Tatapan tajam terus dilayangkan Kris pada Sehun, ia seperti seorang psikopat yang ingin menyerang korbannya. Bahkan acara mengobrol hangat dengan keluarga Xi kini telah lenyap seketika karena kedatangan pria jangkung itu.
"Lu, aku ingin pulang." bisik Sehun ditelinga Luhan. Untung saja Luhan duduk disamping Sehun saat ini. Jika tidak, Sehun merasa hidupnya akan berakhir saat itu juga karena tatapan Kris. Apalagi Kris yang duduk tepat didepan sofa Sehun.
Alis Luhan melirik kearah Sehun bingung, "Kenapa?"
Belum sempat Sehun menjawab, Nyonya Xi sudah menimpali, "Ada apa Sehun? Apa ada sesuatu yang salah?"
Seketika tubuh Sehun membeku mendengar pertanyaan itu. Lelaki jangkung itu pun melirik Kris yang masih menatapnya tajam dengan tatapan takut, "Hm anu," seluruh orang diruangan itu menangkap ekspressi takut Sehun, "a-aku harus pulang, ibu sudah menungguku dirumah."
Nyonya Xi menatap jam yang terpampang didinding rumah, "Ah iya, sudah sore," tatapannya pun beralih pada Sehun dengan senyuman manisnya, "jadi Sehun ingin pulang? bagaimana kalau diantar dengan Kris saja?"
"Tidak!" jawab Sehun dengan cepat. Demi apapun ia lebih baik pulang sendirian ketimbang harus diantar oleh Kris yang dinginnya seperti seorang psikopat itu. Merasa jawabannya terlalu frontal, Sehun pun segera tersenyum tak enak, "m-maksudku aku bisa pulang sendiri."
"Ya sudah, Luhan antarkan saja Sehun sampai gerbang ya." Luhan pun mengangguk dan mengajak Sehun keluar rumahnya. Sehun segera menggenggam jemari Luhan untuk meluapkan rasa takutnya akibat tatapan tajam yang dilayangkan Kris padanya.
Hanya Tuan Xi yang mengerti gerak gerik Sehun. Saat Sehun dan Luhan sudah menghilang dibalik pintu, ia pun melirik anak sulungnya yang masih terdiam dengan tatapan tajamnya, "Apa kau memiliki masalah dengan Sehun?"
"Hm." jawab Kris acuh, ia pun segera beranjak dari sofa ruang tamu keluarga Xi, meninggalkan Nyonya dan Tuan Xi yang kebingungan dengan sikap anak sulungnya itu. Tanpa disadari, Kris menyeringai iblis merencanakan sesuatu.
Sial! sepertinya Kris sudah mengingat kejadian beberapa tahun silam!
DIFFERENT
Rated:
T [bisa berubah kapanpun]
Cast:
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Oh Sehun
Xi Luhan
and Other Cast..
Dua kepribadian yang berbeda menjadi saling memiliki. Baekhyun yang gemar berkelahi dengan Chanyeol si ketua Osis yang sangat berwibawa. Sehun si tukang bully dengan Luhan si namja pemalu dan terlihat lemah. Semua itu hanya karena surat cinta sialan milik Luhan. Bagaimana kedua pasangan itu menjalani kisah cintanya? mampukah keempat namja itu bertahan?
.
.
.
"Kau kenapa?" tanya Luhan saat ia dan Sehun sudah berada didepan gerbang rumahnya, "aku lihat kau sepertinya gelisah."
Helaan nafas panjang Sehun terdengar, "Bagaimana tidak gelisah eoh? hyungmu mengingatku, Lu!"
"Mengingat?" alis Luhan berkerut bingung, "gege mengingat apa?"
"Kejadian itu, saat aku—" helaan nafas Sehun terdengar kembali, ia tak ingin mengingat – ingat lagi kelakuan bejatnya saat JHS didepan Luhan, "ah, pokoknya kejadian itu."
Senyuman manis Luhan mengembang, "Kejadian saat kau membullyku kan? Sudahlah Hun, aku sudah memaafkanmu."
"Bukan itu masalahnya!"
"Lalu?"
