Desclaimer : Mashasi Kishimoto

Rate : T

Genre : Mystery, Friendship

Warning : AU, OOC, Fem Naru, Typo's, Membingungkan, gaje, dll..

.

Don't Like Don't Read

.

.

.

Walaupun Gaara tidak mengadakan adanya rapat, tetapi semua anggota Jinchuuriki Detective tetap berkumpul di kamarnya.

Mereka duduk diam dan berkutat dalam pikiran masing-masing.

Masalah.

Lagi-lagi kembali menimpa jalannya penyelidikan mereka.

"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Sakura yang menoleh ke arah Gaara yang duduk manis di lantai memandangi layar laptopnya.

Perlahan, jari-jemari Gaara menari di atas keyboard dan membuka sesuatu.

"Entah kenapa, otakku tiba-tiba buntu begini," gumam Gaara yang lalu menopang dagu.

"Kau putus asa, huh?" seru Neji yang membuat Gaara mengangkat kedua bahunya.

"Sasuke, tugasku ku serahkan padamu."

"Apa?" tanya Sasuke tak percaya dengan pendengarannya.

"Ck, kau sudah dengar 'kan."

"Kau tak bisa seenaknya begitu!"

Gaara beranjak dari tempatnya dan membaringkan badan di tempat tidur, "Aku ingin istirahat sebentar."

"Cih, dasar dia itu," gerutu Sasuke.

"Sudahlah, Teme. Gaara-nii kan memang kurang beristirahat. Dia pasti lelah."

Sasuke melirik ke arah Naruto yang kini kembali menatapnya dengan menaikkan kedua alisnya.

"Apa, huh?" tanya Naruto heran.

Sasuke memeriksa laptop yang seenaknya saja ditinggalkan oleh pemiliknya di lantai dan melihat sebuah pemberitahuan kesalahan pada akses jaringan yang dilakukannya.

"Jadi ini belum bisa terbuka juga?" tanyanya pada Neji.

"Ya."

"Kalau tak bisa dibuka mau bagaimana lagi? Kita pakai saja yang ditemukan Naruto."

Sakura memberikan dua lembar kertas ke hadapan Sasuke dengan muka masam, "Apa yang kau harapkan dari berita seperti ini?"

Seeorang pemuda bernama Fuma Arashi ditemukan tewas di asrama Iwagakure. Polisi menyimpulkan ini adalah kejadian kecelakaan. Tak ada barang bukti yang ditemukan polisi di tempat perkara. "Korban mengalami luka yang serius pada bagian kepalanya yang diakibatkan benturan yang keras karena korban terjatuh dari tangga," tutur salah seorang polisi yang menangani.

Sasuke membaca sebagian isi dari artikel yang ditemukan Naruto.

"Kita butuh data dari kepolisian, bukan artikel buatan wartawan yang isinya sederhana seperti ini, dan didapat Naruto dari tampat sampah," ujar Sakura.

"Lalu bagaimana dengan masalah jaringan itu?" tanya Neji yang makin memusingkan kepala Sasuke.

"Apa Shika sudah bisa dihubungi?"

Neji menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan Sasuke.

"Ck, kenapa dia juga ikut menghilang dengan kata-kata begitu sih"

Hening kembali tejadi di antara mereka.

Neji berkali-kali mencoba menghubungi Shikamaru, Naruto dan Sakura yang sibuk dengan pemikirannya masing-masing, Sasuke yang melirik sekilas ke arah Gaara yang tengah tertidur.

'Bisa-bisanya dia tidur disaat seperti ini," gerutu Sasuke dalam hati.

Dan entah kenapa, Sasuke tiba-tiba menyadari kalau memimpin sebuah penyelidikan memang tidaklah mudah. Apalagi dalam keadaan seperti sekarang ini. Daripada harus jadi pemimpin, lebih baik bekerja sendirian, pikirnya. Ya, dia memang harus mengacungkan jempolnya untuk Gaara karena selama ini telah memimpin mereka dengan sangat baik.

Naruto beranjak dari duduknya dan melangkah keluar kamar.

"Kau mau kemana, Dobe?"

