"JANGAN KAU KATAKAN ITU PADA LUCY!"
Erza terlihat membelalak. Tidak pernah ia bayangkan bahwa Gray akan semarah ini. Lagi pula kenapa ia harus merahasiakan itu pada Lucy?
"Sudah! Aku tetap akan mengatakannya kepada Lucy agar semuanya selesai," potong Erza dengan mata yang berkilat-kilat.
Dan baru tiga langkah Erza meninggalkannya—
DUAK
—dia terjatuh tidak sadar.
Setelah sampai di depan apartemen Lucy, dia jatuhkan tubuh Erza secara kasar. Dia tidak peduli kepalanya yang berdarah itu membentur tangga depan apartemen Lucy.
DOK DOK DOK
"Iya! Sebentar!" sahut Lucy dari dalam.
Gray segera berlari dari tempat itu. Dia berlari, berlari dan terus berlari.
Setelah sudah jauh, dia jatuh terduduk. Badannya berkeringat banyak, antara lelah dan kengerian atas perbuatan yang baru saja ia lakukan.
Jadi, masalah baru apa kali ini? Setelah menyakiti kekasihnya, dia harus menyakiti sahabatnya.
Gray tersenyum pahit.
"Maafkan aku, Erza."
GOODBYE, GRAY!
CHAPTER 8: MOVE ON A LA ERZA
Fairy Tail © Hiro Mashima
Story © Day-chan
Semi-Canon. OOC. DLDR. Author tidak mengambil keuntungan apapun dalam pembuatan fanfic ini.
Putih.
Itulah yang dilihat oleh iris indah sang Titania.
Mengerjapkan mata berkali-kali, akhirnya dia sadar kalau dia sedang berada di ruang rawat Fairy Tail. Lirik sana-sini, dia pun juga baru sadar kalau ada sosok blondie yang tengah menatapnya dengan haru.
"Erza! Akhirnya kau sadar!" ucap Lucy penuh haru. Gadis pirang itu memeluk Erza dengan erat—seakan tidak mau lepas.
"…" Erza masih me-loading. Apa yang menyebabkan dia sampai di sini? Apa yang sebelumnya dia lakukan?
Ah.
Gadis bersurai merah itu berencana untuk ke apartemen Lucy dan mengatakan kebenaran tentang masalahnya. Tapi setelah itu yang dia ingat hanyalah gelap.
"Ne, Lucy." Erza mulai berbicara. Lucy melepaskan pelukannya dan memasang muka tanya. "Apa yang terjadi padaku?"
Lucy menghela napas. "Aku sendiri tidak tahu, Erza. Seminggu yang lalu, ada yang menggedor-gedor apartemenku keras—dan ada teriakanmu memanggilku. Waktu kubuka, tidak ada orang. Lalu ada lagi yang menggedor-gedor, namun kali ini tidak ada suaramu."
"…"
"Saat kubuka, kau tergeletak bercucuran darah di depan pintu apartemenku. Aku panik sekali," cerita Lucy.
"Aku segera minta pertolongan Loki untuk menggendongmu ke guild dan merawatmu segera. Kau tampak seperti orang mati, kau tahu," Lucy mulai terisak.
Erza hanya berpikir dalam diam sembari menenangkan Lucy. "… tidak apa, Lucy. Aku kebetulan lengah dan dari belakang mungkin aku diserang seseorang," ucap Erza. "Tunggu. Kau bilang seminggu?"
"Ya. Kau seperti koma dalam waktu seminggu. Itu sebabnya aku mengatakan kau seperti orang mati," gerutu Lucy. "Tapi syukurlah, kau akhirnya sadar juga. Apa perlu kita selidiki siapa yang menyerangmu, Erza?" ucapnya kemudian sambil emosi.
"… kurasa tidak perlu," sergah Erza yang sudah benar-benar pulih ingatannya. Dan dia yakin siapa yang menyerangnya hingga tak sadarkan diri selama seminggu ini.
"Eh? Kau sudah tahu siapa pelakunya?" tanya Lucy. Erza mengangguk.
"Aku akan memberinya pelajaran tersendiri," ucap Erza tersenyum setan—sampai membuat setan takut padanya.
"… oh, oke," jawab Lucy sekenanya. Dia yang awalnya merasa berang jadi takut.
CKLEK
"Oh, kau sudah bangun Erza!"
