Sebelumnya di Ghost Hunter…

Neji segera tersadar dari lamunannya, dan menghampiri Minato, "Minato-san," Neji menepuk pundak Minato.

Minato menoleh, "Ada apa?".

"Kurasa… Baik Naruto, Sasuke, dan Hinata-sama…

Mereka semua berada dalam bahaya."

Sekarang di Ghost Hunter…

On the way to west Konoha, 16.45 P.M…

Sebuah mobil kodok berwarna kuning sedang melaju kencang bak di kejar hantu. Di dalam mobil itu, Minato dan Neji sedang dalam keadaan gelisah. Lihat saja Neji yang sedang berusaha memotong kukunya dengan menggunakan gigi sebagai bentuk pelampiasan rasa gelisahnya.

Bukan apa-apa, hanya saja apa yang akan di lakukan oleh Naruto, Sasuke, dan Hinata di tengah hujan badai yang lebat ini? Main petak umpet? Wuih, greget banget.

"HAAAH!" teriak Minato kesetanan hingga ia mengeluarkan nafas naga yang wangi sewangi parfum Syahrini(?).

"Sabar! Sabar, Minato-san! Kita akan sampai sebentar lagi!" himbau Neji pada Minato bagaikan seorang bidan profesional.

"Bukan itu masalahnya!" Minato makin frustasi, di kemudikannya mobil kodok itu secara ugal-ugalan hingga nyaris menubruk sebuah tiang lampu jalanan.

"LALU APA?!" sahut Neji lebih frustasi. Ini sudah kantong muntah ke-dua puluh tiga.

CKIIIIIT!

"Ugh!" erang Neji begitu wajahnya berhasil mencium kaca mobil akibat perbuatan mendadak Minato yang mengerem mobilnya. Ingin, ingin sekali Neji menelannya bulat-bulat, namun sayang, mulutnya tak cukup besar.

"Masalahnya adalah…" Minato memberikan jeda pada perkataannya. Entah untuk membuat Neji semakin kesal, atau untuk menambah efek dramatis.

"Apa?!" tanya Neji dengan hidung kembang-kempis dan wajah memerah karena menahan amarah.

"Kau serius mau tahu?" tanya Minato sok misterius.

"ENDAK! SAYA MAU TEMPE!" jawab Neji sambil menjedokan kepalanya ke senderan kursi yang ia duduki saat ini. Mungkin ia harus berkonsultasi ke dokter jiwa segera. Atau psikolog.

"Oh…" jawab Minato dengan santainya tanpa mempedulikan Neji yang emosinya makin naik ke ubun-ubun.

"ARGH!" teriak Neji sambil menjambak-jambak rambut model iklan shampoonya itu dengan beringas, "BUKAN ITU MAKSUDKU! AYOLAH, APA MASALAHNYA?!" tanya Neji sambil ngos-ngosan.

"Loh, katanya kau tadi tidak mau tahu?" Minato malah balas bertanya sambil memasang wajah sepolos kain kafan.

Neji segera mengambil sebuah kantong muntah yang kosong lalu segera merobek dan mengunyahnya saking gemesnya, "Bajing-maksudku, Minato-san, apa sebenarnya masalah itu?" tanya Neji sambil menahan emosinya hingga ia hampir saja menyebutkan salah satu kata mutiara yang tidak patut di tiru oleh Upin dan Ipin(?).

"Oh, jadi kau mau tahu…" jawab Minato, sama sekali tidak ada hubungannya dengan pertanyaan Neji barusan.

"Iya, aku mau tahu." Sahut Neji sambil memasang sebuah senyum simpul yang sangat amat terpaksa. Ngenes.

Minato bersender pada senderan kursi supir, "Iya, sebenarnya…

…Aku tidak tahu jalan menuju ke bagian barat Konoha…"

Dan Neji sudah berpindah ke belakang untuk segera menggerogoti ban cadangan di sana.

Naruto © Masashi Kishimoto

Ghost Hunter © Topeng Lolli Kura

Warning : AU, OOC, Miss Typo(s)

Genre : Humor/Horror/Supernatural/Adventure/Mistery/Romance

Pairing : PeinxKonan, and many more.

FIC INI SAYA BUAT BUKAN UNTUK MENCARI KEUNTUNGAN APAPUN! JIKALAU ADA KESAMAAN JUDUL, ISI CERITA, ITU HANYA KEBETULAN SEMATA YANG TIDAK DI SENGAJA. FIC INI MURNI IDE SAYA. DI LARANG MEM-PLAGIAT FIC INI TANPA SE-IZIN SAYA,!

Don't Like? Don't Read.

.

.

On the way to west Konoha, 17.00 P.M

Itachi sedang berlari dengan cepat secepat siput―karena secepat cahaya sudah terlalu mainstream(?)―menyusuri jalan beraspal yang licin. Itachi doang yang lari, Shion mah tinggal terbang aja.

"Jadi, apa yang ingin kau katakan?" tanya Itachi tanpa mengalihkan fokusnya ke jalanan, berusaha menemukan uang koin mungkin.

"Aku ingin mengatakan bahwa aku ingin memberitahu mengapa aku di incar oleh Madara." jawab Shion tanpa mengalihkan perhatiannya dari Itachi. Bukan kenapa-kenapa, tapi keriputnya itu, loh, kelihatannya menggemaskan.

"Ceritakan," sahut Itachi singkat.

Shion memasang gaya santai sambil terbang, posisi yang wuenak banget, "Baiklah… Sesudah keluargaku telah terbunuh, orang-orang itu menemukan tempat persembunyianku…"

"Mereka juga berusaha membunuhku, mereka mengarahkan telapak tangan mereka ke arahku aku begitu ketakutan hingga aku menangis, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat itu. Aku… Aku pasrah…"

"Lalu, apa yang terjadi?" tanya Itachi singkat.

