A LIE
DISCLAIMER MITSURO KUBO & STUDIO MAPPA
VICTUURI
RATED K+ to T (buat jaga-jaga. Soalnya author tidak tahu bagaimana kedepannya)
ROMANCE, HUMOR (yaah, intinya genrenya campur aduk kayak gado-gado)
WARNING! SUPER OOC, TYPO EVERYWHERE, EYD NGASAL, OC
GAK SUKA? JANGAN BACA
Note :
"Bicara normal"
"Bicara dalam hati", "Flashback", "Bahasa asing"
"Bicara lewat telpon"
Yuuri duduk termenung di kursinya. Matanya menatap kosong dosen yang sedang menjelaskan di depannya. Untung saja dosennya juga tidak terlalu memperhatikan mahasiswanya, Yuuri terselamatkan dari teguran. Pikiran Yuuri melayang-melayang kembali ke kejadian semalam. Yaah, siapa lagi yang bisa membuat Yuuri seperti kalau bukan Victor Nikiforov? Gara-gara Victor kembali bertingkah aneh semalam –dari ceria luar biasa menjadi pendiam –Yuuri kembali dibuat pusing dengan tingkah lakunya. Sudah dua hari sikap Victor sering berubah-rubah dan itu membuat Yuuri memikirkannya sampai-sampai tidak bisa tidur lagi.
Bagaimana Yuuri tidak memikirkannya, semalam saat Yuuri tinggal mandi Victor, Vincent, Yurio dan Otabek yang makan di rumahnya yang tidak sampai sepuluh menit Yuuri mandi, begitu kembali Yuuri sudah mendapati Victor menjadi pendiam. Bahkan pemuda berambut silver itu yang biasanya teriak-teriak 'vkuno!' saat makan masakannya hanya diam memakan makanannya tanpa ekspresi. Yuuri yang notabenenya si pemasak jadi sebal karena tidak mendapat reaksi menyenangkan dari Victor tentang makanannya. Meskipun Yurio, Otabek, dan Vincent bilang bahwa makanannya enak, tapi tetap saja Yuuri ingin Victor juga bereaksi sama dengan mereka bertiga.
Terlebih lagi, Yuuri juga penasaran dengan perkataan Victor semalam.
.
.
Flashback.
"Terima kasih atas makanannnya."
Yuuri membereskan piring-piring makanannya. Pemuda berkacamata itu tersenyum senang melihat Yurio, Otabek, dan Vincent sangat menikmati masakannya. Tapi senyumnya langsung luntur begitu Yuuri melihat Victor yang sama sekali tidak terlihat menikmati masakannya. Apa pemuda berambut silver ini marah dengannya karena tidak dibuatkan katsudon?! Saking marahnya pemuda berambut silver ini tidak mau memberikan ekspresi menyenangkan saat memakan masakannya?! Hell! Itu kekanak-kanakan sekali!
Yuuri menggerutu dalam hati.
"Katsudon, kami pulang." Yurio beranjak dari kursinya diikuti dengan Otabek. Yuuri menghentikan kegiatan mencuci piringnya dan menoleh ke Yurio dan Otabek yang siap-siap untuk angkat kaki dari apartemennya.
"Eh? Kalian mau pulang sekarang?" jelas sekali Yuuri terdengar sedih dari nada pertanyaannya. Tidak rela jika Yurio dan Otabek pulang.
"Kau tidak lihat ini sudah jam berapa Katsudon? Besok aku dan Otabek harus masuk sekolah." Jawab Yurio. Wow, benar-benar jawaban yang diluar karakter Yurio. Sungguh tidak disangka remaja berambut pirang ini masih peduli dengan sekolah. Jika kau melihat tampilan luar remaja berambut pirang ini, kau akan mengira sebagai seorang preman yang tidak peduli dengan hal-hal yangberbau merepotkan dan mengekang seperti sekolah.
Yuuri menunduk sedih. Dia ingin Yurio dan Otabek lebih lama di apartemennya, kalau perlu menginap sekalin –dan melupakan fakta bahwa Yuuri hanya mempunyai satu kamar tidur –tapi Yuuri tidak bisa memaksakan kehendaknya untuk menyuruh Yurio dan Otabek tinggal lebih lama. Benar kata remaja berambut pirang itu, mereka masih berstatus seorang pelajar. Terlebih Otabek yang menduduki kelas akhir, sudah pasti remaja berambut hitam undercut itu tidak bisa membuang waktunya Cuma-Cuma karena dia harus berkonsentrasi untuk ujian nasional. Dan tinggal menghitung hari saja sampai waktu ujian nasional tiba.
Yurio memperhatikan Yuuri yang –entah karena kesalahan matanya atau bagaimana –muncul telinga dan ekor anjing imajiner pada dirinya. Telinga dan ekor anjing yang sangat down menandakan bahwa si empunya telinga dan ekor sedang merasa sedih. Sejenak, Yurio merasa seperti seorang anak durhaka yang meninggalkan ibunya dalam kesendirian. Hanya sejenak dan setelahnya Yurio mengutuk imajinasi ngaco yang baru saja terlintas di kepalanya.
Yurio menghela napas, tidak tega jika melihat Yuuri semelas ini. "Besok aku akan kesini lagi Katsudon." Yuuri langsung mendongakkan kepalanya dan menatap Yurio dengan tatapan senang. Manik cokelat keunguannya bersinar. Yurio kembali melihat telinga imajiner yang berdiri tegak dan ekor imajiner yang juga berdiri tegak sambil mengibar-ngibas ke kiri dan kanan. Sungguh, apakah yang salah adalah mata Yurio atau Yuuri yang terlalu mendalami karakternya sehingga muncul bayangan telinga dan ekor anjing itu?
"Kalau begitu aku masakin katsudon yang banyak lagi ya." Yurio hanya mengangguk kecil, dalam hati dia bersorak senang karena mendapat katsudon lagi. Tentu saja Yurio tidak menyuarakan isi hatinya, mau ditertawakan oleh orang-orang yang ada disini? Tiba-tiba Otabek berdehem, Yurio mendelik ke Otabek. Tahu bahwa remaja berambut hitam undercut disampingnya ini tengah menertawakan dirinya karena sok-sokkan jaim begitu ditawari katsudon.
"Baiklah, kami pulang dulu. Vincent! Kau juga ikut pulang! Yakov ingin membicarakan sesuatu denganmu." Kata Yurio sambil menodongkan jari tengahnya tepat di depan wajah Vincent. yang ditunjuk sweatdrop, itu bisa tidak jari tengahnya diganti dengan jari telunjuk? Sungguh tidak sopan sekali dirimu wahai Yuri Plisetsky.
"Iya iya." Jawab Vincent malas-malas lalu menoleh ke Yuuri dan pamit. Yuuri mengangguk pelan sambil membalas senyum Vincent. Mengatakan agar mereka bertiga hati-hati dalam perjalanan pulang. Yurio dan Otabek sudah keluar duluan dari ruang makan. Sedangkan Vincent masih berada di ruang makan sambil melambaikan tangannya ke Yuuri. Sesaat sebelum meninggalkan ruang makan, Vincent melirik Victor yang masih duduk di kursi makan. Vincent menatap intens Victor, entah apa yang dipikirkan pemuda bermata hijau tosca itu. Vincent tersenyum kecil lalu keluar dari ruang makan.
Tinggal Yuuri dan Victor.
Suana mendadak canggung. Yuuri tidak tahu harus ngomong apa ke Victor. Pemuda berambut silver itu sibuk memainkan ponselnya sedari tadi. Yuuri merasa dejavu melandanya kembali. Suasana ini sama persis ketika mereka berdua berada di UKS, hanya saja berbeda latar tempat. Pasrah karena tidak tahu harus mengatakan apa, Yuuri kembali melanjutkan kegiatan mencuci piringnya yang sempat terhenti tadi.
Beberapa menit kemudian Yuuri baru menyelesaikan cuci piringnya. Cukup lama dia mengerjakannya karena piring-piring yang digunakan untuk makan tadi sangat banyak. Yuuri mengelap peluh yang membasahi dahinya. Meski hanya mencuci piring, entah kenapa rasanya menguras tenaga sekali. Yuuri menoleh ke Victor yang masih berkutat dengan ponselnya. Yuuri mengeryitkan alis, tidak biasanya Victor sampai seserius itu memainkan ponselnya. Memang pemuda berambut silver ini orang yang sangat eksis berselfie, tapi Victor jarang sampai seperti ini hanya karena memainkan ponselnya. Lagipula apa yang dilihat Victor dari tadi? Yuuri melihat Victor hanya meng-scroll layar ponselnya ke bawah juga balik scroll ke atas lagi.