Pemuda topless itu langsung masuk dan menghampiri Titania yang terperban di kepala. "Syukurlah."
Air muka Lucy langsung berubah seratus delapan puluh derajat tatkala Gray—pemuda itu masuk dan berbincang kecil dengan Erza. Tidak ada ekspresi khusus yang ditunjukkan, hanya senyum bahagianya kini meluntur perlahan demi perlahan.
Gray, yang memang biasanya datang kemari untuk mengganti bunga di vas, tidak begitu memperdulikan kehadiran gadis pirang tersebut. Apalagi ketika melihat Erza sudah siuman, perhatian sepenuhnya dia hadapkan ke Erza. Ekspresinya juga tidak bisa ditebak.
Sesaat kemudian, Lucy pamit untuk memberi informasi-Erza-sudah-sadar ini ke semua anggota guild. Gadis itu melenggang pergi dengan cepat.
Hening sejenak menyelimuti Gray dan Erza.
"Kemari kau." Erza memerintahkan Gray untuk duduk lebih dekat dengan kasur yang diduduki Erza. Gray terlihat bingung tapi tetap melakukannya. Setelah jarak antara mereka berdua hanya beberapa senti, Erza langsung melancarkan—
DUAK! DUAK! BUK! PLAK!
—serangan bertubi-tubi pada Gray. Serangan terakhir setara dengan campuran antara Gear Third, Ban Kai, Chibaku Tensei dan Kamehameha.
Setelah puas, Erza meregangkan ototnya dan menghela napas. Dia kembali tenang dan bertingkah seperti tidak terjadi apa-apa. That's Erza for you.
"Ap …" Gray terengah-engah di lantai. "Apa-apaan ini?!"
Perempatan urat muncul di pelipis Erza. "Seharusnya aku yang bertanya, apa-apaan ini?!"
"Hah?" Gray masih mengusap-usap kepalanya.
"Jangan pura-pura bodoh! Kau kan yang membuatku seperti ini!?" hardik Erza tajam.
Suasana hening seketika. Beberapa saat kemudian, Gray berdiri dan kembali duduk di kursinya. "… maafkan aku," ucapnya disertai dengan helaan napas panjang.
"…" Erza menatap mata onyx Gray yang meredup.
"Aku … aku hanya panik. Aku tidak mengerti bagaimana cara menghentikanmu. Maafkan aku, maaf," tutur Gray sekenanya. Dia terus mengucap kata maaf pada Erza, karena hanya itulah yang bisa dia lakukan.
Erza menatap Gray dalam.
"Jangan meminta maaf terus, telingaku bosan mendengarnya," dengus Erza. "Jika kau ingin aku memaafkanmu, ceritakan seluruhnya apa yang sebenarnya kau rencanakan."
Gray menatap balik Erza. Menutup matanya, dia akhirnya bercerita panjang lebar pada sosok Titania tersebut.
" … lalu kau akan melaporkannya pada Lucy, seminggu yang lalu. Siapa yang tidak panik? Kau hampir saja menghancurkan rencanaku!"
Erza mendengarkannya dengan intens. Setelah kalimat terakhir yang Gray katakan tadi, Erza mulai berkspresi.
Tertawa.
"Jadi begitu," sahut Erza. "… kenapa kau bodoh sekali?" Erza meledakkan tawanya.
Gray yang bingung karena ditertawai Erza hanya bisa mendengus kesal. "Hei, bagian mana di ceritaku yang lucu? Semuanya bikin sakit, tahu! Sakitnya tuh di sini," ucap Gray sambil menekan dadanya dengan alay.
Setelah Erza selesai tertawa, dia berdehem dan mulai mengeraskan suaranya.
"Semuanya bodoh. Atau bisa dibilang, rencanamu bodoh. Atau bisa dibilang juga, kau yang super super bodoh," komentar Erza terhadap Gray.
"Bisa kau jelaskan apa alasanmu?" tanya Gray berusaha meredam emosinya.
Erza tersenyum. "Kau tahu, Gray? Kunci dari sebuah hubungan adalah komunikasi. Jika kau bertindak egois seperti ini—menyelesaikan sebuah masalah sendiri, itu bodoh. Apalagi sampai menyembunyikannya dari Lucy, kekasihmu."
