Hohoho~ #minum teh ala Tanaka. Sebelumnya akan aku kasih tahu perubahan apa yang terjadi padaku. Aku mengganti nama dari Shinji-Gray Dragneel Micahelis menjadi Hikaru-Ryuu Hitachiin. Jadi mulai sekarang panggil aku Hikaru~ Oke, mulai dari awal...

Hohoho~#minum teh ala Tanaka. Bertemu lagi dengan Hikaru si author gila tanpa wujud xD Sekarang Hikaru sudah memutuskan akan membuat fic ini berakhir dengan happy ending dengan jumlah chapter sampai chapter sepuluh saja~ Atau mungkin bisa saja lebih jika ada suatu masalah yang kecil. Mungkin ini fic terpanjang yang pernah Hikaru bikin xD Yap! Cukup sekian celotehan dari Hikaru, Hikaru tidak mau berlama-lama menceloteh disini. Kalau begitu, silakan membaca chapter ke delapan ini dan mudah-mudahan pada suka semua. Silakan tekan tombol ke bawah jika kalian ingin membaca atau tertarik untuk membacanya, dan silakan tekan tombol keluar atau kembali jika kalian tidak ingin membacanya dan tertarik dengan fic ini. Kalau begitu sekian dari Hikaru~

Waktunya pembalasan riview~

.

Nataka-chan:Kalau sampai 10 gimana? #jduak

Yaudah~

Kalau gitu happy ending saja deh xD

Sip! Arigatou~

.

Namikaze abe-san:Yo! OoO/

Tidak apa~

Baiklah! Happy Ending saja xD

Chapter 10 tamatnya ya?

Yosh! Arigatou~

.

abi. putraramadhan: Karena ada dua orang yang minta happy ending, jadi kejadian itu mungkin -sensor-

Yosh! Arigatou~

.

black cat 003:Kakak?

Panggil aku Hikaru saja~

Oke, terima kasih sudah menunggu.

Tapi ini sudah muncul kok~

Arigatou~

.

Oke! Sekian acara pembalasan dari Hikaru.

Cukup.

Jaa~

- Happy Reading -

::

::

Naruto © Masashi Kishimoto-sensei

Hinata Sensation © Hikaru-Ryuu Hitachiin

::

::

::

- cerita sebelumnya -

"Tuh, Ten sudah datang" katanya, Seorang gadis bercepol dua dengan pakaian merah keluar sambil membawa pakaian yang bertumpuk sampai menutup mukanya.

"Iya tante, ada apa?" tanya Ten masih terus membawa pakaian tersebut.

"Taruh pakaian itu dulu disana, tante mau mengenalkan seseorang ke kamu" jelasnya.

"Baik" gadis cepol dua itu menaruh pakaian tersebut di sebelah mesin cuci dan mengepak-ngepak pakaiannya lalu menghadap ke arah mereka.

"Neji-kun"

Hinata Sensation

Ch. 8

Saling menatap tidak ada pembicaraan sama sekali, sepasang mata yang tidak bisa berkedip akibat suatu hal yang tidak menentu. Bisa diartikan mereka saling memandang dan tidak ada sebuah arti dari pandangan tersebut. Memang tidak ada yang menduga setelah sekian tahun tidak bertemu, akhirnya mereka kembali dipertemukan kembali. Seperti di komik-komik saja ya, tapi ini berbeda. Sebuah pertemuan kembali memang akan terjadi, setelah sekian lama menunggu untuk bertemu, akhirnya pertemuan itu telah ditakdirkan diantara mereka berdua.

"Neji" gadis bercepol dua yang kita kenal dengan nama Tenten itu kembali mengulang mengucapkan nama Neji. Apa hanya nama itu yang terlintas di otak Tenten sekarang?

"Tenten" sama halnya dengan Tenten, Neji juga menyebutkan nama gadis yang ada di depannya itu. Ternyata Neji masih mengingat nama sahabat kecilnya, mereka menjadi teman saat masih kecil dan saat itu mereka berkenalan di negara lain yang bukan menjadi negara asalnya. Berpisah di negara asing dan sekarang bertemu lagi di negara asal. Apa kalian mengerti apa yang dituliskan Hikaru? Sepertinya tidak, karena Hikaru tidak tau juga apa yang telah ditulis Hikaru. #jduar

Dulunya saat Neji masih kecil ia tinggal di luar negeri, disana ia bertemu dengan orang luar yang ternyata berasal dari negara yang sama dengannya. Orang itu adalah Tenten, dan itulah teman pertama bagi Neji di luar negeri. Jadi, sahabat Neji dari kecil adalah Tenten yang juga tinggal disana dengan status warga negara Jepang. (?)

