SWORD LOVE (SECOND FEELING)
Pair : 2MIN
.
.
.
.
Taemin menatap Minho lagi, memastikan bahwa ia tidak terbangun. Setelah Taemin meletakkan pakaiannya di tempatnya, ia kembali duduk dan memperhatikan sekitar. Sesekali ia menghembuskan nafas. Ini bukan pertama kali untuk dirinya menjaga seorang pangeran sampai harus tidak tidur, 4 tahun yang lalu ia juga menjaga seorang pageran di jepang yang tengah di incar oleh beberapa yakuza, di sanalah Taemin mendapatkan tanda di punggunggnya. Taemin memegang pundaknya ketika mengingat bagaimana sakitnya sayatan katana legendaris jepang itu. Pendar Taemin tak sengaja menangkap wajah tenang Minho yang tengah tertidur. Taemin sedikit mendekatkan dirinya pada Minho. Mengamati tiap inchi wajah tegas itu. Lekuk mata yang memiliki alis tegas, setegas sifat pemiliknya, lekuk mulut manis yang menggambarkan kata-kata bijak yang selalu keluar dari mulutnya. Taemin menelusuri lekuk hidung Minho.
Grepp
Brukk
Minho tiba-tiba memegang tangan Taemin dan menarik tubuhnya, membuat tubuh Taemin terjatuh di atas tubuh Minho.
"Y...Yang Mulia."
"Apa yang kau lakukan?"
"Sa..saya..." Taemin tercekat, benar-benar lancang tangannya kali ini, bagaimana bisa ia menyentuh wajah Minho dengan seenaknya. Taemin terlihat tidak nyaman dengan posisinya yang tengah berada di atas Minho. Ia mencoba bangun, tapi tangan Minho terlalu kuat memegang kedua lengannya.
"Ya...Yang Mulia, Mi...mianhamnida." Taemin menundukkan kepalanya dalam. Membuat minho merasakan hembusan nafas Taemin di dadanya.
"Taemin." Panggil Minho, membuat Taemin mendongak dan bertemu mata dengan Minho. Minho menatap dalam mata hazel Taemin. Tak lama ia menatap mata Taemin, kemudian melepaskan rengkuhannya.
Taemin segera bangun dan membenarkan posisinya. Ia segera bersujut di hadapan Minho.
"Mianhamnida Yang Mulia."
"Untuk apa kau bersujut seperti itu Lee Taemin?" Minho bangun dari tempat tidurnya.
"Sa.. saya sudah lancang menyentuh anda yang mulia."
Minho mengukir senyum jahilnya, yang mungkin membuat seorang wanita luluh di ketika melihatnya.
"Bangun!"
Taemin menegakkan tubuhnya, menatap Minho yang tengah menatapnya datar. Taemin menundukkan kepalanya kemudian, jujur saja ia sedikit takut dengan tatapan Minho, benar-benar menusuk.
"Kau harus di hukum karna lancang menyentuh wajah ku tuan Lee." Minho berucap datar pada Taemin. Hemmm sepertinya Yang Mulia Choi ingin sedikit bermain.
"Ne Yang Mulia, Apa pun hukumannya."
Minho mendekati Taemin. Membuat Taemin terkejut dan memundurkun tubuhnya. Minho terus mendekati Taemin.
Brakkk
Gebrakan tembok dibelakangnya membuat Taemin membeku. Punggungnya menyentuh tembok kayu yang baru saja di gebrak Minho.
"Jawab dengan jujur pertanyaan ku!" Minho masih tetap mendekati Taemin walaupun dia tau Taemin sudah terpojok.
"N...ne Yang Mulia." Angguk Taemin pelan, Wajah Minho kini sudah sangat dekat dengan wajahnya, bahkan Taemin bisa merasakan hembusan berat Minho di wajahnya. Taemin memejamkan matanya karna wajah Minho benar-benar dekat dengannya.
"Kenapa dengan punggung mu?"
Pertanyaan Minho membuat mata Taemin membelalak, apa yang barusan Minho katakan? dari mana dia tahu Taemin memiliki luka di punggung, atau Minho tadi melihatnya ganti baju?
