Setelah libur panjang selama sepuluh hari cuti dari kegiatan kantor dan pergi berlibur di kampung akhirnya saya kembali dengan perasaan belum puas dengan libur *plak*. Sepertinya libur sepuluh hari sudah membuat saya menjadi malas dalam hal apapun. Hehehehe….
So, ini chapter terbaru dari Three Heart One Love. Disini Ichigo akan dipisahkan lagi dengan Rukia. Sebenarnya di chapter ini dan chapter mendatang akan ada banyak pesakitan yang dialami baik Ichigo maupun Rukia, semoga saja saya bisa mewujudkan pesakitan itu XD.
Sekali lagi selamat menikmati chapter terbaru ini dan semoga puas dengan jalan ceritanya.
Special thank you buat , Naruzhea AiChi, beby-chan, Tsuguri De Lelouch, hirumaakarikurosakikuchikiza ki, Rizuki Aquafanz, Ray Kousen7, miku, Kinkyo Sou, poppukoo, Wakamiya Hikaru, guest, cim-jee, Kken RukIno, Mey Hanazaki, gui gui M.I.T, Dhiya Chan, MizunoHikari, faridaanggra, Eghiserelaa, Greeshe-Rizka Dian Puspita.
Tetap review yah untuk chapter mendatang, baik itu login maupun non login makasih banyak karena sudah me-review ^^
.
.
.
Disclaimer : Bleach bukan punya saya. Walaupun sudah susah payah minta di Kubo-sensei tetep gak dikasih
Summary : Kurosaki Ichigo, Rukia Kuchiki dan Sosuke Senna adalah teman sejak kecil. Setelah berpisah, Ichigo berjanji akan kembali pada mereka. Ichigo dari kecil sudah menyukai Senna. Bagaimana jika selama ini Ichigo dibohongi? Apakah perasaannya pada Senna akan tetap bertahan sedangkan perasaannya semakin mengarah kepada Rukia?
Genre : Romance, Hurt/Comfort
Pairing : IchiRuki slight IchiSenna
Rated : T
Warning : AU, OOC, gak bisa lepas dari Typo. Don't Like Don't Read. Bagi yang tidak suka dengan IchiRuki, menjauh sesegera mungkin. Yang tidak suka dengan plot cerita ini, silahkan menjauh.
.
.
.
Enjoy this chapter
.
.
Bunyi dering handphone nya yang menandakan panggilan masuk membangunkan Rukia. Rukia mencoba mengabaikan panggilan yang membuat telinganya frustasi, namun tetap saja nada deringnya sungguh menganggu. Dan satu-satunya cara adalah mengangkatnya.
"Moshi-moshi…."
"Rukia! Lama sekali mengangkatnya,"
"Senna!" mata Rukia yang semula masih terpejam kini terbuka lebar saat mengetahui suara diseberang sana adalah suara Senna. Namun tiba-tiba saja Rukia kembali memasang wajah cemberut "Kau! Kau menelepon jam segini. Tahu tidak ini masih jam dua belas malam. Aku sedang bermimpi indah dan kau menghancurkannya,"
"Ahaha…gomen ne, Rukia. Aku lupa kalau disana masih tengah malam," Senna tertawa kikuk diseberang sana.
"Sudahlah. Lagipula aku bisa melanjutkan mimpiku setelah ini," jawab Rukia tersenyum. Lama mereka berdua berdiam diri. Ini komunikasi pertama mereka setelah Senna mengalami kecelakaan tiga hari yang lalu. Senna ingin bicara dengannya, namun bingung harus mengatakan apa. Sedangkan Rukia bingung apakah ia masih bisa menanyakan keadaan Senna.
Rukia memecah keheningan. "Jadi bagaimana keadaanmu? Kau tahu maksudku, Senna. Jangan membuatku memperjelas apa maksudku,"
"Aku? Aku baik-baik saja, Rukia. Kakiku memang terluka parah dan terancam di amputasi, tapi syukurlah hal itu tidak terjadi. Sesaat kakiku tidak mau bergerak menuruti perintahku, namun tiga hari cukup untuk membuat kakiku kembali bergerak. Saat kakiku tidak mau bergerak, aku berbicara pada kakiku. Kau mau tahu apa kataku?"
"Apa katamu?" tanya Rukia ingin tahu walaupun Rukia bisa tahu Senna pasti mengatakan hal konyol seperti biasa.
"Aku mengatakan 'Hei, kakiku. Kau harus sembuh. Jangan sampai aku menyuruh dokter mengangkatmu dari tubuhku. Maafkan aku karena gara-gara aku, kau dan aku tidak bisa mengikuti kompetisi dance. Satu impian kita berdua sudah hilang. Jadi, sekarang bergeraklah. Karena aku harus baik-baik saja saat bertemu dengan semuanya, terlebih Ichigo'. Aku mengatakan itu. Dan kakiku paginya langsung mau bergerak. Jadi sampai sekarang aku masih mengikuti terapi agar kakiku bergerak sempurna.
Rukia terdiam. Saat sakit seperti inipun, Senna mempunyai semangat untuk sembuh karena Ichigo. itu sudah membuktikan bahwa Senna memang tidak main-main pada Ichigo. Senna memang mencintai Ichigo.
"Aku merindukan Ichigo, Rukia," perkataan Senna membuat Rukia membeku di atas ranjangnya.
"Jadi, apa kau sudah menghubunginya?" tanya Rukia dan membuat suara terdengar tenang meski tubuhnya tidak setenang itu.
"Ichigo bahkan tidak menghubungiku selama aku disini. Sesaat aku berharap ia datang bersama ayah," jawab Senna kelihatan menggerutu.
"Ichigo sangat sibuk. Kau tahu, paman Isshin sudah menyuruh Ichigo mengambil alih perusahaan mereka disini. Jadi Ichigo terpaksa mengikuti kelas percepatan di kampus agar tahun depan ia bisa lulus," jawab Rukia.
"Itu berarti Ichigo tidak satu kelas lagi denganmu?"
"Yup. Dia tidak lagi sekelas denganku. Aku tidak akan melihatnya lagi dan tidak akan berhubungan dengannya lagi,"
"Apa maksudmu, Rukia?" tanya Senna menganggap jawaban Rukia sungguh aneh.
