Disclaimer:

Hetalia © Himaruya Hidekaz

Genre: Romance/Drama/Family/Friendship

Warning: OOC, OCMale!Indonesia, sho-ai, typos

Summary : Perjuangan Indonesia sebagai pekerja keras agak mata duitan karena hidup susah dan merasa bertanggung jawab untuk masa depan keluarganya, yakni sang ibu tiri Ukraina dan kedua adik tirinya, Singapura dan Taiwan, setelah meninggalnya sang ayah.

Perhatian : Cerita ini fiksi, hanya untuk hiburan belaka. Alur cerita dan penokohan di dalamnya hanya imajinasi penulis. Jika ada personifikasi yang jadi pelayan, raja, bangsawan, petani, direktur, karyawan atau bahkan sudah mati tidak ada hubungannya dengan negara aslinya.

xXx

Alternate Universe Hetalia : Indonesia Story

xXx

~Ch 7 : Tentang Liburan dan Taman Bermain~

Setelah urusan Kanada dengan Prussia selesai, Kanada berpamitan untuk pulang.

Kanada berjalan keluar dari kantor diantar oleh Prussia.

"Terima kasih Kanada," ucap Prussia sebelum Kanada berjalan menuju kereta.

"Aku yang seharusnya berterima kasih Prussia, sampai ketemu di pesta nanti."

Prussia membalas dengan senyuman dan anggukan antusias. Kanada berjalan menuju kereta kudanya yang menunggu sedari tadi. Ada dua prajurit yang berdiri di kanan kiri pintu kereta kuda.

"Kemana selanjutnya Tuan Kanada?" tanya prajurit atau Latvia dengan agak gugup.

"Kembali ke istana," jawab Kanada. Latvia mengangguk paham langsung menuju ke sang kusir, sedangkan Estonia, prajurit yang satunya, membukakan pintu kereta kuda dan mempersilahkan masuk.

"Kau cukup sering ke sini. Apa Amerika tidak mempermasalahkannya?" tanya seseorang yang ternyata sudah berada di dalam kereta.

"Australia? Kenapa kau di sini? Aku tidak ingat mengajakmu."

"Aku ditugaskan mengawasi jika ada anggota kerajaan yang keluar seperti kau saat ini Kanada."

"Lalu? Memangnya ada yang aneh?" Kanada menduduki bangku penumpang di depan Australia lalu kereta berangkat.

"Sepertinya tidak ada masalah. Aku tidak akan mengintip sampai ke hal pribadi."

Wajah Kanada memerah mendengar ucapan Australia yang membahas hal itu, "lalu, apa ada yang mengawasi Belanda juga? Kudengar dia juga sedang keluar," tanya Kanada mengalihkan rasa malunya.

"Tentu saja, Selandia Baru yang ditugaskan," jawab Australia tenang.

"Jika Belanda tahu dia akan marah besar."

"Pastinya," Australia tertawa sejenak, "tapi apa yang akan dia lakukan?"

"Aku juga tak bisa berbuat banyak, memang itu demi kebaikannya tapi..." Tidak melanjutkan perkataannya, Australia mangangguk seolah paham apa maksud dari perkataannya. Percakapan mereka berhenti di situ, Australia diam, Kanada melirik dari jendela kereta, lebih tertarik memandangi keadaan kota yang ramai.

Saat kereta kuda yang dinaiki Kanada semakin menjauh dari kantor dan tak terlihat lagi, muncul dua sosok yang dari tadi bersembunyi di semak-semak di dekat gedung kantor.

"Buwwah! Semutnya masuk mulut!" teriak Spanyol yang tak tahan ngumpet.

"Benar-benar tidak elegan, bajuku jadi kotor," ucap Perancis yang membersihkan bajunya dari dedaunan dan ranting yang menempel.

"Ngomong-ngomong ngapain juga kita ngumpet?" tanya Perancis ke Spanyol yang masih meludah untuk mengeluarkan semut.

"Aku nggak tahu, tadi aku cuma reflek ngumpet," jawab Spanyol sekenanya.

Mereka terdiam memikirkan kronologis aksi ngumpet mereka. Sebenarnya Spanyol dan Perancis sudah sampai dari tadi tapi melihat ada kereta kuda di depan kantor mereka langsung bersembunyi untuk melihat siapa yang berkunjung ke kantor di hari libur seperti ini.

"Ternyata kita cuma pengen ngintip," ucap Perancis, Spanyol juga mengiyakan sambil cengengesan, "sekarang saatnya menginterogasi Prussia!" teriak Perancis menunjuk pintu kantor. Spanyol ikut bersemangat lalu bergegas masuk ke kantor mereka.

"Prussia!" teriak Perancis mendobrak pintu kantor.

"Ayo kita main!" teriak Spanyol manyambung teriakan Perancis.

"Kalian?! ...ngapain?" Prussia yang melihat kedatangan kedua temannya hanya bisa melongo.