Blushhh
"Apa Anda melihat saya tadi?"
"Dengan sangat jelas."
Semburat merah tercetak lebih tebal di pipi Taemin. Jadi dari tadi Minho memang belum tidur sama sekali, dan...dan...
"Kenapa wajah mu merah?" Minho yang memang tidak mengetahui suasana hati Taemin bertanya heran, dan menatap lekat wajah Taemin.
"Ya...Yang Mulia, Maaf sekali lagi, saya tidak bisa memberitahukannya pada anda." Taemin menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Minho.
Minho menjauhi Taemin, dan menegakkan dirinya. Ia menatap Taemin yang membenarkan posisi duduknya. Taemin kembali menundukkan kepalanya.
"Kenapa? Bukankah kau pengawal ku? Aku harus benar-benar tau siapa dirimu."
Taemin menghela nafasnya berat, sepertinya ia harus menjelaskan sedikit kepada Minho. Taemin belum pernah menemui pangeran yang sangat keras kepala seperti Minho.
"Yang Mulia, di perguruan saya sangat dilarang keras untuk menceritakan bagaimana kehidupan kami, bagaimana kepribadian kami, dan semua yang menyangkut data diri kami kepada klien kami. Semua demi kepentingan perguruan dan kemampuan kami, jika kami menceritakan tentang kepribadian kami, maka musuh akan mudah melihat kelemahan kami."
Minho memperhatikan dengan seksama penjelasan Taemin. Masuk akal memang, tapi Minho tetap ingin mengetahui tentang Taemin. Taemin sosok yang benar-benar membuatnya penasaran, belum pernah Minho tertarik dengan kepribadian sesorang sampai sejauh ini.
"Saya harap Yang Mulia bisa mengerti itu." Taemin menuunduk hormat pada Minho.
Minho diam dan kembali ke tempat tidurnya. Membalut tubuhnya dengan slimut tebal dan menutup wajahnya. Jujur saja Minho benar-benar sedikit kesal pada dirinya sendiri, kenapa ia harus memaksa Taemin untuk menceritakan mengenai dirinya, walaupun ia mendapat penolakan keras dari Taemin. Minho memejamkan matanya, mencoba menetralisir perasaannya.
Taemin menatap punggung Minho. Taemin benar-benar takut, ia takut Minho mencari lebih jauh tentang dirinya. Tak ada yang boleh tahu mengenai Taemin.
Minho bangun dari tidurnya, dan melihat Taemin yang sudah rapi dengan pakaiannya. Ia memberi hormat pada Minho yang tak Minho tanggapi. Minho berjalan lurus tanpa memandang Taemin. Mungkin terlihat seperti anak kecil yang merajuk saat temannya tak mau bercerita padanya, tapi ini demi dirinya, demi perasaannya yang berkecamuk yang selalu ingin tahu mengenai Taemin. Minho harus bisa mengendalikan perasaanya. Ia berjalan kekamar mandi dan membasuh dirinya.
.
.
.
.
.
Sedangkan Taemin yang tidak terlalu memperdulikan sikap Minho segera keluar dari kamar Minho. Ia melihat Raja dan Ratu tengah berjalan mendatangi kediaman Minho. Taemin memberikan slam hormat pada mereka.
"Bagaiman semalam?" Tanya Raja pada Taemin.
"Tidak ada yang mulia, semua baik-baik saja."
"Bagus, dimana Pangeran?"
"Sedang membersihkan dirinya yang mulia."
Raja memasuki kamar setelah bertanya mengenai keadaan Minho pada Taemin, sedangkan Ratu berada di luar bersama Taemin dan Yunsik.
"Taemin-ah, apa semalam tak ada yang mencurigakan?"
"Belum Yang Mulia."
Ratu menepuk Pundak Taemin kemudian masuk kedalam kamar Minho. Tinggalah Taemin dan Yunsik diluar.
"Tuan Lee anda boleh sarapan dahulu jika lapar, para pelayan sudah membawakan makanan untuk anda."