"Ya, tapi—"
"Kenapa kau tidak bilang saja secara terbuka pada semuanya—atau paling tidak hanya pada Lucy. Bilang padanya kau hanya ingin membantu Juvia untukmove on darimu. Bilang padanya untuk tetap percaya padamu. Aku yakin Lucy pasti akan menerima alasanmu."
"…"
"Tidak perlu bertingkah seperti seorang yang keren. Lucy sudah menerimamu sebagai laki-lakinya, itu berarti kau sudah menjadi orang yang paling keren baginya, bodoh."
"Aku tidak bertindak keren," sanggah Gray.
"…" Erza hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Gray menunduk—menatap kosong lantai. "Bagaimanapun juga, ini sudah terlanjur. Aku akan menjelaskan pada Lucy ketika Juvia sudah benar-benar bisa melepaskanku."
"Sudah sebulan lebih, kan?"
"Ya, tapi aku rasa dia belum …" komentar Gray.
Erza menghela napas. "Metodemu benar, Gray. Kau menemani Juvia agar Juvia bisa pelan-pelan menghilangkan perasaannya, dan bukan memendamnya. Tapi kurang satu hal."
Gray mendongak—menatap manik Erza penuh tanya.
"Ya, kurang satu dan itu fatal sekali," lanjut Erza terkikik pelan setelah mendapat tatapan polos dari Gray.
"Apa itu?"
Erza tersenyum misterius. Beberapa saat tidak terjadi perbincangan yang membuat ruang rawat tersebut sunyi.
Gray mulai gusar. "Erza, jangan mempermainkan aku."
"Biar. Aku masih kesal—dan sebenarnya takjub karena kau membuatku tak sadarkan diri selama seminggu."
"Ah …" Gray tampak merasa bersalah lagi. "Mungkin aku memukul di bagian yang sedikit vital di otakmu. Jadi, kau seperti jatuh dalam koma. Maaf."
"Sedikit vital dengkulmu!" senggrang Erza galak. "Untung saja aku hanya koma, belum titik."
"Tanda tanya saja," sahut Gray tersenyum—dia tahu Erza mengajaknya bercanda.
"ERZA CHOP!" ucap Erza sambil memukul kepala Gray dengan tangannya. Seperti jurus Maka pada Soul*.
"Oi oi oi," ucap Gray meringis kesakitan.
Erza tertawa kecil. "Aku akan memberi tahu Juvia kekurangan dari metodemu itu. Tenang saja."
Gray membeliakkan matanya. "Sungguh?" Tanya Gray yang disambut oleh anggukan kecil dari Erza. Gray tidak dapat berkata apa-apa. Dia hanya menunduk kembali dan menutup mukanya dengan tangan.
"Aku … aku minta maaf, Erza. Sungguh."
Erza hanya terdiam. Kemudian tersenyum lembut.
-x-
Tiga hari setelah kesadaran Erza kembali, Erza sudah seratus persen fit. Dia sudah memakai baju armor kebanggannya dan mulai mengerjakan misi kecil-kecilan di kota. Banyak yang bertanya siapa pelaku penyerangan itu, namun Erza hanya tutup mulut dan akan bercerita di saat semuanya sudah jelas.
"Apakah ada yang mengancammu, Erza? Tidak apa, ceritakan saja. Biar aku tindih dia," ucap Makarov berang sembari membesarkan tangan kanannya.
Erza hanya tersenyum. "Tidak ada. Aku akan bercerita saat waktunya sudah tepat, itu saja."
"Apakah dia orang guild sini, Erza?" tanya Mirajane khawatir.
"Hmm … bagaimana ya …" ucap Erza pura-pura berpikir—sembari mengerling jahil ke arah Gray yang menahan muka panik. "Jangan memaksa, Mira. Aku tidak akan bercerita apapun tentang hal ini sebelum waktunya pas."
"Sepertinya bukan dari guild ini, kurasa," ucap Cana sambil memeluk barrel-nya.
"Ya, sepertinya juga bukan dari kota ini," ucap Levy berpikir.
"Bahkan, sepertinya bukan dari bumi. Mungkin dari Edolas," ucap Evergreen.
"… kenapa kalian berpikir begitu?" tanya Erza bingung.
"Karena tidak ada yang berani seperti itu denganmu, Erza!" ucap Cana, Levy dan Evergreen bebarengan. Mendengar itu, Erza tertawa kecil. Sedikit sinis sambil melirik Gray. Tapi Gray sudah menghilang entah ke mana.