"Victor, kau kenapa?" Victor menoleh ke Yuuri sebentar lalu balik fokus ke ponselnya.
"Tidak ada apa-apa." Balas Victor singkat. Yuuri tahu bahwa ada yang tidak beres dengan pemuda berambut silver ini.
"Jangan sok-sokkan menyembunyikannya dariku. Aku tahu kau menyimpan sesuatu. Baru saja kutinggal mandi beberapa menit sikapmu mendadak berubah. Apa itu? Kau punya masalah di kampus? Atau kau marah padaku karena tidak memasakkanmu katsudon? Atau ada sesuatu yang terjadi diantara kalian berempat saat aku mandi tadi? Jawab aku Victor!" intonasi nada Yuuri naik satu oktaf begitu dibagian akhir. Mendadak Yuuri merasa kesal karena Victor diam-diam saja. Yuuri memang tidak punya hak untuk mencampuri urusan Victor, tapi tetap saja Yuuri tidak bisa membiarkan Victor seperti ini terus. Ini bukan Victor yang sebenarnya.
Victor masih kembali membuka suara, "Kau kenapa Victor? Sudah dua hari ini kau bersikap aneh? Dan sikapmu itu semakin menjadi-jadi saat Vincent muncul. Ada apa dengan kalian berdua?" Yuuri benar-benar khawatir ada sesuatu yang terjadi menimpa Victor. Melihat pemuda berambut silver ini yang biasanya ceria dan cerewet mendadak menjadi pendiam sungguh membuat Yuuri khawatir. Yuuri yakin Victor mempunyai masalah, tapi Victor tidak pernah mau bercerita kepadanya.
Kenapa kau tidak pernah mau jujur padaku Victor? Batin Yuuri.
"Aku senang kau bertanya begitu Yuuri. Kau khawatir kepadaku ya?" tanya Victor sambil tersenyum sedih. Yuuri tidak suka senyum itu. Itu bukan senyuman yang biasa Victor tunjukkan. Senyuman Victor bukan senyuman yang sedih seperti itu. Yuuri tahu kalau Victor berusaha terlihat ceria meski pemuda berambut silver itu gagal menutupinya.
"Iya! Aku khawatir tahu! Dan hilangkan senyum palsumu itu! Aku tidak suka melihatnya!" Yuuri berkata dengan lantang. Melupakan rasa malunya saat berkata bahwa dia khawatir dengan Victor.
Victor tersenyum tipis. Tangannya meraih pipi Yuuri –yang entah sejak kapan Yuuri sudah berada sedekat ini dengannya –mengelusnya dengan lembut. "Aku tidak kenapa-napa Yuuri. Kau tidak perlu sekhawatir ini." jawab Victor sambil tersenyum lembut. Jantung Yuuri berdegup kencang. Wajahnya merona. Yuuri menundukkan kepalanya, tidak mau menatap manik biru sapphire milik Victor. Tangan Victor masih setia mengelus pipinya yang menghangat. Perlahan tangan Yuuri meraih tangan Victor yang mengelus pipinya. Menggenggamnya dengan erat.
Yuuri tidak percaya dengan perkataan 'tidak apa-apa' dari Victor. Tapi jika pemua berambut silver itu tetap ngotot berpura-pura dan tidak mau menceritakannya kepada Yuuri, yang bisa Yuuri lakukan hanyalah menghibur Victor. Yuuri mendongakkan kepalanya, menatap lurus manik biru sapphire Victor yang dihindarinya tadi.
Tanggannya mengeratkan pegangannya pada tangan Victor, "Malam ini menginaplah disini."
Hening.
Victor terdiam dengan mata membola. Yuuri tersentak dengan perkataannya sendiri. Sontak Yuuri melepaskan tangan Victor dan sedikit menjauhkan badannya dari Victor yang tanpa disadarinya sangat dekat dengannya sedaritadi. Yuuri menutup mulutnya yang asal bicara. Demi apa perkataannya tadi itu terdengar sangat ambigu! Seolah-olah meminta Victor untuk menginap di apartemennya lalu berakhir dengan ena-ena. Aarrgghhh! Terkutuklah pikiran ambigu barusan! Yuuri menutup wajahnya yang sudah semerah tomat. Dalam satu hari ini, sudah dua kali Yuuri bertindak tanpa sadar di depan Victor. Ini sangat memalukan!
Yuuri bisa mendengar Victor menahan tawanya. Aahh! Pasti Victor akan menertawakannya! Yuuri ingin tenggelam kedalam lautan terdalam rasanya!
"Pfftt –Yuuri, ada apa ini? Apa kau ingin menggodaku?" tanya Victor sambil menahan tawanya agar tidak terlalu keras. Air mata mengalir disudut mata Victor karena tertawa. Yuuri semakin memerah. Dia dianggap menggoda Victor padahal bukan itu maksudnya tadi! Victor masih tersenyum lebar melihat Yuuri yang menutup wajahnya. Perlahan tangan Victor menurukan kedua tangan Yuuri yang menutup wajahnya dan mendekatkan wajahnya ke wajah merah Yuuri. Sangat dekat hingga Yuuri merasa bahwa Victor ingin menciumnya tadi.
"Err... Victor...?" lidah Yuuri terlalu kelu untuk berbicara barang sepatah dua kata. Wajah Victor terlalu dekat dengannya! Yuuri bisa merasakan hembusan napas hangat Victor menerpa wajahnya. Reflek Yuuri menahan napas. Tidak berani mengadu napas dengan Victor. Kedekatakan ini membuat jantungnya ingin keluar dari rongganya!
Victor masih setia menatap wajah Yuuri yang sangat manis. Yuuri kalang kabut dalam hati, ingin kabur tapi tidak bisa. Ditatap sedemikian lekat oleh orang ganteng –apalagi yang menatap adalah orang yang kau sukai –membuat Yuuri seperti dihipnotis agar tetap diam di tempat. Dan Yuuri kembali dikagetkan dengan Victor yang semakin mendekatkan wajah mereka berdua sehingga hidung mereka saling bersentuhan. Yuuri langsung menutup matanya erat-erat.
"Kau memintaku untuk menginap di apartemenmu Yuuri?" asdfghjkl! Kenapa suara Victor terdengar seksi banget? (duh Yuuri, baru sadar kalau suara sememu itu memang seksi?) Yuuri tidak yakin jantungnya masih berfungsi jika ini terus berlanjut.
Yuuri tidak merasakan lagi deru napas Victor menandakan bahwa pemuda berambut silver itu sudah menjauhkan wajahnya dari wajah Yuuri. Perlahan Yuuri membuka kedua matanya dan menatap Victor yang sedang tersenyum normal. Astaga kenapa senyumnya ganteng banget?! Yuuri ingin kembali menutup matanya dan menundukkan kepalanya lagi, tapi tangan Victor sudah lebih dulu meraih kedua pipi chubby Yuuri dan menahannya agar Yuuri tidak menundukkan kepalanya. Niat Yuuri yang ingin menutup matapun tidak terlaksana karena mata Victor seolah meghipotisnya agar terus menatapnya.
"Kalau wajah Yuuri semanis ini, aku jadi semakin sulit untuk menolak permintaanmu." Perkataan Victor membuat Yuuri kembali ke alam sadar, sontak Yuuri langsung melepaskan tangan Victor dari wajahnya dan buru-buru menjauh. Awh, reaksi yang sangat manis di mata Victor.
"Ti-tidak perlu. Kalau Victor memang tidak bisa, tidak usah memaksakan diri!" jawab Yuuri cepat-cepat. Bahaya jika Victor benar-benar menginap di tempatnya. Bisa-bisa jantung Yuuri benar-benar berhenti. Yuuri merasa menyesal karena telah meminta yang aneh-aneh.
"Eh? Kenapa? Permintaannya sudah tidak bisa dibatalkan lagi karena aku sudah menyetujuinya." Jawab Victor yang semakin membuat Yuuri kalang kabut. Haruskah dia membiarkan Victor menginap disini? Dalam hati kecil Yuuri sebenarnya dia mau. Cuma takut jantungnya tidak bisa diajak kompromi.