"Wah~ kalian sudah saling kenal ya? Tapi aku belum kenal! Perkenalkan, namaku Uzumaki Naruto. Salam kenal ya, Tenten" seru Naruto mengulurkan tangannya di depan Tenten dan membuat lamunan akan menyebutkan nama Neji telah membuyar.

"Ah, aku Tenten. Salam kenal juga Naruto. Senang berkenalan denganmu" balas Tenten dan menerima uluran tangan Naruto dengan semangat, Tenten memang orang yang bersemangat. Berbeda saat masih bersama dengan Neji di luar negeri, Tenten saat itu pemalu dan juga cengeng walau tidak manja. Tapi sekarang memang berbeda, bisa dilihat dari raut wajahnya dan cara ia berpakaian yang saat itu sedang menggenakan kaos bewarna hitam ditemani dengan celana jeans panjang. Juga cara berbicara yang menekankan suara agar menjadi lebih tinggi.

Tidak mau kalah dengan Naruto, Hinata juga mau memperkenalkan dirinya. Ia berjalan mendekati Tenten dan berdiri di depannya. "Aku Hinata Hyuuga. Adik sepupu Neji-nii, salam kenal ya Tenten" sekarang Hinata yang mengulurkan tangannya setelah Naruto melepas jabatannya antara dia dan Tenten. Hinata tersenyum dengan ramahnya, ia disambut dengan ramah juga oleh Tenten.

Setelah kedua gadis itu melepas uluran tangannya, kini mata Tenten beralih pada pemuda yang sudah ia kenal sejak lama. Yap! Neji Hyuuga. "Neji! Sudah lama kita tidak bertemu, bagaimana keadaanmu selama ini? Sehat-sehat saja kan?!" masih dengan keadaan yang tetap semangat, Tenten menepuk pundak Neji sekaligus melontarkan pertanyaan yang sering ditanyakan di awal-awal sebuah surat.

Neji hanya bengong-bengong saja ditepuk-tepuk seperti itu pundaknya oleh Tenten. Oke! Tidak ada waktu untuk berbengong ria sekarang, Neji mengangkat suaranya! "Berubah" tiba-tiba Neji mengucapkan kata yang tidak dapat tercerna oleh otak ketiga pemuda-pemudi itu. Mereka bertiga pada bingung kenapa Neji mengucapkan kata 'berubah' saat itu. Padahal tidak ada sesuatu hal perubahan yang telah dialami oleh mereka semua.

Ternyata sang tante yang dari tadi merasa terabaikan sekarang akan memulai sebuah pekerjaan yang baru, karena ia baru saja mendengar ada suara tangisan. Maka pekerjaan barunya baru saja akan dimulai.

"Tante pergi dulu ya, sepertinya sudah ada anak yang bangun. Lagian, sepertinya ini adalah pembicaraan para remaja" kata tante Tenten yang merasa sudah tua dan melangkah pergi menjauhi dirinya dari mereka berempat. Ia masuk ke dalam ruangan dan menutup pintunya agar hawa dingin yang berasal dari luar tidak masuk ke dalam.

Hening~ Tidak ada yang memulai percakapan sama sekali. Mereka semua menjadi canggung setelah ucapan Neji yang barusan, tidak tahu harus bicara seperti apa. Mungkin mereka sedang mencerna ucapan Neji yang tidak masuk diakal mereka saat itu. Tapi perlahan-lahan Tenten mengerti apa maksud dari kata 'berubah' yang diucapkan Neji. Ia meminta Naruto dan Hinata pergi menjauh dari mereka karena Tenten ingin berbicara empat mata saja dengan Neji. Tanpa basa-basi lagi langsung saja Naruto dan Hinata pergi dari hadapan mereka berdua.