Menyadari kebodohannya, Rukia cepat-cepat menjawab "Ah…tidak apa-apa. Jadi kapan kau akan pulang?"
"Hari minggu. Tepat empat hari lagi,"
"Aku akan menjemputmu,"
"Tentu kau harus menjemputku, Rukia. Emmm, baiklah. Kau lanjutkan saja tidurmu, dan sambung lagi mimpimu tadi," Senna terkekeh di seberang.
"Tidak akan bisa disambung, baka!" maki Rukia ikut terkekeh. "Cobalah menelpon Ichigo dan katakan kau baik-baik saja," saran Rukia.
"Baiklah akan aku coba. Oyasumi, Rukia," setelah mengucapkan itu, Senna menutup telponnya.
Rukia tersenyum miris. "Setidaknya itu langkah pertamaku untuk mengembalikanmu pada Senna, Ichigo,"
.
.
.
Sementara dikamarnya, Ichigo mengerang pelan karena bunyi dering yang menganggu. Diliriknya jam. Jam satu pagi. Hei, siapa yang gila menelponnya malam-malam begini. Dulu biasanya senpainya yang selalu menganggunya, tapi kali ini tidak mungkin karena senpainya sudah ada di Jepang. Ichigo berniat siapapun yang menelponnya akan ia maki.
"Moshi-moshi! Siapa?"
"Kasar sekali," jawab yang diseberang sana.
"Se…Senna," Ichigo menghenyakkan kepalanya lebih dalam di bantal putihnya. Ia tidak menyangka Senna akan menelponnya. Dan jujur saja ia belum siap bicara dengan Senna.
"Apa kabar, Ichigo,"
"Baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Kakimu?"
"Baik-baik saja. Aku sudah bisa berjalan hanya dengan mengingatmu. Dan kakiku tidak separah yang dikabarkan" jawab Senna diseberang sana. Ichigo memejamkan matanya sesaat mendengar pengakuan Senna.
"Ah…benarkah?"
"Kau sama sekali tidak menelponku, Ichigo," keluh Senna.
"Gomen. Sekarang jadwal kuliahku sangat padat jadi aku tidak bisa menghubungimu," jawab Ichigo tidak sepenuhnya jujur. Bagaimana mungkin ia bisa menghubungi Senna, disaat hatinya sedang berbunga karena bisa bersama Rukia. Dan bagaimana bisa ia menghubungi Senna saat semuanya sudah berantakan seperti sekarang.
"Aku sudah tahu dari Rukia. Jangan berpikir aku akan marah padamu. Jadi, aku sangat merindukanmu, Ichigo. Bagaimana denganmu?"
Ichigo tidak menjawab. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Bohong atau jujur?
"Kau menanyakan hal yang tidak perlu," akhirnya Ichigo menjawab seperlunya.
"Dasar tidak romantis. Apa salah jika aku menanyakan hal itu pada kekasihku? Kau saja yang tidak peka," Senna mengeluh dan Ichigo mendengarnya menghela nafas.
Ichigo tersenyum miris. Terbuai dengan kebersamaanya dengan Rukia membuatnya lupa akan satu hal. Senna masih kekasihnya. Itu faktanya. Dan Rukia juga kekasihnya selama belum ada keputusan putus. Setidaknya itu menurut Ichigo. Jadi sekarang ia sudah mempunyai dua kekasih. Terkesan playboy? Ia tidak tahu jawabannya.
"Ichigo?" panggil Senna membuat Ichigo tersadar.
"Ya?"
"Kau tidak mendengarku. Ada apa?"
"Aku hanya mengantuk. Jadi, kapan kau pulang?" tanya Ichigo sengaja mengalihkan pembicaraan agar Senna tidak menanyainya macam-macam lagi.
"Hari minggu. Datanglah menjemputku dengan semuanya,"
"Tentu saja,"
"Jadi, sekarang tidurlah. Maaf sudah mengganggumu malam-malam seperti ini. Harusnya besaok pagi saja. Harusnya aku juga tidak mengikuti saran Rukia untuk menelponmu. Lagipula aku memang merindukanmu,"
Ichigo melebarkan matanya. Siapa tadi yang Senna sebut? Rukia?
"Siapa yang menyuruhmu untuk menelponku, Senna?"
"Rukia," jawab Senna polos.
"Aku akan menutup telponnya, Senna. Aku mengantuk," ujar Ichigo dan langsung menutup sambungannya dengan Senna. Ia tidak peduli dengan anggapan Senna karena ia langsung mematikan handphonenya dengan tidak sopan.
"Sial! Apa sebenarnya maumu, Rukia? Kau benar-benar mau menyerahkanku pada Senna?" tanpa sadar tangannya mengepal dan meremas selimut yang tidak bersalah. Ia benci dengan tindakan Rukia yang jelas-jelas sudah menyerah dengan hubungan mereka. Ia benci hal ini.
.
.
.
Ichigo menjambak rambutnya frustasi. Sudah seminggu Rukia lagi-lagi menghindarinya dan tidak ingin bertemu dengannya. Rukia begitu lihai menghindarinya. Saat terakhir Ichigo bicara dengan Rukia adalah seminggu yang lalu saat mereka mendebatkan masalah hubungan mereka setelah Senna mengalami kecelakaan. Ichigo kelewat emosi dan membentak Rukia. Namun, Ichigo yakin Rukia menghindarinya bukan karena ia merasa tersinggung setelah dibentak olehnya, yang lebih buruk lagi Rukia memang menghindarinya karena Senna.
Dan hari ini hari kepulangan Senna dan ia punya firasat buruk dengan kepulangan Senna. Rukia akan menjauhinya bahkan lebih dari sebelumnya dan lagi Ichigo mempunyai firasat bahwa Rukia akan memutuskan hubungan mereka secara sepihak.
"Arghhhh!" dan bantal tidak berdosa yang sudah terkapar di lantai kamarnya menjadi sasaran emosi Ichigo.
.
.
.
Jauh dilubuk hatinya ia ingin sekali saja egois dan tetap bersama orang yang dicintainya, namun keinginan hatinya selalu kalah dengan rasa sayangnya pada Senna. Apa tidak mempunyai saudara membuatnya seperti ini? Atau memang sudah sifat alami Kuchiki Rukia yang seperti ini? Terlalu sabar, tabah dan mengalah.
