Sinar matahari menyinari wajah mungil seorang wanita yang masih tergeletak di lantai semenjak tadi malam. Tubuh mungil wanita itu perlahan bergerak sembari membuka kedua matanya perlahan. Tubuhnya benar-benar sakit seakan-akan ia baru saja dipukuli oleh banyak orang semalaman. Wanita itu berdiri dan mencoba membuka pintu kamarnya yang seingatnya semalam dikunci oleh Jimin dari luar dan mungkin saja belum dibuka sampai saat ini. Tapi dugaannya salah, pintunya sudah tidak terkunci dan ia tidak menemukan suaminya yang bernama Park Jimin ketika ia membuka pintu kamarnya. Ia berjalan gontai menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya kemudian memakan sarapan yang sudah siap di meja makan, mungkin Jimin membuatkan sarapan untuknya sebelum berangkat kerja tadi pagi. Kejadian yang ia alami kemarin masih terbayang di benaknya. Mulai dari ciuman pertamanya sampai kali pertama ia melihat Jimin yang benar-benar marah dan kecewa padanya.

"Yoongi kau benar-benar tidak tahu diri"

Wanita bernama Yoongi itu tersenyum miris sembari memakan potongan terakhir pancake-nya. Ia berdiri dari duduknya dan bersiap-siap untuk pergi ke tempat kerjanya.

"Yoongi, kau harus berubah. Jimin suamimu dan Taehyung hanyalah bagian dari masa lalumu"

Sebuah senyuman mengembang pada wajah mungil Yoongi setelah ia memotivasi dirinya sendiri. Mungkin lambat laun ia bisa menerima Jimin dan melupakan masa lalunya yang tidak berarti bersama Taehyung.

...

Seorang pria sedang mengemudikan mobilnya menuju ke sebuah cafe untuk menemui seseorang. Hoseok, pria itu sungguh terkejut ketika Yoongi baru saja menelponnya dan menceritakan apa yang terjadi padanya semalam. Ia masih tidak percaya bahwa Taehyung masih saja melakukan hal yang tidak pantas ia lakukan kepada Yoongi. Ia meraih ponselnya dan mencari kontak seseorang yang akan ditemuinya,

"Sekitar lima menit lagi aku sampai, kau dimana?

Ada jeda cukup lama sebelum seseorang di sebrang sana menjawab pertanyaan Hoseok sampai akhirnya orang itu menjawab pertanyaan lawan bicaranya.

"Aku sudah di cafe sejak dua jam lalu. Cepatlah, kau sangat lambat"

"Sebentar lagi aku sampai, tunggu saja"

Hoseok segera mematikan ponselnya dan menaruhnya di kursi yang berada disebelahnya. Ia menatap jalanan yang terlihat sedikit basah karena hujan yang membasahi kota Seoul semalam. Sungguh, ia sangat cemas memikirkan keadaan sahabatnya.

Tak lama, Hoseok sampai di tempat tujuannya. Ia segera memarkirkan mobilnya kemudian masuk ke cafe dan mencari orang yang akan ia temui. Seseorang yang sedang duduk di sudut cafe melambaikan tangannya ke arah Hoseok. Hoseok segera menghampiri orang tersebut dan duduk di kursi yang ada di hadapannya.

"Ah hyung kau sangat─"

"Apa yang kau lakukan pada Yoongi semalam?"

Seseorang yang menjadi lawan bicaranya tiba-tiba saja tersentak. Namun tak lama, sebuah seringaian terlukis di wajahnya.

"Sudah aku bilang aku akan terus menghancurkan hidupnya sampai aku mendapatkan apa yang aku mau"

"Kau tidak bisa melakukan semua ini Taehyung, dia tidak salah apa-apa dan dia tidak ada kaitannya dengan masalah yang kita alami"

Lawan bicaranya yang bernama Taehyung mendengus keras ketika Hoseok masih saja membela Yoongi. Sungguh ia membenci situasi seperti ini.

"Lalu kenapa kau masih mencintainya? Sadarlah hyung, dia sudah memiliki suami!"

