Delutional

Cast: Baekhyun, Luhan, others.

Genre: Romance, Drama, Family.

Length: Chaptered

Disclaimer: This story was of my own imagination, not the others and anybody else. EXO belong to SMent, their god, parents, and their own.

Warning: Crack Pair, typo, yaoi, OOC, lil' bit NC-inside (approximately) but many more next chapter.

Summary: Baekhyun adalah seorang fanboy yang mengidolakan shining star-Xi Luhan like a maniac yang hampir setiap hari berimajinasi 'sex' dengan sang idola. Berharap suatu saat, that dream will be come true. So, what's happen next? LuBaek, slight! KrisBaek, KrisYeol. Yaoi. Mature subtances inside. DLDR.


This chapter is full of LuBaek, tak ada couple lain, pasangan lain oke. Just, weird dating of them._.


~Happy Reading!~

1st Date

Kencan? Baekhyun tidak pernah membayangkan definisi dari kata 'kencan' tersebut gambaran nya akan nampak seperti sekarang ini. Karena, yah Baekhyun benar-benar belum pernah merasakannya. Biasanya jika dilihat didrama-drama picisan yang sering ditonton Sehun, scenenya berlatarkan tempat yang romantis seperti memboking seisi restoran mahal yang cukup luas. Tidak didalam ruang yang terbilang agak 'sempit' seperti apartemen Luhan.

Dan, rasanya sedikit aneh karena—Baekhyun mengencani seorang namja. Sesama jenis. Lebih tepatnya 'dikencani' seorang namja yang lain. Kan harusnya, sebagai seorang namja—Baekhyun lah yang mempersiapkan hal-hal romantis. Bukannya malah 'disiapi' hal-hal romantis seperti ini. Ehm, harga dirinya bisa dibilang 'jatuh' sebenarnya, karena yah—Baekhyun merasa sebagai yeoja disini.

"Bagaimana?"

"Hh?" Baekhyun tersadar dari lamunannya, karena sedari tadi ia hanya menatap piringnya dan sibuk mengaduk-aduk makanannya membuat ia jadi gelagapan sendiri.

"Tidak enak ya?" tanya Luhan sedikit hati-hati. Namun terdengar penuh penekanan.

Baekhyun mendelik, "A-anni, an—"

"Maaf, tapi aku memang tidak terlalu ahli dalam memasak. Aku bahkan lebih sering memesan makanan ketimbang masak sendiri, karena yah—"

Baekhyun menatap Luhan dengan penuh perasaan tidak enak, "Kau tidak tahu seberapa hancurnya dapurku sore ini, Baek."

The Second Facts of Xi Luhan:

Xi Luhan itu paling payah kalau dalam hal yang namanya memasak.

Tapi, masakan nya not bad sih sebenarnya menurut Baekhyun.

Baekhyun refleks tertawa, entah apa yang membuatnya sebegitu merasa terhibur. Tapi, melihat ekspresi Luhan tadi, "Yak! Kenapa kau tertawa seperti itu?" Luhan mempoutkan bibirnya sebal. Jengkel juga sih jika diketawakan, terlebih harga dirinya jatuh—dan Luhan itu sangat mencintai harga dirinya yang mahal. Tapi untuk Baekhyun?

"Aduh-aduh, perutku sakit." Baekhyun memegang perutnya sendiri saat merasa perutnya mendadak kram karena tertawa berlebihan. Ia berusaha mengontrol nafasnya yang tersenggal, "Itu akibatnya karena menertawakanku!"

"Ma-maaf, tapi sungguh, menurutku itu lucu."

Luhan mengembangkan senyumnya, "Oke, terserah kau saja. Setidaknya kencan kita terasa sedikit menyenangkan, tidak hambar seperti tadi." Baekhyun terpaku, "M-maksudmu?"

Luhan menepuk jidatnya sendiri. Aish, ia bodoh sekali. "Oh, Baek, maaf aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung atau apa aku hanya—"

Baekhyun menundukkan kepalanya, sambil menyendok sesuap makanannya, "Aku membosankan ya?" Luhan mendelik, "Annieyo! Siapa yang bilang kau membosankan?!"

Baekhyun mendongak sedikit, "Itu tadi, kau bilang—"

"Baek, hey," Baekhyun mendongak saat Luhan mengangkat sedikit dagunya agar kedua pasang mata itu saling bertemu, "Sungguh, aku tidak bermaksud Baek. Aku hanya bosan saja karena sedari tadi kita hanya sibuk dengan piring masing-masing dan tanpa ada percakapan sama sekali."

Baekhyun menghela nafasnya, "M-maaf,"

Luhan mengernyitkan dahinya, "Kenapa harus minta maaf?"

"Aku hanya terlalu sering diam jadi—" Baekhyun menggigit bibirnya, "Aku agak sulit berkomunikasi kalau tidak ada yang mengajakku bicara terlebih dahulu." Luhan terdiam sebentar.

"Dan, aku bingung harus memanggilmu apa." Luhan kali ini tersenyum, "Kau mau memanggilku dengan sebutan apa? Luhan? Luhannie, atau—"

"Ck! Konyol!" Luhan terkekeh, "Baiklah, kalau begitu apa?"

"Ehm," Baekhyun tampak berpikir, "L-luhan h-hyung?" Luhan tersenyum, "Ehm, lumayan."

"Lumayan? Maksudmu?" Baekhyun mendadak jadi sebal. 'Lumayan'? Apa maksudnya coba?

"Maksudnya lumayan bagus—" Baekhyun menatap Luhan sebal, "Untuk permulaan kan, kalau kau jadi kekasihku nanti kau bisa memanggilku—aduh! Baekhyun!" Luhan memekik saat Baekhyun sengaja melayangkan sendok kearah dahinya.

"Aish, sakit tahu!"

"Ck! Kau berlebihan hyung!"

Luhan mengusap-usap dahinya sendiri sambil merengut, "Kenapa aku jadi merasa tua ya saat kau panggil dengan sebutan 'hyung'?"

"Aish, taulah!"

"Ahaha, aku bercanda Baek. Kau itu, makin manis kalau cemberut tahu."

Blush—

Baekhyun menundukkan kepalanya malu. Aish, ia tidak mau ya kalau Luhan sampai melihat pipinya yang merah seperti udang rebus ini. "Kau menginap disini ya Baek?" Baekhyun mendelik. 'Menginap'? Nanti kalau sampai ia diapa-apakan Luhan lagi, bagaimana?

"Euhm, sepertinya aku—"

"Ayolah, kumohon." Luhan memasang wajah sok imutnya.

