Disclaimer: Aku tidak punya Gundam Seed/Destiny dan matahari terbit! TT_TT Aku tak punya Love in Tratorria, itu punya Washio Mie-Sensei. Aku adalah ciptaan Tuhan YME melalui my lovely mom sebagai perantara. *gakadaygnanyak*
A/N: Sami mawon! :p *hajaredmassal* Maafkan kenistaan saya karena sangat sangat sangat sang- *plak* telat meng-updet fic ini *bungkuk2*. Setengah dari fic ini kelar sehabis puasa kemaren, setengahnya lagi macet coz si komo lewat! (lagu jadul mai sista ;p) *kidding* kena WB dan sy mulai krisis humor lagi! *emang sebelumnya lucu?*plak*
Met Hari Ibu, Met Natal dan Tahun Baru! Tetotteotetblung! (sfx: lagu oplosan, alat musik: terompet kesumpel duren)
Ada yang mengalami kesulitan seperti saya? Buka FFnet lwt hape bisa, cuma waktu mo review: server tidak ditemukan! *pundung* intinya cuman bisa baca doang, tp gak bisa review mulai 25/12, ada solusi?
Warning: Makin less humor! *pundung*, hati2 garing *mendemdirisendiri*, typo masih bertebaran *sengaja*plak*.
Enjoy~
-oOoxnelxoOo-
"Baiklah, sekian rapat kita hari ini!" Kira bergaya sok seraya mengetuk ulek-ulek khas Indonesia -pengganti palu ala hakim persidangan (hanya saja tanpa wig putih beruban) sebagai tanda rapat telah berakhir. Tentu saja dengan gaya sok tegas nan berwibawa.
Alex menghembuskan nafas panjang. Mata dan bibir Cagalli sedikit berkedut tanda ia menahan emosi. Ia berkali-kali menarik nafas panjang. Setidaknya masih lebih baik daripada menarik becak atau menarik tambang, dikira ikut lomba tujuhbelasan kampung.
Luna dan Meer mendesah kecil penuh harap plus dreamy eyes mendengar suara Kira di hadapannya, sudah dipastikan mereka tak memperhatikan hasil rapat. Coba tanyakan saja hasil rapat pada mereka, pasti di jawabnya "Kira plus Alex sama dengan pasangan hidupku sampai maut memisahkan kami", yang jelas sangat tidak nyambung dengan isi rapat kecil mereka.
Miriallia memijit pelipisnya lelah sedangkan Dearka tak begitu mengikuti rapat sedari awal dan memilih memandang Miriallia. Di otaknya hanya ada kata "Miriallia Haw, Miriallia Hau, Miriau, Miiau, Miau, Miau, Pus pus sini, mau pindang?", oke, lupakan pemikiran nista Dearka!
Tapi,
Tunggu sebentar! Kalau trio kwetiau itu memang pelanggan tetap merangkap sahabat Cagalli! Kalau Dearka, sedang apa pria berkulit ngaku-ngaku erotis -eh, eksotis itu di dalam rapat penting internal mereka!?
Kalau mau di telaah, di pelajari, di kupas, di kuliti secara tajam setajam sil -ups, sebut merk!
Ini semua terjadi tepat sehari setelah kejadian, 'suasana setengah mellow bukan melon antara Kira dan Cagalli', 'terungkapnya sebuah rahasia Alex', 'adegan menggendong' serta 'pengusiran Dearka secara halus oleh Athrun', Dearka si ngakunya-eksotis kembali ke restoran dengan wajah tanpa dosa seolah tak terjadi apapun diantara mereka.
-oOoxnelxoOo-
.
Leggi Alba
...
Story 8: Accepted
.
-oOoxnelxoOo-
Beberapa hari yang lalu...
Alex tak diragukan lagi, tak dapat menyembunyikan wajah terkejutnya saat melihat Dearka dengan santai menyapanya dengan suara keras. "Yo Zala!" Teriaknya ceria serta sangat istiiiiiimewa karena langsung mendapat venom-murderous-death glare dari Alex/Athrun. Konon dapat mengakibatkan bumi mengalami fenomena 'Big Bang' (baca : bukan boyband Korea) jilid dua.
Menyadari tatapan Alex, Dearka segera meralat, "Ups mak-maksudku Za- Za- Zakat, iya! I-Itu zakat, hahaha... Sudahkah Anda membayar Zakat hari ini!?" Dearka meringis memamerkan deretan gigi putihnya yang kontras dengan warna wajahnya bak ngiklan di tipi (baca: televisi).
'Zakat?' Cagalli hampir terselip jatuh menghantam lantai ketika mendengar ucapan Dearka. Sedangkan dua orang pengunjung wanita yang akan beranjak meninggalkan restoran -di meja sebelah Dearka terkikik kecil, membuat sang pemuda merona tapi masih sempat menyapa, lebih tepatnya menggoda mereka dengan kedipan genit khasnya.
Saat Cagalli akan menghampirinya dengan malas dan keterpaksaan, Alex lebih dulu menghentikannya. "Tunggu, biar aku -"
"- eh!? Tap-tapi -"
"Tidak apa." Alex berkata tanpa melihat Cagalli. Tatapannya begitu tajam pada Dearka yang berjarak sekitar lima langkah dari tempatnya berdiri.
Cagalli menghela nafas panjang, "Baiklah, aku juga tak mau melayani playboy itu. Aku ke meja kasir dulu kalau begitu." Ia mengucapkan setengah berbisik.
Alex mengangguk kecil tanpa meninggalkan padangannya pada pemuda berambut pirang itu.
Walaupun ia melayani meja lain merangkap menjadi kasir, Cagalli tetap waspada dan mengawasi pria yang sekarang sedang Alex hampiri.
Alex sendiri diam-diam mengamati pula di sekitarnya sambil (terpaksa) melayani Dearka. Agar sang empunya tak berbuat konyol sehingga identitasnya terungkap sia-sia setelah ia menjaganya sangat rapat. "Apa yang kau lakukan di sini?" Alex mendesis padanya. Berusaha menahan agar ekspresi kesalnya tak terlihat.
"Hei, untuk apa kau berbisik begitu. Aku di sini cuma ingin numpang duduk memperhatikan target berikutnya dan melihat wajahmu -b-bercanda buddy, aku ingin makan siang di sini! Tak apa 'kan? Ini tempat umum juga." Sekali lagi tanpa dosa ia berbicara dengan keras, tanpa mempedulikan sekitar.
Alex berusaha tersenyum sekalipun banyak kedutan dan kerutan muncul di dahi dan ujung bibirnya. "Kau mau pesan apa kalau begitu?"
Dearka membuka menu makanan. Di bolak-baliknya berulang-ulang. Di putar-putar. Dikipas-kipaskan. Di kocok-kocok layaknya kocokan arisan PKK. Dilihat, diraba dan diterawang. Untung saja tidak dijilat dan dicelupin.
Tentu saja seorang Alex yang keren-dan-tenang-sejak-dikandung-Ibu, bersikap profesional dan sabar dengan permainan Dearka. Beberapa detik kemudian, Dearka mendesah lelah dan menutup daftar menu. "Hah~ aku menyerah, aku tak mengerti dan mengenal masakan Italia selain spageti dan pitsah." Ngomong 'pizza' aja pakai huruf 't' dan 's' bukannya 'zet', diakhiri dengan 'h' dibelakangnya pula.
"Lalu kenapa kau kemari?" Ucap Alex datar dan lirih.
"Bukan salahku, banyak yang mengatakan kalau restoran ini, makanannya paling enak di sekitar sini. Seharusnya kau bangga, aku memuji tempat ini. Lagipula dekat dengan kantor cabang tempatku bekerja. Salahmu juga kemarin aku tak sempat menikmati spageti bersama teman kencanku karena terus memikirkanmu, 'mengapa kau ada di sini?'" Akui Dearka.
Membuat Alex tanpa sadar menyilangkan kedua tangan di depan perutnya santai dan larut dalam pembicaraan antara sesama teman, bukan antara customer dan pekerja restoran. "Kenapa itu bisa menjadi salahku? Lebih baik kau pesan, makan dan segera pergi dari sini. Bukankah semalam sudah kukatakan untuk menjauh dan bertindak seakan kau tak pernah melihatku."
"Damn Zala, aku bukan patung yang setelah mendengar ceritamu yang menyedihkan dan menyayat hati bak kisah 'gadis korek api' lalu pergi dan berpura-pura tak mengenalmu. Atau ... menelantarkanmu bagai kucing di buang." Dearka membalasnya sangat santai.
Entah beruntung atau memang sengaja, Dearka mengambil tempat paling ujung alias mojok di restoran itu dan di sekitar mereka belum ada pengunjung lain.
"Terima kasih tapi sudah kukatakan aku tak butuh. Kumohon kecilkan suaramu itu atau nanti ada yang mendengar. Kalau kau tak mau berpura-pura, terserah padamu tapi ... panggil aku Alex di sini."
"Geez ... Aku tak suka namamu itu, aku lebih suka 'Athrun'. Kau tahu ... nama itu keren bahkan aku sudah menyiapkan nama untuk anak lelakiku kelak. Kuambil dari nama para sahabatku. Kau mau tahu Zala? Aku yakin kau mau. Well, mau tak mau dengarlah." Dearka dengan keras kepala dan ide gilanya.