"Setelah itu, aku tidak tahu apa-apa, semuanya gelap gulita. Tak ada setitikpun cahaya yang bisa kulihat…"

"…Tetapi…"

Itachi menajamkan pendengarannya, "Tetapi?"

"Tetapi, tiba-tiba sebuah cahaya putih menyelimutiku, memberiku kehangatan, memberiku kekuatan. Kemudian, aku mendengar sebuah suara yang berkata 'Belum saatnya engkau meninggalkan dunia ini, takdirmu masih panjang, wahai sang penghancur dunia. Bangkitlah dan penuhi takdir engkau yang telah di ramalkan!' "

Itachi mengernyitkan dahinya, "Apa lagi yang terjadi setelah itu?"

"Lalu… Aku tiba-tiba kembali ke tempat persembunyianku… Tetapi, aku malah melayang di udara, tubuhku tembus pandang, dan aku melihat ragaku masih tergeletak di sana. Di saat itu juga aku menyadari bahwa…

…Aku telah meninggal…"

"Namun, aku sama sekali tidak kaget. Walaupun aku masih bingung atas semua yang telah terjadi, kuputuskan untuk meninggalkan ragaku sementara dan pergi menjelajah keluar rumahku. Lalu di saat itu juga, aku bertemu dengan…" Shion menggigit bibir bawahnya.

"Dengan siapa?" tanya Itachi lagi dengan singkat.

"…Uchiha Madara… Dan keenam orang tadi…"

Itachi tersentak, "Lalu, mereka mengejarmu? Hingga sekarang?"

"Tepat sekali," jawab Shion dengan singkat dan jelas.

"Lantas, mengapa kau membohongiku dan yang lainnya?" tanya Itachi penasaran. Ia masih bingung mengapa gadis ini membohongi dirinya dan yang lainnya, padahal tidak ada satupun hal mengerikan ataupun mengenaskan yang perlu di sembunyikan sejauh yang Itachi dengar dari Shion.

"Aku hanya ingin kalian menanggapiku dengan serius," jawab Shion tanpa basa-basi, "Karena saat itu aku tidak yakin kalian akan menolongku atau tidak, namun dari semua yang kulihat hingga saat ini, aku yakin kalian akan menolongku."

Itachi mengangguk mengerti, "Hmm… Tapi apakah―"

DEG DEG!

"―!" pertanyaan Itachi langsung tersendat begitu ia merasakan sebuah hawa kegelapan di dekatnya.

"Shion… Berlindunglah di belakangku." perintah Itachi datar pada Shion yang kini memasang wajah heran.

"Memangnya kenapa?" tanya Shion sambil memiringkan kepalanya bingung.

"Kau tidak merasakan aura kegelapan ini?" tanya Itachi malah semakin bingung. Roh seperti Shion harusnya lebih peka darinya.

"Tentu saja aku merasakannya," jawab Shion, "Tapi 'kan ada sudah tiga orang itu yang telah menghadapinya…" lanjutnya santai.

Itachi mengernyitkan dahi, "Tiga orang?"

"Tuh…" Shion menunjuk dua orang anak, satunya berambut raven satunya berambut kuning, yang sedang menghadapi sesosok hantu kepala melayang, dengan bantuan seorang gadis bersurai indigo yang mengintip malu-malu dari sebuah gedung di tepi persimpangan jalan.

Dan Itachi melotot seketika.

~o0o~

West Konoha, 17.10 P.M

Pein berlari ke depan dan berusaha menebas Reibi menggunakan batangan besi hitamnya, namun Reibi lebih gesit, ia segera menghindar ke samping kanan dan melempar Pein ke udara, tetapi Pein berhasil mendarat dengan mulus di atap salah satu gedung.

"Hanya segitu saja? Payah! Kuchiyose no Jutsu!" teriak Pein sesudah ia menggigit ibu jarinya dan menempelkan telapak tangannya ke atap gedung itu hingga asap putih yang tebal menutupinya.

"Kau tidak akan kuberikan kesempatan!" teriak Reibi sambil meluncurkan puluhan tangannya yang kurus menuju ke atap gedung tempat Pein berpijak tadi.

Namun, sebuah torpedo tiba-tiba keluar dan meledak begitu tanganReibi menyentuhnya, menambah ketebalan kabut asap itu.

"Apa?" ungkap Reibi tak percaya akibat torpedo barusan.

"Soplado de Aire!" teriak Hiruzen sambil mengayunkan tangannya pada Reibi begitu melihat Reibi yang lengah, menyebabkan sebuah gelombang udara dari atas muncul untuk menebas Reibi.

Namun sayang, Reibi dengan cepat menyadari serangan itu dan berkelit ke samping kanan untuk menghindari serangan yang pada akhirnya hanya mengenai tanah itu.

"Sekarang, Pein!" teriak Hiruzen dari kejauhan pada kabut asap itu.

"!" Reibi yang baru menyadari bahwa ia termakan oleh jebakan lawan segera menoleh ke atas, dan mendapati sosok Pein yang terjun dari atas sambil membawa sebuah batangan besi hitam yang panjang untuk menusuknya.

"Matilah kau!" ucap Pein sambil mengangkat batangan besi hitam itu tinggi-tinggi.

"Cih!" Reibi mendecih kesal, jadi begini rencananya. Mereka sudah merancanakan semuanya, mengetahui bahwa Pein akan terpantulkan dan ia akan menyerang balik. Karena itu, Pein menggunakan sebuah serangan kejutan yang tidak pernah di ketahui Reibi dari balik kabut asap sebagai pengalih perhatian, lalu Hiruzen juga mengalihkan perhatiannya agar tidak melihat Pein yang sudah bersiap menyerang sekaligus mengarahkannya untuk mendekat pada Pein, dan pada saat itu juga Pein akan menjadi serangan utama. Rencana yang benar-benar jenius.

"Hidupmu tidak berarti!" Pein makin dekat dan makin mengeratkan pegangannya pada batangan besi hitam pada genggamannya itu.

