Miss Wuhan present
Tittle : Timeless Love
Main cast : Xiumin
Chen
Luhan
Pairing : Chenmin slight Xiuhan
Genre : School live, romance, a little bit sad
Length : Chaptered
Happy reading ^^
Chapter 8
Xiumin terus berlari menghindari Luhan yang masih saja terus mengejar – ngejar di belakangnya. Xiumin sendiri merasa bingung dengan sikapnya saat ini. Mengapa dia dengan refleks langsung berlari ketika melihat Luhan berciuman dengan perempuan lain. Pada dasarnya Xiumin merupakan pribadi yang sangat cuek dan terkesan tidak peduli dengan lingkungan di sekitarnya. Tetapi yang membuat seorang Kim Minseok tidak mengerti adalah mengapa dia merasakan ada sedikit perasaan marah dan tidak rela ketika melihat Luhan berciuman dengan yeoja itu.
"XIUMIN BERHENTI JEBAL DENGARKAN DULU PENJELASAN DARIKU." Teriak Luhan di belakang Xiumin yang tentu saja dapat didengar dengan jelas oleh sang pemilik nama. Namun bukannya menuruti permintaan Luhan untuk berhenti Xiumin semakin menambah kecepatan berlarinya untuk memperlebar jaraknya dengan Luhan. Nafas Xiumin mulai terengah – engah dan dia mulai memperlambat tempo berlarinya ketika merasakan kakinya mulai mati rasa. Dia sudah tidak sanggup untuk kembali berlari namun saat dia menoleh ke belakang masih terlihat Luhan yang berusaha mengejarnya. Melihat Xiumin yang mulai melambatkan kecepatan larinya karena kelelahan membuat Luhan mencepatkan kecepatan larinya agar bisa menyusul Xiumin. Akhirnya Luhan bisa memegang tangan Xiumin dan memaksa namja chubby tersebut untuk berbalik menghadapnya.
"Xiumin jebal dengarkan penjelasanku terlebih dahulu." Ucap Luhan sambil mengarahkan kedua tangannya ke wajah Xiumin agar dia menatap dirinya.
"Apa yang perlu kau jelaskan gege? Kurasa tidak ada yang perlu kau jelaskan kepadaku." jawab Xiumin dengan bola mata yang tidak mengarah ke Luhan
"Tatap mataku Xiumin. Dan dengarkan apa yang akan ku jelaskan."
Xiumin akhirnya menyerah dan memandang kedua mata rusa milik Luhan yang entah mengapa terlihat nanar.
"Cheonsa tadi secara tiba – tiba mencium bibirku. Aku pun sendiri kaget dengan apa yang dilakukannya. Kumohon Seokkie jangan salah paham dengan apa yang sudah kau lihat tadi. Aku sama sekali tidak ada hubungan dengan yeoja itu. Kami bahkan hanya bertemu selama dua minggu karena dia termasuk salah seorang pasienku."
"Aku tidak salah paham gege. Lagipula itu juga bukan urusanku. Itu merupakan privasimu jika kau ingin berhubungan dengan siapa saja. Aku tidak berhak melarang jika kau ingin berhubungan dengan siapapun. Lagipula aku dapat melihat jika kau sangat cocok dengan yeoja tadi. Kalian terlihat seperti pasangan yang sempurna kau yang sangat tampan bersanding dengan yeoja secantik dia."
"TAPI AKU TIDAK MENCINTAINYA KIM MINSEOK" teriak Luhan
Dengan refleks Xiumin membelalakkan kedua netranya kaget saat mendengar teriakan dari Luhan. Mengapa Luhan berteriak sampai – sampai mereka kali ini menjadi pusat perhatian orang – orang yang berlalu lalang di sepanjang jalan. Xiumin hanya bisa terpaku ketika Luhan berjalan mendekat kepadanya lalu kedua tangan pemuda China tersebut sudah berada di pipi chubbynya.
"Aku tidak mencintai yeoja itu Kim Minseok tetapi kaulah yang aku cintai Xiumin. Saranghae Kim Minseok" ucap Luhan
Belum sempat Xiumin mencerna apa yang sudah dikatakan oleh Luhan dia merasakan sesuatu yang lembut dan basah mendarat tepat di bibirnya. Xiumin membelalakkan kedua matanya saat dia merasakan Luhan mencium bibirnya lembut. Tubuh Xiumin seakan tersengat listrik ribuan volt dan seluruh persendian yang terdapat di tubuh Xiumin serasa mati rasa saat Luhan memberikan lumatan – lumatan kecil untuk lebih mengeksploitasi bibir mungil milik Xiumin. Xiumin mulai terlena dengan ciuman yang diberikan oleh Luhan dan dengan perlahan dia menutup kedua matanya. Namun belum sempat kedua matanya tertutup rapat dia melihat seseorang yang menarik baju Luhan sehingga Luhan terjengkang ke belakang sampai hampir jatuh.
"BRENGSEK JANGAN PERNAH KAU MENYENTUH XIUMINKU. XIUMIN HANYA MILIKKU."
Xiumin membuka kedua matanya lebar saat melihat Chen saat ini sedang memukul Luhan hingga babak belur. Luhan sendiri tidak mampu membalas pukulan dari Chen. Bukannya Luhan tidak bisa berkelahi, pada jaman SMA dulu dia pernah masuk ke salah satu genk yang hobinya tawuran setiap minggu jadi berkelahi bukan hal yang baru lagi bagi pemuda China tersebut. Namun kali ini Chen menyerangnya secara bertubi – tubi sehingga dia tidak mempunyai kesempatan untuk bisa membalas perlakuan Chen.
