~Balasan Review~
From Ur Boy'fr : naniii? "nii-chan" ? O.O
Sejak kapan Shera ganti gender... (T.T)
Ini dia new chap nya... met baca... ^^
LovyS : makasiiiihhhh~~ (^o^)/
selamat membaca chap ini yah...
Ran Murasaki SS : Ran-chan ga login yah ? ('^')
Masa lalu SasuIno kan udah di chap sebelumnya... cuman confliknya sih..
soalnya lebih ke pairing SasuSaku-nya...
Met baca chap ini yah... ^^
Karasu Uchiha : Shera usahain cepet biar reader-nya ga nunggu lama..
n ga keburu lupa sama alurnya... (^^)
Lagian sebagai reader, Shera juga suka kesel nunggu updet-an chap selanjutnya yg lama...
1 : yupz... anda benar! (^o^)d
cerita itu nanti diperjelas di chapter selanjutya...
Ayano Futabatei : updateee! (^o^)/
disini Lemon muncul...! \(^o^)/
bagi yang masih dibawah umur dilarang baca! (Author-nya aja di bawah umur! -_-") *plak*
~Happy reading~
"Gadis itu sedang berada di gedung Hokage bersama Orochimaru-san saat ini."
.
.
"Sasuke~ Aishiteru."
.
.
"Apa yang kau pikirkan, Sakura?"
.
.
"Aku masih merindukanmu, Sakura~"
.
.
"Ahh~! Ah~! Ah ah! Sa…su~~Enghh~Enhhh! Aaahhhh~!"
Chapter 8 : Verification
SASUKE POV
Kekuatan.
Adalah satu-satunya yang dijunjung tinggi di negara ini. Siapa yang kuat, dialah yang berkuasa. Sungguh, hukum alam yang kekal.
Mereka tak menyadarinya. Seseorang akan menjadi sangat kuat ketika ia memiliki sesuatu yang ia lindungi.
Ada lagi satu unsur…
Yang mendominasi perseturan di dunia ini.
Cinta.
Semua berawal dari cinta…
Rasa cintaku pada Ino yang mengenalkanku pada dendam.
Rasa cinta Ino pada Gaara yang menghadiahkanku sebuah kutukan.
Rasa cinta Gaara pada Sakura yang memanfaatkan Ino untuk mengutukku, karena saat itu aku kandidat terkuat yang dapat melukai Sakura.
Dan rasa cinta Sakura padaku yang membuatnya kehilangan kendali dari dirinya.
Cinta segi empat yang rumit.
"Hey, Teme! apa yang kau lamunkan?" Naruto kembali merangkul pundakku kasar dengan tangan-yang sekali lagi kubilang tak ringan- itu. "Kudengar seorang gadis cantik pernah datang ke kantor Hokage untuk menemuimu, benarkah?"
Ah iya… Sakura…
Sudah berapa lama yah sejak aku terakhir kali bertemu dengannya. Saat itu terjadi kerusuhan yang besar di mansion ku, untung Gaara segera membawanya pulang, kalau tidak Sakura mungkin akan celaka bila bertemu Hokage.
"Apa kau sedang memikirkan gadis itu….?" Jahil Naruto sambil menyengir rubah dan menyikut perutku ringan. "Siapa namanya, Sasuke?"
"Apa pedulimu?"
"Kau ini, aku kan sahabatmu!"
"Hn"
"Dasar. Kau selalu saja mengeluarkan kata ambigu itu. Ya sudahlah kalau kau tak mau memberitahuku, aku akan menanyakannya sendiri."
.Dheg.
Hah? menanyakannya sendiri? apa maksudnya itu?
Aku menatap Naruto yang cengar-cengir di sampingku. Rupanya ia merasa puas telah berhasil menarik perhatianku.
"Gadis itu sedang berada di gedung Hokage bersama Orochimaru-san saat ini."
Apa?!
~'~
.Brak.
Pintu itupun terbanting dengan kerasnya. Memberiku akses masuk ke ruangan khusus Hokage. Mendengar Sakura ada di ruangan ini membuatku tak mampu berpikir jernih dan langsung mendobrak masuk.
"Kenapa kau terburu-buru sekali, Sasuke?" sahut sang Kage tenang-dengan seringainya yang biasa tentunya.
Kulihat Sakura yang kini tengah menatapku.
"Sakura…" desahku. Menyerukan namanya membuat hatiku terasa sesak. Mungkinkah aku masih pantas mengucapkannya..?
Mungkin Sakura telah mendengar semuanya dari Sasori-nii. Saat ini, aku tak ingin mentatap matanya. Aku tak ingin semakin terjerumus dalam pesonanya.
"Sasuke-kun~"
Aku tersentak. Sakura tengah berlari menuju ke arahku. Ia melingkarkan tangannya di leherku. Memelukku erat.
"Sa…kura?" apakah Sasori-nii tak mengatakan kenyataannya kepada Sakura? kalau sudah, Sakura pasti takkan melakukan hal seperti ini lagi.
