~ AceLu Ficlet #8


One Piece © Eiichiro Oda

Kingdom II © Viero D. Eclipse

Pairing: Ace x Luffy

Genre: Drama/Adventure/Romance/Family

Rated: T

Word-count: 3183

Warning: AU bersetting kerajaan Jawa/adat Yogyakarta, Hint of Shounen Ai

Don't like? Don't read!


Dan pada akhirnya, permintaan raja South Blue pun terpublikasikan secara luas...


Rumpunan rakyat negeri East Blue di kala itu seakan terhujam kegemparan yang begitu hebat tatkala satu berita besar mulai terlahir di permukaan secara luas. Kekalahan sang putra mahkota kerajaan telah menjadi sebuah realitas pahit yang sulit untuk diterima. Ini sungguh berat. Reputasi kejayaan absolut East Blue yang konon tak terkalahkan, kini hanya menjadi bulir-bulir kenangan masa lalu yang tak akan pernah tergapai lagi. East Blue telah kalah. Untuk yang pertama kalinya, kerajaan tersohor itu harus menerima takdir kelam nan keji seperti ini.

Tak hanya hal itu saja yang menggemparkan para rakyatnya. Berita mengenai rencana raja South Blue untuk mempersunting sang putra mahkota dalam waktu dekat, sungguh bagaikan sebuah petir di siang bolong. Para petinggi negeri tak henti-hentinya dihujam puluhan tombak tanya dari kumpulan rakyat jelata. Sungguh, bagaimana bisa kekalahan putra mahkota berakhir dengan jalan perkawinan antar penerus kerajaan seperti ini? Semua ini sangat membingungkan.

Dan sungguh tak mengherankan pula jika para rakyat jelata tak mengerti akan korelasi dari semua realita ini. Pertempuran yang terjadi di antara raja South Blue dan putra mahkota telah berlangsung secara tertutup. Bahkan, para rakyat pun harus mendengar sendiri berita mengenai kekalahan putra mahkota dari mulut para petinggi yang menjabat sebagai kepala kampung. Para rakyat juga tak ada yang tahu tentang perjanjian yang diguratkan oleh raja mereka sendiri kepada Ace. Sebuah perjanjian untuk mengabulkan satu permintaan Ace jika raja South Blue itu berhasil menumbangkan putranya. Perjanjian itu merupakan sebuah kesalahan terfatal yang pernah diputuskan sang raja dalam hidupnya. Dan aib kerajaan ini sungguh tak perlu dipublikasikan.

Sejatinya...

Kabar tentang rencana pernikahan putra mahkota ini akan lebih bijak jikalau tersimpan rapat dan dipendam sebagai privasi kerajaan. Tapi hal itu sangatlah mustahil. Kanjeng Gusti Pangeran Luffy adalah calon penerus tahta kerajaan East Blue dan mereka tak akan bisa menyembunyikan status Luffy jikalau pemuda itu sudah resmi menjadi 'istri' dari Gusti Prabu Ace nantinya.

Pada akhirnya, setelah rapat panjang yang terjadi di antara sang raja, patih, para menteri dan juga para majelis arif nan bijaksana, sebuah keputusan pun lekas dibentuk dengan matangnya.

Mereka memutuskan untuk menyampaikan berita ini kepada rakyat.

Meski hal ini bukanlah sebuah hal yang begitu menggembirakan. Setidaknya, berita tentang rencana pernikahan itu akan jauh lebih baik jika dibandingkan dengan pengumuman tentang acara penjajahan dari kerajaan musuh.

Terkadang, Gusti Prabu Dragon sungguh tak tahu, apakah ia harus lega dengan permintaan Ace ini ataukah tidak.

Kerajaannya memang tidak dijajah ataupun terinvasi. Namun sebagai gantinya...

Ia harus menyerahkan putra kesayangannya itu.

Sama saja.

.

.

.

"Bagaimana respon mereka mengenai rencana pernikahan ini?"