"Tidak terimakasih Tuan Yeo, nanti saja saya..."
Brakkkkkk
Terdengar suara gebrakan dari dalam kamar Minho kemudian muncullah Minho dari balik pintu kamarnya.
"AKU TIDAK MAU TAHU, KAU AKAN DILANTIK MENJADI RAJA DUA BULAN LAGI, DAN AKU TIDAK MENERIMA PENOLAKAN PANGERAN CHOI!"
Nada tegas sang Raja menggema dari kamar Minho. Sedangkan Minho membenarkan pakaianya dan mengenakan dasi dengan santai.
"Kita berangkat Lee Taemin." Ucap Minho mengacuhkan Appa dan Eommanya.
Taemin yang kebingungan hanya menatap Sang Ratu menunggu perintah. Ketika sebuah anggukan kecil dari Sang Ratu keluar, ia segera memberi Hormat pada Raja dan Ratu, kemudian pergi menyusul Minho.
"Apa tidak terlalu terburu-buru?" tanya sang ratu melangkah ke depan Suaminya.
"Dia tak akan pernah mau jika tidak dipaksa."
"Seperti Appanya bukan." Sang Ratu mengendikkan bahunya dan keluar dari kamar itu.
Dilain tempat Minho berjalan dengan cepat meninggalkan kawasan istana peninggalan dinasty joseon itu. disusul Taemin di belakangnya yang berusaha menyusul Minho. Minho segera memasuki mobil dan menunggu pengawalnya yang lelet didalam mobil.
Blammm
Mobil Minho segera melaju meninggalkan istana terbesar di korea itu. di dalam mobil Minho hanya diam dan memandang ke luar jendela. Begitupun Taemin hanya memperhatikan awan yang mulai menghitam. Mereka melewati taman kota yang terlihat tengah ramai. Mobil Minho berhenti ketika lampu merah menyala. Taemin melihat beberapa orang menggunakan kimono, dan beberapa pakaian samurai di taman, tak jauh dari itu ada seseorang menggunakan baju baja, layaknya tokoh anime di saint seiya, yang sering Taemin baca komiknya di perguruan.
"Apakah itu festival jepang?" Taemin bertanya sambil memandang Minho, membuat Minho melihat ke arah yang di tunjuk Taemin.
"Ya, memang kenapa?" Jawab Minho dengan malas, ia memilih memandang yang lain dari pada memandang acara yang tak membuatnya tertarik sama sekali itu.
"Bisakah berhenti sebentar yang mulia? Aku ingin membeli sesuatu disana."
"Jika bukan barang penting tidak usah." Tukas Minho dingin. Moodnya hari ini tidak terlalu baik, ia ingin pergi ke rumah Jonghyun untuk menenagkan diri.
"Sebentar saja yang Mulia, saya janji secepat mungkin kembali kemari."
Minho menghela nafas dan menatap Taemin, kemudian beralih ke festival yang ada di seberang jalan. Mungkin ada baiknya juga melihat festival itu. tapi bagaimana jika mereka mengenali Minho sebagai pangeran. Bisa menjadi berita besar.
"Tepikan mobilnya!" perintah Minho pada supirnya, dan itu membuat mata Taemin berseri-seri. "Aku tidak bisa kesana dengan pakain seperti ini, mereka semua akan tau jika aku seorang pangeran."
"Ehh, memang Yang Mulia akan ikut?"
"Aku hanya ingin menghibur diri."
"Eunggg..." Taemin tampak berfikir keras dengan memegang dagunya bak seorang detektif yang tengah memecahkan masalah. "Bagaimana jika yang mulia mengganti pakain dan menggunakan topi?" saran Taemin dengan mengacungkan telunjuknya.
"Pakaian ku semua masih di istana itu, Yunsik yang akan membawanya pulang."
"ahh" Taemin mendesah kecewa. kemudian ia berfikir lagi, masih dengan pose yang sama. Taemin seperti ter ingat sesuatu dan mengambil tasnya, membuka dan mengambil barang di dalamny. "Ada!" seru Taemin mengeluarkan satu stel pakaian yang terdiri dari celana training, kaos dan sebuah jaket baseball. "Ini, yang mulia pakai ini saja." Kata Taemin polos.