Sejak kecil ia tidak pernah merebut apapun yang Senna inginkan. Walaupun itu miliknya ia akan dengan senang hati memberinya asalkan Senna terlihat bahagia. Buku, boneka, aksesoris, PR maupun ibunya ia rela membaginya pada Senna. Selama ini ia terlihat baik-baik saja dalam hal membagi. Kali ini justru sebaliknya, saat Ichigo terancam kembali direbut atau tepatnya terancam dikembalikan pada Senna, Rukia sama sekali tidak rela, tidak senang.
Rukia mendesah putus asa. Pantai di depannya begitu indah namun perasaannya sama sekali berbanding terbalik. Sudah sejam ia duduk di atas pasir putih dengan mobilnya yang setia menemaninya. Rukia menatap matahari terbenam, berharap dengan melihatnya hatinya bisa kembali ditata. Sekaligus menghabiskan waktunya karena tepat jam tujuh nanti malam Senna akan pulang bersama ayahnya.
"Aku harus berangkat sekarang. Semoga tidak macet saat menuju bandara,"
.
.
.
Pemberitahuan bahwa pesawat dari London sudah mendarat dengan selamat, membuyarkan lamunan Rukia yang sedari tadi duduk disamping ibunya dan sekali lagi menghindari Ichigo yang rupanya ada disitu bersama ayah dan ibunya. Rukia bersyukur karena Ichigo tidak datang mendekat namun ia berani bersumpah bahwa ia merasakan Ichigo terus menatapnya.
Rukia berdiri dan menunggu di pintu kedatangan. Setelah lima menit menunggu dengan was-was akhirnya Senna dan Aizen terlihat. Dan Rukia tersenyum lebar saat melihat Senna sudah keluar dan dalam keadaan baik-baik saja. Ia melihat Senna berjalan dengan riang seperti biasa.
"Rukia, senang bertemu denganmu lagi. Aku merindukanmu, kau tahu," senyum Senna melebar dan melihat itu Rukia lalu memeluknya disertai dengan derai airmata tanpa suara tangis milik Rukia.
"Kau harus tabah, Senna," ujar Rukia semakin memeluk erat Senna.
Merasa airmata Senna membasahi bajunya Senna berkata "Tabah? Soal apa? Kompetisi itu? Aku sudah merelakan segalanya saat keadaanku lebih buruk daripada ini dan lagi aku harus bersyukur karena kakiku baik-baik saja,"
Rukia melepas pelukannya dan berjalan bersama Senna menuju tempat yang lain berada. Setelah berbincang-bincang dengan para orangtua, dan memastikan keadaannya baik-baik saja dan sama sekali tidak menyesal karena kompetisi itu, Senna terlihat ternyum riang. Merasa bahwa lebih enak berada di Jepang, bersama dengan Rukia, keluarganya dan tentu saja Ichigo.
Ichigo datang menghampiri mereka berdua dan Rukia langsung menjauh. Memberikan ruang dan waktu untuk Senna dan Ichigo. Dan berpura-pura berbicara dengan Aizen.
"Aku sudah bilang padamu, kalau kau menyebrang jalan perhatikan sekelilingmu sebelum menyebrang. Kau lihat kan apa hasilnya sekarang," Rukia bisa mendengar percakapan yang dimulai oleh Ichigo. Sepertinya ia kurang jauh.
Senna berusaha menahan airmatanya karena Ichigo sama sekali tidak mengatakan sesuatu seperti kata-kata menghibur. Ichigo malah mengomelinya seakan-akan ia memang salah. Betapa ia merindukan pria di depannya ini. Ia sedikit kecewa karena ayahnya datang sendiri di London, namun ia meyakinkan dirinya ia harus melewati semua ini dan pulang untuk bertemu Ichigo.
"Harusnya kau membawa pulang piala, bukan tangan kosong," ujar Ichigo lagi dan kali ini tersenyum kecut. "Sebaiknya setelah ini kau harus berlatih lagi agar kau bisa…"
Kata-kata Ichigo terhenti saat ia merasakan Senna sudah memeluknya erat dan menangis di bahunya. Ichigo melihat Rukia yang tepat ada di depannya saat ia memeluk balik Senna, namun Rukia memalingkan tatapannya. Ichigo mendesah pelan begitu tidak mendapat perhatian dari Rukia.
"Aku merindukanmu, Ichigo," ujar Senna dan lagi-lagi tidak dijawab oleh Ichigo.
"Okaerinasai, Senna,"
.
.
.
Makan malam kali ini berlangsung dengan tenang namun tetap terkesan seolah-olah Senna tidak mengalami sesuatu yang buruk terbukti dengan suasana tawa yang memenuhi ruang makan keluarga Kuchiki. Kali ini Senna meminta Hisana membuat masakan kesukaannya dan betapa terkejutnya Rukia melihat paprika yang sangat ia benci.
"Sebagai perayaan kepulanganku, aku ingin Rukia memakan habis paprika yang ada di depannya," seru Senna senang melihat ekspresi menakutkan Rukia.
"Jangan bercanda, Senna. Kau tahu aku tidak suka paprika," jawab Rukia seraya melototkan mata pada Senna.
"Aku tahu, tapi berhubung katamu tadi kau bilang kau akan menghabiskan makanan kesukaanku, kau harus memakannya. Ayolah, Rukia, paprika sangat enak. Dan paman Byakuya jangan memakannya untuk Rukia," tunjuk Senna pada Byakuya yang hanya mengangguk pasrah karena setiap kali Rukia mendapat tantangan memakan paprika, Byakuya yang akan memakannya.
Rukia menelan ludah. Ia tadi hanya bercanda akan memakan semua makanan. Dan Rukia tahu Senna pasti mengerjainya. Semua yang ada disitu tertawa karena Rukia memandang paprika itu bagaikan melihat setan dan sejenisnya.
"Biar aku yang memakannya," semua menoleh saat Ichigo yang duduk di samping Senna menawarkan diri.
"Aku akan memakannya," ujar Rukia cepat.
"Aku saja," jawab Ichigo dan sudah mengambil piring di depan Rukia.
