(Malam ini, Natalia harus tahu; pada jam makan malam, pada kejamnya angkasa berbadai salju: satu malam menanarnanahkan.)

delapan

...


para saljunya meredam petang,

ketidakyakinanku perlahan datang.


...

Tok! Tok! Tok! Tok! Tok!

"Hm?"

Tok! Tok! Tok! Tok! Tok!

"Kakak, ayah, ibu, aku pulang."

Ketukannya menegas, separuh geram, bercampur khawatir. Separuh jengkel, berpadukan takut.

Tok! Tok! Tok! Tok! Tok!

"A- Ayah? Ibu? Ka- Kakak? Aku- Aku pulang..."

Masih saja nihil, malam semakin larut, salju semakin deras menyelimuti.

Natalia meragu. Itu juga semakin besar.

Alfred mengernyitkan dahi, mencemaskan Natalia yang kembali ragu untuk sekadar mengetuki pintu rumah. "Apa Natalia salah alamat?" Dia bergumam kecil, bersedekap seraya menyandarkan punggung ke dinding.

"Aku tidak bisa!"

Dia berbalik, berlari di tengah badai salju. Berlawanan arah.

Alfred terkaget bukan main. "Hei! Nat- Nattie! Kau mau kemana?" Natalia menghentikan laju jalannya, jarak antara pintu rumah dan dia kembali menjadi lima puluhan meter.

"Aku- aku tidak mau kembali!"

"Tapi- Natalia! Kita sudah sampai!"

"Aku takut, Alfred, aku-"

"Hei," koper-koper Alfred lupakan sejenak, biarlah terempas ke salju.

"Nat, kita sudah perjalanan jauh dari New York ke sini. Kita sudah merencanakan semuanya, demi berbagai kemungkinan, Nattie. Termasuk kau diterima kembali atau tidak oleh mereka, kita sudah punya rencana lain.

Kita sudah jauh, kau juga. Jauh dari masa lalu itu, ayolah, mereka pasti akan mengerti."

"Nah, sekarang, ketuk pintunya. Pelan-pelan saja, ya," tuntunan Alfred memberikan nol penolakan kepada Natalia.

"Te- tetapi-"

"Tidak ada tapi-tapian atau 'bagaimana jika', Natalia," pintu kayu besar itu dipandang oleh Alfred. "Sekarang, atau sekian dekade lagi, pilih yang mana?"

Tentu saja sekarang! Mana mau aku bertemu dengan mereka belasan hingga puluhan tahun ke depan!

Natalia menghela napas. Baiklah, dia harus melakukannya. Toh, ada Alfred yang akan menenangkan dirinya barangkali jika Natalia sedih karena ditolak.

"Ayo, ketuk, ketuk." Alfred mendesak. Natalia berbalik, menatap pria pendamping hidupnya itu.

"Bagaimana jika mereka menolakku, Al?" Harap-harap cemas, jemarinya dibunyikan. Natalia ingin meratap takut.

"Hmmm..." Alfred menyilangkan kedua tangan di depan dada, bersandar pada dinding rumah bagian luar.

"Menyingkir dari sini, dan cari penginapan. Lalu bujuk lagi besok, jika ditolak ulangi besoknya lagi, besok-besoknya lagi, kapan-kapan, dan sampai kapan pun hingga mereka mau menerimamu kembali."

Mudah bagimu untuk mengatakannya, Al. Tetapi- AKU 'KAN YANG MELAKUKAN!?

Sekejap sebelum rentetan 'mahakarya seni' cabang caci-mencaci, sebagai 'hadiah' dari Natalia untuk Alfred atas kata-katanya. Alfred menyambung.

"... 'Kan sudah kukatakan aku akan ada di sini, bersamamu, seorang Natalia Arlovskaya yang tidak akan pernah aku tinggalkan, bukan?"

Alfred tersenyum penuh makna, Nattie kecilnya terlihat yakin kembali.

Baiklah, Natalia akan (mencoba) menerima, apapun resikonya, apa pun yang terjadi setelah pintu itu dibukakan, Natalia siap.

Tok! Tok! Tok! Tok! Tok!

"Ka- kakak? Ini Natalia, aku pulang." Pintu itu, Natalia ketuk lagi. Berharap-harap cemas. "Kak Katyusha? Kak Ivan? Aku pulang."

Natalia mengambil napas, lantas menahannya. Dia mulai ragu.

Tok! Tok! Tok! Tok! Tok!

