Title : KONAYUKI

Author : Shirayuki Sakuya (YuuYa)

Pairing : Uchiha Sasuke X Uzumaki Naruto (SasuNaru)

Disclaimer : Kishimoto-sensei Own Naruto, Yuuya Own Konayuki Heheh XDD

WARNING : YAOI, BOY X BOY, SHOUNEN AI

DO NOT READ IF YOU'RE YAOI HATER OR ANTI FUJOSHI !!!

Rating : T

A/N : OOC, banyak Pergantian POV, jangan protes loh =.=" memang sengaja dibuat seperti itu kok! Huh! *Galak ya?! O.o*. Kalo ada salah Typo, tolong dimaklumi. Ehemm… Saya merasa 'Di Intimidasi' oleh para Review di Chapter sebelumnya, hahahaha XD. Walau ada yang setuju ganrenya jadi Angst, tapi banyak juga yang meminta Fic ini jangan dibuat Angst, jangan pisahkan SasuNaru, kalau tidak… Mungkin nyawa saya yang bakal melayang. Duh! Ya sudah… jadilah kelanjutannya seperti ini… Heheh XP

Haphe Nice Read Dattebayo~ ^^


KONAYUKI

By Shirayuki Sakuya (Yuuya)

Snow powder does'not rely on time, moving our heart

Nevertheless, I'd still like to keep on protecting you


Chapter 8 : Protecting You



-

-

-

Sasssuuukkkeeeee~ ~ ~

-

-

-

SASUKE POV

Tiba-tiba aku terdiam dan menghentikan langkahku, sepertinya ada suara yang begitu familiar memanggil namaku. Seketika itu juga aku merasa tubuhku di dorong dengan keras, dan terjatuh di sekitar trotoar jalan ini. Kepalaku terasa sakit dan semuanya seakan berputar-putar. Dunia mendadak menjadi hening namun segera berubah menjadi bising. Suara mobil yang mengerem mendadak dan suara orang berteriak.

Ada apa?

Perlahan ku buka mataku, yang pertama kali kulihat adalah merah, sama seperti saat Ibu meninggal. Sama seperti saat aku menemukan Ayah.

Kenapa? Ada apa?

Deg! Deg! Deg!

Jantungku berdebar kencang. Mataku terbelalak saat melihat sesosok tubuh tergeletak bersimbah darah di tengah yang begitu ku kenal.

NARUTO?!!

Tidak! Tidak!

Dengan sedikit terpincang-pincang aku menghampirinya.

Bohong! Bohong kan?!

Aku berlutut di samping tubuhnya yang tak berdaya. Dengan gemetar ku singkirkan rambut pirang yang kini telah berubah merah dari dahinya. Matanya birunya tak lagi bersinar, begitu redup seakan kabut tengah menutupi jernihnya langit itu. Bibirnya tampak pucat. Aku mengusap pipinya dan menghapus darah yang keluar dari sudut mulutnya.

"Na-Naru…" bisikku pelan.

Aku tahu dia mendengarku. Dia tersenyum lembut dan dengan sisa-sisa tenaganya, dia menyentuh wajahku dengan sebelah tangannya.

Nafasku tercekat, tanpa ku sadari Saringan terbentuk dari kedua mataku, mata yang hanya di miliki oleh keluarga Uchiha. Ku lihat dia menggerak-gerakkan mulutnya sekan ingin mengatakan sesuatu.

'Sasuke wa… Hitori janai… Sasuke… Hitori janai…'

Mataku terbelalak. Tak ada sedikitpun suara yang keluar, namun aku bisa membaca gerak bibirnya.

'Aku tak sendiri. Aku tak sendiri.' Itu katanya.

Pandanganku kabur, tertutup oleh genangan air mata yang siap untuk mengalir. Ku pegang tangannya yang masih berada di pipiku. Dingin.

Kenapa begitu dingin?

Perlahan-lahan mata biru itu tertutup.

Ku pegang dan ku rebahkan dia di pangkuanku, tak peduli walaupun darahnya membasahi pakaian seragamku. Ku guncang tubuhnya pelan, berusaha untuk mengembalikan kesadarannya.