"Tapi kau juga tidak suka paprika, Ichigo," Senna kali ini khawatir. Dan sempat terbesit kecurigaan mengapa Ichigo rela memakan paprika yang ia tantangkan pada Rukia.
"Tenang saja. Aku juga ingin merasakan bagaimana menghadapi tantangan. Masa kau hanya memberi tantangan pada Rukia, sedangkan aku tidak?" tanya Ichigo dan tersenyum.
Senna tersenyum dan meringis saat melihat Ichigo dengan enggan namun tetap memasukkan paprika dalam mulutnya dan mengunyahnya dengan perlahan. Rukia menatap Ichigo dan memakinya dalam hati mengapa Ichigo sampai berbuat seperti itu. Ichigo ingin membuktikan bahwa ia mencintai Rukia dengan bersedia melakukan hal yang dirinya tidak suka termasuk memakan paprika? Tidak perlu dibuktikan karena Rukia tahu. Namun, percuma. Ia akan tetap mengembalikan Ichigo kepada Senna.
.
.
.
Kira-kira sudah berapa kali Ichigo memuntahkan paprika yang baru saja ia makan? Untung saja suara keran air dan jarak yang cukup jauh antara ruang makan dan westafel dekat kamar mandi membuat suaranya yang memuntahkan paprika tidak sampai terdengar. Ia sangat benci pada paprika. Sejak dulu. Harusnya ia tidak memakannya tadi.
"Bodoh! Harusnya aku membiarkan pendek itu yang memakannya," makinya pelan.
"Siapa yang kau bilang pendek, tawake?" Ichigo berbalik dan mendapati Rukia berdiri di belakangnya. Bersikap biasa dan sama sekali tidak terlihat bahwa keduanya sedang ada masalah.
"Bukan siapa-siapa,"
"Terserahlah. Tapi terima kasih sudah memakan paprikanya tadi untukku. Jika tidak mungkin aku akan muntah di hadapan semuanya," ujar Rukia sambil tertawa pelan.
"Jadi, setelah seminggu mendiamkanku akhirnya kau mau bicara padaku karena kau merasa bersalah karena aku sudah memakan paprika tadi? Lelucon macam apa ini? Jika aku tidak pernah memakan paprika mungkin kau akan mendiamkanku dan mengacuhkanku selamanya," Ichigo berkata dan berbalik menatap mata Rukia yang menatapnya balik.
"Merasa bersalah? Aku tidak merasa bersalah karena kau memakan paprika. Aku sudah mengajukan diri untuk memakannya namun kau dengan suka rela memakannya. Untuk itu aku datang untuk berterima kasih," balas Rukia acuh tak acuh.
"Cih! Terserah! Jadi, bagaimana kalau kita melanjutkan diskusi kita yang sudah tertunda karena kau mengacuhkanku?"
"Diskusi yang mana?"
"Kau tahu, Rukia,"
"Aku sama sekali tidak tahu,"
Brakk
"Ichigo! Kau menyakitiku!" seru Rukia saat Ichigo sudah menyudutkannya dan menghalangi jalannya saat Rukia ingin mencoba menghindari pertanyaan yang Ichigo maksud.
"Banyak yang harus kau jelaskan padaku, Rukia," ujar Ichigo dingin dan tidak sabaran saat bicara dengan Rukia.
"Katakan semua dan aku akan menjelaskan," jawab Rukia.
"Pertama, mengapa kau menghindariku?" tanya Ichigo.
"Pertama, aku bukan bayanganmu yang harus mengikutimu kemanapun kau pergi. Kedua, aku tidak menghindarimu. Aku sibuk, kau sibuk. Itu saja,"
"Kau berbohong," vonis Ichigo. Rukia hanya diam. Jika ia menjawab maka masalahnya akan semakin besar.
"Kedua, apa maksudmu dengan menyuruh Senna menelponku empat hari yang lalu?" tanya Ichigo kembali.
"Wajar saja aku menyuruh Senna menelponmu. Kau kan kekasihnya,"
"Hentikan, Rukia,"
"Kau tidak menelponnya makanya aku menyuruhnya menelponmu,"
"Hentikan,"
"Senna bilang ia merindukanmu. Lagipula, kau juga merindukan Senna, bukan?"
"HENTIKAN! Aku bilang hentikan! Aku tidak merindukannya dan lagi aku bukan kekasih Senna. Kekasihku adalah dirimu, Rukia"
Tiba-tiba Rukia tertawa. Tertawa sekencang-kencangnya sampai matanya nampak berkaca-kaca. Ichigo yang memandangnya sampai merasa Rukia sebentar lagi akan gila.
"Kau meminta penjelasan bukan? Dan aku sudah memberikan penjelasan dan kau malah menyuruhku untuk dian. Dan Senna bukan kekasihmu? Apa aku tidak salah dengar? Kapan kau memutuskan Senna? Satu hal yang perlu kau camkan, Kurosaki Ichigo. Senna masih kekasihmu dan keluarga kita semua tahu itu. Dan aku kekasihmu? Jangan bercanda. Hubungan kita bahkan belum diketahui siapapun,"
"Jadi kau mau hubungan kita disahkan? Baik! Akan ku lakukan. Sekarang juga aku akan mengakui bahwa aku mencintaimu," Ichigo menatap Rukia tajam.
"Sudah terlambat. Aku akan mengembalikanmu pada Senna. Kembalilah pada Senna, mohon," kali ini suara Rukia melunak dan menatap dengan pandangan memohon pada Ichigo.
"KAU PIKIR AKU BARANG, HAH? Kau pikir aku barang yang bisa dikembalikan? Aku manusia, Rukia dan punya perasaan. Pikirkanlah perasaanku," kali ini Ichigo mencengkram kedua bahu Rukia.
Rukia menunduk dan kemudian dengan berani mengangkat kepalanya. "Anggap saja begitu. Anggap saja kali ini balasanku padamu karena dahulu kau pernah mengabaikan perasaanku dan malah memilih Senna,"
"Itu karena kau membohongiku," jawab Ichigo seolah mengungkit masalah yang menjadi awal dari segala kerumitan ini. "Jika kau mengakui bahwa itu kau, aku akan memilihmu, bukan Senna,"
Rukia terdiam. Dalam hati ia membenarkan perkataan Ichigo. Seandainya ia tidak berbohong, ia dan Ichigo pasti sudah bahagia.