Tok! Tok! Tok!-

"Sebentar," jawaban itu dari dalam rumah. Jantung Natalia berdegup semakin sering. 'Siapa?'

"A- Al..."

"Tunggu saja di situ," Alfred membenahi posisi, berdiri di belakang Natalia seraya kembali memegangi dua koper besar- di pegangannya, tentu saja.

"Siapa di luar?"

Krieeettt-

"Na- Na- Natalia?!" Itu Katyusha, yang menyambut mereka berdua di ambang pintu rumah kayu yang tinggi itu.

"Ivan! Kemari! Lihat siapa yang datang!"

Tanpa menunggu sosok seorang Ivan, Katyusha lantas memeluk Natalia, erat sekali, seraya mengusap-usap rambut perak adiknya, adik bungsunya.

"Kemana saja kau selama delapan tahun ini, Natalia? Kami- Kami merindukanmu, oh, моя маленькая сестра... ." Yekaterina menangis dalam pelukan mereka. Natalia mampu mendengar isakannya.

"Katyusha сестра, jangan menangis, aku sudah kembali." Natalia menahan sesegukannya, dia mengusap-usap punggung Yekaterina.

"Na- Natalia...!"

Kakaknya; Ivan Braginsky. Datang, masih dengan pakaian berburu- lengkap dengan jubah dan topi dari kulit rusa kutub, dan senjata api laras panjang di tangan, sesaat kemudian dijatuhkan.

"Kakak!" Ivan menerima hamburan Natalia pada peluknya, mendekap wanita itu erat. "Oh, моя lil сестра... Aku rindu denganmu, da. Kau... tidak akan memintaku untuk mengawinimu lagi, 'kan?"

Di luar dugaan, ketika Ivan jelas ingin melepas peluknya dengan Natalia dan menghindar, adiknya itu justru terkikik seraya menutup mulutnya.

"Tentu saja tidak, моя старший брат aku- aku ini sudah-"

Brrrrrrrrrr...!

"Eh?"

Ivan mengangkat kepala, melihat ke luar. Astaga, Ada Alfred yang duduk seraya memeluk koper. Menggigil kedinginan di luar, dengan jarak sekitar lima langkah dari Natalia.

"Astaga, masuklah kalian berdua, da! Di luar masih badai salju!"

...

...

...

Namun sayangnya, ya...

Malam hari ini,

... dinginnya melampaui badai salju

jauh melegami nyawa berbalut raga.

.

Dinginnya,

... menusuki tubuhku hingga belulang.

.

Gigilnya,

... mematikan perasa demi rasaku.

.

Senyap dan sepinya,

... membantaibunuhi aku seumur nyawa,

... setelah laluan shehrazat mautnya.

.

Aku selalu di sini, untukmu.

Tysiača i adna noč...,

... Tysiača i adna noč

... TYSIAČA I ADNA NOČ!

...

...

...

...

...

"Aku ini sudah menikah dengan Alfred, kakak, pria yang bersamaku tadi. Nama lengkapnya-"

"JADI KAU INI SUDAH MENIKAH, HAH!? MENGAPA TIDAK CERITA ATAU MENGIRIMKAN KABAR!? JAHAT SEKALI KAU INI!"

"Ivan, моя младший брат! Sabar, sabaaar! Ingatlah kalau kita dan Natalia-"

"APA!? AKU TERLALU KEJAM, MOYA SESTRA YEKATERINA BRAGINSKAYA!?"

...

...

...

Sementara Ivan mempersiapkan kamar untuk Natalia dan Alfred, Yekaterina, kakak tertua; menemani kedua insan sebagaimana pasangan suami-istri kurang bulan madu itu mengisi perut mereka di ruang makan.

Sambil makan, Natalia menatap sekeliling, rumah ini sudah jauh lebih besar dari sejak dia pergi delapan tahun lalu.

Dulu hanya bertingkat dua, itu pun yang digunakan hanya lantai satu, lantai kedua hanya untuk menyimpan barang-barang usang.

Sekarang, ada tiga tingkat, dan semuanya dipergunakan sebagaimana mestinya. "Kakak-kakakku, dan kedua orang tuaku, mereka berempat memang sangat mengagumkan," gumam Natalia, pelan, bahkan Alfred yang ada di sampingnya tidak mendengar.

...

Denting peralatan makanan sesekali terdengar.

"Natalia сестра... ."