Naruto dan Hinata masuk ke dalam ruangan yang sama seperti tantenya Tenten tadi untuk kembali bermain dengan anak-anak yang sudah tidak terasa asing bagi mereka berdua. Tapi Naruto dan Hinata sebenarnya tidak sedang masuk ke dalam ruangan, memang sih masuk... tapi mereka keluar lagi lewat pintu belakang untuk mendengar pembicaraan Neji dan Tenten. Karena mereka penasaran sekali dengan apa yang akan Tenten bicarakan setelah lama sekali tidak bertemu dengan Neji. Sekarang tersisa dua orang yang berada di luar. Dua orang? Jangan lupakan Naruto dan Hinata yang sedang mengintip di balik pohon dekat keberadaan Neji dan Tenten! Jadi ada empat orang yang sedang berada diluar ruangan.

Setelah melihat kepergian Naruto dan Hinata tanpa mengetahui bahwa sebenarnya Naruto dan Hinata sedang bersembunyi, Tenten pun memulai pembicaraannya. "Aku tahu apa maksudmu dengan kata 'berubah'" ucapannya telah membuat Neji jadi kaget dan juga ada rasa tidak mengerti. Tenten duduk di ban yang berjejer di pinggiran taman kanak-kanak itu yang keberadaannya tepat berada di sebelah kanan ayunan.

"Ha?"

"Yah~ maksudku sifatku yang berubah ini. Kau mengerti maksudku kan?" lanjut Tenten, perkataannya yang barusan telah diakhiri dengan sebuah pertanyaan.

"Oke, aku merasa kau memang berubah. Dirimu yang dulu pemalu juga sedikit cengeng dan manja juga sifat yang seperti gadis biasanyasekarang jadi kecowok-cowokan dan sepertinya kamu sudah tidak manja maupun cengeng lagi, bisa dilihat dari cara berpakaianmu atau cara berbicaramu" jelas Neji memberitahu semua yang sedang berada di otaknya dan duduk di sebelah ban yang Tenten duduki.

"Aku memang berubah, tapi aku masih seperti yang dulu" Tenten berdiri, ia berjalan mendekati bak cucian yang ia taruh tadi di samping mesin cuci dan mengangkatnya.

"Aku mau cuci baju, kau bisa main dengan anak-anak di dalam" kembali Tenten berbicara, tapi itu rasanya tidak enak sekali. Rasa canggung yang terdapat pada diri mereka berdua, berbeda dengan mereka saat sedang kecil.

"Ya" jawab Neji singkat, ia berjalan dengan lesu menuju ke dalam ruangan itu. Dengan wajah kecewa ia membuka pintu dan masuk ke dalamnya.

'Hmm~' Hinata berdehem di dalam hatinya, ia ingin sekali membaca masa depan orang yang bernama Tenten itu. Penasaran, mengapa suasana diantara mereka berdua begitu tidak enak? Padahal satu sama lain ingin bertemu setelah sekian lama. Tapi saat bertemu kembali, kenapa jadi tidak enak seperti itu? Kalau enak pasti langsung dimakan deh sama Shinji. #apadeh~

"Kau kenapa Hinata?" Naruto yang sedari tadi memperhatikan Hinata bingung dengan gelagat Hinata yang tidak jelas. Memang tidak jelas, coba saja tanyakan pada Naruto? Hinata sedang mengerutkan keningnya sambil memukul-mukul pelan daun yang berjatuhan di dekat mereka. Mungkin itu reaksi yang dilakukan Hinata saat sedang penasaran.

"Diam sebentar, aku sedang konsentrasi" Hinata berhenti melakukan tinggah anehnya dan memberi perintah agar Naruto diam karena Hinata akan kembali memulai aksinya lagi. Ia mencari posisi yang enak untuk melakukan sesuatu dan perintah yang diberikan Hinata tadi sukses membuat pemuda berambut pirang itu diam di tempat.

- Kesedihan & Kebahagian -

Hanya dua? Sependek itukah jalan cerita yang akan dihadapi gadis yang bernama Tenten itu? Tapi lebih pendek memang lebih bangus, karena itu akan membuat orang tahu masa depan mereka yang sebenarnya. Hanya ada kesedihan yang diakhiri dengan kebahagiaan, itulah jalan hidup Tenten. Daripada memiliki masa depan yang bahagia tapi panjang, masih mending memiliki masa depan yang bahagia hanya dengan melewati alur cerita yang pendek. Yang panjang hanya akan memperlambat masa depan orang, tidak ada yang mau berlama-lama dengan hal yang terusan berulang-ulang. Cukup! Intinya adalah~ Masa depan Tenten adalah kebahagiaan, itulah yang terbaca oleh Hinata. Kebahagiaanya dilengkapi dengan sosok pemuda yang dapat terlihat jelas oleh Hinata bahwa pemuda itu adalah Neji.

