Sebuah pena yang terisi oleh warna biru muda menari di atas kertas putih yang mulai terisi. Huruf demi huruf tersusun menjadi kata yang kembali tersusun menjadi kalimat. Berakhir menjadi sepucuk surat. Surat yang kualamatkan padanya, walau takkan ada niat untuk menyampaikannya.
*.*
'Tok! Tok!' sebuah ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Cepat-cepat kusimpan surat yang tengah kubaca ulang ke bawah kasur tempat tidurku. Merebahkan diri, menunggu agar daun pintu bercat warna putih itu terbuka.
Dari balik pintu itu ia muncul, bersama dengan seorang pria yang kuingat jelas bernama Hanatarou.
"Soi Fon, bagaimana kabarmu?" sapa pria yang membuka pintu tadi, Ggio Vega.
"Kabar buruk sepertinya," jawabku ketus. Mungkin memang tidak sopan, mengingat dia adalah dokter yang bertanggung jawab untuk pengobatanku. Tapi aku tidak perduli, mengingat dia adalah teman satu SMA-ku dulu. Dan juga cinta pertamaku...
"Hei! Apa itu yang kau sebut sopan?"
"Mungkin."
Perdebatan terus berlanjut. Aku dan Ggio memang selalu bertengkar sejak SMA, bahkan sampai dapat julukan pasangan suami-istri.
Kesal tapi senang. Karena hanya saat seperti itulah ia ada dekat denganku. Karena tak mungkin ia akan menerima pernyataanku. Karena baginya aku hanyalah 'mantan' teman.
Terkadang saat kumengingatnya hatiku terasa perih. Mana mungkin dia melihatku sebagai wanita yang spesial? Kami hanyalah 'mantan' teman yang sekarang berstatus dokter dan pasien.
Seluruh perasaan ini hanya dapat kutuliskan dalam untaian kata yang tertulis dalam surat yang terus menumpuk. Menumpuk namun takkan pernah tersampaikan hingga kapanpun.
"Soi Fon-san, kelihatannya luka anda sudah membaik. Tidak lama lagi anda dapat keluar."
"Arigatou, Hanatarou-san."
"Untukku?"
"Tidak terimakasih. Aku membencimu," lagi-lagi kata-kata itu yang keluar. Sudah tujuh tahun berlalu semenjak kusadari rasa ini. Namun tak satupun terucap jujur, hanya kebohongan belaka.
Aku tak pernah memiliki keberanian seperti Hinamori-chan. Gadis yang dapat bersikap jujur di hadapan laki-laki yang dicintainnya. Walau ia sudah tiada.
*.*
"Soi-chan..."
"Ada apa Gliglio-kun?" tanyaku sembari menampakkan senyuman memaksa. Ia membalasnya dengan senyuman mengejek.
"Apa maksudmu memanggilku Gliglio?"
"Adududuh! Jangan tarik rambutku, sakit!"
"Tidak mau, cepat minta maaf."
"ENGGAK!"
Kami terus bertengkar di hadapan seluruh anak sekelas. Semua memandang kami sembari menahan tawa. Apanya yang lucu dari kami berdua?
Kuulurkan tangan kananku, berusaha menggapai pipi kirinya. Dan berhasil! Kutarik keras-keras benda kenyal itu. Membuatnya merintih kesakitan. Namun bukannya melepaskan tarikan pada rambutku, ia malah menariknya lebih kuat. Kami bagaikan anak TK bila sudah bertemu.
Guru-guru bahkan maklum melihat tingkah kedua wakil ketua kelas yang tak pernah akur.
Lagipula aku tak pernah menyalonkan diri sebagai wakil ketua kelas kan?
Tak ada satupun!
Kuulangi, tak ada satupun pengurus kelas yang mencalonkan dirinya. Hanya Hitsugaya saja yang kini menjadi ketua. Itupun atas permintaan Hinamori.
Bel masuk berbunyi, namun tetap saja. Acara pertengkaran konyol kami tak pernah berhenti, hingga akhirnya Aizen-sensei menegur kami berdua.
Aku tak tahu bahwa hari itu adalah pertengkaran terakhir kami di bangku kelas dua SMA. Karena keesokkan harinya ia tak pernah datang. Beasiswa yang diterimannya membuatnya berangkat pergi ke negeri seberang untuk menimba ilmu.
'Kenapa buka Hitsugaya saja yang dapat?' runtukku dalam hati semenjak itu.
Saat kelulusan tanpa sengaja ucapan itu terdengar. Hinamorh hanya tersenyum dan menyembunyikan wajahnya yang memerah. Hitsugaya pun membuang mukanya.
"Karena aku tak ingin meninggalkan orang yang berharga bagiku," ucapnya pelan namun terdengar jelas. Hatiku terasa tertusuk jarum mendengarnya. Kalau begitu aku bukan apa-apa bagi Ggio. Semua tahu akan kepergiannya, hanya aku yang tidak. Hanya aku...
Dan karena kecelakaan bodoh yang menimpaku. Aku harus bertemu dengannya...
*.*
"Yup! Arigatou untuk bantuannya," ucapku penuh semangat sembari menundukkan kepalaku dalam. Hanatarou membalasnya dengan bungkukkan yang lebih dalam. Hari ini aku keluar dari rumah sakit setelah hampir satu bulan aku mendekam di atas tempat tidur.
