[DISCLAIMER]

The story belongs to it's real author. I just remake it into ChanBaek version.

.

HEART CONTRACT

심장 계약

[ChanBaek GS]

.

Remake story by Santhy Agatha

.

"Ketika kau mencintaiku, aku akan selalu ada di hatimu. Pun ketika kau membenciku, aku akan selalu ada di pikiranmu. Pada akhirnya,aku akan selalu ada"

.

.

CHAPTER EIGHT

Baekhyun menatap kepergian Rose dengan langkah anggun dan dramatis itu, lalu menghela napas panjang. Di sisi lain Chanyeol malahan mengamati Baekhyun, lalu terkekeh geli, membuat Baekhyun melemparkan pandangan membunuh kepada lelaki itu.

"Kenapa kau tertawa?"

Chanyeol bahkan makin tergelak, "Kau. Kau membuatku tertawa. Caramu menjawab pertanyaan Rose tadi membuatku sedikit bangga. Ternyata isteriku rela mempertahankanku dari rayuan perempuan lain."

"Jangan salah paham. Aku cuma tidak suka sikapnya yang merayumu terang-terangan, padahal ada aku di sebelahmu." Baekhyun melirik ke arah Eunbi dan Hyunmin yang juga tersenyum-senyum mendengar percakapan mereka. Sialan Chanyeol! Pasti sekarang Eunbi dan Hyunmin mengira dia cemberut dan marah-marah karena cemburu.

Chanyeol mengikuti arah mata Baekhyun, menyadari bahwa Eunbi dan Hyunmin mendengarkan percakapan mereka. Dia lalu mengedipkan mata ke arah Baekhyun, mengirimkan isyarat bahwa percakapan ini belum selesai, kemudian melangkah menuju mobil.

.

.

.

Pantai itu indah sekali, terletak di bagian selatan pulau, dengan resort yang dihiasi oleh cottage-cottage yang indah dan artistik dengan hamparan pasir putihnya yang begitu indah.

Langit tampak cerah, biru dihiasi awan putih berbagai bentuk, seakan-akan menyambut mereka dengan keindahan pemandangannya.

Baekhyun berdiri tanpa alas kaki, menginjak pasir putih itu dan memejamkan mata, merasakan hembusan angin laut yang hangat yang menerpa pipinya. Rasanya hangat dan mendamaikan, apalagi dengan alunan deburan ombak yang begitu menenangkan.

"Senang?" suara Chanyeol yang dekat di sampingnya membuat Baekhyun hampir terlonjak kaget. Dia menoleh dan melihat Chanyeol berdiri di sampingnya. Lelaki itu berpenampilan santai, dengan t-shirt putih dan celana pendek warna hitam dan kaki telanjang, sangat berbeda dari penampilan sehari-harinya yang resmi.

Baekhyun berpikir untuk membantah perkataan Chanyeol, tetapi dia akan tampak tidak tahu terima kasih kalau melakukannya, setidaknya biarpun menjengkelkan, Chanyeol sudah mengajaknya bersama Hyunmin dan Eunbi untuk menghabiskan akhir pekan menyenangkan dan merayakan ulang tahunnya.

"Senang." Baekhyun mencoba tersenyum, mengajak berdamai, "Terima kasih sudah mengajak kemari."

Chanyeol membalas senyuman Baekhyun dengan senyuman tipis, lalu menatap ke arah laut, hembusan angin laut membuat rambutnya berantakan tertiup angin dan menerpa dahinya, mengubah penampilan kerasnya menjadi lebih santai.

"Dulu kami sering berlibur kesini, sekeluarga. Aku, mama, papa dan Eunbi, waktu umur kami masih kecil." pandangan Chanyeol menerawang, mengenang, "Kemudian tahun berganti dan papa menjadi semakin sibuk, mama semakin lemah... Kadangkala disaat aku lelah, aku melarikan diri kesini."

Baekhyun mengernyit. Pasti Chanyeol membawa kekasih-kekasihnya kemari untuk menghabiskan malamnya, pikirnya dengan sinis.

Tanpa diduga Chanyeol menatapnya dan bisa membaca apa yang ada di dalam benaknya, lelaki itu terkekeh.

"Hentikan semua pikiran buruk yang ada di dalam kepalamu itu," gumamnya dalam tawa, "Sendirian. Aku selalu kemari sendirian. Resort pribadi ini, cottage ini, sisi pantai yang ini, semuanya khusus hanya untuk keluarga."