"Apa? Baju bekas mu? Tidak!" Tolak Minho keras. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Ohh... Baiklah, aku sendiri yang akan keluar kalau begitu Yang Mulia."
"Tunggu! Kau tidak boleh keluar tanpa aku Lee Taemin! Kemarikan pakain itu." Minho merebut pakaian yang akan di masukan ke dalam tas Taemin. Kemudian Minho mulai melepas kancing atasnya.
"Tu.. Tunggu yang mulia~~" Taemin sedikit bertriak ketika mengatakan itu, membyuat Minho sedikit terkejut. "Aku akan menunggu Yang Mulia di luar saja." Taemin membuka pintu pelan dan keluar dengan wajah yang sedikit memerah.
"Ck, memang kenapa kalau dia didalam." Heran Minho kemudian mulai mengganti bajunya.
Taemin menunggu Minho di luar mobil. Ia melihat ke arah festival itu dengan antusias. Terakhir ia ke festival seperti ini adalah tahun lalu bersama kibum teman seperguruannya.
Minho keluar dari mobil. Ia membenarkan kaos yang terlihat sedikit kekecilan di tubuhnya, terlebih clana training Taemin yang hanya sebatas mata kaki, membuat Minho merasa aneh dengan penampilannya.
"Hey Lee Taemin, kenapa baju mu kecil sekali-_-?"
Taemin membalik tubuhnya dan menatap penampilan Minho, Taemin sedikit menahan tawanya ketika melihat penampilan Minho. Yang Mulianya yang biasanya rapi, cool, sekarang terlihat sedikit aneh dengan bajunya yang kekecilan.
"Hey, Apa yang kau tertawakan?"
"Mi..minhamnida Yang Mulia." Taemin membungkuk hormat pada Minho, masih dengan senyum gelinya ketika melihat Minho.
"Ck, sudahlah, kajja!" Ajak Minho yang mulai melangkah sebelum tangan Taemin mengintrupsinya dengan memegang lengannya. "Apa lagi?" tanya Minho ketus.
"Mi..mianhae yang Mulia." Taemin sedikit berjinjit dan memasangkan sebuah topi pada Minho. "Nah dengan begini tidak ada yang mengenali Yang Mulia."
Minho membenarkan topinya, kemudian melanjutkan jalannya. Taemin hanya mengikuti Minho dari belakang.
"Kau mau mencari apa disana?" Minho memasukan tangannya di saku clana trainingnya.
"Eunnggg... hanya melihat-lihat saja Yang Mulia, saya lama tidak ke tempat seperti ini."
"heummm" Minho hanya mendengung menanggapi jawaban Taemin, ingat bukan jika Minho tidak boleh bertanya macam-macam kepada Taemin. Ck, baru kali ini Minho tunduk pada pengawalnya.
"Uwaaahhh..." Triak Taemin ketika melihat banyak kedai yang berjajar disana, ia berlari kecil menghampiri salah satu kedai penjual manik-manik antik.
Minho menatap tidak tertarik pada festival kecil ini, ia mengikuti kemana Taemin melangkah dan memukul kecil kepala Taemin.
"Aww... Ya..Yang Mulia..."
"Sssstttt..." Minho mengacungkan jari telunjuknya di depan mulut sambil mendelik pada Taemin ketika Taemin menyebutnya dengan sebutan Yang Mulia. Membuat Taemin mendekap mulutnya.
"Mmm... mianhae."
"Jangan tinggalkan aku makanya."
"I...iya maaf." Taemin menundukkan kepalanya sopan, kemudian membiarkan Minho melihat kesekeliling kedai kecil itu.
"Kau mau mencari apa disini?" tanya Minho menatap taemin yang tengah berbinar-binar menatap setiap benda-benda disana.
"Eunnggg... aku hanya ingin melihat-lihat saja yang mulia." Taemin memegang sebuahbenda, menurut Minho seperti benda yang terbuat dari keramik untuk manik-manik.