Setelah beberapa obrolan kecil yang mengudara—sebagai rasa kangen karena ditinggal koma selama seminggu, Erza mulai bertanya. "Ehm, kok aku tidak lihat Juvia ya?"
Wajah para gadis menjadi sedikit tidak enak.
"Dia kan sama seperti ketiga orang itu, Erza," ucap Laki. Ketiga orang—yang semua anggota guild pasti tahu bahwa itu adalah: Natsu, Gray dan Erza.
"Sama-sama jarang di guild lagi?" tanya Erza mulai khawatir.
"Ya … tapi mereka jadi lebih sering ke guild semenjak kau koma. Tapi mulai dari tiga hari lalu, mereka sudah mengambil misi lagi," tutur Mirajane. "Dan kau tahu, misi yang mereka ambil bukanlah misi yang ringan."
"… begitukah." Erza memandang kosong ke arah orange juice-nya yang sudah habis.
"Speak of the devil," ucap Evergreen sambil menatap ke pintu guild.
Erza dan lainnya pun menoleh dan mendapati Juvia datang. Dia terlihat berusaha tidak perduli dengan tatapan para gadis. Dia tetap berjalan lurus ke arah papan misi.
Sesaat sebelum Juvia mengambil kertas misi, sebuah tangan menghentikannya.
"Erza-san." Juvia tampak kaget dan panik.
"Juvia, aku ingin bicara denganmu. Ikut aku."
-x-
Erza menarik tangan Juvia dan berangkat menuju suatu tempat. Juvia merasa bingung tapi sesaat kemudian dia terlihat panik.
"Ehm, Erza-san, Juvia … Juvia ingin ke suatu tempat dulu. Bisakah kau tunggu aku di sini sebentar saja?"
Erza memandang Juvia. " … aku ikut."
"Eh?! Ti-tidak bisa … Emm …" Juvia tampak bingung menjelaskannya.
"Kau mau memberi tahu Gray bahwa kau tidak bisa mengambil misi karena kau kutarik kan?" seringai Erza.
Juvia membeliakkan matanya. Mulutnya menganga—seperti akan bicara, tapi dia tahan. "Ju-Juvia … ti … tidak—"
"Aku tahu yang sebenarnya. Maka dari itu aku ingin bicara denganmu," jawab Erza menanggapi raut muka Juvia yang tidak bisa diartikan.
"…"
"Di mana Gray biasanya menunggu?"
"Di hutan sebelah sana," jawab Juvia akhirnya.
"Baiklah, hampiri dia dan katakan bahwa misinya ditunda. Jangan sekali-kali protes atau dia akan kusembelih dengan heaven's wheel," ucap Erza tersenyum manis. Manis neraka.
"… a-aye sir."
-x-
"Jadi, sejak kapan kalian bergantian mengambil misi dan mengerjakannya bersama?"
"Sebulan lalu."
Erza tampak senang—dia kembali reuni dengan strawberry cake kesayangannya. Sembari menjilati garpu, dahi gadis Titania itu berkerut. "Sudahlah, tidak perlu serius begitu ngomongnya. Santai saja, Juvia."
Juvia tampak gugup. "Ma-maafkan Juvia."
"…" Erza menatap manik mata Juvia dalam. "Juvia, jujur padaku."
"… ya?"
"Apakah kau sudah melepaskan Gray?"
"…" Juvia tersenyum sedikit getir. Dia menyesap teh sejenak, mempersiapkan diri untuk bercerita.
"…"
"Sedari dulu Juvia sudah rela melepaskan Gray. Tapi perasaan yang mengganjal ini yang belum sepenuhnya terusir," ucap Juvia. "Kalau kau tanya begitu."
"Baiklah, aku ganti pertanyaanku," Erza mulai serius. "Sekarang ini, bagaimana perasaanmu terhadap Gray?"
"… Juvia sudah mulai menganggap bahwa Gray adalah sosok kakak yang baik," Juvia tersenyum. "Setidaknya, Juvia ingin menganggap seperti itu. Tapi perasaan ini seperti ada yang hilang, seakan tidak rela jika aku menganggap Gray seperti kakak …"
Erza tersenyum simpul. "Sudah kuduga."
