Chapter 8 : Setelah Kegiatan Klub Usai

"Bye-bye,"

"Sampai bertmu besok,"

Seusai kegiatan klub para murid pulang ke rumahnya masing-masing, sedangkan para guru masih berada di sekolah untuk memeriksa apakah semua murid sudah pulang atau masih berada di sekolah.

Setelah selesai memeriksa sekolah, para guru pulang ke rumahnya masing-masing. Nash pulang ke rumahnya sendiri, dia tidak ingin pulang ke rumah orangtuanya karena tidak ingin merepotkan adik dan tantenya.

Sedangkan Anita, Valeria, Camus dan Miklotov tinggal di apartemen yang sama namun di lantai yang berbeda. Queen, Jacques dan Geddoe Tinggal di apartemen yang sama dengan Camus, Miklotov, Anita, dan Valeria.

Queen, Jacques dan Geddoe langsung pulang. Sedangkan Camus, Valeria dan Anita mampir ke kedai.

"Irrasshaimase!" Sahut pelayan.

"Ruangan yang bukan untuk merokok," Ucap Valeria.

"Baik, tolong ikuti saya,"

Camus, Valeria dan Anita mengikuti pelayan, kemudian mereka duduk. Pelayan memberikan mereka daftar menu dan kertas pesanan.

"Hei kalian!" Sapa Viktor. Meja mereka bersebelahan dengan Viktor. Viktor tidak sendirian karena dia bersama Flik dan Miklotov.

"Kenapa kalian bolos mengajar!" Camus benar-benar kesal.

"Hahaha Maaf, maaf," Jawab Viktor dengan santai.

Camus berhenti marah, percuma saja karena Viktor selalu saja santai dan tidak ambil pusing setiap kali dia marah.

"Sudahlah kalian berdua," Tegur Anita. "Camus, Valeria kalian berdua mau pesan apa?" Tanya Anita.

"Bir," Jawab Anita.

"Bir dan Yakitori," Jawab Camus.

"Bir tiga gelas dan Yakitori," Anita memberi tanda silang di kertas pesanan "Pelayan!" Panggil Anita. Pelayan tersebut menghampiri Anita. Anita memberikan kertas tersebut dan pelayan tersebut pergi menuju dapur.

"Miklotov, kau sudah mendingan?" Tanya Valeria.

"Ya," Jawab Miklotov tanpa wajah berdosa, padahal dia sengaja pura-pura sakit.

"Valeria, kau sungguh menyedihkan. Padahal Miklotov pura-pura sakit," Bisik Anita.

"Apa kau mengatakan sesuatu?" Tanya Valeria.

"Tidak," Jawab Anita dengan singkat.

"Maaf, aku pulang duluan," Ucap Flik.

"Secepat itukah?" Tanya Viktor.

"Ya, aku ada urusan. Camus, maaf tadi aku tidak mengajar, Viktor memaksaku untuk menemaninya minum-minum,"

"Tidak apa-apa," Jawab Camus dengan santai.

Flik meninggalkan mereka, Viktor kemudian memesan bir untuk yang kesekian kalinya. Camus menghela nafasnya, sungguh benar-benar hari yang panjang kalau ia meningat hanya dia dan Valeria yang mengajar.

Setelah pesanan mereka datang Camus langsung menenggak birnya dan langsung menghabiskan Yakitorinya. "Aku pulang duluan," Camus meletakkan uangnya di meja.

Kemudian ia menatap Miklotov "Nanti aku mau bicara denganmu," Camus meninggalkan mereka yang masih menetap di kedai.

"Aneh, kenapa dia buru-buru begitu?" Viktor heran.

Valeria menggelengkan kepalanya, Anita diam saja karena tahu alasannya. Anita menghela nafasnya, agaknya Miklotov terlalu berlebihan. Kemudian ia kembali meminum birnya.


Kediaman McDohl

"Tuan muda dan Ted, bagaimana keadaan kalian sekarang?" Tanya Gremio dengan cemas seperti biasanya.