Baekhyun mengernyit lagi, "Dan apakah kau pikir aku keluargamu?"

Tatapan Chanyeol setelahnya begitu dalam dan misterius, tidak terbaca, "Kau isteriku."

.

.

.

"Malam ini kita akan makan di restoran pinggir pantai." Eunbi duduk di ranjang Baekhyun dan tampak bersemangat, "Kak Chanyeol memesan kue tart dari dapur resort khusus untukmu." Eunbi mengedipkan matanya menggoda, "Dia tidak pernah seperhatian itu kepada siapapun."

Pipi Baekhyun memerah, entah kenapa. Padahal dia tahu pasti, Chanyeol melakukannya karena ada Eunbi dan Hyunmin di sini. Semua ini hanya sandiwara... Tetapi kalau memang hanya sandiwara, kenapa jantungnya berdegup tak karuan saat ini?

Mereka menginap di resort mewah di pinggir pantai, dengan cottage indah dengan tiga kamar, ruang keluarga, dan dapur yang penuh dengan peralatan modern, dimana salah satu fasilitasnya menghadap ke arah pantai pribadi yang bisa di datangi langsung dari pintu belakang cottage mereka. Baekhyun tentu saja harus sekamar dengan Chanyeol, sedangkan Eunbi dan Hyunmin menempati kamar sendiri-Sendiri.

Malam ini mereka akan makan malam di restoran tepi pantai yang terkenal dengan masakan kepitingnya. Eunbi sedang menunggui Baekhyun berganti pakaian sambil bercerita tentang berbagai hal, dan Baekhyun mendengarkannya sambil tersenyum. Tersenyum dan bersyukur, karena Eunbi sepertinya telah berhasil melalui kesedihannya dengan ketegaran jiwanya.

"Aku sudah siap, ayo kita keluar, para lelaki pasti telah mengunggu kita dengan jengkel," gumam Baekhyun sambil mengajak Eunbi melangkah keluar kamar.

Chanyeol duduk di sana sedang bercakap-cakap dengan Hyunmin, ketika Baekhyun dan Eunbi keluar, dia mengangkat alisnya dan tersenyum.

"Sudah siap?"

Baekhyun mengangguk dan Chanyeol langsung berdiri, menghelanya ke pintu. Mereka berjalan menyusuri pinggiran pantai, diikuti Eunbi dan Hyunmin di belakangnya.

Restoran pinggir pantai itu benar-benar berada di pinggir pantai, tempat makannya ada di paviliun-paviliun kecil dari kayu dan beratapkan rumbia, dengan lilin-lilin yang ditata secara eksotis di sekelilingnya. Makanannya luar biasa nikmatnya, berbagai macam hidangan laut dan minuman kelapa yang menyegarkan. Mereka tertawa, mereka bercakap-cakap dalam suasana yang begitu santai, hingga Baekhyun hampir melupakan suasana permusuhan yang dibangunnya bersama Chanyeol.

Chanyeol banyak tertawa malam ini, lelaki itu mengedipkan mata ketika seluruh hidangan dan piring kotor, serta meja mereka dibersihkan.

"Saatnya untuk yang paling istimewa."

Sedetik setelah Chanyeol berkata-kata, seolah sudah diprogram sebelumnya, seorang pelayan datang membawakan kue ulang tahun berwarna putih dengan lilin-lilin cantik di atasnya,

Pelayan itu meletakkan kue itu di meja, di depan Baekhyun, dan Baekhyun ternganga menatap kue yang berlumuran saus strawberry mengkilat, tampak sangat menggiurkan. Dia melemparkan pandangan kepada Chanyeol yang tersenyum manis sambil mengedipkan mata kepadanya, tahu bahwa lelaki itu menyadari kesukaannya kepada strawberry. Ternyata Chanyeol memperhatikannya...

"Saatnya mengucapkan pengharapanmu," gumam Eunbi sambil bertepuk tangan bersemangat, mengalihkan Baekhyun dari tatapannya kepada Chanyeol.

Baekhyun memejamkan matanya, lalu mengucapkan doa singkat, bahwa dia ingin semua orang yang dicintainya berbahagia.

"Tiup lilinnya," gumam Hyunmin pelan.

Baekhyun meniup lilin itu dan semua bertepuk tangan gembira. Suasana begitu membahagiakan, membuat Baekhyun menoleh ke arah Chanyeol dan tersenyum tulus.

"Terima kasih Chanyeol."

