Hai guys!

Still remember me? Hahaha *plak

I'm so terribly sorry for making you waiting this long. Emang saya author kampret yah, niatnya belajar dulu fanfic belakangan jadi update lama. Eh ip masih semplok aja buk haha :')

Yes, pada intinya saya akan berusaha meres otak lagi supaya update lebih cepat dan MAKASIHH banget buat yang masih mau ngikutin dan review ini fanfic. Love you so much muah.

Oh ya, ada yang tanya panggilanku wol-lee kedengeran aneh, memang :'D. So, panggil raisa-san aja ya soalnya saya mantannya keenan pearce juga haha just kidding. Panggil saya semau kalian deh, panggil jodoh masa depan jg boleh.

Sori kalo boring, sori kalo typo, sori kalau klise yaa

So Enjoy~


Sinar matahari menyusup di sela-sela sempit dedaunan di atas pohon, menciptakan berkas cahaya yang menerangi sebagian halaman Suzuran yang basah oleh hujan semalam. Tetesan embun turun jatuh membasahi tanah Suzuran yang masih lembab, bau tanah yang basah dan matahari pagi bercampur menimbulkan efek kesegaran yang luar biasa. Kabut mulai menipis menghilang terhempas oleh langkah-langkah kaki puluhan orang yang berlarian tak tentu arah.

Hari itu masihlah sangat pagi, tapi pemandangan tak biasa terjadi di Suzuran yang normalnya masih sepi pada waktu pagi. Hampir seluruh murid Suzuran terjun ke lapangan utama, meski hawa dingin begitu menusuk menandakan musim dingin tak lama lagi datang, hal itu tak menghalangi semangat seorang gadis untuk meneriaki orang-orang Suzuran dengan pengeras suara. Mengarahkan mereka untuk melakukan pekerjaan dengan benar seperti mendirikan pembatas stand makanan, atau meniup balon sampai pingsan, dan membuat semuanya agar tampak seperti festival sekolah sesungguhnya.

Hinata memencet tombol di pengeras suara yang dari tadi ia pegang, kemudian suara sirine keras berbunyi sampai ke sudut sekolah. Beberapa orang yang ada di radius lima meter dari tempat Hinata berdiri mengumpatinya keras. Hinata tidak terlalu peduli, kemudian dia berbicara lewat pengeras suara.

"Perhatian! Tinggal setengah jam lagi!" seru Hinata yang berdiri di podium utama. Panggung berukuran normal itu membutuhkan semalaman penuh bagi mereka untuk membangunnya sendiri. Hinata akui malam tadi adalah malam paling panjang yang pernah Hinata rasakan. Mereka bekerja semalam suntuk untuk membangun panggung, mengecat lapangan agar menyerupai lintasan lari, membangun stand dan harus memanjat pohon untung membentangkan spanduk dan rumbai-rumbai.

Melihat orang-orang yang berkeliaran di sekitar lapangan tak ada yang menggubrisnya memaksa Hinata membunyikan sirine untuk ke dua tiga kali, sampai akhirnya Kiba meneriakinya protes.

"Hei diamlah, Hinata!" seru Kiba yang kini sedang sibuk menuliskan angka di lintasan lari dengan cat putih. Separo pipinya kini berwarna putih.

Hinata berbicara lewat pengeras suara. "Kau memintaku diam? Bagaimana mungkin aku bisa diam kalau acara mulai setengah jam lagi dan kalian berlarian telanjang seperti monyet-monyet gila di sekolah ini? Setidaknya pakailah celana kalian dengan benar! Apa kalian ingin membuat orang-orang yang datang mati berdiri, huh?" Hinata rasanya ingin mematahkan sesuatu.

Naruto berdiri hanya dengan mengenakan boxernya, dia merenggangkan otot-otot lengannya yang kaku sambil menguap kemudian menggaruk bokongnya santai. "Hei, kau sendiri yang menyuruh kami kerja rodi sejak semalam hingga tidur di sekolah seperti gelandangan! Kau bahkan langsung melempar kami turun ke lapangan untuk membantu tanpa memberi kesempatan mandi!" ujar Naruto tidak terima.

Hinata menatap Naruto lelah. "Kalian pikir aku juga punya kesempatan untuk bersiap-siap? Waktuku sedikit dan aku perempuan tapi aku lebih cepat dari kalian semua!" teriaknya tidak sabar.

Naruto membuka mulut untuk membalas namun kemudian menutupnya lagi. "Well, kami para lelaki memiliki banyak hal untuk dipersiapkan," ujar Naruto mengangkat bahu.

Hinata memutar bola matanya. "Mandi atau tidak toh tidak ada bedanya bagi kalian." Ucap Hinata pelan.

"Apa kau bilang?" seru Suigetsu dari atas pohon berusaha mengikat tali spanduk utama. "Awas kau ya Hinata—aaaa~" dia terpeleset dahan pohon yang licin karena basah kemudian jatuh dengan menyedihkan. No one cares.

Hinata membuang napas lelah. "Ada yang bisa membantu Suigetsu memasang spanduk?"

Sepertinya tak ada yang bersedia karena mereka semua sibuk menertawakan Suigetsu dan yang lainnya sudah mulai membeli makanan dari stand makanan. Hinata melengkuh lelah kemudian ia cepat-cepat turun dari panggung dan berencana melakukan semuanya sendiri mulai sekarang. Ia baru akan memanjat pohon untuk mengikatkan tali di salah satu dahan pohon ketika perasaan seperti tersengat di daerah pinggangnya membuatnya memekik pelan. Kemudian tubuhnya terasa ringan dan kakinya terangkat dari tanah.

Hinata menunduk untuk melihat kemudian matanya nyaris melotot pada orang yang kini tengah mengangkat tubuhnya ke atas. "Astaga! Juugo-san!" seru Hinata kaget.

Wajah Juugo merona yang mutlak tampak mengerikan pada wajah berototnya, tangannya agak bergetar menahan pinggang Hinta. "A-aku akan membantumu," ucapnya gagap.

"T-tidak perlu! Turunkan aku!" kata Hinata risih, tangannya berusaha menyingkirkan tangan Juugo yang menjunjung pinggangnya.

"Kau tidak perlu memanjat pohon. Aku akan menaikkanmu, atau kau mau duduk di bahuku?" bujuknya.

Seseorang memukul kepala Juugo dengan keras dari arah belakang, sampai Juugo terkejut dan hampir menjatuhkan Hinata. Kiba memukul kepala Juugo sekali lagi dengan tangan bergetar, dibelakangnya tampak Naruto mengambil ancang-ancang untuk berlari kabur.

"Bajingan mesum! Berani-beraninya kau menyentuh Hinata kami!" Kiba menyembur Juugo dengan dukungan Naruto dibelakangnya. Reaksi Juugo sudah bisa ditebak, orang itu mengamuk dalam diam kemudian mengejar Kiba dan Naruto yang sudah kabur secepat angin terlebih dahulu.

