Disclamer : Naruto © Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Shonen ai
Pairing : SasuxNaruxSai
Rated : T
Don't Like! Don't Read!!
Chapter 8 (Mengerti)
Setelah itu Sai pun pulang ke rumah, dan Naruto masuk ke dalam rumahnya. Namun dia begitu kaget saat melihat ayah dan kakaknya tergeletak di pinggir meja makan.
"Se..sedang apa kalian?" tanya Naruto kaget.
"Kau malam sekali pulangnya, kau juga tidak membuat makan malam untuk kami." sahut Minato.
"Kami sangat lapar, kau tidak membawa makanan untuk kami? Kenapa kau pergi kencan dan melupakan kami?" timpal Deidara.
"Siapa yang pergi kencan?! Lagipula kaliankan bisa memesan makanan di luar!"
"Makanan di luar tak seenak makanan buatanmu." sahut Deidara kembali.
"Bilang saja kalau kau tidak mau mengeluarkan uang lebih!" ucap Naruto.
"Huuh.. Kami lapar, buatkan sesuatu untuk kami."
"Iya-iya! Aku akan membuatkan makanan."
Lalu Naruto pun memasak makanan untuk mereka berdua.
"Ne, kau pergi kemana dengan Sai?" tanya Deidara.
"Bukan urusan kakak!" sungut Naruto.
"Hmm, pelit sekali. Pasti kalung itu pemberian dari Sai, ya?"
"Kalung?" ucap Naruto bingung. Lalu dia melihat ke lehernya, dia begitu terkejut saat ada sebuah kalung yang menggantung di lehernya. Bahkan dia tidak ingat kapan Sai memberinya sebuah kalung. Di pegangnya kalung itu, dilihatnya ada sebuah cincin yang tergantung di sana. Naruto kembali memutar balikkan ingatannya, dia ingat saat Sai memeluknya. Pasti saat itulah Sai memasangkan kalung itu di lehernya.
Lalu kembali Naruto melanjutkan memasaknya untuk ayah dan kakaknya, kalau kelamaan mereka pasti akan cerewet lagi.
Esok harinya, Naruto dan Sai membolos sekolah. Naruto pun menemani Sai untuk berziarah ke makam orang tua dan kakaknya.
Sesampainya di makam. Dilihatnya tiga makam berjejer di depannya, tampak terawat dan bersih. Di sana pun tertumpuk banyak sekali pita satin emas yang telah usang, mungkin setiap ulang tahun ibunya, Sai selalu datang ke sini.
Lalu Sai yang sedari tadi membawa bunga pun meletakkannya di altar makam keluarganya itu. Kemudian Sai berdoa untuk mereka yang sudah tak ada, dan sedikit berbicara dengan makam ibunya.
"Ibu, bagaimana kabarmu? Sudah lama aku tak ke sini. Selamat ulang tahun, ibu. Aku datang dengan Naruto. Aku membawakan hadiah ulang tahun untukmu." ucapnya sambil meletakkan pita satin emas itu di altar makam ibunya. "Sudah lima tahun sejak kejadian itu, aku harap ibu bahagia di sana bersama ayah dan kakak. Tetaplah melihatku, ibu. Walau sekarang Ibu hanya melihatku di atas sana."
"Sai.." gumam Naruto.
"Hmm.. Ibu aku harus pergi. Lain kali aku akan ke sini lagi." pamit Sai pada makam ibunya itu.
Lalu Sai menggandeng tangan Naruto dan berjalan pergi dari makam itu.
Sedangkan di sekolah Konoha, gossip sudah kembali menyebar dengan cepat saat Naruto dan Sai kini membolos bersama.
Saat itu Sasuke yang berjalan melewati kelas Naruto pun mendengar percakapan anak-anak kelas 3 yang sedang bergosip ria di kelasnya.
"Wah, setiap tanggal dan bulan ini mereka selalu membolos, ya? Memangnya ada apa, sih?" ucap Temari.
"Naruto dan Sai kemana, sih? Sepi deh ini kelas kalau tidak ada mereka." Gumam Gaara.
"Aku heran sekali, kenapa setiap tanggal dan bulan ini mereka selalu membolos bersama?"
"Mungkin merayakan hari jadi mereka kali."
"Hust… Memangnya sejak kapan mereka jadian?" tanya Temari.
"Tidak tahu, sejak masuk SMA mereka sudah dekat sekali. Mereka sudah seperti suami istri saja, lengket kemana-mana."
"Tapi Naruto sepertinya tidak seperti itu, deh."
"Hah, tidak ada yang tahu apa sebenarnya hubungan mereka."
Mendengar itu, Sasuke semakin geram dibuatnya. Pergi kemana Naruto dan Sai hari itu? Sasuke begitu penasaran dan ingin tahu dimana Naruto sekarang.