"Tidak akan!" Reibi segera menggenggam batangan besi hitam Pein dari bawah dan melempar Pein menjauh darinya, "Mungkin rencana kalian cukup untuk menipuku, tapi tidak cukup untuk melukaiku!"

Pein segera mendarat di atas tanah dengan mulus, "Heh, siapa bilang itu serangan utama?"

"Apa?"

"Lihatlah ke atasmu!"

Reibi segera menoleh ke atas dan langsung kaget begitu menemui seseorang lain, dengan tindikan dan mata rinnegan yang sama seperti Pein, yang gundul dan bertangan enam dan berekor seperti gergaji, sedang menyeringai mengerikan kepadanya.

"Apa itu?"

Pein segera menyeringai, "Sutansu no Komiawase : 6 Kōgeki! Shuradō"

Mahluk aneh yang di lihat Reibi itu segera membuka lebar-lebar mulutnya, mengumpulkan energi, dan menembakannya dalam bentuk laser pada Reibi.

"Cih!" Reibi kembali menghindar ke belakang dengan cepat, menyaksikan laser yang menghasilkan ledakan energi besar itu.

"Ningendō!"

Tiba-tiba, orang lain yang lagi-lagi juga bertindik dan mempunyai mata rinnegan, tapi kali ini juga berambut oranye yang panjang, muncul di depan Reibi dan memegang kepalanya dengan satu tangan dan melempar Reibi jauh-jauh.

"Ugh!" erang Reibi begitu ia menubruk sebuah gedung dan jatuh ke tanah dengan keras.

"Chikusōdō!"

Kali ini orang yang sama lagi, hanya saja tubuhnya pendek dan berambut di kuncir atas, muncul di depan Reibi.

"Siapa sebenarnya kalian?!" tanya Reibi dengan marah.

"Kuchiyose no Jutsu!" sosok yang sama dengan Pein itu tidak menjawab, ia malah melakukan sebuah jurus dan memanggil seekor anjing raksasa berkepala tiga berbulu oranye, dengan tindikan raksasa di masing-masing moncong atas setiap kepala dan enam mata rinnegan, dua di setiap kepala.

"Serang!" perintah sosok itu, dan anjing berkepala tiga itupun segera melakukan perintah tuannya. Di gigitnya ekor Reibi, dan di lemparkannya sosok hantu cacing itu jauh ke udara.

"Gakidō!"

Saat Reibi masih melayang di udara, tubuh Pein yang berambut rapi di sisir ke belakang muncul dan mencekik leher Reibi sambil menghisap chakranya.

"Khk!" Reibi yang semakin melemah hanya bisa pasrah, apalagi saat tubuh Pein yang mencekiknya itu melemparnya ke bawah dengan bantuan dorongan chakranya yang di hisap tadi hingga ia menyebabkan sebuah lubang raksasa di atas tanah itu dan berhasil menyebabkan sebuah kabut tebal menyelimuti tempat itu.

"Jigokudō!"

Belum cukup sampai di sana, tubuh Pein yang lainnya, kali ini yang bertubuh lebih besar bahkan dari Peinnya sendiri, muncul dan memanggil sosok aneh yang juga bermata rinnegan serta kanji jepang di dahinya yang berarti 'raja'.

"I-itu 'kan?!" belum selesai Reibi terkejut, sebuah lidah menjulur panjang dari mulut sosok itu dan mencekik leher Reibi.

"Beritahu kami, apa tujuanmu?" tanya tubuh Pein yang mengendalikan sosok itu dengan suara berat dan datar.

"Tidak akan kuberitahu!" jawab Reibi sambil meronta-ronta, berusaha melepaskan diri dari cekikan lidah itu.

"Bagus." kata tubuh Pein itu dengan singkat, dan pada saat itu juga, Reibi di lempar ke dalam mulut sosok itu dan di kunyah-kunyah hingga terdengar raungan minta tolong dari Reibi yang terdengar menyakitkan dari dalam sana.

"Cukup." ucap tubuh Pein bertubuh besar itu, dan berhasil membuat sosok yang di panggilnya itu memuntahkan Reibi dan melemparkannya jauh-jauh hingga kembali menubruk gedung dan jatuh ke atas tanah dengan keras.

Pein menghampiri tubuh Reibi yang terkulai lemas di atas tanah itu dengan tatapan datar. Rambut merahnya berantakan, luka di beberapa bagian tubuhnya terlihat parah, lecet di mana-mana, dan api ungu juga terlihat membakar beberapa bagian tubuhnya.

"Begitu mengenaskan nasibmu, kau harus mati saat ini juga." ucap Pein sambil menodongkan sebuah batangan hitam dari balik lengan jubahnya dan menatap Reibi dengan tajam. Tak di pedulikannya hujan dan petir yang menyambar-nyambar di belakangnya.

"Tapi sebelumnya," Pein menurunkan lengannya, "Apa tujuanmu ke sini?"

"Aku ke sini mencari Shion…"

"Aku juga tahu, baka!" bentak Pein, "Maksudku, apa motifmu untuk mencari Shion? Dan siapa itu ketujuh dosa? Beritahu aku segalanya!"

Reibi bangkit dari posisi terpuruknya, walaupun agak tertatih-tatih, "Semua itu rahasia… Tidak ada yang boleh tahu…"

Pein menatap Reibi kejam dan mengulurkan sebelah lengannya pada Reibi.

"Tendō!"

Dan seusai Pein mengatakan kata itu, Reibi terangkat ke udara, dan terombang-ambing, berputar-putar dengan cepat serta terlempar kesana-kemari, batu-batu dan pohon-pohon terlempar dari atas tanah dan menubruk tubuh Reibi hingga hantu cacing itu mengerang kesakitan di tengah hujan itu hingga akhirnya ia terjatuh dengan suara berdebum yang nyaring.