Sehun mengusap wajahnya kasar, kini ia sangat terlihat frustasi, "Masalahnya itu, apakah hyungmu sudah memaafkanku hah?"
Bukan hanya Sehun yang merasa frustasi, Luhan pun sama. Ia kini menatap Sehun dengan tatapan horrornya, "A-aku rasa belum." Suara Luhan sedikit bergetar mengucapkannya. Ia pun mengingat sikap Kris yang sangat berbeda dengannya. Kasar, dingin, introvert, dan sialnya pendendam.
Oh no! Luhan tak pernah membayangkan jika saja kakaknya akan balas dendam pada Sehun!
.
.
.
Baru kali ini Baekhyun merasakan perasaan bergejolak pada jantungnya, rasa aneh dengan ratusan kupu kupu yang berterbangan di perutnya pun baru ia rasakan sekarang. Dan sialnya semua itu karena sosok Chanyeol yang menciumnya dengan lembut saat di sungai Han. Baekhyun rasa ciuman kali ini sangat berbeda dengan ciuman sebelumnya, karena ciuman kali ini berhasil membuat Baekhyun merasa gila sendiri.
Bahkan saat makan malam dengan keluarga, pikiran Baekhyun masih saja terfokus pada pacar jangkungnya. Makanan yang ada dihadapannya bahkan diabaikan dan tak disentuhnya sama sekali. Tuan Byun yang biasanya sedikit acuh dengan Baekhyun pun kini bertanya pada anak bungsunya itu –meskipun masih dengan nada sinis, "Kau kenapa, Baek? Apa kau kembali mendapat surat peringatan dari sekolah karena kelakuanmu?"
"Bukan itu, Ayah." dan tak biasanya juga Baekhyun menjawab dengan nada yang sedikit halus dan lemah, karena biasanya anak itu selalu berbicara nada tinggi bila sedang berbicara dengan ayahnya. Tuan Byun pun merasa khawatir dengan anak bungsunya saat ini. Ya, walaupun Baekhyun selalu membuat emosinya naik karena kenakalannya, anak itu adalah darah dagingnya sendiri.
Nyonya Byun pun segera mengalihkan pandangan kepada Baekhyun menyadari perubahan nada suara Baekhyun. Kedua orang dewasa itu mengerutkan dahi bingung, apakah ada sesuatu hal pada Baekhyun? sedangkan Baekboom –kakak Baekhyun hanya menaikkan bahunya acuh, karena dia memang sudah tahu penyebab adiknya merana.
"Sayang? Kamu sakit?" tanya Nyonya Byun dengan lembut, bahkan jemari wanita paruh baya itu menggenggam lembut jemari lentik anak bungsunya, "kalau sakit, Baekki tidur ya?" ya, Nyonya Byun walaupun sangat tegas pada Baekhyun, ia juga sangat memanjakan Baekhyun membuat sosok keras kepala Baekhyun seketika luntur jika berhadapan dengan ibunya.
Belum sempat Baekhyun menjawab, Baekboom sudah berbicara duluan, "Baekhyun tidak sakit, bu. Dia sepertinya sedang memikirkan pacarnya," seringaian Baekboom pun terlihat, "dia kan habis kencan dengan pacarnya sampai dia pulang telat."
Mata sipit Baekhyun melirik sinis pada kakaknya, ingin sekali dia mengumpat pada kakaknya kata kata kasar. Tetapi belum sempat Baekhyun melakukan hal laknat itu, ibunya sudah membuka suara dengan nada kaget, "J-jadi Baekhyun sudah memiliki kekasih? Lelaki atau perempuan?"
"Iya bu! Aku lihat pacar Baekhyun itu seorang lelaki tampan," jawab Baekboom dengan nada semangat, matanya pun melirik Baekhyun dengan senyuman menggodanya, "pacar Baekhyun juga sangat gagah dan terlihat berwibawa, aku berani bersumpah Baekhyun yang menjadi uke alias bottomnya!"
Sialan.
Emosi Baekhyun benar benar terpancing saat ini. Ia pun menatap kakak satu satunya itu dengan tatapan tajam, "Yak! Tutup mulutmu sialan! Jangan berpikir macam macam! Mana mungkin aku menjadi seorang bottom."