Baekhyun terdiam sejenak, ia benar-benar berpikir keras.

"Baekhyun, aku memaksa."

"Euhm—"

"Baekhyun! My baby, kumohon, yayaya?!"

Aish, kedua mata berbinar Luhan membuat Baekhyun benar-benar tidak bisa—

"Euhm, b-baiklah," menolak.

"Yes!"

Baekhyun mendadak merasa merinding. "Baek,"

"Hm?"

"Ayo, tidur. Aku sudah mengantuk."

Baekhyun mendelik. 'Mati aku!'. Ia menoleh kearah jam yang menggantung didinding ruang makan apartemen Luhan.

'09.00pm'

Luhan bangkit dari kursinya dan menghampiri Baekhyun. "Ayo, Baek! Aku mengantuk." Rengeknya membuat Baekhyun mau-tidak mau menelan air ludahnya sendiri karena takut. Dengan gerakan kaku, Baekhyun akhirnya mengikuti Luhan yang menarik pergelangannya menuju kamar namja tersebut.

Belum lagi saat sudah masuk ke kamar itu, jantung Baekhyun rasanya ingin copot saja.

Luhan langsung membanting tubuhnya hingga terbaring dikasur, "H-hyung?"

"Hm?" gumamnya sambil setengah terpejam. "Kau tidak sikat gigi dulu?"

Luhan langsung bangkit dari posisi baringnya. 'Sikat gigi'?! 'Pertanyaan konyol macam apa itu?!'

"Baek," Baekhyun yang masih tetap pada posisinya yaitu berdiri menatap Luhan, dengan ekspresi yang begitu innocent. "Ne, hyung?"

"Aku bukan anak kecil lagi."

The third facts of Xi Luhan:

Xi Luhan itu orangnya jorok! Dia saja mengaku kalau jarang mandi.

Gleg—

Aish, kenapa fakta lain yang sering ia baca benar juga?!

"Euhm, ehehe, aku hanya mengingatkan hyung."

Bulu kuduk Baekhyun tiba-tiba meremang saat mendapati Luhan yang menatapnya dengan sudut bibir terangkat dan—"Kalau kau yang membersihkan mulutku saja, bagaimana?"

The fourth facts of Xi Luhan:

Xi Luhan itu pervert!

Gleg—

"Kau mau kan?" lagi-lagi seringaian itu! Aish, terlihat sangat menyebalkan dimata Baekhyun.

"Yak!" Baekhyun memukul lengan namja yang duduk didepannya dengan kesal. Luhan hanya terkekeh, "Yasudah ayo tidur!" Luhan menepuk-nepuk ruang kosong disebelahnya. Bermaksud menyuruh Baekhyun untuk tidur beriringan disampingnya.

Dengan gelagat yang terlihat gugup, Baekhyun akhirnya menurut dan ikut berbaring disebelah Luhan. Menatap langit-langit kamar namja disebelahnya yang tidak terlalu tinggi dan kosong.

"Baek," serunya masih sambil menatap langit-langit apartemennya.

"Hm?" gumam Baekhyun kecil.

Luhan mengganti posisinya, menjadi menyamping dan menghadap Baekhyun yang berbaring terlentang disebelahnya. Setengah mati, Baekhyun menahan nafasnya! Luhan memainkan setiap helaian pendek rambut Baekhyun. "Aku menginginkanmu." Baekhyun mendelik.

"M-maksudm—"

"Ya, aku ingin memilikimu. Seutuhnya."

Gleg—

"T-tapi hyung—" Baekhyun terus menatap langit-langit dengan sekujur tubuh yang sudah menggigil akibat sentuhan jemari Luhan yang sibuk membelai rambutnya. Dan berbisik ditelinganya. Ia tidak mau menatap Luhan!

"Ya, aku tahu. Aku memang sudah memilikimu."

"Tapi—" kali ini tubuh Baekhyun menegang. "Aku ingin benar-benar memilikimu. Dengan kita yang menatap satu sama lain. Bukan hanya sekedar—"

"One night stand seperti saat itu, Baek."

"Aku menginginkanmu lebih dari itu." Oke, Baekhyun tidak sanggup lagi.

Chu—

Luhan mengecup singkat pipi Baekhyun, namun terasa begitu lembut. "Maukah kau menjadi milikku? Malam ini, seterusnya dan—"

"H-hyung, a-aku—"

"Apa?" potong Luhan. Membuat Baekhyun mau-tidak mau akhirnya menatap kedua mata Luhan. "A-aku tidak tahu. A-aku tidak yakin hyung. Aku—"

Chu—

Luhan mengecup telinganya lembut, "Kenapa kau tidak yakin, hm?"

Baekhyun mengalihkan pandangannya kearah lain, "Aku tidak tahu."

Luhan tersenyum, kemudian melingkarkan sebelah tangannya ke sekitar perut Baekhyun. Bermaksud mendekap tubuh mungil namja tersebut. Agar mereka lebih merasakan kehangatan satu sama lain. Namun, tidak dengan Baekhyun yang sudah benar-benar ingin mati saja jika diposisi seperti ini!

Chu—

"Kumohon." Luhan kali ini mengecupi telinga Baekhyun, berkali-kali, dan bertubi-tubi walaupun dengan begitu lembut. Namun, membuat Baekhyun cukup merasakan geli dan terdapat sensasi sendiri dari apa yang Luhan lakukan padanya saat ini. "Ya?"

Apa Luhan bermaksud merayunya?

Baekhyun tidak yakin, namun—entah setan apa yang merasukinya sehingga—"Baiklah hyung."

'Sial! Apa yang kau katakan tadi Byun Baekhyun?!'

Bruk—

Dengan sigap Luhan langsung menindih tubuh kecil itu agar berada dibawahnya.

Chu—

Kecupnya singkat dibibir Baekhyun. Lalu tersenyum. Baekhyun hanya bisa diam dan membiarkan Luhan melakukan apapun padanya sekarang. Dalam keadaan yang sadar. Baekhyun akan melakukannya dengan Luhan kali ini. Lagi.

Luhan kemudian mengecupi bibir namja mungil itu berkali-kali, membuat Baekhyun jadi merasa panas sendiri. Ia tidak tahu bahwa Luhan adalah orang yang begitu lembut dan—

"Nghh—" sebuah lenguhan lolos saat Luhan meraba sesuatu dibalik kaosnya. Luhan mengecup bibirnya lagi. Sedetik kemudian menyingkap kaos Baekhyun dan membuangnya kesembarang arah. Sambil tersenyum dan terus menatap wajah Baekhyun yang terlihat sangat cantik saat dipandang dari dekat, tanpa sadar pelipis Baekhyun sudah basah dengan tetesan demi tetesan peluhnya sendiri.