"Chen hentikan." Teriak Xiumin.
Bukannya berhenti, Chen semakin memukul Luhan secara membabi buta. Bahkan saat ini kaki milik Chen juga ikut menendang perut Luhan. Luhan sendiri hanya bisa berteriak dan menrintih kesakitan. Chen kalap saat ini. Dia sangat marah karena melihat namja miliknya di cium oleh lelaki lain. Melihat Chen yang tidak juga menghentikan serangannya terhadap Luhan, Xiumin berusaha melerai mereka berdua. Tubuhnya yang mungil berusaha menarik tubuh besar Chen agar dia tidak lagi menyerang Luhan secara membabi buta.
"Lepaskan aku hyung" ronta Chen
"Aku tidak akan melepaskanmu Chen. Apakah kau gila Chen? Kau hampir saja membunuh Luhan."
"AKU MEMANG INGIN MEMBUNUHNYA KARENA DIA TELAH BERANI MENCIUMMU KIM MINSEOK."
Xiumin terpaku di tempatnya mendengar bentakan dari Chen. Dia tidak menyangka jika Chen yang biasanya bersikap kekanakan dan humoris bisa berubah semengerikan ini. Nafas Chen masih terengah – engah dan pandangan yang masih menatap tajam kepada Luhan yang tergeletak tak berdaya dengan luka lebam di hampir sekujur tubuhnya. Xiumin mengetahui jika Chen masih memendam amarahnya kepada Luhan.
"Bawa aku pergi dari sini hyung. Aku akan membunuhnya jika kau masih membiarkanku di sini bersama bajingan itu." ucap Chen dengan nafas memburu menahan amarah. Xiumin kaget mendengar perkataan Chen. Xiumin hendak memprotes kepada Chen namun dia mengurungkan niatnya melihat pandangan menusuk dari Chen. Dan Xiumin menyadari bahwa apa yang diucapkan tadi tidak main – main. Xiumin mengenggam lengan Chen dan membawanya pergi meninggalkan Luhan yang tergeletak tak berdaya. Luhan hanya bisa melihat kepergian mereka dengan tatapan sendu. Sakit di sekujur badan Luhan tidak sebanding dengan sakit hatinya melihat Xiumin pergi dengan namja lain. Luhan memejamkan kedua matanya dan di saat bersamaan airmata telah membasahi wajahnya. Xiumin menoleh ke belakang untuk menatap Luhan. Dia menahan tangisnya saat melihat keadaan Luhan yang mengenaskan dan dia tidak bisa berbuat apa – apa untuk membantu Luhan saat ini.
Mianhae Luhan
.
.
.
.
.
.
Saat ini Xiumin tengah mengobati luka yang terdapat di sudut bibir Chen. Meskipun tadi Chen memukul Luhan secara membabi buta namun Luhan sesekali membalas dan pukulannya membuat sudut bibir Chen sobek. Dengan hati – hati Xiumin membersihkan luka di sudut bibir Chen sedangkan yang diobati hanya dapat mengamati wajah Xiumin dengan mata yang tidak berkedip sekalipun. Merasa jengkel karena ditatap begitu intens oleh Chen, Xiumin dengan sengaja menekan luka di sudut bibir Chen.
"ADDDUHHHHHHHH HYUNGIE KENAPA KAU MENEKAN LUKAKU? AISH INI SAKIT HYUNGIE. BAGAIMANA JIKA WAJAHKU TIDAK TAMPAN LAGI?" teriak Chen mengelegar di kamar Xiumin.
"Kau itu berlebihan sekali muka onta. Lagipula siapa orang yang berbohong mengatakan kau tampan? Habis aku risih dari tadi kau pandangi terus."kata Xiumin.
"Aku ini tampan hyungie sampai – sampai kau saja salah tingkah saat ku pandangi seperti tadi. Kenapa kau malu hyungie jika kau ku pandangi seperti itu?" goda Chen sambil menaik turunkan alisnya bermaksud untuk menggoda Xiumin. Dan Xiumin bersumpah pada saat itu Chen menjadi orang yang paling menyebalkan yang pernah dia kenal.
"Aish berhentilah menjadi orang yang sangat menyebalkan muka onta. Kalau kau menggodaku lagi akan ku usir kau dari rumahku."
"Baik – baik aku mengalah tapi jangan usir aku dari rumahmu ya. Aku masih ingin berada di sini."
"Baiklah terserah kau saja."
Suasana hening menyelimuti mereka berdua tidak ada lagi percakapan atau makian yang terlontar dari mulut keduanya. Jika biasanya makian selalu terlontar dari mulut Xiumin saat bertemu dengan Chen berbeda dengan kali ini. Rasa canggung meliputi benak Xiumin, dia masih tidak menyangka bahwa Chen yang biasanya selalu tersenyum seperti orang idiot dapat menjadi seliar dan semerikan itu jika sedang marah. Bisa dibilang sekarang Xiumin merasa sedikit takut berada di dekat Chen setelah dia mengetahui dengan mata kepala sendiri bagaimana mengerikannya Chen pada saat dia sedang marah.
"Kumohon hyung jangan takut kepadaku." ucap Chen tiba – tiba memecah keheningan di kamar Xiumin.
"Mwo? Me… memangnya siapa yang takut kepadamu muka onta?"
