Hey Yoo! Soori BACK!

Telat update lagi.. Sorry~

Chap ini lama update, gara-gara otak Soori yang mampet. Tapi yahh akhirnya jadi juga kok XD

So, with all my love, I present chap 8. Just read, enjoy and leave comment please. Happy reading!

Title : Christmas Love

Rate : T

Cast : Jung Yunho x Kim Jaejoong -Yunjae- and many others

Disclaimer : Bukan milik author, hanya milik Tuhan, Orangtua mereka, Entertainment mereka dan diri mereka sendiri.

Warning : BoyxBoy, Yaoi, Boys Love, Typo(s), tidak sesuai EYD, alur berantakan, dan lainnya.

Chap 8-Complicated

.

.

.

Seorang namja dengan setelan berkelasnya berjalan penuh wibawa melewati beberapa pegawai yang membungkuk hormat padanya. Ia... Jung Yunho.

"Pagi, Tuan Jung." Wanita bertubuh tinggi semampai dengan seragam rapinya menyambut Yunho dengan senyumannya begitu ia memasuki ruang kerjanya.

Ah benar. Yunho telah kembali pada kesibukan sebagai direktur Jung Corp setelah masa cuti yang diambilnya berakhir.

"Pagi." Balas Yunho singkat.

Yunho berjalan melewati sang sekretaris menuju meja kerja yang sudah diabaikannya selama beberapa minggu itu.

Setelah duduk nyaman di atas kursi kebesarannya, sang direktur mulai memberi perintahnya, "Bacakan jadwalku, sekretaris Ahn."

Dengan sigap tanpa perlu diperintah dua kali, wanita cantik yang setia berdiri disisinya itu segera membuka lembaran demi lembaran buku agenda tebal yang dibawanya.

"Hari ini, anda dijadwalkan menghadiri meeting dengan Presdir Kang pada pukul 11.00 untuk membahas pembangunan hotel kerjasama di pulau Jeju. Pukul 14.45, anda harus mengunjungi proyek pembangunan Mall Jung Land yang ditargetkan selesai akhir tahun ini. Terakhir, janji makan malam dengan beberapa CEO perusahaan lain pukul 20.15 untuk membahas kerjasama proyek bazzar amal yang dilaksanakan pada awal bulan April mendatang." Sekretaris Ahn membaca jadwal Yunho secara mendetail tanpa celah.

Yunho hanya mengangguk tanda mengerti. Selanjutnya direktur muda berintelijen tinggi itu langsung terlarut dalam pekerjaan rutinnya, mengecek berkas-berkas laporan yang membukit di atas meja kerjanya.

"Kau boleh keluar sekarang. Aku akan memanggilmu lagi nanti." Titah Yunho tanpa mengalihkan wajahnya dari tumpukan berkas di hadapannya.

"Baik-" Ucapan sang sekretaris terpotong oleh debuman keras dari pintu ruangan Yunho yang terbuka secara tiba-tiba, menampilkan sosok namja bertubuh jangkung dengan wajah tak kalah tampannya dari Yunho.

"HYUNG! Kau sudah kembali!" Namja dengan ketinggian di atas rata-rata itu langsung berhambur memeluk Yunho.

Yunho nyaris saja terjungkal dari kursinya kalau saja ia tidak lebih dulu sadar akan kehadiran namja tiang listrik itu. "Ahem. Changmin-ah, lepaskan." Yunho dengan susah payah melepaskan dirinya dari jeratan Changmin, adiknya kandungnya sendiri.

"Ahh... Maaf hyung." Changmin langsung sadar dan sesegera mungkin melepaskan pelukan mencekiknya dari Yunho.

"Baiklah, kau boleh keluar sekarang, sekretaris Ahn." Yunho kembali berucap pada sang sekretaris, yang buru-buru membungkuk kembali sebelum berjalan keluar meninggalkan sosok kakak adik Jung ini.

Changmin? Yah, pandangan matanya malah tak lepas dari sekretaris Ahn hingga menghilang di balik pintu mahoni berukiran rumit itu.

Tuk

Tuk

Tuk

Yunho mengetuk-ngetukkan jari tangan pada kaca mejanya, yang akhirnya menyadarkan Changmin kembali berkat ketukan jarinya yang terdengar nyaring dalam ruangan kedap suara itu.

Jleb.