"Hoi-hoi, siapa tadi kawan? Sendirian di kantor lalu menerima tamu pri-ba-di," tanya Perancis, sebelah tangannya sudah merangkul pundak Prussia dan tangan yang lain menowel pipi Prussia.

"Enaknya! Aku juga mau mesra-mesraan, tapi Romano sedang kerja," ucap Spanyol menambahi dengan nangis buaya.

"Ya memang benar, Kanada yang datang," jawab Prussia cengengesan dan garuk-garuk kepala.

"Ciee! Pacarnya dateng! Ha ha ha!" ucap Perancis dan Spanyol menggoda Prussia. Mereka sudah tahu kalau Prussia dan Kanada pacaran.

"Jadi, ngapain kalian ke sini? Mau kerja?" tanya Prussia.

"Karena BTT tidak lengkap tanpa kau," ucap Spanyol. Prussia terharu.

"Sekarang kita pesta dengan judul 'Semoga hubungan Prussia-Kanada langgeng'! Ayo kita pesta!" teriak Perancis dengan dua botol wine yang dia bawa tadi. Sepertinya tema apapun bisa menjadi alasan pesta mereka.

"Yeaaaah!" teriak Spanyol dan Prussia yang masing-masing membawa minuman. Mereka bersulang tanda pesta dimulai.

"Kalian berdua tidak liburan? Pergi ke mana gitu," tanya Prussia lalu menenggak birnya.

"Bukannya sekarang kita liburan dan senang-senang?!" ucap Spanyol.

"Spanyol benar, kita ke sini untuk pesta! Mengisi liburan kita," ucap Perancis menambahi.

Mereka bertiga bersulang kembali, sesekali memakan kudapan yang mereka bawa. Pesta sampai pagi!

'Semoga mereka tidak menghancurkan kantor,' doa Hungaria dalam hati. Dia bisa menebak apa yang mereka lakukan jika sudah berkumpul. Pura-pura tidak tahu Hungaria langsung keluar dari persembunyian dan berjalan ke tempat selanjutnya, dia sendiri sedang diburu waktu.

~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~

'Hm, meskipun aku sering bolak-balik mengantar paket di kota, ternyata masih banyak tempat-tempat yang belum aku datangi,' pikir Indonesia di taman bermain yang Liechtenstein bicarakan.

Di taman tersebut banyak anak-anak bermain, badut membagi-bagikan balon gratis, dan wahana bermain yang terus bergerak. Penjual makanan, manisan, minuman berjejer memenuhi taman, seperti sedang ada festival.

'Lainkali pasti menyenangkan mengajak Taiwan dan Singapura ke sini, meskipun Singapura akan ogah-ogahan karena agak kekanak-kanakan,' pikir Indonesia.

"Ngapain cengengesan begitu?" ucap seseorang yang suaranya familiar. Indonesia menoleh ke sumber suara.

"Malaysia!"

"Jangan-jangan kau lagi ngincar anak kecil? Sendirian senyum-senyum di taman," ucap Malaysia.

"Sembarangan kalo ngomong! Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan!" ucap Indonesia kesal dengan candaan Malaysia.

"Ngapain kamu di sini? Nggak kerja?" tanya Indonesia, melihat ke arah Malaysia yang masih mengelap keringat di dahinya. Mereka saat ini sedang duduk di kursi taman.

"Aku libur, ke sini mau jalan-jalan," jawab Malaysia.

"Jalan-jalan apa lari marathon? Sampe keringatan begitu." Malaysia hanya nyengir, tidak mungkin dia bilang sudah mengelilingi taman bermain yang luas itu untuk mencari Indonesia.

"Mau naik komidi putar?" tanya Malaysia.

"Siapa yang mau naik? Hemat! Kamu cuci muka aja sana!" jawab Indonesia.

"Jauh-jauh ke sini cuma muter-muter taman?! Sayang banget tau," ucap Malaysia.

"Mmm, aku ga keberatan bayarin sekali," lanjut Malaysia. Indonesia hanya bengong, mungkin bingung dengan sikap Malaysia yang tumben-tumbennya nawarin.

I-itu cuma karena mumpung ketemu jadi aku ajak, b-bukan berarti aku ingin naik bareng berdua! Ngerti!?" ucap Malaysia lagi panjang lebar.

"Ok-ok, aku mau beli es krim dulu, sudah kepengen dari tadi," ucap Indonesia sambil beranjak dari tempat duduknya.

"Aku titip! Samakan saja denganmu," ucap Malaysia sambil berjalan menuju toilet umu untuk cuci muka. Sedangkan Indonesia berjalan ke bagian stan makanan untuk beli es krim yang ingin dia beli dari tadi. Menurutnya sekali-kali beli es krim ga akan bikin bangkrut.