"Semua dapat kulihat dengan jelas melalui ekspresi dan gesture tubuhmu bahwa kau saat ini takut kepadaku. Pegang janjiku hyung jika mulai saat ini aku tidak akan pernah menyakitimu. Bunuhlah aku jika aku melanggar janjiku. "
Xiumin terpaku di tempatnya saat mendengar janji yang telah diungkapkan Chen dengan begitu tegas tanpa terbantahkan sekalipun. Apakah yang diucapkan Chen tadi tulus dari hatinya? Itulah pertanyaan yang muncul di benak Xiumin saat ini. Tangan Chen saat ini menggenggam erat tangan Xiumin, meremasnya pelan meyakinkan Xiumin jika apa yang diucapkannya tulus dari dalam hati.
"Percayalah kepadaku hyungie. Karena aku mencintaimu maka aku tidak akan pernah membuatmu terluka dan ketakutan lagi. Aku berjanji bahwa hari ini adalah hari terakhir aku membuatmu ketakutan seperti ini. Jadi kumohon jangan takut kepadaku. Kau tahu hyungie melihat raut wajahmu yang menatapku penuh ketakutan membuatku terluka." Jelas Chen lalu mengecup kening Xiumin lama untuk menyalurkan segala rasa cintanya kepada pemuda yang lebih tua itu. Xiumin sendiri tidak berusaha menolak pada saat Chen mencium keningnya. Dia bisa merasakan perasaan tulus Chen jika dia tidak akan menyakitinya dan membuatnya takut kembali. Dengan perlahan Xiumin menutup kedua netranya menikmati perlakuan lembut yang Chen berikan kepadanya. Xiumin sudah memutuskan satu hal bahwa dia mulai percaya dengan Chen. Dengan perlahan Chen melepaskan ciumannya kemudian mengelus pipi namja yang dicintainya lembut menyebabkan Xiumin membuka kedua kelopak matanya. Nafas Chen tercekat melihat betapa cantiknya Xiumin dari jarak sedekat ini. Padahal tadi Xiumin hanya membuka matanya secara perlahan, sebuah tindakan sederhana yang sanggup membuat Chen menggila.
"Baiklah mulai sekarang aku akan mempercayaimu Chen."
"Gomawo hyunggie"
Chen membawa Xiumin ke dalam dekapan hangatnya. Sungguh dia sangat berbahagia saat ini karena orang yang sangat dicintainya mulai menaruh kepercayaan kepadanya. Dipeluknya Xiumin erat untuk menyiratkan rasa terima kasih yang teramat dalam karena kepercayaan yang diberikan Xiumin.
Pelukan mereka terhenti karena ada seseorang yang mengetuk pintu rumah Xiumin. Sebagai pemilik rumah, Xiumin membukakan pintu untuk mempersilahkan tamu masuk. Dia bertanya – tanya siapa yang saat ini berkunjung ke rumahnya. Xiumin tidak memiliki banyak teman yang pernah di ajak main ke rumahnya. Bisa dipastikan bahwa yang datang bertamu saat ini bukanlah teman Xiumin. Xiumin membuka pintu rumahnya dan memandang heran sosok yeoja paruh baya yang berdiri di depan rumahnya. Yeoja itu sangat cantik meskipun usianya sudah tidak lagi muda. Memakai dress keluaran terbaru dari desainer ternama yang hanya bisa Xiumin lihat dari layar televisi membuktikan bahwa wanita di hadapannya ini merupakan keluarga kaya. Ditambah lagi sebuah pemandangan kontras yang terdapat di halaman rumah Xiumin dimana terdapat mobil Ferari terbaru yang terparkir disana. Namja itu begitu yakin jika dia tidak mengenal dan belum pernah bertemu dengan wanita cantik di depannya. Hal itu membuat Xiumin bingung, untuk apa yeoja itu datang ke rumahnya?
"Permisi ahjumma, ada yang bisa saya bantu?" tanya Xiumin ramah kepada wanita di hadapannya.
"Apakah uri Jongdae ada di sini?" tanya wanita itu dengan tatapan penuh intimidasi yang membuat siapapun menciut nyalinya.
"Ah anda ibunya Chen? Silahkan masuk Chen berada di dalam sedang istirahat karena dia sedang sakit Nyonya."
Belum sempat Xiumin membuka lebar pintu rumahnya untuk mempersilahkan masuk, Nyonya Kim sudah terlebih dahulu menerobos masuk ke dalam rumah dan menghampiri anaknya yang masih terbaring lemas di ranjang Xiumin. Namja mungil tersebut hanya bisa menghela nafas, dia memaklumi jika sebagian besar orang – orang kaya suka seenaknya sendiri dalam bertindak. Sebelum masuk ke kamarnya, dia berbelok arah menuju ke dapur untuk membuat minuman kepada Nyonya Kim. Meskipun Xiumin masih kesal karena sikap seenaknya (menurut Xiumin) Nyonya Kim dia tetap harus menjamu tamu dengan baik (tidak peduli apakah tamu itu orang yang menyebalkan atau tidak). Dengan membawa nampan yang berisi minuman dan makanan ringan dia berjalan menuju ke kamarnya menemui Chen dan ibunya.