"Menurut laporan yang disampaikan oleh Punggawa Zoro, sepertinya para rakyat mulai menyimpan rasa skeptis dan kecurigaan pada para awak kerajaan, Tuanku Kanjeng Prabu. Mereka menuntut sebuah kejelasan yang pasti."

Pernyataan yang diguratkan oleh Senopati Shanks membuat rasa sakit kepala semakin menghantam Dragon dengan hebatnya. Dilematis mengungkum penalaran sang raja East Blue tersebut. Tiga hari menjelang prosesi pernikahan putranya dan para rakyatnya pun semakin menghujamnya dengan rasa curiga. Kinerja pemerintahannya mulai diragukan. Dan konflik mengenai krisis kepercayaan ini sungguh tak bisa dianggap remeh.

"Alasan apa yang harus kuberikan pada mereka..."

"Kerja sama."

"Apa?"

"Gunakan saja alasan kerja sama sebagai alibi untuk mengorelasikan semua ini. Yakinkan pada rakyat bahwa rencana persuntingan ini adalah bentuk penyatuan antar dua kerajaan saja. Tak ada yang lain." Mahapatih Garp melontarkan usul. Sebuah usul sederhana yang sebenarnya sudah terpatri di otak Dragon. Tapi ada satu dilema yang masih belum ada jalan keluarnya.

"Alasan itu memang sangatlah logis, Ayah. Tapi yang kubingungkan di sini adalah, bagaimana menyiapkan alibi untuk pernikahan itu sendiri. Ayah 'kan tahu bahwa kita akan menikahkan dua orang dengan gender yang sama. Hal ini akan menjadi sebuah skandal besar di mata rakyat bahkan negeri tetangga sekalipun. Sejatinya, pernikahan dilangsungkan dengan prioritas untuk menjaga silsilah keturunan kerajaan. Jika Luffy menikah dengan Prabu Ace, ia tak akan bisa mendapatkan keturunan." Penjelasan logis Dragon membuat ayahnya terdiam untuk sesaat, berpikir. Benar juga. Pernikahan sesama jenis akan menjadi sebuah skandal yang sangat tabu dalam kerajaan. Hal ini sungguh tidaklah normal. Garp pun kembali mengemukakan pendapatnya.

"Hmm... aku semakin tak paham saja dengan jalan pemikiran Prabu Ace itu. Mengapa Prabu Ace bisa tertarik dengan putra mahkota? Apa ia tak memikirkan silsilah keturunannya? Bagaimana ia bisa melanjutkan tahta kerajaannya sendiri jika ia tak memiliki keturunan, hah? Raja macam apa dia itu! Ceroboh sekali."

"Mungkin... Prabu Ace bisa mendapatkan keturunan dari para selirnya, Mahapati Garp."

"Gusti Kanjeng Ratu Hancock?"

Segenap atensi kini terarah pada sosok wanita berambut hitam panjang dengan tinggi yang begitu semampai. Wanita itu terlihat berjalan memasuki singasana Dragon. Segenap petinggi kerajaan mulai menundukkan diri memberi hormat. Gusti Kanjeng Ratu Hancock, yang tak lain dan tak bukan merupakan permaisuri dari kerajaan East Blue itu sendiri. Ia adalah istri dari Gusti Prabu Dragon.

"Aku yakin Prabu Ace bisa dengan mudah mendapatkan keturunan dari 'garwa ampeyan' yang ia miliki," sang ratu East Blue itu mulai terduduk di sela-sela kursi sang patih dan raja. Air mukanya yang ayu memaparkan aura yang begitu bijaksana. Mahapatih Garp tampak melipat kedua tangannya.

"Kalau begitu, kenapa ia tidak menjadikan pangeran Luffy sebagai selirnya saja? Ia mengguratkan sebuah permintaan untuk mempersunting pangeran Luffy dan menjadikannya sebagai permaisuri utama kerajaan South Blue. Bukankah itu merupakan hal yang sangat riskan? Akan lebih aman baginya untuk memiliki 'garwa padmi' seorang wanita. Dengan begitu, ia akan selamat dari opini miring masyarakat."