Saat itu Naruto dan Sai pun berjalan-jalan sebentar sebelum kembali ke sekolahnya untuk melaksanakan rapat yang tertunda.
"Sai, ini. Terima kasih." ucap Naruto sambil memperlihatkan cincin pemberiannya.
"Hmm.. Kau suka?"
"Ya."
"Hah, aku senang jika kau menyukainya." ucapnya. "Ohya, sebentar lagi kita akan lulus, kau akan mengambil kuliah jurusan apa?" tanya Sai.
"Hmm, aku belum memutuskannya. Tapi aku akan pergi ke Tokyo untuk kuliah di sana."
"Tokyo? Kau akan pergi ke sana?"
"Iya. Sudah sejak lama aku ingin melanjutkan sekolahku di sana."
"Lalu kau akan tinggal dimana?"
"Aku bisa mancari kost-kostan di sana."
"Kau ingin meninggalkanku?"
"Bukan begitu, Sai!"
"Kalau begitu aku akan ikut denganmu."
"Hei, kau tak selamanya harus tergantung denganku. Kau masih punya impiankan?"
"Impianku hanya bersamamu."
"Sai! Jangan seperti itu. Kau membuatku bingung." Sungut Naruto sedikit dengan nada tingginya. "Sudahlah, kita tidak usah membahas hal ini lagi." Timpalnya sambil berjalan mendahului Sai. Namun tiba-tiba Sai menarik tangan Naruto dan mencium bibirnya. Ciuman itu mendarat dengan lembut tepat di bibir Naruto.
"Berjanjilah padaku Naruto, kau tidak akan meninggalkanku. Aku mohon."
Naruto hanya diam saja saat tubuhnya dipeluk Sai, dia begitu bingung saat Sai memohonnya untuk tidak meninggalkannya.
Setelah itu mereka pun kembali ke sekolah tepat dimana anggota osis lainnya sudah berkumpul di ruangannya. Mereka mendiskusikan beberapa acara yang akan ditampilkan pada festival di sekolahnya yang kurang dari 1 minggu lagi. Keputusan pun segera diselesaikan hari itu juga, karena hari memang sudah begitu mendekati acara festival menjelang ujian kelulusan kelas 3.
Setelah rapat itu selesai, Naruto masih harus menyelesaikan file-file yang tertunda kemarin. Sai yang menemaninya pun hanya menggoda dan memeluknya dari belakang.
"Naru-chan, pulang yuk?" ajak Sai sambil memeluk lehernya dari belakang.
"Sai! Aku sedang sibuk. Kau pulang duluan saja. Aku masih harus menyelesaikan file-file yang belum selesai."
"Tidak mau. Aku mau menunggumu saja." akhirnya Sai pun menunggu Naruto hingga pekerjaannya selesai, lalu pulang bersama berdua. Saat berjalan di koridor kelas 1, tiba-tiba mereka melihat seseorang yang tengah asyik sedang berciuman di sana. "Heh, masih saja ada orang yang berbuat begitu di sekolah."
Diintipnya di jendela, dan dilihatnya Sasuke sedang mencumbui Sakura di kelasnya. Naruto yang melihatnya hanya bisa membelalakkan mata dan kaget dibuatnya.
"Sai, ayo." ajak Naruto.
"Hmm.." gumam Sai sambil merangkul pundak Naruto dan pergi meninggalkan mereka.
Bukannya Sasuke tidak sadar dengan kedatangan mereka, dia malah sengaja melakukan itu untuk membuat Naruto cemburu.
Sesampainya di rumah.
"Aku pulang dulu."
"Hmm.." gumam Naruto.
Naruto pun segera masuk ke rumahnya, melihat Naruto yang seperti itu membuat Sai bingung jadinya.
Malam itu Naruto langsung membaringkan tubuhnya setelah selesai menyiapkan makan malam untuk ayah dan kakaknya.
Namun beberapa jam kemudian, tidurnya menjadi tidak nyaman saat Sasuke mulai masuk ke dalam kamarnya seperti biasa.
"Dobe.." panggilnya.
"Teme? Apa yang kau lakukan malam-malam begini?"
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu.." namun sebelum bicaranya selesai, Naruto memotongnya.
"Tanganmu kenapa?" ucapnya sambil melirik tangan yang diperban itu.
"Hei, jangan mengalihkan pembicaraan. Kau sudah benar-benar menolakku? Kau yakin dengan jawabanmu itu?"
"Apa maksudmu?"
"Kau bilang kau tidak bisa menerimaku, jadi kau lebih memilih bersama si brengsek Sai itu dari pada bersamaku?"
"Aku.."