Rasanya tatapan mata Yunho begitu menusuk hingga ke tulang-tulang saat mata bulat Changmin beradu pandang dengannya.

"Ehehe." Changmin hanya cengengesan sendiri saat melihat tatapan membunuh sang hyung. "Maaf hyung. Aku lupa." Ucapnya kikuk singkat sambil menggaruk-garuk kepalanya salah tingkah.

"Ck!" Yunho hanya berdecak sebelum memberi nasehat-atau mungkin cocoknya ancaman-pada sang namdongsaeng tercinta, "Patuhi peraturan Jung Corp kalau tak ingin ditendang, Minnie."

"Ah. Arrayo. Aku benar-benar tak tahu kalau sekretarismu juga ada di dalam sini." Changmin mencoba membela dirinya sendiri. Namun Yunho hanya tersenyum maklum sambil menggeleng-geleng melihat tingkah kekanakkan namdongsaengnya itu.

Seperti ada perlu diperjelas di sini. Peraturan apa yang dimaksud Yunho? Tepatnya peraturan formalitas dalam berbahasa. Singkat cerita, Yunho yang memegang jabatan tertinggi dalam perusahaan ini, menetapkan peraturan kedisplinan ini sebagai prioritas utama dalam Jung Corp, yakni peraturan untuk tetap menggunakan bahasa formal dalam kantor, tanpa terkecuali. Yeah, inilah peraturan sang direktur utama dari perusahaan bergengsi Se-Asia ini.

Yunho baru akan melanjutkan pekerjaannya kembali setelah kepergian Changmin. Namun terhenti, saat melihat layar smartphone-nya yang menyala terang di sebelah tumpukan berkasnya.

You got 2 messages.

Yunho segera membuka pesan pertamanya.

From : Eomma

Yunnie-ah, orangtua Yoona sudah pulang hari ini. Jenguklah Yoona saat kau pulang kantor nanti.

Yunho cepat-cepat mengetik balasannya.

To : Eomma

Ne. Aku akan ke sana nanti.

Lalu, pesan berikutnya...

From : Boo-jae

Entah mengapa hanya dengan membaca namaID yang tertera pada layar smartphone-nya saja sudah mampu mencerahkan suasana pagi sibuknya.

Hey. Kau sedang apa?

Yunho menarik seulas senyum simpul saat membacanya.

.

.

.

Jaejoong's side.

Tampak seorang namja dengan balutan piyama tidurnya berjalan hilir mudik di sekitar ruangan kamar tidur yang berantakan itu. Namja itu terus berjalan mengitari setiap sudut kamarnya, sambil sesekali melirik layar smartphone-nya gelisah. Tampaknya ia tengah menanti sesuatu atau mungkin cocoknya seseorang. Siapa namja itu? Siapa lagi kalau bukan Kim Jaejoong? Yeah. It's Jaejoong.

Jaejoong menatap layar smartphone-nya lekat-lekat...

Inbox (0)

Ia kembali melirik dengan gelisah...

Inbox (0)

Kali ini ia mengintip perlahan dengan pouting khasnya...

Inbox (0)

"Aghhh! Aku menyerah! Aku menyerah!" Dengan kesal, Jaejoong melempar smartphone-nya ke atas spring bed empuknya.

Cling~

Seiring dengan mendaratnya smartphone itu di atas kasur, suara message-nya langsung terdengar nyaring bersamaan dengan layar yang menyala terang menampilkan simbol khas pesan masuk.

Oh! Cepat-cepat Jaejoong menghempaskan dirinya di atas spring bed-nya, mencari-cari keberadaan smartphone-nya. Got it! Jaejoong segera membuka pesan yang ditunggu-tunggunya itu.

From : Yunnie

Kerja.

Wae? Merindukanku?

Jaejoong tersenyum kecil saat membaca pesannya. Merindukannya? Ugh... Yes, he is! Ia merindukan Yun-bear-nya. Ia merindukan sosok berwajah rupawan itu. Yeah, Ia merindukan Yunho-nya.

To : Yunnie

Ne. Apa kau sibuk? Bagaimana kalau dinner bersama nanti?

Sent.

Tak berapa lama berselang, layar smartphone-nya kembali menyala.

From : Yunnie

Hm... Sedikit. Pekerjaanku agak menumpuk setelah kembali dari waktu cuti-ku. Mianhae, aku ada acara keluarga nanti.