Tanpa diduga, lelaki itu mendekatkan tubuhnya, lalu mengecup dahi Baekhyun lembut.

"Sama-sama, sayang."

Eunbi dan Hyunmin tersenyum melihat keromantisan tulus yang ditampilkan Baekhyun. Tetapi Baekhyun duduk disana dengan jantung berdegup kencang, mencoba meyakinkan hatinya bahwa semua ini hanyalah sandiwara sempurna yang diperankan olehnya dan Chanyeol.

.

.

.

Malam itu ketika Baekhyun membaringkan tubuhnya di ranjang, dia merasa gugup. Rasanya aneh, padahal selama ini dia biasa saja jika tidur di ranjang ini, menantikan Chanyeol menyusulnya ketika hampir tengah malam setelah membereskan pekerjaannya, dan tidur di sebelahnya.

Malam ini terasa berbeda, entah kenapa. Mungkin karena suasana kamar yang temaram dan romantis dengan nuansa kuning kecoklatan dan debur ombak di kejauhan. Mungkin pula karena nuansa yang dibangun dari pagi tadi sampai sekarang, semua terasa berbeda. dan jantung Baekhyun berdesir pelan ketika pintu kamar mandi terbuka, dan Chanyeol keluar, dengan rambut basah sehabis mandi.

"Sudah mau tidur?" lelaki itu berdiri di tengah ruangan, menatap Baekhyun dengan pandangan yang terasa misterius karena tertutup bayang-bayang kamar yang remang-remang.

Baekhyun menatap Chanyeol dan tersenyum gugup, "Iya, aku lelah seharian ini."

Chanyeol melangkah dan duduk di atas ranjang, mematikan lampu tidur hingga membuat suasana kamar gelap, hanya cahaya bulan yang menyusup dari balik jendela kaca yang tertutup gorden putih yang menyinari kamar, lalu Chanyeol naik dan berbaring di sebelah Baekhyun.

"Besok pagi kita melihat matahari terbit, kau pasti terpesona, indah sekali. Lalu kita bisa berenang di laut."

"Kedengarannya menyenangkan." suara Baekhyun tercekat, kenapa pula mereka melakukan pembicaraan basa-basi begini?

Lalu hening, Baekhyun pura-pura tertidur, membalikkan tubuhnya membelakangi Chanyeol. Lama dia dalam posisi itu dan dia tidak bisa tidur, tubuhnya terasa pegal, dan pelan dia mengubah posisi tubuhnya, supaya tidak membangunkan Chanyeol yang diyakininya sudah tidur karena dia tidak mendengar suara apapun dari laki-laki itu.

"Tidak bisa tidur?" suara Chanyeol mendadak terdengar, menembus keheningan dan membuat Baekhyun terlonjak karena kaget. Dia membalikkan badannya dan mendapati Chanyeol berbaring terlentang berbantalkan lengannya.

"Kupikir kau sudah tidur," bisik Baekhyun lirih.

Chanyeol menatap Baekhyun, lalu tersenyum, "Tidak, aku juga tidak bisa tidur," suaranya berubah parau.

"Kenapa?"

"Kau tahu kenapa." nafas Chanyeol terdengar berat, "Aku tidak bisa tidur setiap malam sejak aku menikah denganmu."

"Karena kau tidur seranjang denganku?" Suara Baekhyun berubah cemas, apakah dia mendengkur dengan keras sehingga mengganggu istirahat Chanyeol, ataukah gaya tidurnya berantakan, seperti kemarin, menempel-nempel Chanyeol atau mungkin menendangnya dalam tidurnya?

"Ya. Karena aku tidur seranjang denganmu." Chanyeol terkekeh, "Tidur seranjang denganmu dan tidak bisa menyentuhmu." gumaman Chanyeol itu, biarpun pelan membuat Baekhyun langsung beringsut ke ujung ranjang dengan waspada.

"Apa maksudmu?"

"Apakah aku harus menjelaskan maksudku dengan gamblang seperti menjelaskan kepada anak kecil?" lelaki itu memiringkan kepala, menatap sinis ke arah Baekhyun yang menjauh ke ujung ranjang, "Kau pasti tahu pasti apa yang dirasakan lelaki dewasa ketika harus melewatkan malam demi malam dengan perempuan di ranjangnya, tanpa bisa berbuat apa-apa."

"Memangnya kau mau berbuat apa?" kali ini suara Baekhyun benar-benar cemas.