Kekehan Tuan Byun terdengar, pria yang semenjak tadi diam itu kini sudah tertawa keras menatap anak bungsunya, "Uri Baekki sudah besar rupanya~" ucapnya dengan nada main main. Oh! Setelah sekian lama –semenjak Baekhyun lulus SD, Tuan Byun pun kini kembali menggoda Baekhyun.
"Ih~ apaan sih ayah~" bukannya marah kepada ayahnya, Baekhyun justru merengek manja dengan wajah yang memerah. Entah mengapa mendapat godaan dari ayahnya hatinya memekik senang. Mungkin karena selama ini Baekhyun sudah tidak terlalu sering berkomunikasi bahkan bercanda dengan sang ayah.
Ya, semenjak Baekhyun lulus SD dan memasukki SMP, anak itu menjadi sangat berandal karena pengaruh temannya. Semenjak itu pula, dia tidak begitu dekat dengan keluarganya dan selalu membuat masalah entah itu dimanapun. Tetapi sekarang, seperti ada keajaiban Baekhyun dan keluarganya pun menjadi dekat kembali.
Seketika itu pula, seluruh anggota keluarga Byun itu tertawa melihat tingkah aegyo Baekhyun yang sangat jarang ditunjukkan –kecuali pada ibunya. Ya, suasana makan malam yang sebelumnya selalu sepi dan hening kini berubah menjadi hangat dan penuh canda.
Tuan Byun dan Nyonya Byun pun sangat berterimakasih kepada pacar Baekhyun saat ini, entah siapapun dia. Karena lelaki yang menjadi pacar Baekhyun itu sudah berhasil membuat Baekhyun menjadi dekat kembali dengan keluarganya.
.
.
.
Disebuah taman komplek perumahan itu terlihat dua orang anak kecil berumur 4 tahun sedang bermain robot power rangers. Dua anak kecil itu memiliki tubuh yang sangat jauh berbeda, yang satu memiliki tubuh yang gemuk dan tinggi sedangkan yang satunya memiliki tubuh yang mungil dan pendek.
Anak yang memiliki tubuh yang lebih pendek tiba tiba menangis karena power rangers merah miliknya tiba tiba kakinya patah. Chanyeol –anak yang lebih tinggi pun segera menenangkannya dengan memberikan power rangers hitam miliknya, "Baekki jangan menangis, ini power rangers punya Yeolli buat Baekki saja."
"Nanti Yeolli mainannya pakai apa?" isakan yang lebih mungil terdengar, mata sembabnya menatap lucu Chanyeol membuat Chanyeol ingin memekik gemas melihat keimutan anak itu.
Jemari Chanyeol pun menjawil pipi Baekhyun gemas, "Power rangers merah Baekki buat Yeolli, biar nanti Yeolli perbaiki. Kita saling tukar power rangers"
"Benarkah?" mata Baekhyun makin berbinar. Kepala Chanyeol mengangguk yakin untuk menjawabnya. Tiba tiba Baekhyun pun memeluk erat Chanyeol, "Yeolli memang yang terbaik! Baekki sayang Yeolli!"
Mendengar hal itu, senyuman Chanyeol mengembang. Ya, dia benar benar senang dengan ucapan sahabat mungilnya itu, dan ia pun merasakan sesuatu yang aneh pada dadanya. Entah perasaan apa itu, Chanyeol tak mau tahu. Yang terpenting saat ini adalah Chanyeol merasa nyaman berdekatan dengan sahabat mungilnya yang ternyata adalah cinta pertamanya.
Jemari Chanyeol menggenggam erat sebuah robot power rangers merah yang telah usang. Ia menghela nafas panjang saat mengingat masa lalunya kembali, "Kenapa aku baru menyadari bahwa Baekhyun adalah cinta pertamaku? Padahal aku merasakan hal yang aneh ketika aku melihatnya saat pertama kali masuk disekolah," pikiran Chanyeol pun terbang pada saat Baekhyun beraegyo ria pada kakeknya, "seharusnya aku sadar saat dia menyebut dirinya dengan nama Baekki."