Ugh. Jaejoong cemberut saat membaca kalimat terakhirnya. Tapi walau begitu ia tetap berusaha mengerti keadaan Yunho.

To : Yunnie

Gwenchana. Mungkin lain kali saja. Yasudah cepat kerjakan tugasmu tuan direktur. Hwaiting!

Raut cemberut itu langsung tergantikan oleh senyum cerahnya saat membaca pesan berikutnya.

From : Yunnie

Ne. Arrayo, boo :*

xxxxxxxxxx

Di sebuah ruangan serba putih dengan bau obat-obatan yang begitu menusuk indra penciuman, berbaringlah seorang gadis cantik dengan kedua orangtuanya di sisinya, tampak bercanda ria tanpa menyadari kehadiran orang lain di dalam sana.

"Eoh? Yunho oppa!" Pekik Yoona riang saat menyadari sosok Yunho yang berjalan ke arahnya dengan sekeranjang buah-buahan segar di tangannya.

Yunho hanya tersenyum membalas sapaan Yoona, setelahnya ia segera membungkuk hormat pada kedua orangtua Yoona.

"Yunho-ah!" Tuan Im menyapa Yunho dengan pelukan akrabnya sedangkan Nyonya Im hanya tersenyum melihatnya.

"Oppa! Lihat! Umma membelikanku oleh-oleh dari Australia! Ini juga ada beberapa untukmu." Yoona berkata riang sambil memamerkan souvenir yang diterimanya.

"Oh. Kami keluar sebentar. Kalian berbincanglah." Nyonya Im langsung berinsiatif membiarkan putri semata wayangnya berbincang bebas dengan Yunho sambil mengajak suaminya keluar bersamanya.

Yunho tersenyum menerima hadiah Yoona sambil mendengarkan ocehan riangnya. Ia tersenyum mengamati ekspresi bahagia Yoona. Baginya Yoona yang ceria seperti ini jauh lebih baik daripada Yoona yang lemah tak berdaya. Ia ingin Yoona cepat sembuh. Ia sungguh sangat menyayangi Yoona... Sama seperti ia menyayangi adiknya sendiri. Yeah, Yunho hanya menganggap Yoona sebagai adiknya, tidak lebih. Karena saat ini hatinya telah diambil alih oleh Jaejoong seorang. Ia begitu ingin menyampaikan berita bahagia ini pada Yoona, tapi kemudian diurungkannya niatnya itu.

"Yoona-ah, apa kau masih sering pingsan akhir-akhir ini?" Suara bass Yunho terdengar bertanya.

Yoona diam sejenak sebelum mengangguk pelan. "Ne..."

Yunho sedikit merasa tak enak hati saat melihat ekspresi Yoona. "M-mian. Aku tak bermak-"

"Aniya. Gwencahana. Ini hanya karena kondisi tubuhku yang kurang baik. Aku yakin, kondisiku akan membaik segera." Yoona berusaha berucap optimis.

"Aku juga yakin kondisimu akan membaik dalam beberapa minggu mendatang." Hibur Yunho.

"Ah." Yunho tiba-tiba teringat akan donor yang didapatkan orangtua Yoona. "Kau tahu? Orangtuamu sudah mendapatkan donor jantung untukmu. Dokter bilang mereka akan melakukan operasi cangkok jantungmu segera, setelah kondisimu pulih. Aku yakin kau pasti akan sembuh segera. Himnae." Yunho kembali berucap dengan maksud menghibur, tanpa menyadari perubahan ekspresi Yoona yang menjadi suram.

"Eum... Aku harap begitu..." Jawab Yoona singkat.

Ya. Ia juga ingin sembuh secepatnya. Kalau ia boleh memutar waktu, ia ingin kembali ke masa lalunya. Masa lalu dimana ia masih hidup normal saat itu. Dimana ia dikenal sebagai gadis ceria dengan banyak teman. Dimana hidupnya tidak tergantung oleh peralatan medis. Dimana ia masih belum terbebani oleh penyakit ini. Jantung Koroner.

Flashback on.

Yoona tampak berjalan sambil berbincang santai dengan sekumpulan gadis seusianya, menyusuri lapangan luas SM High School. Well, sebenarnya yang termasuk dalam perbincangan hanya gadis-gadis itu, karena sedari tadi Yoona lebih cenderung diam melamun.

"Hey! Hey! Hari ini weekend 'kan?" Tanya seorang gadis berambut pirang lurus dengan riang, Taeyeon.