Alex memutar matanya. 'Untuk apa aku harus mendengar ini?' "Dearka -"
Belum sempat Alex berkata, Dearka sudah menyela lebih dulu. "Namanya Dearka Athrun Yzak Jr. Elsman Bagaimana? Bukankah itu nama terindah yang pernah kita dengar?" Dearka mengucapkan itu penuh kebanggaan sangat puitis sampai kita bisa mendengar 'Mars Kemerdekaan' sebagai background-nya. "Yzak pasti senang mendengar ini!"
Sweatdrop!
To be honest, Yzak pasti muntah mendengar semua ini atau kalau itu sampai terjadi mungkin sebelum akte kelahiran bayi naas (karena bayi tanpa dosa itu menerima nama yang aneh dari ayahnya sendiri) tercetak, ia akan membunuh dirinya sendiri ala harakiri [1].
Alex menggeleng ringan. "Tidak lucu Dearka! Serius, tolong pergi dari sini atau -"
"Athy-po honey~ aku pembeli di sini, soon-to-be pelanggan tetap, maybe, jadi ... baik-baiklah denganku~" Dearka dengan nada manja seraya mengedipkan matanya.
Membuat Alex memutar bola matanya sebelum menipiskan matanya tajam pada sahabatnya yang sedang nyengir dengan sangat polos.
"Aku menahan diri untuk tak menyeretmu keluar dari sini Dearka. Atau kau mau aku menulis surat kaleng pada Yzak dan ayahmu kalau kau di Orb hanya bermain-main?"
Dearka memucat, "Hei! Zala!" tanpa sadar ia berteriak.
"Zala?"
'Oops!'
Kali ini Alexlah yang pucat. Ia mengenali suara itu. Saat ia berbalik, ia melihat Cagalli mengangkat kedua alisnya. Mimik wajahnya terlihat kebingungan. Ia menatap Dearka seolah mencari penjelasan, "Zala? Apa itu Zala? Nama? Siapa?" tanyanya ulang.
Otak Alex berputar bak hamster sedang treadmill mencari jawaban dari pertanyaan Cagalli. Ia sedikit melirik si pucat Dearka yang menelan ludah untuk menolongnya.
"Za-Zala? M-maksudku za-salah!" Dearka memberikan senyum paling maut sampai malaikat pencabut nyawa enggan melihatnya. Ia pun mulai berakting kembali bak bintang bollywood, "Kau salah dengar sayang~ maksudku aku pesan 'zsalad' tapi dia ini salah mendengarnya. K-kau tahu 'kan ... um ... votongan zsayur atau ... um ... vuah ... dengan dres-dressing." Ia berbicara dengan sedikit aksen sok Perancis alias bule wannabe without 'k' dibelakangnya, agar aktingnya terlihat sempurna. Entah malah mengapa terkesan seperti aksen raja minyak jelantah dari timur tengah ... tengah pasar.
Alex hampir membunuhnya kalau sampai Dearka membocorkan rahasia mereka. Cagalli menajamkan mata ke arah Dearka, membuatnya (kembali) menelan ludah diam-diam serta tetap menjaga senyum manis. "Maaf tuan, tapi kami tak menyediakan 'zalad' di sini." Cagalli menjawab setengah mengejek aksen Dearka yang sengaja di buat-buat.
Dearka hanya menjawab 'o', tanpa melihat menu dan tetap memandang wajah masam suram bin mengerikan milik Cagalli, ia melanjutkan. "Zsazabu-zsabu?"
"Kami tak menyediakan juga."
"Zsuzhi?"
"Tidak ada." Cagalli menggeleng sekali. 'Demi haumea, ini restoran Italia!'
"Kalau ... begitu ... zszate?"
'Makanan apa itu?' Cagalli menggeleng, "Tidak ada."
"Um ... zszoto?"
'Zorro?' Alis Cagalli terangkat, penuh pertanyaan di benaknya. "Hah? Yang ada pahlawan bertopeng!" Sindirnya.
Karena permainan makin zeru -ehem, seru, maka Dearka dengan tanpa rasa bersalah melanjutkan, "Zszimbabwe?"
"Itu nama negara!" Cagalli menjawab malas. 'Orang ini pasti tidak serius? Sabar Cagalli ... sabar ... atau kalau tidak, ia pasti mabuk!'
"Zszhisuka?"
"Kencan dengan Dorayaki -kau ini itu bukan nama makanan!" Cagalli mulai kesal setengah modar.
"Oh begitu?" Dearka nyegir dengan polosnya. "Um ... kalau begitu ... Zszinichi Zudo?"
Alex menghela nafas ringan.
'Nih orang cari mati!?' Sudut siku-siku empat sisi muncul sempurna di sudut kepalanya bahkan cuaca cerah di luar restoran seketika mendadak mendung, mewakili perasaan Cagalli. Mendesis, hampir mematahkan pena yang dipegangnya. "Itu nama orang, sebenarnya kau ini -"
"Hei ...," Suara berat Alex menghentikannya. Satu tangan Alex meremas lembut bahu kanan Cagalli. "Sudahlah...tak ada gunanya meladeni dia, lebih baik kembalilah ke meja kasir -"
"Hei Zal -" sontak Dearka langsung menutup mulutnya, tanpa basa-basi-busuk, Alex melontarkan tatapan tajam ke arahnya.
"Sudah kukatakan tuan, tak ada salad di sini!" Bibir Cagalli berkedut. "Apalagi sabu-sabu, sate, soto, Shizuka dan Shinichi Kudo!" Untunglah Cagalli tidak menangkap maksud Dearka.
"Syukurlah." Dearka dan Alex berkata bersamaan sambil mengelus dadanya ... masing-masinglah! Masa dadanya ... Ca –Cambing, maksudnya!
Kegiatan kompak serempak mereka membuat Cagalli menatap mereka dengan penuh tanya.
Alex yang menyadari langsung mengambil posisi 'cool mode-on', kemudian ia berdehem. "Ehem, ma-maksudku syukur kalau ia mengerti. Sekarang kembalilah ke meja kasir atau lihatlah Kira-san mungkin ia butuh sesuatu di sana."
Cagalli mengangguk ragu, melihat curiga pada gelagat keduanya. Setelah Cagalli lenyap dari pandangan mereka, Alex kembali menatap tajam nan dingin pada Dearka.
"Kuharap kau segera lenyap dari sini Dearka. Kau terlalu menarik perhatian."
Dearka cemberut. "Tak sengaja sob! Baiklah-baiklah, kalau kau ingin aku pergi, aku akan pergi," Dearka mulai berdiri, sedetik kemudian duduk kembali dengan cepat, membuat Alex mengangkat alisnya. "-aku pesan salat atau pitsah atau spageti atau -terserah kaulah. Pergi sana, aku sedang sibuk." Alex membuka mulut lalu menutupnya kembali.
Tiba-tiba bulu romanya berdiri dan samar tercium sedikit bau menyan, dupa, melati, kamboja dan parfum (diduga) mahal abal-abal kw satu. Belum lagi lampu di restoran tiba-tiba saja merem-melek. Ia sadar apa yang menyebabkan Dearka bertingkah seperti itu dan siapa lagi kalau bukan -terlambat, mereka sudah mendekat.
Sebuah tangan dengan fresh menipedi terselip di lengannya, "Alex-kun~ aku merindukanmu~" Ucap Meer manja. Menempel ketat pada Alex.
Tak lama satu tangan lain terselip di lengan satunya. "Alex-san~ lama tak jumpa." Suara tak kalah manja keluar dari bibir Luna.
Posisi Alex sekarang sungguh beruntung (?) Ia berada diantara dua orang gadis cantik. Gesture mereka, cukup dapat membuat rahang Dearka terbuka lebar disertai matanya yang membesar.
Alex merasa tak nyaman dengan keadaan ini. "Ehm ... h-hai, bisa lepaskan saya. Saya sedang menerima pesanan." Kata Alex datar dan berusaha untuk sesopan mungkin.
Kedua gadis itu masih larut dalam harum dan kerasnya tubuh seksi menggiurkan nan sikspek (?) Alex Dino. Entah mereka mendengar atau mengacuhkannya, tiba-tiba tubuh mereka terseret kebelakang, menjauh dari Alex.
Para gadis sudah menyiapkan muka sangar ala penjahat DPO, muka angker ala mak erot, tak lupa sedikit muka manis ala kadarnya. Siap menggempur siapapun yang berani menyeret mereka menjauh dari pujaan hati mereka. Siapapun itu, mereka siap mati mengenaskan di tangan duo ML.
"Apa yang kau lakukan -" Ketika siap menyemprot tekanan tinggi pada si penganggu, mereka terhenti. Wajah sadis mereka berubah menjadi pucat seketika.
"K-Kira/C-Cagalli-sama!" ucap mereka bersamaan sedikit gugup. Hampir saja Luna menulis wasiat kemodarannya sendiri, dan Meer kehilangan suami dan warisan masa depannya.
"Hei! Kenapa kau harus di sentuh oleh Kiraku!" protes Meer yang ditarik oleh Cagalli.
"Bukan salahku~ Kira-nii sendiri yang mau pegang-pegang aku~ benarkan Kira-sama~?" balas Luna. Bukannya Kira yang menarik malah sekarang, Luna yang dengan senang hati merangkul lengan Kira.
Sweatdrop berjamaah!
"Cagalli-sama lepaskan aku, biar aku menjauhkan makhluk tak tau malu, tak steril dan mengandung bakteri itu menjauh dari Kiraku sebelum ia terkontaminasi!" Meer meronta dari genggaman Cagalli tanpa melihat ekspresi dari si gadis bersurai pirang itu.
Twitch!
"Kira-sama~ silahkan pegang-pegang aku di manapun kau mau~" Seolah tuli oleh kemurkaan Meer, Luna makin gencar melakukan aksinya.