"Hm?" Dia merespons, mengangkat kepala. Yekaterina; yang telah selesai dengan makan malamnya, menginterupsi sejenak.

"Aku ingin menceritakan sesuatu kepadamu. Mau didengarkan nanti atau sekarang saja, Nat?"

Natalia kesulitan menelan cepat, lantas meneguk air dalam gelasnya. "Sekarang saja, kak, selagi aku masih sadar," jawaban Natalia tidak sembarang jawaban asal-asalan.

"Dan kau, err..."

"Alfred Freedom Jones, Anda dapat memanggilku dengan dua nama; dengan 'Alfred' atau 'Freedom' saja." mulut Alfred masih penuh.

"Oh, baik, ehm... Jadi, Natalia dan Alfred, ada sesuatu..." Yekaterina mengetuki meja pelan, menyusuni kata.

"... ada sesuatu, yang harus kalian ketahui. Segera. Tentang sejarah yang terselubung dan tidak kau- maksudku kalian... Err, sejarah yang terselubung, di balik rumah yang tampak megah. Ini."

Terbata-bata, eh? Mengapa bicaraku jadi aneh? Mengapa mataku ingin kembali menangis?'

Yekaterina mengembuskan napas lelah. "Ada sebuah kejadian kelam yang tidak kau ketahui, Natalia Arlovskaya, ya, aku dan Ivan adalah salah satu korbannya," Yekaterina menggigit bibir bawah, dia mulai berkeringat dingin.

Ini berat, namun... Baiklah. Yekaterina akan membukakan 'dinding' itu kepada adik bungsunya, yang telah bersuami lebih dulu dari Yekaterina sendiri dan Ivan.

"Ini adalah sesuatu yang harus kauketahui."

Bagaimana pun, adik bungsunya harus tahu.

"Eh?"

Natalia tertegun, sejenak, sebelum menyendokkan kembali makanan di piring.

"Rumah ini, empat tahun yang lalu, dua tahun setelah kepergianmu dari rumah, menjadi tempat dimana kami berdua bisa berlindung, Natalia, sekaligus menjadi tempat yang paling kami benci, di saat yang bersamaan.

"Di depan mata kami, aku dan Ivan maksudnya, pada peristiwa empat tahun lalu, ada penyerangan besar-besaran di kota Moskow..."

"Uhk!" Natalia hampir tersedak minumannya, sementara Alfred berhenti mengunyah makanannya, menelan takut-takut.

"W- w- what...? Apakah..." Alfred bertemu pandang dengan Natalia, sama terkejutnya. "... Apakai itu benar adanya?" sambung Alfred, dia membenahi posisi duduk, menyeriuskan diri demi mendengarkan ucapan Yekaterina barusan.

"Yes, and Да. Hal itu benar, Alfred, rumah ini jadi tempat terfavoritku dan Ivan, sekaligus tempat yang kami berdua benci di saat yang bersamaan."

Apa? Rumah ini menjadi tempat yang kak Katyusha dan kak Ivan benci?

"Lantas, di mana ayah dan ibu sekarang, kakak?"

Yekaterina mengeluarkan bungkusan berukuran sedang (oh, sesuatu yang sedari tadi Yekaterina sembunyikan, dengan kecamuk ragu), dan mendorongnya perlahan kepada Natalia.

"Apa ini?"

"Buka."

...


Malam itu, Natalia dan Alfred; aku dan dia, membacatampaki kembali tapak-tapak perjalanan masa lalu yang menguzur bersama kefanaan masa.

Uzuran penjembatan dilewati, diterjang, diarungdarati.

Dia dan aku, mengetahui, tidak seratus persen, namun mengetahui kejadian malam lima-enam tahun yang lalu itu adalah hal terakhir yang ingin kuketahui.

...


finished chapter VIII.


INDONESIAN KARA


...

terjemahan:

1.) сестра ( /) = saudari; adik, kakak (perempuan).

2.) да (/da/) = ya, iya.

3.) моя ( /) = aku, ku.

4.) маленькая ( . /) = kecil; muda.

[contoh: Моя маленкая сестра = adik (perempuan) kecilku.]

5.) старший брат ( - brat/) = kakak (laki-laki).

[contoh: моя старший брат = kakak (laki-laki)ku.]


...


Hetalia - Axis Powers (c) Himaruya Hidekazu.

T or R-14,5. Romance, Drama. INDONESIAN (Bahasa Indonesia). AU, OC, OOC, tragedy, etc...

.