Disclaimer : Naruto bukan milik saya

Don't like don't read

Warning : Bahasa tidak baku, EYD tidak sempurna, karakter OOC

.

CHAPTER 8

.

Hinata membuka matanya perlahan.

Ia bermimpi kembali ke kehidupan sebelumnya. Ia bermimpi bertemu dengan teman-teman lamanya, pergi ke tempat kerja, dan melakukan aktivitas yang biasa ia lakukan dulu.

Namun sayang sekali itu semua hanya mimpi. Ia masih terjebak di Konoha.

Hinata kembali mengingat kecelakaan bus yang ia alami di kehidupan sebelumnya, mustahil ia bisa selamat dari kecelakaan naas itu. Kira-kira apa yang terjadi dengan tubuhnya disana? Apakah teman-temannya akan menangisinya ketika mendengar kabar duka itu? Apakah mereka semua akan merindukannya saat ia telah pergi? Ia tidak memiliki keluarga yang akan meratapi kepergiannya. Semoga teman-temannya mau mengunjungi pusaranya dan selalu mengingatnya. Ia tidak ingin dilupakan.

Sangat aneh rasanya membayangkan dirinya yang telah meninggal meskipun sebenarnya ia masih hidup dan bernafas.

Seandainya ia kembali pulang ke dunianya lalu apa yang terjadi? Apakah ia sebenarnya masih hidup disana? Lalu bagaimana dengan tubuh ini dan Hinata Hyuuga jika ia pergi?

Ia tidak tahu jawabannya.

Setelah mencuci muka dan menyisir rambutnya, ia turun ke dapur untuk memasak sarapan. Si brengsek itu tidak mau menyewa asisten rumah tangga sehingga ia harus memasak sendiri. Setidaknya Hinata tidak harus membersihkan rumah sebesar ini sendirian, setiap tiga hari sekali ada seseorang yang datang untuk membersihkan rumah dan merawat taman.

Ternyata Sasuke sudah bangun. Pria itu duduk di meja makan sambil meminum teh hangat. Wajahnya terlihat pucat dan nampak tidak sehat.

Apakah Sasuke sedang sakit.

"Sasuke… apakah kau sedang sakit?" Tanya Hinata sambil berjalan menghampirinya.

"Mm." Kata Sasuke sambil meminum tehnya. "Kepalaku pusing dan tubuhku meriang. Aku akan beristirahat hari ini. Jangan ganggu aku."

"Apakah kau memberitahu Haruno-sama jika kau sedang sakit?" Tanya Hinata dengan penasaran. Si pink itu tidak akan datang lagi hari ini kan? Melihat wajahnya setiap hari cukup membuatnya muak.

"Tidak. Aku tidak ingin ia khawatir." Gumam Sasuke.

Hinata mengambil tempat duduk di depan Sasuke. Ia lalu bertopang dagu sambil mengamati pria itu dengan serius.

"Biar kutebak alasan sebenarnya." Kata Hinata sambil tersenyum. "Kau tidak ingin memberitahu Haruno-sama karena kau tidak ingin dia datang kemari dan mengganggumu yang sedang sakit. Kalian selalu berdebat dan bertengkar setiap kali bertemu kurasa itu membuatmu stress dan semakin pusing jika ia datang kemari untuk mengamuk."

Sasuke memijat keningnya sambil menggerutu. "Mendengarmu bicara membuat kepalaku semakin pusing."

"Aha! Kau tidak membantah tebakanku!" Kata Hinata sambil tersenyum penuh kemenangan. Ternyata menghadapi Sakura dan semua emosinya bisa membuat Sasuke pusing. Lihat saja kantung mata pria itu yang masih menghitam.

Hahaha… rasakan itu!

"Ugh. Aku mau tidur. Jangan berisik." Kata Sasuke sambil beranjak pergi. Cangkirnya masih berada di atas meja dengan teh yang masih tersisa seperempat gelas.

Hinata mengamati Sasuke yang berjalan pergi. Tubuh pria itu terlihat lemah dan lesu. Pasti dia benar-benar sakit. Ia lalu melirik cangkir yang ada di depannya. Sasuke hanya minum teh, pasti perutnya masih kosong. Apakah Sasuke sudah minum obat?