"Err ..." Kira bingung, ia memang menyelamatkan 'keperjakaan' Alex, tapi sekarang ia juga harus menjaga 'kehormatannya' sendiri.
Sweatdrop!
"Genit!" Meer makin murka.
"Iri!" Balas Luna tak kalah nyaring.
"E-ettou ..." Kira mencoba menghentikan, tapi sepertinya tak mereka dengarkan. Ujung bibir Cagalli berkedut.
Twitch, twitch!
Warna muka Cagalli mulai berubah menjadi merah. Urat halus siku-siku tak terhitung muncul di kepala pirangnya. Matanya terpejam erat.
Tak lama lonceng pintu masuk restoran kembali berdenting, menampakkan sosok salah satu dari anggota trio kwe-tiau, Miriallia Haw. Namun, saat melihat aura gelap Cagalli dari jauh, ia mengurungkan niatnya dan kembali keluar restoran, menutup pintu restoran dengan perlahan dan hati-hati.
"Yo Ath –eh Alex kau mengenal this two lovely lady? Kenalkan padaku dude!" Dearka berdiri menghampiri mereka. Dengan seringai genit dan wajah keblabasan pede-nya. Sedangkan Alex memutar matanya. Wajah Cagalli makin memanas melebihi panasnya inti bumi.
"Jangan sentuh-sentuh!" teriak Meer.
"Terserah aku!" Luna tak peduli.
Dearka malah bersorak gembira, bertepuk tangan, dianggapnya ini sebuah pertunjukkan gratisan, "Wow, they're hot Za –eh Alex! Untukku ya?"
"Lepaskan dia, perempuan laknat!" Meer meraung-raung, mencicit, menggonggong dan mengeong(?).
"Takkan kulepaskan selamanya!" Luna makin mengeratkan tangannya, sedangkan Kira mulai mencoba melepaskan diri dari cengkraman makhluk buas dan beringas disebelahnya.
"Boleh ya? Ya ya ya?" Dearka malah mempunyai 'acara sendiri, merajuk pada Alex yang tak peduli pada Dearka yang mengitarinya.
Twitch! Twitch! Twitch! Jeder!
Err, suara yang terakhir memang asli suara petir di luar sana, nampaknya akan ada hujan deras.
Thats it! Cukup sudah, ia mendengar semua ini!
Kira dan Alex menyadari ini. Alex menutup kedua telinganya santai, Kira menelan ludah, Luna dan Meer masih terhanyut dalam perdebatan mereka, Dearka hanya mengangkat kedua alisnya melihat gelagat aneh Alex.
"Ka. Li. An!" Cagalli membuka suara perlahan dan mengucapkan itu penuh penekanan. Sebelum akhirnya, "KELUAR DARI SINI!"
Seketika itu pula kota Orb diguncang gempa kecil selama sepuluh detik.
'Ouch, my innocent ears!' batin Dearka.
Di luar restoran dan sekitarnya semua kegiatan sempat terhenti selama beberapa detik karena mengagumi raungan singa –eh kekuatan pita suara Cagalli, sebelumnya akhirnya ke posisi semula seolah tak terjadi apapun.
"Selamet-selamet, terima kasih Haumea kau penyelamatku." Gumam Miriallia tepat di depan pintu masuk, sedang melakukan sujud syukur.
-oOoxnelxoOo-
Setelah mereka semua mengobati telinga, otak dan pikiran mereka, saling meminta maaf dan salam-salaman tanpa ketupat dan angpao, tak lupa melakukan silahturahmi serta perkenalan pula pada customer yang lain bahkan ada yang bertukar alamat rumah, nomor telepon, pin bbm sampai pin atm (?), ada juga yang sempat-sempatnya cari kesempatan bertukar baju sampai kekasih (?), dan terakhir ramah-tamah (acara makan-makan memang selalu ditunggu), pertunjukkan sendratari (?), lomba joget Bang Jali-Jali dan selalu-tersenyum, restoran pun kembali layak huni dan damai seperti sedia kala.
Yang paling mengejutkan dan mungkin menjadi trending tropic di social media adalah, trio kwetiau dan Dearka 'pecinta wanita abal-abal' Elsman berada dalam satu meja. Mereka bahkan seperti sudah mengenal lama. Mereka berbincang dan bercanda. Makanan dan minuman yang dipesan pun seolah transparan dan hanya bagai hiasan semata di tengah meja mereka.
Cagalli merasa heran, dilihatnya dari jauh, sudah jelas dari gelagat Dearka, ia merayu dan menggoda mereka, tapi mereka serasa tak keberatan. Hh, sepertinya mereka kekurangan stok laki-laki, mungkin seperti itulah yang dipikirkan oleh Cagalli. Mungkin hanya Miriallialah yang terkadang tak meresapi arah pembicaraan mereka. Kadang wajahnya merasa bosan dan sedikit terganggu dengan sikap genit Dearka. Melihat kawannya itu, Cagalli terkikik kecil.
"Kalau kau tertawa sendirian seperti itu, mungkin mereka mengira dirimu sudah kehilangan kewarasan." Sindir sebuah suara yang membuatnya langsung terdiam dengan wajah merona.
Cagalli cemberut di balik mesin kasirnya, "Humph, urus saja urusanmu Dino!"
Alex menghela nafas panjang. "Hh, istirahatlah. Biar aku yang menjaga mesin kasir ini –"
"Dan membiarkanmu merampok kami. Tidak terima kasih." Balas Cagalli tak kalah kejam.
"Dan terima kasih juga padamu nona yang hampir membuat pelanggan kita lari ketakutan dan menjadikan restoran ini bangkrut karena teriakanmu. Ah, selain bangkrut, mungkin kita harus menanggung biaya pengobatan telinga mereka –"
"Urgh, baiklah Goji kau menang! Aku akan istirahat. Hh, aku 'kan cuma ingin membantu selagi Kak Kira keluar menemui pemilik ruko." Ujarnya tak bisa menyembunyikan semburat merah di pipinya.
"Tak apa. Tak banyak pengunjung hari ini. Mungkin karena hari hujan dan ...," Alex melirik Cagalli, "Takut oleh teriakkanmu." Godanya seraya menyeringai.
Ucapan Alex membuat Cagalli memerah semerah warna lipstick yang dipakai neneknya Meer. Melihat itu seringai Alex makin melebar. Sangat menyenangkan menggoda adik dari Kira Hibiki ini. Sedangkan Cagalli menggumam sesuatu yang tak tertangkap oleh polis –eh telinga Alex.
Dengan berat hati, Cagalli dengan ragu dan slow motion meninggalkan sarang –eh tempatnya. Tapi ia hanya berdiri, tak beranjak kemanapun. Alex kembali membuka suara, "Tunggu apa lagi? Aku takkan mengambil uang sepeser pun dari mesin kesayanganmu ini."
"A-aku tahu. Tapi –"
"Jangan-jangan kau lupa arah ke dapur atau kamarmu sendiri? Atau kau memang sengaja ingin kuantar dan kugendong biar tak tersesat, nona?" Goda Alex lagi, membuat Cagalli kembali cemberut.
Semburat merah muda muncul lagi di wajahnya, "Tsk, thanks Goji! A-aku bahkan bisa kembali ke kamarku dengan menutup mata!" Balas Cagalli angkuh, sedikit gelagapan.
"Hm, benarkah? Lalu mengapa kau masih berdiri di sana? Gunakan waktumu sebaik-baiknya nona!"
"Urgh, Goda Kira-nii sana! Kalau kau bersikeras kenapa tak kau saja yang beristirahat?! Sejak kapan pembendaharaan kata-katamu menjadi sangat banyak dan menganggu, huh?! Pasti karena kau bergaul dengan lelaki hidung belang itu?" Cagalli sedikit melirik meja di mana para sahabatnya direbut dan dengan di paksa melayani lelucon dari si hitam kelam nan ngakunya-eksostis, Dearka the-peanut-playboy (baca: kacang si playboy –ehem, maaf terbalik. Maksudnya, playboy kacangan).
"Ah, begitu, jadi kau cemburu dengannya. Sahabatmu bisa bergaul cepat dengannya sedangkan kau selalu beradu mulut dengannya."
Wajahnya makin memadam antara merasa malu dan marah. "Tsk, kau benar-benar cari mati ya Dino?! Tinggal pilih, kau mau kujadikan fosil dan peninggalan sejarah seperti saudara-saudaramu yang lain atau kujadikan tiramisu [2] hah?!"
Alex hanya tersenyum, "Kau malu bergabung dengan mereka?"
"Aku lebih malu menjadi genit seperti mereka, aku hanya ingin menyelamatkan Milly dari cengkraman para spesies-spesies mengerikan perusak moral itu!"
"Excuse-excuse." Sindirnya singkat.
"Hei!" protes Cagalli. "I-itu benar, lihatlah wajah Milly yang teraniaya di sana menghadapi wajah cabul p-pria itu –eh tunggu benarkah pria itu kenalanmu?"
Pertanyaan Cagalli sungguh di luar perkiraannya. Alex sedikit terkejut tapi berhasil menyembunyikannya. "O-oh itu, ya t-teman lama, ia disini hanya untuk kunjungan bisnis."
"Hm-mm," Cagalli mengangguk polos. "Kenapa kau bisa berteman dengan makhluk seperti itu? Tapi yang jelas kalian berdua sangat aneh, setidaknya kalian punya kesamaan." Ejek Cagalli lirih.
"Hm?"
"Eh ti-tidak hehe, tidak!" Cagalli menghela nafas lega, "tapi, mengapa ia sering sekali memanggilmu ... "Zala"?"
