Fake Love
.
.
.
.
.
.
.
.
Niat awal Taehyung menggoda Jungkook hanya untuk mengerjai kelinci manisnya saja. Namun Taehyung justru harus berakhir mencari sang kelinci manis hampir ke seluruh pernjuru dan juga setiap sudut ruangan megah itu. Tetapi sampai saat ini sang kelinci manis masih hilang entah kemana—tak dapat ia temukan.
Sementara itu Jungkook kini tengah sibuk bersembunyi dari seekor macan lapar. Ia hanya tak ingin sang macan lapar tersebut nekat menyantap dirinya di tempat publik seperti ini. Karena Jungkook tahu pasti sifat macan tersebut yang tidak akan berhenti menyantapnyasampai dirinya terpuaskan.
"Jungkook-ah"
Jungkook mengenal jelas siapa pemilik suara tersebut. Siapa lagi jika bukan sang eonnie Jeon Yoongi. Baru hendak Jungkook berbalik tiba-tiba saja ia merasakan tepukan lembut pada pundaknya. Jungkook pun menoleh melihat siapakah pelaku tepukan tadi. Mendadak kaki Jungkook terasa lemas.
Park Jimin—sekarang pemuda itu bahkan sudah berani melakukan skinship dengan dirinya walaupun disamping pemuda tersebut ada sang istri.
"Kookie-ah, tumben kau sendirian?" tanya Jimin sembari tersenyum manis dengan matanya yang kini membentuk bulan sabit.
"Ah—emm… tadi aku kehilangan Taehyung kan disini sangat ramai" dusta Jungkook.
"Kalau begitu kau ikut kami saja" ucap Yoongi yang kini sudah mengandeng tangan Jungkook. Bahkan Jungkook kini berada di antara Yoongi dan juga Jimin seperti anak mereka.
Sang pembawa acara kini tengah berada di atas panggung. Siap untuk memulai acara lelang malam ini. Sementara Jungkook tengah duduk tak nyaman, memainkan ujung dress nya. Karena saat ini ia tengah duduk di antara Sang kakak dan juga suaminya.
"Sial! Aku lupa mengambil papan lelang ku" keluh Yoongi yang kemudian bangkit berdiri dan pergi meninggalkan Jungkook hanya berdua dengan Jimin.
Jungkook mengrutuki nasib buruknya dalam hati. Sebelum tiba-tiba ia merasakan tangan Jimin tengah menyampirkan surainya ke belakang telinga.
"Kau benar-benar sangat cantik Jungkook-ah" bisik Jimin di telinga Jungkook. Dalam sekejap saja Jungkook merasakan geli. Membuat dirinya beringsut mundur menjauhi sang pemuda.
"Jimin-ssi-oppa hentikan semua ini" lirih Jungkook salah tingkah begitu merasakan tangan sang pemuda Park kini telah merengkuh pinggangnya.
"Ssshh… jangan berisik bunny nanti semua orang akan menatap ke arah kita"
Bunny merupakan panggilan sayang Jimin kepada Jungkook selama mereka berpacaran. Ia memberikan nama itu karena menurutnya Jungkook tu sangatlah menggemaskan layaknya seekor anak kelinci kecil.
"Tolong lepaskan nanti oppa nanti eonnie ku datang"
Dan tiba-tiba saja Jimin menyingkirkan tangannya dari panggang Jungkook. Buka karena keinginan Jungkook. Namun karena sang istri Park Yoongi telah kembali dengan membawa papan lelangnya.
Taehyung yang sedari tadi mencari Jungkook akhirnya menemukan sebuah titik terang. Gadis manis itu tengah duduk bersama dengan mantan pujaan hatinya dan juga suami barunya.
Langsung saja Taehyung tanpa basa-basi duduk tepat di sebelah Yoongi. Membuat Yoongi menoleh ke arah pemuda itu dan nanarnya menatap tajam.
"Darimana saja kau? Kenapa kau tadi meninggalkan Jungkook?"
Seketika Taehyung bulu kuduk Taehyung berdiri—merinding akibat tatapan mematikan seorang Park Yoongi.