"Aku tahu perasaanmu, dobe. Seharusnya kau lebih tegas dengan perasaanmu itu." Naruto hanya terdiam tanpa kata-kata, dia mencerna apa kata-kata yang dibilang Sasuke padanya. Namun dia begitu berat meninggalkan Sai, karena Sai sudah banyak menolong dirinya. Naruto menundukkan kepala dan sambil memeganginya dengan kedua tangan. Dia benar-benar berfikir keras. Kalau dia meninggalkan Sai dan memilih Sasuke, dia tidak akan tahu apa yang akan dilakukan Sai nanti. Dan jika Naruto memilih bersama Sai, dia takut akan menyakiti hati Sasuke. Pilihan ini memang membuat hatinya bingung. Melihat itu Sasuke pun mendekati Naruto, dia memeluk Naruto dengan lembut. Dan Naruto sendiri sedikit terkejut namun pelukkan Sasuke bisa membuatnya nyaman. Dia tidak lagi mendorong Sasuke hingga terjatuh, dan kini malah membalas dengan sebuah pelukkan yang lembut pula. "Jadi kau mencintaiku, dobe?"
"Tidak tahu." singkatnya.
"Hnn.." gumam Sasuke dibarengi dengan senyuman manisnya.
Beberapa menit kemudian mereka masih saja berpelukkan seperti itu, tanpa ada satupun yang mau melepaskan satu sama lainnya.
"Apa hubunganmu dengan wanita itu?" tanya Naruto yang masih memeluk Sasuke, namun tanpa harus memandang wajahnya.
"Sakura? Tidak ada. Kau cemburu?"
"Tidak." jawabnya. Dan tiba-tiba ponsel Naruto pun berbunyi, namun tidak dihiraukannya. Walau dia tahu itu pasti telepon dari Sai.
Malam itu, Sasuke memeluk Naruto hingga pagi menjelang. Hingga Naruto terjaga dalam tidurnya.
Pagi-pagi benar Sasuke sudah tak ada di kamar Naruto, dia telah kembali lagi ke rumahnya. Namun saat sarapan pagi, dia kembali datang ke rumah Naruto.
Seminggu setelah itu.
Festival telah dirayakan di sekolah Naruto, banyak sekali yang diadakan di sana. Setiap kelas membawa tema tersendiri, ada yang membuat rumah hantu, café maid, host club, hingga club meramal. Dan acara yang paling ditunggu-tunggu adalah kembang api pada penutupan festival itu nanti malam. Siang itu di kelas Sasuke mengambil tema host club, tentu saja Sasuke lah yang menjadi salah satu host di sana. Walau sudah menolak dengan terang-terangan, dia tetap saja dipaksa seluruh kelas untuk meramaikan acara kelasnya itu. Dan alhasil dia menjadi susah dibuatnya. Banyak sekali yang memesan Sasuke untuk menemaninya, namun Sasuke sendiri hanya acuh dengan para tamu-tamunya itu.
Banyak sekali yang mengantri di depan pintu kelasnya dari kelas 1,2 maupun 3.
"Sasuke-kun hobbynya apa?" tanya seorang tamu padanya.
"Hnn.."
"Waaa.. Kakoi." Seru kembali para tamu yang duduk di sebelah Sasuke itu. Padahal Sasuke sendiri tak menjawab apa-apa.
"Ne, kau tahu Sasuke-kun. Ketua osis dan wakilnya nanti akan melakukan acara apa, ya?" sahut tamu satunya.
"Hnn?"
"Naruto senpai dan Sai senpai, apa akan melakukan penampilan seperti dulu, ya?"
"Apa maksudmu?" tanya Sasuke sedikit terkejut mendengar nama mereka disebut-sebut.
"Wah.. Pasti keren banget." sahut tamu satunya.
"Tahun lalu, Naruto senpai dan Sai senpai melakukan cosplay gothic gitu. Keren sekali. Mereka memberi pembukaan dengan menyanyikan lagu, Naruto senpai menjadi vocalisnya dan Sai senpai pegang Bass. Kalau diingat-ingat mereka keren sekali, memang pantes mendapat sebutan Papa Mama."
Mendengar ocehan itupun Sasuke menjadi kesal dibuatnya. Dia beranjak dari kursinya dan meninggalkan para tamu-tamunya. Dia pergi entah kemana.
"Sai, apa tidak apa-apa aku seperti ini?" kata Naruto.
"Tidak apa-apa, kau manis sekali Mama." Ucap Sai dengan senyum jahilnya.
Siang itu seperti tahun-tahun sebelumnya, anggota osis pasti membuat sebuah pembukaan sebegitu meriahnya. Tahun lalu mereka bergaya ala cosplay gothic dan menyanyikan sebuah lagu. Dan untuk tahun ini, apa yang akan mereka bawakan?
To be Continued…
Ada requestkah yang akan dibawakan NaruSai nanti saat naik ke panggung?? n__n
Hahahahaa…. XD
Ditunggu reviewnya. 0
Sankyuu…