Chanyeol pun segera keluar kamarnya untuk menemui ibunya yang sedang menonton TV diruang keluarga. Lelaki jangkung itu pun duduk disamping ibunya, "Hm, ibu." panggilnya.
Sang ibu pun menoleh dengan tatapan bingung, tidak biasanya anak bungsunya itu menemuinya disaat saat seperti ini, "Kenapa Yeol?"
"Anu bu—" nada suara Chanyeol berubah menjadi ragu. Nyonya Park bahkan mengabaikan drama favoritenya untuk mendengar kelanjutan ucapan anaknya, "apa ibu masih berhubungan dengan keluarga Byun, tetangga kita dulu?"
Nyonya Park mengingat ingat sebentar lalu ia pun mengangguk, "Iya, ibu masih berhubungan baik dengan keluarga Byun. Bahkan ibu juga sering bertemu dengan Nyonya Byun ketika ada arisan ibu – ibu,"
Helaan nafas lega terdengar dari mulut Chanyeol. Lelaki itu merasa bersyukur mendengar pernyataan ibunya. Itu berarti langkah dia untuk mendekati seorang Byun Baekhyun makin dekat. Menyadari respon anaknya yang terlihat senang, tatapan Nyonya Park pun berubah menjadi tatapan penasaran, "kenapa bertanya seperti itu?"
"Hm, t-tidak." Chanyeol tersenyum lebar dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "hanya rindu dengan teman masa kecilku saja."
Kepala Nyonya Park mengangguk kecil, ia pun mengalihkan pandangannya pada drama di TV lagi, mengabaikan anaknya yang kini telah berlari ke kamarnya dan melompat lompat dikasur karena terlalu senang.
.
.
.
Sebenarnya malam ini Sehun berencana ingin berbahagia karena hari ini ia melalui harinya dengan Luhan. Tetapi sangat sial, rencana hancur sudah karena sosok Kris yang bagai hantu justru menghantuinya dengan tatapan tajamnya yang sialnya sangat menyeramkan itu.
Apalagi Kris terkenal sebagai ketua organisasi gangster yang dingin, menakutkan, arrogan, dan menyeramkan disekolahannya. Oh my god! Sehun rasa hidupnya tak akan lama lagi berada di tangan lelaki itu.
Pikirannya pun melayang pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Ia ingat bagaimana ia hampir saja mendorong Luhan ke jalan dan Luhan diselamatkan oleh Kris, saat itu juga Sehun babak belur karena Kris dan berjanji tak akan melakukan pembullyan lagi pada Luhan.
Ditengah gelisahnya seorang Oh Sehun, tiba tiba pintu kamar lelaki itu terbuka, ia pun menemukan seseorang yang sangat tak ingin ditemuinya saat ini, "Sedang apa kau kemari, Irene? Pergi!" suara Sehun sangat terdengar dingin.
Irene menghentakkan kakinya kesal, baru kali ini Irene diusir oleh Sehun, "Kau kenapa sih, Hun? Luhan mengatakannya padamu ya?"
"Mengatakan apa?" alis Sehun berkerut tak mengerti dengan pertanyaan Irene.
"Ah tidak!" jawab Irene cepat, ia menghela nafas lega ternyata Sehun masih belum tahu bahwa dialah yang menjebak Luhan, "oh ya Hun, kau mengenal Baekhyun?" tanya Irene berbasa basi untuk mengalihkan pembicaraan mereka.
"Baekhyun?" bukannya menjawab, Sehun justru tersenyum lebar. Ia pun segera mengusir Irene keluar kamarnya, "Keluar sana! Aku tak tahu apapun tentang Baekhyun!" bahkan, dengan tega Sehun mendorong Irene keluar kamarnya.
Irene mendengus kesal karena perlakuan Sehun padanya, "Ish! Kenapa sih Sehun? Kau jangan perlakukanku seperti ini! Aku ini calon istrimu!"
"Jangan terlalu banyak bermimpi!" dan baru kali ini Sehun berani mengatakan hal itu pada Irene, ia pun dengan kurang ajarnya menutup pintunya didepan wajah Irene.