Hinata menghela nafas. Jadi pada akhirnya ia harus merawat Sasuke huh.

Kumohon buat dia mencintaiku… perkataan Hinata Hyuuga yang asli terngiang di benaknya.

Hinata mengusap-usap wajahnya. Keinginan Hinata Hyuuga yang asli adalah tiketnya untuk kembali pulang ke dunianya. Ia akan memanfaatkan kesempatan ini untuk merebut Sasuke dari Sakura.

.

.

Hinata mengetuk pintu kamar Sasuke sambil berusaha menyeimbangkan nampan yang ada di tangannya.

"Sasuke, aku akan masuk." Kata Hinata sambil membuka pintu kamar Sasuke.

Pria itu berbaring di ranjang dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Wajah pria itu kini terlihat sedikit memerah, mungkin ia terserang demam. Mendengar kedatangan Hinata, ia tidak protes. Mata hitamnya melirik Hinata sekilas lalu kembali terpejam.

"Sasuke, aku memasak bubur untukmu. Makanlah dulu." Kata Hinata sambil meletakkan nampan yang berisi semangkuk bubur dan segelas air di meja kecil yang berada di samping ranjang Sasuke.

Hinata meletakkan punggung tangannya di dahi Sasuke untuk mengecek suhu tubuhnya. Panas.

"Hey Sasuke, sepertinya kau demam. Apa kau sudah minum obat?" Tanya Hinata dengan sedikit khawatir. Bagaimanapun juga ia masih tidak tega melihat Sasuke yang tergolek sakit di ranjang.

Aiiish… hatinya terlalu baik.

"Pergilah. Aku mau tidur." Kata Sasuke dengan suara parau. "Kau menggangguku."

Dasar pria ini! Ia telah menunjukkan kemurahan hatinya, seperti inikah balasan yang ia terima.

"Kuambilkan obat." Kata Hinata sambil beranjak pergi.

Tak lama kemudian ia membawa obat penurun demam. Kini ia mendudukkan dirinya di samping Sasuke.

"Makan obat ini agar kau sembuh. Tapi sebelumnya kau harus mengisi perutmu yang kosong dengan bubur." Hinata lalu mengangkat mangkuk bubur itu. "Jangan manja dan keras kepala. Kau harus melakukan ini agar kau cepat sehat."

Sasuke hanya mendelik pada Hinata.

"Berhenti menatapku seperti itu dan makanlah buburmu. Lihat, ini sudah mulai dingin. Apa kau bisa bangun? Perlu bantuanku? Mau kusuapi?"

Dengan menghela nafas Sasuke bangun dan duduk. "Tak perlu membantuku. Aku tidak separah itu." Kata Sasuke sambil meraih mangkuk berisi bubur.

Hinata tidak berkomentar apapun. Ia mengamati Sasuke yang menghabiskan buburnya sesendok demi sesendok. Setelah bubur itu habis, ia meminum obatnya dan menghabiskan air minum di gelas.

"Terima kasih." Kata Sasuke singkat sambil kembali tidur.

"Mm. Aku akan datang lagi untuk mengantarkan makan siang nanti. Mau makan apa?"

"Terserah." Kini mata pria itu terpejam.

Ujung mata Hinata berkedut. Meskipun terbaring lemah di ranjang, Sasuke masih saja menyebalkan.

"Aku juga membawa plaster penurun panas. Biar kutempelkan ke dahimu."

Sasuke hanya diam dan memejamkan matanya ketika Hinata menyibakkan rambut hitam yang ada di keningnya dan menempelkan plaster penurun panas itu. Melihat Sasuke yang tidak memberikan respon apapun Hinata menjadi jengkel. Dengan sengaja telapak tangannya menampar kening Sasuke dengan sedikit kasar.

"Ah! Kenapa kau menampar keningku?!"

"Itu kulakukan agar membuat plasternya menempel semakin kuat." Bohong Hinata. Sebenarnya ia melakukan itu karena ingin menumpahkan kekesalannya.

"Kau pikir aku mempercayai omong kosong itu?!"

Hinata mengangkat bahunya. "Yang penting plasternya menempel kan."