"Lagipula aku sudah lama tidak tidur bareng denganmu Yuuri. Sekali-sekali aku nginap disini tidak apa-apa kan?" Yuuri cengo. Kapan mereka pernah tidur bareng? Baru saja Yuuri ingin menolak kembali (padahal dia sendiri tadi yang meminta), tapi Victor keburu bicara duluan, "Aku ini majikanmu, jadi turuti perkataanku, Kobuta-chan." Yuuri langsung kicep. Kalau sudah kayak gini, dia tahu akan berakhir kemana pembicaraan ini. Akhirnya Yuuri memilih pasrah. Toh, lagipula ini semua bermula dari permintaan ngaconya tadi. Tapi Yuuri tidak menyangka juga kalau Victor akan ngotot untuk mengabulkan permintaan ngaconya tadi. Jujur saja, Yuuri sebenarnya senang.
"Oh ya Yuuri, kau mengajakku menginap di tempatmu, tapi kuharap kau tidak melupakan fakta bahwa kau hanya punya satu kamar tidur."
Sekali lagi Yuuri kicep dengan mata membola.
Yuuri langsung tepuk jidat. Baru ingat kalau dia hanya mempunyai satu kamar tidur. Well, bukan hanya dia saja sih, memang seluruh apartemen disini hanya mempunyai satu kamar tidur. Tergantung si pemilik kamar sendiri mau memilih kamar yang seperti apa. Dan Yuuri lebih memilih kamar tidur dengan single bed karena kasur besar alias king size baginya sangat tidak nyaman. Yaah, Yuuri hanya orang sederhana yang tidak terbiasa hidup mewah. Tinggal di apartemen yang bisa dibilang WOW saja Yuuri agak risih. Puji syukur kepada teman ayahnya yang membantunya memilih tempat tinggal hingga bisa menetap di apartemen mewah sekarang.
"Err, kalau begitu salah seorang diantara kita terpaksa tidur di sofa." Jawab Yuuri sedikit gugup. Dalam hati Yuuri khawatir kalau Victor malah berubah pikiran untuk menginap di apartemennya.
"Sudah jelas kan? Aku ini majikanmu dan kau pelayanku, sudah pasti kau yang tidur si sofa." Jawab Vincent sambil menunjuk ke arah Yuuri. Yang ditunjuk menghela napas lega dalam hati karena Victor tetap mau menginap di apartemennya. "Tapi kalau Yuuri mau kita tidur seranjang, aku sih oke oke saja."
UHUK
Yuuri terdesak air liur sendiri.
Yuuri menatap Victor tidak percaya. Bisa-bisanya Victor mengatakan itu dengan semudah itu. Tidur seranjang? Tidak! Itu terlalu ekstreme! Yuuri belum siap! (ehem, tidak ada maksud lain disini :"v) Bisa-bisa jantung Yuuri benar-benar tidak akan berdetak lagi kalau berada sedekat itu dengan Victor.
"Etto Victor, tempat tidurku itu single bed." Kata Yuuri sambil berusaha menetralisir jantungnya yang berdetak melebihi detak jantung normal pada umumnya.
"Tidak masalah! Aku bisa memelukmu seperti guling!"
"NO!" refleks Yuuri langsung menolak dengan tegas.
"Ouch, kau langsung menolakku seperti itu. Aku sakit hati nih." Kata Victor sambil pura-pura memasang ekspresi sakit. Benar-benar drama king sejati sekali orang ini. Ekspresi sakitnya sangat menghayati. Sampai-sampai ada sebulir air mata yang jatuh dari mata Victor.
"Sudahlah Victor, kau tidak usah bercanda berlebihan." Jawab Yuuri. Ya, dia tahu kalau Victor itu hanya sekedar bercanda. Hah, tidak mungkin seorang Victor mau rela-rela berbagi tempat tidur dengan orang seperti Yuuri. Victor itu orang kaya, orang berkelas tinggi, –Yuuri yakin tempat tidur Victor itu pasti king size –tempat tidur sempit pasti membuatnya tidak nyaman. Apalagi kalau harus berbagi dengan orang lain.
"Tapi aku tidak bercanda lho Yuuri."
"Eh?"Yuuri menoleh ke arah Victor yang tiba-tiba bergumam tidak jelas.
"Nandemonai yo~" jawab Victor sambil memasang senyum sejuta wattnya. Yuuri tidak mempermasalahkan gumaman Victor. Karena ditanya berapa kali pun Victor tidak akan mengulang kembali perkataannya. Jadi Yuuri memutuskan untuk tidak menanyai Victor.
Lagipula niat Yuuri ingin membuat Victor kembali ceria sudah terjalan. Victor sudah kembali ke sikapnya yang seperti biasanya. Yuuri menghela napas lega. Victor yang seperti ini lebih baik daripada Victor yang beberapa saat yang lalu. Kalau Victor sudah seperti ini, mungkin saja Victor mau menceritakan masalahnya ke Yuuri. Tapi Yuuri tidak yakin Victor mau menceritakannya meski dia sudah kembali ceria. Apa sebaiknya Yuuri menanyakannya saja ke Yurio dan Otabek ya? Atau mungkin lebih baik Yuuri bertanya ke Vincent.
Sip, Yuuri memutuskan untuk menanyakannya nanti ke Vincent.
"Kalau begitu aku beresin kamarku dulu agar kau bisa tidur dengan nyaman." Baru saja Yuuri ingin beranjak ke kamar tidurnya, Victor keburu menahan tangannya.
"Kuharap kau tidak menanyakan yang aneh-aneh ke yang lain, terutama Vincent."
Yuuri tersentak. Tidak menyangka Victor mengetahui niatnya untuk bertanya ke Vincent. Victor kembali memasang senyum, kali ini senyum palsu. Ah, Yuuri tidak menyukai senyum itu.
"Aku tidak apa-apa Yuuri. Kau tidak perlu khawatir." Kata Victor meyakinkan Yuuri.
Yuuri pun sekali lagi terpaksa menuruti permintaan Victor. Niatnya ingin bertanya ke yang lain pun jadi batal karena Victor memintanya untuk tidak bertanya. Tahu kalau tidak ada gunanya membahas ini lagi, Yuuri segera pergi menuju kamar tidurnya.
Namun, sesaat sebelum Yuuri menutup pintu kamar tidurnya, Yuuri mendengar Victor mengatakan sesuatu meski samar-samar.
"Aku tidak ingin kau mengetahuinya Yuuri."
.
.
"Yuuri?"
"..."
"Yuuuuuuriiiiiii~~~"
"..."
"YUURI!"
"Eh? Ah? Apa? Apa?"
Yuuri mengerjapkan matanya. Menatap sekeliling lalu menatap ke depannya. Pemuda berkacamata itu melihat sahabatnya, Phichit duduk di depannya sambil melipat tangan di depan dadanya. Tidak lupa ekspresi cemberut terpampang jelas di wajah Phichit. Di sebelah Phichit ada Seung gil yang menatap Yuuri dengan ekspresi datarnya. Sekali lagi Yuuri menatap sekelilingnya lalu kembali menatap Phichit dan Seung gil. Kini Phichit memasang wajah bingung. Ya, bingung melihat tingkah laku aneh Yuuri tadi.
"Etto, kok aku ada di kafetaria?" tanya Yuuri. Seingatnya dia ada di kelas tadi. Lalu kenapa tahu-tahu dia sudah berada di kafetaria?
Ekspresi Phichit berubah lagi, kini Phichit memasang ekspresi aneh. Seolah menatap Yuuri layaknya orang gila. Disampingnya Seung gil mengeryitkan alis tebalnya. Keduanya merasa aneh dengan pertanyaan tidak masuk akal Yuuri.
"Kenapa?" tanya Yuuri yang risih ditatap keduanya.
"Yuuri, aku tidak tahu kalau kau sepelupa ini. Bukannya kau sendiri yang datang kesini?" pertanyaan Phichit membuat Yuuri bingung sendiri. Memangnya tadi dia pergi ke kafetaria ya? Yuuri berusaha mengingat-ngingat. Masa gara-gara memikirkan kejadian semalam, Yuuri jadi pelupa seperti ini? Sepertinya Yuuri tertular sifat pelupa Victor.
"Yaah, lupakan soal itu. Aku mau tanya sesuatu nih." Kata Phichit. Mendadak Yuuri merasakan firasat buruk. Kalau Phichit sudah mulai memasang tampang mencurigakan seperti ini, pasti pertanyaannya adalah...