Dapat dilihat bahwa Nyonya Kim sangat menghawatirkan keadaan anaknya saat ini. Dengan penuh perhatian, ibu Chen mengusap peluh yang keluar dari tubuh anaknya. Xiumin tersenyum tipis melihat pemandangan di depannya dimana Chen terlihat mengomel karena malu diperlakukan seperti anak kecil oleh ibunya. Sedangkan ibunya tidak memperdulikan protesan dari anaknya dan tetap melanjutkan kegiatannya. Melihat kebersamaan di antara ibu dan anak membuat Xiumin merindukan kedua orang tuanya yang berada di surga sana. Setetes tiquid asin meluncur bebas dari wajah bulat Xiumin. Saat ini dia sangat merindukan kedua orang tuanya terutama ibunya. Segera Xiumin menghapus airmatanya saat Chen memanggil namanya.
"Hyungie kemarilah perkenalkan ini ibuku, namanya Kim Seul Bi."
"Anyyeong hasseyo ahjumma noneun Kim Minseok imnida. Tetapi biasanya orang – orang memanggilku Xiumin. Senang berkenalan dengan anda Nyonya Kim."
"Bagaimana kau bisa berteman dengan anakku?"
"Aku adalah sunbae Chen di sekolah Nyonya."
"Kau pasti siswa penerima beasiswa. Karena setahuku sebagian besar siswa XOXO High School adalah anak – anak dari kalangan atas dan tidak sembarang orang kaya yang bisa masuk ke sana. Dan meihat keadaanmu yang dari kalangan bawah pasti kau hanya siswa yang mengandalkan beasiswa untuk bersekolah di XOXO High School."
Xiumin merasakan sebuah hantaman yang tak kasat mata menimpa dadanya. Rasa sesak membuncah di dadanya mendengar perkataan ibunya Chen yang membuat harga dirinya terperosok ke dalam jurang yang paling dalam. Meskipun sudah ribuan kali dia menerima hujatan seperti itu namun tetap saja hatinya akan merasa remuk ketika semua hinaan itu di tujukan kepadanya.
"EOMMA KENAPA KAU MENGATAKAN HAL SEPERTI ITU?"
"Kenapa kau berteriak kepada eomma? Apakah ada yang salah dari perkataan eomma? Bukankah apa yang eomma katakan merupakan kenyataan Chennie."
"TAPI KAU MENYAKITI HATI ORANG YANG KU CINTAI EOMMA. Sekarang Chen meminta eomma meminta maaf karena telah menghina Xiumin hyung"
Perkataan yang terlontar dari Chen membuat dua orang yang berada di ruangan tersebut membelalakkan matanya kaget. Terlebih bagi yeoja paruh baya itu, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan buah hatinya.
"Apa yang kau katakan Kim Jongdae? Kau pasti sedang bercanda kan?"
"Tidak eomma aku tidak bercanda. Aku sangat mencintai Xiumin hyung eomma. Dan aku mohon kepada eomma berhenti untuk menyakitinya lagi. Karena aku tidak akan membiarkan kejadian seperti ini terulang kembali."
"Berhenti menemuinya lagi Chen. Kau pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik dari dia. Eomma tidak suka jika kau mencintai namja miskin itu. Keluarga kita merupakan keluarga terpandang di Korea. Reputasi keluarga kita akan hancur jika kau masih saja berhubungan dengan namja itu." Seul Bi berjalan dengan angkuh ke arah Xiumin yang diam mematung dengan tubuh yang bergetar hebat lalu menampar keras pipi Xiumin. Sontak airmata yang selama ini ditahan Xiumin luruh begitu saja.
"EOMMA APA YANG KAU LAKUKAN?"
"Diam Chen biar eomma yang menyelesaikan semua ini. Pengawal bawa Chen pulang sekarang."
Kedua pengawal mulai mendekati Chen dan melaksanakan perintah Seul Bi untuk membawa Chen pulang. Namun Chen terus memberontak sekuat tenaga agar bisa terlepas dari kedua pengawal ibunya yang mempunyai badan besar dan kekar. Matanya memandang nanar keadaan Xiumin yang saat ini tengah menangis hebat dengan luka memar di pipinya. Chen merasa sangat bodoh karena tidak bisa menepati janjinya kepada Xiumin. Chen merasa sudah tidak mampu untuk memberontak lagi, tubuhnya sudah sangat lemas karena memang dia masih belum sembuh dari sakitnya. Melihat Chen yang tidak lagi memberontak membuat kedua pengawal itu lebih mudah membawa Chen ke dalam mobil.
"Mulai sekarang ku peringatkan kau untuk menjauhi anakku. Jika tidak kau akan mendapatkan masalah yang besar. Bisa saja aku mengusirmu dari sekolah dan rumah kumuh ini. Itu bukan hal yang mustahil untuk kulakukan Xiumin – ssi. Sebelum aku pergi aku mengucapkan terima kasih karena kau telah merawat anakku. Tidak perlu khawatir karena aku akan mengganti semua uang yang kau gunakan untuk merawat anakku selama ini. Kuharap ini terakhir kalinya kita bertemu."
Xiumin memandang nanar kepergian Kim Seul Bi. Dengan langkah gontai dia berjalan menuju ke arah ranjangnya dan membenamkan wajahnya di bantal untuk melampiaskan semua kesedihan yang dialaminya. Xiumin sudah memprediksi jika hal seperti ini pasti akan terjadi. Namun dia tidak menyangka jika hatinya akan sehancur ini. Mulai saat ini dia sudah mendoktrin pikirannya sendiri bahwa dia orang yang tidak pantas untuk dicintai oleh siapapun. Tangis Xiumin semakin menjadi tatkala dia mengingat kembali kenangan – kenangannya bersama Chen. Xiumin berpikir apa yang dikatakan oleh ibunya Chen ada benarnya juga. Dia tidak pantas untuk berteman dengan Chen. Jarak yang terbentang di antara Xiumin dan Chen terlalu jauh. Di sela tangisannya Xiumin berdoa kepada Tuhan.