Luhan kemudian menurunkan seluruh bawahan Baekhyun dalam sekali tarik, lalu—

Menatap tubuh polos tersebut. Baekhyun masih memejamkan kedua matanya, "Hh—h-hyung—"

Luhan menyematkan senyum manisnya, "I love you, Baek." Lalu merendahkan kepalanya dan menciumi perut datar namja tersebut. Bergerak mengecup perlahan, namun lama—naik keatas, hingga kedadanya, membuat dua tonjolan kecil tersebut menjadi tegang, walaupun tanpa disentuh sedikitpun—lalu menyalur dan menyambung hingga ke leher dan—

"Nghh—" menggigit kecil leher jenjang tersebut, menjilat dan menghisap sedikit hingga menimbulkan bekas kemerahan. Lalu naik keatas, hingga dagu namja mungil itu. Luhan mengecupi dagunya singkat lalu diikut kecupan lainnya, naik lagi hingga bertemu dengan bibir manis Baekhyun.

Chu—

"Aku mencintaimu Baek."

"Hhh—" kemudian melumat bibir tersebut, tanpa menjelajah masuk kedalam, hanya menyesap rasa manis dari bibir tipis yang begitu membuat Luhan candu.

Baekhyun tidak tahan lagi. Perlakuan Luhan yang begitu lembut membuatnya, "H-hyung—" bisiknya parau sambil menaikkan sebelah tangan nya dengan susah payah untuk mengusap punggung Luhan perlahan.

Luhan tersenyum. Tanpa disuruh, ia langsung melepaskan kaosnya sendiri lalu menyambar bibir Baekhyun. Kali ini ia mulai memasukkan lidahnya, mengajak lidah Baekhyun untuk bertarung. Namun, Baekhyun yang sudah terlanjur lemas, hanya mengikuti gerakan lidah Luhan yang mengajaknya berdansa didalam rongga mulutnya dengan pasrah. Membiarkan namja itu mengeksplorasi seisi mulutnya.

Lalu, tangan Luhan yang lain sibuk untuk melepas celananya sendiri, dan sebelah tangannya yang lain lagi untuk memegangi tengkuk Baekhyun agar merapat.

"Mphh—" Baekhyun melenguh disela-sela ciumannya.

Setelah selesai, Luhan melepaskan tautan bibir mereka. Baekhyun hanya bisa memejamkan kedua matanya, dengan mulut yang terbuka karena butuh banyak oksigen. Luhan tersenyum, "Aku ingin langsung ke intinya."

Baekhyun hanya diam, ia tidak akan merespon. Karena, apapun yang Luhan akan lakukan padanya, ia hanya akan pasrah. Lagipula, apa yang bisa Baekhyun lakukan lagi, kan?

Tanpa banyak bicara lagi, Luhan menuntun kedua kaki Baekhyun untuk melingkar dipinggangnya, sedangkan ia menyangga tubuhnya sendiri menggunakan kedua sikunya. Agar tidak menimpa tubuh kecil Baekhyun.

Perlahan-lahan, ia membimbing juniornya untuk langsung masuk ke dalam hole Baekhyun. Luhan benci penetrasi, ia lebih suka langsung ke inti.

"Nghh—hyung!" Baekhyun menjerit saat Luhan sengaja memasukkan miliknya secara perlahan kedalam lubangnya. Kali ini ia sadar. Rasanya begitu panas, perih, dan—penuh.

Baekhyun mencengkram kedua bahu Luhan, "Owh, hyung! Nghh!" setengah mati Baekhyun menahan rasa sakit yang amat sangat didalam holenya. Ia menggigit bibirnya sendiri.

"Hyung!" ia menjerit lagi. Baekhyun sudah tidak tahan. Sakit sekali.

"Ahhh!" Luhan sudah masuk sepenuhnya, membuat seluruh tubuh Baekhyun menggelinjang. Namun, ia masih belum terbiasa dengan rasa panas pada hole nya. "H-hyung, sakit." Ingin rasanya Baekhyun menangis.

"Sstt—" Luhan mengecupi telinganya lembut, sambil terus membisikkan bahwa ia mencintai Baekhyun. Tanpa izin dari namja dibawahnya, Luhan sudah menggerakkan miliknya perlahan, dengan tempo yang teratur. Baekhyun meringis. Bagaimanapun juga, rasanya masih sangat sakit sekali.

Luhan memejamkan matanya, merasakan sensasi bagaimana hole sempit itu menjepit dan memijat miliknya didalam sana. Ini benar-benar sangat menakjubkan!

"H-hyunghh—" Baekhyun mempererat cengkramannya pada bahu Luhan seiring gerakan Luhan yang semakin cepat dan menjadi-jadi.

"Ahhh—ahh hyunghh mphh" Luhan menyatukan bibir mereka. Hanya sekejap, lalu melepaskannya. Lalu menatap wajah Baekhyun yang berkeringat, penuh nafsu dengan bibir yang terbuka karena sibuk mendesah untuk melampiaskan rasa nikmat yang ia rasakan.

Luhan bergerak makin menggila, menggerakkan juniornya dengan tempo yang semakin cepat. Membuat ranjangnya juga ikut berdecit karena perbuatan mereka.

"Aahh—aahh—aahh! Luhan hyunghh!" Baekhyun tidak tahan lagi. Dia bisa gila!

"Baby,"

"Nghhh—hyung, ahhh—aah—ahhh! Faster!"

"As your wish."

Luhan menghentakkan miliknya lebih cepat lagi, lebih kasar lagi. Membuat Baekhyun semakin menggelinjang saat Luhan menyentuh sweet spotnya. "There! Nghh! Ahh—terus—" ia tidak bisa berhenti menggerakkan pinggulnya berlawanan arah.

"Hyunghh—A-aku—aku—ahhh!" Baekhyun menyemprotkan spermanya dan mengenai dadanya dan dada Luhan sendiri.

Luhan semakin cepat menyodokkan miliknya, "Nghh—nghh—h-hyungh"

"Baekhyun!"

Bruk—

Nafasnya tersenggal.

Chu—

Luhan mengecup dahi Baekhyun yang basah karena peluh dengan lembut, "Thanks for tonight, baby." Ia mengecup hidung mancung Baekhyun, lalu turun untuk mencium bibir ranum tersebut.

"I love you."

Baekhyun tidak sanggup lagi menahan rasa kantuk yang mendadak datang menyerang. Mungkin karena lelah. Luhan terkekeh, ia mengusapi keringat yang menetes dan membasahi tiap inchi wajah mulus Baekhyun.