'Jangan tinggalkan aku lagi. Jangan tinggalkan aku lagi'

Aku terus memohon di dalam hati, namun tak ada respon. Dia tetap diam, tak lagi ku rasakan nafas dan detak jantungnya.

"Naru… Naru…"

Bagaikan mantra, nama itu terus saja ku rapalkan.

"!!!"

Aku berteriak keras, menyeruakkan sesak di dada ini. Luka yang kudapat saat aku kembali kehilangan orang yang aku sayangi. Hari ini, Salju yang putih telah berubah warna menjadi merah kembali.

END SASUKE POV

-

-

-

NEJI POV

Handphone ku berbunyi, ku lihat sebaris nama yang tertera jelas di layar.

Sasuke.

Belakangan ini dia tak pernah menghubungiku, tumben sekali, ada apa ya?

"Moshi-moshi…" sapaku.

"…"

Belum ada jawaban dari seberang sana.

"Moshi-moshi, Sasuke ka?"

"…"

"Sas-"

"Ne-Neji…"

DEG!

Ada yang lain dari nada suara Sasuke.

Kenapa suaranya gemetaran begitu ya?

"Sas, daijobu ka? doushita no? Ne~ Sas, Oshiete kure yo!"

Aku sedikit panik, entah kenapa perasaanku tak enak. Jangan-jangan terjadi sesuatu padanya. Suara ku yang keras rupanya membangunkan Gaara yang tengah tertidur pulas di kamarku ini.

"Neji?" tanyanya sedikit khawatir.

Aku mengisyaratkan agar Gaara bisa tenang sebentar, konsentrasiku kembali kepada Sasuke yang belum juga menjawab. Aku tahu dia menangis karena bisa ku dengar isakan kecil di seberang sana.

"A-aku di ru-rumah sakit."

"Apa?!"

Mataku terbelalak, berbagai macam pikiran liar melintas di benakku. Tanganku gemetar memegang Handphone yang menghubungkan aku dengan Sasuke. Takut kalau-kalau sesuatu yang buruk akan di ucapkannya setelah ini.

"Ne-Neji, dia mendorongku, lalu… lalu darah ada dimana-mana… dia bilang aku tak sendiri. Aku memeluknya, tapi… tapi tubuhnya begitu dingin . Oh, Tuhan! Naruto… dia… dia…"

"Naruto?!!" seruku keras.

Membuat Gaara yang sedari tadi memperhatikan percakapan kami tampak mengerutkan keningnya.

"Ne-Neji, apa dia akan… tidak, dia tak akan… tapi…"

"Sasuke! Cukup! Katakan sekarang kau ada di rumah sakit mana, aku dan Gaara akan segera kesana." Ku potong ucapan Sasuke sebelum dia mengoceh yang tidak-tidak.

"Konoha Hospital. Neji, bisakah kau menghubungi Kakashi-sensei agar dia bisa mengabarkan pada keluarga Naruto?"

"Ya, nanti kuhubungi."

"Neji… To-tolong kau cari kakakku, aku…"

Aku sedikit terkejut ketika Sasuke berkata tentang kakak kandungnya itu. Aku sempat terdiam sebentar sebelum sadar ini bukan saatnya untuk membuang-buang waktu.

"Wakatta! Aku akan segera kesana."

Ku tutup segera percakapan kami. Ku beritahu Gaara apa yang terjadi, dengan cepat kami berganti baju dan segera menuju ke mobil. Pertama-tama kami harus mencari Itachi.

Tapi sebenarnya, ada apa dengan Naruto?

Ku harap tak akan terjadi sesuatu yang buruk.

Ck, Sial!

END NEJI POV

-

-

-

Konoha Hospital

Sasuke terduduk begitu saja di lantai ruangan ICU yang tertutup rapat. Tubuhnya begitu lemas, seakan tak mampu lagi menopang dirinya sendiri.

Sempat terjadi kericuhan ketika Sasuke tiba-tiba datang di Konoha Hospital dan berteriak-teriak meminta tolong. Orang-orang yang melihatnya sempat syok begitu mengetahui keadaan pemuda itu.