"Syukurlah" Hinata mengucapkan syukur akan yang ia barusan lihat, ternyata tidak seburuk seperti apa yang dipikirkannya tadi. Hinata tadi berpikir, akan menjadi suatu hal yang tidak enak karena kecanggungan diantara Neji dan Tenten. Walau harus melewati sebuah kesedihan terlebih dahulu, yang penting adalah masa depan yang bahagia. Meski harus ada penderiaan yang mungkin tidak akan pernah dilupakan. Tapi, penderitaan itu akan menghilang dengan sendirinya karena muncul sebuah kebahagiaan yang menutupi penderitaan tersebut.

"Hallo~ Hinata! Hinata~ Apa kamu sudah selesai konsentrasinya?" seru Naruto bertanya sambil menggoyang-goyangkan tangannya di depan wajah Hinata. Naruto tidak suka didiamkan berlama-lama seperti itu oleh Hinata. Mau gimana lagi? Pasti kita tidak suka diabaikan oleh orang yang berada di sebelah kita. Apalagi seseorang yang selalu bersama dengan kita dalam suatu hal. Tapi, Hinata sedang membaca masa depan seseorang yang ingin ia baca masa depannya, jadi harus diapakan?

"Naruto, aku sudah selesai kok" kata Hinata lalu keluar dari tempat balik persembunyiannya, yaitu di balik pohon.

"Hei! Nanti ketahuan loh kalau kita sedang menguping!" seru Naruto ketakutan sekaligus panik serta menarik tangan Hinata kembali untuk bersembunyi di balik pohon. Agar tidak ketahuan gitu~

"Kau kenapa Naruto? Tenten sudah kembali mengerjakan tugasnya dan tidak mungkin ia akan menengok untuk kembali melihat sekitar. Sedangkan Kak Neji sudah masuk ke dalam, mungkin dia akan main sama anak-anak. Walau itu tidak mungkin terjadi. Jadi, buat apa kita bersembunyi lagi?" protes Hinata menjelaskan apa yang sedang dilakukan Neji dan Tenten. Ia kembali keluar dari balik pohon dan berlari ke dalam ruangan yang sudah dimasuki oleh Neji.

"Kenapa sih sama Hinata?"

Persembunyian selesai, Naruto juga ikut masuk ke dalam. Mereka disambut oleh anak-anak yang sudah rindu akan bermain dengan mereka berdua. Karena sudah banyak yang menunggu, akhirnya mereka bermain dengan anak-anak yang telah bangun dari tidur siang. Hinata dan Naruto kini bermain rumah-rumahan yang sudah diputuskan oleh anak-anak itu sejak dua hari yang lalu. Hinata yang jadi anaknya sedangnya Naruto yang jadi ayahnya dan yang lainnya menjadi tambahan seperti paman, kakek, nenek dan sejenisnya. Kalau Neji sedang mengamati Tenten dari balik jendela yang sedang menjemur pakaian. Sekali-kali mata mereka bertemu sehingga terjadi sebuah kesalah tingkah diantara mereka walau mereka tidak sadar sedang melakukan kesalahan kecil. Setelah mereka selesai bermain, begitu juga dengan Tenten yang sudah selesai menjemur. Neji memutuskan untuk pulang kembali ke asrama, sekalian mau siap-siap untuk besok pergi.

"Apa besok kau akan ikut pergi tur?" tanya Neji seraya memakai sepatu yang berada di sebelah pintu keluar.

"Tidak" jawab Tenten singkat.