"Jangan salahkan aku! Aku daritadi mencari nya namun ia lah yang tiba-tiba menghilang begitu saja"
Taehyung tengah membela dirinya lagipula bukan salahnya jika kelinci manis itu kabur. Yoongi yang merasa tak nyaman karena orang-orang menatap ke arah mereka pun memilih mengalah tidak melanjutkan perdebatan mereka.
"Jungkook sebaiknya kau duduk disebelah Taehyung saja dan jika kalian memang punya masalah selesaikan segera" bisik Yoongi yang kini tengah bertukar posisi dengan Jungkook. Sehingga Jungkook kini berada tepat disebelah Taehyung. Nanar Jungkook dapat melihat jika pemuda Kim itu tengah menyunggingkan kembali senyum miringnya. Entah apa maksud pemuda tersebut.
Yoongi saat ini sedang sibuk mengamati setiap koleksi lukisan yang di lelang di depan. Lain halnya dengan Taehyung. Kini ia sedang sibuk kembali menggoda Jungkook. Mengabaikan jika mereka masih berada di tempat umum. Jemarinya sejak tadi sibuk memainkan telinga, rambut, atau pun dagu sang gadis. Sang gadis hanya bisa menggeliat tak nyaman karena merasakan sentuhan-sentuhan tersebut.
Jimin sedari tadi hanya menatap tajam ke arah keduanya. Bisa dikatakan hatinya saat ini terbakar api cemburu akibat melihat kedekatan keduanya.
Setelah hampir 20 menit berkutat memperebutkan sebuah lukisan. Yoongi akhirnya dapat tersenyum puas karena baru saja ia berhasil memenangkan lelang dan membawa pulang lukisan The Fall of the Rebel Angels yang sudah sejak lama ia incar.
Sementara Jungkook tiba-tiba saja izin ke toilet. Sebenarnya alasan dirinya ke toilet bukan untuk buang air kecil. Namun karena ia merasakan libido nya tengah memuncak akibat sentuhan Taehyung yang sejak tadi tak ada hentinya. Ditambah dengan suara husky beratnya terus menggoda dan juga membisikan kata-kata nakal.
Semenjak bertemu dengan Taehyung kepolosan Jungkook mendadak saja hilang. Mungkin waktu itu Taehyung tidak hanya merenggut keperawanannya saja namun juga kepolosannya. Jungkook sekarang benar-benar nakal dan binal. Hanya dengan sentuhan Taehyung tadi pikirannya sudah melayang ke langit ke – 7.
Secara tiba-tiba Jungkook merasakan tangan kekar sesorang tengah memeluknya. Lalu menarik dan membawa dirinya ke sebuah pojokan sepi.
"Jimin-op…" perkataan Jungkook mendadak terpotong karena Jimin saat ini tengah membungkam dirinya dengan bibirnya. Membawa dirinya ke dalam sebuah ciuman dalam yang menuntut. Lantas Jungkook sadar jika hal di antara mereka ini seharusnya tak boleh terjadi.
Langsung saja Jungkook mendorong tubuh pemuda itu menjauh lalu berlari pergi meninggalkan Jimin sendiri.
Keduanya tidak sadar jika sedari tadi ada sepasang nanar yang tengah menonton mereka.
Setelah melarikan diri dari Jimin tadi. Jungkook kembali menemui Kim Taehyung. Orang yang bertanggung jawab untuk mengantarnya pulang ke rumah.
Tanpa sepatah kata keduanya melangkah masuk ke dalam lift. Dimana di dalam lift tersebut hanya ada mereka berdua. Begitu pintu lift tersebut tertutup langsung saja Taehyung mendorong tubuh sang gadis. Mencium dan melumat bibirnya dengan aggressive. Sementara Jungkook sebagai sang submissive menikmati dan pasrah ketika Taehyung kembali memakan bibir cherry nya.
Kedua tangan kokoh Taehyung kini bahkan mengangkat tubuh berisinya. Lalu kembali mencumbunya sebelum suara dentingan lift membubarkan aktifitas panas keduanya.
Jungkook hanya bisa berharap jika lift yang tadi ia tumpangi tidak dipasangi cctv. Karena akan sangat memalukan jika orang menontonaksi panasnya tadi.