"Sasuke, sebenarnya ada yang ingin kubicarakan, tapi kurasa akan lebih baik bila kau menemani Sakura-hime seharian ini."
Aku dapat merasakannya. Merasakan adanya rencana licik yang terlintas di pikiran Orochimaru-sama. Sungguh, kalau rencana itu untuk melukai Sakura lagi. Sampai matipun takkan kulakukan.
Kini aku takkan bimbang. Sakura telah mengajarkanku untuk mengambil keputusan. Salah atau benar keputusan itu, aku takkan maju bila terus takut akan resikonya.
~'~
Aku membawa Sakura ke mansionku. Ia langsung duduk di ranjang dan aku menawarinya minum. Suasana nampak tenang, aku tak tahu harus bagaimana.
Aku rindu dengannya, ingin kupeluk erat tubuh itu. Tapi tubuhku seakan kaku. Tak dapat lagi menggerakan tubuhku tuk lebih mendekatinya.
"Sasuke~" paggilnya. Dan akupun menoleh.
"Aishiteru."
.Dheg.
Sesak. Aku merasakan dadaku menyesak. Aku harus apa? aku memang tahu Sakura menyukaiku. Tapi mengatakannya setelah apa yang telah kulakukan padanya dan dengan ekspresi itu… membuatku…
Ingin menangis.
Sejak kapan aku jadi serapuh ini?
"Sasuke?" Sakura meraba pipiku dengan tangan mungilnya. Mengusapnya lembut seakan memberi ketenangan.
Aku menggenggam tangan Sakura. Kutatapnya emerald indah yang dimilikinya. Seakan membius dan menghisap seluruh kesadaranku. Aku semakin mendekatkan wajahku. Dapat kurasakan hembusan nafas Sakura yang menerpa kulitku.
"Enngmm~" desahan keluar saat kulumat bibir mungilnya. Lembut dan manis, aku menyukainya. Perlahan kubaringkan tubuh Sakura tanpa kulepas ciumanku. Mengatur posisi ku di atasnya dengan siku sebagai tumpuanku.
"Emmmngh~eemm~" aku mulai menghisap dan menggigit kecil bibir yang menggoda itu. Hingga Sakura membuka mulutnya dan memberiku akses untuk masuk.
Tuhan…
Aku mencintai gadis ini.
Izinkan aku untuk mencintainya…
Sakura melingkarkan tangannya ke leherku, menekan ciuman ini lebih dalam. Aku memejamkan mata, menikmati setiap rasa yang kukecap di lidahku. Mengabsen deretan gigi Sakura yang tertata rapi.
Aku tak menyangka… ciuman akan senikmat ini jika dilakukan dengan orang yang dicintai.
Tanganku tak ingin tinggal diam. Dengan tangan kanan yang masih menopang tubuhku, kini aku mulai membelai lembut tengkuk Sakura dengan tangan kiri. Mungkin Sakura merasakan sensasi geli di tengkuknya hingga bahunya sedikit terangkat dan kepalanya semakin mendongak ke atas.
"Enghh~Ah~ hah hah hah" desahnya kembali saat ciuman itu terlepas mengingat Sakura yang terlihat kehabisan oksigen. Suara itu begitu indah. Membuat darahku bergemuruh dan tubuhku meminta lebih.
"Apa kau yakin ingin melakukannya?" tanya ku sambil membelai lembut rambut Sakura. Tangan Sakura yang masih terlingkar di leherku dipereratnya.
"Apapun untukmu, Sasuke-kun~" jawabnya mantap.
"Kau yakin?" tanganku turun membelai pipinya. "Aku tak ingin menyakitimu…"
"Kau tak pernah menyakitiku, Sasuke-kun. Aku telah mengetahui segalanya." Senyumnya. Ada kerapuhan di senyuman itu. Aku benci. Aku benci saat sesuatu sedang disembunyikan dariku.
"Apa yang kau pikirkan, Sakura?"
"Aku memikirkanmu."
Tiba-tiba saja saja Sakura langsung menekan kepalaku dan menciumku. Selagi lidahnya menjajahi rongga mulutku, tangannya meremas-remas rambut hitamku.
Lihat? inilah Sakura-ku. Hanya rangasangan seperti itu saja telah membuat sesuatu menyesak di balik celanaku.
Aku langsung menyerang balik lidah Sakura. Kegiatan itu kini kuambil alih. Tangan kiriku kini perlahan mencoba membuka pakaian Sakura. Kubuka sedikit mataku dan dapat kulihat pipinya yang memerah sambil masih memejamkan mata. Aku tersenyum di sela ciuman panas itu.
Seketika tubuh Sakura telah terbebas dari apapun yang menutupinya. Menampakan tubuh mungilnya yang siap ingin ku'makan'. Tangan ku masih melakukan pekerjaannya yaitu meremas dada Sakura. Gumpalan kenyal itu mengingatkanku pada Jelly dingin yang dibelikan ayah saat aku kecil dulu.
Ah…ayah…
Aku akan menepati janjiku untuk menjadi lelaki hebat.
Karna mulai saat ini aku akan melindungi orang yang kucintai.