Chanyeol terkekeh lagi, terdengar meremehkan. "Tenang Baekhyun, tak perlu melonjak dan lari dari ranjang ini, sesuai janjiku kepadamu, aku tidak akan menyentuhmu." suara sensualnya kembali memenuhi ruangan, "Kecuali kalau kau mau kusentuh."

"Aku tidak mau disentuh olehmu," jerit Baekhyun spontan. Sedetik kemudian Baekhyun menyadari bahwa dia salah bicara, karena gerakan tubuh Chanyeol tampak tegang, lelaki itu tersinggung.

"Kenapa kau tidak mau kusentuh?" Chanyeol bergerak mendekat, dan sebelum Baekhyun bisa menyingkir dari ranjang, lengan Chanyeol dengan kuat merengkuhnya, merapatkan tubuhnya kepadanya. "Apakah aku menjijikkan untukmu?" nafas Chanyeol terasa hangat di pipinya, membuatnya bergetar.

Baekhyun mencoba meronta, tetapi kedua lengan Chanyeol menahan punggungnya dan menjepit lengannya di kedua sisi, "Lepaskan aku." seru Baekhyun panik.

"Kenapa kau tidak mau kusentuh?" kali ini suara Chanyeol berbisik di telinganya, membuat Baekhyun merasakan gelenyar geli merayapi tubuhnya, "Aku suamimu."

Kemudian bibir itu melumat bibir Baekhyun, dengan panas dan penuh penguasaan, seolah berusaha menaklukkan dan mendominasi Baekhyun. Bibir kuatnya melumat kelembutan bibir Baekhyun tanpa ampun, membuat Baekhyun terengah, kemudian lidahnya mencicipi, mencecap kehangatan permukaan bibir Baekhyun yang lembut, ketika lidah itu ingin menjelajah masuk, Baekhyun mengatupkan bibirnya erat-erat, sekuat tenaga.

"Ayo sayang, biarkan aku masuk." suara Chanyeol berat dan parau, penuh hasrat, bibirnya menggoda tanpa ampun. menggelitik sudut bibir Baekhyun, hingga ketika Baekhyun membuka mulutnya untuk memekik, dengan lihai Chanyeol menelusupkan lidahnya, menjelajah masuk, berpesta pora di sana menikmati seluruh rasa Baekhyun, dengan teknik ciumannya yang begitu ahli dan tanpa ampun.

Hingga ketika lelaki itu selesai melumatnya, Baekhyun terbaring megap-megap dalam pelukannya.

Chanyeol menatap Baekhyun dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, membara, marah, sekaligus penuh kasih sayang.

"Nanti, ketika kau menyerahkan diri kepadaku, akan kubuat itu menjadi malam yang tidak terlupakan olehmu." Lalu dalam sekejap dia melepaskan pelukannya dan meninggalkan ranjang, tergesa keluar, meninggalkan pintu berdebam di belakangnya, dan Baekhyun yang masih terbaring di sana dengan perasaan campur aduk.

.

.

.

Chanyeol tidak kembali ke kamar malam itu, lelaki itu entah tidur di mana semalam, yang pasti, ketika Baekhyun keluar untuk sarapan, Chanyeol sudah duduk di sana, bercakap-cakap dengan Eunbi dan Hyunmin.

Lelaki itu hanya menatap Baekhyun datar, lalu berdiri dan menarikkan kursi disebelahnya dengan sopan. Tidak ada indikasi sama sekali bahwa lelaki itu mengingat insiden ciuman paksanya di atas ranjang semalam. Baekhyun mencoba menahan rasa panas yang menjalari pipinya ketika melihat Chanyeol, mungkin bagi Chanyeol itu hal biasa, tetapi bagi Baekhyun hal itu sangat intim, sangat baru dan membuatnya teringat terus setiap detiknya. Tetapi, karena Chanyeol bersikap seolah semalam tidak terjadi apa-apa, Baekhyun berusaha bersikap sama. Tidak akan dibiarkannya Chanyeol tahu bahwa ciumannya begitu mempengaruhi Baekhyun.

"Kata kak Chanyeol, kak Baekhyun bangun terlambat karena kelelahan." Eunbi tersenyum, "Sayang sekali, padahal tadinya kita ingin mengajak kak Baekhyun melihat matahari terbit."

Baekhyun menatap Eunbi dengan pandangan menyesal, "Maafkan aku Eunbi, aku langsung tertidur lelap semalam, dan bangun-bangun sudah siang, mungkin aku memang benar-benar kecapekan."

