Hetalia Axis Powers © Hidekaz Himaruya

Two Way Street © soranamu

PruHun, AU

Note : mostly dialogue, dan ini semacam berhubungan dengan chapter sebelumnya ehe

.

Elizabeta menopang dagu, memandang langit di luar sana—matahari belum menumpahkan sinarnya dan dunia masih didominasi oleh warna biru tua, pucat dan dingin. Kaca jendela mobil sengaja ia turunkan, memberi izin bagi angin untuk menari bersama rambut panjangnya selagi mobil melaju melintasi jalan asing yang panjang dan tak jelas akan berujung dimana.

Di samping Elizabeta, Gilbert menyetir sambil bersiul pelan mengikuti alunan nada sebuah lagu lama yang dikumandangkan radio tua di dasbor, tak menangkap gestur gelisah yang sedari tadi diumbar Elizabeta, membuat perempuan itu sedikit dongkol.

"Kemana tujuan kita?" Elizabeta akhirnya bertanya.

"Entahlah," jawab Gilbert ringan, "Nebraska, Bristol, Antigua, luar angkasa, bawah laut, kemanapun yang kau mau."

"Maksudmu," sahut Elizabeta tak sabar, tak habis pikir dengan respon santai Gilbert, "kau tidak punya rencana?"

"Ayolah, Liz, apa serunya merencanakan rute petualanganmu? Santai sedikit, biarkan waktu yang menuntun, biarkan pikiranmu menerka-nerka. Percaya saja padaku, aku ini kan hebat."

Gilbert tertawa lebar dan Elizabeta memutar bola mata. Bersama Gilbert, semuanya berjalan spontan dan mengalir begitu saja, apa adanya. Tak pernah ada rencana yang dipikirkan secara matang, tak ada ancang-ancang, semuanya serba impulsif. Berbeda dengan Roderich yang teratur dan penuh perhitungan.

Memikirkan tentang Roderich, Elizabeta bertanya-tanya apakah mantan suaminya itu sudah terbangun dari tidurnya dan menemukan cincin yang ia telantarkan di meja.

"Kau yakin tidak mau kembali saja?"

Elizabeta menangkap nada cemas di dalam suara Gilbert, dan fakta itu membuatnya tersenyum geli. Gilbert pasti khawatir Elizabeta bakal berubah pikiran dan memutuskan untuk kembali di saat-saat terakhir.

"Tidak, Gilbert, aku memilih ikut denganmu."

"Roderich punya semua yang kau butuhkan," debat Gilbert, matanya tidak lepas dari jalanan di depan.

"Roderich adalah musik—musik yang meninabobokanmu, menawarkan perlindungan. Aku tidak mau itu," Elizabeta menggigit bibirnya, sedikit merasa bersalah, lalu melanjutkan, "sementara kau, Gil, kau adalah marabahaya."

"Dan kau hidup untuk menantang marabahaya?"

"Aku mungkin sudah gila," Elizabeta mengangkat bahu, lalu tersenyum samar, "jadi kurasa Roderich berhak mendapatkan perempuan waras."

Gilbert tertawa. Keras, lama, dan terdengar begitu lega. Tangannya yang bebas merangkul bahu Elizabeta, menariknya ke dalam pelukan. Elizabeta akhirnya tersenyum lebar, mengistirahatkan kepalanya di bahu Gilbert. Mereka berdua berguncang-guncang lembut di dalam mobil, menyaksikan matahari menyembul dari ufuk timur, menjadi pengingat bahwa ada jalan panjang yang harus mereka tempuh.

"Perempuan sinting untuk laki-laki sinting," Gilbert nyengir, "kedengarannya hebat."

Dan Elizabeta tertawa lepas.