"Oh" hanya sebuah "oh" saja? Respon yang benar-benar singkat bukan? Biasanya Hikaru tidak suka kalau orang memberikan reaksi hanya "oh" saja Dx Itu sungguh tidak enak walau Hikaru juga suka ber-oh ria xD

"Ya sudah" dibalas singkat, kita juga harus membalasnya dengan singkat juga kan? Tidak, kita harus membalas perkataan seseorang dengan hal yang nyambung. Memang~ Tapi yang memulai menjawab dengan singkat si Tenten kan? Pas bagian "tidak"nya itu loh~

"Sudah ya! Kami duluan, waktu sudah hampir sore dan kami harus kembali merapihkan sesuatu yang tertinggal yang kami lupakan" tidak mau menggangu acara Neji dan Tenten, Naruto pamitan dengan secepatnya pada mereka berdua (Neji dan Tenten) dan tidak lupa mengajak Hinata terlibat ke dalamnya.

"Bukannya sudah semuanya siap ya? Apa lagi yang belum?" Hinata yang merasa heran dengan ucapan Naruto langsung bicara yang sebenarnya, Naruto hanya cengengesan akan kejujuran Hinata.

"Haa~ Kau bohong kan, Naruto? Kau bicara seperti itu karena mau berduaan saja dengan Hinata, kan? Tentu tidak akan aku biarkan" ucap Neji dengan menggunakan wajah seramnya ia mengarahkan langsung kepada Naruto yang berdengik melihat hal tersebut.

"Tidak, malahan kebalikannya. Aku mau kalau kau berduaan saja dengan Tenten. Sudah dulu ya, sampai jumpa~!" pamit Naruto dengan seruan yang kedengarannya memanjang akibat udara yang tertiup saat itu. Ia menarik Hinata agar ikut dengannya berdua saja tanpa ada Neji yang selalu mengganggu acara mereka berdua.

"Anak itu~"

Wah~ Neji mulai marah. Entah apa yang akan dilakukan Neji jika ia bertemu lagi dengan Naruto. Tapi tidak usah kita urusi soal Neji yang sudah memuncak amarahnya. Langsung saja ke Naruto dan Hinata berada, karena merekalah tokoh utama dalam fic ini, jadi kita sorot saja kegiatan mereka berdua saat pergi menjauhi Neji dan juga Tenten.

Yakin keberadaan mereka sudah cukup jauh dan tidak akan terkejar oleh Neji, Naruto berhenti berlari dan melepas genggamannya dari tangan Hinata. Napas Naruto biasa-biasa saja, tapi tidak untuk Hinata yang sudah ngos-ngosan akibat lari dari tempat dimana Neji berada dengan keberadaan mereka sekarang.

"Cape~" seru Hinata dan terjatuh ke tanah yang ada di bawahnya. Peluh Hinata berjatuhan akibat panas yang ia rasakan saat sedang digenggam tangannya oleh Naruto. Mungkin keringatnya itu keluar akibat suhu yang dibuat oleh Hinata karena Naruto.

"Maaf Hinata, kau jadi cape gara-gara aku ya? Keringatmu banyak yang mengucur soalnya. Oh ya, kau tahu kenapa aku menginginkan kita langsung pergi dari sana tanpa Neji ikut dengan kita? Itu karena aku mau Neji berdua saja dengan Tenten dan juga aku mau mengajakmu ke suatu tempat yang sangat indah jika melihat matahari terbenam dari sana. Pokoknya harus cepat bergerak, kalau tidak kita bisa ketinggalan melihatnya. Ayo! Matahari sebentar lagi hilang, sayang kalau kita lewatkan. Besok kita kan pergi~" cerita Naruto panjang lebar tanpa ada henti-hentinya, tapi Hinata tidak menanggapi cerita Naruto yang sampai membuat mulut Naruto berbusa. Memang sih Hinata mau melihat matahari terbenam bersama Naruto, tapi kelelahan yang membuatnya tidak bisa bergerak. Takut-takutnya nanti Hinata malah pingsan karena kehabisan napas akibat kelelahan yang memuncak.

"Kau cape ya? Ya ialah! Kau ini bagaimana sih Naruto!? Oke!" dengan kekuatannya, Naruto menggendong Hinata dan langsung berlari menuju tempat yang ia bilang tadi. Tempat yang mau Naruto kasih tunjuk ke Hinata saat sedang bercerita tadi. Sepertinya Naruto tidak kenal lelah walau hanya sedikit saja. Sampai-sampai ia tidak mengerti apa yang sedah Hinata rasakan walau akhirnya Naruto tahu Hinata sedang kelelahan. Tapi Naruto tidak tahu apa yang namanya lelah~ Sudahlah!