Juvia menatap Erza dengan pandangan tanya, sementara Erza tidak meneruskan kata-katanya dan malah melahap cake kelimanya. Setelah Erza selesai dengan cake-cake kesayangannya itu, Erza berdiri. Dia menatap intens Juvia.
"Mau cepat move on?"
"… mau."
Erza tersenyum.
"Diam dan turuti caraku: Move On A La Titania Erza Scarlet."
Juvia melongo.
-x-
Suasana guild tidak begitu ramai—setidaknya, akhir-akhir ini. Lebih dari sebulan lalu rasanya masih terdengar hiruk pikuk para gadis yang bercengkrama asik, para pria yang saling adu otot dan lainnya. Sampai sekarang pun masih terbilang ramai, tapi tidak seramai dulu.
Tokoh biang keladinya hilang semua. Ya, Natsu dan Gray yang biasanya paling berisik, dan dihentikan oleh Erza. Lucy yang biasanya menggosip dengan Levy bebarengan dengan Juvia. Kini, pemandangan itu hilang ditelan waktu. Ditelan masalah.
Gray terdiam di salah satu meja bar. Meja yang terletak di pojok dan aman dari hingar bingar guild. Menenggak birnya pelan, kemudian menatap kosong para mage yang sedang bertarung dengan santai.
PUK
Sebuah tangan kekar menepuk pelan bahunya.
"Gajeel." Gray tampak tidak terkejut dengan hadirnya sosok pemuda besi tersebut.
Gajeel tidak mengatakan apapun. Dia hanya duduk di sebelah Gray sambil makan besi dan minum bir. Suasana di antara kedua tokoh itu sunyi, namun tidak awkward.
"Gray." Gajeel membuka percakapan dengan datar.
"Hm?" tanya Gray dengan tidak kalah datarnya.
"… aku yakin ada sesuatu di balik sikapmu."
"Haha," Gray tertawa sinis. "Bagaimana bisa kau yakin seperti itu."
"…" Gajeel meminum birnya hingga habis.
Keheningan kembali terjadi selama beberapa lama.
"Aku memang tidak pintar, tapi ada hal-hal yang kutangkap dari rentetan kejadian masalahmu, brengsek."
"…" Gray mendengarkan Gajeel dalam diam.
"Kau menampar Juvia saat dia menampar Lucy. Itu tindakan spontan untuk melindungi Lucy—dan itu berarti kau benar-benar sayang padanya."
"Kau terlihat kaget saat Juvia menangis di dadamu—saat Lyon mendeklarasikan hubungannya. Tapi sesaat kemudian kau tampak percaya diri, seperti merencanakan sesuatu."
"Dari kejadian itu, yang ada di pikiranku hanyalah: kau berusaha untuk membantu Juvia tanpa sepengetahuan Lucy. Dan imbasnya, kau menjadi sosok yang jahat bagi guild ini."
Manik onyx Gray tampak melebar. Dia berusaha untuk tidak terlihat kaget dan panik. Berusaha untuk keep calm and confident. Gray melirik Gajeel dengan tatapan sinis.
"Oh, begitukah?'
"… ya. Aku tidak tahu kau membantu apa—dan rasanya aku tidak mau tahu. Geehee," ucap Gajeel tertawa.
"…"
Masih menjilati paku dan baut saos tiram, Gajeel menepuk pundak Gray lagi.
"Aku respect padamu. Kau lebih memilih nakama daripada kekasihmu sendiri, geehee."
"Aku tidak bilang kalau deduksimu itu benar, Gajeel."
Gajeel tidak menghiraukan ucapan Gray.
"Aku tahu Juvia itu gadis yang merepotkan. Tapi kuharap dia tidak lama-lama merepotkanmu," ucap Gajeel serius.
"…" Gray akhirnya mengalah. Dia tersenyum pada sosok pemuda besi tersebut. Gajeel pun melebarkan seringaiannya dan tertawa kecil. Sepertinya dia peka karena dia adalah sahabat Juvia semenjak di guild Phantom Lord.
Merasa yang diomongkan sudah selesai, Gajeel bangkit berdiri dan berbalik untuk—
DUAK
—kembali pulang ke rumah. Dengan keadaan benjol di kepala.
"Brengsek kau, Titania! Apa kau ingin armor-mu kumakan, hm?" senggrang Gajeel sembari mengusap kepalanya.