Ia mengecup lagi bibir Baekhyun, "Aku mencintaimu."

.

.

.

.

"Nghh—" Baekhyun melenguh dan menggeliat tidak nyaman dalam tidurnya saat seluruh permukaan wajahnya dikecupi Luhan dengan bertubi-tubi. Belum lagi, Luhan yang tidak mau melepaskan dekapannya dari tubuh mungil Baekhyun barang sedetikpun!

Oh, Baekhyun masih sangat mengantuk.

Baekhyun sedikit menyibak selimut tebal yang tadinya menutupi ujung kakinya hingga setinggi leher.

"Hyung! Aku masih mengantuk!" Baekhyun mendorong wajah Luhan menggunakan telapak tangannya dengan refleks. Luhan merengut. "Aku kan masih mau menciumimu Baek."

Baekhyun bergumam, kedua matanya masih terpejam. Karena ia belum sepenuhnya terbangun.

Luhan hanya tersenyum melihat Baekhyun yang masih menutup kedua matanya sambil menarik lagi selimutnya hingga menutupi separuh permukaan wajahnya. Anak itu terlihat begitu manis. Sangat menggemaskan malah!

Luhan menciumi wajah Baekhyun lagi. Luhan itu orang yang benci dengan peraturan, ingat?

Namja mungil tersebut bergerak gusar, "Nghh! Hyung!" Kali ini Baekhyun membuka kedua matanya, karena Luhan terus mengganggunya. Ia menatap Luhan sebal. Bagaimana ia bisa tidur lagi?

Namun, tiba-tiba Baekhyun terdiam saat kedua maniknya bertabrakan dengan milik Luhan. Luhan, 'Tampan sekali'. Belum lagi jarak mereka yang begitu dekat dan—rasanya seperti berkhayal.

Dan, Baekhyun seharusnya bersyukur karena impian lamanya terkabul. Benar begitu?

Deg—Deg—

Luhan terkekeh, "Ne, baby kenapa?"

"Aku mengantuk!" Baekhyun mengusap-usap wajahnya sendiri. Berusaha menepis segala pemikirannya yang aneh. Luhan mempererat dekapannya pada tubuh namja tersebut, "Yasudah tidur saja! Aku kan cuma ingin menciumimu. Kau menggemaskan tahu!"

Blush—

Haish, pagi-pagi Luhan sudah membuat Baekhyun merona saja.

"Ck! Diam, aku mau tidur!" Baekhyun pura-pura memejamkan kedua matanya. Dan menenggelamkan wajahnya didada Luhan. Kali ini seluruh tubuhnya tenggelam dalam hangatnya selimut tebal milik Luhan. Untuk menutupi kedua pipinya yang sudah merona merah. Luhan merengut, namun kemudian ia tersenyum.

Ia menciumi rambut Baekhyun sambil merapatkan pelukannya lagi. Menghirup bau shampoo Baekhyun yang begitu khas memasuki indera penciumannya.

"Kalau tahu begini, kapan-kapan kita kencan lagi saja ya."

"Ng?" Baekhyun mendongakkan kepalanya, "Maksudmu?"

Luhan menunduk untuk menatap kedua mata sipit Baekhyun, lalu menampakkan seringaian mesumnya, "Tentu saja! Kan nanti aku akan selalu dapat bonus setiap malamnya."

Baekhyun membulatkan kedua matanya, "Yak! Hyung!" ia mencubit perut Luhan dengan sebal. "Aduh, sakit." Luhan mempoutkan bibirnya.

Baekhyun mendengus, ia membenamkan lagi wajahnya didada Luhan. Padahal sebenarnya dalam hati, ia tengah bersorak girang. "Aku serius Baek."

"Yayaya, terserah kau saja!"

"Baek,"

"Hm?"

"Aku minta jatah sarapan pagiku, boleh?"

"Yak!" Baekhyun langsung bangun, dan memukuli Luhan dengan bantal.

Bukk—Bukk—Bukk—

"Aduh! Aduh Baekhyun!"

"Rasakan, dasar kau namja mesum yang menyebalkan!"

.

.

.

.

7th Dates

"Nghhh—Hhyungh Ahhh!" Luhan terus menghentak-hentakkan miliknya didalam hole Baekhyun. Dengan menghantam lubangnya hingga menabrak titik terdalam yang membuat Baekhyun, "Ahhhh—Ah—" hanya bisa terpejam dengan mulutnya yang terbuka karena sibuk mendesah.

Sebelah kakinya yang diletakkan dipundak Luhan, kakinya yang satu lagi—sengaja dibuka dengan lebar. Dan belum lagi, tangan Luhan yang sibuk mengocok juniornya. Oh My Godness! Baekhyun bisa gila!

"Hhyungh—p-pelanh—ahh!" lagi-lagi Luhan menyodok tepat mengenai g-spotnya.

Baekhyun terus mengerang sambil mencakari lengan Luhan untuk melampiaskan rasa sakit yang mendera lubang selatannya.

Dan, Lidah itu! Owh, Luhan benar-benar ingin menggoda Baekhyun sepertinya. Lidah Luhan sibuk menjelajah dadanya, sesekali mengulum nipplenya secara bergantian dan—

"Hyunghh—hyungh—s-sudah—" jujur, Baekhyun menyerah!

Entah Luhan sedang kerasukan atau bagaimana, tapi ia benar-benar menghajar Baekhyun habis-habisan kali ini. Lalu, Baekhyun bisa apa?

Luhan terus sibuk menyentuh setiap detail tubuh Baekhyun, tanpa menjawab desahan, teriakan, erangan yang beratas namakan dirinya.

"Hhh—i'm coming baby." Itu adalah kata-kata yang pertama keluar dari bibir Luhan, sejak permainan mereka dimulai tadi.

"Hyungghh—hyunghh—Aahh!"

Baekhyun melengkungkan dadanya, meremat pundak Luhan kuat. Cairannya menyemprot dengan deras ke tangan Luhan.

Nafas Baekhyun memburu kencang, dadanya naik-turun seiring dengan oksigen yang berdesakan untuk bergantian masuk ke dalam paru-parunya.

"Kau harusnya minta ijin padaku terlebih dahulu Baek."

Luhan menghentakkan miliknya dengan keras. "Ngh—ah—hyunghh—"

Baekhyun sudah tidak kuat lagi. Ini sudah kedua kalinya ia klimaks, namun berbeda dengan Luhan yang sama sekali belum mengeluarkan spermanya.