Dibalik wajah tenangnya, manik hijau Alex membesar, 'Sial! Ia menyadarinya?!' Mulut Alex membuka tapi segera menutup kembali. Apa ia harus mengatakan sebenarnya pada Cagalli yang sekarang sedang memasang wajah polos dan bertanya-tanya serta setia sampai akhir hayat menunggu jawaban dari Alex. "Se-sebenarnya ..."
"Ah, disini rupanya!"
Oh, Tuhan, terima kasih. Mungkin begitu pikir Alex setelah ada suara lain nan familiar menginterupsi soon-to-be-confession mereka. 'Hh, hampir saja.' Diam-diam Alex menghela nafas lega. Lalu ia menatap sang malaikat penolong yakni, Kira Hibiki. Mulutnya mengucap "terima kasih" tanpa suara padanya.
Kira hanya mengedipkan mata padanya yang tak lolos dari penglihatan Cagalli. "Ki-Kira-nii untuk apa kau berkedip seperti itu padanya?" Tanya Cagalli sedikit jijik.
Kira tersentak, cengiran konyol muncul di wajahnya. "B-berkedip? Oh -itu -anu, ka-karena mataku kelilipan ya di sini anginnya kencang sekali. Hahaha ..." Kilahnya.
Hening!
Terdengar suara rintik hujan menemani keheningan mereka, tak lupa nyanyian kodok sebagai backing vocal-nya. Yeah, sangat tenang, begitu damai meski hanya sesaat. Sejak kapan suasana Leggi Alba seperti deskripsi di atas. Tak mungkin!
Sweatdrop!
Cukup ngiklan fairytale-nya, kembali ke suasana runyam Leggi Alba!
Kalau bisa, Alex ingin menghantamkan kepalanya pada mesin kasir. Tapi untunglah tak dilakukannya, ia bisa out-of-chara-akut kalau melakukan hal itu.
"A-angin? Dalam ruangan tertutup seperti in?" Alis Cagalli bertautan.
"I-iya mak-maksudku angin AC -ya AC, kenapa kencang sekali ya? Bikin aku kelilipan saja?"
Ralat, Alex bukan ingin menghantamkan kepalanya pada mesin kasir melainkan ingin mengangkat mesin kasir ini dan menghantamkan dengan bangga pada kepala birunya.
"A-AC? Bukannya kita memakai pemanas karena di luar hujan?" Alis Cagalli makin bersentuhan. Ia melihat Kira seperti tubuh Kira telah diambilalih oleh makhluk asing.
"Eh?! O-Oh iya pantas hangat -eh, mak-maksudku angin dari luar tadi hehe." Kira menggaruk belakang kepalanya. "K-kenapa baru sekarang ya kelilipannya? Aku juga bingung?" Ujar Kira tegang, melirik Alex seolah berkata "tolong aku".
Sebagai warga negara yang baik dan berbudi luhur dan menganut asas-asas dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar '45 -walau ia warga asing, ia sangat menyukai peraturan milik bangsa Indonesia, tentu saja Alex pasti akan membantu Kira.
"Be-benar juga kok bisa?" Cagalli memiringkan suara. Menatap Kira dengan pandangan aku-polos-sekali-ada-masalah?. Tak ada kecurigaan sama sekali di wajahnya. Membuat Kira mengucurkan keringat dingin.
'Entah kepolosan Cagalli ini anugerah atau musibah bagi keluarga kami?' Kira berpikir sesat tentang adiknya sendiri. 'Kadang aku meragukan ia saudara kandungku.'
Bayangkan bila Cagalli dapat mendengar isi hati Kira. Kira-kira apa yang terjadi saudara setanah air? Sudah pasti wassalam –ehem, ya bayangkan sendiri.
Alex menjernihkan tenggorokannya, mencoba mengalihkan pembicaraan yang makin tak jelas arahnya. Kepala cokelat dan kuning itu serempak berjamaah langsung menoleh pada Alex.
Akhirnya ... Berhasil! Berhasil! Hore!
Cough! Kembali ... ke Alex, "Lalu Kira-san, bagaimana hasil pertemuannya?" Tanyanya datar.
Cagalli kembali menatap sang kakak. Ia teringat sesuatu, "Ah benar juga! Apa hadiahnya kali ini?"
Alex mengangkat satu alisnya, "Hadiah?"
Kira tersenyum. Dikeluarkannya sebuah kertas, lengkap dengan tanda tangan Pak RT, Pak RW dan tak lupa stempel kelurahan setempat. Alex memberi Kira dan Cagalli tatapan "apa ini?".
Kira membuka mulutnya, "Setiap tahun sekali, pemilik ruko ini selalu mengadakan sebuah kompetisi kecil. Pesertanya hanya penyewa rukonya saja. Jumlahnya sekitar dua puluh peserta, meningkat dibanding tahun lalu. Ini semua dimaksudkan agar menarik minat wisatawan lokal berkunjung ke kota kecil ini lebih banyak lagi."
"Hm-mm." Alex mengangguk kecil. "Kompetisi macam apa? Bagaimana -"
"- lalu-lalu apa hadiahnya?" Cagalli tak sabar.
"Sebentar Cagalli, biar kujelaskan pada Alex-kun, ia masih baru di sini. Singkatnya, kebanyakan penyewa ruko di sini membuka bisnis restoran seperti kita. Kompetisi dimulai mulai tanggal 15 sampai 21 bulan depan. Pemenangnya adalah yang mendapatkan pembeli terbanyak, bukan dilihat dari jumlah keuntungan yang di dapat."
"Hn, masuk akal. Sesuai dengan tema yang di usung, menarik minat wisatawan lebih banyak." Balas Alex.
Kira mengangguk cepat dan semangat.
Cagalli makin tak sabaran, "Cukup penjelasan nanti saja dilanjutkan! Sekarang, apa hadiahnya Kira-nii -"
Mengacuhkan Cagalli, Alex bertanya lagi, "Apa kalian pernah memenangkannya?"
Wajah Kira tiba-tiba merona, ia menjawab nervous. "Err, haha, s-sayangnya belum pernah."
"Begitu." Gumam Alex datar seraya menyilangkan kedua lengan di dadanya.
Cagalli cemberut, "Humph, apa hadiahnya -"
Masih mengacuhkan Cagalli, Kira berbicara lagi, "Dengan adanya kau disini mungkin kita bisa memenangkannya!" Mata Kira berbinar membayangkan hal itu.
Alex tak menjawab hanya tersenyum tipis.
Cagalli melambai-lambai, mencari perhatian pada dua sejoli di depannya. "Woi, apa hadiahnya -"
"Berapa jumlah pembeli terbanyak tahun lalu?"
Satu tangan Kira memegang dagunya, "Hmm, jumlahnya hampir seribu orang. Itu karena pada penutupan kompetisi akan ada semacam festival dan parade di sepanjang jalan ini. Dan ... tentu saja, kembang api serta pengumuman pemenang!"
"Sangat meriah dan begitu banyak … orang." Alex tertegun dan terlihat ia sedikit … berpikir.
Cagalli masih mencari cara menarik perhatian mereka, ia bahkan sempat-sempatnya melambaikan bendera Jepang beserta tiangnya, menari gang-enam style, melakukan salto, membaca puisi sampai berjalan di atas beling! Malah, pengunjung restoran itu mengira ada hiburan ekstra di restoran ini. "Hello? Hadiah? Hadiahnya apa –"
"Ada apa Alex-kun? Kau baik-baik saja?" tanya Kira khawatir dengan perubahan sikap Alex.
"Huh? T-tidak."
"Kau masih tetap akan menolongku 'kan?" Kira dengan puppy eyes-nya, siapa yang bisa menolak mata memohon se-cute seorang Kira Hibiki?
Alex tersenyum kecil, "Tentu saja. Tapi ... aku hanya akan berada di balik layar –"
"- Maksudmu?" alis Kira bertautan.
"Kita akan melakukan observasi, melakukan sedikit perubahan di sana-sini. Siapa saja pengunjung festival? Membuat makanan baru, mengubah dekorasi ruangan, mempromosikan restoran ini dan lain sebagainya. Dan yang akan melakukan semua itu adalah kau ... Kira-san." Jelas Alex.
'eh?!' Kira hanya melihat Alex bingung seraya mencerna maksudnya. "Yang memutuskan apa yang akan kita hidangkan adalah aku?" Alex mengangguk. "Yang memasak seluruh makanan adalah ... a-aku?" Alex mengangguk lagi. Manik lavender Kira perlahan membesar.
"Hadiahnya apa –ah sudahlah, pasti takkan Kira-nii jawab lagi. Aku capek, istirahat saja deh." Cagalli berbalik, ketika akan melangkah,
"APA!"
Burung-burung dalam radius lima kilometer bertebangan panik,
Beberapa bangunan semi-permanen roboh dengan sempurna,
Suasana di Timur Tengah makin panas,
Pengunjung restoran tetangga dilaporkan tiga pingsan, satu koma, dua setengah kejang-kejang,
Err, bukan –bukan karena teriakan 'sakaratul maut' itu melainkan memang sudah takdir dari sang pencipta.
Tapi akibat kejadian itu beberapa pengunjung mengalami kerugian, seperti:
Pipi Meer tercoret lipstick pemberian neneknya,
Bisul Dearka pecah seketika,
Luna tersedak es cendolnya,
Miriallia hampir terjatuh dari kursinya,
Cagalli membatu,
Alex membeku.