Erza tidak menghiraukan kata-kata Gajeel dan mendorongnya pergi dengan satu tangan. Perlu diketahui, dorongannya sampai keluar guild—dinding kayu guild pun ditembus Gajeel.
"Aku akan membawa Juvia pergi sementara," ucap Erza to the point.
"Hah? Ke mana?" tanya Gray.
"Ke Lamia Scale."
"Apa?!"
"Sudah diam saja kau. Ini termasuk dalam cara: Move On A La Titania Erza Scarlet," ucapnya dengan bangga.
Gray tampak sweatdrop. Kemudian dia melirik Juvia yang berada di samping Erza. Gray bermuka apa-kau-serius-dengan-ini?
Juvia membalas dengan muka sudahlah-ikuti-saja-daripada-kau-terkena-sembelihan-dari-heaven's-wheel.
-x-
Beberapa jam melesat dengan kereta api, Erza dan Juvia sampai di depan guild yang dituju. Nama Lamia Scale bergantung besar di atas bangunan megah tersebut. Tanpa ragu-ragu mereka langsung masuk. Err, sepertinya Erza saja, karena Juvia masih mematung di luar.
"Ada apa denganmu, Juvia? Bukankah kau ingin mengikuti caraku?" tanya Erza sembari menarik tangan Juvia.
"Ju-juvia … merasa ragu."
Erza terdiam sebentar. Kemudian dia memegang kedua bahu gadis air tersebut. "Hei, tidak apa. Aku tahu kau semacam trauma—seperti yang kau ceritakan padaku waktu itu. Tidak apa, jika memang Lyon masih bersikap kurang ajar, aku yang akan menghajarnya."
Juvia menatap dalam-dalam manik mata Erza yang berkilat sungguh-sungguh. Erza memang orang yang tulus membantu nakama-nya. Beberapa saat kemudian, Juvia mengangguk kecil dan mengikuti Erza masuk ke dalam guild Lamia Scale.
Sesaat setelah Erza dan Juvia masuk, mereka ditatap aneh oleh banyak anggota guild. Yah, bukan apa-apa. Hanya reaksi wajar ketika ada orang asing yang masuk ke dalam rumahmu.
Erza tidak memperdulikan tatapan itu. Dia bertanya mengenai keberadaan sang Master dari Lamia Scale. Setelah beberapa orang ramah yang menjawab, Erza—yang masih menggeret Juvia untuk langsung melenggang lurus.
Juvia ditatap seperti itu juga biasa saja. Malah dia tatap balik orang-orang guild dengan muka ramah dan bersahabat. Beberapa di antara mereka ada yang sepertinya jatuh hati di tempat, jatuh diri bahkan gantung diri.
Tidak sengaja mata indah Juvia bertemu dengan mata orang yang ditakutinya.
Lyon.
Dia bersama teman-temannya—Sherry, Yuka dan Toby. Kemudian di samping Sherry juga ada Chelia yang memandang Lyon dengan tatapan mupeng. Juvia menatapnya dalam diam, sementara Lyon terbeliak kaget. Tapi beberapa detik kemudian, Lyon menyunggingkan senyum manis dan sekarang ganti Juvia yang terbeliak kaget.
Merasa salah tingkah, Juvia mengalihkan pandangan. Dan ternyata di depannya sudah hadir sang Master, Ooba Babasaama. Dia duduk di kursi dengan beberapa makanan terhidang di depannya. Erza dan Juvia memberi hormat sebentar, kemudian mereka dipersilakan duduk.
"Ada perlu apa, Titania?" ucap Master Lamia Scale itu.
"Sebenarnya tidak penting. Tapi, aku meminta ijin untuk meminjam seorang anggota guild-mu untuk beberapa hari," ucap Erza tenang.
"Untuk?"
"Sebuah misi."
"Apakah bocah-bocah Fairy Tail itu tidak ada yang sanggup?" tanya nenek tua itu terkekeh.
"…" Erza tampak memutar otak. "Sebenarnya, ini misi dari orang guild sini. Dia tidak menjalankan tugasnya dengan baik di kota kami, karena itu kami datang ke sini."
"Apa?! Siapa dia?!"
Erza tersenyum simpul.
"Lyon Vastia."
-x-
"Erza, kau tidak perlu berbohong tentang misi yang tidak aku selesaikan," ucap Lyon sembari memegang kepalanya. Ya, dia baru saja terkena jurus andalan masternya: Twirl-Twirl Magic di mana kau akan diputar-putar selama yang Master inginkan.