Baekhyun menggigit bibirnya. Luhan tidak mau ketinggalan lagi untuk ketiga kalinya. Luhan semakin mempercepat sodokkannya, memegangi pinggang Baekhyun untuk membantunya dengan bergerak berlawanan arah.

Baekhyun mencari pengalih rasa sakitnya yang lain. Ia meremas sprei, yang sudah sangat berantakan dikasur Luhan itu.

"Ahh—hyunghh—"

Drtttt—Drrttt—

Siapa yang menelpon saat orang sedang enak-enaknya bercinta begini?!

Drrttt—Drrttt—

Baekhyun dengan susah payah menggerakkan sebelah tangannya, untuk meraih ponselnya yang tergeletak agak jauh disebelahnya. Bermaksud untuk mematikan panggilan masuk. Namun—

Luhan langsung menampik tangan Baekhyun saat jemari lentik namja mungil itu sudah menyentuh layar ponselnya. Dan ternyata, ia tidak sengaja—

"Yeoboseyo, hyung eomma menyuruhmu—"

"Nggh—hyungh—"

"Eh? Halo?Baekhyun hyung?"

Luhan menarik tangan Baekhyun agar melingkar dengan rapat dilehernya.

"Grr—aku datang Baek." Luhan menggeram seiring dinding rectum yang semakin menjepit miliknya. "L-luhan hyung ahh—"

Baekhyun tidak bisa menahan penisnya yang rasanya ingin memuntahkan cum lagi.

"H-hyung?"

"Ahhhhh!" Luhan dan Baekhyun menjerit bersamaan saat klimaks mereka datang.

Seseorang diseberang sana mendelik, "Eum, sepertinya aku harus pergi. Bye."

"Hh—hh—hh—" Luhan mendongak, menatap wajah Baekhyun yang basah dengan keringat dan begitu merah.

"Kau lelah ya?" Luhan mengecup pelipis Baekhyun.

Baekhyun sudah tak mampu menjawab lagi, ia benar-benar merasa kelelahan. "Tidurlah." Luhan tersenyum, ia mengeluarkan juniornya dari dalam hole namja mungil tersebut. Kemudian membaringkan dirinya disamping Baekhyun lalu mendekap tubuh itu dengan rapat. Merasakan kehangatan satu sama lain, setelah bercinta.

.

.

.

.

17th Dates

Sebenarnya kalau dipikir-pikir, istilah 'kencan' yang biasa dipakai orang-orang awam untuk menggambarkan hubungan antara Luhan dan Baekhyun terdengar agak sedikit tabu sekarang. Karena yah, tau sendirilah.

"Ngrr—hyunghh pelanh pel—ah!"

Mereka selalu menghabiskan waktu saat bersama dengan menyatukan tubuh dengan berhubungan seks. Baekhyun tidak tahu satu hal tentang Luhan. Yang tidak pernah dan tidak akan pernah ia temukan diinternet—

The Fifth Facts of Xi Luhan:

Xi Luhan itu hypersex.

Dan akan terus memaksa Baekhyun untuk melakukannya. Ia tidak akan berhenti sampai penisnya yang menyebalkan dan sering hard itu puas.

Baekhyun memejamkan kedua matanya sambil meringis, sesekali menggigit bibir bawahnya. Seluruh tubuhnya yang lemas bergetar hebat. Kakinya yang sedari tadi melingkar dipinggang Luhan, pada akhirnya hanya bisa menggantung dengan pasrah diatas paha Luhan. Kedua kakinya berayun cepat seiring dengan sodokkan Luhan pada holenya dengan seirama.

Seluruh sarafnya menegang, tapi tubuhnya benar-benar lemas. Baekhyun melingkarkan kedua tangannya untuk memeluk leher Luhan.

Bahkan rasanya kursi yang mereka berdua duduki ingin patah saja!

"Ah—Ahh—Ahh hyungh!"

Erangan Baekhyun teredam dalam pundak Luhan saat cairannya menyemprot deras kedada Luhan dan mengenai kaos santai yang Luhan kenakan siang ini.

Bercinta disiang hari? Terdengar sedikit menarik, dan unik.

"Hhh—hhh—" Baekhyun benar-benar lelah.

Cuaca siang ini terasa begitu panas, belum lagi seluruh tubuhnya yang masih berbalutkan kaos tipis sudah basah dengan peluh yang terasa sangat lengket dan tidak nyaman. Dan bau seks yang menguar diseluruh tubuhnya benar-benar—

"Hyunghh—su-sudahh." Baekhyun sudah benar-benar tidak sanggup dengan Luhan yang tanpa lelah menyodok lubangnya terus menerus.

Disisi lain, posisi bercinta mereka benar-benar sangat tidak nyaman—ya, Baekhyun yang disandarkan dikursi makan, lalu Luhan yang menghadap kearahnya, menghimpitnya dan menaikkan kedua kaki Baekhyun untuk melingkar dipinggangnya.

Anggap saja mereka duduk berhadapan, Luhan secara tidak langsung memangku Baekhyun, namun dalam satu kursi. Baekhyun pula yang dihimpit! Kau tahu kan, betapa sempitnya kursi makan?

Ukurannya hanya untuk satu orang!

"Ngh—hyung sudahh—Luhan hyungh—Hmphh" Luhan menyambar bibir namja didepannya tersebut, melumatnya dengan sedikit kasar. Sebagai pengalih rasa sakit. Baekhyun merapatkan pelukannya dileher Luhan.

"S-sebentar lagi Baek." Ia mengusapi pelipis Baekhyun yang sudah dibanjiri dengan banyak peluh.

1

2

3

"Arghh!" Luhan menyemprotkan cairannya jauh kedalam hole Baekhyun yang sudah penuh dengan sperma miliknya. Hingga tampak paha bawah Baekhyun yang basah karena sperma Luhan yang tidak muat lagi didalam hole nya tercecer keluar.

Luhan mengusap lagi pelipis Baekhyun yang basah dengan keringat.

Ia sangat senang hari ini. Hari yang panas dan aktifitas panas yang mereka lakukan. Dan dirinya yang menghimpit Baekhyun di sebuah single-chair, adalah sesuatu yang baru buat Luhan! Dalam sejarah bercintanya dengan banyak namja seumur hidupnya—

Dirinya yang diatas? Sudah terlalu sering, hampir setiap bercinta malah.

Dirinya yang dibawah, dengan pasangan yang 'dimasuki' namun bergerak liar diatasnya? Juga sama saja. Tapi ia belum pernah mencobanya bersama Baekhyun.

Lawan mainnya yang tengkurap dengan dimasuki olehnya diatas? Tidak jarang, ia dan Baekhyun sudah pernah melakukannya.