"Tapi sepertinya, Prabu Ace mempersunting Luffy bukan untuk sekedar menjadi pelampiasan hasratnya saja, Mahapatih Garp. Ia berani mengambil konsekuensi sebesar ini pasti ada maksudnya. Ada motif lain yang ia pendam dibalik semua ini." Hancock mencoba berasionalisasi. Dan Garp pun semakin kehilangan arah.

"Motif lain?"

"Benar. Mungkin ia ingin mendapatkan sesuatu dan sesuatu itu hanya bisa didapatkan dengan menikahi putra mahkota kerajaan kita. Sesuatu itu..." Hancock bertopang dagu untuk sesaat. Mencoba membangun beberapa bulir spekulasi logis. Salah seorang majelis tampak angkat bicara.

"Ah... mungkin saja, Gusti Prabu Ace benar-benar ingin mempersatukan kerajaannya dengan kerajaan kita, Yang Mulia. Itu sebabnya beliau berani mempersunting putra mahkota-"

"Jika ia memang ingin mempersatukan kerajaan, kenapa ia tidak mempersunting saja putri-putriku?" sela Hancock tiba-tiba. "Jangan lupakan. Aku juga memiliki dua orang putri sebelum Luffy. Sekarkedhaton Robin dan juga Sekartaji Nami. Dua orang putriku yang juga tak kalah elok nan ayu rupanya. Kenapa tidak mereka saja? Kenapa yang ia pilih justru... Gusti Kanjeng Pangeran Luffy?"

Hening.

Dragon dapat merasakan bahwa ada rasa tak terima yang tersirat dalam nada ucapan Hancock. Hal itu sangatlah wajar mengingat sang putra mahkota adalah anak kesayangan mereka. Ia paham betul dengan apa yang sudah dirasakan oleh 'garwa padmi'nya itu. Masa pelepasan sang putra untuk diberikan kepada orang lain memang merupakan masa terberat bagi mereka selaku orang tua. Namun, mereka sudah tak punya pilihan lain lagi.

"Percayalah. Bahwa Gusti Prabu Ace tak memiliki niat yang jahat."

"Apa maksudmu, Yang Mulia?" Hancock mulai skeptis dengan pernyataan suaminya. Sang raja East Blue itu hanya bertopang dagu dengan air muka tak terdefinisi.

"Jika ia memiliki niat yang jahat, sudah pasti ia akan mengguratkan permintaan untuk menginvasi kerajaan kita semenjak awal. Dan jika memang ia ingin melampiaskan hasrat birahinya pada Luffy, sudah pasti ia akan menjadikan Luffy sebagai 'garwa ampeyan' saja dan bukan sebagai 'garwa padmi'nya seperti ini. Tapi yang terjadi justru sebaliknya 'kan?" semua terdiam sesaat untuk menalar penjelasan itu. Dragon mengarahkan atensinya pada Hancock.

"Aku sudah memperhatikan pemuda itu saat ia bertarung melawan Luffy. Dari gerak-geriknya, sepertinya ia memang menyukai putra mahkota."

"A-Apa?" spekulasi itu membuat rasa terkejut menghantam segenap orang yang ada di dalam ruang rapat. Tak terkecuali dengan Mahapatih Garp dan juga beberapa majelis. Hancock seakan tersentak, syok.

"Ti-Tidak mungkin. Tidak mungkin Gusti Prabu Ace benar-benar menyukai pangeran Luffy-"

"Itu mungkin saja, Ratuku..." Dragon menghela napasnya. Sang raja East Blue itu hanya dapat melayangkan frase retoris. Tak ada yang tak mungkin di dunia ini.

"Bukankah cinta itu... memang tak memandang apapun?"


~AxL~


"Ritual Nyantri akan diadakan nanti sore! Cepat kalian siapkan sebuah tempat persinggahan yang layak untuk Raja Gusti Prabu Ace!"

"Daulat, Baginda!"