"Apa maksud dari fotomu dan Vincent itu? Apa benar dia saudara kembar Victor?"
TUH KAN!
Yuuri hanya dapat tepuk jidat. Sudah dia duga kalau Phichit pasti akan menanyakan perihal fotonya dan Vincent yang tersebar , bukan hanya foto, video juga ada. Dan gara-gara seseorang yang entah siapa sangat BERBAIK HATI menguploadd foto dan video itu di Ins*agram, jadilah Yuuri ditanya terus oleh semua orang di kampusnya. Apa hubungannya dengan Vincent lah, apa dia dan Victor beneran tidak pacaran lah, milih antara Victor atau Vincent, dan beragam pertanyaan rando lainnya. Yuuri merasa dirinya seperti seorang artis yang ketahuan selingkuh dari pacarnya. Sebegitu hot topic nya kah hubungan Yuuri dengan duo silver itu?
"Begini, aku baru kenal dengan Vincent kemarin. Serius! Aku tidak bohong! Jangan menatapku seperti itu!" baru saja Yuuri menjelaskan, Phichit sudah melayangkan tatapan ragu plus jahil begitu. Phichit hanya nyengir sebagai balasan. Yuuri menghela napas, berdehem sedikit lalu melanjutkan ceritanya kembali.
"Aku tidak tahu siapa sebenarnya Vincent itu. Aku juga tidak peduli dia saudara kembar Victor atau tidak. Intinya aku dan Vincent itu baru kenal kemarin. Yang kutahu dia itu baru pindah dari Amerika. Dan soal pelukan itu dia yang tiba-tiba memelukku Phichit! Katanya itu ciri khas orang Amerika kalau berkenalan! (iyakah?)Sungguh! Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Vincent!" jelas Yuuri setengah bohong setengah jujur. Yuuri tidak mengatakan kalau Vincent adalah sepupu Victor. Berhubung Victor sendiri yang memintanya agar tidak mengatakan yang sebenarnya jika ditanya orang-orang.
"Syukurlah Yuuri! Aku senang sekali kau dan Vincent tidak punya hubungan apa-apa, karena kau memang lebih cocok dengan Victor!" kata Phichit dengan sangat membara. Yuuri sweatdrop, ujung-ujungnya Phichit akan ngomong tentang dia dan Victor lagi. Yuuri sudah terlalu lelah dengan semua ini. Phichit itu benar-benar orang 'unik' yang pernah ditemui Yuuri.
"Ngomong-ngomong, sebentar lagi kita akan mengadakan event dalam rangka ulang tahun kampus ini. Jurusan ekonomi mau bikin stand apa?" tanya Seung gil yang akhirnya berbicara juga. Ah iya, sebentar lagi kampus mereka akan mengadakan sebuah event atau bisa dibilang festival begitu dalam rangka ulang tahun Universitas St. Petersburg –yang entah keberapa, Yuuri sendiri juga tidak tahu. Masing-masing jurusan harus membuat stand untuk memeriahkan acara yang diselenggarakan malam hari. Hal ini merupakan hal yang cukup langka karena setahu Yuuri orang Rusia itu tidak terlalu mementingkan perayaan seperti ini. Victor sendiri mengatakan kalau orang Rusia tidak merayakan natal (dikutip dari perkataan Victor di animenya langsung). Dan memang benar. Saat malam natal pertama Yuuri di Rusia, Yuuri sama sekali tidak melihat nuansa natal di sekeilingnya.
"Hmmm... entahlah. Aku juga tidak tahu. Aku tidak menjadi panitia soalnya. Yang mendikusikan itu hanya yang menjadi panitia." Jawab Yuuri.
Phichit dan Seung gil hanya mengangguk-mengangguk. Sama seperti Yuuri, mereka pun sebenarnya tidak tahu jurusan mereka akan membuat apa nanti karena yang mengurus hal seperti itu hanya panitia, dan rata-rata panitia itu terdiri dari kakak angkatan mereka. Angkatan pertama lebih banyak serah terima jadi saja. Meskipun biasanya ada beberapa anak angkatan pertama yang juga disuruh menjadi panitia.
" Yuu-chaaaann~~" bagaikan jelangkung, datang tak diundang pulang tak diantar, tiba-tiba sepasang lengan kekar yang entah berasal darimana memeluk Yuuri yang tengah meminum airnya. Nyaris saja Yuuri mengulang kesalahan yang sama –yaitu menyembur –untung saja kali ini Yuuri bukan menyemburkan minumannya, tapi langsung menelan minumannya secara tiba-tiba. Dada Yuuri sedikit sakit karena terlalu banyak menelan air, bahkan ada beberapa yang salah masuk ke hidungnya. Membuat Yuuri bersin beberapa kali.
"Kau kaget ya? Maafkan aku." Yuuri menoleh ke sang pelaku. Dalam hati dia kesal dengan sang pelaku yang mendadak mengagetkannya. Yah, siapa lagi kalau bukan Vincent. Sudah tiga kali pemuda yang mirip dengan Victor ini mengagetkannya. Bersyukurlah karena Yuuri tidak mempunyai riwayat penyakit jantung. Tapi tetap saja dikagetkan seperti itu tidak baik buat jantung Yuuri sendiri.
"Vincent... tolong lepaskan aku." Yuuri berusaha melepaskan tangan Vincent yang memeluknya. Manik cokelat keunguannya menatap risih ke sekelilingnya. Para pengunjung kafetaria menatap mereka berdua dengan beragam macam ekspresi. Ada yang kaget, ada yang kesal, ada yang kecewa,dan semacamnya. Dan Yuuri lebih khawatir dengan tatapan kesal dari para mahasiswi yang Yuuri yakini adalah Viclovers. Yuuri berharap semoga sesudah ini dia tidak kena damprat oleh mereka lagi.
"He-hei! Lepaskan Yuuri! Kenapa kau seenaknya memeluknya sih?!" Phichit yang baru sadar dari keterkagetannya langsung memarahi Vincent. Sungguh, Phichit sangat tidak suka dengan Vincent yang seenak udel memeluk Yuuri. Padahal baru beberepa menit yang lalu Phichit menggoda Yuuri dengan Vincent, tapi begitu melihat Vincent memeluk Yuuri, Phichit langsung tidak suka. Entah kenapa, yang jelas Phichit tidak suka melihat Vincent -yang baru pertama kali dilihatnya dari sedekat ini-. Apakah ini yang dinamakan benci pada pandangan pertama?
Ingin sekali rasanya Phichit mengatakan ke Vincent bahwa Yuuri itu hanya milik Victor. Tapi tidak bisa dilakukannya sekarang karena Yuuri pasti akan menyangkalnya. Ingatkan Phichit untuk mengatakannya saat waktu istirahat ini sudah selesai.
"Hee? Memangnya kenapa? Aku kan hanya inging memeluk Yuu-chan. Iyakan Yuu-chan?" tanya Vincent yang sudah melepaskan pelukannya dan duduk disebelah Yuuri. Phichit menatap Vincent tidak percaya. Apa-apaan nickname unyu barusan? Sedekat apa hubungan mereka? Bukannya mereka berdua baru bertemu kemarin? Kok sudah seakrab ini?
Phichit menatap Yuuri selah meminta penjelasan. Yuuri yang mengerti hanya menggelengkan kepalanya tanda menjawab bahwa prasangka Phichit sama sekali tidak benar. Phichit mengerut kesal dan kembali duduk di kursi. Phichit tidak sadar kalau dia reflek berdiri dari tempat duduknya tadi. Manik obsidian Phichit belum melepaskan tatapan tajamnya dari Vincent. seolah mengancam Vincent untuk tidak terlalu menempel ke Yuuri. Phichit tidak akan membiarkan OTP nya rusak gara-gara satu penganggu menyebalkan ini.
Phichit yang marah itu sangatlah OOC.
Memang benar ya, orang ceria dan ramah kalau sudah marah luar biasa seramnya.
"Ano Vincent-"
"Vin-chan Yuuri. Kau jangan lupa memanggilku seperti itu." Potong Vincent. Ah, Yuuri sering lupa memanggil Vincent seperti itu. Lidahnya masih kaku untuk memanggil nickname khusus seperti itu.