"Dengar Ichigo, Senna sangat mencintaimu. Jangan membuatnya kecewa. Kau merupakan mimpinya. Mimpinya yang tidak boleh lepas dari tangannya,"
"Jadi kau tidak memikirkan perasaanku? Kau hanya memikirkan Senna. Kau tidak memikirkan siapa yang aku cintai. Kau hanya memikirkan siapa yang Senna cintai. Bahkan kau sama sekali tidak menganggap kebersamaan kita sebagai penguat cinta kita. Kau egois, Rukia," Ichigo berkata dengan lembut berharap ketegangan diantara mereka berkurang.
"Aku memang egois. Di dunia ini hanya Senna yang aku sayangi dan…"
Rukia terpaku dan merasa seluruh badannya membeku saat ia merasakan Ichigo meletakkan bibirnya diatas bibirnya. Ciuman yang sama dengan rasa yang sama yang sudah memanjakannya selama sebulan belakangan ini. Lembut dan memabukkan. Sesaat Rukia hanya terdiam dan menerima ciuman itu. Namun, Rukia tahu ini salah dan tidak boleh terjadi.
PLAK
"Jangan coba-coba melakukan ini lagi padaku," Ichigo tidak menanggapi perkataan Rukia dan tamparan Rukia taddi. Ia hanya terkejut dengan tamparan cepat Rukia dan membuatnya limbung sesaat.
"Kau mengatakan hal itu seperti tidak ada yang terjadi diantara kita berdua," uajr Ichigo dengan cepat menata kembali dari keterkejutannya atas tamparannya tadi.
"Tidak ada yang terjadi. Tidak ada yang terjadi antara kau dan aku," ujar Rukia dingin dan menghentakkan kedua lengan Ichigo yang sedari tadi terus menghalanginya. Kali ini Ichigo membiarkannya pergi.
"Kuchiki Rukia. Berbaliklah dan tatap mataku serta ucapkan kau tidak mencintaiku," Ichigo berbalik dan menatap punggung yang ia yakin agak gemetar.
Lama Ichigo menunggu dan Rukia berusaha meyakinkan dirinya agar ia tidak menangis. Sampai akhirnya Rukia berbalik, dengan berani menatap mata Ichigo yang mulai sayu dan mengatakan "Aku tidak mencintaimu, Kurosaki Ichigo. Aku tidak mencintaimu" dan ia berlari begitu saja meninggalkan Ichigo.
Bugh!
Sakit di tangannya karena sudah menghantam tembok tidak terasa. Yang ada setelah lelah menghantam tembok tubuhnya merosot begitu saja dan bersandar pada tembok di belakangnya. Ichigo meremas dada kananya, seakan-akan dengan meremas dadanya maka segala sesak dan sakit hati yang ada akan hilang. Namun, bukannya mereda malah ia semakin sakit. Dan sekarang Ichigo malah memukul dadanya sendiri dengan keras dan menjambak rambut terangnya. Apa yang harus ia lakukan untuk menaklukkan hati Rukia? Karena ia tahu perkataan Rukia tadi bukan dari hatinya. Ia tahu Rukia mencintainya sama seperti dulu.
Sakit di dadanya bukan berasal dari tamparan Rukia. Sakit di dadanya berasal dari kata-kata Rukia terakhir tadi. Kata-kata yang membuatnya seperti ditusuk beribu belati dan menembus jantungnya dan mencengkram sehingga membuat pasokan udara di sekitarnya menjadi menipis. Nafasnya jadi semakin sesak.
Dan entah sejak kapan airmata jatuh dari mata ambernya.
.
.
Sementara itu di dalam kamarnya Rukia mengunci pintu agar jangan ada yang masuk. Persetan dengan makan malam yang bahkan belum selesai. Ia bisa mengarang cerita besok. Yang terpenting sekarang adalah menenangkan hatinya dan menjadi gadis yang kuat.
Seharusnya ia tidak ke tempat Ichigo berada kalau tahu ia dan Ichigo akan bertengkar hebat seperti ini. Ia hanya ingin bermaksud berterima kasih pada Ichigo dan bukannya malah bertengkar dan Ichigo menciumnya dan hasilnya ia menampar Ichigo. Sungguh ini diluar perkiraannya.
Rukia berjalan perlahan menuju tempat tidurnya dan mendudukkan dirinya tepat di pinggir tempat tidur. Rukia hanya diam dan menatap kosong ke depan. Rukia memikirkan segalanya. Bagaimana saat ia bersama Ichigo, bagaimana saat berkencan dengan pemuda itu. Mencoba membayangkan bagaimana rasanya saat Ichigo menciumnya dan memeluknya serta membisikkan kata-kata sayang padanya, dan membayangkan apa yang sudah ia ucapkan tadi.
'Aku tidak mencintaimu, Kurosaki Ichigo'
Membayangkan hal terakhir membuat matanya tiba-tiba memerah dan berkaca-kaca. Bagaimana mungkin ia melepaskan hal yang sangat berharga setelah ia memperjuangkan setengah mati untuk mendapatkannya. Bukankah ini yang ia harapkan? Ichigo mengetahui perasaannya dan bingo Ichigo juga mencintainya malah mungkin jauh mencintainya. Bukankah ia harus senang dan mempertahankan hubungan mereka dan bukannya menjadi pengecut dan membiarkan cintanya dikorbankan.
"Tidak, aku tidak boleh menangis," Rukia membisiki dirinya sendiri sambil menahan airmatanya yang mendesak untuk ditumpahkan.
"Tidak akan menangis,"
"Aku tidak lemah,"
"Aku tidak akan menangis hanya karena cinta,"
"Aku…aku….hiks…hiks…" rupanya matanya berkhianat. Setetes demi setetes airmatanya mengalir. Lama kelamaan menjadi deras dan Rukia sudah tidak bisa menahan isakannya. Yang ia lakukan setelah itu menjatuhkan diri di kasur dan membenamkan wajahnya pada bantal. Menangis dalam diam dan membiarkan bantalnya menjadi saksi atas kesedihannya.