Tanpa Irene sadari, Sehun kini memekik senang karena Baekhyun. Oh ternyata Sehun memiliki rencana akan memperalat Baekhyun untuk membantunya menghadapi Kris dan mendapatkan Luhan.
Bukankah Baekhyun juga anggota gangster sekolahan seperti Kris?
.
.
.
Maafkan aku untuk ciuman dan pernyataan cintaku
Tapi sungguh Baek, aku sangat ingin membantumu untuk menjauhkan Chanyeol darimu
Mata Baekhyun menatap pesan yang dikirimkan Daehyun kepadanya. Perasaan Baekhyun berubah menjadi bimbang, disatu sisi dia ingin mejauhi Chanyeol dalam hidupnya, tetapi disisi lain ia justru merasa cukup nyaman bersama lelaki jangkung itu.
Tatapan Baekhyun pun beralih pada langit langit atap kamarnya, dengan pikiran yang masih berfokus pada Chanyeol. Sungguh! Baekhyun merasa aneh dengan Chanyeol, mengapa lelaki itu bisa menyukainya sampai seperti ini? Apa ini karena kejadian surat cinta Luhan itu? atau Chanyeol memang menyukainya dengan tulus?
"Aish! Aku tak boleh sungguhan jatuh hati padanya!" wajah Baekhyun berubah kesal, ia pun memilih menutupi wajahnya dengan guling, "aku harus menjauhinya sekarang juga sampai aku tahu apa alasan Chanyeol menyukaiku."
Ya, Baekhyun sungguh tak ingin jika nanti Chanyeol hanya bermain – main dengannya. Karena Baekhyun paling tidak suka disakiti apalagi karena cinta.
.
Dipagi yang cukup indah ini, Baekhyun memilih untuk berada dalam ruangan club sepak bola dan membolos ketimbang belajar pelajaran matematika yang sangat menyebalkan itu. Ia pun berbaring pada kursi panjang yang tersedia disana, untuk menenangkan pikirannya. Baru kali ini Baekhyun memilih ruangan club sepak bola menjadi tempat bolosnya dikarenakan dia berpikir bahwa di tempat itulah Chanyeol tak bisa menemuinya.
"Kau sedang apa disini? Tidak biasanya kau berada di sini." tiba tiba terdengar suara menginterupsi, Baekhyun mengintip di balik lengannya –yang ia letakkan untuk menutup matanya, dan ternyata sudah ada Jongin yang baru masuk.
"Apa urusanmu?" jawab Baekhyun acuh, ia pun memilih memejamkan matanya kembali, "kau sendiri ingin apa kemari?" tanyanya tanpa membuka mata.
"Mengambil bola," Jongin menunjukkan bola yang baru ia ambil di ranjang bola, meskipun tak dilihat Baekhyun, "aku pergi dulu, Baek."
"Hm." hanya deheman Baekhyun yang menjawabnya, Jongin hanya menaikkan bahunya acuh –sudah terbiasa dengan sikap Baekhyun, dan setelahnya pun lelaki tan itu meninggalkan ruangan club.
Alasan Jongin mengambil bola di ruangan club sepak bola adalah untuk memainkan bola di lapangan bola yang berada di outdoor, sudah menjadi kebiasaan bocah itu untuk bermain bola ketika tak ada guru masuk di kelas. Maka dari itu, wajar saja kulitnya sedikit kecoklatan ketimbang orang korea pada umumnya.
Saat hendak ke lapangan bola, tak sengaja ia berpaspasan dengan Chanyeol yang baru saja keluar dari ruangan Osis. Alisnya berkerut heran mendapati senyuman Chanyeol yang terus saja berkembang, "Hei Chanyeol-ssi! sedang bahagia eoh?"
"Ya, seperti itulah," Kepala Jongin mengangguk –tak ingin menyanyainya lagi, "Apa di kelas tak ada guru?" tanya Chanyeol merubah topik pembicaraan.
"Hm, Guru song tak masuk karena sakit," Jongin pun mengangkat bolanya, "aku duluan, tak sabar ingin menendang bola ini."
Chanyeol terkekeh, lalu mengangguk kecil, "Tendanglah sampai kau puas."