Hinata hanya menggelengkan kepalanya samar atas kejadian barusan. Tak ada yang berubah dari segi kepintaran anak-anak Suzuran. Kekonyolan mereka bahkan terasa lebih kronis lagi, apalagi semenjak persiapan festival. Hinata baru mengetahui fakta baru bahwa kekuatan fisik mereka mirip dengan makhluk mutan. Energi mereka memang tiada habisnya, dan tentu saja hal itu bisa dimanfaatkan untuk persiapan festival tanpa harus mengeluarkan uang untuk pekerja ekstra.

Hinata tersenyum mengamati bagaimana anak-anak lain akhirnya menunjukkan ketertarikannya pada festival ini, ditambah mereka jadi lebih toleransi antar kelompok. Hinata kembali melanjutkan aktivitasnya dengan spanduk ketika sebuah tangan merebut spanduk itu dari tangannya.

"Biar aku saja," kata Gaara muncul di depannya mendadak. Seragamnya tampak terkena cat.

Hinata berusaha mengambil kembali spanduk itu. "Tidak perlu, aku bisa melakukannya."

Gaara mencoba mempermainkan Hinata dengan mengangkat tinggi-tinggi spanduk yang ada di tangannya membuat Hinata susah payah meraihnya kembali. Gaara sedang menikmatinya ketika menyadari sesuatu.

Dia berdehem sebentar. "Kau... tidak memakai gelang itu."

Hinata menarik kembali tangganya, ia menyentuh pergelangan tangannya sendiri dengan canggung. "Hm, iya." Jawab Hinata canggung. Ia menyadari bahwa Gaara tampak kecewa mendengar jawabannya.

Hinata menelan ludah. "K-kupikir aku tidak akan memakainya saat ini, aku takut akan menghilangkannya jadi kusimpan di rumah. Karena benda itu dari Gaara-kun, aku tidak ingin kehilangannya."

Hening sesaat. Gaara tampak tak berkedip sama sekali menatap Hinata begitu lama, sampai Hinata menunduk karena malu. Gaara tersentak mendadak dengan wajah merona yang ditahan-tahan. Dia berdehem keras. "Begitu?" responnya sembarangan.

Hinata tersenyum sebagai balasannya. Gaara adalah orang yang benar-benar susah ditebak. Melihatnya selalu besikap dingin, siapa sangka kalau orang itu sekarang bisa melihat Hinata dengan senyum yang sulit diartikan maksud dibaliknya. Atau sebenarnya Hinata yang tidak ingin tahu. Ia hanya tidak ingin terlibat dalam hubungan macam apapun yang membutuhkan perasaan yang dalam. Ia tidak ingin lagi menderita. Seperti hubungannya dengan Sasuke yang ia kira bisa membaik, ternyata mustahil.

"Kau melamun lagi," gugah Gaara menyentuh bahunya.

Hinata mendongak. "Maaf," katanya pelan.

Gaara menyipitkan matanya, tatapan interogasi itu dilancarkannya. "Sasuke lagi?" tebaknya tepat sasaran.

Hinata tersenyum masam. "Bagaimana kau selalu bisa tahu?" matanya melirik ke arah lain.

"Karena kau selalu berwajah seperti itu jika menyangkut Sasuke," jawabnya dingin.

Hinata tidak tersenyum lagi. Kalimat Gaara benar-benar tepat membuat dadanya terasa sesak.

"Maaf, sepertinya aku sakit perut. Bisakah aku mengandalkanmu untuk mengurus spanduk ini?" pinta Hinata mendadak pening sembari menyerahkan spanduk itu pada Gaara.

Gaara menatapnya kuatir, kemudian dia menganggukkan kepalanya pelan. "Serahkan padaku, kau tampak pucat. Sepertinya kau kelelahan."

Hinata hanya memberikan seulas senyum singkat pada Gaara sebagai salam perpisahan kemudian segera berlalu pergi. Mengabaikan panggilan teman-temannya yang menyuruh Hinata mengurusi stand kelas 2-2 (mereka mengambil keputusan bijak dengan menjual minuman dingin dimana semua Hinata yang membuatnya semalaman), Hinata mempercepat langkahnya melewati lapangan yang ramai serta koridor yang sepi karena semua orang turun ke halaman depan, ia menuju toilet. Ia membuka pintu yang engselnya hampir lepas karena karatan itu, dan segera berpegangan pada pinggiran wastafel lalu memuntahkan isi sarapannya.

Hinata terbatuk berkali-kali sambil menyalakan keran air untuk menyiram muntahannya. Setelah cukup lama, Hinata menatap refleksinya sendiri di depan kaca. Ia melepas almamaternya, kemudian menggulung lengan seragamnya hingga sebatas siku. Hinata menyeka ujung bibirnya, lalu membasuh wajahnya yang mulai terasa panas. Hinata memijit kepalanya yang terasa lebih pening lagi. Ia tidak bisa tidur semenjak konfrontasi terakhirnya dengan Sasuke di rumah sakit, ditambah terjaga untuk persiapan festival.

Memang melelahkan, memuakkan, menjengkelkan dengan polemik kehidupannya di Suzuran. Tapi ia tidak akan menyerah. Ia tidak akan menyerah untuk bisa melihat anak-anak Suzuran melakukan aktivitas normal dan tertawa seperti pagi ini.

Suara pintu yang dibuka kasar membuatnya terlonjak kecil. Seseorang keluar dari salah satu bilik toilet dan dia adalah orang nomor satu yang ingin dihindarinya saat ini. Sasuke tampak terkejut juga mendapati keberadaan Hinata. Keheningan melanda mereka dan hanya ada suara air mengalir karena keran yang lupa dimatikan Hinata.

Rupanya Sasuke memilih untuk berpura-pura tak melihatnya. Orang itu dengan santai berjalan ke arahnya, kemudian berhenti tepat di depan wastafel samping Hinata. Dia mencuci tangannya sebentar, mengabaikan Hinata yang masih berdiri mematung dengan bodohnya. Sasuke menutup kerannya, lalu menghela napas panjang. Dia tampak ragu sebentar sebelum pada akhirnya berjalan ke arah Hinata. Hinata memundurkan langkahnya seiring dengan kedekatan yang Sasuke buat, sampai ia merasa pinggangnya sudah terbentur dengan pinggiran wastafel. Sasuke kembali mendekatkan dirinya pada Hinata, tangannya terjulur ke depan dan Hinata sudah nyaris ingin merosot jatuh.

Tapi kemudian tangan itu melewatinya, dan menggapai keran di belakang Hinata untuk menutupnya kembali.

Jantung Hinata berdegup begitu kencang sampai napasnya terdengar menjadi lebih cepat. Wajah Sasuke masih ada tepat di samping wajahnya, dan orang itu tak menampakkan tanda-tanda untuk menjauh. Mereka diam dalam posisi itu untuk waktu yang sangat lama. Entahlah. Waktu terasa berjalan lebih lambat jika ada di dekat Sasuke Uchiha.

Sasuke manarik wajahnya, diikuti dengan langkah mundur untuk menjauhi Hinata.

"Kau tampak kacau." Setelah mengatakan itu, Sasuke berjalan pergi. Meninggalkan Hinata yang berpegangan pada pinggiran wastafel agar tidak benar-benar merosot jatuh.