…
Bukan pertama kalinya jika Jungkook pulang bersama Taehyung dirinya justru berakhir di dalam kamar sang pemuda. Semenjak ciuman panas keduanya tadi Taehyung hanya terdiam seribu bahasa. Tatapan datar dan dinginnya kini telah kembali. Padahal beberapa jam sebelumnya Taehyung itu begitu bersikap begitu manis. Nyaris saja membuat Jungkook terpesona.
"Layani aku!" ucap Taehyung sembari menatap datar ke arah Jungkook. Jungkook yang hanya terdiam lantas saja membuat Taehyung kesal.
"Apa kau sekarang tuli sehingga tak mendengar ucapanku?" kesal Taehyung karena sampai saat ini Jungkook tak melakukan apapun.
"A-aku tidak tahu caranya" jujur saja selama ini Jungkook tidak tahu bagaimana untuk menggoda dan melayani Taehyung seperti jalang diluar sana. Yang ia tahu selama ini tugasnya hanyalah membuka mulutnya, menungging, dan juga membuka lebar kedua kakinya saja. Taehyung lah yang akan mendominasinya.
"Sepertinya kau lebih suka dihukum"
"Sekarang tanggalkan semua pakaianmu dan berlutut"
Taehyung saat ini benar-benar dipenuhi dengan aura dominasi yang sangat menyeramkan. Ucapannya barusan seakan mutlak membuat Jungkook menanggalkan satu persatu pakaiannya hingga dress biru yang tadi ia kenakan dan juga pakaian dalamnya sudah terserak di lantai kamar.
Kemudian Jungkook pun berlutut di hadapan Taehyung. Sembari masih berusaha menutupi bagian tubuhnya yang sudah polos.
"Sekarang kebelakangkan kedua tanganmu"
Tanpa keraguan sama sekali sang submissive langsung saja menuruti perkataan sang dominan. Tiba-tiba saja Jungkook merasakan jika sebuah borgol telah melingkar pada kedua tangannya. Sehingga gerakannya tanganya kini telah terkunci.
"Puaskan milikku dengan mulut jalangmu"
Jungkook tahu apa yang Taehyung maksud. Taehyung ingin agar Jungkook mengulum penis besar itu dengan hanya menggunakan mulutnya saja. Jungkook kini berjalan dengan kedua lututnya mendekat ke arah Taehyung.
Dengan menggunakan giginya ia menarik turun reseliting celana. Sehingga milik Taehyung yang telah menegang tampak jelas tercetak di balik bungkusan boxer berwarna hitam tersebut. Taehyung pun dengan segera menurukan boxernya. Membiarkan bibir cherry itu memanjakan miliknya.
"Oh—fuck…"
Saat ini mulut mungil Jungkook tengah mengulum miliknya. Sementara sesekali lidahnya bermain mengelitik ujung kejantanannya. Menjilati lelehan cairan precum yang tertumpah keluar layaknya lelehan es krim.
Jungkook saat ini benar-benar seperti seorang jalang kecil. Siapa sangka dibalik wajah dan tingkah polosnya, ia mampu bertingkah nakal dan binal seperti ini. Sesekali manik hitam doe nya menatap ke arah Taehyung dengan tatapan sayu. Seperti memohon pada Taehyung agar sang pemuda menyemburkan cairannya tepat di wajah cantiknya.
"Oh… shhh… yes... lebih dalam kook-ah"
Gairah panas terus menguar di dalam kamar tersebut. Taehyung yang sudah tak tahan meraih kepala si kelinci manis. Membantunya memanjakan miliknya lebih cepat—lebih dalam. Hingga kini milik Taehyung yang besar itu sudah menyentuh pangkal tenggorokan Jungkook. Membuat sang gadis tercekat—kesulitan bernafas, karena milik Taehyung itu benar-benar besar. Bahkan mulut mungilnya yang sudah penuh sanggup menampung seluruh bagian benda itu.
Plop… plop… plop…
Suara kecipak basah terdengar mengalun di seluruh penjuru kamar. Sang pemuda tengah memejamkan matanya menikmati sensasi hangat, basah dan mengelitik yang tengah memanjakan miliknya. Membuat miliknya yang sudah mengeras sempurna siap untuk mencapai titik nikmatnya dan menembakan benihnya pada goa hangat itu.