"Ba-bagaimana kau bisa se-sekuat ini?" tanya Reibi tergagap-gagap, kagum akan kekuatan Pein yang meningkat drastis.

"Itu karena aku menggunakan keenam kekuatanku secara optimal dan tidak berpusat pada satu pengguna, jadi aku bisa menggunakannya secara bersamaan dan berpisah dalam sekali serang," jelas Pein panjang lebar.

"Dan sekarang adalah saatnya kau memberitahu kami tentang semua yang kau ketahui." ucap Hiruzen sambil berjalan mendekati Reibi dan memasang tatapan mengintimidasi.

"Heh… Aku tidak akan memberitahumu apapun… Bahkan, sebenarnya saat ini, akulah yang menang…" jawab Reibi yang jelas saja membuat semua orang di sana mengangkat sebelah alis mereka.

Ayolah, dia sekarang sedang dalam keadaan terpuruk, dan dia masih mengatakan bahwa ialah yang menang. Apa mahluk ini tidak mempunyai organ bernama 'otak' di dalam tempurung kepalanya?

"Apa maksudmu?" tanya Pein sambil melirik curiga pasukan hantu yang di panggil Reibi sudah berhenti menyerang Konan dan yang lainnya.

Reibi bangkit dari posisi terpuruknya, "Targetku sudah berada dekat di sini…"

"Target?" beo Pein bingung.

"Ya, targetku adalah…

"…Shion…"

Mata Pein membulat lebar.

"Sampai jumpa…" Reibi menghilang dari hadapan mereka di lahap oleh api biru, begitupun dengan pasukan hantu yang ia panggil.

Hening.

Hening.

Hening.

"Pein? Kau tidak apa-apa?" tanya Hiruzen sambil menepuk pundak pemuda berambut jabrik oranye yang sekarang sedang diam terpaku.

"Dia juga mengincar Shion…" bisik Pein pelan, namun masih bisa di dengar oleh Hiruzen.

"Jadi, apa perintahmu sekarang?" tanya Konan sambil berkacak pinggang.

Pein menatap kekasihnya itu serius, "Cari Shion di area ini! Reibi berkata bahwa Shion sudah dekat, berarti kita hanya perlu mencari di dekat sini! Cari dia, satu tim pencari terdiri dari dua orang! Kita akan mencari di delapan mata angin!" teriak Pein memberi perintah kepada anak buahnya.

"Tapi, Itachi belum datang!" protes Kisame yang notabene merupakan partner Itachi.

"Kau bisa cari sendiri, Kisame. Janganlah manja seperti anak bayi." jawab Pein sekaligus sedikit menghina Kisame yang selalu protes jika ia di beri mandat oleh sang ketua.

"Baik, sekarang ayo kita berpencar!" teriak Konan lantang.

"Ha'i!" jawab semua orang di sana dan langsung melesat menembus badai dan melompati atap-atap gedung, termasuk kelima tubuh Pein dan Hiruzen.

"Ayo, Konan," ajak Pein singkat. Konan langsung mengangguk dan mereka berdua melompat secara bersamaan.

Tanpa ada yang menyadari, Shino dan Kiba telah datang ke tempat itu setelah semua anggota Akatsuki telah pergi.

Ya, mereka datang setelah pestanya usai. Sungguh di sayangkan.

~o0o~

Close to West Konoha, 17.20 P.M

"Rasakan ini!" Naruto melempar kunainya pada sosok hantu tanpa kepala itu. Namun hantu itu lebih gesit, ia berkelit ke samping kanan untuk menghindari serangan Naruto.

Namun, Sasuke muncul secara tiba-tiba dari belakang dan hendak menendang sosok itu tepat di dadanya, namun sebuah tangan berdarah muncul dan memegang kaki Sasuke lalu membanting bocah Uchiha itu ke atas tanah.

"Tidak sampai di sini!" tiba-tiba, Naruto muncul dari atas sambil membawa kepala sosok hantu itu dan hendak memasangkannya ke bagian lehernya yang terlepas itu.

Namun sosok itu lagi-lagi kembali menyadarinya dan kembali menghindar dengan cara berkelit ke kiri, menyebabkan Naruto tidak dapat memasang kembali kepala itu pada tubuhnya.

"Bodoh," ucap Sasuke, "Mana bisa kita mengalahkannya jika setiap kau akan memasangkan kepalanya kau malah berteriak?"

"Itu pelampiasan!" balas Naruto sambil menjambak-jambak rambutnya dengan frustasi, "Kau tidak tahu betapa menjijikan memegang kepala itu?!"

"Tidak, dan aku tidak peduli," ucap Sasuke singkat. Ia segera kembali berlari ke depan untuk menghabisi sosok itu.

Naruto hanya menghela nafas atas sifat cuek-bebek sohibnya itu. Namun apadaya, ia juga kembali berlari ke depan untuk menghabisi sosok itu. Pertarungan ini harus segera di akhiri!

"Rasakan ini!" ucap Sasuke sambil melempar lima buah kunai untuk melukai sosok itu, namun sosok itu melompat ke atas dengan cekatan, menghindari lemparan Sasuke.

"Sekarang, Naruto!" teriak Sasuke sambil menatap ke atas, di mana Naruto sudah berdiri di atas sebuah gedung pendek dengan sebuah kepala di tangannya.

"Siap!" balas Naruto lalu segera meloncat turun dari gedung, bersiap-siap memasangkan kepala itu kembali pada tubuhnya.

Sosok hantu tanpa kepala yang memang sedang melayang di udara itu hanya diam.

Diam, hingga akhirnya ketika Naruto sudah cukup dekat dengannya…

"Matilah kau!" teriak Naruto sambil mengangkat kepala itu tinggi-tinggi.

…Ia melakukan sebuah gerakan yang begitu mengejutkan.

Sasuke terdiam.

Terpaku.