Tak disangka tak diduga, the oh-I'm-so-calm-and-perfectly-sweet-like-a-candy, Kira Hibiki berteriak layaknya banci kecepit (taman) lawang [3].
-oOoxnelxoOo-
Meanwhile, beberapa menit sebelum kejadian 'kekhilafan dan perusakan karakter' si manis dan lembut Kira Hibiki karena teriakan seriouesanya, marilah mengintip sejenak, apa yang membuat Cagalli iri (walau ia nggak bakal mengakui walau diinterogasi selama tujuh hari tujuh malam tujuh jam tujuh turunan tujuh rupa) pada Dearka dan ketiga sahabatnya yang asyik ber-chit-chat-ria.
"Benarkah?" Meer memoles bibirnya dengan cat dind -ralat, lipstick keluaran terbaru kiriman neneknya.
"Alex-sama menyukai cabbage roll [4]?" Tanya Luna antusias.
"Benar, itu makanan favoritnya!" Jawab Dearka bangga. Sampai bisa terlihat ujung hidungnya maju lima mili.
"By the way anyway busway milkyway subway freeway skyway, bagaimana kalian bisa berteman?" Tanya Meer kembali menebali bibirnya dengan lipstick warna merah membara. Hanya itu bahasa asing yang ia bisa.
"Benar! Aku juga penasaran! Bagaimana makhluk -ehem, orang sepertimu bisa kenal akrab dengan Alex-san?" Luna makin penasaran.
"Oh itu, kami sahabat dari kecil!" Jawabnya makin bangga.
"Heh?" Akhirnya ada pembicaraan yang menarik indera pendengaran seorang Miriallia Haw, setelah sebelumnya ia malas mendengar kesombongan Elsman dan lebih tertarik memainkan sedotan minumannya.
Herannya, kedua sahabatnya itu begitu percaya dan tertarik dengan setiap kata yang keluar dari mulut perayu ulung bak salesman panci kreditan itu.
"Benarkah? Selama itu -eh emang umurmu berapa ya?" Meer nyengir. Ia sampai lupa menanyakan umur Dearka dan lainnya, yang ia ingat hanya nama dan segala yang berhubungan dengan Alex.
"Ath -A-Alex," Dearka hampir terselip, "kami bertetangga dan satu akademi dengannya walau aku lebih tua dua tahun darinya."
"Heh? Kau lebih tua dari darinya?" Meer terbelalak.
"Tentu! Tak terlihat ya? Wajahku yang rupawan ini memang selalu terlihat muda!" ujar Dearka angkuh.
Luna dan Meer terkikik kecil.
Miriallia memutar bola matanya. 'Oh puhlease …sangat terlihat jelas! Dasar playboy buluk! Apa ia tak melihat kerutan di wajahnya?!' batinnya.
"Berarti mulai saat ini kami harus memanggilmu Dearka-san?" Ujar Meer.
"Kau mau membuatku terlihat seperti om-om kesepian?" Balas Dearka tanpa senyum.
"Lalu apa? Atau mungkin Dearka-niichan?" goda Luna.
"Aku terdengar seperti paedofilia!" Dearka tersenyum lebar.
"Lalu? Apa cukup dengan Dearka saja? Rasanya kurang sopan." Tanya Meer. Tumben, ucapannya dapat didengarkannya oleh telinga telanjang.
'Sejak kapan kalian mengenal sopan santun?' pikir Miriallia seraya menyeruput es beras kencurnya.
"Begitu ya? Kalian memang gadis-gadis yang manis. Kalau kalian memaksa, kalian boleh memanggilku dengan sebutan abang –"
'bangkotan!' sambung Miriallia dalam hati, kesal.
"- atau kakanda –"
Miriallia hampir menyemburkan minumannya mendengar itu sedangkan duo unyu –eh racun –eh ML tertawa geli.
"- atau, " lanjut Dearka menatap Miriallia penuh arti, membuat Miriallia mengangkat alisnya tinggi, "khusus dirimu cantik, panggil aku 'Aak'."
Mulut Miriallia menganga, 'Aku lebih suka memanggilmu 'e*k'!'
Kontras dengan Miriallia duo ML malah ber-koor-ria mengucapkan "aw so sweet" atas ucapan Dearka.
"Tidak terima kasih, aku lebih suka memanggilmu dengan ... Dearka saja." Balas Miriallia dengan senyum kecut sangat dipaksa plus mata menyipit tajam. 'Atau aku lebih suka tak memanggil namamu sama sekali,' imbuhnya dalam hati.
Dearka sadar ia tak menyukai, tapi ... hey, slogan hidup Dearka, semakin susah diraih semakin ia gencar mendapatkannya. Ia mengacuhkan saja sikap Miriallia, nanti juga ia akan merasakan 'ketulusan hatinya', itupun kalau dia ingat dan tobat dari playboy-nya.
"Ne, Dearka-kun, berapa usiamu?" Tanya Luna.
"Kau masih kuliah atau sudah bekerja?" Tambah Meer.
"Well, ladies kalau kalian sebegitunya tertarik mendengarkan biografiku, akan kuceritakan secara singkat, tak padat, jelas juga diragukan dan sangat tumpul. Dengar baik-baik. Hm, twenty one my age ya, di usiaku ini aku sudah membangun sebuah kemakmuran yang hampir menimbulkan konspirasi karena labil ekonomi. Untunglah di sekitarku tercipta suatu harmonisisasi sehingga ego takkan dikudeta walau banyak menimbulkan kontroversi hati. Begitulah cerita sangat singkat hidupku dan aku ... sangat bangga.[5]" Papar Dearka dengan vocabularisisasi tingkat khayal –hanya manusia bejo yang bisa menelaah tiap detail susunan kata-kata abstrak futuristik, absurd dan awkward yang tak terdapat di kamus bahasa manapun baik di dunia dan akhirat.
Hening!
Miriallia, Luna dan Meer memandang aneh Dearka. Tak ada respon apapun dari mereka. Selang beberapa detik, Meer akhirnya berkedip. Berkedip dan berkedip. Luna masih lebih baik, ia mengangguk perlahan. Tanda mereka memahami dongeng –ralat, kisah hidup dramatis nan tragis dari Dearka. Kalau bisa Miriallia si realistis tapi tak suka yang tak praktis biarpun gratis karena bikin sakit meringis ini, ingin membalik meja dan mengatakan keras-keras betapa pria ini sangat menyebalkan dengan sikap overdosisconfident-nya ini. Tapi Miriallia memilih untuk mengacuhkan pria itu dengan menegak habis minumannya.
"Oh, b-begitu ya." Akhirnya Meer bersuara setelah matanya mengalami iritasi karena terlalu banyak berkedip. Tak lupa kembali mengoles bibirnya kembali. "L-lalu soal Alex-sama?"
Dearka hampir bisa mengalihkan pembicaraan soal chef berambut biru itu, tapi nyatanya tak semudah yang dibayangkan. Gadis-gadis ini lebih keras kepala dari yang ia duga, mereka sangat ingin mengetahui Alex lebih dalam. Dearka mendesah pelan.
"Zal –ehem, D-Dino," Dearka memulai kembali, menatap duo ML, Miriallia hanya melirik Dearka, "ia suka memasak dari kecil. Ia memang berbakat di bidang itu. Kurasa karena ibunya. Beliau juga seorang chef. Aku masih ingat bila bermain ke rumah Alex, Bibi Len selalu memasakkan kami masakan top dari berbagai dunia dengan rasa yang tak terbayangkan. Ia, ibu yang luar biasa. Alex sangat menyayangi beliau, begitu juga sebaliknya, kurasa dari sanalah bakat memasak menurun padanya. Dan ... wajah cantik Alex sepenuhnya diperoleh dari Bibi Len, ia sama sekali tak mirip dengan Paman Pat. Sayang, Bibi Len sudah –ehem, dan Alex belum pernah terlihat dekat dengan seorang gadis kecuali –"
"Benarkah?!" duo ML mengucapkan dengan kompak wajah mereka berseri dan bersinar dengan begitu silaunya sehingga dilarang menatap mereka dengan mata telanjang karena akan mengakibatkan ke-autisan.
Miriallia makin memincingkan matanya setelah mendengarkan cerita Dearka.
"Be-benar. Kurasa kalau dilihat dari sikapnya, ia masih sama seperti dulu, mungkin banyak wanita yang menyerah karena sifat dingin dan tertutupnya," Dearka menatap singkat pemuda berambut biru yang menyeringai pada gadis bermrambut pirang yang kelihatan kesal padanya. "Mungkin ..." Gumam Dearka lirih sambil mengangkat cangkirnya, senyum tipis tersungging di wajahnya setelah menyaksikan adegan itu.
Sementara duo ML larut dalam kebahagiaan karena si chef kepala biru itu masih single aka jomblo aka available aka edible(?) sehingga tak mendengar gumaman Dearka, berbeda dengan Miriallia yang masih memasang 'telinga waspada'.
"Tapi ... kau salah tuan. Alex-san tidak dingin, melainkan ia sangat ramah. Terutama pada pelanggan di restoran ini. Ia juga membantu Kira-nii dan Cagalli tanpa pamrih." Sahut Miriallia. Membuat Luna dan Meer memperhatikan adegan adu pandang mereka.