"Tidak baik," Jawab Ted sambil memegang perutnya,"Aku kapok makan makanan buatan Nanami-senpai,"

"Aku juga," Timpal Tir. "Kapan kami bisa makan malam?"

Gremio melihat jam, jam menunjukkan pukul setengah tujuh malam, "Jam tujuh tuan muda, setelah tuan Teo sudah pulang"

"Sykurlah kalau begitu, tinggal tiga pu- UKH!" Ted kemudian kembali pingsan karena efek makanan Nanami masih terasa.

"Ahhh Ted!" Pekik Gremio.

"Ahhh," Tir kembali pingsan.

"Gyaaaa! Tuan muda!" Jerit Gremio.

Gremio kembali menengok ke jam. Tuan Teo cepatlah pulang, kalau tidak tuan muda dan Ted bisa mati.

Tiga puluh menit kemudian…

"Tadaima" Ucap Teo sambil melepaskan jasnya dan menggantungnya di belakang pintu.

"Okaeri, tuan Teo," Jawab Pahn.

"Pahn, dimana Tir dan Ted?" Tanya Teo yang bingung karena anak-anaknya tidak ada yang menghampirinya, padahal biasanya anak-anaknya langsung bergegas menghampirinya jika dia sudah pulang karena.

"Eh itu-" Sebelum Pahn menjawabnya, Gremio langsung menghampiri Teo dan wajahnya seolah-olah mau menangis saat itu juga.

"Gremio, ada apa?" Tanya Teo.

"I-itu tuan muda dan Ted- ah pokoknya tuan segera mengikuti saya saja!"

Tanpa bertanya ke Gremio, Teo bergegas mengikuti Gremio menuju kamar Tir dan Ted yang berada di lantai dua. Disana Tir dan Ted sudah siuman namun terbaring lemah.

"Kalian berdua kenapa?!" Teo terkejut melihat kondisi kedua anak laki-lakinya.

"K-kami berdua keracunan makanan," Jawab mereka berdua.

"Gremio, tolong siapkan makan malam. Kalau mereka berdua masih belum juga mereka harus masuk rumah sakit,"

"Ba-baik tuan!" Gremio langsung berlari ke lantai satu. Ia langsung menyeret Pahn dan Cleo untuk membantunya.

"Kalian berdua bisa turun ke bawah?"

"Ya, kami bisa,"

"Ayah ke bawah saja duluan, nanti kami berdua akan menyusul," Ucap Tir.

Teo turun ke bawah, sebetulnya ia enggan meninggalkan kedua anaknya. Ia tiba-tiba ingat kalau ia ada dinas ke luar kota besok. Teo menelepon Barbarossa

"Teo, ada apa?" Tanya Barbarossa.

"Mohon maaf Barbarossa-san, saya tidak bisa dinas ke luar kota besok,"

Barbarossa mengernyitkan dahinya "Apa sedang ada masalah?"

Teo menceritakan alasan kenapa ia tidak bisa dinas. Ia khawatir akan keadaan anak-anaknya, Barbarossa memaklumi alasan Teo dan mememerintahkan Teo untuk tidak bekerja sementara waktu sambil menunggu anak-anaknya sembuh.

Di ruang makan sudah ada Gremio, Pahn , Cleo, Tir dan Ted. Kemudian mereka makan bersama. Setelah selesai makan Teo menanyakan kondisi anak-anaknya.

Hasilnya?

Percuma saja karena efek makanan buatan Nanami masih terasa walaupun tidak separah sebelumnya. Teo menelepon ambulans.


Kediaman Genkaku

"Syukurlah, ternyata Jowy makan bekalnya. Biasanya dia tidak makan bekal buatanku." Ucap Nanami sambil membuat Tamagoyaki untuk makan malam.

Riou hanya diam. Tidak mengatakan ke Nanami kalau bukan Jowy yang memakannya, melainkan Tir dan Ted. Ia sengaja tidak mengatakannya karena bisa bahaya kalau Nanami tahu, terlebih lagi ia masih sayang sama nyawa temannya dan nyawanya sendiri.