"Ah i-iya. Ano... Vin-chan, kenapa kau ada disini? Maksudku kenapa kau mendatangiku?" tanya Yuuri. manik cokelat keungannya masih melirik ke sekelilingnya. Tatapan tajam para pengunjung kafetaria tidak kunjung luntur. Yuuri semakin merasa risih. Dia berharap Vincent cepat-cepat pergi dari kafetaria atau dirinya sendiri saja yang pergi dari kafetaria. Berada dalam suasana mencekam seperti ini, siapapun pasti bakal pengen kabur!
"Hmm... apa kau tahu dimana Victor? Aku sudah menghubunginya daritadi, tapi dia sama sekali tidak mengangkat teleponku ataupun membalas pesanku. Mungkin kau tahu dimana Victor berada sekarang."
"Tidak. Aku tidak tahu dimana dia." Jawab Yuuri tidak berbohong. Karena dia sendiri juga daritadi menanyakan dimana keberadaan si pemuda silver satu itu. Yuuri kira Victor hanya menghindari dirinya, rupanya dia menghindari Vincent juga. Bukan hanya Vincent, bahkan Yurio pun juga. Remaja berambut pirang itu mengirimkannya pesan berkali-kali, mengatakan bahwa Victor tidak bisa dihubungi dari tadi.
Kemana pula si rambut silver satu itu? Sejak Yuuri bangun tadi pagi, pemuda berambut silver itu sudah tidak terlihat wujudnya di kamar Yuuri. Semalam ada tapi paginya menghilang tanpa kabar. Mendadak Yuuri merasa di PHP kan dengan Victor. Apa ini yang namanya ditinggal pergi?
Ah, mendadak pikiran Yuuri jadi ngaco.
"Begitu ya. Kupikir kau tahu dimana Victor. Yaah, dia orangnya memang seperti itu sih. Kalau ada masalah dia suka menghilang entah kemana." Kata Vincent.
"Hah? Berarti sekarang Victor sedang ada masalah?" tanya Yuuri. Berarti tebakan Yuuri memang benar. Victor memang ada masalah.
"Kalau dilihat dari sikapnya sekarang, sepertinya sih iya. Soalnya dia itu selalu menutup dirinya dari kami semua. Tidak pernah mau menceritakan masalahnya. Terkadang sikapnya yang seperti itu membuat kami pusing. Masalahnya dia itu kalau sudah menghilang benar-benar menghilang seperti hantu. Dan baru muncul kalau moodnya sudah mulai membaik." Jelas Vincent.
Yuuri hanya mengangguk-ngangguk. Jika dia pikirkan baik-baik, Yuuri sama sekali belum terlalu mengenal Victor. Padahal sudah nyaris setahun mereka saling mengenal, tapi Yuuri tidak terlalu mengenal sifat-sifat Victor selain sifat menyebalkannya itu. Mengetahui fakta bahwa dirinya tidak mengetahui apa-apa tentang Victor membuatnya sedikit sedih. Yuuri tersenyum miris, apanya yang suka dengan Victor? Tahu sifat-sifat Victor saja dia tidak. Yuuri ingin sekali Victor mau terbuka kepadanya. Bukan selalu menutup diri seperti sekarang.
Vincent menatap Yuuri. Pemuda bermata hijau tosca itu tahu kalau Yuuri memikirkan Victor. Vincent mendecih pelan. Dia tidak suka melihat Yuuri seperti ini. Melihat Yuuri memikirkan orang lain membuatnya sakit hati.
Kenapa... kenapa mesti Victor?
"Ano... Vin-chan...?"
Panggilan Yuuri mengembalikan Vincent ke alam sadar. Pemuda bermata hijau tosca itu menoleh ke Yuuri. "Ada apa?"
"Etto... apa kau tahu apa masalah Victor yang biasanya?"
Victor lagi, Victor lagi.
"Semalam dia terlihat sedih sekali."
Kau tidak lihat kalau aku juga sedih?
"Aku khawatir dia mengalami masalah yang sangat besar."
Masalah Victor sama dengan masalahku juga. Bahkan lebih besar.
"Kenapa... Victor tidak mau bercerita padaku?"
Kenapa kau tidak memintaku untuk bercerita padamu juga?
"Padahal kalau dia cerita, aku pasti akan menghiburnya."
Kalau aku cerita, apa kau juga akan menghiburku?
"Victor no baka."
Vincent mengepalkan tangannya. Kesal, iri, dan sedih, semuanya bercampur menjadi satu. Rasanya Vincent ingin sekali mengatakan yang sesungguhnya ke Yuuri. Tapi apa dayanya, Vincent sebenarnya juga takut Yuuri mengetahui semuanya. Sama seperti Victor. Hanya saja Vincent tidak sepengecut Victor sampai-sampai menyembunyikan semuanya bahkan berbohong ke Yuuri.
Tapi dari semua itu, kenapa Yuuri harus memilih Victor? Victor, Victor, dan selalu Victor. Bahkan 'saat itu' juga. Vincent sangat membenci itu semua. Segala hal yang berhubungan dengan Victor, Vincent sangat membencinya. Dari dulu hingga sekarang.
Namun... Vincent lebih membenci dirinya yang sekarang.
Aku tidak akan menyerah.
"Yuu-chan..." Yuuri menoleh ke Vincent yang tersenyum kepadanya. Tapi bukan senyum yang seperti biasa ditunjukkannya. Ada yang berbeda dengan senyuman Vincent sekarang, tapi Yuuri tidak tahu apa itu.
"Bagaimana kalau kau tidak usah memikirkan hal itu?"
Kau tidak perlu memikirkan Victor, Yuuri.
"Karena kau akan pusing sendiri nanti."
Karena akan lebih baik jika kau tidak usah memikirkan Victor.
"Aku yakin Victor pasti akan cerita kepadamu nanti."
Aku yakin kau hanya akan sakit hati jika memikirkan dia.
"Jadi lebih baik kau tunggu saja."
Jadi lebih baik kau melupakannya.
"Sampai dia mau bercerita."
Meski hanya sebentar...
"Aku akan membantumu."
...Tolong, datanglah kepadaku.
Yuuri menatap Vincent yang masih tetap tersenyum. Namun kali ini senyumannya berbeda dengan yang tadi. Kenapa senyum Vincent terkesan sangat sedih? Ada apa dengannya sampai-sampai dia memasang wajah sedih seperti itu? Yuuri tidak mengerti. Kemarin Victor, sekarang Vincent. Sebenarnya ada apa dengan mereka berdua? Kenapa mereka berdua memasang ekspresi seperti itu disaat bersama Yuuri? Apa sumber masalah mereka berdua adalah Yuuri? Tapi kenapa? Apa yang sudah Yuuri lakukan kepada mereka berdua?
Yuuri ingin bertanya tapi dia yakin kalau Vincent juga tidak mau cerita. Yuuri mengepalkan tangannya. Jika dia tidak bisa membuat mereka berdua bercerita kepadanya, setidaknya Yuuri ingin menghibur mereka dengan caranya sendiri. Meski dirinya tidak tahu apa-apa.
Tangan Yuuri perlahan meraih tangan Vincent, menggenggamnya. Manik hijau tosca Vincent melebar kaget karena perlakuan Yuuri.
"Yuu-"
"Spasibo atas bantuanmu Vincent."
"..."
"Sebagai balasannya, jika kau ada masalah, aku juga akan membantumu. Jadi, tolong jangan pasang wajah sedih seperti itu." Kata Yuuri sambil tersenyum lembut. Jantung Vincent berdetak kencang. Dia sangat senang Yuuri perhatian kepadanya, namun di satu sisi Vincent sedih. Sedih karena Vincent tahu bahwa perhatian Yuuri kepadanya tidak akan bertahan lama. Sama seperti 'dulu', semuanya selalu berakhir dengan cepat.
"Spasibo Yuu-chan." Vincent langsung memeluk erat Yuuri. Dia tidak peduli jika semua orang melihati mereka. Yang diinginkan Vincent sekarang hanyalah melampiaskan rasa rindunya. Rasa rindu yang tidak bisa dia bendung lagi semenjak melihat Yuuri.
"Vin-"
"Spasibo..." Vincent semakin memeluk Yuuri dengan erat. Seolah-olah tidak ingin Yuuri menjauh darinya barang sedetik pun. Seolah-olah kalau dia melepas pelukannya, Yuuri akan menghilang dari hadapannya.
Meski hanya sebentar...
... tolong, datanglah kepadaku.
"Vincent Voznesenky."