Sosok itu, salto di udara, dan otomatis, menendang tubuh Naruto hingga ia terpental begitu keras dari udara hingga ia akan menabrak sebuah pedang dengan ujung lancip dari dekorasi sebuah gedung senjata tajam.

Semua seolah terlambat.

"NARUTOOOOO!" teriak Sasuke sambil mengulurkan sebelah lengannya dan mengejar sohib berambut kuningnya itu.

Namun baginya, semua itu sudah terlambat.

"TIDAAAAAK!"

Lalu semuanya menjadi gelap.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Na… To…"

"Naru…"

"…To…"

Naruto mengerjapkan kedua matanya pelan. Apakah ini di Surga? Oh, Nirwana, di mana bidadari-bidadarimu yang cantik nan jelita itu?

PLAK!

"AUCH!" jerit Naruto begitu sebuah tangan yang yang mulus dengan maksud yang tidak tulus(?) menampar pipinya dengan keras. Saking kerasnya, ia hingga terpelanting ke samping kanan dan berguling-guling di trotoar.

"Eh, kau sudah sadar?" seorang gadis yang dikira Naruto sebagai bidadari bertanya kepadanya. Membuatnya semakin yakin bahwa ia ada di Surga. Eh, tapi apa di Surga seorang bidadari boleh menamparnya? Apakah di Surga ada jalan raya, gedung, dan…

…Tunggu dulu.

'Ini bukan Surga!' batin Naruto tersadar dari lamunannya yang sangat-sangat ngaco. Masih hujan, dan ia masih memakai jas hujannya. Apa yang terjadi dengan Sasuke?

"SHION! PERGI DARI SANA!"

Gadis berambut pirang itu langsung berdiri dan berguling ke arah yang sama dengan Naruto begitu sosok aneh yang menurut Naruto seperti cacing besar Alaska-salah, maksudnya, cacing besar hitam bertopeng yang aneh menubruk etalase sebuah toko yang memajangkan pakaian dalam.

"Seinaru Mikazuki Nami!" Hidan mengayunkan sabitnya ke depan, membuat sebuah gelombang energi yang akan membelah tubuh Reibi. Namun, Reibi berhasil menghindar dari serangan Hidan dan kembali mengejar Shion dan Naruto, secara tidak langsung.

"Sial! Mahluk apa itu?!" geram Naruto frustrasi. Ia langsung berdiri dan berlari untuk menghajar mahluk itu.

"Naruto!" seru Shion pada adik dari temannya itu, "Jangan gegabah!"

Namun, Naruto tidak menghiraukannya. Pemuda itu terus berlari dan melompat ke kepala Reibi.

"Menyingkir, bocah!" ujar Reibi sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya. Ia bermaksud melempar Naruto jauh-jauh dari tubuhnya. Tapi, Naruto masih bersikeras mempertahankan pegangannya pada rambut merah Reibi.

"Tidak akan!" seru Naruto sambil mengangkat kunainya dan menghunus kunainya itu tepat ke bagian topeng Reibi hingga retak.

Reibi berteriak kencang seperti teriakan perempuan, gigi-gigi dari mulut lebar yang muncul di bagian kepalanya terlihat mengerikan. Ia segera menghantamkan kepalanya ke sebuah tiang lampu jalanan, membuat Naruto kesakitan dan jatuh dari kepalanya.

"Mati kau!" Reibi akan menyerang Naruto yang sedang tersungkur di atas tanah. Baru saja ia akan melancarkan serangannya, Deidara muncul dan meledakkan punggungnya.

DI saat itu juga, Pein datang dan menggendong Naruto menjauh. Membawanya kembali ke trotoar.

"Pein-san!" seru Naruto begitu teman dari kakaknya itu datang menyelamatkannya.

"Cih, kau gegabah, Naruto," ujarnya, ia meletakkan tubuh Naruto yang berat kembali ke trotoar.

"Apa yang terjadi? Di mana Sasuke? Di mana hantu tanpa kepala itu?" tanya Naruto bertubi-tubi. Wajar saja jika ia bingung. Tidak pernah dalam hidupnya, ia bangun dari tidur dan ditampar oleh sebuah gadis cantik hingga berguling-guling ke jalan yang beraspal, dan segera beralih dalam penghajaran mahluk aneh.

"Hantu itu telah kalah," ujar Pein, "Sasuke membantu kami, dan sekarang, kami sedang berusaha mengalahkan sesosok hantu lain yang menyebalkan. Dia sudah kami hajar di tempat lain, tapi sekarang dia berpindah ke sini," jelas Pein, terlihat dari raut wajahnya bahwa ia benar-benar membenci hantu cacing yang barusan ia hajar itu.

"Aku akan membantu!" kata Naruto, membuat Pein terbelalak.

"Tidak!" larang Pein, "Kau harus diam dan duduk di sini!"

"Menjadi penonton selama nyawa teman-temanku dalam bahaya?"

"Jika itu termasuk salah satu prosedur keselamatan, maka jawabannya adalah iya."

"Aaargh!" Naruto mengerang frustrasi, "Aku harus membantu!"

"Kau tidak boleh ikut campur dalam urusan ini! Kau, kau…" Pein berusaha memikirkan kata-kata yang tepat.

"Apa?" desak Naruto. Tidak, tentu saja Pein tidak akan mengatakan bahwa Naruto akan merepotkan, terlalu kejam.

"Kau masih belum cukup kuat!" jawab Pein pada akhirnya. Naruto segera melongo.

"Aku berhasil mengalahkan sesosok hantu ular bersama Sasuke, dan kau masih bilang aku belum cukup kuat?!" protes Naruto tidak terima.

"Ya."

"Jangan sombong!" ujar Naruto, "Akan kutunjukkan padamu, bahwa aku ini sudah kuat!" dan dengan pernyataan terakhir itu, Naruto melangkahkan kakinya, kembali ke dalam guyuran hujan yang menjadi medan tempur. Meninggalkan Pein yang bahkan belum sempat mencegahnya.