Setelah berlama-lama menghabiskan airmatanya, Rukia bangkit dan menatap cincin yang masih tersemat di jarinya. Ia putuskan akan mengembalikan ini pada yang memberikannya.
"Jika aku ingin melupakannya, pertama-tama aku akan mulai dengan ini," Rukia melepaskan cincinnya dan menatapnya beberapa saat sebelum menaruhnya di atas meja dan kembali ke ranjang empuknya. Entah untuk tidur atau masih ingin menghabiskan airmatanya.
.
.
.
Sebulan. Hari ini genap sebulan ia berada di Jepang setelah pulang dari London. Dan sudah selama sebulan ini, ia menyadari sikap sang kekasih yang lebih pendiam, dingin, acuh tak acuh. Ya, Senna tahu bahwa Ichigo berubah. Senna merasa bahwa Ichigo sudah tidak seperti dulu. Tidak romantis, tidak menciumnya, dan tidak memujinya seperti dulu lagi. Saat ditanya ada masalah apa, Ichigo menjawab dengan mengatakan semua baik-baik saja. Hanya urusan kuliah yang membuatnya sering seperti itu. Namun, Senna tidak bodoh dengan menganggap Ichigo hanya pusing dengan urusan kuliahnya. Namun apa? Senna sama sekali tidak tahu penyebabnya. Jika ia menanyakan lagi pada Ichigo, ia takut Ichigo akan marah.
Senna memilih untuk bertanya pada Rukia, namun sama saja. Sahabatnya ini tidak memberitahunya apapun dan malah mengatakan tidak tahu. Rukia juga sering terlihat menyendiri sekarang ini dan terlihat tidak pernah bertegur sapa dan main-main lagi dengan Ichigo. Mereka akan berbicara seperlunya. Ada apa dengan mereka berdua?
.
.
.
Rukia langsung mempersilahkan Senna masuk ke kamarnya saat Senna berdiri di depan pintu kamarnya.
"Aku ingin bicara padamu, Rukia. Ini tentang Ichigo," ujar Senna setelah ia duduk di pinggir ranjang milik Rukia.
"Ada apa?"
"Aku tidak tahu kau menyadarinya atau tidak. Tapi aku menyadarinya, Rukia. Ichigo berubah. Ia sibuk dengan dunianya sendiri dan tidak menganggap aku ada," ucap Senna dengan wajah murung.
"Ichigo tidak berubah padamu, Senna. Hanya saja mungkin ia dalam keadaan tertekan karena harus menyelesaikan kuliahnya secepat mungkin," jawab Rukia sekenanya. Ia berharap dengan alasan yang sama ini, Senna bisa mengerti maksudnya.
"Tidak. Ichigo berubah hanya padaku. Seolah-olah hubungan kami bukanlah sepasang kekasih. Seolah-olah aku sudah tidak dianggap apa-apa lagi olehnya," Senna menundukkan wajahnya dan terlihat sedih.
"Hei! Kau pikir kau saja yang diacuhkan? Aku pun begitu. Ia mengacuhkanku juga Senna. Hah…aku tidak tahu ada apa dengan jeruk bodoh itu. Kenapa kita berdua jadi sasarannya kalau memang dia sedang stress?" tiba-tiba suara Rukia meninggi dan terlihat marah.
"Eh? Kau juga diabaikan oleh Ichigo?" tanya Senna tidak percaya.
"Hm…dia bahkan tidak pernah menelpon dan mengirimkanku pesan. Dasar jeruk bodoh!" Rukia tiba-tiba berdiri dan mengepalkan tangan kanannya dan meninjukannya di telapak tangan kirinya. "Aku akan bicara padanya, Senna. Dan aku akan memberinya perhitungan,"
"Rukia, kau tidak boleh menyakiti Ichigo maupun memukulnya. Kau harus bicara baik-baik pada Ichigo. Katakan padanya aku sedih dengan sikapnya yang sekarang," jawab Senna.
"Tenang saja aku tidak akan menyakiti kekasihmu, tapi aku tidak janji," jawab Rukia sambil menjulurkan lidahnya.
"Arigatou, Rukia. Kau sahabat terbaikku," tiba-tiba Senna beranjak dan langsung memeluk Rukia dengan erat dan tertawa lepas. Dia tahu dengan bicara pada Rukia, semua masalahnya akan selesai.
"Akan kulakukan apapun agar kau bahagia, Senna," ujar Rukia yang balik memeluknya. "Bahkan jika aku harus mengorbankan cintaku," bisiknya sangat pelan.
.
.
.
Saat ia butuh senpai rambut nanas itu, ia justru tidak ada di Jepang. Senpai rambut mencolok itu malah pergi ke London untuk menyelesaikan urusan yang entah apa. Ia bahkan tidak bilang padanya jika akan pergi. Setelah pertengkarannya dengan Rukia, ia malah mendapat email dari senpainya bahwa ia ada di London. Mau meminta nasihat untuk hubungannya dengan Rukia, Ichigo tidak akan puas jika hanya dengan email ataupun telepon. Maka ia memutuskan untuk membicarakannya dengan senpainya saat ia sudah kembali di Jepang.
Ichigo memutuskan akan secepatnya menamatkan kuliahnya, kalau perlu tahun ini ia harus lulus sehingga ia segera bisa memimpin perusahaannya. Maka kesibukannya sekarang hanya belajar dan belajar. Ia tidak ingin menghabiskan waktu dengan membujuk Rukia agar melanjutkan hubungan mereka. Ia akan menunggu sampai Rukia mau kembali bicara dengannya. Soal Senna? Bagaimanapun Senna masih kekasihnya dan ia wajib memberinya perhatian walaupun tidak seperti dulu lagi. Setidaknya ia menjaga perasaan Senna.
.
.
.
Setelah makan siang di kafe favoritnya, Ichigo melanjutkan perjalanannya kembali ke kampus. Ada mata kuliah siang harus ia selesaikan sampai sore nanti.
Drtttt…drtttt….drrttt…..
Handphone hitamnya yang ia letakkan disampingnya bergetar cukup lama menandakan panggilan masuk. Ia menghentikan mobilnya di pinggir dan melihat siapa yang menelponnya. Seketika matanya melebar dan jantungnya mendadak berdebar kencang.
