya sekali lagi padamu, apa yang kau lakukan disini?" tanya penjaga itu lagi dengan berteriak.
"Meski kau berteriak hingga kau tersedak dan mati, jawabanku akan sama, old man," jawab Scorp.
Kali ini penjaga itu benar-benar sudah kehilangan kesabarannya. Bukannya hanya sebuah tinjuan di wajahnya, tapi pria besar itu memukuli Scorp hingga tak hanya hidungnya saja yang mengeluarkan darah, tapi mulut serta pelipisnya yang terkoyak. "Hentikan," ujar Rose yang kali ini sudah tak tahan dengan perlakuan pria itu terhadap suaminya.
Pria besar itu mengalihkan perhatiannya dari Scorp menuju Rose. Pria besar tadi berjalan ke arahnya lalu berhenti di hadapan Rose. Dia tersenyum lalu membelai wajah mulus Rose dengan ujung jari dengan bercak darah Scorp yang masih segar. "Ada yang ingin kau ucapkan, sweetheart?" tanyanya.
"Jangan membuang tenagamu untuk memukulinya, suamiku tak akan mati dengan cara seperti itu," jawab Rose.
Dia tertawa mendengarnya. "Lalu dengan cara apa, huh?"
"Kau harus menemukannya sendiri, old man," jawab Rose.
"Kenapa kalian harus bermain-main denganku, bitch!"
Kali ini pria itu menampar Rose dengan sangat keras hingga tak perlu menunggu lama lagi memar biru itu sudah muncul di pipi kanan wanita itu. "Kau menampar seperti wanita," jawab Rose.
Baru saja pria itu akan kembali menghajar karena merasa tersinggung dengan ucapan Rose, penjaga lain masuk ke ruangan itu dan menghentikannya. "Vegara memanggilmu," ujar penjaga lain itu.
Pria besar itu masih memandang kesal ke arah Rose dan Scorpiu yang masih sudah menengadah memandang Rose meski tampangnya sudah acak-acakan. "Kau baik-baik saja?" tanya Scorp dengan nada super khawatir di suaranya.
Rose menatap suaminya tak percaya lalu menggeleng. "Aku yang seharusnya bertanya padamu, dickhead. You look like hell," balas Rose dengan nada marah bercampur khawatir.
"Aku baik-baik saja."
"Tapi tampangmu tidak menunjukkan hal itu," tandas Rose.
Scorp tak menjawabnya. "Sudah kukatakan untuk tak menemuiku," tambah Rose.
"Kau tak bisa mencegahku," balas Scorp.
"Kau menghancurkan rencanaku," sambar Rose.
"I love you, stupid. Aku tak mungkin membiarkanmu menyerahkan nyawa dengan bodoh ke pria tua berengsek itu," balas Scorp.
Rose tak mampu menjawabnya. Ia hanya diam dan tak mampu menggerakan bibirnya. Hanya Scorpius Malfoy yang mampu mendeklarasikan cintanya saat mereka tengah tersekap. Pintu kamar ini terbuka dan Esteban Vegara masuk tanpa adanya penjagaan dari para pengawalnya. "Well hello again, Isabelle Gianiotti. Oh or should I call you Rosabelle Allegri?"
"Rosabelle Malfoy. Kau harus memanggil istriku seperti itu," jawab Scorp.
Eseteban tersenyum sarkastik. "Lama tak berjumpa Mr,Malfoy. Maaf tak dapat hadir dalam pernikahanmu. Apa kabar ayahmu?"
"Hentikan basa-basi menjijikan ini, Vegara."
"Baiklah, Mr,Malfoy."
Esteban mendekati Rose dengan tatapan dipenuhi hasrat dan kemarahan. "Jadi kau adalah Rosabelle yang seharusnya mati bertahun-tahun lalu, huh? Takdir memang sangat mengagumkan, bukan? Beruntung sekali aku gagal membunuhmu dan lihat apa yang aku dapatkan saat ini? Aku akan menikmati setiap jengkal tubuhmu sebelum mencincangnya hingga ke bagian terkecil," ujar Esteban.