"Naruto!" teriak Pein sambil berusaha mengejar Naruto yang sangat sia-sia. Naruto tidak dapat dihentikan.

"Hei, hantu jelek!" ejek Naruto pada Reibi, "Kalau kau berani, hadapi aku!"

Reibi menatap Naruto dan menggeram marah, "Kau! Kau akan mati karena telah melukaiku, bocah! Bersiap-siaplah menghadapi ajalmu!" Reibi langsung meluncur untuk menyerang Naruto.

Naruto langsung menghindar dan kembali melompat di atas kepala Reibi. Dia menancapkan kunainya tepat di bagian kepala Reibi dengan dalam. Reibi kembali menjerit kesakitan. Dia segera bergerak-gerak cepat untuk melepaskan Naruto dari tubuhnya, namun hal itu malah menambah luka robek di bagian tubuhnya.

"Amaterasu!" melihat kesempatan, Itachi langsung keluar dari tempatnya mengintip Naruto tadi dan membakar tubuh Reibi dengan api hitam. Reibi makin menjerit sejadi-jadinya. Gerakannya makin liar, Naruto yang tidak dapat mempertahankan pegangannya pada kunai yang masih tersangkut di tubuh Reibi langsung terlempar jauh-jauh.

"Naruto!" teriak Deidara ketika melihat adiknya yang terlempar jauh. Ia makin panik begitu melihat tempat mendarat Naruto adalah sebuah tembok dari sebuah gedung apartemen.

Kakuzu melepaskan benang-benangnya untuk menangkap Naruto. Namun, Kakuzu kalah cepat. Beberapa senti lagi Naruto akan menubruk tembok gedung itu.

Dan di saat itulah Hinata datang.

Gadis itu melompat tinggi dan berhasil menyelamatkan Naruto dengan menggendongnya ke bawah. Aneh memang, gadis yang menggendong laki-laki, tapi daya gravitasi berhasil membantu gadis itu membawa Naruto ke bawah.

"Hi-hinata?" gumam Naruto begitu Hinata tersenyum senang melihat Naruto menyadarkan diri.

"Hinata! Naruto!" teriak Neji menghampiri mereka berdua. Hinata langsung membelalakan kedua matanya begitu melihat Neji dan sesosok berkepala kuning lainnya yang berdiri di sebelah sebuah mobil kodok. Ayah dari Naruto, Minato.

"Neji nii-san!"

"Hinata, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Neji panik. Bagaimana tidak panik jika adik sepupumu yang begitu polos tiba-tiba menghilang begitu saja di tengah hujan yang lebat ini?

"A-aku hanya me-membuntuti Na-naruto-kun…" Hinata kembali gagap, "Ta-tapi aku tidak te-terluka!" tambahnya buru-buru begitu Neji melotot pada Naruto.

"Apakah reuninya sudah selesai?"Reibi kembali muncul. Naruto langsung berdiri, tapi Hinata mencegahnya.

"Nii-san, a-aku akan me-menghadapinya," ujar HInata, ragu-ragu. Neji segera melongo.

"Tidak! Kau tidak boleh menghadapinya!" cegah Neji sebelum Hinata bertindak jauh lebih nekat daripada ini.

"Tapi aku ingin menjadi kuat!" bantah Hinata tiba-tiba sambil berteriak.

Dan Neji langsung bungkam melihat adiknya yang menunduk dan berlinang air mata.

"A-aku… hiks… ingin melindungi… hiks… Naruto-kun…" isak Hinata di sela-sela tangisannya. Air mata bercucuran dari matanya yang kini bagaikan langit kelabu. Menggantikan mentari yang biasanya selalu bersinar di sana.

"Sejak dulu, selalu kau yang unggul… hiks… aku juga ingin menjadi kuat… Na-naruto-kun dapat mengatasi hantu tanpa kepala… ta-tapi… aku hanya mengintip tanpa tahu kegunaanku… hiks…"

Naruto yang sejak tadi melihat drama itu langsung mengangkat suara, "Ta-tapi, kau dapat melompat tinggi tadi, Hinata! Itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa kau kuat!"

"Naruto benar, Hinata. Kau bukanlah Ghost Hunter. Tetapi dengan menyelamatkan Naruto tadi sudah membuktikan bahwa kau kuat," imbuh Neji, yang jarang sekali mendukung pendapat Naruto.

"Itu hanya keberuntungan!" bantah Hinata, "Aku hanya berhasil mengambil sebuah trampolin dari sebuah toko yang kacanya pecah, dan menggunakannya sebagai pelontar… hiks…"

"Tapi pemikiranmu cepat, Hinata!" Naruto sama sekali tidak ingin Hinata terlibat dalam pertarungan ini.

"Awas!" tiba-tiba, Sasuke datang memperingatkan mereka bertiga. Ia segera membawa Naruto serta Hinata pergi menjauh, sementara Neji berguling sendiri menghindari serangan Reibi yang berhasil menghancurkan tempat mereka berpijak tadi.

"Terima kasih, Sasuke," ujar Naruto. Sasuke hanya mendengus.

"Kita harus segera menghajar hantu itu, Akatsuki mulai kewalahan," ujar Neji menghampiri mereka setelah melihat Kisame yang terlempar akibat tebasan ekor Reibi. Itachi juga terlihat kewalahan menangkis serangan-serangan Reibi untuk melindungi Shion.

"Baik!" ujar Sasuke dan Naruto bersamaan. Sementara Hinata hanya menangis dalam diam. Meratapi betapa lemahnya dia.

"Tidak, tidak Naruto," ucap Neji, "Kau harus menjaga adikku."

"Menjaga Hinata?" tanya Naruto merasa keberatan. Namun, ia terlambat untuk menyesalinya karena membuat Hinata semakin menangis terisak-isak.