Beberapa orang kepercayaan kerajaan tampak mempersiapkan segala sesuatunya. Semua terlihat sibuk dengan adanya prosesi ini. Ritual Nyantri adalah sebuah ritual dimana calon mempelai pria harus dititipkan kepada calon mempelai wanita dan ditempatkan di dekat lingkungan kerajaan agar upacara pernikahan berjalan dengan lancar. Dan dalam pihak ini, Luffylah yang menjadi mempelai 'wanita'-nya. Ia disunting oleh seorang Raja. Meski gendernya lelaki, tapi ia hanyalah seorang putra mahkota yang belum memiliki kekuasaan penuh seperti Ace.

Itu artinya, ia tak bisa menuntut lebih.

Faktor usianya yang masih belum terlalu matang dan juga jalan pemikirannya yang tak terlalu arif, telah membuatnya berada di pihak submisif.

"Pangeran Luffy? Apa yang kau lakukan di sini?"

Lamunan sang putra mahkota East Blue lantas terpecahkan dengan hadirnya Gusti Raden Ajeng Nami yang merupakan anak kedua dari Gusti Prabu Dragon dengan Kanjeng Ratu Hancock. Gadis berambut oranye itu adalah seorang kakak yang memiliki anugerah berparas ayu. Terkadang, Luffy sungguh bingung, kenapa Prabu Ace tidak memilih kakak-kakaknya saja untuk dipersunting sebagai istri? Kenapa harus dia yang notabene adalah seorang laki-laki? Tidakkah hal itu sangat tabu dalam lingkungan kerajaan?

"Sekartaji Nami..."

"Seharusnya, saat ini kau sudah berada di dalam Kagungan Dalem Bangsal Sekar Kedhatonan, Pangeran Luffy. Ritual Nyantri akan dimulai dengan datangnya calon suamimu. Kalian harus dipisahkan dahulu di tempat yang berbeda sampai pernikahan dilangsungkan." Luffy hanya tertunduk mendengar itu. Deretan giginya tergertak rapat bersamaan dengan kedua tangannya yang terkepal erat.

"Andai saja aku bisa menang melawannya waktu itu. Pasti kerajaan East Blue bisa mempertahankan kejayaannya tanpa reputasi kalah sama sekali! Aku sudah mengecewakan semuanya! Ini menyebalkan!" Rasa kesal merajai penalaran. Luffy tak bisa kembali ke masa lalu untuk menghapus kesalahannya. Pandangan Nami melembut menatap sang adik.

"Ini bukan sepenuhnya kesalahanmu, Pangeran Luffy. Kau sudah melakukan yang terbaik untuk East Blue. Tak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Semua juga memiliki garis keterbatasannya sendiri-sendiri." Sejatinya tak hanya hal itu saja yang disesalkan Luffy. Ada hal lain yang menjadi dilematisnya saat ini. Lantas, berbaliklah sang putra mahkota itu membelakangi kakaknya. Disentuhnya hamparan dinding singgasana istana tempatnya bernaung sekarang.

"Jika aku menikah nanti, apakah aku tak akan bisa menggantikan ayah untuk memimpin kerajaan ini, Sekartaji Nami?"

Yang ditanya terdiam untuk sesaat. Mencoba menyelami pertanyaan Luffy baik-baik. Adiknya berkata seperti itu karena memang semenjak kecil, pemuda itu sudah memiliki cita-cita untuk menjadi raja. Ia ingin menjadi penerus kerajaan East Blue dan menggantikan Dragon kelak. Untuk itulah Luffy selalu berlatih agar ia dapat mempertahankan kejayaan East Blue. Ia ingin menjadi orang yang terkuat. Dan kekalahan ini pasti membuatnya begitu terguncang.

"Kau tetap akan menjadi penerus kerajaan East Blue, Luffy. Meski kau sudah dipersunting oleh raja South Blue, tapi tetap saja ini adalah kerajaanmu. Masa pemerintahan ayah akan segera berakhir. Penobatan raja akan tetap dilakukan saat kau sudah menginjak usia yang cukup matang."

"Be-Benarkah? Aku masih bisa menjadi raja?" air muka Luffy berubah drastis. Pemuda itu tampak begitu antusias di saat pertanyaannya dibalaskan dengan anggukkan Nami.