"Aku masih belum bisa melupakannya. Aku tahu dia selalu tertarik kepadamu dan ia hanya menganggapku sebagai sahabatnya tapi mengapa kau memperlakukan Yoongi seperti ini? Dia tidak salah apa-apa, Tae"

"Hyung sudah kubilang aku membencinya. Dia mengambil segalanya dariku dan kini saatnya aku menghancurkannya"

Hoseok mencengkram kerah Taehyung ketika Taehyung menyulut emosinya. Ia tahu bahwa dengan terpancingnya ia kedalam permainan ini, Taehyung akan semakin menjadi-jadi. Sebuah seringaian kembali terukir pada wajah Taehyung, ia merasa bahwa sebentar lagi ia akan memenangkan permainannya.

"Apa hyung? Kau mau menghajarku disini? Silahkan"

Hoseok melepas cengkramannya dan kembali membetulkan posisi duduknya. Ia mencoba mengatur napasnya dan menenangkan pikirannya. Berbicara dengan Taehyung seakan-akan berbicara dengan seekor ular berbisa yang bisa saja meracuninya ketika ia tidak bisa menentang perkataan Taehyung.

"Tae, bisakah kau memperlakukan Yoongi dengan didasari oleh cinta? Bisakah kau sedikit mencintai Yoongi walaupun itu hanyalah cinta antara kedua orang sahabat?"

"Hyung, salah satu hal yang tidak mungkin bisa terjadi di dunia ini adalah mencintai seorang Min Yoongi"

Hoseok menghela nafasnya dan mencoba memikirkan cara agar Taehyung bisa berhenti melakukan semua ini kepada Yoongi. Ia sudah tidak tahan melihat kedua sahabatnya terjebak dalam permainan yang Taehyung buat karena dirinya yang tidak mau memberikan apa yang Taehyung inginkan.

"Baiklah, aku peringatkan sekali lagi. Tolong kau hentikan semua ini, tolong biarkan Yoongi bahagia. Aku sudah cukup lama menjauhinya dan kau masih saja menyakitinya, tidak kah kau tahu bahwa Yoongi sangat mencintaimu? Dia sangat tulus mencintaimu Tae, bahkan ketika ada Jimin ia masih saja memikirkanmu. Tolong pikirkan baik-baik tentang tindakanmu, aku dan kau sudah bersahabat sejak di sekolah menengah begitu pula dengan aku dan Yoongi dan aku harap kita bisa terus bersahabat sampai kapan pun bukannya terjebak dalam permainan konyol seperti ini. Aku harus kerja, lain kali kita bertemu lagi. Sampai jumpa"

Hoseok beranjak pergi meninggalkan Taehyung sedangkan Taehyung yang sangat kesal ketika Hoseok masih saja membela Yoongi sudah merencanakan sesuatu yang ia yakin kali ini pasti berhasil untuk menghancurkan kehidupan wanita bernama Min Yoongi.

...

Hoseok menaiki lift sebuah gedung perusahaan yang tidak jauh dari cafe yang baru saja ia kunjungi. Sebenarnya ia mengambil cuti hari ini hanya untuk bertemu dengan dua orang yang akan ia beri penjelasan atas apa yang menimpa Yoongi kemarin. Sebenarnya ia tahu mengapa semua kejadian itu dapat terjadi tapi ia hanya bisa diam dan bersembunyi seperti seorang pengecut untuk menghindari hal-hal buruk lainnya yang akan menimpa Yoongi.

Lift berhenti pada lantai 27 tempat ruangan pria yang sudah memiliki janji untuk bertemu dengannya saat ini. Ia berjalan menuju ruangan yang dituju, diantar oleh seorang karyawan yang bekerja di perusahaan tempat pria itu bekerja. Hoseok memasuki ruangan tempat orang yang ia cari berada dan menemukan orang tersebut yang terlihat sedang sibuk di balik meja kerjanya.

"Park Jimin-ssi"

Jimin menatap ke arah Hoseok dan kemudian tersenyum ramah kepadanya. Ia mempersilahkan Hoseok untuk duduk di kursi yang berada di hadapannya, membereskan pekerjaannya kemudian memfokuskan perhatiannya pada pria yang ada di hadapannya.

"Jadi tujuan saya kemari untuk memberitahumu sesuatu"

"Hyung, jangan terlalu formal. Aku tahu ini kali pertama kita bertemu tapi kau tetap sahabat dari istriku bukan?"