"Ho ... benarkah?" Mata Dearka melebar, dipandangnya singkat lagi sahabatnya itu. 'Si rambut pirang itu yang bernama Cagalli bukan? Apakah sikap ramah Athrun, keinginannya membantu orang bernama Kira, hanya topengnya saja? Kalau memang ia tulus, ia pasti sadar, semakin lama ia berada di sini, semakin ia merugikan mereka. Tapi Miriallia benar, Athrun sangat ramah pada pengunjung restoran ini, dari matanya sama sekali tak terpancar kepalsuan, sama seperti saat ini –saat ia menatap gadis bernama ... Cagalli. Apakah sebuah kemajuan? ia lama tak bersikap seperti itu semenjak ... –dan ia hanya bisa berbicara seperti itu dengannya. Menarik, sungguh menarik. Athrun perlahan-lahan ... kembali! Tunggu sampai Yzak mendengar ini!'
"... Woi?" Miriallia mencoba membuyarkan lamunan Dearka.
Karena tak kunjung menjawab maka Luna dan Meer ikut bersuara.
"Kurasa ia ... tertidur." Tebak Meer.
Luna memutar matanya, "Dengan mata terbuka? Yang benar saja?" sindir Luna meragukan kemampuan kerja otak Meer.
Meer memanyunkan mulutnya, "Lalu apa nona-sok-tau?"
"Kurasa ... rohnya telah di cabut."
"Eh?! Benarkah?"
Sontak omongan ngelantur duo ML itu mendapat dooprize tanpa diundi berupa death-glare dari Miriallia. Keduanya langsung menciut dan menutup mulut mereka.
Miriallia mencoba lagi, "... Hei Elsman –"
"A-Apakah A-Alex selalu seperti itu bila bersama gadis rambut pirang yang disana?" mengacuhkan para gadis, Dearka bertanya tanpa mengalihkan matanya dari scene di depannya.
Miriallia mengikuti arah manik Dearka, "Yang mana –oh, Cagalli? Hmm-mm, mereka bagai kucing dan anjing –"
Meer memotong ,"Siang dan malam –"
Sahut Luna, bergantian, ialah yang menginterupsi ucapan Meer, "Langit dan bumi –"
Lanjut Meer, "Aegis dan Rouge –"
Luna tak mau kalah, "Minerva dan Archangel –"
"Petani dan si kancil –"
"Serigala dan gadis kerudung merah –"
"Edward Culun dan Jacob Blek –"
"Romeyo dan Juliyet –"
Dearka sweatdrop, Miriallia kembali melemparkan tatapan sadis level akut pada mereka. Membuat mereka nyengir dengan polosnya.
"Apa Cagalli-chan pekerja di restoran ini?"
"Setengahnya, Cagalli –jangan memanggilnya dengan 'chan', ia tak suka. Cagalli adalah salah satu pemilik restoran ini, adik dari Kira-nii –nah itu pemuda yang baru masuk restoran," tunjuk Miriallia.
Entah sejak kapan mereka berdua terlibat pembicaraan yang normal. Sepertinya mereka juga tak menyadarinya. Dearka mengangguk perlahan mendengarkan penjelasan Miriallia seraya memperhatikan seorang pemuda bersurai cokelat berjalan menghampiri Alex dan Cagalli. Tak hanya mereka yang melihat Kira, duo ML pun tak kalah heboh sendiri saat satu lagi pengeran mereka telah tiba, Meer kembali mengoles bibirnya –sungguh apakah ia tak mempunyai kerjaan lain selain mengoles dan menebali bibirnya. Luna merapikan penampilannya, disambarnya minuman yang es-nya hampir mencair itu.
'Pemilik? Yang membuatku penasaran, kelihatannya ia masih muda?' tanya Dearka dalam hati. "Di mana orang tua mereka?"
Miriallia terkejut. Sayangnya, duo ML tak memperhatikan mereka karena sibuk pada dunianya masing-masing. Matanya terpancar kesedihan, "Mereka ... meninggal, mengalami kecelakaan beberapa tahun yang lalu." Balas Miriallia sangat lirih.
'Oh shit!' Dearka tak kalah terkejutnnya. Dearka mengatakan itu dalam pikirannya bukan karena tak menghormati mereka melainkan ia membawa hawa sedih dalam ruangan ini. "Ma-maaf –"
"- Bukan salahmu. Karena itulah, Kira-nii menjadi tulang punggung keluarga. Restoran peninggalan keluarga inilah yang menjadi sumber penghasilan mereka. Ia bahkan tak melanjutkan pendidikannya karena harus bekerja. Kuakui, sejak adanya Alex-san di sini, restoran ini berubah menjadi ramai. Bukan hanya dari segi finansial tapi ... suasana tempat ini." Ujar Miriallia seraya tersenyum tipis memperhatikan Alex, Kira dan Cagalli dari kejauhan.
"Kurasa ... begitu juga dengan Athrun." Gumam Dearka lirih, membuat Miriallia menoleh padanya.
"Apa katamu?" tanya Miriallia, ia tak mendengar dengan jelas apa yang Dearka katakan tadi.
"Ti-tidak, tidak apa-apa. B-bukan hal yang penting." Kilah Dearka cepat. "A-Anu ... ba-bagaimana sikap Kira-nii sendiri terhadap Alex?" bukannya Dearka berpikir buruk tentang Kira, tapi tetap saja Athrun sahabatnya. Ia mengkhwatirkan Athrun, mungkin saja Kira mengetahui kelemahan terdalamnya dan mengancamnya.
Seolah ada kabel tak terlihat yang tersambung di antara mereka, ketika Miriallia hendak menjawab, Meer –yang kini memiliki bibir seksi dan tebal ala Angelina Jelly memotong. "Kira-sama is sweet like a sugar. Kira-sama memperlakukan Alex-sama dengan sangat baik. Mereka adalah makhluk paling sekseeh yang tercipta di dunia ini. Mereka sempurnaaah. Mereka sesuatuh. Mereka cetar membahanah, bla-bla-bla ..." Meer mengumbar kata-kata puitisnya, lagi-lagi di sambi dengan menebali bibirnya.
Luna tak mau kalah setelah menghabiskan enam gelas es cendolnya –sekarang memasuki gelas ke tujuh setengah, ia ikut menyahut, "Kira-nii is sweet like a honey. Kau tak perlu khawatir. Alex-san telah berada di jalur yang benar dan dia aman bersama kami. Kami bisa pastikan keselamatannya, bla-bla-bla ..." ucapnya diplomatis.
Dearka hanya mengangguk kecil dengan penjelasan kedua cewek di hadapannya. Dan jangan lupa dengan dreamy-eyes, Meer komat-kamit dengan masih menebali bibirnya sedangkan Luna berceloteh dengan mengunyah cendolnya.
Miriallia menggeleng lalu menghela nafas, "Kira-nii adalah orang yang paling manis yang pernah kami temui." Dearka menoleh kembali pada Miriallia yang tersenyum kecil, "Ia jarang sekali marah, tak pernah berkata kasar, apalagi berteriak –"
"APA!"
Terdengar teriakan maut yang tak pernah diramalkan, diprediksi bahkan dibayangkan oleh mereka semua, setelah melewati tahap 'kecoret, pecah, tersedak dan hampir jatuh', dalam hitungan lima detik kemudian, Miriallia pingsan.
-oOoxnelxoOo-
Dua minggu setelah rapat, mereka semua –yang tergabung dalam operation-liburan-gratisan, secara babu-membabu –err, ralat, bahu-membahu maksudnya. Ingin memenangkan festival tahunan ini.
Karena ini bersamaan dengan libur sekolah Cagalli dan antek-anteknya, maka diputuskan restoran akan tutup sepenuhnya tiap hari senin. Setiap hari yang berjuluk 'I-Hate-Monday' itulah mereka berkumpul.
"Halo dunia, Dearka Elsman telah kembali, karena itu ... jangan merindukanku lagi." sapa Dearka ceria dengan membentangkan tangannya lebar tepat saat memasuki dapur kediaman Hibiki.
Dearka sendiri terkadang meluangkan makan siangnya di sini bergabung dengan trio kwetiau walau dengan Milly masih sering 'sewot-sewotan'. Kadang tak di duga bagai rumah sendiri, ia muncul, membuat Cagalli naik pitam dan Kira naik tangga sedangkan Alex hanya memasang tanda 'siaga' di pikirannya.
Tanpa mereka semua sadari, mereka menerima kehadirannya (dengan terpaksa).
Seperti halnya saat ini dimana di depan restoran telah terpasang tanda 'closed' tapi si hitam ngaku-eksotis ini malah dengan enaknya memutar haluan ke belakang restoran.
Sayangnya tak ada yang menggubris kecuali, "Sstt!" Miriallia dan Cagalli men-death-glare-nya. Puas menghadiahi si pria berkulit sawo kelewat matang dengan muka iblis mereka, yang secara sukses membuat wajah cerianya menghilang, mereka kembali mengalihkan pandangannya.
Merasa tak diperhatikan, Dearka memasang muka masam. "Huh, apa sih yang lebih menarik untuk dilihat di pagi yang indah ini selain wajah mempesona tiada akhir milikku?" Celetuknya lirih hanya bisa didengar olehnya saja. Sengaja ia meluangkan waktunya yang memang sudah luang untuk mengunjungi mereka pagi-pagi.
"Huft, masih belum ya?"
Gadis bersurai pirang itu mengangguk kecil. "Mm-mm."
"Padahal waktunya tinggal dua minggu lagi."
"Mm-mm."
"Tak adakah kata lain selain 'm' dari kamusmu?"
"Mm-mm."
Miriallia memutar matanya, jaringan di kepala si pirang ini mungkin belum tersambung sempurna.
"Apanya yang belum?" sahut suara dari belakang mereka.
Tanpa membalikkan tubuh, Miriallia menjawab, "Makanan yang akan dijual nanti pada saat kompetisi berlangsung."