"Itu benar."

"Kalau begitu... aku akan memiliki dua kerajaan? Satu di South Blue dengan Prabu Ace dan satu lagi di East Blue..." putra mahkota yang lugu itu bertopang dagu untuk sesaat. Mencoba membayangkan masa depannya. Hal itu membuat gema tawa tergurat dari mulut Nami.

"Ahahaha... dasar bodoh. Jika kau sudah dinobatkan sebagai raja, kau bisa menyatukan dua kerajaan ini dengan suamimu, Luffy. Jadi, kau tak perlu bingung lagi. Kalian bisa bertahta dan memimpin kerajaan berdua." Kedua obsidian Luffy membelalak lebar dengan pengetahuan baru itu.

"Oh! Jadi begitu ya? Aku dan Prabu Ace bisa memimpin kerajaan bersama-sama?"

"Itu benar. Aku yakin, jika kalian berdua yang memimpin, maka dua kerajaan yang besar ini tak akan semudah itu bisa diinvasi oleh kerajaan lain. Kerajaan kalian akan menjadi sebuah kerajaan terkuat sepanjang sejarah. Sang pelita East Blue dan juga Tinju Api South Blue. Sungguh sebuah kombinasi yang sangat tangguh." Ya, benar. Teori yang diguratkan Nami kemungkinan besar bisa saja terjadi. Itu jika Gusti Prabu Ace memang benar-benar tulus dengan niatnya mempersunting Luffy. Gadis itu hanya bisa berharap yang terbaik untuk adiknya.

Semoga saja raja South Blue itu tak menyimpan konspirasi busuk dibalik semua ini.

"Se-Sepertinya... hal itu keren sekali! Shishishishi!" Masih terbuai dengan gambaran masa depan yang cerah, simpulan senyum antusias lantas terukir di bibir Luffy. Paras pemuda itu terlihat berseri-seri. Sepertinya, menikah dengan raja South Blue itu tak sepenuhnya hal yang buruk. Ia bisa memimpin kerajaan yang lebih besar lagi jika bersanding dengan Ace, satu-satunya pria yang sanggup menaklukkannya. Meski begitu, serpih keraguan belum sepenuhnya hilang dari endapan benaknya. Ia masih belum tahu dengan watak asli calon suaminya.

'Bagaimana jika Gusti Prabu Ace adalah orang yang jahat? Atau mungkin... dia galak seperti kakek Garp?' Luffy hanya dapat berekspektasi tanpa dasar yang pasti. Jika terjadi pertikaian dalam rumah tangga mereka, ia tak akan semudah itu bisa menaklukkan Ace. Pria itu begitu kuat. Yang bisa lakukan saat ini, hanyalah... berharap.

"Tuan Gusti Prabu Ace telah tiba!"

"A-Apa?"

Pernyataan dari seorang hulubalang lantas membuat kaget orang-orang yang ada di dalam singgasana istana. Di beranda depan, telah tampak orang-orang dari kerajaan South Blue yang sudah berdiri menanti kehadiran sang raja East Blue. Dan Gusti Prabu Ace pun sudah hadir pula di sana. Dari balik dinding, Luffy dan Nami hanya terkesima menatap panorama besar itu.

"Calon suamimu sudah hadir, Pangeran Luffy," jelas Nami singkat. Sang adik hanya terdiam sembari terus memerhatikan sosok Ace dari kejauhan. Pria itu terlihat begitu gagah dengan busana kerajaannya. Sungguh berbeda saat awal kali mereka bertarung satu sama lain. Dan entah mengapa, debaran jantung Luffy semakin berpacu dengan cepatnya.

'Kenapa... aku jadi berdebar-debar begini?'

"Tak kusangka jika dilihat lagi, Prabu Ace ternyata tampan juga. Tidak. Ia bahkan tampan sekali."

"Kakak?"

Sumber suara baru itu mengagetkan Nami dan juga Luffy. Di hadapan mereka telah hadir seorang gadis berkulit tan yang juga memiliki paras ayu. Gadis itu adalah kakak tertua mereka sendiri. Gusti Kanjeng Ratu Robin.