"Hei, besok kau mau bekalnya apa?"

"Aku tidak mau membawa bekal," Jawab Riou pendek.

Nanami mengguncang-guncangkan pundaknya "Kenapa?" Tanyanya.

Riou memegang tangan kakaknya, "Pokoknya tidak mau!" Jawab Riou.

"Ya sudah kalau begitu," Ucap Nanami. "Toh, aku akan buat bekal untuk Jowy, dia pasti mau makan bekal buatanku,"

GLEK! Riou harus memikirkan cara supaya besok Jowy tidak membawa bekal buatan Nanami. Ia tidak mau teman-temannya yang lain jadi korban kebiadaban (?) Nanami karena ulah Jowy yang seenaknya saja.

"Celaka! Tamagoyakinya gosong!" Pekik Nanami yang langsung buru-buru mematikan kompor tapi tanpa berpikir panjang dia langung menyentuh pegangan panci yang masih panas dan menyebabkan jarinya terluka.

"Aduh, kau ini bagaimana sih?" Riou langsung merawat jari Nanami yang terluka.

Nanami menepis tangan Riou "Sudah, biar aku sendiri yang merawat jariku,"

"Nggak boleh,"

"Pokoknya, aku akan merawat jariku sendiri!"

"Memangnya kenapa sih?!"

Nanami menghela nafasnya "Soalnya aku ini kakak perempuanmu, dan aku tidak boleh merepotkan adik laki-lakiku,"

"Pokoknya aku tetap akan merawatmu! Itulah gunanya saudara kan?"

Nanami tidak mengucapkan apapun, ia merasa bahwa adiknya sudah semakin dewasa. Riou kemudian membungkus jari Nanami yang terluka dengan perban.

Nanami menepuk kepala adiknya "Terima kasih ya Riou,"


Kediaman Lucia

"Apakah hari ada hal yang menarik di sekolahmu Hugo?" Tanya Lucia sambil menyendokan nasi untuk mangkuk nasi milik Hugo, lalu memberikannya ke Hugo.

Hugo mengambil mangkuk nasi miliknya "Aku ketiduran di kelas lalu dihukum, dan—"

"Dan apa?" Lucia penasaran.

"Tir dan Ted pingsan karena makan bekal buatan Nanami-senpai,"

Lucia terkejut mendengarnya. "Pingsan? Kenapa mereka berdua bisa pingsan?"

Hugo menggeleng-gelengkan kepalanya "Entahlah," Kemudian Hugo menyantap makan malamnya.

"Lalu bagaimana keadaan mereka sekarang?"

"Aku masih belum tahu, setelah makan malam aku akan menelepon Frey,"

"Semoga mereka berdua baik-baik saja ya…." Ucap Lucia dengan cemas.

"Tambah lagi,"

Lucia menggelengkan kepalanya "Dasar kau ini, nambah untuk yang ketiga kalinya. Nanti bisa gemuk lho."

"Hehehe," Cengir Hugo.

"Oh iya, tadi kau bilang kau dihukum kan? Memangnya karena apa kau bisa dihukum?"

"Eh itu," Hugo menggaruk-garukkan kepalanya "Aku ketiduran,"

Lucia menyentil jidat Hugo "Lain kali jangan ketiduran ya,"


Kediaman En Kuldes

"Benar-benar gawat tadi," Desah Lazlo sambil membalikkan halaman majalah yang ia sedang baca.

"Hee, memangnya tadi kenapa?" Tanya Flare yang sedang membalas sms dari Luca dan Nanami.

"Si Tir dan Ted pingsan gara-gara masakan Nanami,"

Flare mengernyitkan dahinya "Masakan Nanami dan mereka pingsan? Aku turut berduka,"

"Nee-san mereka berdua nggak meninggal," Kata Lazlo.

"Aku tahu, tapi kan tetap saj-"

"Nona Flare! Tuan Lazlo! Makan malam sudah siap!" Teriak Setsu yang suaranya menggema hingga keluar kediaman.

"Baik-baik," Jawab Flare.