.

Hinata berjalan keluar gedung sekolah dengan masih memijit pelipisnya saat seseorang memanggil namanya. Belum sempat menoleh, tiba-tiba seseorang sudah muncul secepat kilat dihadapannya. Seberkas sinar menyilaukan yang aneh terpancar dari gigi orang itu.

"Hinata-san!" seru orang itu dengan mengacungkan jempolnya di depan hidung Hinata.

"Guy-san?" panggil Hinata memastikan. Terkejut melihat orang itu. Sebenarnya bukan karena orangnya, tapi karena pakaiannya kostum kodok yang dikenakan orang itu.

"Rasanya seperti mimpi bisa melihat hal seperti ini terjadi di Suzuran! Kau hebat sekali!" puji Guy kelihatan bersungguh-sungguh.

"Terimakasih," respon Hinata seadanya. "Sebenarnya aku penasaran akan satu hal, kenapa kau tahu Suzuran sejauh itu?" tanya Hinata.

Guy tertawa berlebihan. "Tentu saja karena aku alumni Suzuran!"

Hinata hampir melongo, "Benarkah?"

Guy tertawa sekali lagi. "Tentu saja! Dulu Suzuran tidak separah beberapa waktu yang lalu. Kami hanya anak-anak nakal yang suka berkelahi di dalam sekolah. Tapi karena satu kejadian, Suzuran jadi lebih parah dan memiliki banyak musuh—" Guy tidak menyelesaikan kalimatnya karena matanya keburu melotot melihat seseorang.

"My immortal rival! Kakashi!" seru Guy melihat Kakashi Hatake melintas tak jauh dari mereka.

Kakashi terbelalak melihat kawan lamanya itu, dia mendekati mereka berdua dengan telunjuk teracung pada Guy. "Guy? Kau kemari?" tanya Kakashi heran. Gurunya tampil luar biasa tampan hari itu. Dia hanya mengenakan kemeja kotak-kotak hitam terbaik yang pernah Hinta lihat sepanjang sejarah dia mengajar di Suzuran.

Sebuah kilatan tampak terbesit dari mata Guy sebelum akhirnya orang itu menangis sambil memeluk kencang Kakashi. "Kau bajingan tengik! Sialan! Kau tampak benar-benar seperti guru yang bergaji tinggi! Sialan kau, Kakashi~" Guy menangis sembari menonjok-nonjok perut Kakashi.

Kakashi hanya tersenyum pasrah dibalik maskernya sambil mencoba menanangkan Guy yang kini tampak mengerikan menangis di dalam kostum kodok. Guy mengelap ingusnya dengan lengan baju Kakashi. "Kau mengubah Suzuran. Tidak bisa kupercaya!" seru Guy.

Kakashi tertawa. "Aku tak melakukan apapun. Tapi dia," kata Kakashi dan merangkul pundak Hinata dengan bangga. "Dia sudah melewati banyak hal untu membuat semua hal mustahil yang dulu sering kita impikan," sambungnya dengan dagu terarah pada panggung utama di tengah lapangan.

Mata Hinata mengikuti arahnya kemudian melebar. Pembukaan festival tengah berlangsung ditandai dengan petasan besar yang dinyalakan Kankuro dan kertas-kertas yang meledak sebagai pemeriah. Hinata berniat berlari untuk menghendel semuanya ketika bahunya ditahan oleh Kakashi. Sekali lagi gurunya itu menunjukkan bahwa kini Shikamaru lah yang meneriaki anak-anak untuk membuat momen itu begitu meriah. Orang-orang luar mulai berdatangan, meski dengan wajah takut-takut. Tapi rupanya ide Hinata untuk menempatkan Gaara, Neji, Sora, Naruto dan anak lain yang bertampang oke di gerbang depan merupakan pilihan yang sangat bagus. Mereka berhasil menarik perhatian orang luar terutama para gadis.

Hinata masih terperangah atas hal itu. Mereka tampak benar-benar bekerja sama meskipun dengan umpatan dan tonjokkan kecil. Mereka saling berkomunikasi, itu artinya Hinata berhasil membuat mereka mengakui satu sama lain.

"Wow! Orang-orang sedang mengantri di standku. Aku harus kesana! Sampai jumpa semuanya!" seru Guy buru-buru pergi menuju ke standnya.

Kakashi mengusap pundaknya. "Kau berhasil Hinata, kau membuat mereka sadar akan tanggung jawab meski kau tak ada di sana." Katanya sembari tersenyum.

Hinata tersenyum lebar, ia tidak bisa menutupi kebahagiaannya meski malu untuk ditunjukkan. Ia mencoba berdehem kalem untuk meredakan rasa senang yang meluap-luap. "Mereka tetap payah, mereka lupa mengecilkan volume musik backgroundnya."

Kakashi tertawa. "Maka kurasa sudah saatnya kau kesana. Tapi jangan terlalu memaksakan diri, kau tampak seperti orang sakit," katanya.

Hinata tersenyum dan membungkuk memberi salam kemudian ia menyusul ke area panggung. Ia mencoba mengarahkan anak-anak untuk bekerja dengan benar, tapi ketika Naruto maju naik ke panggung sebaga MC semuanya menjadi keluar jalur. Dia memberikan pembukan secara heboh, kemudian mengumunkan bahwa lomba olahraga antar kelas dan angkatan akan segera di mulai.

"Okee semuanya! Sebentar lagi kita akan memulai lomba olahraga dimana yang pertama adalah lomba estafet lari! Hoi, kalian siap atau tidak?!" tanya Naruto disambut sorakan anak-anak yang ada di bawahnya.

"Aku akan menghajar bokong kalian semua!" seru Kiba berapi-api memprovokasi anak-anak lain yang menyatakan mereka tidak akan kalah juga. Mereka semua ngotot kalau mereka adalah yang terbaik, beberapa anak mulai saling pukul.

Hinata memberi tanda pada Naruto dari bawah, ia membentuk tanda silang dengan kedua tangannya mengisyaratkan untuk segera menghentikan keributan sebelum menjadi lebih parah. Naruto yang tampak kebingungan dengan tanda dari Hinata kemudian menggangguk-angguk bodoh. Huuh, syukurlah dia mengerti.

"Hoi! Berhenti ugal-ugalan! Hoi!" Naruto menyalakan sirine dari pengeras suara. Setelah keributan agak mereda, dia kembali berbicara. "Kalian tidak boleh ribut lagi! Kalau kalian bisa tenang selama lomba, kami akan memberikan hadiah tambahan! Yaitu pemenang lomba terakhir nanti akan mendapat ciuman dari ketua Osis kita, Hinata~!"

Rahang Hinata turun drastis mendengar hal itu, ia bahkan terlalu terkejut untuk protes. Sorak sorai anak-anak membahana memenuhi udara Suzuran. Mereka segera berlomba-lomba untuk menempati posisi untuk lomba pertama. Ketika peluit dibunyikan, rasanya seperti melihat rombongan unta yang berlari menuju mata air.