"Sa..su..enggghhh~" desahnya kembali saat kulepas ciuman itu, daerah jajahanku beralih ke leher jenjangnya. Kuhirup aroma yang memabukkan itu. Cherry, aku sangat menyukainya. Aku menyukai segala yang ada dalam dirinya.
Sejak kapan aku tergila-gila olehnya?
Kugigit dan kujilat hingga menimbulkan banyak bercak kemerahan disana. Aku kan menandainya, menandainya bahwa wanita ini adalah milikku.
"Sas…engh~enhh~~aaahh…!" pekiknya saat kugigit gemas puncak dada Sakura. Puting itu telah mengeras sejak aku memainkannya dengan jariku. Sementara dada kirinya menjadi jajahan lidahku, tanganku memainkan dada kanan Sakura. Menariknya dan memelintirnya gemas.
"Enghh~Sasu…kau… engh~baju~ enghh~" ucapannya tak begitu jelas karena ia mendesah. Tapi tangannya yang menarik-narik bajuku membuatku paham betul apa maksudnya.
"Biarkanlah aku puas melampiaskan kerinduanku padamu dulu, Sakura-hime." seringaiku. Aku takkan melepaskanmu, Sakura. Tak akan dan jangan harap.
"Sasu…tapi…enghhh~~engh~ah~Sas…ahhh~~" desahan itu semakin menggila ketika aku mulai turun menjilati perut ratanya. Dapat kulihat ia meremas ranjang yang tak berdosa itu dan menahan nafasnya.
"Sasu…engh…henti~engh~enn~geli~"
Aku bermain-main dipusar Sakura. Tangan kananku menopang paha Sakura agar sedikit terangkat, kemudian tangan kiriku kini tengah mengelus-elus daerah 'surga dunia' itu.
Lidahku kembali bergerak. Menerusuri paha mulusnya hingga aku sampai pada selangkangan Sakura. Aku mendekatkan wajahku dan kuhidup aroma yang keluar dari sana. Daerah itu sudah sangat basah entah sejak kapan.
"Engh~Sasu…nafasmu…menggelitik.. aku…engh~" wajah Sakura kini sudah sangat memerah. Kujulurkan lidahku dan kugelitik klitoris Sakura sambil mengelus lubang sakura dengan ibu jariku, mengoleskan cairan yang membasahinya.
"Enghh~Ahh…AAAahh~ Sa…su~~engh~" Sakura memegangi rambutku. Menjambaknya sesekali setiap rangsanganku mengenai titiknya. Kubuka lebar lubang Sakura itu dengan kedua tanganku dan kutekan masuk lidahku dalam-dalam.
"AAAkkhhh~~Sa…sasu~~" dapat kurasakan dinding vaginanya yang menjepit lidahku. Aku menggerakan lidah ku dengan liar di dalam sana. Membuat Sakura menyerukan namaku berulang-ulang hingga cairan kenikmatannya pun menguak keluar membasahi tangan dan mulutku.
"Sasu…hah..hah..engh~ puas kau menjahiliku?" protesnya sambil menggembungkan pipi tanda bahwa ia sedang merajuk.
"Sayangnya belum…" seringaiku kembali.
Kuangkat tubuhnya hingga sebagian tubuhnya menyandar ke tembok dan ia menjadi setengah duduk. Kuposisikan pahaku yang masih memakai celana itu di selangkangan Sakura. Sakura menatapku sambil masih mengatur nafasnya.
"Aku masih merindukanmu, Sakura~" bisikku menggoda di telinga Sakura sambil kujilati daun telinga itu, memberikan Sakura rangsangan kembali. ". . . . . dan mungkin takkan pernah berhenti merindukanmu."
Aku mengangkat sebelah paha Sakura dan mulai menggesekan pahaku di kewanitaannya. Cairan yang masih menempel disana mempermudah gesekan celana ku.
"Ahh~! Ah~! Ah ah! Sa…su~~Enghh~Enhhh! Aaahhhh~!" serunya tiap kutekan klitoris Sakura dengan pahaku.
Tak lama kemudian celanaku terasa basah akibat klimaks Sakura yang kedua. Setelahnya aku tak berhenti menjahili sakura hingga ia klimaks bertubi-tubi.
Saat itu...
Saat satu-satunya aku merasa telah melakukan sesuatu yang benar.
Karna sampai Sakura lelah dan aku berhenti. Aku sama sekali tak memasukan 'milik'ku ke dalam 'milik' Sakura.
Aku tahu… bila itu terjadi…
Itu akan jadi saat pertama dan terakhir Sakura melakukannya…
Aku tak menginginkannya…
Karna bagaimanapun…
Aku tak ingin mengucapkan 'Sayonara' padanya…
TBC
yup...itulah dia Lemon yang bisa saia persembahkan...
Maaf yah kalo kurang memuaskan... m(._.)m
Dlm pmbuatan Chap ini, aku sedikit dibantu kakakku yang author lepas juga...
gimana pendapat kalian?
mind to review?
Kritik, keluh, request, saran, -yang membangun- masih saia terima...
Keep trying my best!
~Shera~