Scorp hanya memerhatikan sambil mencari akal untuk lepas dari rantai yang mengikatnya. Dan seperti menemukan cercah cahaya, Scorp tersnyum melihat celahnya untuk melepaskan diri. Penjaga Vegara terlalu bodoh untuk menyadari tiang pancang ini tidak menempel di langit-langit kamar dan hal ini akan menjadi celahnya untuk melepaskan diri. Sementara Rose sedang memicingkan matanya dan menatap jijik pada Esteban yang semakin mendekatinya. "Jangan kau coba untuk berani menyentuhku, tikus busuk," ucap Rose.
Esteban hanya menggeleng. "Kau tak dapat mengancamku, sweetheart," ucap Esteban lalu menyingkap gaun Rose dan mencium kakinya. Dengan refleks Rose menendang wajahnya hingga ia jatuh terpelanting.
"Fuck!" teriaknya yang langsung bangkit dan menampar Rose berkali-kali.
Seperti yang tadi dirasakan oleh Scorp. Kepala Rose juga ikut menjadi pening. Esteban mencengkram rambutnya. "Aku akan membuatmu minta ampun dengab apan yang baru saja kau lakukan," ujar Esteban.
Tangannya sudah merobek gaun Rose, tapi ia terlambat karena Scorp sudah berhasil memanjat tiang pancang itu dan melepaskam dirinya.
Belum sempat tangan Esteban menelusup ke balik gaun Rose yang sudah tersibak, Rose meludahi wajah pria tua bangka itu. Dengan terkejut dan dikuasai amarah, Esteban mencekik leher Rose tanpa bebasa-basi lagi. "Choking and feels so good, huh?" ucap Esteban dengan tertawa.
Rose tersedak. Wajahnya langsung memerah karena oksigen yang terhambat masuk ke dalam paru-parunya. Namun, tetiba saja dia tersenyum saat Scorp sudah berdiri di belakang Esteban meski dengan tangan yang masih terantai Tanpa banyak kata lagi Scorp mengalungkan rantai yang masih mengikat tangannya ke leher Esteban. Pria itu tertarik ke belakang dan melepaskan Rose yang sudah jatuh ke lantai dengan kursinya. "Who's choking now?" tanya Scorp yang dengan cepat melemparkan pisau dari jasnya ke arah Rose.
Dengan cepat Rose melepaskan diri dari ikatan tali dan sedikit rapalan mantra dari penjaga-penjaga bodoh itu. Ia mengambil tongkat sihir milik Esteban yang terlempar karena tongkat miliknya dan Scorp sudah dilucuti oleh para penjaga itu sedari tadi. Scorp mendudukan pria itu di lantai dengan rantai yang masih menjerat leher Esteban. Rose menyentuh lehernya yang memar akibat Esteban yang mencekiknya tadi lalu menendang dengan sangat keras tepat di dada Esteban yang masih terus berusaha melepaskan dirinya dari Scorp. Jeratan rantai dan rapalan mantra ikat yang dirapalkan Rose tadi membuat tua bangka itu tak berkutik. "Akhirnya hari ini datang juga," ujar Rose.
Wajah Esteban sudah sangat merah karena sama sekali tak dapat bernapas. Bahkah ia sudah tak mampu tersedak karena Rose sudah membekukan tubuhnya. "Kau dapat melepaskannya sekarang, husband," ujar Rose.
Scorp melepaskan jeratan rantai itu lalu dengan sebuah lambaian tongkat milik Esteban yang dipegang Rose, rantai itu juga sudah lepas dari kedua pergelangan Scorp. Perhatian Rose kembali tertuju pada Esteban yang sudah jatuh terletak di lantai kamar itu. Tubuhnya bergetar bak cacing yang terkena garanm. Lehernya lebih biru dari lebam yang didapatkan Rose tadi. Rose berlutut di sampingnya dan dengan ujung tongkat sihir itu ia memegang ujung dagu Esteban. "Kau dapat merasakan bagaimana rasanya meregang nyawa sekarang," ujar Rose.
"Crucio," ucap Rose pelan sambil bangkit kembali dan seketika Esteban berteriak kesakitan.