Bagaimana tidak, pemuda itu tampak kacau dan berlumuran darah. Dipelukannya tampak seorang pemuda yang sebaya dengannya. Darah mengalir dari tubuhnya, kelopak matanya tertutup dan nafasnya tak beraturan.

Dengan segera beberapa perawat membawa pemuda berambut pirang itu ke ruang ICU, sedangkan Sasuke dimintai keterangan oleh salah seorang perawat yang ada. Setelah dijelaskan bahwa Naruto adalah salah seorang sahabatnya yang mengalami tabrak lari. Dokter dan beberapa orang perawat itupun segera mengambil tindakan.

Noda darah masih tampak jelas di seragam sekolah Sasuke, darah milik Naruto.

Dia tak mempedulikan perawat yang ingin mengecek kalau-kalau Sasuke juga terluka. Dia hanya menggeleng pelan dan memandang sendu kearah pintu ICU yang tertutup rapat itu.

Menunggu seperti ini, entah kenapa waktu berjalan begitu lambat.

-

-

-

ITACHI POV

Aku melihatnya duduk di sebelah ruang ICU ini. Rambut hitamnya yang berantakan menutupi wajahnya yang tertunduk dalam. Bisa kulihat pakaian seragam sekolah tampak basah, di penuhi oleh warna merah darah.

Ya Tuhan, apa yang terjadi?

Aku begitu terkejut ketika Neji dan Gaara, sahabat dekat Sasuke menemuiku dan memberitahuku kalau Sasuke sekarang berada di rumah sakit. Aku panik, takut kalau sesuatu yang buruk terjadi padanya saat dia pergi begitu saja meninggalkanku di Café siang itu.

Kami berempat segera menghampiri Sasuke.

"Sasuke…" Panggilku pelan.

Dia mendongak, menatap kami dengan mata sedikit merah, sepertinya dia sudah terlalu banyak menangis.

"A-Aniki…" ucapnya lemah.

Tubuhnya tampak gemetaran, matanya berkaca-kaca, butiran bening masih saja turun menyusuri pipinya. Dia tampak begitu rapuh dan kesepian.

"Ya, Tuhan! Sasuke…" Aku segera berlari ke arahnya, memeluknya erat seakan tak ingin kulepaskan lagi.

Dia balas memelukku. Menenggelamkan kepalanya di dadaku, memegang erat kemejaku yang mulai basah oleh air matanya.

"A-aniki, ini salah ku. Aku tak tahu bagaimana… Tiba-tiba ada yang mendorongku saat aku menyeberang jalan. Lalu… lalu… saat ku lihat, ada darah di mana-mana, dia tak bergerak, di-dia… dia… "

"Ssssshhhh! Sasuke, sudahlah. Ini bukan salahmu. Sssshhhh, semua pasti baik-baik saja."

"Ini salahku. Semua salahku. Pertama Ibu, lalu Ayah dan sekarang… Dia… Naruto… Naru…. Ugh! Uhuuu uuu…."

Aku biarkan dia menangis sepuasnya di dadaku, untuk sekarang tak ada kata-kata yang bisa untuk menenangkannya. Dia terus menyalahkan dirinya dan tanpa ku sadari aku ikut menangis bersamanya.

Deidara yang dari tadi disampingku memberi usapan pelan di punggungku. Ingatkan aku untuk berterimakasih padanya, mungkin nanti ada saatnya aku lah yang akan menangis di pelukan Deidara.

Tapi bukan sekarang, bukan saat ini, ketika Sasuke sedang membutuhkanku.

Aku harus tegar dan kuat untuknya.

END ITACHI POV

-

-

-

Baru pertama kali ini Neji dan Gaara melihat Sasuke menumpahkan semua emosinya setelah kematian ayahnya dua tahun lalu. Walaupun mereka sahabat dekatnya sejak SMP, namun Sasuke jarang sekali bercerita tentang masalahnya. Bahkan dia semakin jauh dari kedua sahabat baiknya itu. Apalagi setelah kejadian kematian ayahnya dan Kakak kandungnya, Itachi yang tiba-tiba menghilang begitu saja.