Hinata memijit pelipisnya sekali lagi, ia memutuskan untuk menghiraukan apa yang diumumkan oleh Naruto. Lagipula tak ada yang berani mendekati Hinata sejak ia mengalahkan Juugo dulu. Hinata lebih memilih berjalan berkeliling menikmati festival. Sungguh pemandangan yang sangat mustahil terjadi di Suzuran, sekolah dekil ini kini begitu ramati dan panji-panji warna-warni berkibar di setiap sudut sekolah. Menutupi kesuraman bangunan tua sekolah ini. Hinata sedang mengantri untuk membeli es di stand Guy ketika bahunya ditepuk dari belakang.

Hinata menoleh. "Kakashi-sensei?" sapanya sembari membungkuk singkat.

Kakashi tersenyum dibalik maskernya. "Kau mengantri juga?"

Hinata hanya menggangguk. "Jadi sensei dan pak Guy adalah teman?"

Kakashi mengangkat bahunya asal ."Kami teman sekelas dulu," jawabnya.

Hinata membekap mulutnya. "J-jadi sensei juga alumni Suzuran?" tanyanya takjub.

"Oh ya, tentu saja. Kenapa? Kau tidak mengira alumni Suzuran bisa menjadi guru?"

Hinata menggangguk samar. "Well, kupikir mereka semua akan berakhir sebagai mafia atau pekerja konstruksi?"

"Ouch," respon Kakashi sembari tertawa pelan. "Yah, awalnya menjadi guru juga bukan impianku."

Hinata memperhatikannya dengan serius. "Jadi apa mimpi sensei waktu sekolah di sini?"

Kakashi memadang kejauhan, tampak seperti menerawang sesuatu. "Tidak ada."

Hinata mengangkat alisnya. "Maaf?"

Kakashi menunduk untuk memberikan Hinata senyuman bijaknya lagi. "Tidak ada. Aku tidak memiliki mimpi atau tujuan hidup ketika SMA. Kerjaanku setiap hari hanyalah berkelahi, membuat masalah, dan majalah dewasa. Hahaha, namanya juga anak muda."

Hinata menatap Kakashi dengan penuh rasa tidak percaya. Gurunya ini sungguh berpenampilan seperti orang yang patut diteladani, selain otak mesumnya. Siapa sangka dulu dia juga mengalami masa puber yang ekstrim seperti itu.

"Tapi kau harus punya mimpi bukan? Kalau kau tidak punya cita-cita, lalu siapa yang mau menghidupi di masa depan?"

Hinata tersenyum. "Sensei benar." Kemudian ia melanjutkan. "Jadi memang seperti kutukan ya? Maksudku setiap murid Suzuran selalu seperti itu," kata Hinata.

Kakashi menoleh padanya. "Tidak juga."

"Apa maksudnya itu?"

Kakashi tertawa pelan. "Apa kau tahu sejarah Suzuran bagaimana bisa menjadi sekolah yang menempati kelas terendah dari SMA laki-laki di Tokyo?"

Mendadak Hinata seperti dipukul oleh batu pada dadanya. Ia sama sekali tak pernah memikirkan sejarah Suzuran. Tak pernah sekalipun memikirkan hal itu.

"Suzuran dulu sekolah yang bagus," kata Kakashi membuka. Hinata berusaha keras menahan dengusan untuk tidak keluar dari mulutnya.

"Ayahmu membangun Suzuran, dan beliau juga pelopor sekolah laki-laki pertama yang ada di Tokyo. Semasa ayahmu menjabat sebagai kepala sekolah di sini, Suzuran benar-benar ada di puncaknya. Mereka menang baik di akademik maupun fisik. Tapi kemudian ayahmu meninggalkan Suzuran. Kau bisa tebak dia pergi kemana?"

Hinata menelan ludah, ia menggelengkan kepalanya.

"Ia pergi untuk mengurusi kelahiranmu," kata Kakashi. Hinata terdiam mendengarnya, membuat Kakashi melanjutkan. "Dia kembali pada keluarganya, karena beliau merasa kau lebih penting dari apapun dan nyonya Hyuuga tidak dalam kondisi kesehatan yang baik. Itu adalah awal kehancuran Suzuran, maka orang-orang menyebut Suzuran adalah proyek pertama ayahmu yang gagal."

Hinata kini benar-benar kehilangan kata-katanya. Tangannya bergetar menyentuh dadanya sendiri yang kini terasa sesak. Sesak kemudian perlahan-lahan rasanya melebur ke dalam darahnya, menghangatkan tubuhnya yang sudah panas.

Kakashi tersenyum. "Suzuran semakin parah ketika kami ada masalah dengan Housen, sekolah laki-laki sebelah. Well, sebenarnya aku yang membuat masalah."

Hinata memiringkan kepalanya heran. Kakashi melanjutkan, "Kami dulu sering tawuran dengan sekolah lain. Suzuran dan Housen memiliki hubungan yang baik dulu. Mereka sering membantu kami untuk menghadapi sekolah lain, hal itu karena pemimpin Housen adalah teman dekatku."

Hinata kali ini benar-benar dibuat tertarik. "Siapa?"

"Obito Uchiha," sebutnya sambil tersenyum. "Dia adalah teman terbaik yang pernah kumiliki."

Hinata masih saja dibuat terkejut. "Pernah?"

"Pada suatu siang di musim panas Suzuran dan Housen sedang menghadapi sekolah tengik lain, dan waktu itu salah seorang dari sekolah itu melukai mataku," Kakashi menyibakkan poni yang terkadang menutupi mata kirinya. Tampak sebuah luka menggores matanya, dan Hinata baru benar-benar menyadarinya. "Aku tidak bisa melihat beberapa saat dan seseorang akan menyerangku dengan sepeda motor. Obito melindungiku dan terpental sampai sebagian wajahnya rusak menggesek aspal. Housen menyalahkanku dan sejak saat itu hubungan Suzuran dan Housen memburuk. Suzuran juga jadi memiliki lebih banyak musuh."

Hinata dibuat terheran-heran atas fakta baru yang diterimanya. "Tapi kenapa Obito-san tidak bilang kalau itu bukan salah sensei?" tanya Hinata.

Kakashi tersenyum di balik maskernya. "Masalah perempuan. Kami menyukai seorang gadis yang sama. Problem biasa anak laki-laki SMA," ucapnya. "Sejak saat itu Suzuran semakin terisolasi, semakin tak karuan dan Suzuran mungkin tidak punya kesempatan untuk memperbaikinya."

Hinata mengeluarkan suara tanda ia mengerti. Tapi ia tidak bisa berhenti untuk terkejut. Mendengar hal-hal yang tak pernah terpikirkan olehnya tentang Suzuran membuatnya benar-benar takjub. Bagaimana Suzuran dahulu dan sekarang.

"Tapi mungkin sekarang," ucap Kakashi memesan dua gelas es sirup berwarna hijau padanya dan tahu-tahu mereka sudah ada di depan counter Guy. "Mungkin sekarang Suzuran memang memiliki kesempatan."