Ya Tuhan bolehkah aku egois untuk kali ini saja.
.
.
.
.
.
.
Aroma obat – obatan khas rumah sakit memenuhi indera penciuman Luhan pada saat dia membuka kedua kelopak matanya. Tanpa bertanya dia pun sudah tahu jika saat ini dia berada di rumah sakit. Luhan sedikit menerang kesakitan ketika dia merasakan sakit di bagian punggungnya. Mungkin tulangnya ada yang patah, itu yang ada di benak Luhan. Suara pintu dibuka membuat Luhan memusatkan perhatian ke arah pintu dan melihat Lay tengah berjalan ke arahnya.
"Kau sudah sadar sobat?" tanya Lay
"Berapa lama aku tak sadarkan diri?"
"Hampir 7 jam kau tak sadarkan diri. Apakah sekarang kau mau menceritakan kepadaku kenapa aku bisa menemukanmu babak belur di pinggir jalan?"
Luhan mengisyaratkan agar Lay menaikkan ranjang rumah sakit untuk memudahkannya dalam bercerita. Setelah membenarkan posisi tempat tidur Luhan, Lay duduk di sebelah katil Luhan bersiap – siap untuk mendengarkan cerita dari Luhan. Luhan memejamkan netranya sejenak untuk mengingat kembali kejadian menyakitkan yang baru saja dialaminya. Sambil menghembuskan nafas dia membuka kedua matanya kembali.
"Awalnya aku bertemu dengan Cheonsa di café dekat rumah sakit ini. Cheonsa menceritakan bahwa dia mencintaiku tetapi perasaan cintanya bertepuk sebelah tangan karena aku hanya mencintai Xiumin. Cheonsa sempat tidak terima dengan keputusanku namun aku menjelaskan perasaanku yang sebenarnya kepada Xiumin dan dia menerima keputusanku. Lalu tiba – tiba Cheonsa mencium bibirku dan Xiumin melihatnya."
Raut terkejut tidak bisa disembunyikan lagi oleh Lay. Mata sipit Lay membesar saat mendengar cerita dari Luhan. Seakan mengetahui pertanyaan yang berada di benak Lay, Luhan pun melanjutkan ceritanya.
"Melihat Xiumin berlari pergi ke café itu membuatku panik. Aku berusaha keras mengejarnya dan berusaha menjelaskan yang sebenarnya kepada Xiumin. Aku mempunyai firasat yang kuat jika Xiumin akan salah paham dan firasatku terbukti. Dia salah paham kepadaku, aku berusaha meyakinkannya namun dia tetap tidak mau mendengarkanku. Sampai akhirnya emosiku memuncak dan aku akhirnya mengatakan yang sebenarnya kepada Xiumin."
"Kau mengatakan jika kau mencintainya?" tanya Lay penasaran.
"Iya dan aku mencium bibirnya untuk melampiaskan segala perasaanku kepadanya. Kau tahu Lay disaat aku menciumnya aku merasakan kebahagiaan terbesar selama aku hidup. Akhirnya aku bisa merasakan kelembutan bibir Xiumin yang selama ini hanya bisa aku impikan. Rasanya aku tidak pernah ingin melepaskan tautan di antara kami. Namun keinginanku harus pupus ketika Chen datang dan menghajarku tanpa ampun."
"Chen? Nugu?"
"Dia adalah rivalku dalam mendapatkan hati Xiumin. Dan dia adalah alasan kehancuranku saat ini. Karenanya Xiumin lebih memilih meninggalkanku yang sedang sekarat untuk pergi bersama Chen. Bisa kau bayangkan aku merasakan kebahagiaan yang teramat sangat namun tak berapa lama aku merasakan kesakitan yang membuatku lebih memilih untuk mati. Mengapa Tuhan begitu tidak adil kepadaku?"
Airmata mengalir bak sungai beraliran deras pada wajah Luhan. Dia tidak peduli meskipun terdapat Lay yang melihatnya dalam keadaan terpuruknya dan terlemahnya saat ini.
"Apa yang harus kulakukan Lay? Di satu sisi aku merasa lega karena telah mengutarakan perasaanku yang sebenarnya kepada Xiumin. Namun di sisi lain aku sangat takut jika Xiumin menghindariku karena perasaanku yang sesungguhnya. Rasa ketakutan itu mulai menghantuiku di saat aku melihat dengan mata kepalaku sendiri Xiumin lebih memilih pergi meninggalkanku demi namja lain."
Lay menepuk pelan bahu Luhan bermaksud memberikan kekuatan kepada sahabatnya yang tengah terpuruk tersebut dan berkata, "Jangan terpuruk Han. Percayalah jika ada hikmah di balik setiap kejadian yang menimpa kita. Mungkin ini cara Tuhan untuk membuatmu berusaha mengejar cintamu kepada Xiumin. Sudah cukup kau memendam perasaanmu selama 12 tahun dan saat ini saatnya kau harus membuktikan kepada Xiumin betapa besarnya rasa cintamu."