"Dengarkan aku, sampah. Kau yang menyeret adikku ke sini, dan sekarang, kau yang harus bertanggung jawab!" nada amarah sangat terdengar jelas dalam setiap kata-kata yang diucapkan Neji penuh penekanan. Belum pernah ia melihat Neji semarah itu padanya.

"Ayo, Neji!" ajak Sasuke lalu segera melompat jauh. Neji segera menyusulnya.

Tinggal Naruto dan Hinata kali ini. Ia menatap gadis yang masih terisak-isak itu. Rasa bersalah mulai menjalari relung hatinya akibat membawa awan kelabu untuk menutupi raja siang yang selalu senantiasa menyinari Hinata.

"Hinata," panggil Naruto, lembut dan berperasaan. Hinata mendongak dan menatap wajah Naruto―yang lebih tinggi darinya―sudah berada tinggal beberapa sentimeter dari wajah cantiknya.

Waktu terasa telah berhenti. Suara kaki-kaki hujan yang menapaki bumi seolah-olah tidak terdengar lagi. Perasaan aneh terasa telah mengelubungi hatinya, mengusir semua duka dengan kebahagiaan. Dunia ini seakan-akan menjadi miliknya sendiri ketika melihat wajah Naruto yang menurutnya selalu cerah. Kehangatan menjalari setiap jengkal tubuhnya.

"Ayo masuk ke mobil, kalian berdua."

Suara Minato menginterupsi momen-momen itu. Sebuah rasa kecewa timbul dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Ia ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi bersama Naruto. Namun, Naruto telah berhasil menggandengnya masuk ke dalam mobil kodok ayahnya, berteduh melalui hujan dan petir yang mengganas.

Kembali ke medan pertempuran, Pein sedang melempar tombak besi hitam yang berhasil menambah luka robek yang diterima Reibi dari kunai Naruto. Membuat Reibi kembali menjerit.

Sedangkan Itachi terus melindungi Shion dari Reibi. Chakranya sudah terkuras banyak akibat amaterasu tadi, namun ia tidak dapat menyerah begitu saja. Ia terus berusaha menangkis seluruh serangan Reibi yang ditujukan untuk membuat Shion sekarat.

"Serahkan Shion padaku!" teriak Reibi sambil berusaha menyerang Itachi secara langsung.

CRAAAAASH!

Namun, sebuah kunai berhasil menembus tubuhnya dan membuat lubang kecil. Reibi segera melihat Sasuke yang tersenyum senang.

"Kau!" geram Reibi.

Sasuke tersenyum makin lebar, namun ia melangkah ke samping kanan, memperlihatkan Neji yang sedang berdiri dengan byakuugan yang aktif dan dalam kuda-kuda khas klan Hyuuganya.

"Jukenhō : Hakke Rokku Juu Yon Shō!"

Neji langsung melompat ke arah Reibi, "Ni Shō!" Neji meluncurkan dua pukulan.

"Yon Shō!" empat pukulan.

"Hachi Shō!" delapan pukulan.

"Juu Roku Shō!" enam belas pukulan.

"San Juu Nii Shō!" tiga puluh dua pukulan.

"AAAAARGGHHHH!" teriak Reibi kesakitan.

"ROKU JUU YON SHŌ!" dan Neji mengakhirinya dengan satu pukulan telak di tubuh Reibi.

"UAAAAGH!"

BRUAAAKH!

Dan Reibi sukses terpental dan menghancurkan sebuah gedung hingga berasap. Neji mendarat dengan mulusnya dan menarik napas.

"Hebat!" puji Pein pada Neji.

"Apa dia sudah mati?" tanya Shion sambil mendekat didampingi oleh Itachi. Semua anggota Akatsuki yang tadinya berserakan kini berkumpul di tempat itu.

Neji hanya diam. Dia datang mendekati puing-puing gedung yang hancur akibat Reibi. Ia tak dapat melihat dengan jelas akibat debu-debu yang berterbangan serta air hujan yang makin memperburuk keadaan.

Tiba-tiba, Neji melihat sebuah pergerakan.

Puing-puing gedung itu bergerak, sebuah tubuh hitam keungu-unguan terlihat muncul di sana. Neji mengisyaratkan semuanya agar mundur. Hingga akhirnya Reibi bangkit dan menatap mereka semua nyalang.

"Kalian semua keterlaluan…" geram Reibi. Ia membuka mulutnya yang lebar itu, "AKAN KUHABISI KALIAN SEMUAAAAAAA!" dan dengan teriakan itu, Reibi mengumpulkan chakranya hingga membentuk sebuah bola besar yang berwarna hitam.

"Apa itu?" gumam Pein tidak percaya.

"RASAKAN INIIIIIII!" teriak Reibi sambil melemparkan bola chakra itu kepada rombongan Akatsuki

"Praesidio Tecti!" teriak Hiruzen sambil merentangkan kedua tangannya. Dan dalam sekejap, kubah berwarna putih samar muncul dan melindungi mereka semua dari bola chakra milik Reibi.

BLAAAAAAARH!

Sebuah ledakan tak terelakkan muncul, benturan antara kubah milik Hiruzen dan bola chakra Reibi membentuk sebuah gelombang energi yang membuat siapapun dalam radius dua puluh meter akan terpental jauh.

"Khhhkkk!" Hiruzen berusaha menahan gelombang itu. Kekuatannya sungguh besar. Hiruzen tak yakin dapat menahannya.

"GRAAAAAAA!" teriak Reibi, memberi daya dorong tambahan pada bola chakra itu. Hiruzen yang tak dapat menahannya lagi membuat kubah perlindungan itu pecah seperti kaca.

"Jigokudō!" seru Pein sambil berlari ke depan dan merentangkan tangannya. Sebuah perisai kecil muncul di depannya dan sekali lagi menahan bola chakra itu. Menghisap tenaga dari chakra itu.

"Pein! Hentikan! Kau tidak dapat menghisap chakra dari setan! Lepaskan!" seru Konan panik.