"Apa yang kau pegang?" karna penasaran Minho menanyakan sebuah benda yang tengah Taemin pegang dengan mata berbinar-binar.
"Ini netsuke, yang..."
"Minho!" Potong Minho ketika Taemin kembali memanggilnya dengan sebutan yang mulia.
"M...Min...ho." Taemin memanggil dengan ragu nama Minho, ia terbiasa memanggil dengan sebutan 'Yang Mulia' pada Minho, karna menurutnya itu lebih sopan,
"Lanjutkan! apa itu netsuke? Terdengar asing di telinga ku."
"Netsuke itu bahasa jepang, sebeneranya adalah salah satu perhiasan di kimono dan hakama, tapi seiring perkembangan jaman, netsuke menjadi pernak-pernik dan benda pajangan, ada yang menjadikannya jimat keberuntungan, Yang... eh... Min..ho." Jelas Taemin pada Minho, Taemin masih sedikit canggung memanggil Minho dengan nama.
"eummm.." Minho menganggukkan kepalanya. "berarti jika aku membeli netsuke ini untuk jimat bisa?" tanya Minho menunjukkan netsuke yang baru dia ambil.
"Ya saya rasa bisa."
"Berapa ini?" tanya Minho pada seorang pedagang yang ada dihadapannya sambil menunjukan sebuah netsuke kecil.
"Itu 20 won, kau mau membelinya? Jika tidak jangan terlalu lama dipegang, perawatan netsuke itu sangat sulit." Ketus sang penjual sambil mengelap beberapa barang dagangannya.
"Ck, sombong sekali kau, aku kan hanya memegangnya." Minho meletakkan kasar netsuke itu di tempatnya.
"Yaa! Apa yang kau lakukan? Jika netsuke ini pecah kau harus menggantinya dua kali lipat, harga netsuke ini tak sebanding dengan kaos jelekmu itu." Omel sang penjual pada Minho.
"Yaa! Kau fikir aku ini orang miskin apa, aku akan memboyornyo..."
Mulut Minho dibungkam oleh Taemin sebelum ia menyelesaikan kata-katanya, dan di tarik menjauh dari kedai kecil itu.
"Kita cari tempat lain saja yang mulia." Ucap Taemin, masih dengan menarik Minho dan membungkam mulut Minho yang tetap mengomel.
Minho melepaskan tangan Taemin dari mulutnya. Dan menatap kesal pada Taemin. Sedangkan Taemin yang di tatap hanya bisa menunduk takut.
"Kau, apa yang kau lakukan? Mendekap mulutku itu sama dengan kejahatan Lee Taemin." Ucap Minho menatap Taemin dingin.
"Mianhae!" Taemin membungkuk 90 derajat di hadapan Minho. Memang tidak sopan membungkam mulut Minho yang notabennya adalah calon raja korea ini, tapi apaboleh buat, daripada masalahnya tambah runyam.
"Traktir aku makan, aku lapar." Kata Minho yang kemudian berjalan lagi menyusuri jalan kecil itu.
"Y..ye?" Tanya Taemin tak mengerti, ia menegakkan tubuhnya dan menatap punggung Minho yang mulai menjauh darinya.
Minho menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Taemin. "Kau dengar tidak? Traktir aku makan!" triak Minho dari kejuhan.
Taemin menatap Minho tidak mengerti, bukankah seharusnya Minho marah padanya, tapi kenapa malah menyuruhnya mentraktir makan. Walaupun begitu Taemin segera menyusul Minho.
.
.
.
.
.
"Yakk! Apa ini? Kenapa hitam sekali?" tanya Minho ketika Taemin membawakannya setusuk makanan yang aneh,
"Ini cumi-cumi bakar, kenapa aneh Yang Mulia."
"Aku tidak mau memakannya, tampilannya saja buruk, apa lagi rasanya." Minho memalingkan wajahnya, khas seorang dengan sikap congkak.
"Tapi ini enak yang mulia, cobalah dulu." Taemin menyodorkan cumi-cumi itu pada Minho.