Dan setelahnya Jongin pun menjauh, tetapi sebelum melangkah lebih jauh Jongin berbalik, "Oh iya, Park Chanyeol! Baekhyunmu ada di ruangan club sepak bola sekarang, ya aku hanya bingung karena tidak biasanya dia disana."
Chanyeol yang hendak pergi dari sana pun terdiam membatu. "Ah seperti itu ya? Terima kasih atas informasimu." Chanyeol yang berniat ingin kembali ke kelas pun berubah pikiran, dengan seringaian lebarnya ia justru berjalan ke ruangan club sepak bola yang tak jauh dari sana.
Ugh! Dia tak sabar ingin menemui kekasih mungilnya sekaligus cinta pertamanya itu.
.
.
.
CKLEEK!
Baekhyun mendengus, lagi lagi pintu club sepak bola terbuka. Baekhyun hendak mengintip di balik lengannya tetapi tak jadi. Pasti itu anak club yang ingin mengambil bola lagi, pikirnya. Langkah seseorang mendekat terdengar jelas di telinga Baekhyun, tetapi Baekhyun masih mencoba mengabaikan.
Tiba tiba Baekhyun merasakan parfum yang tidak asing di indra penciumannya, ia mencoba mengintip tetapi yang ia lihat hanyalah kaki jenjang seseorang yang tertutupi celana bahan sekolah. Merasa sangat penasaran, Baekhyun pun bangkit dari acara tidurnya.
Belum sempat ia bangkit, sebuah tangan sudah menahan bahunya untuk bangkit, "Tidur saja lagi, aku tak akan mengganggumu." suara bass yang tak asing di telinga Baekhyun terdengar, langsung saja Baekhyun menoleh ke sumber suara, dan sial ia menemukan orang yang paling tidak ingin ia temui berada di depan tubuhnya.
Langsung saja, ia hempaskan tangan itu dan bangkit untuk duduk. Ia pun langsung melemparkan tatapan tajam pada lelaki itu, "Sedang apa kau disini hah?!" suara Baekhyun meninggi.
"Ssstt," jari Chanyeol ia letakkan di bibir Baekhyun, membuat tangan yang lebih kecil menghempaskannya, "bisakah kau tak berteriak hm? Aku kemari hanya ingin melihatmu, baby." Bukannya balik berteriak, Chanyeol justru berbicara sehalus mungkin, membuat suara beratnya terdengar sedikit hmm, err –seksi?
Tiba tiba Chanyeol duduk di bangku panjang yang sama dengan bangku Baekhyun, ia duduk di samping kaki Baekhyun dan memijat kaki yang lebih mungil dengan lembut, "K-kau sedang apa?" tiba tiba suara Baekhyun tergagap, entah mengapa ia menjadi sangat gugup saat ini.
"Memijatmu," jawab Chanyeol pendek, tidak peduli dengan wajah si mungil yang kini memerah seperti cabe busuk, "aku tahu kakimu pasti pegal karena sering bermain sepak bola, ya walaupun sampai saat ini aku belum pernah melihatmu bermain bola."
'MODUS!'
Baekhyun tahu Chanyeol sedang merayunya saat ini, ingin sekali Baekhyun menyingkirkan jemari Chanyeol diatas kakinya tetapi rasa pijatan jemari besar itu membuatnya tak bisa berkutik sama sekali. Lelaki yang lebih mungil pun hanya mampu menatap wajah tampan Chanyeol dalam diam –Memperhatian lelaki tinggi itu memijatnya.
"Kau membolos hm?" suara berat Chanyeol memecahkan keheningan. Namun, tatapan lelaki itu masih berfokus pada betis putih dan mulus milik Baekhyun –celana Baekhyun sengaja Chanyeol naikkan.
Dengusan terdengar, Baekhyun pun memutar bola matanya malas, "Apa urusanmu hah?"
"Bisa tidak nada suaramu menjadi manja ketika kau merengek pada kakekmu? Atau kau menjadi sedikit pemalu seperti saat kencan kita kemarin?" goda Chanyeol, membuat wajah Baekhyun seketika makin memerah.