Ada perasaan bersalah yang menyelinap di diri Neji dan Gaara saat melihat keadaan Sasuke sekarang. Mereka merasa, mereka bukanlah sahabat yang baik karena tak dapat berbuat apa-apa saat melihat Sasuke yang menangis seperti itu. Sasuke tak pernah menangis saat ayahnya meninggal, Dia tak pernah menangis saat Itachi pergi meninggalkannya, Tapi kini dia menangis untuknya, untuk Naruto.

Ya Tuhan, Naruto…

Neji merasakan sesuatu yang hangat menggenggam tangannya. Gaara, dia tersenyum kecil pada Neji, seakan berkata bahwa semua pasti akan baik-baik saja. Neji membalas genggamannya. Saat ini mereka hanya bisa berdoa saja.

-

-

-

Ketegangan agaknya sedikit bertambah ketika Iruka-san dan Kakashi-sensei datang dengan berlari-lari kecil di koridor rumah sakit. Dengan wajah yang cemas serta khawatir mereka menghampiri Sasuke CS. Kakashi begitu kaget ketika di hubungi oleh Neji mengenai keadaan Naruto. Padahal dia baik-baik saja sebelumnya. Iruka-san yang kebetulan masih bersamanya tampak begitu Syok ketika Kakashi menyampaikan kabar bahwa putranya mengalami kecelakaan dan kini tengah berada di rumah sakit. Muka Iruka-san tampak pucat saat itu, namun dia berusaha untuk tetap tegar.

Sasuke melepaskan pelukannya dari Itachi, memandang ke arah Iruka-san dan Kakashi-sensei. Mulutnya membuka dan menutup ingin mengatakan sesuatu, namun entah kenapa lidahnya begitu kelu.

Sasuke hanya menunduk saat tahu Iruka-san memandangnya tajam.

Iruka sendiri tak tahu, apakah dia harus menampar atau memukul pemuda ini. Pemuda yang sejak dulu namanya sering di sebut-sebut oleh Putranya. Pemuda yang menurut Naruto adalah Sahabat pertamanya. Pemuda yang selalu membuat Naruto tersenyum ketika membicarakannya. Dan pemuda inilah yang kini membuat putra tercintanya itu terluka.

"Go-gomen…" bisik Sasuke pelan namun bisa terdengar begitu jelas di telinga Iruka.

"Na-Naru terluka karena melindungiku, Dia jadi seperti ini gara-gara aku… Semua salahku… Ma-maafkan aku… Maafkan aku…" ucap Sasuke lagi di tengah isak tangisnya.

Iruka hanya menghela nafas panjang, mencoba mengontrol emosinya. Dia yakin Naruto tak ingin Iruka menyalahkan Sasuke. Dari dulu Naruto memang begitu, selalu saja seperti itu. Kali ini pun dia akan berusaha bersabar, tapi kalau sampai terjadi apa-apa pada putranya…..

'Ah, Tidak! Naruto bukanlah anak yang lemah.' Yakin Iruka dalam hati.

"Daijobu yo, Sasuke-kun. Kau jangan khawatir, Naruto itu anak yang kuat… kau juga harus kuat untuknya." ucap Iruka lembut membuat semua yang ada di sana terhenyak mendengarnya.

Itachi sendiri sudah siap kalau-kalau pria yang barusan datang bersama Kakashi ini akan memarahi mereka. Dia sudah siap untuk bertanggung jawab atas apa yang menimpa Sasuke serta temannya yang bernama Naruto itu.

Dia tak menyangka, pria yang ia duga sebagai kerabat Naruto itu justru berusaha untuk menenangkan Sasuke.

Sasuke kini memandang Iruka-san tak percaya.

'Bagaimana bisa dia berkata seperti itu pada orang yang telah membuat kerabatnya celaka?' pikir Sasuke.

Air mata masih saja mengalir dari mata Sasuke ketika dia tiba-tiba membungkuk di hadapan Iruka-san.

"Gomen, gomen… Hontou ni Gomen nasai!" pintanya tulus.