Mau tak mau Minho menerimanya, dan memandang ragu pada cumi-cumi bakar yang warnanya hampir senada dengan kulit Kai itu. Minho mencobanya sedikit, raut muka Minho yang semula tegang kini terlihat biasa.
"Heumm... tidak buruk." Minho menggigit lagi cumi-cumi itu, dan memakannya habis. "Belikan lagi!" perintah Minho.
"A..apa?" Tanya Taemin tak percaya, bahkan miliknya belum habis. Minho langsung merebut milik Taemin, dan memakannya.
"Kau beli saja lagi!" Kata Minho sambil memakan cumi-cumi milik Taemin. "Jangan lupa aku belikan juga."
Taemin memandang Minho tak percaya, Tuan Mudanya ini lapar atu rakus sebenarnya. Taemin berjalan kembali ke kedai seafood tadi dan kembali memesan 2 cumi-cumi bakar.
Sambil menunggu Taemin, ia melihat-lihat bokken – katana dari kayu – ia memilah-milah pedang kayu itu satu persatu sambil memakan cumi-cuminya yang tersisa sedikit.
"Silahkan memilih-milih tuan, semua bokken ini terbuat dari kayu tua khusus, tidak akan mudah patah ataupun pupus." Jelas seorang penjual yang telah berusia senja itu.
"Heummm... Boleh juga berapa harganya?" tanya Minho sambil memilih-milih boken di hadapannya.
"bervariasi tuan, yang tuan pegang itu bokken kayu merbau, kisaran 14 won tuan, nah, yang..."
Brakkkk
Minho dan penjual itu terperanjat ketika seseorang yang entah sejak kapan berada disana. Ia mengenakan jas hitam dengan bros kerajaan yang tersemat disisi kanan jasnya. Ketika mengetahui itu, Minho sedikit memalingkan wajahnya, takut jika orang itu mengenalinya disini.
"Pajak Yang Mulia Pangeran." Ucap orang itu dengan arogannya. Ia mengambil bokken dihadapannya dan memainkannya, seolah mengancam dengan bokken itu.
"Mi..Mianhae Tuan, belum ada satupun yang dapat saya jual hari ini, Mianhae, berikan saya waktu sebentar lagi." Mohon penjual itu dengan menangkupkan jemarinya yang mulai mengeriput.
"Apa? Sejak Kapan aku menarik pajak seperti ini?" Gumam Minho pelan, ia tidak pernah sedikit pun meminta pajak pada masyarakat, tapi apa yang ia lihat ini? Pajak atas namanya? Ini tidak benar.
Brakkkk
Sekali lagi Gebrakan itu terdengar lebih keras. Membuat beberapa penjual di sana mulai menatap tempat yang Minho sambangi itu.
"Apa kau bilang? Pangeran Choi tidak pernah menerima penolakan, jadi segera berikan uangnya atau aku akan menghancurkan semua dagangan mu." Ancam orang itu yang mulai mengambil ancang-ancang dengan bokken yang dipegangnya.
"Ta..tapi tuan, saya benar-benar belum mendapatkan pelanggan hari ini, saya mohon tuan, sebentar lagi saja." penjual bokken itu bersujut dihadapan orang berjas hitam.
"Baiklah, Mungkin Bokken berpernis ini akan menjadi benda pertama yang akan kuhancurkan, Seharusnya jika boken ini bagus tidak akan patah bukan"
"Ohh.. Ja..jangan Tuan saya Mohon jangan."
Orang berjas hitam itu mencoba memukulkan bokken yang ia pegang pada meja di sebelahnya, namun sebelum itu terjadi Minho menahan ujung Bokke itu. membuat orang berjas hitam itu menatap tidak suka pada Minho.
"Hahh, mau jadi jagoan kau? Dan apa-apan topeng yang kau pakai itu? menjijikkan."
Minho kini memang tengah menggunakan tupeng dengan wajah seperti kucing berwarna putih. Ia tidak menjawab pertanyaan orang itu. ia hanya menatap tajam orang itu.
"Cihhh, aku tidak takut dengan tatapan matamu, pengecut." Orang berjas hitam itu mengayunkan bokkennya lagi ke arah Minho, dan Minho menghindarinya, hingga orang itu hanya menebas angin.