Naruto menoleh ke arah Sasuke, "Memulai tugasku."

Sasuke tertegun beberapa saat.

.

.

Naruto terus melangkah melewati ruang tengah, ruang tamu, hingga kini dirinya menapakkan kaki di beranda. Dan disana dia melihat Sasame yang tengah duduk melamun. Naruto memutuskan untuk menghampiri gadis itu.

"Kau sedang apa, Sasame?" tanya Naruto yang ikut duduk disebelah Sasame.

Sasame menggelengkan kepalanya.

"Masih terkenang kakakmu?"

Dan kali ini Sasame menganggukkan kepalanya.

"Aku tahu ini sulit. Aku pun pernah mengalami masa-masa seperti ini. Kehilangan orang yang sangat kita sayangi memang menyakitkan."

Sasame menatap Naruto bingung, tak mengerti apa maksud ucapan darinya.

"Aku kehilangan kedua orang tuaku dengan kasus yang sama. Pembunuhan."

Terlihat keterkejutan dari ekspresi yang ditampilkan Sasame diwajahnya.

"Awalnya, aku sama sepertimu. Diam, tak ingin melakukan apapun kecuali menangis dan mengenang semua tentang kedua orang tuaku. Aku tak tahu harus melakukan apa tanpa mereka. Bahkan aku pernah berpikir untuk menyusul kepergian mereka. Tapi berkat dukungan dari orang-orang terdekat, akhirnya aku dapat bangkit kembali."

Sasame kembali menatap lurus kedapan.

"Ya, aku tak tahu apa yang harus kulakukan tanpa adanya Arashi-nii disampingku. Tanpa adanya semua perhatian yang diberikannya padaku. Aku benar-benar tak tahu harus hidup seperti apa tanpa hadirnya Arashi-nii."

Naruto menepuk pundak Sasame pelan, "Kau boleh sedih, tapi jangan terlalu hanyut dalam kesedihanmu. Pikirkan orang-orang sekitar yang menyayangimu. Mereka pasti sedih jika melihatmu terus-menerus seperti ini. Kau bisa cerita padaku untuk mengurangi kesedihanmu."

Naruto menyunggingkan senyuman manisnya saat Sasame kembali menatapnya.

"Arashi-nii... dia orang yang sangat baik, sangat perhatian, dan sangat memanjakanku. Apapun yang kuinginkan pasti diberikannya. Setiap hari aku selalu mengisi hari-hariku bersamanya."

"Tunggu dulu. Bersamanya? Selalu?" tanya Naruto menginterupsi.

"Ya, selalu bersamanya. Hingga suatu hari Arashi-nii memutuskan untuk meninggalkan rumah. Meninggalkanku sendirian. Itu sekitar 2 tahun yang lalu."

"Kenapa dia pergi?"

"Waktu itu ada sedikit masalah di keluarga Fuma, jadi Arashi-nii memutuskan pergi karena dia merasa keluarga Fuma telah memojokkannya. Setelah dibujuk berkali-kali, Arashi-nii tetap tidak mau kembali. Dia bilang sudah nyaman tinggal disini."

Naruto manggut-manggut.

"Waktu itu disini masih masih ada Itachi-nii dan Kabuto-nii."

"A...Apa? Itachi? Kabuto?"

"Ya, sayangnya Itachi-nii tak datang di acara pemakaman. Padahal Kabuto-nii datang saat itu. Karena dia juga yang memeriksa keadaan Arashi-nii."

Naruto merasa napasnya tercekat, "Memeriksa? Maksudmu Otopsi?"

.

.

.

Gaara terbangun saat ponselnya berdering merdu. Dengan sedikit mengumpat, Gaara menerima posel itu tanpa melihat siapa yang menelponnya.

"Hn."

"Kau tak sopan sekali pada seorang kepala polisi."

"Shika?"

"Ya, tak usah kaget seperti itu."

Gaara langsung bangkit dari tempat tidurnya dan menghampiri Sasuke, Neji dan Sakura yang tengah melihatnya dengan penasaran. Gaara pun mengaktifkan 'loudspeaker'.