Luhan tercenung mendengarkan nasehat yang diberikan oleh Lay. Dia memikirkan apa yang dikatakan oleh Lay tadi. Apakah benar jika saat ini saatnya dia berjuang untuk mendapatkan hati Xiumin? Lamunan Luhan terhenti pada saat dia mendengar suara pintu yang diketuk oleh seseorang. Tak membutuhkan waktu lama seorang namja berpawakan mungil masuk ke dalam kamar rawat Luhan. Luhan begitu terkejut saat melihat orang yang dipikirkannya tepat berada di hadapannya. Lay yang menyadari jika keberadaannya mengganggu Luhan dan Xiumin memutuskan pergi dengan perlahan meninggalkan kedua namja yang masih saja menatap dalam satu sama lain. Seperginya Lay, Xiumin berjalan mendekat ke katil Luhan dan duduk di tempat yang ditempati Lay tadi.
"Luhan gege bagaimana keadaanmu? Apakah kau sudah merasa baikan? Apakah kau masih merasakan sakit?" tanya Xiumin berturut – turut.
Luhan tersenyum samar mendengar rentetan pertanyaan yang dilontarkan oleh Xiumin. Luhan sangat bersyukur saat ini, setidaknya ketakutannya jika Xiumin menjauhinya tidak terbukti. Xiumin masih tetap seperti dulu dan tidak berubah.
"Aku sudah merasa lebih baik Seokkie. Meskipun punggungku masih sering sakit tapi aku yakin tak membutuhkan waktu yang lama untuk sembuh total."
"Syukurlah." Xiumin mendesah lega lalu berkata "Maafkan aku gege karena pada saat itu aku tidak membantumu dan pergi menginggalkanmu begitu saja. Aku sungguh tidak habis pikir mengapa Chen begitu marah sampai – sampai memukulimu. Seharusnya Chen tidak melakukannya…"
Belum sempat Xiumin menyelesaikan perkataannya Luhan sudah terlebih dahulu menyela pembicaraannya.
"Tidak Seokkie. Chen tidak bersalah. Aku juga akan melakukan hal yang sama sepertinya saat melihat seseorang yang ku cintai di cium oleh namja lain. Bahkan aku tidak akan berpikir dua kali untuk membunuh namja yang telah berani – beraninya mencium orang yang kucintai."
Kali ini giliran Xiumin yang merasa terkejut atas perkataan Luhan. Dia bukan orang yang bodoh yang tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Luhan. Hal yang tidak disangka oleh Xiumin adalah betapa besar rasa cinta yang dimiliki oleh Luhan untuknya.
"Kenapa harus aku? Kenapa kalian memilihku untuk kalian cintai? Tidak bisakah kalian memilih yang lain? Masih banyak ribuan manusia di luar sana yang lebih pantas daripada aku."
Tangan Luhan bergerak untuk menggenggam tangan Xiumin lalu mengarahkan tangan Xiumin ke arah dadanya. Lebih tepatnya ke arah dimana jantungnya tengah berdetak tak terkendali saat ini.
"Bukan aku yang memilihmu untuk ku cintai Seokkie. Tapi disini, dia yang memilihmu. Kau bisa merasakannya bukan betapa menggilanya detakan jantungku karena dirimu Kim Minseok. Detak jantungku akan selalu tidak terkontrol jika berada di dekatmu dan itu sudah berlangsung selama lebih dari 12 tahun."
"Apa? Kau pasti bercanda? 12 tahun?"
"Tidak, aku tidak bercanda. Dari pertama kali aku bertemu denganmu, 12 tahun yang lalu hatiku sudah memilihmu untuk menjadi satu – satunya orang yang kucintai. Pada awalnya aku tidak mengerti akan perasaanku kepadamu. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan aku yang tumbuh semakin dewasa, aku semakin menyadari jika aku semakin lama semakin mencintaimu Minseok. Kau tahu betapa menderitanya aku memendam perasaan selama itu?"
Xiumin tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja diketahuinya. Bahwa selama ini Luhan mencintainya dan menganggapnya lebih dari sekedar sahabat. Detakan jantung Luhan seakan menjadi bukti perasaan Luhan yang sesungguhnya. Luhan yang sadar akan kebingungan di wajah Xiumin hanya bisa memaklumi reaksi yang diberikan Xiumin. Siapa yang tidak akan merasa bingung jika mengetahui bahwa sahabatnya sudah lama memendam rasa kepadanya. Luhan membawa tangan Xiumin ke wajahnya lalu mengecup telapak tangan Xiumin dalam seakan menegaskan perasaan yang dimiliki Luhan terhadap Xiumin.
"Bisakah kali ini kita tidak membahas ini gege? Aku sungguh bingung saat ini." kata Xiumin.
"Aku tidak memaksamu untuk menerima cintaku hari ini. Mulai sekarang aku akan berusaha merebut hatimu seutuhnya dan menjadikanmu hanya milikku Kim Minseok." Ucap Luhan tulus. Dia tidak mau memaksa Xiumin untuk menerima cintanya. Karena bagi Luhan cinta yang tulus bukan berdasarkan atas paksaan. Luhan tahu jika perjuangannya dalam mendapatkan hati Xiumin tidaklah mudah. Apalagi setelah Luhan mengetahui jika Xiumin mulai bersikap berbeda terhadap Chen. Tapi Luhan tidak akan menyerah begitu saja dalam mendapatkah hati Xiumin. Sudah cukup selama 12 tahun dia menjadi seorang pecundang. Kali ini dia akan membuktikan betapa besar rasa cintanya kepada Xiumin.