Terlihat orang itu menggeratkan giginya. Ia menebas kearah Minho lagi, tapi Minho bisa menghindar, dan sedikit menjauh dari tempat itu, takut jika tebasan orang itu mengenai barang-barang disana.
Beberapa pengikut orang itu pun juga turun tangan, mengepung Minho, membuat Minho tak bisa lari kemana-mana. Kembali Orang itu menebaskan pedangnya pada Minho, Minho menghindar, dan ia selamat dari tebasan pedang itu lagi, namun salah satu pengikut orang itu menendang punggung Minho dari belakang, membuat Minho tersungkur. Kembali orang ber jas hitam itu berdiri dengan angkuhnya di hadapan Minho, ia mengambil ancang-ancang untuk menebaskan bokkennya pada Minho lagi.
Traakkk
Bokken yang ditebaskan pada Minho itu beradu dengan bokken lain yang dipegang oleh Taemin. Orang itu menatap Taemin yang kini tengah mengenakan topeng yang sama dengan Minho. Taemin menangkis bokken itu. ia bersiap denga dua bokkennya untuk menyerang satu persatu orang-orang berjas hitam itu.
"Ck, ada lagi pengecut lainnya,SERANG MEREKA!" triak orang itu membuat para suruhannya bergerak menyerang Taemin.
Taemin melemparkan salah sat pedangnnya pada Minho yang sudah berdiri di belakangnya, dan pergulatan pedang kayu itu dimulai. Taemin menghadapi separuh dari mereka, dan separuh lagi Minho yang menghadapi.
Trakkkk
Bokken Taemin yang beradu dengan bokken lain yang dipegang pemimpin orang berjas hitam itu terdengar nyaring, beberapa orang disana yang melihat memilih menyingkir saat melihat Bokken yang terayun kesegala arah.
Bughhh
Taemin yang melihat Minho terjatuh segera menendang orang di depannya dan menghampiri Minho. Ia membantu Minho bangun.
"Mereka orang kerajaan." Bisik Minho pada Taemin, yang di jawab anggukan oleh Taemin.
Taemin dan Minho saling berpunggungan mencoba menatap satu persatau orang-orang berjas hitam yang mengelilingi mereka. Mata Taemin melirik tajam pada salah satu dari mereka yang mulai maju dan menyerang Minho. Taemin segera menarik Minho kebelakang tubuhnya.
Bughhh
Taemin memukul telak punggung orang itu dan membuatnya tersungkur. Ia mengayunkan pedangnya memutar dan menebaskan lagi pedangnya pada orang berjas hita lain yang mulai menyerangnya satu persatu. Saat Taemin sibuk menghadapi sebagian orang-orang itu, Minho yang sadar pemimpin mereka menyelundupkan sebuah pisau yang siap ia tusukan pada Taemin itu segera memeluk leher Taemin memutar badan Taemin kesamping dan menangkis pisau kecil itu dan menendang perut orang itu.
Nafas Minho naik turun tak beraturan. Minho menghampiri orang itu dan mencengkram kerah bajunya, Minho mendaratkan pukulannya beberapa kali pada pemimpin berjas hitam itu. Benar-benar licik, bagaimana bisa ia mencoba menusukkan pisau itu pada Taemin. Pemimpin orang berjas hitam itu tak berkutik ketika Minho terus saja memukulinya.
"Minho!"
Minho menghentikan seketika pukulannya, ketika mendengar suara Taemin yang memanggilnya. Tangannya sedikit bergetar menatap orang di hadapannya. Ia berdiri dan melihat sekeliling, beberapa orang berjas hitam itu sudah pergi dari sana, disusul pemimpin mereka yang baru saja Minho lepaskan.
Taemin menghampiri Minho, ia meraih tangan Minho yang terkena bercak darah saat memukuli orang tadi. Ia mengeluarkan saputangan, dan membersihkan darah itu dari tangan Minho sebelum Minho menyadari ada darah di tangannya.