"Kau kemana saja, huh? Kenapa baru menghubungi sekarang?" seru Sakura kesal.

"Maaf... Maaf... Ada hal merepotkan yang harus ku urusi disini."

"Cih."

"Hey hey, jangan begitu lah, Sasuke."

"Hn."

"Lalu bagaimana dengan yang tadi siang, huh?" tanya Neji tak sabar.

Terdengar hembusan napas dari Shikamaru, "Yah, karena itulah hal merepotkan yang harus ku urusi."

"Apa maksudmu?" tanya Gaara yang mengerutkan dahinya sama seperti yang lain.

"Begini. Untuk masalah tadi siang, 'aksi' kalian benar-benar ketahuan."

"APA?" teriak keempat anggota Jinchuuriki Detective kompak.

"Hey! Kalian mau membuat telingaku tuli?"

"Lanjutkan Shika!"

"Baik-baik, Sakura."

Shika terdiam beberapa detik.

"Saat Neji melakukan apa yang kuperintahkan untuk membuka beberapa folder dan masuk kedalam sebuah file, sebenarnya saat itu aku sudah bisa melihat apa yang sedang dilakukannya pada komputerku. Dan anak buahku langsung melapor tentang masalah itu."

Gaara, Sasuke, Neji dan Sakura merasa jantung mereka berhenti berdetak sesaat.

"Jadi?"

"Dan saat kau menutup laptopmu, semua akses langsung terkunci saat itu juga yang langsung membuat kepanikan satu kantor kepolisian. Benar-benar hebat, kan?"

Tak ada yang dapat mengeluarkan suara di antara mereka berempat.

"Bagaimana kalau aksi kalian sampai pada media? Kalian benar-benar akan terkenal dengan topik 'Jinchuuriki Detective menggemparkan kantor kepolisian Konoha dan Iwa'."

Terdengar suara tawa dari Shikamaru.

"Jangan bercanda, Shika!"

"Hm, Gaara. Dari suaramu kau terdengar sangat panik. Aku benar, kan?"

"Bagaimana aku tidak panik, huh?"

"Kau merasa bersalah?" celetuk Neji yang langsung mendapat deathglare dari Gaara.

"Tenang saja. Aku sudah mengatasi hal merepotkan itu untuk yang di Konoha. Tapi aku tak tahu kalau di Iwa."

"Tak bisakah kau memeriksanya, Shika?" tanya Sakura.

"Aku sudah mencoba menghubungi kerabatku disana. Tapi dia tak bisa dihubungi sampai saat ini. Ya, kalian tunggu saja sampai orang-orang kepolisian datang menyergap kalian."

Shika kembali tertawa yang membuat Gaara makin emosi.

"Jangan main-main, Shika!"

"Hei, aku tak main-main. Jaringan kalian terlacak, tahu?"

Keempat orang yang mendengar ucapan Shikamaru kembali tercekat.

"Apa yang harus kita lakukan?"

"Nah, sekarang kau terdengar frustasi, Gaara."

"Shika, andai saja kau melihat wajahnya saat ini. Kau tak akan tega bicara begitu."

Shika kembali tertawa, bahkan lebih keras dari sebelumnya karena ucapan Sasuke.

"Begitukah? Kalau begitu, maafkan aku, Gaara."

"Cih, aku masih dapat merasakan kau tertawa disana."

"Haha, kau tenang saja. Aku akan membantu mengatasi yang satu itu. Kalian lanjutkan saja penyelidikan kalian."

"Tapi, Shika... kami butuh data dari kepolisian," ujar Sakura.

"Aku akan usahakan untuk yang satu itu. Selamat bertugas Jinchuuriki Detective!"

"Hn. Terimakasih banyak, Shika." Gaara menutup flipnya.

.

"Sesuai jadwal yang kubuat kemarin, sekarang waktunya kita melakukan pemeriksaan. Dimana Naruto?"

"Melakukan tugasmu," jawab Sasuke lalu melangkah keluar diikuti Neji.

"Ayo, Sakura."

Sakura mengangguk dan mengikuti Gaara.

.