.
.
.
.
.
.
.
Suasana di kediaman Kim kali ini tidak seperti biasanya. Jika biasanya di kediaman tersebut suasana hening begitu kental, berbeda dengan hari ini. Suara teriakan dari sang pangeran keluarga Kim, Kim Jongdae menggema di rumah tersebut. Keributan terjadi di antara Nyonya pemilik rumah dengan anak tunggalnya. Penyebab pertengkaran ibu dan anak ini sebenarnya sepele. Sang ibu tidak mengijinkan anaknya pergi ke sekolah karena kondisi anaknya yang masih belum sembuh total. Sedangkan anaknya tetap kekeuh ingin berangkat sekolah hari ini.
"Ayolah eomma biarkan aku masuk sekolah." Rayu Chen kepada ibunya. Namun rayuan Chen tidak ada gunanya, ibunya masih kekeuh tidak membiarkan Chen masuk sekolah.
"Kau masih sakit chagi. Mana mungkin eomma membiarkanmu pergi ke sekolah dalam keadaan seperti ini."
"Tapi aku ingin bertemu dengan Xiumin hyung, eomma. Setelah apa yang sudah eomma perbuat kepadanya tidak mungkin aku menjauhi Xiumin hyung begitu saja."
"Kin Jongdae bisakah kau sehari saja tidak memikirkan namja miskin itu? Eomma heran apa yang sudah dilakukannya kepadamu sampai – sampai kau berubah seperti ini. Jika kau masih saja tidak menuruti perkataan eomma maka eomma akan menyingkirkan pemuda itu dari hadapanmu."
"JANGAN PERNAH BERANI MENGUSIK KEHIDUPAN XIUMIN EOMMA. Kumohon jangan menggangunya dan menyentuhnya aku akan menuruti permintaan eomma tetapi jangan ganggu Xiumin hyung."
"Baiklah eomma akan mempertimbangkan keinginanmu. Sekarang eomma akan membawamu ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi kesehatanmu."
Kim Seul Bi berjalan keluar dari kamar Chen meninggalkan sang pemilik kamar yang tengah kalut dengan pikirannya sendiri. Di benaknya hanya ada namja yang sangat dicintainya, Xiumin. Bagaimana dia bisa meninggalkan Xiumin sendiri setelah apa yang sudah di perbuat ibunya. Seharusnya saat ini dia berada di samping Xiumin menghibur belahan jiwanya yang tengah bersedih. Masih terekam dengan sangat jelas di otak Chen bagaimana ekspresi Xiumin saat dia di hina oleh ibunya. Saat mengingat ekspresi menyedihkan itu, Chen ingin segera menemui Xiumin dan memeluknya erat seraya berkata bahwa dia akan selalu berada di sampingnya apapaun yang terjadi. Namun ancaman dari ibunya membuat Chen takut. Chen sangat mengetahui sifat ibunya yang tidak pernah bermain – main dengan ucapan yang dilontarkannya. Maka dari itu dia memutuskan untuk mengalah meskipun terjadi pemberontakan di dalam hatinya. Dia melakukan hal ini semata – mata untuk kebahagiaan dan ketenangan Xiumin. Dia tidak mau jika ibunya menjadi penyebab utama kehancuran hidup Xiumin.
.
.
.
.
.
.
Chen bersama kedua orang tuanya saat ini berjalan di koridor Seoul Nasional Hospital yang merupakan salah satu rumah sakit milik kedua orang tua Chen. Mereka baru saja keluar dari ruangan dokter yang memeriksa Chen. Pada saat berjalan menuju ke tempat parkir, Chen tidak sengaja melihat Xiumin yang baru saja keluar dari sebuah kamar rawat dengan terburu – buru. Chen melihat arloji mahal yang terpasang di tangan kirinya menunjukkan pukul 4 sore. Pantas Xiumin begitu terburu – buru seperti tadi karena dia hampir saja terlambat untuk bekerja batin Chen.
"Eomma, Appa bisakah kalian menunggu di mobil sebentar. Aku ingin pergi ke toilet terlebih dahulu." Pamit Chen kepada kedua orang tuanya. Kedua orang tua Chen menuruti permintaan anaknya dengan menunggu di mobil. Chen beranjak pergi setelah dia memastikan kedua orang tuanya sudah keluar dari gedung rumah sakit. Bukannya pergi ke toilet sekarang dia tengah berjalan ke salah satu kamar rawat dimana dia melihat Xiumin keluar tadi.
Chen membuka perlahan pintu kamar rawat tersebut dan mendapati seorang namja yang terbaring lemah di katil rumah sakit memandangnya dengan tatapan heran. Chen sendiri tidak merasa terkejut, dia dari awal sudah menduga bahwa orang inilah yang dirawat oleh Xiumin.
"Bagaimana kau bisa tau jika aku dirawat di sini?" tanya namja yang berbaring tersebut kepada Chen.
"Aku tadi melihat Xiumin hyung keluar dari kamar ini. Dan aku sudah menduga bahwa kau di rawat di sini Luhan gege."
"Kau benar. Selama ini Xiumin yang merawatku."
Suasana canggung meliputi kedua pemuda tampan tersebut. Mereka berdua seperti enggan membuka obrolan yang dapat mencairkan suasana yang canggung saat ini. Tak lama Chen mempunyai inisiatif untuk memecah keheningan di antara mereka berdua.