Sesudah dari toilet Malaysia menunggu di kursi taman yang tadi mereka duduki. Dari luar Malaysia tampak tenang tapi hatinya saat ini sedang berbunga-bunga dengan kencan ini bahkan jantungnya berdetak tak karuan. Tak sabar menunggu serasa detik menjadi jam namun Indonesia belum juga kembali. 'Jangan-jangan nyasar. Tidak mungkin deh,' pikir Malaysia saat mulai tak sabar.

"Malaysia! Maaf tadi aku lupa jalan ke sini. Tapi es krimnya baik-baik saja," ucap Indonesia ngos-ngosan habis lari-lari dan bingung. Lalu dia memberikan satu es krim yang dibawanya. Malaysia menarik kembali ucapannya, lupa Indonesia yang buta arah akut. Kok bisa-bisanya jadi kurir?

*Bruugh!

"Huwaaa!"

Indonesia menoleh ke arah anak kecil yang terjatuh tak jauh darinya.

"Kau baik-baik saja," tanya Indonesia sambil membantu anak itu berdiri. Anak itu mengangguk, wajahnya memerah menahan tangis .

"T-tapi es krimku," si anak mulai menangis. Malaysia dan Indonesia panik, bingung menenangkan anak kecil.

"Ini es krim untukmu, ambil saja tidak apa. Lihat! Yang ini masih utuh kok," ucap Indonesia menunjukkan es krimnya yang terlihat menggoda berusaha menenangkan si anak. Anak itu menerima dengan senang hati.

"Moldova, jangan lari-lari begitu, jadi jatuh kan," ucap seseorang yang berlari menghampiri anak yang ternyata bernama Moldova.

"Maaf ya merepotkan, biar aku ganti uangnya," lanjut laki-laki itu membungkuk berkali-kali berusaha minta maaf. Tapi Indonesia menolak uang ganti es krimnya karena dia ikhlas membantu.

"Rumania! Apa yang kau lakukan di sini?!" teriak seseorang yang tiba-tiba muncul dari dalam semak-semak di belakang mereka. Mengagetkan mereka berempat bahkan beberapa orang yang melintas ikut kaget dan segera menjauh.

"Hungaria?" "Kak Hungaria" "nnnn, Pacarnya Austria," jawab mereka berempat serempak. Silahkan tebak siapa yang meneriakkan masing-masing kata di atas #plak.

"Kau ini gimana sih?! Bukankah sudah kubilang jaga ayahmu supaya jangan pulang dulu," ucap Hungaria agak marah.

"Jangan khawatir, ayah pasti ngobrol banyak sekarang. Satu jam tidak akan cukup," jawab Rumania tenang tapi kembali menunduk melihat Hungaria yang masih memandang sebal dan marah ke arahnya.

"Maaf, Moldova merengek terus minta ke sini," lanjut Rumania menyesal. Hungaria hanya bisa memaafkannya dan menghela napas.

"Maaf ya Indonesia, mengganggu kencan kalian," ucap Hungaria. Wajah Malaysia memerah mendengar ada yang menganggap mereka sedang kencan.

"Tidak apa kok," balas Indonesia santai. Heh? Mungkinkah Indonesia juga menganggap ini kencan?

"Oh iya! Indonesia mau pekerjaan sampingan?" tanya Hungaria tiba-tiba.

"Tentu!" Indonesia langsung semangat menjawab melihat kesempatan pendapatan tambahan di depan mata.

"Maaf Malaysia, ada panggilan tugas," Indonesia menoleh ke arah Malaysia.

*hap

Indonesia melahap sebagian es krim di tangan Malaysia, "aku minta sedikit!," lalu berlari mengejar Hungaria yang berlari kembali ke toko percetakan orang tuanya. Malaysia dan Rumania melongo ditinggal begitu saja, padahal mereka belum saling kenal.

'Ini kah ciuman tidak langsung?' pikir Malaysia memandangi es krim di tangannya yang tinggal setengah dengan muka memerah sedangkan Rumania dan Moldova sudah kembali jalan-jalan ke taman bermain.

Pengunjung taman yang melihat Malaysia yang senyum-senyum sendiri jadi ketakutan. Ada yang menghindar, menjauh, berbalik arah, mungkin nanti ada yang memanggil security.

~Bersambung~

~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~~(^-^)~

Akhirnya sampai di chapter 7, bagaimana kesan dari ceritanya? Beberapa bagian cerita memang klise, jujur author sendiri bingung bagaimana bisa ngetik cerita seperti ini, sampai saat saya koreksi jadi bingung sendiri.

Untuk bagian romance benar-benar penuh perjuangan membuatnya, maaf jika kesannya aneh atau pasaran. Sebelumnya Prussia & Kanada, sekarang Malaysia & Indonesia, nanti ada lagi. Ternyata masih banyak romance ternyata T^T

Terima kasih sudah membaca dan jangan lupa reviewnya^^

Sampai bertemu di cerita selanjutnya^^