"Gaara, kurasa percuma saja kita memeriksa lantai 2 ini," kata Sakura.

"Hm?"

"Kupikir kejadian tidak terjadi di lantai 2, dan kalau kita anggap pembunuhan terjadi di bawah, jadi untuk apa kita memeriksanya? Buang-buang waktu saja."

"Ya, kau benar. Kalau begitu kita turun saja."

Gaara dan Sakura pun menuruni tangga dan kembali terhenti tepat di bawah tangga.

"Gaara..." panggil Sakura yang membuat pemuda itu mengalihkan pandangan dari bawah tangga yang ditatapnya ke Sakura.

"Hn?"

"Aku masih tak mengerti."

"Apa?"

Sakura melihat ke arah ruang tamu dari tempatnya berada, "tentang lampu itu."

Gaara menghela napas, "sejujurnya aku pun masih bingung tentang itu, Sakura."

Sakura menatap pemuda berambut merah itu heran.

"Ya, seperti yang kau pikirkan, Sakura. Kalau pembunuhan terjadi di lantai 1, bagaimana pelaku melakukan aksinya tanpa penerangan dari lampu. Tentu itu akan sangat menyulitkan baginya. Itu yang kau pikirkan, kan?"

Sakura mengangguk membenarkan argumen Gaara.

Gaara kemudian berjalan ke arah pintu keluar dan berhenti disana.

"Lihat?"

Gaara menunjuk sebuah saklar lampu yang terdapat tepat di sebelah pintu.

"Untuk menghidupkan lampu tidak susah, kenapa pelaku menyusahkan dirinya sendiri, sih. Dan menyusahkan kita juga!" seru Sakura kesal.

"Perlahan, puzzle yang kita kumpulkan akan tersusun, Sakura. Kita hanya harus mencari potongan-potongan puzzle itu dengan hati-hati."

Gaara kembali melangkahkan kakinya dan menoleh kebelakan saat menyadari Sakura tak mengikutinya, "Kenapa kau diam saja disitu? Ayo."

Sakura mengangguk dan menghampiri Gaara.

.

Gaara dan Sakura kini berhenti di ruang tengah dan melihat-lihat. Sakura mendudukkan dirinya di sofa.

"Jadi pembunuhan tidak melibatkan ruang lain? Maksudku lantai 3?"

Gaara terdiam sejenak dan berpikir.

"Bisa jadi."

"Lalu kenapa kau menyuruh memeriksa lantai 3, huh?"

"Entahlah, pemikiranku hari itu dan hari ini berbeda."

.

.

.

"Tak ada sesuatu disini," gumam Neji.

"Hn."

"Apa menurutmu kejadian melibatkan lantai 3 ini, Sasuke?"

"Kalau dilihat dari posisi, kurasa tidak. Tapi kalau disangkut pautkan lebih dalam lagi mungkin saja."

"Kurasa mungkin saja Arashi benar-benar jatuh dari tangga."

Sasuke mengerutkan dahinya.

"Menurut Gaara, kejadian terjadi di lantai 1, kan? Bagaimana kalau kita anggap kejadian terjadi di lantai 3? Setelah mendapat luka yang cukup parah, korban mencoba melarikan diri. Tapi, dia malah terjatuh hingga akhirnya tewas. Bisa saja, kan?"

"Hn. Apapun bisa terjadi tanpa kita duga sebelumnya."

"Dari percobaan volume-mu, bisa kan? Mungkin saja ponsel Arashi punya speaker yang besar, jadi terdengar hingga ruang tamu dan pintu masuk. Pelaku langsung mengikuti sumber dari bunyi itu dan membawanya ke kamar Arashi. Tak pakai lampu di lantai 1 dan 2 pun tak masalah pikirku."

"Ya, Sasori juga bilang dia mendengar musik itu saat masuk, dan langsung naik. Kalau orang luar mungkin akan mengalami kesusahan untuk naik. Dia belum mengenal struktur bangunan ini."

"Jadi maksudmu? Pelaku orang dalam?"

"Hn. Atau mungkin pelaku sudah mencari tahu tentang itu."