"Kau, kan tidak perlu berteriak sampai sekencang itu," Kata Lazlo.

Kemudian mereka menuju ruang makan. Setelah selesai menyantap makan malam mereka hendak kembali ke kamar.

"Tunggu dulu nona dan tuan," Cegat Setsu.

"Kenapa?" Tanya keduanya secara bersamaan.

"Tuan Lino ternyata mendadak dinas ke luar selama satu minggu,"

"Eh?!" Flare kaget mendegarnya.

"Ayah dinas lagi?" Lazlo bingung.

"Ya, begitulah," Kata Setsu. "Beliau titip pesan untuk anda berdua, beliau bilang jangan bolos sekolah,"

"Baiklah kalau begitu, terima kasih," Jawab keduanya.

"Ayah makin lama makin sibuk," Keluh Lazlo.

Flare tersenyum pahit "Yah, mau bagaimana lagi?"

Lazlo berpikir, apa yang dikatakan oleh kakaknya memang benar. Lazlo teringat bahwa tadi Troy menanyakan tentang kakaknya, tapi Ia memutuskan untuk tidak memberitahukannya kepada Flare.

Karena tidak ingin ikut campur dan nampaknya bukan saatnya bagi kakaknya mengetahui perasaan Troy.


Kediaman Falena

"Jadi tuan Frey, bagaimana hari ini di sekolahmu tadi?" Tanya Miakis dengan nada usil.

"Aku jadi ketua kelas," Jawab Frey sambil mengepang rambutnya yang sudah kering setelah ia selesai mandi.

"Wah, kakak jadi ketua kelas?! Hebat!" Sahut Lymsleia sambil memeluk Frey untuk yang kesekian kalinya.

"Ah iya, bagaimana tadi di sekolahmu Lyon?" Tanya Lymsleia.

"Cukup menyenangkan. Aku senang bisa makan siang bersama Luserina,"

Seseorang menepuk pundak Lyon. Dan orang tersebut adalah Kyle.

"Kenapa Kyle?" Tanya Lyon.

"Malangnya dirimu Lyon, kau tidak bisa masuk ke sekolah umum. Kau hanya bisa masuk ke sekolah khusus perempuan saja,"

"Kyle, memangnya ada yang salah dengan itu?" Miakis bingung mendengarnya.

"Soalnya dia tidak akan merasakan apa yang namanya jatuh cinta dengan lawan jenisnya jika Lyon hanya bersekolah di sekolah khusus perempuan," Ucap Kyle tanpa merasa bersalah.

Miakis menggelengkan kepalanya dan Lyon hanya bisa sweattdrop, tapi Lyon tidak mengambilnya secara serius.

"Dasar kau ini," cibir Miakis.

"Aku sudah senang bisa bersekolah, walaupun aku mengenyam pendidikan di sekolah khusus perempuan," Kata Lyon sambil tersenyum.

"Lyon!" Miakis memeluknya. "Ah aku baru ingat! Nona Lymsleia anda punya pekerjaaan rumah kan? Ayo dikerjakan sekarang!"

"Baik, baik," Jawab Lymsleia cemberut. Padahal dia masih ingin bersama kakaknya.

"Ah iya, aku baru ingat. Hari Sabtu nanti teman-temanku akan datang kemari, kami akan mengerjakan Pr bersama,"

"Baik," Jawab Kyle dan Miakis secara bersamaan.

"Ah disini rupanya tuan dan nona berada," Ucap Alenia yang akhirnya menemukan mereka berdua di ruang tamu karena Freyjadour dan Lymsleia tidak berada di kamar mereka.

"Ada apa Alenia?" Tanya Miakis yang masih memeluk Lyon.

"Aku baru saja mendapat kabar dari Galleon, dinas Tuan Ferid dan Nyonya Arshtat diperpanjang menjadi enam hari,"

"Hmmm, akhir-akhir ini nampaknya mereka sering dinas ya," Guman Lym.

"Oh iya tuan Frey, saya barusan mendengar bahwa teman-teman anda akan berkunjung kesini?" Tanya Alenia.