Iruka-san menghampirinya, memegang kedua pundak pemuda itu hingga tak lagi membungkuk. Dia kemudian menarik tubuh Sasuke ke dalam pelukannya.

"Sudahlah, Sasuke-kun. Ini bukan salahmu… Dia akan baik-baik saja, Naruto pasti baik-baik saja…" ujar Iruka sembari mengusap-usap punggung Sasuke, berusaha menenangkannya lagi.

Tangis Sasuke kini semakin keras saja. Dia balas memeluk Iruka erat. Mencoba mencari-cari kehangatan yang telah lama hilang darinya. Kehangatan seorang ayah dan ibu yang begitu dia rindukan. Kehangatan dimana dia merasa terlindungi.

-

-

-

Beberapa saat kemudian pintu ICU terbuka, Sasuke yang telah melepaskan diri dari pelukan Iruka-san segera berlari kearah dokter dan seorang perawat yang keluar dari ruangan itu. Mereka semua menahan nafas, menanti dengan cemas kabar yang akan disampaikan oleh sang dokter.

"Dia baik-baik saja, masa kritisnya sudah lewat. Dia harus dirawat beberapa minggu karena beberapa tulangnya ada yang patah, tapi dia akan baik-baik saja." Dokter itu tersenyum ke arah mereka semua.

Semuanya menghela nafas pelan. Ada kelegaan yang terpancar dari wajah Sasuke, dia terduduk di lantai, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya. Tubuhnya bergetar dan tangisnya kembali terdengar.

Itachi terduduk di sampingnya sambil terus berusaha menenangkan Sasuke. Begitu juga dengan Deidara.

Iruka pun terlihat lemas, dia bersyukur begitu tahu putranya baik-baik saja. Air mata yang berusaha ditahannya tadi kini dibiarkan mengalir. Sementara itu Kakashi menopang erat tubuhnya. Menjaganya agar tidak terjatuh.

Neji menatap Gaara, air matanya juga sudah tak dapat lagi dibendung. Gaara menghapus cairan bening di pipi orang yang disayanginya itu, menarik lengan Neji dan membiarkannya terjatuh dipelukan Gaara.

Yokatta na, Naruto…

-

-

-

"Saat ini dia belum sadar karena pengaruh obat, tapi kalian sudah boleh melihatnya secara bergantian. Saya permisi dulu."

Pamit Dokter yang merawat Naruto sembari melangkah pergi untuk melanjutkan tugas-tugasnya yang lain.

Mereka semua membungkuk untuk sekedar mengucapkan terimakasih. Sasuke hendak menuju ruang perawatan ketika Iruka mencegahnya. Dia bilang Sasuke harus mengganti bajunya dulu, dia tak mau Sasuke juga ikut-ikutan sakit karena bajunya basah seperti itu. Tadinya Sasuke bersikeras ingin segera melihat Naruto, namun tatapan tajam Iruka sempat membuatnya ngeri juga.

Membuat Sasuke teringat pada sosok Ibu yang kelewat Possessive padanya.

Ya Ampun.

Beruntung Neji membawa baju ganti di mobilnya. Mereka bertiga segera menuju ke parkiran untuk mengambilnya, sekalian Neji dan Gaara berpamitan. Mereka memutuskan untuk kembali ke rumah sakit besok setelah pulang sekolah.

"Tolong Ijinkan aku untuk tak berangkat besok," pinta Sasuke.

"Iya," kata Neji.

Sesaat mereka bertiga hanya terdiam dan saling berpandangan.

Tiba-tiba Sasuke mendekati Neji dan memeluk pemuda berambut panjang itu.

"Arigato," ucap Sasuke pelan.

Neji sedikit kaget dengan sikap sahabatnya ini, namun pada akhirnya dia tersenyum kecil dan menepuk punggung Sasuke pelan.

Sasuke juga memeluk Gaara dan Gaara balas memeluknya erat.

'Terimakasih… Seharusnya aku yang mengucapkan itu pada Naruto, karena telah membawamu kembali.' bisik Neji dalam hati.

-

-

-

Sasuke bertemu dengan Itachi dan Deidara di koridor ruang perawatan ketika dia hendak menuju ke kamar Naruto.