"Rukia….."
"Moshi-moshi. Ichigo, kau ada dimana?" dari seberang Rukia bicara.
"Aku sedang menuju kampus," jawab Ichigo.
"Bisakah kau bolos hari ini dan datang menemuiku di taman di pinggir kota? Aku ingin bicara denganmu dan ini penting dan tidak bisa ditunda," ujar Rukia diseberang dan membuat alis Ichigo makin mengkerut.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanyanya.
"Datang saja. Aku sudah disini. Aku menunggumu," tanpa kata pamit Rukia langsung menutup sambungannya dengan Ichigo. Sedangkan Ichigo menghela nafas, ia dapat langsung menerka ke arah mana pembicaraan mereka nanti. Tapi kali ini ia harus menghadapi semua dengan kepala dingin.
Dan akhirnya ia memutar balik arah mobilnya dan menuju tempat Rukia berada.
.
.
.
Butuh tiga puluh menit untuk sampai di taman pinggir kota. Tamannya tidak sebesar taman yang ada di kota. Keistimewaannya adalah karena taman ini berada di atas puncak dengan berbagai macam pohon yang membuat tempat ini teduh. Selain itu taman ini juga memperlihatkan seluruh pemandangan kota dari atas dan akan terlihat indah jika malam. Selain itu dari sini pula, matahari yang terbenam bisa terlihat jelas.
Ichigo bisa langsung mengenali mobil Rukia dan langsung memarkirkan mobilnya dibelakang. Suasana taman sepi. Wajar saja ini masih siang. Lagipula Ichigo yakin Rukia memang memilih waktu saat taman ini sepi. Ichigo melihat sekeliling. Ini adalah tempat ia dan Rukia menghabiskan waktu saat mereka berkencan. Semua masih sama tidak ada yang berubah.
Dan pandangannya langsung tertuju pada Rukia yang duduk di bangku panjang di sudut taman. Rukia sedang duduk sambil menyandarkan kepalanya pada bangku tersebut. Bangku tempat mereka duduk saat kesini. Dan tampaknya Rukia tidak menyadari kehadirannya .
"Hei, sudah lama menunggu?" Rukia meluruskan duduknya saat mendengar suara Ichigo yang menyapanya dan berdiri di depannya.
"Cukup lama. Tapi tidak apa. Duduklah, Ichigo," tawar Rukia dan Ichigo langsung duduk disampingnya.
"Bagaimana keadaanmu?" Ichigo mencoba berbasa-basi.
"Baik. Aku dengar kau akan lulus tahun ini. Rupanya kau belajar cukup keras. Aku rasa paman Isshin akan senang dengan hal ini," jawab Rukia.
"Sebelum kau mengatakannya pun, oyaji sudah senang begitu tahu aku akan lulus tahun ini, dan lagi dia sudah malas-malasan dirumah. Beralasan ia sudah tua dan ada aku yang akan meneruskannya," keluh Ichigo dan menghela nafas.
Setelah pembicaraan basa-basi mereka, Ichigo dan Rukia berdiam diri. Larut dalam pikiran mereka masing-masing. Ichigo tidak mau menanyakan ada apa Rukia memanggilnya kesini dan Rukia pun belum mau mengatakan maksud dan tujuannya memanggil Ichigo kesini.
"Ano….ada yang harus aku bicarakan denganmu, Ichigo," akhirnya Rukia buka suara. Jika ia tidak membuka pembicaraanya maka mereka akan disini sampai pagi.
"Aku akan mendengarkan," jawab Ichigo singkat.
"Ano…ini masalah hubungan kita. Kau tahu kalau kita sama sekali belum memutuskan apa-apa. Dan sekarang aku memutuskan, bahwa kita harus berpisah," Rukia memejamkan mata dan menghela nafas lega.
Ichigo diam. Ia hanya memejamkan mata sambil menunduk. Ia sudah tahu ini yang akan Rukia katakan, tapi ia tidak menyangka akan sesakit ini jadinya. Luka yang selama ini ia tutup perlahan terbuka dan semakin melebar.
"Apakah ini yang kau inginkan?" Ichigo akhirnya membuka suara.
"Ya. Ini yang aku inginkan," jawab Rukia tegas.
"Tapi, bukan seperti yang aku inginkan. Aku…aku..Rukia aku sungguh tidak ingin melepaskan hubungan kita. Kita bisa mengatakan pada Senna dan…"
Rukia mengangkat wajah Ichigo yang menunduk dan menatapnya dengan intens. Rukia makin tidak tega saat melihat Ichigo sudah berkaca-kaca.
"Kau mencintaiku, Ichigo?" tanya Rukia
"Tentu saja aku mencintaimu," jawab Ichigo dan membalas tatapan Rukia.
"Kalau begitu kembali pada Senna," ujar Rukia. Saat Ichigo hendak memalingkan wajahnya, Rukia menangkupkan kedua tangannya pada sisi wajah Ichigo. "Dengar, kita berdua sama-sama suka dengan buku yang sama. Di dalam buku itu tertulis, cinta tidak harus memiliki, Ichigo. Ini yang harus terjadi pada kita berdua, Ichigo,"
"Tapi Rukia, ini tidak seperti yang tertulis di buku. Sungguh…ini sangat berat untuk kulakukan. Pura-pura mencintai seseorang yang tidak aku cintai," jelas Ichigo.
"Kau bisa. Belajarlah mencintai Senna mulai sekarang. Aku tahu kau bisa, Ichigo," jawab Rukia.
"Tapi…."
"Dengar. Jika kau dan aku berjodoh, kita akan kembali bersama. Namun jika tidak, kita akan berjodoh di kehidupan mendatang. Jadi aku mohon, relakan aku dan kembali pada Senna,"
"Aku tidak bisa, Rukia," lirih Ichigo dan tiba-tiba saja menangis. Ichigo jarang menangis bahkan di saat sesulitpun, namun entah mengapa ia ingin menumpahkan airmatanya.