Decihan Baekhyun terdengar, "Cih! Dalam mimpimu saja, sialan!"
Kepala Chanyeol hanya menggeleng kecil menanggapinya, dengan gemas ia mengusak rambut Baekhyun membuat si pemilik rambut itu menunjukkan tatapan mematikannya, "Kau itu seperti mempunyai alter ego, baby. Di satu sisi kau memiliki aura menyeramkan tetapi disisi lain kau justru memiliki aura menggemaskan," Chanyeol pun memajukkan tubuhnya membuat jarak mereka hanya beberapa jengkal, "tetapi dengan pribadimu seperti itu, kau membuatku makin menyukaimu sayang."
Dengan kasar, telunjuk lelaki mungil itu mendorong kening Chanyeol menjauh, "Sayang palamu peyang!"
Tawa Chanyeol pecah mendengar umpatan Baekhyun. Hal itu tentu saja membuat si mungil merasa menjadi kesal karena merasa di permainkan. Sontak saja kaki Baekhyun ia tarik dan tubuhnya segera bangkit tanpa kata.
Di luar ekspetasi, Chanyeol justru menarik lengan Baekhyun membuat lelaki mungil itu terjatuh di pangkuannya, "Baby ku merajuk hm?" suara bass itu masuk ketelinga Baekhyun membuat si mungil sedikit merasa merinding.
Baekhyun hendak berdiri dari pangkuan Chanyeol, tetapi sialnya lengan kekar Chanyeol dengan cepat memeluk possesive pinggang Baekhyun, "Yak! Apa apaan kau?" teriak Baekhyun, ia merasa kaget akan penarikan paksa Chanyeol.
"Sebentar saja okey? Aku hanya ingin memelukmu, sayang." Baekhyun segera saja memutar tubuhnya ke belakang dan menemukan lelaki itu justru menatap teduh dirinya dan tersenyum tampan, membuat Baekhyun sedikit terpesona melihat single dimplenya –Baekhyun baru menyadari Chanyeol memiliki lesung pipi.
Sialnya, perasaan aneh yang Baekhyun alami kemarin sekaligus jantung yang berdetak sangat kencang kini menyerangnya lagi. Ingin Baekhyun menolak rasa aneh itu, tetapi tubuhnya menjadi makin kaku ketika iris mata kelam obisidan Chanyeol menatap dalam matanya.
Semakin lama kepala Chanyeol makin menunduk dan otomatis jarak antara kedua anak adam itu makin terkikis, seringaian iblis Chanyeol terlihat seketika –terutama saat lelaki itu menyadari Baekhyun kini membatu. Dan ketika itu pula, dengan penuh keberaniannya ia menempelkan bibir tebalnya pada bibir tipis milik lelaki bermarga Byun di hadapannya. Di gerakannya perlahan bibirnya di atas bibir tipis kemerahan favoritenya itu.
Berkali kali Baekhyun memukul dada bidang Chanyeol agar lelaki tinggi itu melepaskan ciumannya, tetapi sialnya nihil. Lelaki itu malah makin gencar melumat bibir itu. Hingga akhirnya Baekhyun memilih diam dengan memejamkan matanya dan mengatupkan bibirnya berusaha agar Chanyeol tidak memasukkan lidahnya dan menginvasi seluruh mulutnya.
Jujur saja Baekhyun sungguh salut dengan ciuman Chanyeol. Terutama ciuman mereka saat ini, karena ciuman kali ini sangat liar ketimbang ciuman biasanya. Bahkan denhgan seenak jidatnya Chanyeol menggigit serta menginvasi seluruh mulut Baekhyun membuat si kecil tak mampu berkutik.
Sampai akhirnya, Baekhyun kehabisan nafas dan dengan terpaksa Chanyeol pun mengakhiri ciuman itu. Dengan segera, Baekhyun menghirup rakus oksigen di sekitarnya. Benang saliva entah milik siapa mengalir di dagu Baekhyun dan sialnya bibir Baekhyun mendadak tebal karena bengkak akibat lumatan Chanyeol.
Senyuman tampan Chanyeol terlihat, ibu jarinya ia arahkan pada bibir Baekhyun, "Aku tak menyangka bibir manis pacarku ini hanya milikku."