Itachi menghampirinya, menepuk halus kepala adik kesayangannya itu. Mengelus pelan helaian rambut Sasuke yang sedikit berantakan.

"Pergilah temui dia…" kata Itachi lembut.

Sasuke hanya mengangguk, tak lupa dia memberikan sebuah senyuman pada kakaknya sebelum masuk ke ruang perawatan.

Itachi sedikit terhenyak, sudah lama sekali rasanya dia tak pernah melihat senyum di wajah adik satu-satunya itu. Selama ini Sasuke hanya memperlihatkan wajah masam dan dingin ketika bertemu dengannya.

Mau tak mau Itachi membalas senyuman itu.

-

-

-

Iruka-san tampak duduk disebuah kursi yang disediakan tak jauh dari ranjang dimana Naruto kini terbaring. Kakashi berdiri disampingnya. Memperhatikan setiap gerakan Iruka ketika dia menggenggam erat tangan Putra kesayangannya itu.

Saat menyadari Sasuke telah masuk keruangan itu, Iruka-san bangkit dan menghampirinya.

"Temanilah dia sebentar, kami keluar dulu." Pinta Iruka-san.

Sasuke mengangguk. Tanpa diminta pun Sasuke akan selalu berada di samping Sahabatnya itu. Iruka tersenyum lembut padanya, dia lalu keluar ruangan disusul oleh Kakashi.

Kini tinggalah mereka berdua saja di ruangan serta putih itu.

-

-

-

SASUKE POV

Aku melihatnya disana, terbaring di sebuah ranjang berukuran sedang di ruangan berbau obat ini. Matanya masih tertutup, mungkin langit biru itu sedang beristirahat sejenak. Nafasnya sudah mulai beraturan, perban membalut sebagian tubuhnya. Wajahnya juga tak lagi sepucat tadi.

Aku menghampirinya, duduk di kursi yang tadi di tempati oleh Iruka-san.

Ku genggam tangannya.

Hangat.

Tubuhnya juga tak sedingin tadi.

Ku sentuh wajahnya pelan. Mengusapnya lembut seakan takut membuatnya terbangun.

Perlahan ku dekatkan wajahku kearahnya. Membuatku bisa melihat dengan jelas kelopak matanya yang tertutup dan bibirnya yang sedikit terbuka. Bisa kurasakan hembus nafasnya saat itu.

Ku dekatkan bibirku ke keningnya yang tertutup perban. Memberikan sebuah kecupan kecil di sana.

"Baka dobe! Berani sekali kau membuatku khawatir…" ucapku pelan.

Membuatku sedikit geli karena masih sempat juga mengejeknya dalam keadaan begini.

"Jangan tinggalkan aku lagi. Cepatlah bangun… Naru…" bisikku pelan tepat di telinganya.

Kali ini ku cium pipinya. Lama.

Ku rebahkan kepalaku di tepi ranjang tempat dia terbaring. Ku tutup mataku. Mencoba mengusir sedikit rasa lelah yang ada. Mencoba merasakan setiap detak jantungnya.

'Tak akan ku lepaskan lagi. Tak akan ku biarkan kau jauh dariku lagi.' Janjiku dalam hati.

END SASUKE POV

-

-

-

Esok harinya Mata biru itu pun terbuka…

-

-

-

TBC

-

-

-

Apa iya, Saya ini suka bikin orang penasaran?! O.o"

Kukukukuku XD XD *Evil Laugh*

Gimana?!! Ga jadi Angst tuch, Naru ga mati tuch, Puas Puas Puas ?!! XP Heheh…

Yosh! READ & REVIEW Dattebayo!!!

-

-

-

NOTES :

Hitori janai : Tidak Sendiri

Moshi-moshi : Hallo

Daijobu ka? : Baik-baik saja kan? / Tak apa-apa kan?

Doushita no? : Ada apa?

Oshiete kure yo : Katakan padaku

Wakatta : Aku Paham / Aku Mengerti

Aniki : Kakak --Laki-laki--

Yokatta na : Syukurlah

Arigato : Terimakasih

Baka : Bodoh