"Gusti Prabu Ace terlihat bersahaja. Ia sangat cocok bersanding dengan Pangeran Luffy. Jangan berprasangka buruk dulu padanya. Karena kita masih belum tahu bagaimana tabiatnya nanti." Begitu bijaksana. Ya. Memang itulah ciri khas Robin. Putri tertua Dragon itu hanya dapat menepuk pundak Luffy dengan lembut. Ia percaya bahwa adiknya itu pasti bisa menggapai masa depan yang sangat cerah.

"Jangan terlalu khawatir, Pangeran Luffy. Ayah sudah membuat kesepakatan dengan calon suamimu. Saat kau sudah resmi menikah dengan Gusti Prabu Ace nanti, maka hulubalang kerajaan dan beberapa orang kepercayaan ayah akan diikutsertakan ke dalam singgasana South Blue untuk mengawasimu. Keselamatan dan keamananmu akan terjamin. Bahkan, yang mengajukan adanya pengawasan dari orang dalam justru adalah Prabu Ace sendiri."

"A-Apa? Pengajuan orang dalam itu dari Prabu Ace sendiri? Apa itu benar, Sekarkedhaton Robin?" Nami terkejut, tak percaya. Robin hanya mengangguk meyakinkan.

"Itu benar, Sekartaji Nami. Gusti Prabu Ace ingin menunjukkan itikad baiknya."

Luffy membisu dengan hal itu. Jika memang yang dikatakan kakaknya benar, maka ia tak perlu terlalu khawatir saat ini. Sekali ada kesalahan, maka orang kepercayaan ayahnya akan segera bertindak tegas. Dan itu artinya, perang antar kedua kerajaan pun tak akan segan untuk dilakukan jika memang Luffy mendapatkan perlakuan yang buruk. Kerajaan East Blue tak akan pernah membiarkan putra mahkotanya ditindas secara semena-mena. Tak akan pernah.

"Prabu Ace! Senang bisa melihat Anda lagi di sini."

"Demikian halnya denganku, Tuan Gusti Prabu Dragon."

Atensi dari ketiga anak raja Dragon lantas terarah kembali pada beranda depan istana. Ayah mereka sudah terlihat menyambut kedatangan Ace dengan penuh rasa hormat. Bahkan Kanjeng Ratu Hancock juga terlihat berdiri di samping Dragon, turut serta menyambut calon menantunya itu. Memutuskan untuk ingin tahu lebih jauh lagi, Luffy melangkahkan kedua kakinya sedikit demi sedikit untuk maju ke depan.

"Hulubalang! Apa Kagungan Dalem Gedhong Sri Katon kini sudah siap untuk disinggahi Prabu Ace?"

"Sudah, Baginda Raja! Prabu Ace bisa menempatinya kapan saja."

"Baguslah," Dragon menganggukkan kepalanya untuk sesaat. Lantas, kembali ditatapnya sosok Ace yang tengah berdiri di hadapannya itu. "Kalau begitu, tunggu apa lagi? Mari kuantarkan kau ke sana, Prabu Ace."

"Terima kasih banyak, Prabu Dragon."

Diiringi para pengawal dari kerajaan mereka masing-masing, pada akhirnya kedua raja itu lantas melangkahkan kaki menuju ke tempat persinggahan Ace selama ritual Nyantri berlangsung. Sang mempelai pria harus berada di dalam Kagungan Dalem Gedhong Sri Katon. Ia tak diperbolehkan untuk berkumpul dengan calon istrinya.

Dan di sela masa itu...

Luffy mulai terhenyak di saat sang raja South Blue telah menoleh ke arahnya dari kejauhan. Kedua obsidian mereka bertemu dalam diam. Dan pria bergelar tinju api itu lantas tersenyum lembut padanya. Cukup mampu untuk membuat penalaran Luffy tersentak dengan gejolak perasaan tak terdefinisi.

'Prabu Ace...'