"Ah—kook-ah… aku sampai"
Sang pemuda Kim menyemburkan cairan seputih susu itu ke dalam mulut mungil Jungkook. Membuat lelehan saliva yang tadi menghias bibir dan dagu sang gadis bercampur dengan mani miliknya.
Seperti biasa setiap kali cairan tersebut memenuhi mulutnya Jungkook merasa mual. Dengan segera ia ingin membuang cairan tersebut.
Taehyung kini kembali menatap datar sang gadis yang tengah menahan sesuatu di mulutnya.
"Telan" hanya satu kata yang di ucapkan Taehyung. Namun dalam sekejap kata tersebut membuat sang gadis menggeleng dengan cepat. Menolak tak ingin menelan cairan menjijikan tersebut.
Tangan Taehyung kini terulur meraih dagunya. Kemudian mengangkat dan menekan kedua pipi gembil itu dengan kuat. Membuat Jungkook dengan terpaksa menelan cairan menjijikan tersebut masuk ke dalam kerongkongannya.
Begitu Taehyung merasa sang gadis telah menelan habis cairannya. Ia pun melepaskan tangannya yang tadi mencengkram pipi sang gadis.
"Waktu bermain kita belum selesai" ujar Taehyung yang kini tengah mengambil sesuatu dari lemari putih tersebut.
Jungkook menggeleng dengan cepat begitu melihat benda itu. Taehyung saat ini tengah membawa sebuah tongkat—lebih tepatnya cambuk dengan bulu-bulu pada salah satu sisi ujungnya dan juga seutas tali yang Jungkook yakin akan digunakan oleh pemuda tersebut untuk mengikat dirinya.
Dan benar saja dugaan Jungkook kedua tangan dan kakinya kini telah terikat pada ujung ranjang dengan kuat. Kakinya yang semula rapat kini terbuka lebar. Malu — sangat Jungkook benar-benar malu harus mempertontonkan lubang kemerahannya ke depan lensa Leica. Yang kini tengah menyala dan merekam dirinya.
"Kita mulai permainannya sekarang"
Seketika Jungkook merasakan sentuhan bulu cambuk tersebut menyapu kulit mulusnya. Merambat dari bagian lutut naik menyusuri pahanya. Tubuhnya hanya bisa menggeliat tak nyaman karena terus merasakan sensasi geli. Mengigit bibirnya dengan kuat agar dirinya tak tertawa. Rasa geli yang semula ia rasakan pada paha bagian depannya kini telah berpindah. Menjalar pada bagian paha dalam yang merupakan salah satu titik sensitivenya. Tak halnya berhenti sampai disitu kini benda laknat tersebut tengah menyusuri bagian selangakangan dalamnya. Hingga tiba tepat di bagian bibir kewanitaannya.
"eunghh… emmm.."
Sensasi geli mengelitik tengah dirasakan Jungkook pada bagian selatannya yang sudah basah tak karuan. Ketika benda berbulu itu secara terus menerus bergerak menyentuh kulitnya. Saat ini kedua tangannya tengah meremas sprei dengan kuat. Melampiaskan rasa geli yang secara terus menerus bertubi-tubi menyerang dirinya. Kedua matanya kini terpejam sementara tubuhnya terus menggeliat tak nyaman. Saat ini Jeon Jingkook mati-matian menahan suara tawa keluar dari bibirnya. Karena jika Taehyung mendengar suara tawanya maka iblis itu dengan senang hati akan mengganti suara tawanya dengan tangis dan juga rintihan.
Jungkook sudah tak sanggup lagi menahan dirinya.
"Ah…hah…hahahha…hentikan…" suara tawa karena geli itu lolos dari bibir mungilnya. Taehyung pun kini tengah tersenyum miring, karena sebentar lagi permainan akan di mulai.
CTASH!
Secara tiba-tiba Jungkook merasakan perih dan panas menjalar pada kulit pahanya. Membuat dirinya meringis perih. Sementara sang pelaku kini tengah menatap tubuh telanjangnya. Seperti sedang mencari sesuatu.
CTASH!
Suara pukulan nyaring itu kembali teedengar. Taehyung kini sudah menemukan bagian tubuh mana yang ingin ia hukum. Bagian dada gadis itu cukup berisi untuk anak seusianya. Pasti kedua gundukan itu dipenuhi dengan timbunan lemak. Yang bila mana jika dipukul akan terdengar nyaring.