"Tidak apa-apa kak Baekhyun, kita masih bisa berenang di laut sekarang, kak Baekhyun bisa mencoba kembali berenang sambil ditemani kak Chanyeol, kata Eunbi kak Chanyeol sangat jago berenang melawan ombak." ucap Hyunmin.

Baekhyun menoleh kepada Chanyeol yang tersenyum menggoda, "Kau tidak bisa berenang, Baekhyun?"

"Kak Baekhyun takut air," jawab Hyunmin sambil mengangkat bahu, "Dulu waktu kecil kami pernah berenang di kolam renang umum. Ketika mencoba menyelam, kaki kak Baekhyun kram, tetapi karena dia di dasar, tidak ada yang tahu kalau kak Baekhyun mulai tenggelam, dia sudah tenggelam beberapa lama dan mengalami serangan panik sampai kemudian salah satu orang tua menyadari dan menyelamatkannya. Sejak itu kak Baekhyun tidak mau berenang lagi."

Chanyeol menatap Baekhyun penuh perhatian, "Jadi kau akan melewatkan kegiatan menyenangkan kita untuk berenang di laut pagi ini?"

Baekhyun menghela napas, "Aku sangat menyesal, tetapi mungkin aku memang harus melewatkannya."

"Tidak." Chanyeol berseru keras kepala, "Kau akan berenang, dan kau tidak akan tenggelam, aku akan menjagamu."

"Aku tidak mau." Baekhyun mengernyit, meminta pertolongan pada Eunbi dan Hyunmin, tetapi keduanya hanya mengangkat bahu, tidak ada yang bisa membantah Chanyeol kalau lelaki itu memutuskan sesuatu.

"Kau harus mau, titik."

Chanyeol beranjak berdiri, "Sekarang ganti baju renangmu aku menunggu di depan." ketika Chanyeol melangkah pergi, Baekhyun menatap punggungnya sambil mengucapkan berbagai macam cacian yang bisa diingatnya. Dasar lelaki arogan yang keras kepala!

.

.

.

"Ayo."

Chanyeol menggenggam lengannya setengah memaksa, "Aku akan menjagamu."

Chanyeol sudah berhasil memaksa Baekhyun ke tengah laut, masih ditepian tetapi sudah lumayan dalam, dengan ombak bermain di pinggang mereka, membuat kaki Baekhyun kadang-kadang terasa melayang-layang.

Baekhyun mengikuti Chanyeol setengah terpaksa, "Kau memang suka memaksakan kehendakmu ya, kuharap kau puas."

Chanyeol tertawa, tidak menutupi rasa puasnya, "Ya aku puas. Lagipula sekarang kau sadar bukan, ketakutanmu hanya ilusi. Kau bisa berenang dan air tidak akan mengalahkanmu."

"Tidak kalau kau kram dalam kedalaman air lima meter dan tidak ada orang yang menyadari bahwa kau tenggelam." Baekhyun meringis ketika kenangan yang membuatnya sesak napas itu tergambar kembali di otaknya, membuatnya gemetar.

Chanyeol menyadari itu, dia menggenggam lengan Baekhyun lembut, "Aku menjagamu. Jangan takut."

Entah kenapa kata-kata Chanyeol itu terdengar tulus, membuat Baekhyun hampir saja memaafkan kelakuan Chanyeol di insiden semalam ketika lelaki itu menciumnya dengan paksa.

"Chanyeol!"

Suara itu familiar sekaligus membawa kenangan buruk bagi Baekhyun. Dia langsung menoleh dengan waspada, dan mendapati mimpi buruknya benar-benar terjadi, kenapa pula Rose ada di pantai pribadi ini?

Hyunmin dan Eunbi tadi memutuskan keluar untuk berjalan-jalan dan membeli es krim, dan sekarang Baekhyun harus sendirian menghadapi perempuan yang merayu Chanyeol tanpa malu-malu dan tidak mempedulikan kehadirannya.

"Boleh aku ikut bergabung bersama kalian?" Rose melepas handuk yang melilit pinggangnya dan melemparnya ke pasir, lalu mulai masuk ke air laut yang hangat, perempuan itu tersenyum manis sambil menatap Baekhyun, senyuman palsu yang penuh ejekan, "0h, hai Baekhyun, kau ada di sini juga? kemarin aku memutuskan menyusul kalian ke sini, untung aku masih mendapat cottage di sebelah cottage kalian, jadi Chanyeol bisa dekat kalau memutuskan mampir malam-malam." diliriknya Chanyeol dengan tatapan menggoda, "Iya kan sayang?"