Bukannya merona dan tersipu malu seperti biasanya, kini Baekhyun justru merasa sangat kesal, rencananya untuk menjauhkan diri dengan Chanyeol kini mendadak hancur. Tatapannya pada Chanyeol pun makin tajam, jemarinya terkepal kuat –oh sial! Sepertinya jiwa liar dan brutal Baekhyun bangkit. Ya, bagaimana bisa sang master of tawuran bisa kalah dalam ciuman itu dengan sang ketua osis di setiap ciumannya?
Oh no! sangat tidak logis!
Tiba tiba saja Baekhyun menarik kepala Chanyeol dan mencium bibir lelaki yang lebih tinggi dengan sekuat tenaga. Dia hanya ingin membuktikan bahwa bukan hanya Chanyeol saja yang bisa mendominasi. Ya, dia rasa dia juga bisa menginvasi bibir Chanyeol. Dia tak ingin membiarkan Chanyeol terus menerus mencium bibirnya.
Chanyeol yang mendapatkan ciuman dadakan itu memekik bahagia. Bagaimana tidak? Mendapatkan ciuman dari orang yang ia sukai lebih indah ketimbang menang lotre tiga kali berturut turut. Ia merasakan jelas bagaimana kakunya Baekhyun mencoba melumat bibir Chanyeol.
Merasa tak ingin kehilangan kesempatan, Chanyeol membalas ciuman Baekhyun dan akhirnya mereka pun saling berperang lidah. Seperti kalah telak, Baekhyun yang berniat menginvasi ciuman Chanyeol justru diinvasi lagi. Baekhyun bahkan memejamkan matanya mendapatkan ciuman dari pacar tak jelasnya itu. Secara naluri, Baekhyun bahkan menurunkan tangannya dari kepala Chanyeol menuju leher Chanyeol. Mengalungi leher itu dengan jemari yang menarik rambut Chanyeol –untuk melampiaskan kenikmatan.
Makin lama, ciuman Chanyeol pun makin panas. Tanpa sadar, ciuman Chanyeol pun menuruni leher Baekhyun, melumat leher itu hingga tanpa sadar meninggalkan bercak merah keunguan. "Eunggh~" desah Baekhyun pertama kali saat Chanyeol gencar menciumi lehernya. Seperti sebuah alarm, Chanyeol pun segera menghentikan ciumannya, membuat Baekhyun merasa kesal.
"Kenapa berhenti?!" tanpa sadar Baekhyun justru ingin yang lebih. Heol! Chanyeol terkekeh geli dengan sikap pacar sepihaknya itu. Bagaimana bisa dia yang awalnya tak mau kini justru ingin lagi?
Chanyeol melirik sekilas bercak merah keunguan tanda kepemilikannya di leher Baekhyun, lelaki itu tersenyum puas lalu mengusap pipi Baekhyun lembut, "Hari ini cukup okey? Kau harus beri kejelasan dulu pada hubungan kita lalu kita bisa melakukan yang lebih dari itu, Baby Baekki."
Baru sadar akan ucapannya, Baekhyun segera menutup mulutnya kaget, "Yak! Dasar mesum!" pikiran Baekhyun melayang jauh membayangkan ucapan Chanyeol tentang melakukan yang lebih dari itu. oh no! gila!
"Ishh, kau sepertinya memang memiliki alter ego, sayang." dengan kurang ajarnya Chanyeol mengecup sekilas bibir Baekhyun.
Tak ingin seperti kemarin, Baekhyun segera meninggalkan tempat itu sebelum perasaan aneh yang menggelitik perutnya kembali datang.
Setelah Baekhyun keluar dari ruangan club bola, Chanyeol pun menyeringai, "Sepertinya keberuntungan ada dipihakku, karena aku sudah meninggalkan tanda kepemilikan di tempat yang strategis untukmu, Baby."
.
.
.
TBC
ugh! kepikiran Chanbaek ditengah UAM wkwkwk jadi gini deh. failed banget part ini.. Bhak!
makasih yaaa, semua yang udah ngereview, fav, ples follow..
tanpamu apa jadinya aku (?)