"Mianhae gege, aku telah membuatmu sakit seperti ini. Pada saat itu aku tersulut emosi melihatmu yang mencium Xiumin hyung."
"Gwaenchana. Itu sudah terjadi dan tidak bisa di ulang kembali. Lagipula aku juga akan melakukan hal yang sama jika berada di posisimu."
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."
"Aku sudah mencintai Xiumin semenjak 12 tahun yang lalu. Dan jika aku berada di posisimu tentu saja aku akan sangat marah bahkan aku bisa saja membunuh namja yang berani menyentuh Xiumin–ku."
Tangan Chen terkepal erat ketika mendengar pengakuan dari Luhan jika dia juga mencintai Xiumin. Terlebih lagi di saat Luhan mengklaim jika Xiumin miliknya. Tidak, Xiumin hanya miliknya dan tidak ada seorang pun yang boleh memiliki Xiumin selain dirinya. Tak dapat di pungkiri jika dia merasa cemburu terhadap Luhan. Luhan sudah terlebih dahulu mengenal Xiumin selama 12 tahun bandingkan dengannya yang belum ada satu tahun mengenal Xiumin.
"Aku tidak akan pernah membiarkanmu mendekati Xiumin." ucap Chen dengan aura membunuh yang keluar dari dirinya. Namun Luhan tidak terpengaruh akan hal itu.
"Kau tahu betapa dalamnya perasaan seseorang jika selama 12 tahun dia memendamnya. Selama 12 tahun juga aku yang selalu berada di dekat Xiumin. Bisa kau bayangkan betapa terikatnya aku dengan Xiumin."
Tangan Chen yang semula mengepal erat kini berada di kerah baju rumah sakit Luhan dan menariknya kasar. Sehingga saat ini badan Luhan yang semula berbaring menjadi terangkat.
"BRENGSEK KAU. AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANMU MEREBUT XIUMIN. CAMKAN ITU BAIK – BAIK."
Luhan tersenyum meremehkan dan tentu saja hal tersebut membuat emosi Chen naik sampai ke ubun – ubun. Lalu Luhan berkata, "Bagaimana jika kita membuat kesepakatan. Kita bersaing secara sportif dalam mendapatkan Xiumin. Jika nantinya aku yang di pilih oleh Xiumin maka selamanya kau jangan menemuinya lagi, begitu pula sebaliknya. Bagaimana apakah kau setuju?"
(TBC/END)
Author Note:
Pertama – tama saya mau ngucapin
Selamat hari raya Idul Adha bagi yang merayakannya (termasuk saya)
Lalu Saengil Chukkae my beloved Kim Jongdae. Maafkan jika saya telat mengucapkannya. Sebenarnya ff ini mau di publish pada saat ulang tahun uri chen – chen tapi saya tidak ada waktu untuk mempublish kelanjutan ff ini. Jeongmal mianhae
Lalu saya juga minta maaf karena update kelanjutan cerita ini yang sangat lama. Karena sehabis lebaran saya melaksanakan KKN selama 1 bulan dan saya tidak membawa laptop. Alhasil selama itu saya tidak meulis kelanjutan cerita ini. Setelah pulang KKN saya mengalami writer block. Mohon maaf dan terima kasih kepada semua pembaca yang masih setia menunggu kelanjutan cerita ini. #bow
Saya ingin bertanya adakah di antara reader yang sudah menonton mask singer dimana Chen yang menjadi legendary guitar man? Di acara tersebut saya semakin terpesona oleh suara Chen. Dan adakah yang sependapat dengan saya jika Chen terlihat semakin imut? Lama – lama Chen terlihat lebih uke daripada Xiumin.
Saatnya membalas review di chapter 7:
winter park chanchan : ini sudah di lanjut ff nya. Ga lagi kepo dong.
ericomizaki13 : salam kenal ne. Lumin apa Chenmin di tunggu aja yaa
HappyHeichou : terima kasih untuk dukungannya terhadap tugas akhir saya. Ini ffnya udah di lanjut maaf ya jika kelanjutannya lama.
Rnine21 : Chenmin ya. Okai saya pertimbangkan dahulu hehe
97 : saya belum kepikiran tentang pair itu. peran Lay di sini hanya sebagai selingan. Tapi terima kasih banyak untuk sarannya.
firda-xmin : Sama chinggu mereka juga OTP favorit ku. Nunggu kelanjutannya ya biar tau Xiumin bakalan sama Chen atau Luhan
V3 : Di chapter ini sudah di jelaskan bukan kenapa Xiumin ga mau ada yang jatuh cinta kepadanya. Gimana udah ga penasaran lagi? Xiumin bakalan sama Chen atau Luhan? Tunggu kelanjutannya yaa
dn : Lumin. Baiklah terima kasih sarannya
auAHsaranghaeyo : ne ini udah dilanjut ffnya.
kuroshinjubaozi : ne ini udah di lanjut. Terima kasih sudah membaca ff ini.
ChenMin EX-Ochy : Wah selamat ulang tahun ya. Maaf telat ngucapinnya ini udah di lanjut ffnya.
Frozen Deer : Xiumin labil karena di perebutkan dua cowok kece hehehe. Ini ffnya sudah di lanjut.
AnaknyaChenMin : ini sudah di lanjut chinggu
Iqshof : Ne ini sudah di update. Mian ne jika terlalu lama updatenya
BaoziKim : Ne ini sudah di update. Mian ne jika terlalu lama updatenya
Sekian See you in next chap sekarang saya mau bakar – bakar sate dulu.