Chanyeol tidak menjawab, hanya terkekeh geli, lalu mengarahkan Baekhyun untuk mencoba berenang ke tepian yang lebih dalam, "Ayo Baekhyun, berenanglah, aku akan berjaga di sebelahmu."

Darah Baekhyun naik ke kepala. Chanyeol tampak tidak kaget melihat Rose menyusul kesini. Jangan-jangan semua yang dikatakannya bohong, jangan-jangan Chanyeol sering mengajak Rose ke sini untuk bermalam, melihat Rose begitu luwes dan tampak terbiasa memasuki bagian pantai pribadi di cottage yang selalu di sewa Chanyeol kalau mereka kemari. Dan semalam, Chanyeol tidak pulang ke kamarnya, apakah jangan-jangan lelaki itu menginap di tempat Rose?

Suara Baekhyun bergetar ketika dia menghentakkan tangan Chanyeol dengan kasar. "Jangan dekat-dekat! Aku bisa sendiri!" serunya kasar.

Chanyeol berdiri di sana, menatap Baekhyun yang memalingkan muka tak mau menatapnya, "Kenapa Baekhyun? Kau tampak marah, apakah karena Rose menyusul kemari? Jangan pedulikan dia, dia memang suka mengikutiku kemanapun mengingat dia sangat terobsesi padaku," gumam Chanyeol pelan, mengedikkan bahunya ke arah Rose yang sudah mulai berenang ke tengah dengan elegan, melambaikan tangannya dan mengajak Chanyeol bergabung bersamanya.

"Aku tidak peduli kalau kau mau menghabiskan waktu dengan simpananmu. Tetapi sungguh suatu penghinaan kalau kau mengajaknya ke sini, saat kau sedang bersamaku!"

"Aku tidak pernah mengajaknya ke sini, dia sendiri yang bilang tadi menyusul kita kemari. dia menginap di cottage sebelah, lalu kau pikir aku harus berbuat apa? mengusirnya?"

Kau bisa mengusirnya dari pantai ini! Baekhyun menjerit dalam hati, ingin rasanya dia memukuli dada Chanyeol dengan marah. Tetapi itu tidak dilakukannya, dia menahan dirinya sekuat tenaga, menghembuskan napasnya panjang-panjang. Rasa sakit itu mulai menyeruak ke dadanya, rasa sakit yang sama, rasa sakit yang menakutkan.

"Aku sangat membencimu. Pernikahan ini seperti neraka untukku!" Baekhyun menggeram marah, meninggalkan Chanyeol yang tertegun mendengar perkataannya, lalu dengan nekat masuk ke air menyelam ke dalam lautan, dan berenang ke tengah, menjauhi Chanyeol.

Semula biasa saja, Baekhyun merasakan berenang di laut ternyata sangat menyenangkan, berbeda ketika berenang di kolam renang. Disini dia harus bisa menyesuaikan diri dengan hempasan ombak yang membawa tubuhnya mengikutinya.

Sejenak Baekhyun menikmatinya, senang ketika dia bisa menjauh dari pasangan tak tahu malu itu, Chanyeol dan Rose yang mungkin sedang bercengkerama di sana, dia berenang makin jauh, dan jauh... Sampai kemudian dia merasakan rasa sakit itu. Rasa sakit menyengat di kakinya yang mulai terasa kaku.

Kakinya kram lagi!

Dengan panik Baekhyun berusaha menjejak, menyadari dia sudah berada jauh di tengah sehingga pasir sudah tidak bisa digapai oleh kakinya. Baekhyun mulai tenggelam dengan sebelah kaki kram dan sakit setengah mati. Tidak bisa berteriak.

Chanyeol!

Teriaknya panik dalam hati sebelum kegelapan menelannya.

.

.

.

[ To Be Continued ]

.

.

.

Author's Note :

Nitip jawab disini ya!Setau aku cerita2 karya Santhy Agatha memang banyak yang saling berkaitan. Contohnya ff Embraced the cords merupakan lanjutan cerita cinta dari Sehun di Crush In Rush terlepas dari ending yang aku buat.

Terus karakter Chanyeol dan anaknya di A Romantic story about Baekhyun juga muncul di fanfict Dating with the dark. :)

-ByunYeol-