DEG
Vincent sontak melepas pelukannya. Dia menoleh ke belakang, melihat si pemilik suara yang memanggil namanya dengan dingin. Tanpa melihat pun, Vincent tahu siapa orang yang memanggilnya. Manik hijau toscanya menyipit tidak suka melihat sepupunya, saingannya, orang yang dibencinya berdiri di belakangnya yang juga balik menatapnya dengan pandangan tidak suka. Dalam sekejab, aura di kafetaria tersebut berubah mencekam. Semua orang hanya dapat membisu melihat dua orang kembar itu saling bertatapan.
Yuuri merasa deja vu dengan suasana ini. Sangat mirip dengan kejadian saat di rumahnya kemarin. Hanya saja yang sekarang lebih mencekam lagi. Jujur saja, Yuuri sangat kaget melihat Victor yang tiba-tiba muncul di belakang Vincent. Awalnya Yuuri ingin mendorong Vincent, tapi pemuda bermata hijau tosca itu sudah keburu melepas pelukannya dan langsung melihat ke arah Victor. Entah kenapa Yuuri merasa sedikit takut dengan Victor. Jarang sekali Victor menatap orang dengan sedingin itu. Dan ekspresi Vincent juga lebih dingin daripada kemarin. Badan Yuuri tanpa sadar bergetar kecil melihat keduanya. Aura disekitar Vincent dan Victor sangat menakutkan. Ingin rasanya Yuuri pergi dari tempatnya sekarang juga.
"Ada apa?" tanya Vincent dengan nada yang tidak kalah dingin dan berat dari Victor. Yuuri mendadak khawatir, takut-takut Victor dan Vincent berkelahi disini.
"Kudengar kau mencariku." Jawab Victor.
Tidak ada jawaban. Vincent dan Victor masih saling menatap. Membuat semua orang yang ada disana semakin was-was dengan keduanya. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa mereka akan berkelahi? Atau masih tetap menatap seperti ini? Atau yang lain? Beberapa detik suasana masih dalam keadaan hening, akhirnya Vincent bersuara.
"Well, kau tahu saja kalau aku mencarimu." kata Vincent sambil berdiri dari tempat duduknya dan berhadapan dengan Victor.
"Kau ingin bicara apa?" tanya Victor tanpa basa-basi.
"Heh... to the point sekali. Bagaimana kalau kita membicarakan ini di tempat lain?" tanya Vincent. Victor tidak menjawab. Pemuda berambut silver itu langsung membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu keluar, meninggalkan Vincent.
Vincent mendengus melihat sikap Victor. Kalau bukan di kafetaria, mungkin mereka sudah adu tinju daritadi. Dengan malas, Vincent menyusul Victor. Begitu Vincent keluar, semua orang di dalam kafetaria menghembuskan napas lega. Melihat dua orang saling menatap dingin dengan aura yang begitu mencekam membuat mereka tana sadar menahan napas. Mereka kira Victor dan Vincent akan melakukan sesuatu yang seru. Tapi rupanya tidak ada terjadi apa-apa. Mereka pun kembali melanjutkan aktivitas mereka seolah tidak ada yang terjadi. Beberapa masih ada yang membicarakan kejadian tadi.
"Kapan Victor masuk ke kafetaria?"
"Entahlah, aku tidak melihatnya. Tahu-tahu dia sudah ada di belakang Vincent."
"Kenapa dia bisa tiba-tiba muncul disana? Bikin kaget saja tahu."
"Mungkin karena Katsuki dipeluk dengan Vincent. Makanya dia langsung datang kemari."
"Peka banget dia."
"Tapi aku masih penasaran, apa sih hubungan Victor dan Vincent? Kok kayaknya mereka udah kenal sejak dulu begitu."
"Tidak ada yang tahu soal itu. Victor tidak pernah terbuka kepada siapapun kecuali orang yang benar-benar akrab dengannya."
"Eh, tapi jujur saja lho, aku baru pertama kali melihat Victor seperti itu. Seram juga ya."
"Victor pernah kok memasang ekspresi seperti itu. Hanya sekali saja waktu itu."
"Eh? Yang benar? Kapan? Kenapa?"
"Yaah... itu ada hubungannya dengan Katsuki juga sih."
"Hah? Katsuki lagi?"
"Iya, dan saat itu Victor sangatlah menakutkan."
.
.
.
Kini Victor dan Vincent berada di taman kampus yang tidak jauh dari kafetaria. Tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun. Victor malah asyik memainkan ponselnya sedangkan Vincent menatapnya dalam diam. Selang beberapa menit kemudian, barulah Victor berhenti memainkan ponselnya dan menatap Vincent.
"Mau bicara apa?" tanya Victor.
"Ini soal semalam." Jawab Vincent. Victor mengeryit heran.
"Kemarin para pengawal menangkap salah satu dari 'mereka' di dekat rumah Yuuri."
Sontak Victor memasang wajah kaget. Nyaris saja dia menjatuhkan ponselnya. "Salah satu dari... 'mereka'?" tanya Victor tidak percaya. Tidak, tidak mungkin 'mereka' muncul. Victor sudah sangat berhati-hati selama ini. Seharusnya mereka tidak menyadarinya. Kenapa... kenapa mereka bisa muncul disana?
Tanpa sadar badan Victor bergetar. Tangannya menggenggam ponselnya dengan sangat kuat. Membuat pinggiran benda berbentuk persegi panjang tersebut sedikit retak. Perasaan takut, marah, khawatir, semuanya bercampur menjadi satu. Perlahan, napas Victor mulai tidak beraturan. Vincent yang menyadari kondisi Victor buru-buru menghampiri Victordan menenangkannya. Akan sangat berbahaya jika Victor lepas kendali.
"Victor tenangkan dirimu." Kata Vincent sambil menepuk-nepuk pelan bahu Victor.
"Hah...hah... bagaimana mungkin aku bisa tenang? Yuuri... Yuuri dalam bahaya!" kata Victor mulai emosi. Vincent mendesah kecil. Menangani Victor yang sudah seperti ini sangat merepotkan. Itu sebabnya Vincent sangat tidak mau Victor mengetahui ini. Karena Victor pasti akan hilang kendali seperti ini.
"Tenang dulu bodoh! Kalau kau tenang dan tidak panik, kita bisa memikirkan cara untuk menyelamatkan Yuuri. Makanya dengar dulu ceritaku! Dan hentikan menghancurkan ponselmu lagi! Benda ini sangat mahal tahu!" kata Vincent sambil merebut ponsel dari tangan Victor. Pemuda bermata hijau tosca itu mengecek ponsel Victor, untung masih baik-baik saja berkat casingnya yang lumayan tebal. Vincent mengehela napas lega. Memikirkan ponsel mahal seperti ini yang selalu rusak, membuatnya ingin menangis karena dirinya saja lumayan sulit membeli ponsel terus menerus. Meski Vincent juag termasuk orang kaya, Vincent itu tidak sekaya Victor.
"Hah... kau benar. Aku harus tenang." Kata Victor sambil berusaha menenangkan dirinya. Begitu napasnya sudah kembali stabil dan hatinya sudah tenang, Victor kembali menatap Vincent sambil mengambil kembali ponselnya.
"Jadi, ceritakan sekarang juga." Vincent menghela napas lagi. Sudah berapa kali dia menghela napas dalam sehari ini? Entahlah, Vincent terlalu malas menghitung.
"Jadi begini..."
.
.
.
Flashback
Vincent dan Yurio telah sampai di rumah keluarga Nikiforov. Sebenarnya Yurio mengajak Otabek agar ikut bersama mereka, tapi Yakov melarang dengan alasan karena sudah terlalu malam dan tidak baik bagi anak seumuran Otabek pulang terlalu malam. Yurio pun terpaksa mematuhi perintah Yakov meski dalam perjalanan remaja berambut pirang itu memaki-maki Yakov layaknya kereta api. Vincent ngeri sendiri mendengar kata-kata mutiara yang keluar dari mulut Yurio.
Vincent menatap rumah yang ditinggalinya sejak umurnya yang ke 12 tahun. Ah, rasanya Vincent kangen dengan masa-masa itu. Masa-masa dimana dia dan keluarganya belum mengalami kehancuran.
"Ngapain kau bengong disana pak tua? Cepat masuk!" lamunan Vincent buyar gara-gara teriakan Yurio. Vincent mendecih sebal karena dipanggil pak tua. Plis, dirinya ini masih muda! Umurnya ini masih 19 tahun! Mentang-mentang sepupunya itu masih 16 tahun, dirinya sudah harus dikatan tua gitu? Cuma beda tiga tahun saja kok. Semuanya saja yang lebih tua dari sepupunya itu dikatakan tua. Batin Vincent keki.