"Iya, benar. Memangnya kenapa?"

"Hanya memastikan saja,"


Keesokan Paginya di sekolah, hari Selasa.

Di Ruang anak kelas 2.

"Hoaaam,"

"Semalam kau tidak tidur, Hugo?" Tanya Kyril.

"Aku enggak bisa tidur," Jawab Hugo sambil mengucek-ucek matanya.

Frey menepuk pundak Hugo "Hati-hati nanti di jam pelajaran kedua kita kan belajar sejarah,"

Hugo membenamkan mukanya ke meja, kemudian memandang Frey "Jangan ingatkan aku akan hal itu,"

"Lain kali jangan ketiduran ya," Celetuk Thomas.

"Pagi," Sapa Kasumi.

"Pagi," Balas mereka.

Setelah menyapa teman-temannya Kasumi meletakkan tasnya diatas meja, kemudian mengambil surat yang berada di dalam tasnya. Ia berjalan ke arah Frey.

"Frey-kun, ini ada surat," Kasumi menyerahkan surat tersebut ke Frey dan Frey mengambilnya.

"Itu surat apa?" Tanya Lazlo yang muncul dari belakang Frey.

"Surat Izin tidak masuk. Tir-kun dan Ted-kun tidak masuk karena sakit, tadi di jalan menuju sekolah aku bertemu dengan Cleo-san,"

"Terima Kasih ya Kasumi,"

Kasumi kemudian kembali ke bangkunya, diam-diam ia merasa cemas akan keadaan Tir.

"Psst, hei jangan-jangan mereka berdua dirawat karena-"

"Masakan kakakku," Jawab Riou yang berdiri di belakang Thomas.

"Kenapa kau bisa tahu?" Tanya Thomas yang penasaran.

"Karena dia pernah membuat tetangga kami terpaksa di rawat di rumah sakit,"

Dirawat di rumah sakit? Mereka akhirnya semakin memantapkan diri mereka agar jangan pernah memakan makanan yang dimasak oleh Nanami.

"Aku turut ber-"

"Hugo, tetanggaku masih hidup," Sela Riou. "Kalian jangan khawatir, Nanami nggak akan memaksa kalian untuk memakan bekal buatannya,"

Ting Tong…. Ting Tong….

"Teman-teman tolong segera kembali ke tempat kalian," Perintah Frey.

"Baik!" Jawab teman sekelasnya secara bersamaan.

"Pagi anak-anak," Sapa Nash.

"Berdiri! Memeberi Salam!"

"Selamat pagi Nash-sensei,"

"Kembali duduk," Perintah Nash.

Setelah semua teman-temannya duduk, Frey berdiri dan kemudian menghampiri Nash. Lalu memberikan surat izin tidak masuk karena sakit.

Frey kembali duduk. Nash segera membuka surat tersebut, dan mengernyitkan dahinya karena Tir dan Ted tidak masuk, padahal baru saja kemarin hari pertama masuk sekolah.

Nash berdehem "Ada pemberitahuan, hari ini Tir-kun dan Ted-kun izin tidak masuk karena sakit akibat keracunan makanan. Mereka berdua dirawat di rumah sakit selama tiga hari,"

Seisi kelas hening, nampaknya mereka harus kabur (?) Jika bertemu Nanami kalau tidak ingin keracunan makanan.

"Frey-kun,"

"Ya, sensei?"

"Nanti sebelum pulang sekolah tolong kau dan teman-temanmu membuat origami untuk mereka berdua,"

"Baik sensei!"

Nash melihat jam dinding yang berada di belakangnya. Sudah saatnya baginya keluar dari kelas karena waktu Home Room sudah usai. Saatnya murid-murid di kelasnya untuk belajar di pelajaran olahraga.

Para murid bergegas menuju ruang ganti dan mengganti seragam mereka dengan baju olahraga. Setelah selesai ganti mereka bergegas menuju lapangan.

Namun mereka baru memulai pelajaran tiga puluh menit kemudian karena yang mengajar mereka datang telat.