Apa lagi?

Gaya making love yang seperti inilah yang benar-benar paling luar biasa!

Tapi, oh—mungkin ia bisa mencoba doggy style atau 69 bersama Baekhyun lain kali. Atau Luhan bisa mencoba menjelajah dan mencoba satu-persatu gaya bercinta yang unik. Baekhyun juga tidak akan menolak kan?

Ini benar-benar membuatnya bergairah belum lagi—Baekhyun terlihat sangat seksi dengan tubuhnya yang hanya berbalut kaos tipis yang sudah basah, dengan bagian bawah yang polos, sama seperti dirinya. Entah daya tarik apa yang membuatnya sebegitu ketagihan dengan setiap desahan, erangan Baekhyun setiap kali ia menyentuhnya.

Luhan mencium bibir Baekhyun sekilas, "Hyungh—" nafasnya tersenggal.

"A-aku lelah." Baekhyun berkata dengan kedua matanya yang tak sanggup lagi untuk terbuka.

Luhan memeluk tubuh mungil Baekhyun, masih dengan posisi yang sama. Ia tahu Baekhyun yang paling kelelahan karena posisi mereka yang seperti ini, tapi Luhan sangat menyukainya. Rasanya mereka seperti lebih hangat dan rapat satu sama lain.

"Hyunghh—" Baekhyun berusaha mengontrol detak jantungnya yang tak karuan, karena lelah 'berolahraga'.

"Tapi aku mau lagi," Luhan menciumi pundak cekung Baekhyun.

"Nghh—Hyung!" Baekhyun meremas bagian belakang pakaian Luhan sambil terpejam. Ia benar-benar lelah!

"Keluarkan punyamu."

"Tidak mau." Luhan kali ini menciumi daun telinga Baekhyun. "Hyunghh—" Baekhyun hanya bisa menenggelamkan wajahnya dipundak Luhan.

"Tidak! Pokoknya aku mau lagi!" Luhan langsung bangkit dengan penis yang masih tertancap dilubang Baekhyun, membuat namja tersebut mengerang sakit.

Tubuhnya terangkat kedalam gendongan Luhan.

"Ayo kita coba dikamar mandi."

.

.

.

.

21st Dates

Baekhyun bisa benar-benar gila!

Mereka ini sebenarnya berkencan, atau—

"Hyunghh—ah—ah!" bercinta terus-terusan sih?

Luhan meremas dadanya kencang, sambil sesekali memilin nipplenya dengan kedua tangannya secara bergantian. Sedangkan penis besarnya sedang berusaha masuk kedalam lubang milik Baekhyun. "Nghh—L-luhan hyungh—" Baekhyun merengek ditengah-tengah lenguhannya sambil sesekali meringis.

Merasa benda tumpul besar yang sudah tidak asing lagi terus berusaha mendesak lubang sempit miliknya.

Lututnya yang sedari tadi menumpu bobotnya sendiri rasanya sudah tak kuasa lagi. Kakinya bergetar hebat. Ia menggigit bibir bawahnya. Kedua tangannya meremas punggung tangan Luhan yang sibuk memainkan nipplenya yang sudah menegang dan memerah—sebagai penopang tubuhnya. Jika tidak, sudah pasti tubuh Baekhyun sudah ambruk sejak tadi.

Luhan mempererat pelukannya dari belakang, sambil menciumi tengkuk Baekhyun, dan tangannya yang sibuk mencubiti dada Baekhyun, juga penisnya yang terus berusaha menerobos masuk lubang sempit milik namja mungil tersebut.

"Hyungh—ahh—hmphh—" jeritannya teredam saat Luhan menarik dagunya untuk menghadap kebelakang, Luhan mencumbu bibir tersebut dengan kasar. Ia tahu, Baekhyun pasti merasa sangat kesakitan. Tapi, mau bagaimana lagi? Ia tidak akan pernah bisa mengendalikan dirinya saat berada diradius yang sangat dekat dengan namja mungil tersebut.

Luhan melepas tautan bibir mereka. Nafas Baekhyun tersenggal. Namja itu hanya menunduk dan merasakan bagaimana—

Milik Luhan sudah sepenuhnya masuk.

"Hyunghh—ha—" Baekhyun merengek lagi. Ingin rasanya ia menyerah, tapi Luhan tidak akan pernah berhenti. Tidak akan pernah.

"Hgh—ngh—" Luhan mulai bergerak. Selalu seperti itu, tanpa aba-aba dan izin darinya.

Baekhyun mengalah lagi.

Pada akhirnya, ialah yang akan mendesah dan menjeritkan nama Luhan. "Hyungh—hnghh—h-hyungh—"

Keduanya menumpukan diri pada lutut masing-masing.

Baekhyun tidak tahu harus bagaimana lagi, ia sudah tidak sanggup lagi untuk menopang tubuhnya yang dipaksa menegak tanpa ada tumpuan dan terus didorong dengan lubang selatannya yang terhantam milik Luhan secara terus menerus. Yang semakin lama bergerak semakin gila.

Baekhyun meremat tangan Luhan yang juga meremas dadanya sebagai tumpuan. Luhan terus menggerakkan pinggulnya, ingin rasanya Baekhyun pingsan saja.

"Hhh—hhh—hh—"

Ia menjepit penis Luhan dengan refleks. Membuat namja yang bergerak dibelakangnya mengerang nikmat.

Bukannya Baekhyun kesakitan, hanya saja—ini adalah sebuah kenikmatan yang terlalu berlebihan. Ia hanya tidak sanggup bergerak lagi. Ini hanya terlalu membuatnya frustasi, karena saking nikmatnya.

Maka dari itulah alasan kenapa Baekhyun tidak pernah bisa menolak dengan apa yang Luhan lakukan padanya. Karena, ia juga menikmatinya.

"Hyunghh—hmphh" Luhan menarik lagi wajahnya, agar namja itu bisa mengeksplorasi mulut dan lubangnya secara bersamaan.

Baekhyun kali ini mengarahkan kedua tangannya kebelakang, untuk mengalung dileher Luhan. Sebagai tumpuan yang baru.

"Ah—ah—" Luhan melepaskan bibirnya, lalu dengan jahil menurunkan sebelah tangannya untuk meremas milik Baekhyun. Ia tahu, Baekhyun itu mudah terangsang, jadi—

Oh, Baekhyun sudah tidak kuat lagi.

"Ahh!" Baekhyun menjerit bersamaan dengan cairan ejakulasinya yang menyemprot deras.