Scorp memandang pintu kamar ini dengan cemas dan Rose menggeleng untuk menjawabnya. "Tenang saja, aku sudah merapalkan mantra kedap suara dan mantra perlindungan agar para penjaga itu tak masuk ke sini," ujar Rose yang tak perlu dapat membaca pikiran untuk mengetahui apa yang dipikirkan oleh suaminya itu.
Sementara itu Esteban masih meregang nyawa di lantai dengan kutukan yang dilontarkan Rose tadi. Rose melepaskan kutukannya dan Esteban berhenti berterial, namun keringat sebesar-besar biji jagung masih menghiasi kepalanya. Dengan ujung kakinya, Rose menyentuh wajah Esteban. "Untuk ukuran pemimpin mafia di kota ini, kau sangat lemah, Vegara," ujar Rose lalu menendang wajah pria itu dan darah kembali keluar dari hidung serta mulutnya.
Scorp mengangkat tubuh pria itu lalu di didudukannya di kursi yang tadi digunakan Rose. "Don't play with this bastard anymore, Contessa. We're running out the time," ujar Scorp.
Rose mengangguk lalu mengambil pisau tadi lalu menusukannya ke paha Esteban dengan cekatan. "Aarrgh!"
"Selain menikahi suamiku, membunuhmi adalah hal yang paling membahagiakan bagiku. Kau seharusnya bangga, bastard," ucap Rose lalu mengedipkan sebelah matanya kepada Scorp.
Suaminya tersenyum dan tak perlu terlalu lama lagi berbasa-basi, Rose menarik kembali pisau itu dan menancapkannya tepat di ulu hati Esteban. Darah menyembur otomatis dari mulutnya. "Can I join you?" tanya Scorp.
"Sure."
Diambilnya pisau yang sudah menancap di perut Esteban. "See you in hell. Don't ever messed up with my family, huh."
Pisau tadi kini sudah menancap tepat di jantungnya dan Esteban secara resmi tewas di tangan mereka. Rose menatap Scorp dengan sejuta perasaan di dirinya. Ia tak mampu mengucapkan barang satupun kata lagi. "Save your tears, Contessa. We have to get the hell out from this fucking mansion," ujar Scorp.
"Siapa yang bilang aku akan menangis?" tandas Rose.
Scorp menyeringai. "Pukul berapa kau atur ledakannya?"
"Tengah malam."
Scorp melirik arloji. "Shit. Sepuluh menit lagi," balas Scorp.
"Tunggu. Kau tahu rencanaku?" tanya Rose masih dengan nada tak percaya.
Scorp mengedik. "Damn it."
Belum sempat mereka melarikan diri dari mansion Vegara pintu kamar itu sudah terbuka dan lusinan penjaga sudah menunggu pasangan itu. "Ready for the show time, husband?"
"Let's take them to hell," jawab Scorp
Saat penjaga itu melihat siapa sosok yang tengah tergeletak di lantai dengan genangan darah di sekitarnya, rahang mereka seakan-akan jatuh dari tempatnya. Pemimpin yang selama ini mereka puja sudah tak lagi bernyawa dan mereka tengah melihat siapa sosok yang melakukannya. Dalam hitungan menit mereka menyerang Scorp dan Rose. Kilatan serta sambaran mantra dan suara letusan dari senjata terdengar di kamar itu. Saat melihat ada celah untuk keluar dari ruangan itu, Scorp selalu berusaha untuk menarik tangan Rose, tapi gagal karena penjaga itu datang lagi dan lagi seakan tak ada habisnya. "Rose, kita harus keluar dari sini!" teriak Scorp ketika sadar bahwa bom yang diletakkan oleh istrinya akan meledak dalam waktu dekat.
"Kau tak lihat aku sedang sibuk," ujar Rose yang baru saja menembak isi kepala seorang penjaga itu.
Ketika beberapa orang penjaga lain akan menyergap Rose dari belakang, Scorp melemparkan dua buah belati yang langsung menancap di kepala dan dada masing-masing penjaga itu. "Lari sekarang!" teriak Scorp.
Rose berlari keluar bersama Scorp dan suara letusan pistol kembali terdengar.
Bang
Bang
Langkah Rose terhenti sejenak. "Holy shit," umpat Rose
Scorp ikut berhenti dan menatap istrinya. "Kau tak apa-apa?"