"Hei, pagi semua!" Sapa Viktor sambil tertawa tanpa mempedulikan murid-muridnya yang sudah bosan menunggunya.

"Viktor-sensei kemana saja?" Tanya Frey.

"Oh, tadi aku ketiduran di ruang guru ahahaha,"

Dasar guru yang satu ini Gerutu Riou.

"Baik semuanya! Sekarang berbarislah! Waktunya untuk senam!"

Para murid berkumpul dan membentuk barisan, kemudian mereka senanm bersama yang dikomandoi oleh Viktor.

"Bagus! Nah hari ini anak laki-laki akan olahraga sepakbola, sedangkan yang perempuan marathon keliling lapangan sebanyak lima belas kali!"

"Eh?!" Protes Kasumi.

"Viktor-sensei, itu kebanyakan. Bagaimana kalau kami keliling lapangannya tujuh kali saja?" Usul Millay.

"Baiklah kalau begitu," Ucap Viktor yang langsung setuju karena dia tadi telat lama sekali.

"Riou, oper bolanya kesini!" Seru Kyril.

"Oke!" Riou menendang bola tersebut ke arah Kyril, namun dicegat oleh Frey.

"Bagus Frey!" Sahut Hugo yang berada di belakang Kyril.

Frey menendang bola tersebut ke arah gawang, Lazlo menjaga gerbang dan berusaha untuk menangkap bola, namun…

Gol!

"Kau memang hebat!" Puji Thomas yang ngos-ngosan akibat kelelahan. "Sedangkan aku? Benar-benar payah,"

"Hei sudahlah," Kata Frey sambil menepuk pundak Thomas "Aku bisa mengajarimu kapan saja,"

"Sungguh?" Tanya Thomas.

Frey menangguk.

Kemudian mereka melanjutkan kembali. Anak-anak perempuan yang sudah selesai marathon menonton pertandingan mereka dan mereka semua terpaku menyaksikannya. Siapa yang tidak terpesona oleh ketampanan dan keahlian mereka dalam olahraga?

"Coba ada Ted ya," Sahut salah seorang murid perempuan.

"Benar," Timpal murid yang lain.

"Juga Tir,"

Millay menatap Kasumi, ia tahu kalau temannya sedih karena Tir tidak masuk. Millay menghiburnya dan Kasumi akhirnya tidak sedih lagi.

"Yak anak-anak! Waktunya sudah habis! Saatnya kalian kembali ke kelas kalian,"

"Baik sensei!"

"Sebelumnya, jangan lupa untuk mengembalikan bola ke gudang peralatan olahraga,"

Setelah itu, para murid mengumpulkan bola dan kemudian memasukkan bola ke dalam jaring khusus untu bola.

Kasumi dan Millay membawa bola tersebut, karena hari ini adalah giliran mereka berdua yang piket. Kasumi sudah selesai menaruh bola sepak ke dalam keranjang.

"Akhirnya selesai juga. Bagaimana denganmu Millay?"

"Masih belum, kau duluan saja Kasumi,"

"Tidak apa-apa nih aku meninggalkanmu?"

"Iya, tidak apa-apa,"

"Baiklah kalau begitu,"

Kasumi kemudian meninggalkan Millay. Millay akhirnya selesai menaruh bola ke dalam keranjang, ia melihat keranjang bola Voli yang terbuka.

Millay berusaha menutupnya namun keranjang bola Voli tersebut sulit untuk ditutup, karena terlalu fokus Millay tidak sadar kalau…

Cklek

Ada murid yang mengunci gudang karena mengira ada yang lupa mengunci gudang olahraga.

"Gawat," Millay mendadak panik dan menggendor-gendor pintu. "Ada orang diluar?! Tolong, aku terkunci!"

Ia menggendor-gendor pintu kembali, namun usahanya sia-sia.


Di Kelas

Pelajaran sejarah sudah dimulai, Hugo tidak merasa ngantuk lagi. Mungkin karena ia masih ingat betapa pahitnya kejadian kemarin bagi dirinya.