"Kumohon jangan menangis, Ichi. Jangan menangis hanya aku karena aku melepaskanmu," Rukia menarik Ichigo dan membiarkan Ichigo menangis dalam pelukannya. "Jangan menangis karena keputusanku. Jangan menangis karena hubungan kita dan jangan menangis karena aku. Aku mohon," pinta Rukia. Ichigo tetap menangis dan membuat Rukia ikut menangis. Rukia merasakan lengan bajunya dicengkram oleh Ichigo. Ichigo menumpahkan segala kesedihannya dan menangis. Tangisan Ichigo begitu menyayat hatinya. Sampai-sampai Rukia merasa Ichigo sesak nafas saat ia menangis. Rukia memeluk kepala Ichigo dan berusaha menenangkannya.
.
.
.
Setelah mereka berdua melepaskan kesedihan dan segala kegundahan mereka dengan menangis, Ichigo menegakkan diri dan kali ini mengajak Rukia bicara.
"Aku akan menuruti maumu. Aku akan kembali pada Senna dan melakukan apa yang kau mau. Aku melakukannya demi dirimu, Rukia,"
"Arigatou. Aku yakin kau akan melakukannya. Senang bisa bersamamu walau sebentar," jawab Rukia dan kembali menitikkan airmata. Ichigo meraihnya dan menyenderkan kepala Rukia di bahunya.
"Menangis saja sepuasnya di pundakku. Mungkin ini terakhir kali kau melakukannya," Rukia menangis dalam diam. Tidak ada isakan, namun airmatanya semakin deras. Sementara Ichigo mengusap-usap mahkota hitam milik Rukia.
"Maafkan aku, Ichigo,"
.
"Aku ingin mengembalikan cincin ini padamu," Rukia meluruskan kembali cara duduknya dan mengeluarkan sebuah cincin di dalam tasnya dan Ichigo langsung mengenali cincin itu. Bukankah cincin yang melambangkan bahwa mereka sudah bertunangan? Cincin itu sampai hari ini Ichigo masih memakainya.
Ichigo menerima cincin di telapak tangannya begitu Rukia memberikannya.
"Tidak. Cincin ini disimpan saja untukmu . Anggap saja hadiah dariku dan anggap saja cincin ini pernah menjadi tanda bahwa kau tunanganku," Ichigo menatap leher Rukia dan melihat kalung emas putih yang bertengger. "Lepaskan kalungmu,"
Menurut dan Rukia melepaskan kalungnya dan memberikannya pada Ichigo. Ichigo lalu memasukkan cincin tersebut pada rantai kalung dan memakaikan kalungnya lagi pada Rukia.
"Begini lebih baik," ujar Ichigo saat melihat kalung dan cincin itu sangat manis bertengger di leher Rukia.
"Kau juga harus melepaskan cincinmu," tegur Rukia saat Ichigo belum melepaskan cincinnya.
"Akan ku lepas sampai dirumah. Jangan membuatku melepasnya di hadapanmu," pinta Ichigo.
Tiba-tiba Ichigo menggenggam tangan Rukia dan memalingkan wajah Rukia agar bisa melihatnya. "Bisa kau mengabulkan satu keinginanku sebelum kita benar-benar berpisah dan menempuh jalan masing-masing?" tanya Ichigo.
"Apa itu?"
"Biarkan aku menciummu, Rukia," sedikit terkejut karena permintaan mendadak Ichigo, Rukia menghelas nafas dan mengangguk. Perlahan ia memejamkan mata.
Rasa seperti ini adalah rasa terakhir yang ia rasakan. Kelembutan ini menjadi kelembutan terakhir yang akan ia rasakan. Ciuman ini akan menjadi ciuman terakhir antara dirinya dan Ichigo. Rukia makin memejamkan matanya saat merasakan bibir Ichigo ada diatas bibirnya. Seperti biasa, darahnya akan berdesir begitu Ichigo menciumnya dengan lembut. Jantungnya akan terpompa dua kali bahkan tiga kali lebih cepat dari biasanya.
Ichigo merasakan asin saat ia mencium Rukia. Walaupun ia memejamkan mata, ia tahu Rukia menangis saat ciuman mereka sedang berlangsung. Ichigo menarik pinggang Rukia makin mendekat padanya dan mencium Rukia lebih intens. Ini terakhir bagi mereka.
Sedangkan Rukia walaupun bukan ini kemauannya, perlahan kedua lengannya merangkul leher Ichigo dan membalas ciuman Ichigo. Jangan salahkan ia karena tidak bisa menolak ciuman Ichigo. Bukannya ciuman singkat yang mereka lakukan, mereka malah berciuman hingga lupa sudah berapa lama mereka berciuman.
Ichigo menatap intens Rukia saat menyudahi ciumannya. Ichigo melihat Rukia tersenyum. Senyum yang ia rindukan. Sangat ia rindukan.
"Aku mencintaimu," ujar Ichigo dan kembali mencium bibir Rukia singkat.
"Jangan pinta aku menjawabnya Ichigo,"
"Jawab saja apa yang ada di hatimu,"
"Aku mencintaimu juga," jawab Rukia dan merasakan Ichigo memeluknya erat.
"Terima kasih, Rukia,"
"Terima kasih kembali," ujar Rukia dan memeluk kembali Ichigo. "Setidaknya kita berpisah dengan cara baik-baik. Kita sahabat kan?"
"Ya Rukia, kita sahabat," jawab Ichigo
Dan anehnya tidak ada satu orangpun yang datang ke taman ini sehingga saat matahari tenggelam pun mereka masih berdua. Matahari terbenam menjadi saksi perpisahan indah kedua pasangan ini.
.
.
TBC
.
.
Hosh….hosh….chapter terpanjang yang pernah saya ketik. Dan rasanya sangat lelah. Menghabiskan waktu bagaimana buat chapter ini chapter menyedihkan.
Tapi, apa chapter ini cukup menyedihkan? Saya harus tahu jawabannya. Untuk itu mohon reviewnya semua. Onegaishimasu!
Fic ini belum tamat kok. Chapter depan pertunangan Rukia dan Senna, lalu Rukia akan menghilang sementara waktu. Kemana? Tunggu chapter depan yah^^
Sekali lagi mohon dukungannya buat fic ini. Maafkan kalau fic ini agak kayak seperti sinetron. Tapi sungguh saya tidak suka nonton sinetron. Sepertinya akibat kebanyakan baca novel.
Akhir kata mohon review dan arigatou sudah membaca fic ini. jaa….