CTASH!
Lagi dan lagi Taehyung kembali mengangkat cambuknya tersebut. Membuat sang korban yang tadinya hanya meringis berubah merintih. Akibat sakit dan perih yang dilayangkan pelaku pada kulitnya.
"AAH-ahhh… oppa hentikan"
Kulit bagian dada, perut, paha yang semula mulus kini sudah dipenuhi dengan banyak bekas kemerahan. Bahkan saat ini bagian selatannya juga tak luput dari rasa perih.
Taehyung yang semula sedang memukul bagian sensitivenya pun berhenti. Karena ia rasa Jungkook sudah pada ambang batasnya. Suaranya yang mulanya merintih kencang kini mulai memudar. Airmata sudah jatuh membasahi pipinya akibat menahan siksaan yang sejak tadi ia berikan.
Taehyung mulai membuka satu persatu tali yang mengikat tangan dan kaki Jungkook. Membenarkan posisi tubuh sang gadis. Entah mengapa tiba-tiba naluri membuat dirinya mengecup sekujur tubuh sang gadis yang sudah di penuhi dengan bekas luka. Kemudian menutup tubuh telanjang gadis itu dengan selimut.
Jungkook yang sudah melemas tidak membalas. Saat ini ia hanya memejamkan matanya meingistirahatkan tubuhnya yang sudah sakit dan lelah.
Entah mengapa seketika Taehyung merasa bersalah apakah ia terlalu menyiksa Jungkook. Tetapi kejadian tadi pada saat di hotel kembali membuat ia berfikir jika ia memang pantas untuk menyiksa gadis itu.
Taehyung yang ingin usil menggoda Jungkook mengekori sang gadis secara diam-diam. Mencari sosok bersurai hitam itu disepanjang lorong hotel. Namun tiba-tiba saja nanarnya terkesiap begitu melihat pemandangan di depannya. Gadis yang ia cari tengah bercumbu panas dengan Jimin.
Hatinya seketika terasa sesak, sementara nafasnya memburu. Karena Taehyung merasa miliknya kembali di rebut oleh sepupunya tersebut. Rasanya ia ingin memukul pemuda bermata bulan sabit tersebut. Namun dalam sedetik rasionalnya telah kembali. Ia tidak akan pernah menyayangi Jungkook. Sampai kapanpun tidak itu hanya mainannya saja bagi dirinya. Cukup dengan Yoongi ia sakit hati, Taehyung tidak akan pernah mencintai siapapun lagi di dalam hidupnya. Sekilas ide gila melintas di kepalanya. Lebih baik ia menyiksa Jungkook dengan kejam seperti sedia kala. Agar hatinya tak jatuh cinta kepada sosok gadis itu.
Kedua hazel Taehyung kini tengah menatap kepada sosok malang yang tengah terlelap. Tangannya menyingkirkan surai hitam yang menutupi wajah cantiknya. Kemudian dengan ibu jarinya ia mengusap air mata si gadis malang yang masih tersisa. Bahkan tanpa sadar kini dirinya tengah mendekatkan wajahnya hendak mencium pipi sang gadis.
Namun tidak jadi. Taehyung tidak boleh lemah. Ia tidak boleh jatuh cinta untuk kedua kalinya. Cukup sudah ia merasakan dua kali keterpurukan dalam hidupnya.
Kemudian Taehyung membalik bandannya. Tidur memunggungi Jungkook.
Ah—mengapa malam ini sulit sekali rasanya untuk tidur. Hati, batin, dan pikirannya terus berkecamuk memikirkan hal-hal yang menurutnya tidak penting.
…
Pagi ini sosok gadis Jeon kembali terbangun. Karena tengah merasakan sakit dan perih pada sekujur tubuhnya. Dengan perlahan-lahan ia membuka kedua onyx hitamnya. Menatap langit-langit kamar yang berwarna putih tersebut, lalu mengalihkan padangannya ke kiri. Dimana ia menemukan sosok iblis yang telah membuat dirinya seperti ini.