Menyandarkan punggung ringkihnya dengan lemah ke dada Luhan, membiarkan Luhan terus bergerak sampai namja tersebut mencapai puncaknya—dengan pasrah.

Tak lama, Luhan menjerit setelah itu.

.

.

.

.

22nd Dates

Baekhyun bangun keesokkan harinya.

Seperti biasa, dengan berjalan tertatih sambil memegangi pinggangnya yang terasa pegal menuju dapur untuk mengambil setidaknya minum, untuk membasahi tenggorokkannya yang terasa kering dan sakit karena kebanyak menjerit.

"Ngh—" ia hendak meraih gelas dirak, namun rasanya lubangnya perih sekali.

Dengan susah payah ia menjinjit untuk meraih rak berisikan gelas didepannya yang terletak dikabinet dapur apartemen Luhan.

"Kau sudah bangun?" hampir saja jantung Baekhyun rasanya ingin lepas. Luhan memeluknya dari belakang secara tiba-tiba. Tapi, ia tidak bisa terlalu mengekspresikan keterkejutannya akan kehadiran Luhan karena dirinya terlalu lelah. "Hm," gumamnya pelan.

Luhan mengulurkan tangannya untuk mengambil gelas yang diincar Baekhyun tersebut, "Kau haus?" serunya sambil menuangkan sedikit air ke gelas tersebut. Masih dengan posisi memeluk Baekhyun dari belakang.

"Terimakasih," seru Baekhyun parau, ia lalu menegak air tersebut. Membiarkan Luhan memeluknya sesuka namja itu sampai ia sendiri bosan. Luhan menciumi tengkuk Baekhyun. Namun Baekhyun terlalu lelah untuk mengekspresikan kegelian yang ia rasakan. Ya, Baekhyun hanya lelah.

"Kenapa diam?"

Baekhyun menghentikan aktifitas menelan air minumnya, "Aku hanya lelah, hyung."

Luhan terkekeh, "Apa karena semalam, hm?"

Baekhyun hanya diam dan melanjutkan acara minumnya, "Aku tahu, posisi seperti itu pasti sangat nelelahkan buatmu."

Baekhyun meletakkan gelasnya, "Sudahlah hyung." Luhan terkekeh, "Kenapa?"

Baekhyun menghembuskan nafasnya kasar, "Aku lelah,"

"Ne, baiklah."

Baekhyun memeluk tangan Luhan yang melingkar diperutnya dengan ragu, "Kau lapar?" tanya Luhan sambil menciumi telinganya.

"Anni, hyung." Baekhyun memejamkan matanya. Luhan kali ini menciumi lehernya. Entah ini hanya perasaan Baekhyun saja atau bagaimana, ia baru menyadari kalau Luhan selalu melakukan sentuhan-sentuhan intim setiap mereka sedang dekat seperti ini.

"Kau tidak pulang?" Luhan kali ini mengecup sekilas pipinya.

Baekhyun menggeleng pelan, "Aku tidak akan bisa pulang dengan keadaan seperti ini hyung,"

Luhan tertawa kecil, "Iyaya, aku tahu. Lagipula, inikan sudah masuk liburan musim panas, kau bisa menghabiskan banyak waktu bersamaku kan."

Baekhyun mengangguk pelan. "Aku juga tidak bisa pulang, karena hubunganku dengan appa masih sangat—"

"Aku mengerti Baek." Luhan mengecup sekilas bibir Baekhyun.

Mereka berdua terdiam sejenak, masih dalam posisi yang sama, "Baek?"

"Hm?"

"Aku mencintaimu." Tubuh Baekhyun membeku sejenak. Entah kenapa setiap Luhan mengatakan hal tersebut Baekhyun merasa sangat,

"Maukah kau menerima perasaanku ini?" Luhan mempererat pelukannya.

Baekhyun terdiam. Apa ia harus menerima Luhan? Tapi, ia dan Luhan sama-sama namja. Namun, jika ia sudah memikirkan hal itu sebelumnya, harusnya ia menolak setiap ajakan kencan Luhan sejak awal dan acara menginap diapartemennya juga—

Setiap Luhan mengajaknya berhubungan seks.

Kenapa rasanya susah sekali untuk bilang, 'iya' atau sekedar 'tidak'? Tapi, kenapa Baekhyun tidak yakin dengan perasaannya, walaupun mereka sudah sering melakukan banyak hal berdua. Terlalu sering malah. Hingga Luhan mengajaknya bercinta, dan itu membuktikan bahwa hubungannya dengan Luhan sudah terlalu jauh. Padahal mereka itu dibilang pasangan kekasih juga bukan.

Hanya dua orang namja yang bersepakat untuk kencan dan melakukan banyak hal bersama.

"Baek?"

Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, berusaha menyadarkan diri dari lamunannya yang takkan pernah habis itu. "Aku butuh jawabanmu, aku sudah terlalu sering menunggu."

Baekhyun menggigit bibirnya sendiri. Luhan tahu, Baekhyun sudah pasti akan menerima karena yah—dilihat dari ia yang tak pernah menolak setiap perlakuan Luhan yang bahkan sudah menyentuhnya lebih jauh namun—ia tidak pernah tahu betul alasan dimana Baekhyun tidak bisa menjawab pernyataannya itu.

"Baek?"

"N-ne, hyung?"

"Kau mau jadi kekasihku?"

Baekhyun mempererat pelukannya pada tangan Luhan, "A-aku—"

Luhan menciumi telinganya, "Kau apa?"

Baekhyun memejamkan kedua matanya, sambil menggigit bibir bawahnya sejenak, "A-aku—"

Luhan menunggu, "A-aku mau hyung."

Luhan mengulas senyumnya, ia melepaskan pelukannya lalu membalik tubuh mungil Baekhyun agar berhadapan dengannya.

Menatap dua manik yang selalu membuatnya takkan pernah bisa berpaling, "Gumawo," Luhan mencium dahi namja yang lebih muda beberapa tahun dibawahnya dengan sayang. Dan lama.

Lalu turun kearah kedua matanya, membuat Baekhyun refleks menutup kedua kelopak matanya. Lalu turun kehidung kecilnya yang bangir, lalu melumat bibir ranum yang sudah membuatnya candu dan takkan pernah ketinggalan untuk setidaknya menciumnya barang seharipun.

Baekhyun mengalungkan kedua tangannya di leher Luhan tanpa disuruh, Luhan melepaskan bibirnya, membuat salivanya sedikit tercecer disudut bibir Baekhyun.

Ia tersenyum, lalu mengusap sudut bibir kekasihnya itu menggunakan ibu jarinya. "Aku mencintaimu."