Hinata menoleh untuk memperhatikan betapa ramainya festival di depannya. Anak-anak bersorak sorai mendukung teman sekelas mereka yang kini sedang ada di bagian lomba basket, diiringi oleh suara musik pemberi semangat yang volumenya ditingkatkan oleh Shikmaru. Mereka benar-benar tampak menikmati hari itu.

"Dan semua ini adalah karena dirimu," kata Kakashi sambil memberikan minuman itu pada Hinata. "Jangan menyerah akan Suzuran ya," Kakashi bernada memohon.

Mata Hinata berbinar menatap Kakashi. "Aku tidak akan menyerah," ucapnya penuh keyakinan.

Kakashi tampak senang mendengarkan jawaban Hinata. Orang itu mengusap rambut Hinata pelan. "Aku tahu aku bisa mengandalkanmu," katanya. Kemudian dia tampak seperti melihat sesuatu, lalu tersenyum pada Hinata. "Tapi kau harus menikmati hasil usahamu sendiri, pergilah. Sepertinya teman-temanmu menunggumu," tambahnya membuat Hinata berbalik dan terkejut melihat dua orang yang sangat dikenalnya melambai padanya.

"Ten-ten! Ino!" seru Hinata keras. Ia lalu memberi salam pada Kakashi kemudian berlari menyusul kedua temannya sewaktu sekolah di Kyoto itu. Mereka berdua datang mengenakan seragam sekolahnya yang dulu. Rok berwarna krem dan kemeja lengan pendek bisa dengan pita sederhana khas sekolah kota kecil.

Ten-ten dan Ino langsung menghabur ke dalam pelukan Hinata. Mereka berpelukan begitu lama sambil merengek bahagia. Setelah beberapa saat akhirnya mereka melepaskan pelukannya.

"Hinata~ aku benar-benar merindukanmu,"kata Ino yang masih membenamkan kepalanya di dada Hinata. Lokasi favoritnya.

Hinata tertawa bahagia, rasanya ini hal paling membahagiakan baginya setelah berbulan-bulan. "Aku juga sangat merindukan kalian."

Ten-ten kemudian merangkulnya bersemangat, temannya yang satu ini memang selalu bersemangat. "Bagaimana hidupmu sekarang Hinata? Pasti menyenangkan dikelilingi banyak lelaki!"

Hinata tertawa kosong mendengarnya. "Aku sungguh akan melakukan apapun untuk bisa kembali ke Kyoto," katanya sungguh-sungguh.

"Kenapa? Tampang anak-anak di sini lumayan setelah kulihat lebih dalam?" bujuk Ino dengan wajah seakan siap mencari mangsa. Wajahnya tersipu malu. Temannya yang satu ini memang sangat mudah naksir setiap laki-laki tampan yang lewat.

"Oh ya, tentu saja mereka lumayan. Mungkin itu satu-satunya kelebihan yang dimiliki anak Suzuran," kata Hinata kukuh.

Mereka tertawa, kemudian melanjutkan girls' talk sembari mencoba semua makanan dari setiap stand. Satu dua kali ada yang menyapa Hinata ingin marah-marah padanya kemudian melihat gadis lain yang ada di kanan-kiri Hinata membuat mereka mengurungkan niat. Seperti ketika mereka sedang duduk di kursi di bawah pohon dekat lapangan untuk menikmati es loli, Kiba dan Sai mendatanginya untuk menyuruh Hinata mendorong troli ring basket, mendadak lemas dengan wajah merah begitu melihat Ino yang cantik, seksi, dan percaya diri.

Kiba menyodok bahunya berkali-kali. "Hei Hinata! Siapa teman pirangmu itu? Dia sungguh mengundang," katanya bisik-bisik.

Hinata mengernyit kesal. "Mengundang kau bilang? Carilah kata-kata yang lebih sopan, Kiba-kun. Mereka temanku. Astaga," keluh Hinata membuang napas kemudian berencana pergi sebelum akhirnya Kiba dan Sai yang mengalah sambil marah-marah dan akhirnya pergi meninggalkan mereka.

"Hinata!" seru Ino heboh dengan mata berbinar. "Temanmu yang berkulit pucat tadi sangat cool! dia tipeku! Beri aku nomor teleponnya!" tambahnya tak sabar.

Hinata mencoba menjauhkan tangan Ino yang mengguncang-guncangkan bahunya. "Aku mengerti, aku mengerti," katanya menenangkan dengan wajah pasrah biasa miliknya. Mereka dikagetkan dengan suara sirine keras lalu disusul oleh suara Naruto yang berteriak di balik pengeras suara mengumumkan bahwa pertandingan basket akan segera dimulai dalam 15 menit.

Ino dan Ten-ten berubah menjadi heboh seketika mendengar hal itu. Mereka memaksa Hinata untuk ikut menonton pertandingan. Sambil cekikikan membayangkan tentang tubuh anak Suzuran, dimana Hinata tidak tega menyela, Hinata benar-benar menikmati momen ini. Mendadak hatinya menghangat mendapati dirinya bisa mengobrol santai dengan teman-teman perempuannya. Memang ada perbedaaan dari masing-masing lelaki dan perempuan, tapi mereka semua memiliki kelebihan di mata Hinata. Seperti saat ini, ia merasa sangat bahagia sampai matanya terasa panas.

"Hinata? Kau menangis?" tanya Ten-ten menyadari perubahan air muka Hinata.

Ino menjadi heboh. "Ada apa? Siapa yang menyakitimu?"

Hinata menyeka sedikit air di ujung matanya, kemudian tersenyum tipis. "Mereka semua. Orang-orang Suzuran selalu menyakitiku. Mereka selalu membuatku marah."

Ten-ten dan Ino memberinya tatapan terkejut atas pernyataan tersebut, kemudian mereka memeluk Hinata dari kedua sisi. Ten-ten mengelus pucuk kepalanya pelan. "Kalau sampai seorang Hinata Hyuuga dibuat marah, maka tempat ini memang terlalu kejam untukmu—"

"Tapi aku tidak pernah berniat untuk pergi. Mereka memang orang-orang liar, malah memebuatku ingin menjaga mereka. Aku menyayangi mereka semua. Apa itu terdengar gila?" tanya Hinata ragu.

Ten-ten dan Ino berpandangan sebentar, kemudian mereka tersenyum. "Kami bangga padamu karena kau selalu melakukan apa yang menurutmu benar. Dan memang selalu benar." Mereka bertiga tertawa di dalam pelukan erat.

Ten-ten dan Ino ingin mencari makan lagi namun Hinata sudah tidak nafsu makan mengingat demamnya kini mulai terasa mengganggu. Ia membiarkan kedua temannya keluyuran, lagipula mereka pasti bersenang-senang mengincar anak Suzuran. Kemudian ia dikejutkan dengan kedatangan Temari, mereka berpelukan sebentar. Lalu ia kembali dikagetkan dengan Obito dan Madara Uchiha yang datang bak pemain film. Semua orang yang ia tahu berdatangan.

Setelah menyapa banyak orang yang membuatnya lelah, Hinata sedang memijit pelipisnya ketika hal yang kini tengah berlangsung tak jauh dari tempat mereka duduk membuatnya membatu.