Debaran jantung itu tak dapat dinafikkan lagi eksistensinya. Terus menderu dan berpacu cepat tanpa alasan yang pasti. Jemari milik Luffy lantas memanjat hamparan dadanya sendiri, menyentuhnya. Meresapi baik-baik tentang sensasi apa yang sudah terjadi padanya. Putra mahkota East Blue itu sungguh tak mengerti dengan apa yang ia rasakan sendiri. Ia tak mengerti...

'Sebenarnya... apa yang sudah terjadi padaku?'


A/N: Yup! Masih dengan lanjutan ficlet yang kemarin. Nih setting beneran asyik banget buat didalemin lebih jauh lagi. Dan saya juga gak nyangka bakalan masangin Dragon ama Hancock di sini! Pair crack yang sangat mencengangkan! #Plaks xD Untuk beberapa istilahnya biar saya jelaskan:

Garwa ampeyan: Sebutan untuk selir raja

Garwa padmi: Sebutan untuk permaisuri/Ratu

Sekartaji: Sebutan untuk anak perempuan raja yang kedua

Sekarkedathon: Sebutan untuk anak perempuan raja yang pertama

Nyantri: Sebuah ritual dimana calon mempelai pria dititipkan di lingkungan kerajaan calon mempelai wanita. Fungsinya biar gak terlalu merepotkan pihak mempelai wanita saat pernikahan berlangsung. Biasanya yang pria ditempatkan di Kagungan Dalem Gedhong Sri Katon. Sedangkan yang wanita ditempatkan di Kagungan Dalem Bangsal Sekar Kedhatonan bersama para selir raja dan juga permaisuri. Nih dua tempat juga masuk di wilayah kerajaan. Ya, setidaknya itulah beberapa referensi yang saya tahu. =)

Balasan Review:

Aoi LawLight: Ahahahaha~ Iya, kayaknya mereka pake blangkon! xD Tapi blangkonnya beda kok. Aku lupa sebuatannya apa! DX #Headbangs! Thanks reviewnya, Ao! xD

Kim D. Meiko: Wah, ada yang nyumbang tarian nih! xD Boleh2! Dipersilahkeun~

Ace: Gue setuju beraaaat! XDDD

moist fla: Ini udah ada part duanya~ xD

Micon: Awkwkwkwkwk~ Nama2nya aja emang udah bikin genre jadi berasa humor~ xD

MughiwaraVia: Hahaha! Ace emang begono. Kebiasaan ngeklaim orang imut xD #Plaks

ag-stalker: Iya. klo kerajaan kayak negeri dongeng udah sering. Jadinya bosen. So? Pake terobosan baru ala yogyakarta aja~ xD Thanks ya reviewnya!

Domi: Samaaaa, Doooom! Aku juga demen ama settingnya! xD Klo didalemin ternyata asyik. Di sini udah kukentalin lagi settingnya. Sorry klo ternyata malah FAIL! #Orz #PundungDiPojokan. Thanks reviewnya~

Pearl Victory: Wkwkwkwkwk~ Ini udah ada kelanjutannya, hon~ thanks reviewnya ya! xD

manusia semelekete: Ohohohoho~ Ini udah kulanjutin~ Thanks reviewnya! =D

Airan-Chan: Wahahaha! Shanks jadi senopati? Bisa aja kok~ Dia emang wajah-wajah senopati sih! xD #Ngawur. Thanks ya reviewnya!

Akai no Tsubasa: Ahahaha! Klo nama kerajaannya begitu ntar beneran genrenya langsung humor donk. Udah ngaco makin max aja ngaconya! xD #Ngakak! Thanks reviewnya, Zura!

Sora Tsubameki: Wkwkwkwk~ Yo'i kak! Endingnya Luffy kembali pada fitrahnya buat jadi uke! #Plaks! Makasih buat reviewnya kak! :D

ChiChi Rachel Gracheila Uchiha: Kutai? Yang Kutai di sini adalah sistemnya aja. Klo adatnya tetep pake Yogya. Thanks ya reviewnya! ^^

Wokeh, and at last, don't forget to REVIEW! again. Arigato~ ^o^