Erza terkekeh pelan. "Maafkan aku, Lyon."
"… jadi? Ada urusan apa? Sampai kau memaksaku untuk meminta ijin libur dari guild?" tanya Lyon sedikit kesal. "… oh, maaf. Maksudku kalian," ucap Lyon setelah dia menyadari ada Juvia di belakang Erza.
Erza menarik tangan Juvia dan memposisikan dia tepat di depan Lyon.
"Ada yang ingin kau katakan, Lyon?" tanya Erza.
"… kalian ke sini hanya untuk ini?" Lyon tidak menjawab pertanyaan Erza.
"Ya. Dan kau harus menghargainya." Erza tampak sedikit emosi karena Lyon tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
"…" Lyon hanya menatap mata Juvia, tidak bisa diartikan. Juvia juga menatap balik, namun dengan kilatan takut di dalamnya.
"Kau masih ingat pesanku yang dulu?" tanya Lyon akhirnya. Nadanya melembut dan hati-hati.
"… masih."
Lyon tersenyum. "Terima kasih."
"Ke-kenapa kau berterima kasih?"
"Karena kau masih ingat," jawab Lyon santai.
Keheningan menyambut kedua insan ini. Keduanya tampak gugup—bingung apa yang mau dikatakan selanjutnya. Erza yang menyadari ini, langsung menarik lengan Lyon agak menjauh dari Juvia.
"Tidak bisakah kau sedikit lembut?!" protes Lyon.
"Aku ke sini, untuk menjemputmu. Bawa Juvia ke tempat yang indah, dan buat dia jatuh cinta padamu," ucap Erza tidak menggubris protesan Lyon.
"… hah? Bukannya dia …? Gray …?" ucap Lyon terbata-bata. Erza pun menjelaskan semuanya secara singkat.
Setelah tahu kebenarannya, Lyon memandang Juvia dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Kemudian, dia tersenyum lembut.
"… baiklah," jawab Lyon mantap.
"Tapi dengan satu syarat," hardik Erza.
"Apa?"
"Tanpa pemaksaan. Tan-pa pe-mak-sa-an!"
Lyon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Iya iya, aku tahu. Aku memang waktu itu di luar kendali, bodoh. Setelah aku pikir-pikir, aku memang kasar dan egois. Aku tidak akan seperti itu lagi."
Erza tersenyum. "Bagus, bagus," sahutnya. "Tunggu, kau memanggilku bodoh?"
Sedikit merinding dengan aura hitam yang Erza luapkan, Lyon panik. "Ti-tidak, kau pasti salah dengar."
Saat Erza akan kembali ke Juvia, Lyon menarik lengan Titania itu pelan. "Aku … sebenarnya belum siap bertemu dengannya, Erza. Tindakan yang aku lakukan dulu sungguh memalukan."
"…" Erza memandangnya dalam diam.
"Aku merasa sangat bersalah. Aku sudah menjadi sosok yang jahat baginya. Dia pasti takut denganku."
Erza menepuk kedua bahu Lyon. "Kau mengakui bahwa kau salah, itu bagus. Tapi itu saja tidak akan cukup, kau harus menunjukkannya. Kemudian, tunggu reaksi Juvia. Oke?"
"…"
Lyon dan Erza akhirnya kembali mendekat ke Juvia.
Lyon—sama seperti tadi, dia masih tampak gugup. Dia gugup, karena di depannya sudah ada orang yang disukainya, dan sayangnya memiliki pengalaman buruk bersamanya. Antara gugup dan merasa bersalah.
"Juvia," panggil Erza akhirnya. Dia sempat melempar muka sweatdrop ke arah Lyon yang tidak kunjung bicara.
"Ya?"
"Tadi Lyon bilang padaku. Kau akan diajak ke tempat yang sangat indah untuk beberapa hari," ucap Erza tersenyum.
Juvia menengok ke arah Lyon, yang tampak berkeringat dingin. "Benarkah itu?"
Tidak ada jawaban dari Lyon. Beberapa saat hening, namun akhirnya Lyon sudah bisa menguasain dirinya dan mengangguk mantap sebagai jawabannya.
"Ya, Juvia. Aku akan … menebus dosaku dengan ini."
"Bagaimana, kau mau tidak?" tanya Erza. Juvia mengangguk kecil sebagai jawaban.