"Yuri, kau itu harus lebih sopan ke orang yang lebih tua darimu. Jangan sampai sifatmu ini terbawa sampai kau besar. Nanti kau susah mendapat teman." Kata Vincent menasehati Yurio. Orang-orang bisa sakit hati dengan perkataan kasarmu. Batin Vincent melanjutkan.
"Cih, pak tua tidak usah sok-sok menasehatiku. Perkataanku ini masih termasuk dalam standar sopan dan aku juga sudah mempunyai teman." Kata Yurio.
Vincent memasang tampang what the fu*k. Menghina orang yang lebih tua dengan kata-kata pedas seperti itu dibilang masih dalam standar kesopanan? Ni anak belajar dimana sih? Kok sifatnya tidak ada manis-manisnya? Tampang cantiknya jadi sia-sia karena sifat jeleknya. Vincent meringis dalam hati, apa ini karena efek dididik sama Yakov? Mulut pamannya yang satu juga tidak kalah pedasnya dengan mulut sepupunya.
Vincent memohon ampun sama kedua orang tua Yurio yang berada diatas sana karena gagal mendidik mulut sepupunya.
Para pelayan membukakan pintu untuk mereka berdua. Terlihatlah ruangan utama yang sangat besar. Di sisi kanan dan kiri ruangan terdapat tangga yang menuju lantai dua. Diatas ruangan terdapat chandelier beberapa sudut ruangan, terpajang guci-guci besar yang sangat diyakinkan harganya kelewat mahal. Dan di samping kanan ruangan, terpampang sebuah foto yang sangat besar. Vincent menatap sendu foto tersebut. Kapan terakhir kali keluarganya memasang ekspresi yang sama seperti di foto itu?
"Selamat datang Tuan Yuri dan Tuan Vincent." sapa seorang butler. Vincent mengangguk sambil tersenyum membalas sapaan butler tersebut. Sedikit aneh rasanya karena dia sudah lama tidak diperlakukan seperti tuan besar seperti ini. Delapan tahun meninggalkan rumah besar ini, membuat Vincent lupa bagaimana rasanya hidup layaknya seorang bangsawan.
"Dimana Yakov?" tanya Yurio.
"Tuan besar Yakov sedang menunggu di ruang utama." Jawab butler tersebut. Yurio hanya mengangguk dan berjalan menuju ruang utama. Vincent mengikuti dari belakang setelah mengucapkan terima kasih ke butler tersebut. Benar-benar terlalu, delapan tahun meninggalkan rumah ini, Vincent seketika lupa semua dengan seluk beluk rumah ini. Vincent tidak yakin dia tidak akan tersesat kalau berjalan sendirian di rumah ini.
Setelah melewati jalan yang penuh lika-liku, Vincent dan Yurio telah sampai di ruang utama. Para pelayan membukakan pintu untuk mereka berdua. Di dalam sana, seorang pria paruh baya, Yakov, tengah duduk di single sofa sambil membaca koran. Di sampingnya, ada remaja perempuan berambut cokelat kemerahan yang duduk di sofa panjang sambil memainkan ponselnya. Keduanya menoleh ke arah pintu yang baru saja dimasuki Yurio dan Vincent.
"Akhirnya kalian berdua datang juga." Kata Yakov sambil melipat kornnya dan menaruhnya di meja kaca didepannya.
"Davno de videlis' Vincent! Sepertinya kau sehat-sehat saja." Kata remaja perempuan berambut cokelat kemerahan itu. Manik biru sapphirenya menatap riang Vincent yang melambaikan tangannya.
"Davno de videlis' Mila. Dan kau juga sepertinya terlihat sehat-sehat saja." Jawab Vincent sambil duduk di samping Mila. Sedangkan Yurio duduk di sofa single yang berada tepat berada di hadapan Yakov.
"Kau tahu, aku sangat kesepian saat kau pergi meninggalkan kami. Ditambah Victor juga meninggalkan rumah ini ketika dia masuk kuliah. Haah, di rumah ini tidak ada yang bisa dipakai buat cuci mata semenjak kalian berdua tidak ada. Tidak ada pemandangan yang sedap dipandang karena isinya Cuma Yuri dan Yakov. Untunglah akhir-akhir ini Yuri selalu membawa temannya yang ganteng itu!" jelas remaja perempuan yang bernama Mila itu dengan panjang lebar. Vincent hanya tertawa kecil. Sepupu perempuannya ini sama sekali tidak berubah.
"Hei tante! Kau mengejekku ya?! Dan apa-apaan maksudmu tadi?! Yang kau maksud itu Otabek kan?! Asal kau tahu saja, Otabek sama sekali tidak tertarik dengan tante tante girang seperti kau!" ucap Yurio pedas. Vincent hanya meringis. Mia yang masih semuda ini saja sudah diejek tante tante sama Yurio, padahal mereka hanya beda satu tahun. Bagaimana dengan orang yang jauh lebh tua dari Yurio? Akan diejek apa nantinya?
"Huuu, liat itu. Omongan Yuri kasar banget. Aku heran kenapa Otabek bisa tahan mendengar omongan Yuri yang sekasar itu." kata Mila.
"Asal kau tahu, Otabek itu orang baik! Makanya dia tidak pernah mengeluh dengan semua perbuatanku!" jawab Yurio dengan bangga.
"Hee... aku jadi penasaran. Sebenarnya apa hubunganmu dengan Otabek sih? Kok kayaknya dekat banget." Kata Vincent sambil memasang senyum jahil. Tiba-tiba berniat ingin mengerjai Yurio.
"A-APA-APAAN?! AKU DAN OTABEK HANYA TEMENAN TAHU!" jawab Yurio dengan wajah yang semerah tomat. Vincent menahan tawa karena melihat ekspresi Yurio yang lucu itu. Ooh, rupanya ini cara untuk mengerjai Yurio? Sepertinya Vincent bisa memakai cara ini untuk hal lain.
"Kalian bertiga ini bisa diam tidak?! Dan Yuri, suaramu terlalu besar!Bisakah kau mengecilkan suaramu?! Ada hal yang lebih penting yang harus kita bicarakan selain Otabekmu itu!" kata Yakov membuat Yurio semakin memerah. Entah karena marah atau malu. Vincent dan Mila berusaha menahan tawa mereka yang ingin meledak. Yurio menatap tajam ke mereka berdua dan bersumpah dalam hati akan membalas mereka nanti.
Duh Yurio, hidupmu kok penuh dendam sih?
"Sudah sudah. Sekarang mari kita mulai pembicaraan seriusnya." Kata Yakov, membuat tiga anak muda di ruangan itu terdiam. Ekspresi mereka semua seketika menjadi serius.
"Aku mendapat laporan dari Jeever bahwa 'mereka' sudah menemukan lokasi Katsuki Yuuri. Salah satu dari 'mereka'nyaris ditangkap, namun sayangnya Jeever dan yang lainnya lengah sehingga 'mereka' berhasil kabur." Kata Yakov.
BRAK
Yakov, Yurio, dan Mila menoleh ke Vincent yang mengebrak meja kaca didepannya. Ketiganya menatap Vincent yang kini berdiri dari tempat duduknya dengan raut wajah panik. Yakov mendengus melihat Vincent, "Duduklah Vincent. Dimana sopan santunmu?"
"Disaat seperti ini kau masih menanyakan soal sopan santun?! Daripada itu, kenapa Jeever bisa lengah semudah itu?! Seharusnya di berhasil menangkap salah satu dari 'mereka'! Kenapa kalian jadi lembek begini?!" protes Vincent.
"Tenanglah Vincent! Jangan menyalahkan Jeever!" balas Yurio yang ikutan menggebrak meja kaca.
"Kalau aku saja sudah tidak bisa tenang, bagaimana dengan Victor kalau dia mengetahui ini?! Bisa-bisa dia bukan hanya menyalahkan Jeever, tapi memecatnya juga! Kau tahu kan bagaimana dia kalau sudah lepas kendali?! " balas Vincent dengan sengit. Yurio hanya dapat terdiam. Apa yang dikatakan Vincent memang benar. Dengan kesal, Yurio kembali duduk di sofa karena tidak dapat melawan Vincent saat ini.