Baekhyun membalas senyum namja yang kini sudah menjabat sebagai kekasihnya itu, "Me too." Luhan tertawa kecil menyikapi tingkah kekasihnya yang begitu manis itu. Lalu menarik tengkuk Baekhyun dan meraup lagi bibir tersebut.

Melumatnya dengan lembut dan penuh kasih.

Namun, lama-kelamaan, "Hmmphh—" Baekhyun membalas lumatan bibirnya dengan sedikit kasar dan—

Ekhem, sepertinya ada yang ingin bermain-main dengannya disini.

Luhan menyeringai, ia lalu menarik tubuh tersebut kedalam pelukannya, dan melumatnya dengan tak kalah kasar. Bunyi kecipakan saliva keduanya membuat suasana diapartemennya menjadi—entahlah, bergairah?

Ia menarik tubuh Baekhyun dan menyeretnya untuk berjalan mundur kearah meja makan. Sepertinya melakukannya didapur lagi tidak ada salahnya kan?

Luhan mendorong tubuh Baekhyun hingga terpojok diantara dirinya dan meja, tanpa memutuskan tautan bibir mereka. "Hmmphh—" Baekhyun melenguh saat Luhan mulai menaikkan dirinya keatas meja, dan langsung menarik celananya hingga sepenuhnya terlepas.

Mendadak pahanya terasa dingin. Bagian bawahnya sudah polos tak tertutup apapun.

Kali ini Luhan melepaskan celananya sendiri, masih dengan melumat bibir Baekhyun dengan penuh nafsu. Oh, ini bukan sepenuhnya nafsu, Luhan mencintai Baekhyun ingat? Dan, ia tak mau dibilang seorang yang hanya membutuhkan namja tersebut sebagai pemuas nafsu sekarang karena yah—ia melakukannya karena ia mencintai Baekhyun.

Baekhyun itu miliknya! Dan seterusnya akan tetap begitu!

Luhan melepaskan ciumannya sepihak, "Aku mencintaimu." Ia lalu menyeret tubuh Baekhyun yang tadinya terduduk diatas meja untuk turun lagi dan membalik tubuhnya agar memunggungi Luhan.

"Hyunghh—" Baekhyun menggigit bibirnya.

"Kau tidak akan pernah melupakan hari ini, Baekbaby." Luhan memeluk tubuhnya dari belakang, mengarahkan tangan kekasihnya agar bertumpu dimeja dan menarik pinggul Baekhyun agar menungging.

Luhan berjanji. Ia takkan menyentuh Baekhyun lagi malam ini. Ia bersumpah. Tapi, asalkan ia bisa menggagahinya lagi, sekali saja.

"Hyungh—"

"Aku berjanji, ini yang terakhir untuk hari ini Baek."

Baekhyun menggigit bibirnya sendiri, ia kemudian mengangguk. Luhan mulai mengocok juniornya sendiri sebelum mengarahkannya untuk masuk ke dalam lubang kekasihnya dan—

"Nghh—Akhh!" Luhan memasukkannya dalam sekali hentak.

Baekhyun rasanya ingin menangis saja, "Hyungh—s-sakith—"

Luhan menciumi tengkuk kekasihnya, "Aku tahu. Aku hanya tidak mau menyakitimu lebih jauh."

Luhan menciumi daun telinga Baekhyun, agar kekasihnya itu tenang. Terdengar dari nafas Baekhyun yang masih memburu, sepertinya namja itu belum siap. Kali ini Luhan tidak akan bergerak jika Baekhyun tidak—

"Move, hyung—" Ia memegangi tangan Luhan yang memeluknya. "Bergeraklah."

Luhan pun memposisikan dirinya untuk berdiri dan—"Nhh—" Baekhyun meringis merasakan lubangnya yang masih terasa sakit dan lecet karena perbuatan Luhan padanya semalam.

Luhan bergerak sepelan mungkin, ia tidak mau menyakiti Baekhyun.

"Lebihh cepat hyunghh—"

Luhan pun menurut, ia memegangi pinggang kekasihnya sambil mendorong pinggulnya untuk bergerak dengan kuat-kuat. Baekhyun menutup kedua matanya, mulutnya terbuka karena sudah terlanjur terangsang dan tangannya menggerayahi meja makan dengan asal.

Semakin lama, Baekhyun menikmati permainan Luhan. Seperti biasanya. Namun kali ini terasa agak berbeda. "Ahh—ahh—ah hyunghh akuh—"

Ia mulai menggerakkan pantatnya berlawanan arah.

Luhan mempercepat temponya, gerakan pinggulnya semakin menggila dan—"Ahh hyungh—disana hyunghh disanahh—" Baekhyun meletakkan kepalanya dimeja makan, ia pasrah. Ini sungguh benar-benar membuatnya gila! Ini—

"Nhh—" Luhan kembali menabrak prostatnya.

Luhan mengerang saat Baekhyun menjepit penisnya dengan kuat, "J-jangan menggodaku Baekhyun."

Luhan menghentakkan miliknya dengan kuat, "Ahh—"

Ia terus bergerak sampai, "Hyunghh—a-aku mauu—nhh"

Baekhyun merasakan sebelah tangan Luhan tidak lagi memegangi pinggangnya, namun malah mengocok juniornya.

Pakaian keduanya sudah basah dengan peluh masing-masing, "Hyunghh—a-akuh—a-akuhh ahhh!" pandangannya memutih saat ia menyemprotkan cairannya ketangan Luhan. Dan rasa hangat menghampiri saat lubangnya terasa penuh dengan sperma kekasihnya.

"Nghh—hhh—"

Bruk—

Tubuh Baekhyun merosot dari meja, namun dengan cepat Luhan menahannya. Luhan menggendong kekasihnya, ia tahu, Baekhyun pasti sangat lelah.

Ia membiarkan bagian bawah Baekhyun yang polos itu, namun setelah sampai di kamarnya, ia segera membaringkan tubuh mungil kekasihnya dan menutupi nya dengan selimut hingga sebatas leher.

Chu—

Luhan mengecup bibir kekasihnya sekilas, "Have a nice dream, i love you my BabyBaek." Ia tersenyum.

TBC

Hahaha, ini hanya sebagian yaa... kalo semuanya diupdate,, nanti ga seruu dongg ga penasaran donggg keenakan donggg eheheh '-' maaf kalo kurang memuaskan chapter ini yaaa ._. tapi semoga kalian suka aja deh... kalian gatau betapa gemeterannya eonni pas ngetik chapter ini susah banget.. intinya reviews yang banyaaakk yang banyak pake banget pake BGT! Oke, oke? See you next chap!