"Baiklah! Selamat bersenang-senang. Aku akan menjemputmu di depan guild ini, dua minggu dari sekarang, Juvia."
Dengan berakhirnya kalimat itu, sang Titania langsung melenggang pergi dengan cepat.
"…"
"…"
"Ehm … kau bawa baju ganti?" tanya Lyon memandang koper yang dibawa Juvia.
Juvia mengangguk pelan. "Di-disuruh Erza-san."
Lyon menggaruk kepalanya yang tidak gatal—tipikal seorang pria yang sedang gugup. "Kalau begitu aku akan … ke apartemenku dulu. Tunggu saja di sini."
"Baiklah."
-x-
Hening.
Itulah yang dirasakan oleh kedua insan ini. Dua jam duduk berjejeran tanpa sepatah katapun, telah dilalui Lyon dan Juvia dengan sukses. Hanya suara kereta api yang mendominasi perjalanan.
Walaupun sudah melewati beberapa perhentian stasiun dan terdapat para pedagang asongan menawarkan dagangannya, tidak terjadi percakapan yang berarti. Lyon menawari Juvia makanan seperti orang pantomim, sementara Juvia menolak halus.
Lyon duduk seperti orang yang akan disidang. Duduk tegap, keringat dingin tidak berhenti mengucur dan pandangan tegang. Seperti yang sudah dideskripsikan—Lyon menjadi gugup karena peristiwa yang lalu-lalu. Dia sudah kehilangan semua ego dan sayangnya, kepercayaan dirinya.
Di sebelahnya, Juvia hanya duduk biasa. Pandangannya kosong—dia sedang memikirkan sesuatu. Tidak, bukannya Juvia sangat takut pada Lyon. Juvia kini diliputi rasa khawatir. Khawatir jika ada apa-apa. Tapi, dijalani dulu sajalah.
Setengah jam kemudian, kereta api berguncang keras mendadak. Lyon tampak gusar dan bangkit dari kursinya.
"Semuanya, jangan bergerak! Serahkan harta benda kalian satu persatu!"
"Pembajakan?" ucap Lyon spontan.
Lyon segera mengeluarkan jurusnya.
"Ice-make: Pri—"
"KARYUU NO TEKKEN!"
Kali ini, Juvia ikut berdiri dan memandang depan.
Terlihat seorang pemuda bersurai pink mengoarkan apinya dengan santai, sementara seorang gadis pirang terlihat menenangkan pemuda di sampingnya.
Lyon dan Juvia saling bertukar pandang.
"Mereka tidak tahu kan kebenaran dari rencana Gray?" tanya Lyon.
"Tidak."
Hei, ini gawat.
TO BE CONTINUED
[INFORMASI]
*: MAKA CHOP! Jurus yang kerap digunakan oleh Maka untuk menimpuk Soul. (Anime: Soul Eater)
[A/N]
Setelah saya baca ulang … INI APAAN FANFIC ALAY + KAMVRET GILA :)) KARAKTER OOC PARAH KUADRAT SIN 900 DERAJAT :)))) Ini beneran gue yang bikin? /gakpercaya
Tapi karena udah terlanjur keknya yaudahlaaaaahhh ikhlasin aja :"")))) (aslinya males re-write /dor).
Karena saya kalo nulis fanfic MC saya udah nyatet inti dan kerangkanya, jadi saya masih ingat ini akan berakhir di mana. Jadi sebenarnya gak salah sih, tapi setelah dipikir-pikir kerangka gue kok alay yaaa tolonggssss :"""))). Kek sinetron, tukang sihir naik haji(?).
Jadi saya revisi sedikit jadi lebih pendek dan normal(?). karena lo tauuu? Fic ini harusnya berakhir di chapter 17 :)) aku pangkas sampe chapter 9 atau 10 keknyaa. Atau 11 kali-kali ada yang minta lemon /eh
Terima kasih sama readers dan reviewers :* semoga ada yang ingat sama fic ini (2 tahun ga di apdet haha /hus), kalo gak ada yang inget semoga ada yang mau baca fic ini dari awal :* (meskipun sumpah di awal-awal chapter tulisanku alay banget Orz)
Huahaha, keep waiting ya readers! I love you full :*
HARGAI KERJA KERAS AUTHOR DENGAN REVIEW! :*