"Vincent, duduk ditempatmu sekarang. Aku tidak akan bercerita jika kau tidak mau duduk." Kata Yakov. Pemuda bermata hijau tosca itu pun kembali duduk di sofanya. Setelah suasana kembali hening, Yakov melanjutkan ceritanya.
"Yuri benar, ini bukan salah Jeever. Jeever sama sekali tidak menyangka kalau gerombolan 'mereka' lebih banyak dari dugaannya. Karena berusaha menangkap 'mereka', salah satu dari bawahan Jeever ada yang terluka karena 'mereka' ada yang membawa pisau. Untung tidak terkena bagian vital sehingga kita tidak perlu khawatir." Jelas Yakov. Vincent hanya dapat menunduk, merasa bersalah karena telah menyalahkan Jeever tanpa tahu apa sebenarnya yang terjadi. Tapi setidaknya dirinya masih mending daripada Victor. Kalau Victor yang mendengarnya, pasti pemuda berambut silver itu langsung memecat Jeever tanpa mempedulikan alasannya meski orang yang dipecatnya itu sama sekali tidak bersalah.
"Lalu setelah itu, apa yang terjadi? Apa tidak ada laporan lain?" tanya Vincent.
"Untuk sekarang, hanya itu saja yang bisa kita dapatkan dari Jeever. Sekarang Jeever dan yang lainnya sedang berusaha melacak tempat 'mereka'." Jawab Yakov.
"Kenapa tidak langsung meminta kerjasama dari polisi untuk membantu kita?" tanya Vincent kembali. Bukankah akan lebih cepat jika meminta bantuan dari polisi juga? Pikir Vincent.
"Sudah, tapi para polisi itu terlalu lambat sedangkan 'mereka' bergerak sangat cepat dan tersembunyi. Ditambah lagi penampilan 'mereka' pun sudah berubah sejak 11 tahun yang lalu." Jelas Yakov.
Vincent mendecak kesal. Apa gunanya polisi jika merek tidak bisa melayani masyarakat ddengan baik? Tidak heran banyak kejadian mengerikan yang menimpa para warga karena kinerja polisi yang sangat lambat.
"Maaf menyela pembicaraannya. Aku ingin bertanya, bukannya 'mereka' semua sudah dipenjara saat itu ya? Kenapa mereka bisa kabur?" tanya Mila. Ketiga laki-laki disana terdiam. Dua diantaranya berpikiran yang sama dengan sepupu perempuan mereka. Bagaimana caranya 'mereka' bisa kabur tanpa ketahuan sama sekali? Biasanya jika ada tahanan yang kabur, pastinya akan ada pemberitahuan ke kalangan masyarakat bukan?
Yakov menghela napas sebelum menjawab pertanyaan Mila, "Kalian tahu berita tentang puluhan tahanan yang dibunuh di dalam penjara bukan?"
Mila mengangguk, "Iya. Kalau tidak salah sekitar 20 orang kan? Penyebab terbunuhnya mereka juga tidak diketahui. Semua wajah tahanan yang dibunuh hancur total sampai tidak bisa dikenali. Dan terdapat beberapa luka sayatan dan tembakan di tubuh korban. Tidak salah lagi kalau para tahanan itu dibunuh dengan cara yang sangat sadis. Dan para polisi mengaku bahwa mereka tidak tahu apa-apa. Bahkan beberapa diantara polisi yang ingin mengecek keadaan saat itu ada yang meninggal karena tertembak tepat di jantung dan kepala." Jelas Mila.
"Benar sekali. 25 orang yang meninggal saat itu. Pembunuhnya sampai saat ini belum diketahui. Dan apa kau tahu berapa orang dari 'mereka' yang dipenjara dulu?" tanya Yakov seraya menatap Vincent.
Vincent berpikir, berusaha mengingat-ngingat kejadian dulu. "Kalau tidak salah 15 orang bukan?" tanyaVincent.
"16 lebih tepatnya." Jawab Yakov.
"Lalu, apa hubungannya dengan kejadian yang kau bilang tadi?" tanya Yurio.
Yakov hanya diam, tidak menjawab pertanyaan Yurio. Seolah-olah dia menyuruh Yurio untuk memikirkan jawabannya. Yurio terdiam, memikirkan jawabannya. Setelah beberapa saat, Yurio membelalakkan kedua matanya. Raut wajahnya menjadi horror begitu mengetahui jawabannya. Begitu pula Vincent dan Mila, mereka berdua pun juga memasang ekspresi yang sama dengan Yurio.
"Ma-masa sih..."
Yakov mengangguk, "Ya, 25 orang yang menjadi korban, 16 diantaranya adalah orang-orang dari 'mereka'."
Ketiga remaja di ruangan itu merasa merinding. Mendadak suhu di ruangan itu menjadi dingin. Fakta yang baru saja mereka dengar membuat mereka kaget. "Jadi, pemimpin 'mereka' menyelinap kedalam penjara dan membunuh orang-orangnya sendiri?" tanya Mila.
"Ya, dia sengaja melakukannya. Waktu itu pemimpin 'mereka' mengorbankan anak buahnya sehingga polisi mengira 'mereka' semua ditangkap. Memang saat itu hanya ada 16 orang yang kita lihat, tetapi setelah diselidiki lebih dalam lagi oleh Jeever, rupanya 'mereka' sekitar 36 orang." jelas Yakov.
"Berarti saat itu seharusnya ada 17 orang jika dihitung dengan pemimpin mereka. Tapi karena pemimpin mereka berhasil kabur, jadi yang ditangkap hanya 16 orang." lanjut Yurio.
"Lalu kenapa 16 orang yang ditangkap itu dibunuh oeh pemimpin mereka sendiri?" tanya Mila.
"Menurutku, sepertinya pemimpin 'mereka' menganggap anak buahnya yang telah ditangkap itu tidak berguna lagi. Jadi lebih baik baginya dibunuh saja." Jawab Vincent.
"Kejam..."
"Memang kejam, tapi memang begitulah kenyataannya. 'Mereka' semua memang tidak punya hati."
"Lagipula, orang mana yang menyiksa anak kecil tanpa ampun dibilang punya hati? Yang ada 'mereka' itu pantasnya disebut para orang tua gila." Timpal Yurio.
"Disaat seperti ini mulutmu masih saja kasar Yuri." Kata Vincent.
"Berisik!"
"Sudah sudah. Kenapa kalian malah berkelahi sih? Fokus pada pembicaraan ini dulu." Tegur Yakov merelai pertengkaran spele Vincent dan Yurio. Kenapa dua bocah ini selalu saja bertengkar karena hal spele?
"Jadi Yakov, langsung saja ke intinya."
"Kalian bertiga, dengarkan baik-baik. 'Mereka' sudah mulai bergerak. 9 tahun 'mereka' bersembunyi, akhirnya 'mereka' kembali menampakkan diri. Terlebih lagi 'mereka' sudah mengetahui bahwa Katsuki Yuuri masih hidup dan tinggal di Rusia. Hanya tinggal menunggu waktu saja sampai mereka mengetahui bahwa Katsuki Yuuri masih mempunyai 'benda itu'." Jelas Yakov. Vincent mengepalkan tangannya, khawatir sekaligus marah mengetahui berita ini. Gara-gara kelalaiannya, Yuuri kembali masuk kedalam keadaan berbahaya.
Apapun yang terjadi...
"Dan khususnya untuk Vincent dan Victor..."
Aku akan melindungi Yuuri.
"Kuserahkan tugas melindungi Katsuki Yuuri pada kalian berdua."
Pertempuran yang sesungguhnya...
Dimulai kembali.
.
.
.
TBC
Ampuni lah diriku yang tidak becus menjadi author ini. Sudah lama gak update, isinya makin kacau pula. Sumpah, mendadak kena writerblok. Niatnya ingin bikin begini malah jadi begitu. Isinya tidak sesuai dengan spoiler yang kuberikan di chapter sebelumnya pula. Sekali lagi aku minta maaf yang sebesar-besarnya atas kekacauan yang terjadi.
Lagipula... kenapa fando, YoI sepi bgt? kukira bakal ramai gara-gara DJ YoI yang si Victor di mobu. Ada yang sudah pernah baca DJ itu?
sekali lagi maafkan diriku ini. Aku gak yakin bisa update cepat karena sebentar lagi aku harus menghadapi UAS lalu setelah itu aku juga harus siap-siap menghadapi UN. Semoga aku bisa update cepat dan tidak lama-lama.