Melihat Sasuke yang mengerang kesal, Hinata menahan tawanya.

.

.

"Aku memasak bubur lagi untuk makan malam. Kali ini aku menambahkan banyak sayuran. Makanlah selagi masih hangat." Kata Hinata sambil menyodorkan semangkuk bubur untuk Sasuke.

"Terima kasih." Kata Sasuke sambil mulai menghabiskan buburnya.

Setelah beristirahat total seharian sambil meminum obatnya, demam Sasuke sudah hampir menghilang. Pria itu juga tidak protes ketika ia mengantarkan makan siangnya tadi. Ia bahkan meminum obatnya tanpa perlu disuruh.

"Ah, aku lupa mengambil air minum. Tunggu sebentar."

Kini Hinata beranjak ke dapur untuk mengambil air minum sambil menyingkirkan mangkok kotor.

Tak lama kemudian ia membawa sebotol air minum untuk Sasuke. Pria itu lalu meminum obatnya, setelah itu meneguk air minum hingga tersisa setengah botol.

Setelah selesai, kini Sasuke kembali berbaring sambil menatap Hinata. "Terima kasih banyak untuk hari ini."

"Itu sudah menjadi kewajiban seorang istri." Jawab Hinata dengan santai. Ia lalu melepaskan plaster penurun panas yang ada di dahi Sasuke, kemudian ia mengecek suhu tubuh pria itu. Suhunya normal.

"Demamnya sudah menghilang." Kata Hinata sambil melemparkan plaster itu ke tempat sampah kecil yang berada tidak jauh dari ranjang.

"Mm. Aku akan bekerja besok."

"Kau harus beristirahat besok, jangan kerja. Tubuhmu masih lemah."

"Aku tidak akan melakukan pekerjaan berat."

Hinata lalu merebahkan tubuhnya di samping Sasuke.

"Apa yang kau lakukan?"

"Berbaring."

"Lakukan itu di kamarmu sendiri."

Hinata lalu memiringkan tubuhnya dan menatap Sasuke. "Apa salahnya jika aku berbaring disini?"

"Kau bisa ketularan demamku."

"Kau kan sudah sembuh."

Sasuke menghela nafas. "Pergilah. Aku mau tidur."

"Kalau begitu tidur saja. Abaikan keberadaanku disini." Kata Hinata sambil tersenyum.

Sasuke lalu memiringkan tubuhnya, kini mereka berdua saling berhadapan. "Kau benar-benar tidak takut jika ketularan sakit ya?"

Hinata menatap bola mata Sasuke yang hitam kelam. Ia sama sekali tidak bisa memahami pria ini. Sebenarnya seperti apa jalan pikirannya?

"Apa kau masih mengingat janji pernikahan kita dulu?" Tanya Hinata sambil menggali memori tubuh ini.

Alis Sasuke berkerut. "Mengapa kau tiba-tiba menanyakan hal ini?"

Hinata masih menatap mata Sasuke, berusaha membaca ekspresi pria itu. "Itu adalah janji yang pernah kita ucapkan 'Saling memiliki dan menjaga. Berbagi dalam suka maupun duka, kaya maupun miskin, sehat maupun sakit. Saling mengasihi dan menyayangi sampai maut memisahkan' apakah kau masih mengingatnya?"

Sasuke hanya bungkam, tidak menjawab pertanyaan Hinata. Namun Hinata yakin Sasuke pasti mengingatnya. Sesuatu yang penting seperti janji pernikahan adalah hal yang tidak mudah dilupakan.

"Aku berusaha memenuhi janji yang telah kuucapkan dulu, saling berbagi di kala sakit." Bisik Hinata sambil memandang wajah Sasuke yang terlihat tenang. Pria itu tidak menunjukkan isi hatinya.

"Kau tahu…" Bisik Sasuke. "Aku tidak pernah membencimu. Aku memang marah padamu atas semua kejahatan yang telah kau lakukan dulu, tapi entah kenapa aku tidak bisa membencimu. Percayalah, aku sudah berusaha untuk membencimu tapi tetap saja aku tidak bisa melakukannya."

Hinata tertegun. Jadi Sasuke tidak pernah membenci Hinata Hyuuga?