Kalian pasti tahu apa reaksi Hinata saat itu kan? Jadi tidak usah Hikaru jelaskan reaksi Hinata karena kalian semua pasti sudah sangat jelas mengetahuinya. Tapi tidak sampai pingsan loh~

Nah, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Tapi matahari sudah keburu tenggelam dan di depan mereka sekarang hanya ada kegelapan tanpa ada cahaya yang telah menghilang. Naruto menurunkan Hinata dari gendongannya dan melihat kegelapan yang ada di depan matanya dengan kecewa.

"Telat" kecewa? Ya! Kapan lagi mereka bisa melihat keindahan matahari tenggelam kalau bukan sekarang? Besok mereka sudah berangkat untuk tur dan itu akan berlangsung selama satu minggu. Itu waktu yang lama bukan? Oke! Mereka bisa melihatnya saat pulang dari tur. Tapi itu terlalu lama!?

"Sudahlah Naruto, kita bisa melihatnya kapan-kapan. Lagian, keindahan itu bisa dilihat kapan saja dan pasti akan selalu terulang kembali kejadiannya" jelas Hinata yang sudah sadar dari dunianya sendiri. Memang kejadian seperti itu akan selalu terulang kembali di waktu yang sama, tidak pernah matahari tidak tenggelam kan? Makanya~

"Benar" Naruto menyegir, itu tandanya ia setuju dengan pendapat Hinata. Apalagi kata-kata yang ia sebutkan sebagai tanda bahwa Naruto memang setuju dengan ilmu yang dibagikan oleh Hinata.

"Walau aku tidak yakin dapat melihatnya bersama denganmu" lanjut Hinata disela-sela cengiran Naruto. Ia mengucapkan itu dengan suara yang kecil, makanya Naruto meminta Hinata mengulang apa yang diucapkannya tadi. Tapi Hinata hanya bilang tidak ada apa-apa dan langsung jalan kembali ke asrama mereka. Kembali ke asrama, dengan sosok penyamaran Hinata tentunya. Dalam hitungan jam saja mereka akan berangkat ke gunung untuk melaksanakan tur. Agar Hinata memiliki banyak tenaga untuk tur besok, makanya ia memutuskan untuk tidur lebih cepat.

Tidur~

Masih tidur~

Terlelap~

Bermimpi~

Mengumpulkan tenaga~

Tenaga penuh~

Dan akhirnya~

Bangun~

Mata Hinata telah terbuka tepat jam tiga pagi, ia melihat Naruto yang masih tidur. Kalau begitu Hinata akan langsung menyiapkan semuanya tanpa membangunkan Naruto sama sekali. Karena keberangkatan bus jam enam, jadi masih ada sisa tiga jam untuk mempersiapkan diri dan sesuatu yang belum disiapkan.

Satu jam Hinata beres-beres asrama mereka bedua, hasilnya asrama mereka jadi bersih tidak ada yang berantakan. Setengah jam berikutnya Hinata mempersiapkan sarapan untuk dua orang untuk dimakan dan menambah tenaga agar lebih bersemangat lagi. Setengah jam berikutnya Naruto sudah bangun, karena mencium bau makanan yang enak jadinya Naruto langsung menuju sumber bau itu. Karena terlihat enak, jadi Naruto langung melahapnya. Sedangkan Hinata yang sudah menghabiskan sarapannya langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai mandi, Hinata langsung memakai alat-alat penyamaran yang sudah ia siapkan sejak kemarin malam. Kalau Naruto sudah pasti sekarang sedang mandi karena mau menggantikan Hinata.

Siap! Tepat pukul setengah enam, itu tandanya waktunya mereka untuk pergi ke sekolah. Penyamaran beres! Alat-alat beres! Pokoknya semua sudah disiapkan dan waktunya berangkat ke sekolah~ Naruto mengunci kamar asrama mereka dan menyimpannya di dalam tasnya. Yakin Naruto akan menghilangkan kunci tersebut, Hinata meminta agar dia saja yang menyimpan kunci tersebut. Setelah kunci berpindah tangan, mereka pun berangkat ke sekolah.