Semua murid fokus akan pelajaran mereka, kecuali bagi Kasumi. Ia terus memandang bangku Millay, yang masih belum kembali juga. Geddoe sadar bahwa ternyata Kasumi tidak fokus sama sekali, kemudian ia menghampiri Kasumi. Kasumi terkejut karena tiba-tiba melihat Geddoe berdiri di depannya.

"Kasumi-kun, tolong fokus," Tegur Geddoe.

"Maaf sensei, tapi saya sedang khawatir,"

"Khawatir kenapa?"

"Millay, masih belum kembali ke kelas. Tadi dia berada di gudang peralatan olahraga karena masih belum selesai menaruh bola sepak,"

Lazlo tersentak mendengarnya, kalau tidak salah kan ada gudang peralatan olahraga yang rusak. Apa jangan-jangan…

"Kasumi, jangan-jangan kau dan Millay menaruh bolanya di gudang peralatan yang berada di belakang ruang untuk latihan klub panah ya?"

"Benar, karena itu paling dekat dengan lapangan. Apa ada yang salah ?"

"Gudang itu kuncinya sudah rusak,"

"Eh?!" Semua yang berada di kelas kaget mendengarnya.

"Hei! Ada orang diluar?! Tolong Jawab!" Teriak Millay sambil menggedor-gedor pintu dari dalam lagi.

Tapi sia-sia belaka, hasilnya nihil.

Millay kemudian duduk dan menghela nafasnya. Semoga saja ada yang segera menolongnya. Tiba-tiba…

"Aduh!" Erang Millay. Kakiknya terkena pecahan kaca yang tidak terlihat karena gudang olahraga gelap. Pecahan kaca tersebut membuat kakinya tergores.

"Astaga, ada kaca rupanya,"

Millay mendengar suara pintu yang digedor-gedor dari luar.

"Millay! Kau ada di dalam?!" Seru Kasumi dari luar.

"Kasumi?! Ya, aku ada didalam!" Balas Millay.

"Kasumi, tolong minggir," Perintah Lazlo yang memegang bangku kemudian memukulkannya ke pintu gudang.

Kasumi membuka pintu, dan hasilnya sukses. Pintu gudang bisa dibuka, Millay langsung keluar dan memeluk Kasumi.

"Ahh syukurlah! Terima kasih Kasumi,"

"Sama-sama Millay, tapi orang yang sebenarnya menolongmu adalah Lazlo-kun,"

Millay kaget mendengarnya, kemudian ia berbalik arah ke Lazlo.

"Terima kasih," Ucap Millay yang mukanya memerah.

"Sama-sama," Jawab Lazlo.

Saat melihat ke bawah, Lazlo terkejut karena ada tetesan darah. Ia melihat sekelilingnya, untu mencari dari mana asalnya. Rupanya darah itu berasal dari kaki Millay yang berdarah akibat pecahan kaca.

"Millay, kakimu berdarah!"

"Ah!" Millay menutup lukanya.

"Millay, tolong lepaskan tanganmu" Perintah Lazlo sambil mengeluarkan sapu tangannya.

Walaupun merasa enggan dan agak malu, Millay melepaskan tangannya. Lazlo segera menutupi luka Millay dengan sapu tangan dan mengikatkan sapu tangannya untuk menahan darah sementara dan menutup luka agar lukanya tidak melebar.

"Nah, sudah selesai," Kata Lazlo.

"Te-terima kasih, Lazlo-kun," Jawab Millay yang mukanya memerah.

"Sebaiknya kau ke klinik saja, tidak mengikuti pelajaran Sejarah dulu," Saran Lazlo.

"Eh, tapi…"

"Sudahlah Millay. Lazlo-kun benar, sebaiknya kau ikuti sarannya saja. Daripada nanti lukanya makin melebar," Usul Kasumi.

"Nanti aku beritahu Geddoe-sensei, tenang saja"

"Baiklah kalau begitu,"

"Millay, aku akan menemanimu," Kata Kasumi.

Kemudian Millay dan Kasumi pergi ke klinik sekolah.