"Eum..." Jawab Tiffanny bingung, namun seketika, wajahnya ikut berbinar. "Oh! Bagaimana kalau kita shopping hari ini?" Usulnya riang disertai eye-smile khasnya.

"Neeeeee!" Timpal yang gadis-gadis lainnya semangat, kecuali... Yoona, yang masih diam dalam dunianya sendiri.

"Yack! Yoona-ah." Tegur Jessica sambil menyikut temannya pelan.

"Eoh? Wae?" Tanya Yoona bingung.

"Kita akan ke mall hari ini. Eonnie ikut tidak?" Tanya sang magnae, Seohyun.

"Hm... Aniya. Aku tidak bisa ikut hari ini." Tolak Yoona. Entah apa yang salah dengannya hari ini. Kalau biasanya ia akan melonjak girang menerima ajakan temannya, sepertinya hal itu tidak berlaku hari ini. Sudah sejak pagi tadi, perasaannya terus bergejolak tak tenang.

"Aku pulang dulu. Annyeong." Cepat-cepat Yoona meninggalkan teman-temannya, saat melihat sang supir yang telah menantinya di depan gerbang sekolah.

"Nona, ayo kita pulang. Tuan dan Nyonya telah menanti anda." Ucap sang supir.

'Hah? Menantiku?' Batin Yoona heran. Sepertinya memang ada yang tak beres dengan hari ini.

Dan terbukti sudah feeling buruknya tadi. Kini ia berkumpul di ruang keluarga dengan kedua orangtuanya dan dua orang tamu lainnya di sana, seorang ahjumma dan seorang namja muda. Benar-benar pemandangan yang jarang dilihatnya. Tak biasanya kedua orangtuanya bisa berkumpul akrab di hari sibuk seperti ini. Apa tamunya begitu spesial bagi mereka? Sepertinya iya. Karena kalau kedua tamunya hanya rekan bisnis orangtuanya, pastinya ia tak akan diajak serta dalam perbincangan ini.

Terlalu larut dalam pikirannya sendiri, Yoona tak menyadari sedikitpun arah pembicaraan orang dewasa di sekitarnya, hingga sang umma menyikutnya tiba-tiba.

"Eoh!" Pekik Yoona kaget. "Wae, umma?" Pertanyaan polosnya sontak dihadiahi death- glare dari sang umma.

"Yoona..." Suara lembut di seberangnya, membuatnya menoleh pada sang sumber yang ternyata adalah ahjumma, tamunya. "Kau setuju?" Tanyanya ambigu.

"Se-setuju?" Bingung Yoona.

"Aah... Sepertinya kau melamun ya tadi?" Tanya Chullie ahjumma sambil terkekeh pelan, yah itulah panggilan akrabnya walau awalnya ummanya memperkenalkan tamunya itu sebagai Jung Heechul dan namja di sebelahnya sebagai putranya, Jung Yunho.

"Kami bermaksud mempertunangkan-mu dengan putra Chullie, Yunho. Kau bagaimana, Yoona?" Kali ini ummanya ikut berkata.

"Hm... " Otak Yoona otaknya segera memproses cepat. "MWO?!" Pekiknya kaget.

Semua yang di ruangan itu ikut kaget mendengar pekikan Yoona.

"Ber-bertunangan?" Ucap Yoona terbata-bata.

"Ne." Jawab appanya sambil tersenyum padanya.

"De-dengannya?" Tunjuk Yoona pada namja di hadapannya itu.

Kali ini Chullie ahjumma dan ummanya mengangguk antusias bersama.

"Yunho sudah menyetujuinya. Kita hanya tinggal menunggu persetujuanmu, Yoona." Ucap ummanya lembut sambil tersenyum padanya.

"Ahh... Andwae!" Pekik Yoona tiba-tiba.

"Eoh?" Semua orang di ruangan itu, kecuali Yunho, menatap bingung ke arahnya.

"Aku tidak mau." Jawab Yoona tegas sambil berdiri dari duduknya.

"Yoona-ah!" Pekik ummanya marah.

"Aku. Tidak. Mau." Kali ini Yoona menegaskan kata per kata dengan wajah tak kalah marahnya.

"IM YOONA!" Kali ini appanya ikut berteriak memanggil nama lengkapnya.

"Shireo!" Ucap Yoona kukuh.