Mereka sampai di sekolah tepat jam enam kurang satu menit. Bus sudah siap untuk berangkat, tidak ada waktu untuk menunggu orang yang telat. Jadi yang terlambat ya ditinggal saja deh~ Seperti Neji Hyuuga.

"Tidak~ Mana mungkin kubiarkan Naruto berduaan saja dengan Hinata" Neji yang depresi karena tertinggal bus sekaligus khawatir dengan Hinata langsung menyusulnya dengan menggunakan taxi. Untungnya Neji tidak buta arah seperti Hikaru, jadi ia bisa sampai di tempat tujuan dengan selamat.

.

.

.

.

"Wah~ indah ya" puji Naruto akan keindahan yang sedang dilihatnya.

"Iya" balas Hinata tetap menatap keindahan yang berada disana. Hinata memang membalas iya, tapi pandangannya kosong seperti tidak menatap apa-apa. Ia ingin mengetahui dimana tempatnya, tempat dimana ia akan berpisah dengan Naruto. Hah~

Oke, kita deskripsikan tempat tersebut. Bagaimana tidak indah? Pepohonan rindang yang disinggahi oleh hewan sejenis burung di padang rumput yang menjadi latar belakang dari pohon tersebut. Danau besar yang berada di arah barat, bisa digunakan untuk memancing dan juga untuk olahraga air. Lalu sebuah vila besar yang akan digunakan untuk tempat peristirahatan semua murid yang ikut tur selama satu minggu.

"Matamu tidak menunjukkan bahwa kau setuju akan perkataanku" Naruto sadar, sadar bahwa ada yang aneh dengan Hinata. Entah apa yang membuatnya aneh, padahal tadi pagi masih biasa-biasa saja.

'Karena masa depanku adalah kematian, dan disinilah tempat dimana aku akan mati' ucap Hinata dalam hati, ia masih belum siap akan masa depannya itu.

"Kau kenapa sih, Hi-Sho?" tanya Naruto, ia hampir meneriakkan nama Sho yang sebenarnya. Padahal lagi banyak orang disekitar sana. Ia benar-benar tidak suka akan kebohongan Hinata.

"Masa depanku adalah kematian, dan disinalah tempat dimana aku akan mati" jawab Hinata secara jujur. Ia berbicara itu dengan pelan agar tidak didengar oleh siswa yang lainnya, hanya terdengar oleh Naruto seorang.

Ngomong apa Hinata? Ngomong tentang kematian? Kenapa Hinata berbicara seperti itu disaat yang lainnya sedang bersenang-senang?

"Bicara apa kau Hinata? Masa depanmu memang kematian, masa depanku juga kematian. Semua orang masa depannya pasti kematian, tidak ada yang lain. Walau mereka tidak tahu kapan masanya mereka akan mati. Tapi kenapa kamu bicara kalau kamu akan mati disini?" tanya Naruto tidak mengerti, ia benar-benar tidak suka akan ucapan Hinata tentang kematian.

"Kenapa kamu bicara seperti itu? Darimana kamu tahu kalau disinilah tempat kematianmu? Aku mau tahu, jawab yang jujur dan jangan ada kebohongan diantara kita" perintah Naruto, ia sangat ingin mengetahui semua tentang Hinata.

Awalnya Hinata enggan untuk memberitahukan hal tersebut pada Naruto. Karena selama ini belum ada yang mengetahui kemampuan Hinata kecuali dirinya sendiri. Bahkan kakak dan adiknya sendiri saja tidak ia beri tahu. Tapi ini berbeda, ia akan memberitahukan pada Naruto, seseorang yang dapat dipercaya.

Hinata memberhentikan jalannya, Naruto juga ikut diam. Membiarkan yang lainnya jalan duluan, dan mereka yang berada di barisan paling belakang. Itu Hinata lakukan agar tidak ada orang lain yang mendengarnya~

"Ayo! Jawab~"

"Aku, bisa membaca masa depan"

- To Be Continue -

Hohoho~ Akhirnya chapter yang ini selesai juga. Kalau gitu Hikaru tunggu riview aja deh. Mudah-mudahan chapter yang ini dapat riview yang lebih banyak daripada chapter yang kemarin. Oke! Sekian dari Shinji.

Jaa~

.

.

R

I

V

I

E

W

.

.

.

.

.

.

.

.

.

V