"Lho? Masih belum ya? Padahal tinggal dua minggu lagi!"
"Itulah yang kukatakan tadi," Miriallia nyolot.
Seringai genit Dearka muncul, "itu artinya ... kita satu hati sayang. Kau dan aku."
Miriallia berbalik dan menyipitkan matanya, "Tunggu sampai mulut dan hatimu itu bersatu!" Ancam Miriallia.
"Ouch, I'm hurt darling. Aku lebih menyukai hatimu yang ada di mulutku," balas Dearka berpura-pura terluka.
Miriallia makin memincingkan matanya, "Tsk, menyebalkan!" Lalu mengalihkan lagi padangannya pada dua chef di depannya. Tak lama ia bangkit dari kursinya.
"Mau kemana sayang perlu kuantar~?" Goda Dearka genit.
"Mendaftarkan namamu di neraka!" Jawab Miriallia kesal sambil berlalu.
"Selama denganmu akupun rela sayang~." Balasnya tak kalah mushy and sappy (baca: bukan sapi perah).
"Matilah kau Elsman!" Teriak Miriallia, membuat Dearka terkikik kecil.
Merasa puas menjahili Miriallia, Dearka berganti mangsa pada si pirang, yang anehnya tak merasa terganggu dengan rayuan abalnya pada Miriallia. Biasanya, ia langsung panas bila mendengar Dearka mulai menebar virus gombalisme pada siapapun di restoran ini.
Bila Dearka sudah bertingkah, pasti ada saja benda yang melayang ke arahnya, mulai dari asbak, aspal sampai asmirandauh.
"Yo Caggy!" Sapanya lagi sok akrab.
Cagalli sendiri membiarkan ia memanggil namanya sesuka hati asal ia tak memanggilnya dengan pet-name. Cagalli sangat tidak suka! Hapus itu, Cagalli sangat sangat membenci itu! Terutama dengan suffix 'chan' yang terkesan moe-moe -konon katanya bisa bikin doki-doki!
Bila Cagalli mendengar itu pasti ia akan berkata, "Chan-chan! Emangnya trio ma'-chan?!", sambil memamerkan bogem mentahnya. Mentah? Ya iyalah, kalau matang sudah habis dari dulu.
Abaikan penjelasan di atas, lanjut pada Dearka yang coba-coba cari perhatian Cagalli. Cagalli masih tak menoleh. Membuat satu alisnya terangkat heran.
Tapi Dearka bersabar menunggu hingga lima puluh tahun lamanya. Bohong! hanya lima menit sampai akhirnya Cagalli menghela nafas panjang.
Kesempatan bagi Dearka, "Yo Caggy, dimana Lunamaria dan Meer?"
"Hadiahnya ... berlibur ke Indonesia," jawabnya malas dan nggak nyambung.
"Err, siapa yang menanyakan hadiah?!"
"Luna membantu ayahnya di toko dan Meer -entahlah, biasanya kalau nggak shopping ya nguntit cowok."
"O-Oh, begitu. Jadi kapan rapatnya dimulai?"
"Luna dan Meyrin di bagian dekorasi, Milly bagian percetakan dan publikasi, Meer bagian kostum dan marketing. Itupun belum fix."
Makin nggak nyambung. Demi Dewa Neptunus, ia tak menanyakan hasil rapat minggu kemarin. "Aku boleh ikut?" ia bertanya lagi dengan riang dan pede-nya.
"Oh, pintu keluar? Ada di sebelah sana?" jawab Cagalli malas masih tanpa melihat Dearka, jarinya menunjuk sembarang tempat.
Muncul beberapa tetes air di atas kepala Dearka.
Bocor! Bocor!
Bukan!
Itu ... sweatdropped, hanya sedikit didramatisir ala sinetron biar episodenya panjang dan dapat ditonton sampai anak cucu cicit kita kelak.
"Err, ngomong-ngomong soal hadiah -"
"- ada pilihannya. Mau ke Pulau Bali, melihat sunset, sunrise atau sanlight. Kedua, ke Pulau Nusakambangan, tour melihat-lihat desain kamar rutan sekaligus orang-orang yang dulunya pejabat disana. Atau ke Pulau Komodo, melihat habitat nenek moyang Goji, kalau bisa sekaligus mengembalikannya di sana supaya ... lestari dan tak punah. Atau ke Pulau Gadung, belanja sampai mampus," jelasnya tanpa ekspresi sama sekali.
Sweatdropped part two!
"Apa kau baik-baik saja? Kau kelihatan tak sehat?" Tanya Dearka melihat sikap Cagalli yang tak biasa.
Sebelum Cagalli menjawab ada suara lain yang menginterupsi mereka. Mirillia telah kembali dengan selamat dan utuh tanpa cacat dari ... toilet dan dialah yang menjawab Dearka. "Ia begadang semalaman ... surfing mencari jenis makanan yang akan dihidangkan. Kasihan Kira-nii, masakannya tak lulus uji coba oleh Alex-san terus. Sudah puluhan masakan ia sodorkan tapi ... hhh, padahal kelihatan enak dan penampilannya cukup menarik," papar Miriallia.
"Oh ...," mata lavender Dearka kini menatap kedua lelaki yang (sok) sibuk dihadapannya. " Serahkan saja padanya, aku yakin ... Ath -Alex pasti bisa membantunya. Ia, orang yang tepat untuk membimbing ... Hibiki-san." Miriallia melihat wajah Dearka, aneh. Ia menyadari kalau ia begitu diperhatikan secara intens, "Aku tahu kalau wajahku ini sangat tampan tapi bisakah kau jangan melihatku seperti itu? Bukan apa-apa, aku belum memencet komedoku hari ini dan aku takut kau menyadari ada kerutan di sekitar dahiku," akuinya santai.
Baru saja Miriallia melihat hal positif dari Dearka, tetapi dihancurkan begitu saja oleh dirinya sendiri.
Melihat muka Miriallia yang seketika menjadi aneh, Dearka menyeringai, "Bercanda!" Lalu tertawa lepas, membuat Cagalli menoleh padanya.
"Huh? Dearka? Kapan kau datang?" Tanyanya datar, itupun setelah ia berkedip beberapa kali, memastikan tak ada yang salah dengan matanya.
Tawa Dearka lenyap seketika Cagalli mengatakan itu, sekarang bergantian, Miriallialah yang tertawa lepas. Cagalli hanya melihat mereka dengan tatapan bingung. Sedangkan Dearka hanya menggumam tak jelas. Yang jelas, ia kesal.
.
.
.
.
.
Tinggalkan mereka sejenak, kali ini beralih ke duo yang telah dijamin kewarasannya. Sudah di lakukan uji di 'IPeBe' dan 'ITeBe'.
"Yep, ini yang terakhir," ucapnya Kira bangga, meletakkan makanan di atas meja, tepat di hadapan pemuda bermahkota navy-blue itu.
Selama beberapa terakhir ini, Alex sama sekali tak pernah turun tangan ketika Kira 'berlatih'. Ia hanya akan membantu bila restoran buka saja, itupun kebanyakan Kira yang berkutat di dapur. Alex hanya membantu bila Kira benar-benar mengalami kesusahan, selebihnya ia hanya memberi petunjuk. Terkadang Cagalli tidak setuju dengan sikap Alex, tapi begitu Alex menjelaskan alasannya, ia mengerti tapi tetap saja terkadang tidak bisa menerimanya. [6]
Alex mempunyai alasan mengapa ia bersikap agak dingin seperti itu. Restoran ini adalah mimpi Kira, maka Kira pulalah yang harus menggapainya. Kompetisi itu adalah salah satu pembuktiannya. Kira tak bisa bergantung selamanya dengan Alex. Ia di sini hanya membantu. Bila Kira ingin memenangkan pertandingan itu, maka harus dengan tangannya sendiri.
Selama beberapa hari itu pula, Alex sudah mengajarkan dan berbagi pengalaman mengenai mengelola suatu masakan dan restoran pada Kira. Secara perlahan tapi pasti, ia melepaskan Kira agar nantinya ia dapat berdiri tegak dengan kedua kakinya sendiri.
Di hadapan Alex tersaji lima jenis makanan yang berbeda. Semua hasil karya dari Kira. Saat ini, Alex bertindak seperti juri sebuah kompetisi menyanyi -eh, memasak. Diperhatikannya setiap detail penampilan. Kira merasa gugup, sudah kesekian kalinya ia gagal. Kalau ia gagal lagi, maka ia memperlambat kerja lainnya juga.
"Hm, dari segi penampilan makin baik Kira-san," Alex memulai. Ia mencoba mencicipi satu persatu.
Jantung Kira mulai doki-doki -ralat, terlalu BL, maksudnya tegang. Apanya? Perasaannya! Jangan ngenes -eh, ngeres!
Kira bertambah tegang, jantungnya berdegup makin kencang, ketika melihat ekspresi Alex yang tak bisa di tebak itu.
"Hm, Kira-san, masakan pertama, tak sesuai dengan musim, kedua terlalu asin dan berminyak, ketiga ku tolak, keempat, aku juga tak setuju, terakhir ... mengapa porsinya begitu banyak?" Papar Alex profesional.
Wajah Kira sangat terlihat kecewa bercampur dengan rasa kelelahan. Di sekitar matanya samar terlihat seperti mata panda (baca: bukan nama artis).
Dari kejauhan Dearka dan Miriallia menghela nafas dan menggeleng bersamaan. Cagalli sebaliknya ia merasa tak senang kalau kakaknya 'dianiaya' seperti itu. Kira hampir tak bisa beristirahat dengan tenang karena hanya memikirkan kompetisi itu.