Ada sedikit tawa yang terselip pada pembukaan obrolan antara Hoseok dan Jimin. Mereka kembali fokus pada topik yang sedang mereka bicarakan.

"Jadi begini. Aku dan Taehyung begitu juga dengan aku dan Yoongi sudah berteman sejak kami berada di sekolah menengah. Yoongi tidak pernah mengetahui bahwa aku dan Taehyung adalah teman dekat karena kami jarang sekali berinteraksi langsung di sekolah sedangkan aku tahu bahwa Yoongi berteman dekat dengan Taehyung dan ia tertarik dengan Taehyung sejak dulu. Aku dan mereka sangatlah dekat sampai pada akhirnya sesuatu menimpa Taehyung ketika aku dan Yoongi akan lulus dan melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Disaat yang bersamaan dengan hal yang menimpa Taehyung, Yoongi sangat sibuk saat itu karena ia sudah mencoba untuk mendapatkan beasiswa ke perguruan tinggi dan itu menyebabkan Yoongi seakan-akan tidak peduli dengan Taehyung. Taehyung menjadi marah dengan Yoongi dan akhirnya aku selalu menemaninya sampai ia hmm mengalami sesuatu yang harus disembuhkan segera"

Jimin mengerutkan dahinya ketika mendengar cerita Hoseok terutama pada kalimat terakhir ceritanya. Ia tidak pernah tahu bahwa Taehyung memiliki penyakit.

"Ia sakit? Sakit apa?"

"Aku tidak bisa memberitahumu karena aku tidak mau mempermalukan sahabatku sendiri"

Hoseok menghembuskan nafasnya pelan dan memperbaiki posisi duduknya. Sekelebat kejadian di masa lalu terlintas di benaknya. Kejadian yang membuat semuanya menjadi kacau.

"Intinya semua ini salahku, sekarang kau harus menjaga Yoongi baik-baik. Tolong jaga dia, tolong jaga─"

Ada jeda yang cukup lama sebelum Hoseok melanjutkan kalimatnya. Ia merasa tidak enak untuk mengatakan hal ini kepada Jimin.

"Tolong jaga wanita yang selama ini aku cintai. Aku yakin ia bisa bahagia denganmu dan aku sangat yakin ia pasti akan mencintaimu seperti kau mencintainya. Yoongi adalah orang yang sangat lembut, ia juga tidak sekuat apa yang orang-orang bayangkan. Yoongi dapat dengan mudah menangis dan aku harap kau tidak membuatnya menangis, tolong buat dia bahagia karena aku tidak akan pernah bisa membuatnya bahagia lagi seperti dulu lagi"

Kalimat Hoseok diakhiri dengan senyuman yang terukir pada wajahnya. Ia yakin bahwa Jimin adalah pria yang paling tepat untuk melindungi Yoongi dan ia yakin bahwa Jimin adalah pria yang terbaik untuk Yoongi.

"Pasti, aku akan menjaganya sampai kapanpun"

"Terimakasih, Jimin"

...

Yoongi berjalan gontai menuju apartemennya. Ia sangat lelah setelah bekerja lembur seharian tapi ia yakin bahwa Jimin belum pulang saat ini. Ia mengerutkan dahinya ketika pintu apartemennya tidak terkunci yang berarti ada seseorang di dalam apartemennya. Ia memasuki apartemennya dan mendapati seseorang dengan seringaian di wajahnya yang sedang duduk di sofa sembari menatap ke arah Yoongi. Pria itu berjalan menuju Yoongi dengan kedua tangannya yang ia sembunyikan di balik punggungnya.

"Mencari suamimu, noona?"

"Mau apa kau?! Pergi dari sini, jangan pernah ganggu hidupku lagi!"

Pria itu menutup mulut Yoongi ketika Yoongi hendak berteriak dan segera membawa Yoongi keluar dari apartemennya.

TO BE CONTINUE

.

.

.

.

HAI GENKS. Maaf ya baru sempet update lagi, lagi ga ada inspirasi nih :'D

Ohiya, tinggal 2 chapter lagi Look Here bakal selesai, maaf kalau sampai chapt 8 ini ceritanya masih absurd dan banyak typo ehehehehe

Review?