Sasuke tampak sedang bersiap-siap untuk masuk ke dalam permainan basket, dia melepas almamater gelapnya serta kemeja putih dan hanya menyisakan kaos puih polos untuknya bertanding. Namun bukan hal itu yang membuat Hinata tercengang, tapi ketika seseorang membantu Sasuke melepas satu-persatu kancing kemejanya. Gadis itu sungguh familar. Warna rambutnya yang mencolok membuat Hinata yakin kalau ia tak salah lihat.

Sakura Haruno. Teman se-SMPnya dahulu yang kini sedang mengurus Sasuke. Rupanya gadis itu datang ke festival juga. Tapi untuk apa? Kepalanya seakan tersengat mengingat kalau gadis itu adalah mantan pacar Sasuke yang paing lama menjalin hubungan dari pada gadis lain yang dipacarinya. Ah, masuk akal. Sakura memang tipikal gadis cantik dan selalu tersenyum ceria. Dia selalu menempel pada Sasuke sewaktu SMP dulu dan Sasuke tidak pernah keberatan akan hal itu. Tentu saja.

Sakura memang berbeda, bahkan Sasuke tidak menceritakan alasan dia putus dengan Sakura seperti yang biasanya Sasuke ceritakan tentang gadis-gadis lainnya. Mungkin hubungan mereka memang lain? Bahkan saat ini pun mereka terlihat seperti sepasang kekasih? Mungkin mereka berdua memang berpacaran selama ini dan Hinata tidak tahu? Astaga, jadi selama ini Hinata sangat salah karena sering memikirkan Sasuke padahal dia sudah punya pacar?

Sakura tampak menyeka keringat di dahi Sasuke dengan sapu tangannya, dan Sasuke hanya diam menerimanya saja.

Ada sesuatu dan itu rasanya sakit melihat adegan itu di depan matanya. Memang sudah bukan Hinata lagi yang mengurus Sasuke saat ini.

Suara siulan membangunkan Hinata dari spekulasi-spekulasi di kepalanya sebelum menjadi lebih liar. Naruto bersiul menggoda Sasuke dan Sakura dari tengah lapangan, kemudian dia dan teman-temannya tertawa, menyuruh Sasuke agar tidak pacaran terus dan segera masuk ke lapangan.

Sakura tampak tertawa sebentar ke arah lapangan kemudian akan kembali menghadap Sasuke, tepat saat itu dia melihatnya.

Wajahnya tampak terkejut. "Hinata!" panggil Sakura dan membuat Hinata terperanjat karena otomatis Sasuke ikut menoleh. Mata mereka bertemu beberapa detik, sebelum akhirnya Hinata memutuskan kontak itu dengan menunduk.

Sakura mendatanginya dengan seyum yang mengembang, kemudian memeluknya sebentar. Hinata tersenyum sambil membalas pelukannya. Kemudian gadis itu duduk di sampingnya dengan mata yang sangat penasaran. "Sudah lama sekali, kau kembali ke Tokyo?" tanyanya.

Hinata mengangguk. "Benar, bagaimana kabarmu Sakura?"

Sakura meringis lebar. "Ya, aku seperti biasanya. Bagaimana denganmu? Kau benar-benar sekolah di sini?"

"Iya, ayahku memintaku melakukan itu. Sungguh sial," jawab Hinata sambil tertawa kecil.

Sakura ikut tertawa mendengarnya. "Tentu saja menyebalkan hidup dikelilingi anak-anak tidak dewasa ini ya. Tapi kau jadi bisa bertemu Sasuke-kun setiap hari!" ujar Sakura bersemangat dengan mata berbinar melihat ke arah lapangan dimana sekarang Sasuke tengah bertanding basket.

Hinata tersenyum tipis mendengarnya. "Sakura memang sangat menyukai Sasuke-kun bahkan sampai sekarang ya," ucap Hinata.

Sakura menoleh padanya dengan satu alis terangkat. "Well, kami tetap berteman sampai sekarang. Sasuke sering ke club dimana aku bekerja part time. Tentu saja aku menyukainya." Katanya kemudian menoleh pada Hinata kemudian tertawa pelan. "Tapi tentu saja itu hanya masa lalu. Walaupun, yah, dia memang susah dilupakan."

Hinata mencoba mencerna dan menghubungkannya dengan spekulasi lamanya. "Kau tidak pacaran dengan Sasuke?" tanyanya memastikan.

"Oh tentu saja tidak. Dia tidak suka terlibat dalam hubungan sejak kematian kakaknya, kukira? Lagipula kami 'kan sudah putus sangat lama."

Mendadak Hinata bisa bernapas lebih lancar, tapi bagian 'kematian kakaknya' membuatnya sesak kembali. "Kau benar," responnya dengan kepala menunduk.

"Tapi akhir-akhir ini dia jarang ke klub. Kesanapun hanya sebentar. Dia bilang dia sibuk mengurusi festival, ternyata festival ini hebat juga. Hahaha," kata Sakura lagi.

Hinata tersenyum di sela dengusannya. "Sibuk mengurus bagian apa? Hidungnya pun tak muncul di sekolah untuk membantu," ujar Hinata.

"Benarkah? Tapi dia selalu menitipkan perlengkapan sound system dan sejenisnya di club dan mengurusnya?"

Hinata mengerutkan kedua alisnya berpikir kembali siapa gerangan yang mengurus hal itu, dan ia benar-benar lemas setelah mengingat kalau Sai bilang menyerahkan semua hal itu pada Sasuke. Hinata pikir Sai yang mengurusnya. Hinata menoleh ke arah lapangan basket, dan entah mengapa fokusnya hanya kepada Sasuke yang kini sedang berusaha merebut bola dari tangan Gaara. Orang itu... sungguh kejam. Bagaimana dia bisa menjadi jahat sekaligus baik dalam satu waktu. Untuk apa orang itu selalu menyakiti hatinya jika pada akhirnya dia membantu Hinata. Sungguh tak ada satupun petunjuk tentang apa yang sebenarnya orang itu pikirkan. Sekeras apapun Hinata mencoba masuk kedalam hidup Sasuke, orang itu selalu bisa membuatnya merasa terdorong keluar dengan segala tindakan jahatnya.

Apakah dia orang jahat atau baik? Atau malah keduanya.

Yang pasti Hinata ingin tahu.

Peluit dibunyikan pertanda permainan berakhir dengan kemenangan telak tim Sasuke. Hinata tersentak ketika Sakura mengucapkan sampai jumpa dengan cepat karena gadis itu buru-buru menghambur ke dalam perayaan berlebihan oleh tim Sasuke. Naruto tampak dengan senang hati menggoyang-goyangkan bokongnya pada tim Gaara yang membuat Lee menusukkan jari tengahnya pada bokong Naruto. Mereka tertawa sembari melontoarkan umpatan, seperti biasa. Mereka tampak sangat menikmati hari itu.