"Yang Mulia tidak apa-apa?" Tanya Taemin ketika melihat tangan Minho sedikit bergetar.
Minho hanya menjawab dengan anggukan, ia tengah merasakan hangatnya tangan Taemin yang tengah membersihkan tengannya dari kotoran. Ia belum pernah berkelahi secara langsung seperti ini sebelumnya. Emosinya benar-benar tak terkendali.
"Kajja kita kembalikan bokken ini Yang Mulia." Ucap Taemin, lalu memungut bokken lain yang patah menjadi dua karna ulahnya tadi. Taemin menghampiri kedai yang tadi dan mengembalikan bokkennya.
Mereka disambut riuh tepukan tangan dari beberapa penjual disana, Minho dan Taemin hanya bisa membungkuk hormat pada orang-orang disana. Taemin mengembalikan bokken yang ia pinjam tadi.
"Tu...tuan maaf, Bokkennya yang ini patah, berapa harganya biar saya ganti."
"Tidak perlu anak muda, itu hanya bokken dari kayu kelapa, hanya pernisnya saja yang membuatnya terlihat mahal, Bahkan pertolongan kalian lebih mahal dari harga bokken ini." Jelas sang penjula.
"Taemin sepertinya kita butuh bokken banyak di rumah." Kata Minho sambil melihat bokken-bokken disana.
"Ne?" Taemin menatap Minho tak mengerti.
"Aku beli semua bokken ini."
"APA?" Kata Taemin dan penjual itu bersamaan.
Minho merogoh dompet di kantongnya, dan memberikan beberapa lembar uang seratus won pada penjual tersebut.
"Cukup?" Tanya Minho
"I...Ini lebih dari cukup tuan, Te.. terimakasih."
.
.
.
.
.
"Yang Mulia, kenapa membeli bokken sebanyak itu? bokken itu sangat mahal." Ucap Taemin sambil menjilat es krim ditangannya. Topeng yang tadi ia kenakan saat berkelahi kini tengah bertengger di atas kepalanya.
"Kita Butuh untuk latihan, Taemin." Minho juga tengah memakan eskrim vanila yang baru ia beli tadi. Tak berbeda dengan Taemin, topeng yang ia gunakan tadi tengah bertengger di kepalanya.
"Tapi tidak perlu sebanyak itu."
"Diam, dan turuti saja aku."
"Ne Yang Mulia."
Minho melirik Taemin yang tengah menikmati es krimnya, ia mengembangkan seringaiannya.
"Hey Taemin." Panggil Minho membuat Taemin memalingkan Wajahnya pada Minho, Tapi sesuatu yang dingin menyentuh pipi Taemin.
"Yaaa! Yang Mulia..." Rajuk Taemin, ketika mendapati es krim Minho menempel di pipinya.
Minho tertawa terbahak-bahak ketika melihat ekspresi Taemin yeng mengelap es krim di pipinya. Tapi tawanya terhenti ketik es krimnya sendiri mengenai hidung mancungnya.
"Ahahaha... itu balasannya Yang Mulia, ternyata kau juga ceroboh seperti ku."
"Ya! Lee Taemin kau berani sekali pada ku." Minho mendekap leher Taemin, mencoba mengancam Taemin, tapi tawa Taemin tak juga berhenti.
Deg..
Minho terpaku sesaat pada senyuman Taemin. Jika ia tidak mengenal Taemin, mungkin ia sudah menganggap Taemin itu adalah seorang wanita saat ia tersenyum seperti ini.
"Yang Mulia?" Taemin melambaikan tangannya di depan muka Minho.
Minho reflek melepaskan dekapannya dari Taemin, dan kembali berdiri elegan.
"Aku lelah, kajja kita pulang." Minho berjalan duluan, Taemin yang melihat perubahan sikap Minho hanya bertanya heran dalam hatinya, kemudian berjalan mengikuti Minho.
Ckrek... Ckrek...
"I got you Choi Minho."
Seseorang berdiri di balik pohon dengan kameranya. Melihat setiap foto-foto yang ia dapat sepanjang perjalanan tadi.
.
.
.
.
.
TBC