"Ne… Sasuke… jika aku memintamu untuk melepaskan Sakura, apakah kau mampu melakukannya?"

"Aku tidak ingin menjawab itu." Kata Sasuke dengan tegas.

"Kau ragu." Gumam Hinata. "Kau masih ragu dengan perasaanmu pada Sakura. Kau juga ragu untuk melepaskanku atau tidak."

Mereka berdua kini diam, saling menatap untuk menggali isi hati lawan bicaranya.

Hinata kembali melanjutkan perkataannya. "Tapi kau harus menjawabnya. Cepat atau lambat kau harus membuat keputusan tentang siapa yang akan kau pilih pada akhirnya. Aku atau Sakura. Kau tidak bisa mempertahankan hubungan seperti ini diantara kita selamanya. Salah satu diantara kami harus pergi."

"Aku tahu." Jawab Sasuke.

"Apa saat ini kau sudah memiliki jawaban itu?"

"Mungkin ini terdengar gila, tapi kau benar." Ujung bibir Sasuke tertarik ke atas. "Aku ragu. Ternyata aku memiliki keraguan dalam hatiku. Dan yang paling gila dari semua ini adalah aku bahkan tidak mencintaimu. Aku masih tidak mengerti untuk apa aku ragu. Lucu sekali bukan?"

"Kau sudah terkena kutukanku." Kata Hinata dengan serius.

Sasuke mendecih. "Kutukanmu itu hanyalah omong kosong belaka."

"Tidak, kutukanku memang nyata. Cepat atau lambat kau pasti akan mencintaiku. Awalnya kau akan ragu, lalu kau akan memikirkanku sedikit demi sedikit. Setelah itu kau tidak mampu berhenti memikirkanku. Lalu kau tidak mampu memikirkan hal lain lagi selain aku. Kemudian kau akan memperhatikan semua hal tentangku. Saat itulah kau mulai menyukaiku. Setiap kau tertidur kau akan memimpikanku. Setiap kau terjaga kau akan melamunkanku. Setiap kali kau melihatku jantungmu akan berdebar kencang. Kemudian kau berharap ingin memilikiku dan berharap agar aku menyukaimu. Lalu tanpa kau menyadarinya… kau telah mencintaiku. Dan kau tidak mampu menyangkal itu."

Sasuke menatap Hinata dengan serius. "Kau sangat percaya diri."

"Tentu saja!" Kata Hinata sambil tersenyum.

"Kau bukan tipeku." Kata Sasuke dengan nada datar.

"Tidak masalah. Cinta itu buta dan sangat tidak rasional. Kau tidak bisa memilih dengan siapa kau akan jatuh cinta."

"Pilihanku telah jatuh pada Sakura."

"Tapi kau bilang kau menyukai tipe wanita pendiam. Sakura tidak seperti itu."

"Aku menyukai wanita pendiam. Wanita seperti itu sangat anggun dan menenangkan. Tapi aku juga menyukai wanita riang dan menyenangkan."

"Seperti Sakura." Kata Hinata sambil mendengus.

"Ya." Jawab Sasuke.

"Tapi dulu aku wanita yang pendiam. Mengapa kau tidak menyukaiku?"

"Entahlah, mungkin karena kau terlalu pendiam sehingga membuatku merasa jenuh dan bosan."

Hinata mendelik ke arah Sasuke. Pria ini tidak memiliki pendirian tetap.

"Tapi sekarang aku sudah berubah. Aku tidak pendiam lagi." Protes Hinata.

"Justru aku semakin tidak menyukaimu." Kata Sasuke dengan santai. "Kau sekarang sangat berisik, cerewet, dan menyebalkan."

"Aku berubah gara-gara kau." Kata Hinata dengan kesal.

"Mm." Kata Sasuke sambil menyeringai.

Hinata semakin kesal melihat seringaian di bibir Sasuke. Mengapa pria ini menyeringai?

"Kau adalah pria brengsek."

"Memang."

"Kau sangat egois."

"Ya."

"Kau juga arogan."

"Mm."

"Aku membencimu."

"Aku tahu itu."

Hinata cemberut. Sementara itu seringaian di bibir Sasuke semakin melebar.