"Tidak… bisa…" balas Pein sambil menahan sakit. Bercak-bercak hitam mulai muncul di wajah dan tangannya.

"MATI!"

Dan seketika itu juga, perisai pertahanan Pein pecah.

"UWAAAAAAAAAAAARGH!"

Asap hitam membumbung tinggi. Akatsuki, Shion, Sasuke, Neji, dan Hiruzen tergeletak di atas tanah.

"Shion… kau milikku…" gumam Reibi sambil melata mendekati Shion.

"Berhenti di sana, cacing jelek!" ujar Naruto yang berlari keluar dari mobil, disusul oleh Hinata dan Minato.

Reibi menoleh, "Kau juga mau seperti mereka, bocah lemah?" tanya Reibi sambil menatap Akatsuki yang berusaha bangkit.

"Diam kau!" Naruto berlari gegabah, dan dengan mudahnya Reibi melemparnya dengan satu sabetan ekor hingga berguling-guling di aspal.

"Naruto!" teriak Minato yang berusaha menghampiri Naruto, namun Minato juga terlempar oleh Reibi hingga membuatnya jatuh tak sadarkan diri.

"Tinggal kau, gadis kecil…" ujar Reibi sambil mendekati Hinata yang ketakutan.

"Hi-hinata… la-lari…" Neji berkata dengan patah-patah. Ia berusaha bangkit, walaupun akhirnya ia juga terjatuh lagi.

"Neji nii-san!" perhatian Hinata teralihkan, dan hal itu berhasil membuat Reibi melempar Hinata juga.

"HINATA!" teriak Naruto ketika ia berhasil bangit. Dengan tertatih-tatih, ia berjalan menghampiri Hinata yang tak sadarkan diri.

"Khukhukhu… senang dengan apa yang terjadi dengan teman-temanmu?" tanya Reibi kejam.

"Kau…" Naruto menatap Reibi dengan nyalang, "TAK BERGUNA!"

BRUAKH!

"Ugh!" Naruto kembali menabrak tembok dengan keras.

"Kau yang tidak berguna. Tidak tahukah kau bahwa dirimu yang lemah itu menjadi beban bagi teman-temanmu?" Reibi mulai memprovokasi, "Kau benar-benar lemah, tidak ada gunanya!"

"Kau di sini hanya datang untuk merepotkan, untuk secara tidak langsung menyakiti orang-orang yang kau sayangi, tanpa menyadari bahwa kau hanyalah orang lemah!"

'Aku orang lemah…'

'Tak berguna…'

'Beban…'

'Menyakiti orang-orang yang kusayangi…'

"Jika aku jadi kau, aku lebih memilih mati daripada melakukan hal seperti yang kau lakukan ini!"

DEG DEG!

Sesuatu dalam diri Naruto bergejolak.

'Bangkitlah, Naruto…'

'Aku orang lemah…'

Dan tiba-tiba, Naruto bangun di ruangan yang berair. Dia tidak tahu di mana ini. Di depannya, terdapat sebuah pintu jeruji besar yang di tengah-tengahnya terdapat kertas mantra bertuliskan 'segel'.

"Naruto…"

"Siapa itu?" gumam Naruto bingung dan takut.

"Aku di sini…"

Naruto menatap pintu jeruji besi yang besar itu, dan matanya langsung membelalak begitu melihat dua buah mata merah yang menatapnya nyalang. Sirat penuh kebencian tergambar jelas di sana.

"Ayo, Naruto… lepaskan kertas mantra ini… dan selamatkan teman-temanmu…" ucap sosok itu yang kini kelihatan jelas. Mata merah, bulu oranye. Rubah.

Naruto yang bimbang melihat-lihat kertas segel itu.

"Tidak usah ragu-ragu, Naruto… aku akan menyelamatkan teman-temanmu…"

"Siapa kau?" tanya Naruto, tak mengindahkan ucapan rubah itu.

Rubah itu terkekeh, "Aku adalah kau, dan kau adalah aku… kita saling memenuhi kebutuhan satu sama lain sejak kecil… dan aku yang ditugaskan untuk menolongmu dan menjagamu…"

"Tidak usah ragu, lepaskan kertas segel itu, dan…

selamatkan nyawa teman-temanmu!"

Sementara itu, Reibi yang hendak membawa Shion yang sudah dalam lilitannya merasakan sebuah energi besar yang datang dari Naruto.

"Hm?" gumam Reibi begitu melihat chakra merah yang menyelubungi Naruto. Naruto sendiri melihat Reibi dengan pupil mata yang berwarna merah menyala.

"Ingin bertaru-"

BRUAAAAKH!

Baru saja Reibi akan menantang Naruto, sebuah tangan chakra merah yang besar langsung menghantamnya dengan sangat keras hingga ia terpelanting. Shion jatuh dari lilitannya.

"Aku tidak hanya akan bertarung…

…AKU AKAN MEMBUNUHMU!"

TBC

Tempat ngerumpi(?) :

Fiuh, sudah lama gak apdet fanfic ini. Maafkan atas kelalaian Kura, habis kena WB dan kesibukan RL, sih.

En betewe, mungkin gaya penulisan Kura akan berubah di chapter depan. Mungkin loh ya.

Bales review dari yang gak login dulu, ya. Kalo yang login, Kura usahakan bales lewat PM.

Saya : Ini sudah dilanjut ^^

Takuyomi Wakabe : Heeh, lagi buru-buru itu ngetiknya.

Kura juga usahakan untuk menambah humor di chapter depan, karena chapter ini serius mulu bawaannya. /dor

Dan juga, yang mau keep contact sama Kura, bisa lihat Facebook Kura yang baru (bukan baru, sih, cuma ganti nama doang) di profile Kura.

Kalau ada yang kurang jelas, bisa tanyakan langsung pada saya melalu PM. Atau di kolom review.

Well, mind to leave a review?

Adios, Amigo!