Mata bermanik cokelat madu memincing tajam pada pemuda bersurai biru gelap itu.
Kira menghela nafas panjang, lalu tersenyum kecil, menggaruk belakang kepalanya ragu. "Hh ... kurasa aku akan mengulang -"
"Cukup!" Cagalli berdiri tiba-tiba. Nafasnya memburu, terlihat jelas ia marah. Suaranya menggema ke seluruh ruangan. Miriallia dan Dearka terkejut. Kira dan Alex serempak menoleh ke arahnya. Bila Kira mempunyai ekspresi serupa dengan Milly dan Dearka, berbeda dengan Alex. Ia nampak tenang dan datar.
"Ca-Cagalli," gumam Kira.
Mata Cagalli masih terfokus pada Alex. "Ka-Kau," tunjuknya geram, "tak bisakah kau bersikap sedikit peduli pada Kira-nii?! Apa kau tak menyadari betapa ia sangat kelelahan?! Apa kau tak melihat ia telah berusaha keras?! Dan kau -kau hanya mengatakan, "tolak, tolak dan tolak!", dimana rasa belas kasihanmu, hah?! Setidaknya hargailah usahanya!" Teriaknya frustasi pada Alex yang masih menunjukkan ekspresi oh-i'm-so-calm-person.
Miriallia dan Dearka mengangguk bersamaan dalam tempo yang cepat, seolah setuju dengan perkataan si pirang. "Hmm-mm."
Kira menatap Alex lalu Cagalli kembali. Ia merasa bingung. Ia merasa senang sang adik membelanya, hal yang paling jarang ia temukan. Kalau bukan dalam situasi macam ini, mungkin ia sudah memeluk adiknya dan menangis bahagia dengan kerasnya. Sayang, bukan waktu yang tepat. Di lain pihak, Alex hanya mencoba membantunya. Kira mencoba menengahi, "Ca-Caga -"
"Jadi ... apa maumu?" Sergah Alex, wajahnya datar tapi mata emerald-nya jelas menantang Cagalli. Nampaknya Kira takkan mendapatkan kesempatan bicara kali ini.
Cagalli membuka mulutnya, "Aku -"
"Kau ingin aku mengatakan sesuatu yang manis? Seperti, masakan Kira-san luar biasa, porsinya pas dan sesuai dengan selera semua orang? Seperti itu, hmm?" Alex menatap Cagalli tajam.
Cagalli berkedip cepat, ia sedikit terintimidasi oleh tatapannya, "A-Aku -"
"Kalau aku mengatakan hal-hal semacam itu, apakah kau akan senang? Kira-san akan lega? Apakah dengan mengatakan kebohongan, ia tak merasa rugi nantinya?" Alex mendekat pada Cagalli, membuat manik mata Cagalli membesar, sedikit mendongak.
Dengan sedikit bergetar, ia bertanya pada pria didepannya, "A-Apa maksudmu?" tanyanya lirih hampir berbisik.
"Masih belum sadar? Masakan Kira-san memang lezat. Tapi lezat saja tak cukup! Semua restoran pasti berlomba-lomba membuat masakan yang lezat! Harus ada sesuatu yang membuat masakan tersebut berbeda, unik, memuaskan dan diingat selamanya," ujar Alex datar namun tegas, membuat Cagalli menutup mulutnya.
Dearka dan Miriallia bersamaan mengangguk perlahan, seolah mereka paham dengan maksud Alex. Sebenarnya mereka membela siapa sih?
Tatapan Cagalli pun sedikit melembut. Apa yang dikatakan Alex benar tapi ...
"Dengar, apa yang aku katakan hari ini mungkin bisa membuatmu marah dan kau bisa balik memakiku sepuas hatimu nona. Tapi, bila pengunjung restoran yang mengatakan hal yang sama, apakah kau akan balik membalas mereka?" Lanjut Alex.
Cagalli hanya terdiam melihatnya, mencoba mencerna setiap perkataannya. Berbeda dengan Miriallia dan Dearka, lagi-lagi mengangguk perlahaan bersamaan. Entah tak ingin ikut campur, atau tak mempunyai kata-kata untuk membalas atau mereka memang hanya ingin ngangguk-ngangguk saja.
"Akan ada banyak media saat kompetisi, saat mereka menulis sesuatu yang tak kau suka, apakah kau akan meluapkan kemarahanmu pada mereka? Kau akan memaki mereka? Memukul mereka?" Suara Alex sedikit meninggi. "Lebih baik memberikan pendapat yang jujur bukan? Walau terkadang itu bukan hal yang ingin kita dengar. Hal yang menyakitkan. Tapi masih lebih baik daripada mengerjakan sesuatu setengah-setengah apalagi berbohong, justru ...," wajah Alex mulai melembut, "itu akan membuat Kira-san lebih sakit nantinya."
Miriallia dan Dearka mengangguk bersama-sama, mereka hampir bertepuk-tangan, bersiul, berjingkrak-jingkrak dan berteriak ala pemandu sorak, bila tak menyadari keadaan sekitar mereka.
"Alex-kun," gumam Kira lirih. Terdapat senyum simpul di ujung bibirnya.
"A-Aku ...," hanya itu yang bisa diucapkan Cagalli yang masih menatap wajah Alex yang masih terlihat datar. 'Aku ... tak tahu.'
Tanpa kata, Cagalli berbalik meninggalkan ruangan itu. Saat Miriallia mencoba mengejarnya, Dearka menahannya. Miriallia membelalakkan mata pada Dearka yang hanya tersenyum tipis padanya.
"Biarkan dia." Bukan karena tangan Dearka yang menahannya –yang membuatnya mengurungkan niatnya menyusul Cagalli tapi suara itu, suara itu milik ... Kira. Seolah mampu membaca pikiran Miriallia, ia berkata lagi, "Tak apa –bagaimana bila kalian menghabiskan ini semua sebelum aku membuat yang baru lagi."
Makan enak gratis, siapa yang bisa menolak? dengan hati riang gembira, Dearka menerimanya. Miriallia yang semula enggan, tak lama, menyusulnya.
Kira memanggil Alex yang masih membelakangi mereka. "Ha," jawab Alex singkat dari balik punggungnya. Kira hanya menghela nafas kecil dan ikut bergabung dengan Dearka dan Milly yang tengah berebut makanan.
Sementara, Alex tak lagi memasang ekspresi wajah datar, ia masih belum dapat mengalihkan pandangannya pada pintu di mana gadis bersurai pirang itu pergi.
TBC
Pojok Bacotan/Curcol Nel: 8k lagi, sekali lagi maaf membuat menunggu sangat lama.
Adegan Athrun 'menasehati' Cagalli butuh dua hari untuk membuatnya. Wuih, susah menemukan kata-kata serius yang tepat dan sangat err serius. *plak*
Terima kasih buat readers terutama reviewer uda setia ma fic ini (merasa bersalah m(_ _)m) terutama buat my beibh Pandamwuchan, Reinaryuzaki Bunny-chan, and October Lynx yang selalu tak lupa menagih LA dan menyemangati saya sampai titik koma tanda seru, hehe... ditunggu fic2 keren kalian! Lov ya~
Ditunggu unek2nya. Jaa ne... xD~
Notes:
Hampir semuanya (seperti biasa) search di Gugel!
[1] Harakiri: Bentuk bunuh diri yang seremonial di Jepang, yang dilakukan dengan menyobek perut dengan pedang pendek. (sumber: )
[2] Tiramisu: Kue keju khas Italia dengan taburan bubuk kakao di atasnya. (sumber:wikipedia)
[3] Lawang: Bahasa Jawa dari kata pintu. (Sumber: buku bahasa daerah *plak*/Author wong jowo :p)
[4] Cabbage Roll: Ini adalah makanan fave Athrun-sama. (Sumber: wikipedia)
[5] Vikipedia: Vocabularisisasi (sok) intelek dan fenomenal tahun 2013, mengutip dari hasil wawancara dari 'yu taulah semua', sengaja saya acak hasil wawancara mereka dan mengambil kata-kata yang paling terkenal ;p. (Sumber: sebuah blog)
[6] Familiar? Belum, bagaimana dengan ini, "There are things people can't accept, even if they do understand them". Perkataan Athrun yang menyayat hati untuk Cagalli di GSD. Disini saya balik biar Athrun kapok (lho?!) enggak sya pro-Athrun kok hehehe… *nervouslaugh*
Special Thanks To:
Pandamwuchan 'my beibh': Nie pesenan spesial untukmu dhek. Uda updet, moga nggak mengecewakan cz aku dah kehilangan urat malu-maluin dan lucuku. He... ;p minta Soul ma LP *disentilFreedom* thanks for R&R, mampir lagi ya~ x)
Cyaaz 'Wolfy' but I prefer 'Puppy' :p,
Aeni Hibiki: Wkwk, untung bacanya dirumah Aeni-san coba kalo di tengah pasar *ngapain?*plak* bisa makin semarak *authorgeje*abaikan* he... :p bukan dihilangkan, mengingat makin menuju klimaks makin berkurang (mudah2an aja nggak he... Amin...) Makasih dukungan dan reviewnya~ mampir lagi ya~ x)
Ichirukilover30,
Popcaga,
Lezala 'sistacomotan:p',
Baka-Rii-chan,
Reinaryuzaki 'Bunny-chan':
RenCaggie 'dhekTasik:p',
And Silent Reader (klo ada).
Many Thanks,
Fighting!
Nel. ^o^)9
26/12/2013