"Tapi lebih memungkinkan orang dalam. Jadi ada di antara Sasori, Deidara, Ino, Karin, Ten-Ten, dan Sasame?"

"Tidak."

"Maksudmu?"

"Anggap saja Sasori dan Deidara."

Neji mengangguk tanda mengerti.

"Mulai sekarang kita fokus saja pada mereka. Dan beritahu Naruto untuk lebih berhati-hati pada Sasori dan Deidara."

"Kau perhatian sekali, hm?" goda Neji.

"Ck, sekali lagi kau mengatakannya. Kau tak akan selamat pulang dari sini!" ancam Sasuke.

"Kau tak akan berani, Sasuke."

Neji menyeringai saat melihat Sasuke yang mendengus sebal.

"Ayo kembali," ajak Neji yang telah menuruni anak tangga terlebih dahulu.

"Kurasa argumen tadi akan bertentangan dengan Gaara," gumam Sasuke, lalu menyusul Neji.

.

.

"Gaara-nii, Sakura-nee sedang apa kalian disini?" tanya Naruto yang melewati ruang tengah.

"Memeriksa keadaan," jawab Gaara.

"Memeriksa keadaan? Ah, tugas yang kemarin. Jadi, aku tidak ikut nih?"

"Hn, tak apa. Ayo kembali."

.

.

Gaara, Sakura dan Naruto memasuki kamar yang telah di dahului oleh Sasuke dan Neji.

"Temeeeee," teriak Naruto tiba-tiba.

"Apa, huh?"

Naruto menatap tajam pada Sasuke.

"Kenapa kau tak bilang kalau kakakmu pernah tinggal disini, huh?"

Gaara, Neji dan Sakura pun ikut menatap Sasuke.

"Benarkah itu, Sasuke?" tanya Sakura.

"Hn."

"Kenapa kau tidak bilang, huh?" ulang Naruto.

"Kenapa aku harus bilang, huh? Itu tak akan merubah apapun kan."

Naruto menarik napas panjang.

"Bagaimana kalau-"

"Itu tidak akan merubah apapun. Itachi tinggal di New York sejak 2 tahun yang lalu. Tidak mungkin dia datang kesini dan membunuh Arashi," seru Sasuke yang memotong ucapan Naruto.

"Em, ya ya baik. Dan aku punya satu informasi lagi."

Sasuke, Gaara, Sakura dan Neji menatap Naruto heran.

"Kabuto, dokter yang dulu juga ikut dalam kasusku, kalian ingat?" Setelah mendapat anggukan dari rekan-rekannya, Naruto melanjutkan, "Dulu... dia juga pernah tinggal disini dan..."

"..."

"Dia juga yang melakukan otopsi pada Arashi."

Kali ini Gaara, Sasuke, Neji dan Sakura benar-benar mendapat serangan jantung karena Naruto.

Gaara melirik arlojinya yang menunjukkan pukul 4.30 pm.

"Rapat dadakan, kita adakan 30 menit lagi. Siapkan yang kalian butuhkan."

Gaara langsung beranjak dari duduknya dan mendapat protes dari yang lain.

"30 menit lagi? Yang benar saja, Gaara?" seru Neji tak terima.

Gaara mengambil buku catatannya dan mulai menulis sesuatu disana, seolah tak mendengar protes dari Neji.

Sasuke ikut bangkit dari duduknya dan berbaring di kasur, "lebih baik bergerak sekarang daripada kehabisan waktu."

Pemuda itu pun memejamkan mata. Bukan untuk tidur, melainkan memikirkan segala sesuatu yang akan dibahasnya nanti. Itulah kebiasaan Sasuke dalam mempersiapkan kebutuhannya.

Sakura dan Naruto langsung kembali ke kamar mereka, dan Neji... Dia pun dengan terpaksa ikut bersiap seperti yang lain.

.

.

.

TBC...

.

.

Maaf Sierra gak bisa buat yang panjang dan apdet cepat.

Apa reader menyadari kalau alurnya semakin cepat? atau malah terlalu cepat?

.

Terimakasih untuk yang sudah 'Read' .

Dan semoga Reader mau menyempatkan diri buat 'Review'.