Awan mendung tipis mulai berkumpul di atas langit, membawa serta angin kencang berhembus ke segala arah. Sinar matahari yang seharusnya sudah memasuki puncaknya tampak hanya sedikit berkas cahaya menyusup di antara awan-awan itu. Lapangan mulai tampak sepi memasuki penghujung acara, yaitu pengumuman pemenang dan penutup. Naruto dan Lee menaiki panggung dengan gaya yang berlebihan. Suara sirine dari pengeras suara kembali dikumandangkan memaksa untuk mendapat perhatian dari seluruh sekolah.

"Yosh! Hari ini sangat menyenangkan! Siapa sangka kalian sepecundang itu saat lomba tadi huh? Hahahaha!" tawa Naruto diikuti ancaman jengkel dari para penonton yang menyuruhkan segera tutup mulut.

Lee tampak begitu bersemangat sampai orang bisa melihat api keluar dari tatapa matanya. "Yah! Tentu saja, meski sulit kuakui ini, tapi hari ini begitu luar biasa! Dan semua permainan dibabat habis oleh satu orang dan orang brengsek itu adalah Uchiha favorit kita! Uchiha Sasuke!" seru Lee dengan tangan terkepal ke atas.

Mendengar namanya disebut tidak membuat Sasuke bergerak sesentipun dari tempatnya duduk sekarang. Ia hanya terus meneguk air mineral untuk membasahi kerongkongannya yang sangat kering, mereka membuat Sasuke bertanding selama berjam-jam. Memang sialan, tapi diluar dugaan ia menikmatinya. Sungguh rasanya sudah bertahun-tahun ia tidak tertawa lepas seperti hari ini, melihat kekonyolan teman-temannya, melakukan aktivitas yang ada tujuannya, bertemu dengan orang-orang luar yang jarang dilakukannya. Semua hal-hal klise murahan ini membuat dirinya sendiri takjub bahwa selama ini betapa terpisahnya hidup Sasuke. Ia memang menutup diri dari dunia luar selain berkelahi dan klub, ia tidak tahu hal—hal sepele seperti mengantri untuk membeli minuman atau mendengarkan peluit tanda permainan dimulai membuatnya sangat merasa hidup.

Semua hal yang hari ini terjadi membuat pandangannya berubah akan cara kerja dunia ini. Ia selalu dalam lingkaran kegelapan kematian Itachi, selalu sampai saat ini. Atau sebenarnya saat perseteruan akbar terakhirnya dengan Hinata di rumah sakit. Ternyata dia benar. Omongan gadis itu tentang harapan memang menjadi kenyataan. Fugaku masih hidup dan bertambah sehat saat ini.

Hari ini menjadi hari paling bersejarah di Suzuranpun juga karena dirinya sendiri.

Matanya tak bisa lepas dari sosok gadis yang berdiri tak jauh dari bangku yang Sasuke duduki saat ini. Gadis berdiri di dekat panggung, mencoba mengarahkan Naruto untuk melewati sesi perayaan besar-besaran bagi pemenang dan langsung menyerahkan hadiah. Sasuke mendengus tertawa membayangkan dirinya mendapat hadiah uang tunai dari uangnya sendiri.

Mendadak kakinya terangkat ke udara membuatnya sedetik berpikir bahwa ia melayang, dan ternyata memang begitu. Teman satu timnya; Sai, Kiba, Suigetsu, dan Chouji mengangkat tubuhnya agar segera naik ke panggung. Meronta keras, ternyata tidak membuahkan hasil dengan cengkeraman Chouji yang ganas. Naruto seketika melupakan tugasnya sebagai MC dan ikut larut dalam perayaan heboh tim mereka. Deru sorakan mengudara ketika Naruto mengangkat pialanya tinggi-tinggi dan memamerkan uang yang mereka dapat. Beberapa orang mengacungkan jari tengahnya pada tim mereka yang langsung dibalas Naruto dan Kiba dengan goyangan bokongnya. Tapi mereka semua tertawa.

"Ya! Ya! Hentikan pamer kalian," kata Lee dengan nada lelah. Kemudian dia kembali ke bentuk berapi-api. "Nah! Sesuai perjanjian kita, tim pemenang akan mendapat ciuman dari ketua Osis kita! Hinataa! Hinata!"

Anak-anak mulai mengulang-ngulang nama Hinata untuk mengintimidasi gadis itu. Hinata baru akan melarikan diri ketika tubuhnya dibopong paksa oleh Juugo dan dilemparkan ke atas panggung. Suara siulan dan godaan terdengar begitu nyaring. Hinata langsung melancarkan argumen protesnya dengan wajah merah.

"Perjanjian apa? Jangan mengada-ada! Kita hentikan sampai di sini," ucapnya lantang yang mendapat respon cepat dari para penonton.

Lee menyenggol bahu Hinata dengan wajah yang menjijikkan. "Hei, ketua Osis tidak boleh mengingkari janjinya Hinata. Kau pemimpin Suzuran! Jika kau ingin cepat selesai, maka berikan hadiahmu! Kalau begitu untuk ketua timnya saja!" seru Lee sembari berlari mengelilingi panggung untuk mengumpulkan sorakan lebih keras lagi.

Hinata tampak benar-benar pucat, tapi wajah gadis itu merah luar biasa. Namun bukan merah karena malu. Rasanya ada yang janggal dari sikapnya hari ini. Karena tubuh Hinata sudah tampak bergetar lemas, membuat semua orang menjadi tidak tega.

Lee tertawa canggung karena merasa bersalah, bagaimanapun gadis itu memang terlalu polos untuk dipermainkan oleh Suzuran. "Ehh, Hinata tidak perlu memaksakan dirimu—"

"Baik!" seru Hinata diluar dugaan. Hinata tampak bergulat dengan pikirannya sendiri selama beberapa saat sampai akhirnya gadis itu bergerak maju dan merebut mic dari tangan Lee. "I-ini kulakukan karena aku sangat berterimakasih pada kalian. Karena kalian hari ini..." suaranya terlalu bergetar untuk meneruskan kalimatnya. Mendadak atmosfer menjadi sangat hangat, menanti kata-kata final keluar dari mulut gadis itu. Gadis pertama yang sanggup membuat jengkel satu Suzuran, namun disaat bersamaan membuat Suzuran menganggapnya berharga.

"Karena kalian hari ini sungguh luar biasa. Terimakasih," katanya dengan pancaran mata yang benar-benar tulus.

Semuanya tenggelam dalam keheningan yang janggal, sesaat terdengar suara isakan, kemudian mereka melempar apapun yang bisa ditemukan ke udara. Sorak sorai penuh kebahagiaan memenuhi udara Suzuran siang itu.

Disaat anak-anak tidak begitu memperhatikan karena terlalu larut dalam suka cita, Hinata bergerak mundur. Ia berjalan mendekati Sasuke dengan kaki yang bergetar. Sasuke menahan napas, mencoba tidak memperlihatkan ketegangannya ketika gadis itu bergerak semakin mendekat sampai akhrinya dia berhenti tepat dihadapan Sasuke. Sasuke ingin mencela, mencemoohnya seperti yang biasa mereka lakukan. Tapi entah mengapa lidahnya terasa kelu untuk mencoba melukai Hinata saat ini.