Tidak berani mengeluh apa lagi merengek. Dengan menggunakan kedua tangannya sebagai tumpuannya. Ia pun bangkit berdiri. Namun tiba-tiba saja sosok iblis itu menarik kembali dirinya. Membawa tubuhnya yang masih polos ke dalam pelukannya. Jungkook bisa merasakan deru nafas pada tengkuknya dan juga kulit mereka saling bersentuhan saat ini.
"Kau mau kemana? Ini masih pagi" suara Husky berat Taehyung terdengar jelas di indera pendengaran Jungkook.
Jungkook hanya terdiam. Jika ditanya tentu ia marah kepada Taehyung. Yang memperlakukan dirinya semena-mena semalam.
"Mengapa hanya diam saja? Apa sekarang kau bisu?" tanya Taehyung yang dalam sekejap sudah membalik tubuh Jungkook sehingga wajah keduanya saling bertemu.
Jungkook saat ini masih diam seribu bahasa. Sementara sang pemuda yang merasa tak ada jawaban sama sekali dari lawan bicaranya. Langsung saja menyentuh bibir mungil itu dengan bibir tebalnya. Mengigit dan melumat bibir semerah cherry itu seakan hendak memakannya.
Jeon Jungkook seketika terbelalak kaget—kedua mata mata bulatnya semakin terbuka lebar. Dalam sekali dorongan sekuat tenaga ia berhasil membuat Taehyung jatuh terjungkal dari ranjangnya.
"Aw… hey gadis sialan mengapa kau mendorongku" ujarnya sembari meringis memegang pingganya.
"Salahmu kau yang tiba-tiba menciumku, membuatku kaget saja" ketus Jungkook membela dirinya.
Taehyung kemudian bangkit kembali duduk diata ranjangnya, tangannya bergerak menyentuh legan Jungkook yang kini sudah di hiasi dengan ruam kebiruan.
"Ahh… appo" ringis Jungkook begitu Taehyung menekan ruamnya.
Taehyung tetap menekan ruam kebiruan Jungkook bukan bermaksud untuk kembali menyakitinya. Ia hanya ingin ruam tersebut segera pulih karena ruam tersebut membuat dirinya kembali merasa bersalah.
…
Sudah hampir seminggu telah berlalu sejak kejadian Taehyung menyiksa dirinya malam itu. Namun sejak saat itulah sifat Taehyung berubah. Terkadang Taehyung itu dingin dan kasar. Namun terkadang ia juga bersikap hangat kepada dirinya. Jungkook sampai-sampai berfikir jika Taehyung sebenarnya menderita kepribadian ganda.
Seperti beberapa kemarin lusa, Taehyung menjemput dirinya untuk fine dining di salah satu restaurant termahal di kota Seoul. Mengajaknya melihat bintang dari gedung tinggi tersebut sembari menggodanya tentunya.
Namun kemarin Taehyung kembali bersikap dingin dan kasar. Dengan beringas menghajar dirinya diatas ranjang memperlakukan dirinya selayaknya jalang murahan.
Ah—kenapa ia sekarang jadi terus menerus memikirkan Taehyung.
Jungkook yang tengah menggelengkan kepalanya hanya mendapatkan tatapan heran dari teman sebangkunya.
"Kau baik-baik saja Kookie?" tanya gadis itu sembari menatap heran dan sedikit khawatir.
"Ah—aku tidak apa-apa kok Eunha" jawab Jungkook dengan sedikit salah tingkah.
Keduanya pun kembali memperhatikan rumus-rumus trigonometry yang tengah di jelaskan oleh Shim Ssaem.
Drttt… drttt…
Ponsel yang ia letakan pada sakunya tiba-tiba saja bergetar. Menandakan sebuah pesan masuk. Jungkook yang penasaran dengan sembunyi-sembuyin membuka ponselnya dan membaca isi pesan singkat tersebut
"Aku akan menjemputmu sepulang sekolah nanti. Jangan kemana-mana ada hal yang ingin kubicarakan"
Jungkook hanya mendesah lelah begitu membaca pesan tersebut. Kapan drama di hidupnya akan berakhir.
TBC
HOLA~~ masih ada yang nungguin ff ini?
Maafkan diriku yang baru update hehehe
Terima Kasih semua buat review dan bintangnya