Yoona berlari hendak menuju lantai atas, kamarnya, tapi belum sempat ia menyentuh anak tangga pertama...

Seseorang memegang pergelangan tangannya.

Yoona berbalik.

Menatap sosok di hadapannya itu.

Itu ummanya. Namun bukan sosok ummanya yang lemah lembut yang selama ini dilihatnya, melainkan sosok ummanya dengan kilatan mata penuh amarahnya.

PLAK!

Mata Yoona membulat besar.

Ummanya menamparnya?

Ia tak percaya apa yang barusan terjadi. Namun tamparannya terasa begitu nyata. Pipinya memanas saat tamparan ummanya tercetak merah si sana. Tak pernah sekalipun selama 19 tahun hidupnya, ummanya menamparnya.

Yoona dapat merasakan matanya berkaca-kaca menatap sosok yang ia kenal sebagai umma yang penyayang itu berubah seperti ini.

"K-kau..." Desis ummanya marah.

Tes

Air mata Yoona akhirnya mengalir juga.

Yoona menatap sekelilingnya dengan perasaan terluka. Ummanya menatapnya dengan aura mengerikan yang tak pernah sekalipun dilihatnya selama ini, di belakangnya, ada appanya dengan raut tak kalah marahnya, Chullie ahjumma yang menatap adegan keluarga itu dengan ekspresi kagetnya, dan Yunho yang menatapnya dengan ekspresi mengasihaninya. CIH! Ia benci semua orang.

Tanpa berpikir dua kali, Yoona segera berlari keluar, melewati mansion besar keluarga Im.

Satu-satunya hal yang dipikirkannya saat ini hanyalah melarikan diri sejauh mungkin. Tak peduli kemana kakinya akan membawa pergi, dan seberapa jauh ia mampu melangkah. Yang pasti ia hanya ingin menjauh dari semua orang untuk saat ini.

Yoona terus berlari, berlari, dan berlari. Air mata yang terus meleleh dari sudut matanya, tak mampu menghalau rasa sakit dan kecewanya saat ini.

DEG!

Saat itulah... Serangan pertamanya tiba.

Dapat dirasakannya perlahan, kakinya semakin lambat melangkah, seiring semakin sulitnya ia bernafas. Dadanya terasanya begitu sesak, jantungnya serasa teremas-remas.

"Hah... Hah..." Yoona berhenti di tepi trotoar dengan nafas yang saling berkejar-kejaran. Kedua tangannya yang memegang lututnya agar dapat menopang berat badannya.

Yoona mulai kekurangan pasukan oksigen. Nafasnya tersendat-sendat. Ia memegang dadanya sendiri mencoba merasakan detak jantungnya yang melambat.

Yoona mencoba berdiri tegak. Namun gagal, tubuhnya limbung tiba-tiba. Ia terduduk lemah di tepi trotoar. Ia berusaha meraup oksigen sebanyak-banyak. Namun pernafasannya malah semakin memburuk.

"Hahhh... Hahhhh..." Nafasnya semakin tersendat.

Yoona mencoba menegakkan kepalanya, menatap sekelilingnya. Salju pertama tahun itu mulai turun menghujaninya. Yoona hanya mengenakan dress sweater berlengan panjang selutut dan sandal rumahnya, mulai menggigil kedinginan.

Segalanya kini terasa berputar-putar cepat dalam kepalanya. Sebelum kegelapan mengambil alih penglihatannya, samar-samar ia melihat seorang namja dari kejauhan berlari tergesa-gesa ke arahnya.

"Yunho..." Kata terakhir yang diucapkan Yoona, sebelum kesadaran hilang total. Seketika Yoona ambruk di tepi trotoar dengan orang-orang yang mulai ramai mengerubunginya.

3 DAYS LATER.

Sepasang kelopak mata yang telah tertutup beberapa hari lamanya mulai terbuka perlahan. Yoona telah sadar dari komanya. Dan hal yang pertama dilihatnya adalah kedua orangtuanya yang menangis tersedu-sedu di sisinya.

"U-umma... Appa..." Suara serak Yoona langsung menyadarkan kedua insan itu segera.

"Yoona-ah! Mianhae Yoona-ah. Mianhae..." Tak henti-hentinya kedua orangtuanya mengucapkan maaf sambil memeluknya erat.

Ia sadar begitu ia membuka matanya, segalanya akan berbeda dari sebelumnya. Pahit memang, tapi itulah kenyataannya. Ia harus merelakan masa depannya hancur berkeping-keping saat itu pula.