Gadis itu mendongak pelan. "Maafkan aku, aku tidak tahu kau berbuat sebanyak itu untuk festival ini," ucapnya dengan mata tepat menatap lurus pada Sasuke. Ia langsung mengerti bahwa gadis itu berterimakasih untuk peralatan yang Sasuke urus. Tapi bukan itu, bukan pernyataan terimakasihnya yang membuat hati Sasuke terasa melebur saat ini. Sesuatu dari gadis itu selalu sukses membuatnya merasa begitu dicintai.

Kemudian Hinata melakukannya dengan cepat. Hanya dalam sekali kedipan mata, gadis itu menarik kaos Sasuke agar lebih mendekat kemudian mencium pipinya. Bibir gadis itu menekan keras pipi Sasuke, kemudian melepasnya dengan cepat.

Suara seruan protes, godaan, siulan bercampur begitu heboh ketika Hinata melakukannya. Sedangkan Sasuke sendiri masih melotot atas aksi sepihak yang dilakukan Hinata. Astaga, itu mengagetkannya. Jika dipikir kembali rasanya dulu gadis itu pernah melakukan hal serupa. Payah. Hanya karena pipipnya dikecup oleh seorang Hinata Hyuuga membuatnya gelagapan. Bahkan jantung Sasuke berdetak sama cepatnya seperti dulu, dan perasaan yang sama seperti dulu kembali muncul.

Ia menginginkan lebih.

Lengannya menarik pinggang Hinata tepat sebelum gadis itu berlari kabur, merengkuh tubuh itu kedalam dekapan kasar Sasuke, kemudian menciumnya. Tangannya menggenggam pipi Hinata, menariknya untuk memudahkan Sasuke merasakan betapa manisnya bibir gadis itu. Sasuke menggerakkan bibirnya dengan tekanan yang sangat besar selama beberapa detik, kemudian melepas bibirnya sedikit. Demi Tuhan jika mereka tidak sedang berada di depan ratusan orang yang terkejut atas aksi ajaib ini, Sasuke pasti akan menarik Hinata lebih dalam.

Hinata menarik wajahnya buru-buru, lalu hal yang mustahil dia lakukan terjadi. Gadis itu menampar pipi Sasuke. Meski sama sekali tidak terasa sakit karena dia menamparnya dengan tangan gemetaran, tapi tentu saja harga diri Sasuke terluka untuk kesekian kalinya oleh gadis itu. Meski jarang, tapi Sasuke mengenali penolakan.

Hinata menjauh dengan punggung tangannya menutupi bibir, tatapan matanya sulit untuk ditebak. Lalu gadis itu segera membalikkan badannya dan turun dari panggung dengan kecepatan yang luar biasa. Selalu seperti ini. Selalu gadis itu yang meninggalkan Sasuke dahulu. Selalu ialah orang yang menatap punggung gadis itu bergerak menjauhi tempat dimana ia berdiri. Karena ia tahu gadis itu tak pernah melihatnya. Sebanyak apapun perempuan yang Sasuke punya dan sombongkan padanya, sebanyak apapun usaha Sasuke untuk menunjukkan tampang dan hartanya, sebanyak apapun ia mencoba untuk membuat gadis itu melihat betapa populernya Sasuke, semua itu bahkan tak berarti apapun.

Gadis itu malah melihat sisi-sisi sepele dari kehidupan Sasuke dan itu lah yang membuat Sasuke semakin menginginkannya. Tapi mempertimbangkan kembali kebenciannya terhadap Hinata, membuat Sasuke mengutuk perbuatannya tadi.

Belakang kepalanya dipukul mendadak sampai terasa nyeri dan sadar situasinya saat ini. Sasuke melotot pada pelaku yang ternyata adalah Neji yang tak kalah memberikan tatapan mautnya pada Sasuke. Naruto dan anak-anak yang lain tak mau kalah untuk menunjukkan protes atas aksi sembrono Sasuke tadi dengan berbagai macam cara termasuk menendangi Sasuke. Kiba merengek dengan sumpah serapah bahwa dia seharusnya juga mendapat ciuman dari Hinata. Situasi menjadi lebih ricuh saat mereka mulai memutuskan untuk berpesta karena festival sudah dianggap selesai.

.

Langit menjadi semakin gelap karena awan mendung kini berkumpul tebal menutupi matahari. Lapangan Suzuran sudah agak sepi dan hanya beberapa stand yang masih buka, melayani anak-anak yang masih berkeliaran di sekolah sampai hampir sore. Mereka masih duduk-duduk di bawah pohon utama di halaman belakang sambil menghisap rokok dan memakan camilan yang kali ini bervariasi selain kripik kentang Chouji. Kiba sedang mencoba melawak dengan mendeskripsikan tubuh sempurna teman yang Hinata bawa tadi dan mereka segera merespon dengan lelucon-lelucon kotor, kemudian tertawa bersama. Sasuke terkekeh sembari menghisap keras rokok dimulutnya ketika Kiba dan Naruto mulai berkelahi.

Mereka dikejutkan dengan suara mirip auman hewan liar yang bergerak dengan cepat mendekati mereka. Dan lebih kaget lagi ketika Neji berlari dan berhenti mendadak sampai menubruk tubuh gempal Chouji, wajahnya tampak merah karena murka.

"Bajingan," geramnya marah.

Sasuke berdiri sambil menghembuskan asap rokok dengan hati-hati. "Ada masalah?" tanyaya.

Neji tampak ingin meledak tapi bercampur dengan keputus asaan. "Aku tidak bisa menemukan Hinata," katanya pelan dan seketika nama itu disebut dengan nada seperti itu membuat seluruh anak menjadi awas. "Ada bajingan keparat yang membawanya, aku yakin!" serunya marah.

"Apa maksudmu Neji, huh?!" balas Naruto mulai panik sembari menarik kerah seragam Neji.

Neji menepik keras tangan Naruto agar melepaskannya. "Dia memintaku untuk mengantarnya pulang karena dia sedang sakit, dan dia bilang akan menungguku di koridor lantai satu. Tapi begitu aku kesana, dia tidak ada."

Suigetsu mendengus keras mendengarnya. "Kalau begitu tentu saja dia sudah pulang duluan!"

"Tidak!" Neji bersikeras. "Aku melihat tasnya terjatuh di lantai," tambahnya dan semua orang kini mulai benar-benar mendengarkan. "Dan keparat ini lupa memungut rokok sialannya," kata Neji kemudian membuka telapak tangan kanannya yang memperlihatkan rokok yang setengah hancur karena diremasnya.

Sasuke menyambar rokok itu dengan cepat, menelitinya sebentar kemudian mencium aromanya. Begitu mengenali aroma yang sangat dibencinya ini langsung membuat jantung Sasuke berpacu begitu cepat sampai tanpa sadar keringat dingin keluar dari pori-pori dahinya. Mendadak semua spekulasi-spekulasi horor muncul di kepalanya.

"Ini rokok yang selalu disetor oleh Sasori," katanya sambil menahan agar suaranya tak bergetar. Sasuke menatap teman-temannya yang menganga tidak percaya. Sasuke menghirup udara banyak-banyak sebelum akhirnya berkata, "Housen."

TBC

Review, yes? :)