"Hey Sasuke… apakah kau merindukan sosokku yang dulu?" Kata Hinata perlahan.

Sasuke tampak berpikir sejenak.

"Mungkin." Bisik Sasuke. "Kau dulu sangat lugu dan pendiam. Kau juga penurut, tidak pernah protes ataupun membantah. Dulu kau juga tidak pernah menggangguku. Well, sampai kau berubah menjadi jahat dan menyakiti Sakura."

Hinata ingin sekali berteriak dan mengatakan jika itu adalah salah Sasuke. Siapa orang yang telah mendorong Hinata berubah jadi jahat?!

"Jika kau merindukan sosok Hinata yang dulu maka harus kukatakan padamu ia telah sirna. Aku bukan lagi dia." Kata Hinata sambil menyembunyikan gejolak di dadanya.

Sasuke hanya diam, tidak mengomentari perkataan Hinata.

Hinata membalikkan tubuhnya, kini ia memunggungi Sasuke. Gejolak di hatinya belum juga berhenti.

"Kapan kau akan pergi?" Tanya Sasuke dengan nada datar.

"Aku akan tidur disini." Kata Hinata.

Sasuke menghela nafas. "Kuharap kau tertular penyakitku."

Hinata membalikkan tubuhnya dan memandangi Sasuke yang belum beranjak dari posisinya.

"Tenang saja, aku punya banyak obat dan vitamin. Jika aku sakit maka aku akan sembuh dengan sekejap."

Sasuke mendengus. "Untuk apa kau memiliki obat banyak-banyak?"

"Setelah pertengkaranmu dengan Haruno-sama yang menghancurkan rumah ini, aku jadi memikirkan sesuatu. Aku harus mulai menyimpan obat dan sejenisnya untuk berjaga-jaga jika sampai jatuh korban. Pertolongan pertama sangat penting jika ada seseorang yang cedera." Kata Hinata dengan serius.

Mungkin Hinata tidak sepenuhnya jujur, ia memang menyimpan P3K untuk berjaga-jaga jika ia sakit atau terluka. Bukan demi Sakura atau Sasuke.

Alis Sasuke berkedut. "Jangan berlebihan."

"Aku tidak berlebihan!" Protes Hinata. "Bagaimana jika sampai Haruno-sama marah dan melemparkan sesuatu lalu mengenaimu?! Kau bisa berdarah! Atau mungkin dia kesal dan mencakarmu, itu juga akan membuatmu berdarah. Ketika Haruno-sama murka bisa saja ia memukulmu dan membuatmu menjadi memar. Aku sudah membeli plaster luka, obat merah, kapas, perban dan cairan pengompres luka. Ah! Jika kau merasa stress dan tekanan darahmu naik aku juga punya obatnya. Selain itu juga ada obat migraine, penghilang nyeri, penurun demam, obat flu, bahkan juga ada obat batuk. Pokoknya semua lengkap! Kau bisa mulai berperang saat kau sudah sembuh nanti."

Melihat ekspresi blank di wajah Sasuke, Hinata tertawa terbahak-bahak.

"Tidak ada yang lucu." Gumam Sasuke.

Hinata berusaha menghentikan tawanya. "Ah, cepatlah sembuh Uchiha-sama, hamba akan menjadi perawatmu yang setia mengobati luka yang anda dapatkan di medan peperangan." Kata Hinata sambil tersenyum lebar.

Kini Sasuke justru membalikkan punggungnya dengan kesal. "Terserah. Aku mau tidur."

"Jangan lupa memimpikanku." Kata Hinata sambil terkekeh.

Sasuke hanya menggerutu.

.

.

Well… karakter Hinata disini berbeda jauh dengan yang ada di NSL.

Ah Sasuke-kun yang malang…

Bisa dibilang hubungan Sasu-Saku tidak berjalan harmonis. Kecemburuan Sakura melihat Sasuke yang masih mempertahankan Hinata membuat Sasu-Saku sering berdebat. Di novel yang pernah dibaca Hinata Fujioka, Sasu-Saku sangat harmonis karena Hinata sudah ditendang pergi. Yah… alur cerita kini telah berubah.