Berminggu-minggu telah terlewatkan, Yoona tak kunjung bangkit juga dari keterpurukannya. Orangtuanya tak lagi memaksanya bertunangan. Namun Yoona terlanjur putus asa, baginya sia-sia saja ia menolak. Lagian tunangannya cukup perhatian padanya, setiap hari ia datang mengunjunginya.

"Sudah lebih baik?" Tanya Yunho sambil meletakkan buah-buahan segar di meja nakas di sisi kasur Yoona.

"Eum." Yoona hanya menggumam.

"Ingin keluar sebentar?"

Yoona menatap Yunho sekilas, sebelum mengangguk lemah.

Di sinilah mereka. Taman rumah sakit. Dengan salju yang masih berjatuhan memenuhi halaman taman yang sudah memutih sempurna tertimpa gumpalan-gumpalan salju.

"Aku benci musim dingin..." Desis Yoona. Yeah, sekarang memiliki trauma dengan musim dingin karena pengalaman pada serangan pertamanya itu. "Dan kau." Kali ini Yoona berucap sambil menatap Yunho.

Yunho balas menatapnya datar. Ia tidak kaget mendengarnya, ia tahu Yoona membencinya selama ini.

"Aku tahu." Balas Yunho singkat.

Kali ini Yoona yang diam.

"Kenapa kau menyetujuinya?" Tanya Yoona ragu.

"Karena ummaku." Yunho juga sama halnya dengan Yoona, menyetujui pertunangan ini demi keluarganya. Ia tak tega menolak keinginan ummanya sebab setelah kepergian appanya, ummanya harus tetap tegar sebagai single parent membesarkannya dan adiknya.

"Yunho-ssi, mari membuat janji satu sama lain. Jangan pernah jatuh hati dengan satu sama lain karena kelak kita harus memutuskan pertunangan ini setelah kita menemukan orang yang kita cintai masing-masing nantinya. Dengan begitu kita tak perlu bergantung satu sama lain selamanya." Yoona berkata dingin.

"Tentu. Aku akan mengingatnya dengan baik. Kuharap kau juga." Jawab Yunho.

Flashback off.

Kembali ke masa kini, Yoona yang masih menyesali segalanya yang terjadi di masa lalunya, termasuk kebodohannya membuat janji konyol itu. Sekarang, ia malah termakan janjinya sendiri. Ia jatuh pada Yunho. Hah. Ini karena Yunho yang begitu perfect di matanya. Ia baik, perhatian dan tampan. Tipe idaman 'kan?

"Yoona-ah, aku pulang dulu ya. Semoga kau cepat pulih." Yunho pamit pada Yoona sambil mengacak-ngacak rambutnya gemas.

"Hati-hati di jalan, oppa!" Yoona melambaikan tangannya pada Yunho, yang hanya balas tersenyum padanya.

See? Siapa yang tak berdebar kalau diperlakukan seperti ini. He is too sweet.

xxxxxxxxxx

Yunho sedang berjalandi basement rumah sakit, saat tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. Diraihnya smartphone-nya dari saku celananya.

19.23 KST

Um... Tidak terlalu telat untuk dinner 'kan?

Dengan cepat, Yunho mengetikkan sebuah pesan singkat untuk Jaejoong.

To : Boo-jae

Boo, kau di rumah? Ayo dinner. Aku akan menjemput sekarang.

Cling~

From : Boo-jae

Ne. Kau sudah menyelesaikan acara keluargamu? Okay!

Yunho tersenyum, sembari melangkah cepat menuju tempat mobilnya terparkir apik. Ia tak sabar untuk segera menjumpai kekasih cantiknya itu.

To : Boo-jae

Sudah. Tunggu aku.

Sent.

.

.

Triangle Love?

.

.

.

TBC

(To Be Continued)

Boring? Yeah I knew it. Next chap will be better! Just wait~

As always, thanks to the previous chap reviewers :

YunHolic | jenira99 | Youleebitha | cristiyunisca | Dennis Park | hanasukie | jaena | ginalee09 | lee sunri hyun | Yeolna24 | Lonelydarksoul77 | BlackXX | sukisuki | Dee chan - tik | noworry

And thanks to all my dearest readers too.

RnR?

Review Juseyo~

.

See u next chap!

Thanks for reading :)