Dengan cepat Rose menggeleng. "Aku baik-baik saja."
Mereka kembali berlari menuruni tangga itu seperti muggle karena mansion ini dilengkapi dengan anti aparasi yang belum dihancurkan keseluruhan oleh Albus. Tatapan Rose terperangah ketika melihat ballroom tadi sudah berubah menjadi arena perang. Mayat-mayat penjaga itu terkapar begitu saja dengan Ballard dan Rhaegar serta Niklaus yang menjadi penyebabnya. Rose juga kembali terkejut saat menatap Lorenzo tengah membantu Rhaegar di bawah sana. "Kau membawa mereka?"
"Family comes first and you're our family. Your enemy is ours too," balas Scorp yang langsung menarik tangan Rose untuk menuruni tangga dan berkabung dengan mereka.
"Sister!" teriak Rhaegar saat melihat kakak lelaki dan istrinya telah berhasil keluar dari ruangan itu.
"Kami baru saja akan naik untuk menyelamatkan kalian," tambah Rhaegar
Rose mendengus lalu tersenyum tipis menatapa adik iparnya itu. "You're totally late," balas Rose.
"At least, I'm trying, Rosabelle."
Ballard menghampiri mereka. "Kita tak lagi memiliki waktu, mansion ini akan segera meledak," ujar Ballard pada semua keluarganya.
Niklaus dan Lorenzo bergabung bersama mereka. "Albus sudah berhasil menghancur sistem aparasi mansion ini, kita dapat ber-Apparate sekarang," ujar Niklaus.
Ballard menjulurkan tangannya dan semua orang saling berpegangan untuk kembali ke rumah yang dijadikan markas bagi mereka selama di Casablanca. Dalam sekejap mata mereka sudah sampai di halaman rumah itu. Sebuah rumah di atas bukit yang memeiliki pemandangan langsung ke laut lepas dan tentunya mansion keluarga Vegara. "Welcome home, everyone," ujar Albus yang sudah menunggu mereka.
Napas Rose terengah saat menyadari sesuatu merembas di bahunya. Rhegar menatap alrlojinya. "Satu.. dua.. tiga...," hitung pria yang dijuluki Bloody Blonde oleh para musuhnya itu.
Boom
Boom
Boom
Suara ledakan terdengar dari mansion itu dan mereka kini tengah menatap mansion itu runtuh perlahan hingga rata dengan tanah. "Ah aku butuh alkohol," ujar Niklaus yang menepuk pundak Scorp dan masuk ke rumah itu diikuti oleh Rhaegar serta Albus dan Ballard.
Rose mengalihkan perhatiannya dari mansion itu kepada suaminya. "Rasanya begitu menyenangkan, Scorp. Terima kasih untuk segalanya," ujar Rose meletakkan tangannya di pinggang Scorp.
Suaminya tersenyum. "Aku pernah mengatakan padamu bahwa aku akan memberikan dunia padamu, Rosabelle. Hal ini belum ada artinya," balas Scorp.
Rosabelle tersenyum lalu mengangguk. Scorp sadar ada sesuatu yang salah dengan istrinya. Wajahnya sangat pucat, bahkan ia tak bereaksi seperti ini saat Esteban mencekik dan hampir mematahkan lehernya. "Kau baik-baik saja, Rose?"
Kembali Rose mengangguk. "Tentu aku baik-baik saja."
Scorp menarik pinggang Rose dan merasakan cairan mengalir deras dari bagian atas tubuh istrinya. Mata Scorp membelalak. "Rose, you're bleeding," ujar Scorp saat memegang bahu Rose dengan dua luka tembak besar disana.
"Husband, you're spinning," ucap Rose lalu terjatuh di pelukan Scorp dengan mata yang sudah tak mampu lagi terbuka.
000
to be continued
Like always, thank you for visit and enjoy this story. Please leave everything in your mind. Just hit the review button for me, okay? Thanks for everything guys
- "Ty vyydesh' za menya?" : Maukah kau menikah denganku (Russian)
- "Ya tebya lyublyu, milaya moya," : Aku mencintaimu, sayangku (Russian)