Hanya Hanatarou yang mengantarku. Ggio sama sekali tak menampakkan seujung rambutnya sedikitpun. Aku berdiri bersebelahan dengan Hanatarou. Menunggu sepupuku datang menjemput. Sembari menunggu kubuka kembali tas ranselku. Memeriksa apakah ada yang tertinggal. Dan jackpot!
Mataku membulat sempurna begitu menyadari surat yang kurang. Cepat-cepat kunaiki tangga dan menuju kamarku. Berharap belum ada satupun yang menyadari surat yang kusembunyikan di bawah bantal.
Perlahan kubuka daun pintu bercat putih di hapanku.
Sosok seorang pria berdiri di dalam. Pria yang mengenakan jas dokter dan berambut hitam yang indah. Ia duduk membelakangiku, membuka lebar-lebar jendela kamar. Membiarkan udara musim panas memenuhi ruangan.
"Um... ma---" ucapanku terhenti. Wajahku serasa memanas sempurna. Ggio! Dan ia membaca surat yang kutulis sebelumnya.
Ggio berbalik dan tersentak kaget. Rona merah terlihat di wajah kurusnya. Keheningan memenuhi ruangan.
Saat kesadaranku kembali, cepat-cepat kurebut surat di genggamanya dan berbalik.
"Apa yang tertulis di sini... lupakan saja..." ucapku tercekat. Aku kembali berlari menuruni tangga. Aku tak ingin mendengar jawaban apapun! Jawaban yang jelas-jelas kuketahui... penolakan!
Langkahku terhenti saat kusadari sebuah mobil BMW berwarna hitam terpakir di depan pintu masuk. Ishida melambai ke arahku dengan wajah stoicnya.
Kutarik nafas dalam-dalam dan mulai melangkah lagi...
"SOI FON!" suara itu terdengar jelas di telingaku. Dua buah lengan kurus memelukku dari belakang. Nafas yang tersengal-sengal terdengar amat nyata, Ggio?
"Katakan... kalau semua itu kenyataan... kalau semua itu adalah kenyataan," bisiknya lembut saat nafasnya mulai teratur.
Kututup mataku erat-erat, berusaha mengumpulkan keberanian. Merapalkan mantra dalam pikiranku, "katakan! Katakan!"
"Itu... kenyataan..." ucapku pelan. Amat sangan pelan hingga aku merasa takkan terdengar olehnya.
Dengan kasar ia membalikkan tubuh mungilku, memandangku lurus dengan tatapan lembut. Seulas senyum terlihat merekah di wajahnya. Wajahku semakin memanas saat ia menarikku ke dalam dekapan hangatnya.
"Aishiteru," bisiknya pelan tepat di telingaku. Cairan hangat turun dari mataku. Tangisan kebahagiaan.
*.*... Read More
Kata demi kata akan kebohongan terus terucap dari mulut ini.
Semua hanyalah kebohongan belaka.
Bukan 'benci' tapi 'cinta'.
Bukan 'menyebalkan' tapi 'membahagiakan'.
Bukan 'buruk' tapi 'baik'.
Selalu dan selalu. Apa yang kukatakan selalu terbalik.
Saat kau pergi ada mendung tercipta. Mendung dalam hati ini.
Kau pergi tanpa ucapkan salam. Tanpa ucapkan janji bahwa kau kan kembali.
Aku bukanlah siapapun yang berarti bagimu. Karena aku hanya memiliki status 'mantan teman'.
Tak lebih dan tak kurang.
Tidak lama lagi 'dokter dan pasien'-pun akan hilang. Dan aku bukan siapapun.
Aku tahu karna ini hanyalah sebuah surat yang takkan pernah terbaca siapapun.
Tapi, setidaknya hal ini dapat kukatakan tanpa ragu.
Aishiteru, Ggio Vega.
*.*
"Ternyata kau punya hobi yang buruk juga," gumam Ishida sembari membawa mobil BMW yang sebelumnya ia bawa dengan tujuan menjemput Soi Fon. Tapi karena satu dan lain hal gadis yang merupakan sepupunya itu memutuskan untuk membicarakan beberapa hal dengan dokter-nya.
"Hm... untuk kali ini aku ingin mengulur waktu kematian sepupumu. Seharusnya aku sudah membawanya sejak kecelakaan itu."
"Pantas nee-san selamat selamat setelah jatuh dari lantai sepuluh setelah menderita luka yang amat sangat parah."
"Hum... masalahnya saat itu aku tengah berada di pemakaman putri nyanyian kecilmu. Aku bertemu dengan Ichigo."
"Oh... dia ya, cinta pertama Rukia yang menjadi pembunuh bayaran semenjak orang tuanya bercerai."
"Begitulah, ah... aku permisi."
Ishida menghela nafas dalam. Kursi belakang yang sebelumnya diduduki oleh seseorang kini kosong. Hanya menyisakan gemericik lonceng yang menyanyat hati.
'Kenapa kau juga tidak mengulur kematian Rukia juga, Shinigami bodoh?' gumamnya dalam hati.
